Apakah Arti NIAT? Apakah Niat Itu Diucapkan Di Mulut? Ataukah Cukup Di Hati

Niat Baik Dalam Islam Contoh Niat Maksud Niat Pengertian Niat Dan Ikhlas Arti Niat Dalam Islam

MAKNA NIAT

salah niat salah alamat Suatu amalan ibadah tidaklah akan diterima kecuali  jika terkumpul dua syarat, yaitu ikhlas dan ittiba’. Ikhlas berkaitan dengan amalan hati yaitu niat, sedangkan ittiba’ adalah berkaitan dengan amalan dzahir seseorang, apakah ia sesuai tuntunan Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam dalam beribadah atau tidak. Dengan kata lain, niat ikhlas adalah tolak ukur ibadah hati dan ittiba’ur rasul adalah tolak ukur ibadah dzahir.

Banyak orang yang setelah mengenal kebenaran, tahu mana yang sunnah dan mana yang bid’ah, mereka bersemangat memperbaiki amalan dzahir agar mencocoki Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam dalam beramal. Tidaklah dipungkiri bahwa hal ini merupakan amalan yang baik. Akan tetapi sayangnya kita sering kurang memperhatikan masalah yang berhubungan dengan hati, yaitu niat. Sehingga tema ini kami angkat dalam edisi ini.

Definisi Niat

An Niat (niat) secara bahasa artinya adalah al qashdu (maksud) dan al iraadah (keinginan) atau dengan kata lain qashdul quluub wa iraadatuhu (maksud dan keinginan hati). Sedangkan definisi niat secara Istilah adalah sebagaimana yang dijelaskan oleh Syaikh Abdurrahman bin Nashir as Sa’di, beliau berkata, “Niat adalah maksud dalam beramal untuk mendekatkan diri pada Allah, mencari ridha dan pahalaNya.” (Bahjah Quluubil Abraar wa Qurratu ‘Uyuunil Akhyaar Syarah Jawaami’ul Akhbar hal. 5)

Syaikh Shalih bin Abdul Aziz Alu Syaikh menjelaskan bahwa makna niat dalam istilah para ulama ada dua macam:

  1. Niat yang terkait dengan ibadah. Inilah istilah yang dimaksudkan para ahli fiqih dalam berbagai hukum ketika mereka mengatakan, “Syarat yang pertama: niat”. Yang mereka maksudkan adalah niat yang ditujukan untuk ibadah yang membedakan antara ibadah yang satu dengan ibadah yang lain. Misalnya, untuk membedakan shalat dari puasa, dan membedakan shalat wajib dari shalat sunah.
  2. Niat yang terkait dengan kepada siapa ibadah tersebut ditujukan. Niat dengan pengertian ini sering diistilahkan dengan ikhlas. (Syarah Al Arba’in An Nawawiyyah fil Ahadits Ash Shahihah an Nabawiyyah –Majmu’atul Ulama’- hal.31-32)

Hadits tentang Niat

Dari Umar radhiallahu‘anhu, beliau berkata, “Aku mendengar Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallambersabda, “Semua amal itu tergantung niatnya dan setiap orang hanya mendapatkan sesuai niatnya. Maka barangsiapa yang hijrahnya kepada Allah dan RasulNya, maka hijrahnya itu kepada Allah dan RasulNya. Barangsiapa yang hijrahnya itu karena dunia yang ingin ia dapatkan  atau karena seorang wanita yang akan dinikahinya, maka hijrahnya itu kepada apa yang ditujunya.” (Diriwayatkan oleh Bukhari dan Muslim)

Hadits ini menunjukkan bahwa semua amalan apakah itu amalan baik maupun buruk, maka pasti diiringi dengan niat. Jika seseorang berniat melakukan amalan yang hukum asalnya mubah dengan niat yang baik, maka dia diberi pahala dengan niatnya tersebut. Jika ia berniat dengan maksud yang buruk, maka ia akan mendapatkan sesuai dengan apa yang ia niatkan.

Tempat Niat

Tempat niat adalah di dalam hati, dan An Nawawi berkata,”Tidak ada khilaf dalam hal ini.” Ibnu Taimiyyah mengatakan,”Niat tidaklah dilafadzkan.” . Dan jelas bagi kita bahwa niat adalah amalan hati dan bukan amalan dzahir. Adapun melafadzkan niat, maka tidak dicontohkan oleh Nabi shalallahu ‘alaihi wa sallam , tidak pula para sahabat beliau, dan tidak terdapat hadits dari Nabi shalallahu ‘alaihi wa sallam yang menjelaskan bahwa jika beliau hendak shalat atau berwudhu beliau mengucapkan, “Nawaitu an ushalli…(aku berniat untuk sholat…)” atau “Nawaitu an atawadhdha’…(Aku berniat untuk wudhu…)” atau “Nawaitu an aghtasil…(Aku berniat untuk mandi)” dan sebagainya.

Beribadah dengan Niat Mendapatkan Perkara Dunia

Perlu diketahui bahwasanya amalan ibadah ada dua macam:

  1. Amalan yang wajib diniatkan untuk Allah dan tidak boleh terbetik dalam hati pelakunya untuk mendapatkan balasan berupa perkara dunia sama sekali. Mayoritas amalan ibadah adalah demikian, semisal: shalat, zakat, dzikir, dan sebagainya.
  2. Amalan ibadah yang Allah subhanahu wa ta’ala menyebutkan balasannya di dunia dengan tujuan untuk memotivasi. Misalnya adalah sabda Nabi shalallahu’alaihi wa sallam,“Barangsiapa yang ingin diluaskan rizkinya dan dipanjangkan umurnya, maka hendaklah bersilaturahim.” (Muttafaqun ‘alaih)

Barangsiapa yang menginginkan balasan dunia dalam keadaan meyakini bahwa itulah motivasi dari Allah, maka diperbolehkan. Karena tidaklah Allah memotivasi dengan balasan dunia, kecuali Allah mengijinkan hal tersebut menjadi hal yang dicari dan dituntut. Oleh karena itu barangsiapa bersilaturahim dengan mengharap wajah Allah dan juga menginginkan balasan di dunia dengan banyaknya rizki serta dipanjangkan umurnya, maka hukumnya boleh.

Jika telah jelas bahwa orang yang demikian tidak dihukumi sebagai musyrik, lalu yang menjadi pertanyaan adalah apakah sama orang yang bersilaturahim dengan niat mendapat balasan dunia disamping ia meniatkannya karena Allah dibandingkan orang yang hanya meniatkannya untuk Allah dan tidak menginginkan balasan dunia? Jawabannya adalah tidak sama. Pahalanya akan berbeda. Barangsiapa yang niatnya ikhlas karena Allah maka pahalanya akan bertambah besar sebanding dengan menguatnya keikhlasan. (Syarah Al Arba’in An Nawawiyyah fil Ahadits Ash Shahihah an Nabawiyyah –Majmu’atul Ulama’- hal.34-35)

Ketika Niat Ikhlas Tercampur Riya’

Ada tiga keadaan dalam hal ini:

  1. Ketika niat utama yang mendorong seseorang melakukan sebuah amalan adalah riya’, maka hal ini merupakan kesyirikan dan ibadahnya batal.
  2. Ketika pada awal ibadah niatnya ikhlas, kemudian di tengah ibadah tercampur riya’, maka ada dua keadaan:
    a. Jika ia berusaha melawan rasa riya’ tersebut dan tidak terus menerus dalam rasa riya’, maka riya’ tersebut tidak berpengaruh pada amalannya.
    b. Jika ia tidak melawan rasa riya’ dan terus menerus dalam keadaan riya’, maka hukum ibadah dalam keadaan ini:
    – Jika ibadah tersebut bagian akhirnya tidak terbangun atas bagian awalnya (tidak serangkaian), maka amalan yang tidak tercampur riya’ adalah sah dan amalan yang tercampur riya’ batal. Contoh: seseorang ingin bersedekah sebanyak Rp 200.000,- . Pertama, ia sedehkan Rp 100.000,- dengan niat ikhlas. Kemudian ia sedekahkan lagi Rp 100.000,- , tetapi dengan niat riya’ . Maka sedekahnya yang pertama sah, dan sedekahnya yang kedua batal.
    – Jika ibadah tersebut bagian akhirnya terbangun dari bagian awalnya (satu rangkaian ibadah), maka keseluruhan ibadah tersebut batal. Contoh: seseorang shalat dua rakaat dengan niat awal ikhlas karena Allah. Kemudian muncul rasa riya’ di rakaat yang kedua dan dia tidak melawannya serta terus menerus dalam keadaan riya’hingga selesai shalat, maka batallah sholatnya dari awal hingga akhir.
  3. Ketika muncul riya’, tetapi setelah ibadah selesai, maka tidak membatalkan amalan.

(At Tauhid al Muyassar hal. 97-98, dengan sedikit perubahan)

Beberapa Faidah dan Urgensi Niat

Diantara faidah dan urgensi niat adalah:

  1. Niat berfungsi untuk membedakan antara amalan ibadah yang satu dengan yang lain. Misalnya, seseorang shalat dua rakaat , bisa jadi ia meniatkannya untuk shalat fardhu, atau shalat sunah rawatib, atau tahiyatul masjid. Maka, dengan niat, seseorang membedakan apakah ia melakukan hal yang wajib ataukah hal yang sunah.
  2. Niat berfungsi untuk membedakan perkara ibadah dan perkara adat kebiasaan manusia. Misalnya seseorang yang mandi, bisa jadi ia meniatkannya hanya sekedar untuk membersihkan badan (yang nilainya hanyalah sekedar kebiasaan saja) atau bisa jadi ia berniat untuk menghilangkan hadats besar (yang nilainya adalah ibadah).
  3. Benarnya niat menunjukkan ikhlas kepada Allah.
  4. Niat yang benar merupakan sebab mendapatkan pahala.

Niat merupakan syarat sebuah amal membuahkan pahala. Amalan mubah seperti makan, minum, dan sebagainya, jika diiringi dengan niat yang benar, semisal karena memenuhi perintah Allah da RasulNya serta untuk membantu dalam melaksanakan ketaatan, maka bisa menjadi amal shalih dan pelakunya diberi pahala. (Al Aqd Ats Tsamiin fi Syarhi Mandzumah Asy Syaikh Ibnu ‘Utsaimin fi Ushuulil Fiqhi wa Qawaa’idihi hal.214-215) [Rizki Amipon Dasa]

At Tauhid edisi VIII/11

Oleh: Rizki Amipon Dasa

sumber : http://buletin.muslim.or.id/tazkiyatun-nufus/niat

 

Print Friendly, PDF & Email

Definisi Niat Dalam Islam Devinisi Niat Niat Itu Apa Artinya Niat Arti Kata Niat

15 Comments

  1. klw niat puasa (puasa ramadhan, senin dan kamis) dan mandi besar itu ttp tdk di lafadzkan ya? Tlong pnjelasannya, sy masih ragu.!

    begini saja mas,.
    Anda nulis komentar disini, nulis per hurufnya itu sambil melafalkan niat tidak?
    Sengaja saya jawab seperti ini, agar anda paham apa sih yang dimaksud dgn niat,.

    Soalnya sangat mustahil ada orang yang bisa melakukan kegiatan apapun yg dilakukan dengan sadar tanpa adanya niat,..
    Niat itu adalah hal yang otomatis ada ketika kita mau melakukan sesuatu,

    kita mau mengucapkan sesuatu pun, itu pasti ada niat, makanya bisa mengucapkan,

  2. Assalamualaikum wrwb.

    Wa’alaikumussalam warahmatullahi wabarakatuh

    maaf mohon nasehatnya, saya selalu waswas dalam berniat baik wudu maupun sholat, Saya merasa sulit memulainya karena ketika mau memulai pekerjaan tsb masih memikirkan niat karena merasa belum berniat dan ketika sudah berniat pun merasa belum berniat sehingga terus mengulang niat kembali dengan cara memikirkan/mengucap dihati.

    Bolehkah saya berlatih menghilangkan waswas misal ketika berwudlu. dengan cara memulai dengan basmalah dan seterusya.

    Kemudian ketika ada perasaan belum berniat ditolak dengan kaidah bahwa setiap amal pasti berniat.
    mohon penjelasannya.

    TErimakasih mas ihwan,.
    Kenapa itu terjadi? karena anda belum paham tentang apa itu niat, dan belum paham cara wudhu dan shalat yang diajarkan oleh Rasulullah, tapi mengikuti cara atau tradisi yang ada di masyarakat, dan mungkin buku-buku fikih yang tidak mencantumkan dalil,.

    Niat itu bukan ucapan di mulut,.
    Kita ketika mau mengerjakan apapun dalam kondisi sadar, niat itu hal yang otomatis ada, buktinya perbuatan itu dilakukan,.

    Contoh sederhana, ketika kita haus dan ingin minum, apakah ketika kita mengambil gelas, lalu menuangkan air, lalu meminumnya kita mengucapkan di mulut, seperti saya niat mau ambil gelas, saya niat mau menuang air, saya niat mau minum air,. kan anda tidak mengucapkan,. dan anda bisa melakukan minum tanpa rasa was-was,..
    Jadi ketika kita mau minum, itu sdh ada kilasan di hati kita, nah itu yang disebut sebagai niat,. apa yang terbetik di hati hingga kita melakukan apa2 yang terbetik di hati tersebut, itulah niat,.

    Jadi merupakan HAL YANG MUSTAHIL kita bisa melakukan perbuatan apapun dalam kondisi sadar TANPA NIAT,. niat pasti ada,.
    Kalau kita melakukan diluar kesadaran, contoh seprti berjalan sambil tidur,. itu tdk ada niat, atau gerak reflek,. itu juga tdk ada niat,.

    Jadi cara menghilangkannya, ya anda pelajari bagaimana cara wudhu rasulullah, cara shalat rasulullah,. sehingga tidak ada was-was lagi karena anda paham, begitulah cara wudhu dan shalat rasulullah, anda bisa beli bukunya jika mau, lihat postingan ini

    Bisa juga lihat ulasan cara shalat nabi di postingan ini

    Cara wudhu nabi di postingan ini

  3. Pak saya mau nanya apakah sah melalukan mandi wajib di siang hari

    mau malam hari, siang hari, sore hari,pagi hari, ya sah-sah saja, tergantung kapan perbuatan yg menjadi penyebab mandi wajib itu terjadi,
    Jika junub, segera mandi, jangan menunda-nunda mandi hingga terlewat waktu shalat sehingga ga shalat

    contoh, jika junub sebelum shubuh, maka mandinya sebelum shubuh agar bisa shalat shubuh,

  4. Betapa rumitnya pelajaran agama mulai SD sampai SMA, mau melakukan apapun harus melafalkan niat,

    dan ternyata… itu bukan ajaran Rasulullah.

    Ya,. begitulah pak, akibat taklid buta,
    Islam itu agama yang berdasarkan dalil, bukan ikut-ikutan,.
    Rasulullah sudah mengajarkan ajaran islam seluruhnya,. mau ke WC saja sudah diajarkan,apalagi urusan shalat,. sudah diajarkan semua,.
    Dan parahnya,. yang tidak diajarkan oleh rasulullah itu dimuat di buku pelajaran, dari TK hingga perguruan tinggi,. bahkan di pesantren-pesantren,.

    Sekarang saatnya kita kembali kepada dalil, ajaran rasulullah, bukan beribadah dengan cara ikut-ikutan lagi,

    Ingin tahu cara shalat nabi, bisa dilihat postingan ini

    Atau bisa beli buku istimewa, sifat shalat nabi yang di mukadimah buku ini sangat bagus, perkataan para imam madzhab , dan buku ini sudah dilengkapi cara wudhu dan shalat beserta gambar, juga dzikir setelah shalat, lihat ulasannya disini

  5. Assalamu’alaikum .

    Wa’alaikumussalam warahmatullah

    Saya ingin menguatkan pemahaman.

    silahkan…dengan senang hati, dan memang harus bertanya jika krg paham

    Niat itu sesuatu yg otomatis ada dalam suatu aktifitas.
    Lalu bagaimana tanda kita sholat karena Allah?
    Apakah niat karena Allah otomatis ada?

    Caranya, ketika anda memulai shalat, niatkan di hati anda bahwa shalat yang anda lakukan itu hanya untuk mengharap ridha Allah, bukan untuk yang lainnya,. bukan karena dilihat orang lalu anda perbagus shalat anda, itu artinya niat anda berubah, bukan karena Allah lagi, tapi karena diperhatikan oleh orang, jadi wajib menjaga niat anda dari awal shalat hingga akhir,.

    dan… kunci ibadah itu bernilai besar atau kecil atau tidak ada nilainya, itu ada pada niat,..
    dan bukan pekerjaan mudah menjaga niat ini, justru pekerjaan yang PALING SULIT,.. kalau cuma mengucapkan di mulut itu adalah niat, maka sangat mudah mengerjakannya,.. dan niat bukanlah itu,.

    Dan bagaimana membedakan antara kita berniat untuk sholat zuhur dg ashar?
    Apakah jenis sholat tertentu juga sudah otomatis.

    Pasti otomatis,. anda ketika mengerjakan shalat shubuh itu dua rakaat, bukan empat, itu jika ada niat,. kalau tidak niat, berarti asal-asalan, ga perduli niatnya,.bukankah demikian?

    Dan apakah mengenai bilangan rakaat sholat juga sudah termasuk dg kita niat sholat subuh berarti 2 rakaatnya atau zuhur berarti 4 rakaat.
    Karena muncul DIPIKIRAN, kalau cuma niat subuh mungkin tidak akan menjadi 4 rakaat.

    Jika ada niat, maka anda bisa melakukan pekerjaan atau ibadah sesuai dengan yang diniatkan,..
    Mau makan donat, kenapa yang diambil adalah donat, bukan siomay,. itu karena ada niat,.
    Anda memasukan ke mulut, itu juga karena niat, kenapa tidak dimasukan ke mata?

    Maaf ust jika berbelit, karena kekurangan ilmu saya

    Tidak mengapa, mudah2an penjelasan saya bisa dipahami, jika kurang paham, boleh kok nanya lagi,.

    • Biasanya ketika terbersit hendak sholat zuhur, maka ketika di tempat shalat langsung takbir.
      Apakah itu sudah karena Allah?

      Langsung takbir yaitu mengucap kata Allaahu akbar, itu sudah betul,. yang disebut takbir itu adalah ucapannya, bukan gerakan takbirnya
      Dan takbir ini adalah rukun shalat, jika orang shalat tidak mengucapkan takbir, maka shalatnya tidak sah,
      Apakah niatnya karena Allah, anda yang tahu, anda shalat karena mengharap ridha Allah, atau karena mengharap pujian orang, ?

      • Ass.

        Maaf mau bertanya, apakah niat itu masih berlaku(tidak kadaluarsa) bila sudah berniat sholat berjamaah dimasjid bersama imam karena imam terlambat datang ketika menunggu imam sambil duduk ngantuk (ketiduran ringan.

        Dan tersadarkan ketika iqomat dikumandangkan, apakah syah bila saya langsung bertakbirotul ihram mengikuti imam ?

        terima kasih atas penjelasannya.

        Wa’alaikumussalam warahmatullah
        Jika terduduk hingga tertidur, maka itu membatalkan wudhu, jadi wudhu lagi, terus ikut shalat berjamaah,

        • Terimakasih atas jawabannya, maaf yang saya pahami sebelumnya, tertidur sambil duduk itu tidak membatalkan wudlu, kecuali berubah posisi tempat duduknya, mohon penjelasannya

          Jika tidurnya nyenyak, sampai pas iqamat dibangunin oleh orang lain, maka ini membatalkan wudhu,

  6. Dulu saya taklid banget kang. Dulu saya berislam karena orang tua dan karena lingkungan. Tapi sekarang saya beragama karena berpikir dan menuntun ilmu

    Alhamdulillah,

  7. Maaf mas mau tanya?
    Kalau kita hendak sholat,dan kita tau mau mengerjakan sholat apa,misalnya dzuhur,dan di masjid langsung mengucapkan takbir,apakah sholatnya itu sah?

    Itu yang SESUAI CONTOH RASULULLAH,..

    Yang membaca ushali dulu, itu yang BIDAH,tidak sesuai contoh Rasulullah,

    Baca ushali, shalatnya SAH, tapi dia berdosa, telah melakukan BIDAH ketika memulai shalat

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*