Jangan Bangga Dengan Banyaknya PENGIKUT,. Karena Banyaknya Pengikut Bukanlah Ukuran Kebenaran

JUMLAH BANYAK BUKAN BAROMETER KEBENARAN

Oleh Ustadz Abu Minhal, Lc

Jika ada seseorang menyaksikan banyak manusia mengucapkan satu pendapat yang sama atau meyakini sesuatu yang serupa, kondisi demikian akan mudah mendorongnya untuk mengikuti ucapan dan keyakinan mereka. Sebab, seperti diungkapkan pepatah Arab, manusia itu bak gerombolan burung, sebagian akan mengikuti lainnya. Dan pada gilirannya, akan menanamkan kesan pada benak orang tersebut bahwa pendapat yang menyalahi mereka merupakan pendapat yang keliru dan salah, dan otomatis orang-orang yang tidak sejalan dengan mereka pun ia anggap kumpulan orang yang salah jalan (baca: sesat). Ya, apapun pendapat, keyakinan dan kebiasaan mayoritas manusia, kendatipun salah, keliru dan menyimpang.

Dengan melihat fakta di atas, maka tidaklah adil dan ilmiah bila kuantitas dijadikan sebagai barometer al-haq (kebenaran). Bila mayoritas manusia memang berada di atas al-haq, dengan mengagungkan nash-nash al-Qur`ân dan Sunnah shahîhah serta berkomitmen tinggi untuk mengamalkannya secara keseluruhan dan mendakwahkannya, maka itulah kondisi yang ideal bagi manusia untuk mengenal kebenaran. Komunitas sosial yang lurus tersebut akan menjadi media yang kondusif bagi perkembangan anak-anak dan generasi selanjutnya. Mereka akan memiliki teladan baik dan contoh luhur dalam aqidah, akhlak, ibadah dan muamalah serta aspek-aspek keagamaan lainnya.

Namun, persoalan akan muncul bila mayoritas berada dalam kondisi sebaliknya; ideologi yang berkembang tidak pernah dikenal di masa Salafush-Shâlih, taklid buta menjadi dasar agama, tradisi lokal sangat diagungkan, hadits-hadits palsu diamalkan, kaifiyah ibadah baru lagi tak berdasar menjadi ‘sunnah’ yang mesti dipertahankan. Pengaruh mayoritas ini dalam masyarakat tersebut akan menyeret anak-anak, generasi muda Islam dan orang-orang jahil serta orang muallaf memahami Islam tidak sebagaimana mestinya. Mungkin saja, mereka menjadi pihak yang superior, tapi yang pasti, standar al-haq (kebenaran) bukanlah berdasarkan besarnya jumlah massa suatu kelompok dan kekuatan otot mereka.

MENURUT AL-QUR`ÂN, KEBANYAKAN MANUSIA TIDAK BERADA DI ATAS JALAN LURUS
Melalui beberapa ayat, justru al-Qur`ân yang merupakan pedoman hidayah umat Islam mencela jumlah manusia yang mayoritas dan memberitahukan bahwa kebanyakan manusia berada dalam kesesatan dan kebatilan. Allâh Azza wa Jalla berfirman:

وَإِنْ تُطِعْ أَكْثَرَ مَنْ فِي الْأَرْضِ يُضِلُّوكَ عَنْ سَبِيلِ اللَّهِ ۚ إِنْ يَتَّبِعُونَ إِلَّا الظَّنَّ وَإِنْ هُمْ إِلَّا يَخْرُصُونَ ﴿١١٦﴾ إِنَّ رَبَّكَ هُوَ أَعْلَمُ مَنْ يَضِلُّ عَنْ سَبِيلِهِ ۖ وَهُوَ أَعْلَمُ بِالْمُهْتَدِينَ

Dan jika kamu menuruti kebanyakan orang-orang yang di muka bumi ini, niscaya mereka akan menyesatkanmu dari jalan Allâh. Mereka tidak lain hanyalah mengikuti persangkaan belaka, dan mereka tidak lain hanyalah berdusta (terhadap Allâh). Sesungguhnya Rabbmu, Dia-lah yang lebih mengetahui tentang orang yang tersesat dari jalan-Nya dan Dia lebih mengetahui tentang orang orang yang mendapat petunjuk. [al-An’âm/6:116-117].

Imam Ibnu Katsîr rahimahullah mengatakan, “(Dalam ayat ini) AllâhTa’ala mengabarkan kondisi kebanyakan penduduk muka bumi dari anak keturunan Adam, sesungguhnya (mereka berada) dalam kesesatan”. [Tafsîru al-Qur`ânil-‘Azhîm, 3/322].

Dan Allâh Azza wa Jalla berfirman:

وَإِنَّ كَثِيرًا مِنَ الْخُلَطَاءِ لَيَبْغِي بَعْضُهُمْ عَلَىٰ بَعْضٍ إِلَّا الَّذِينَ آمَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ وَقَلِيلٌ مَا هُمْ

Dan sesungguhnya kebanyakan dari orang-orang yang berserikat itu sebagian mereka berbuat zhalim kepada sebagian yang lain, kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal yang saleh; dan amat sedikit lah mereka ini. [Shâd/38:24].

Bukankah jumlah kaum Muslimin lebih sedikit dibandingkan bilangan orang-orang yang kafir? Dan umat Islam yang taat menjalankan kewajiban-kewajiban agamanya lebih sedikit ketimbang orang-orang yang mengabaikannya?
Imam Ibnul-Qayyim rahimahullah berkata, “Kaum Mukminin berjumlah sedikit di tengah manusia. Dan ulama berjumlah sedikit di tengah kaum Mukminin”.[1]

Maka, untuk mengelabui orang, klaim jumlah yang banyak dijadikan oleh ahli batil untuk menegaskan kebenaran jalan dan keyakinan mereka. Karenanya, para pengusung kebatilan, penyeru kepada bid’ah, penjaja liberalisme dan orang-orang yang memusuhi kebenaran al-Qur`ân dan Sunnah shahîhah berusaha melariskan ‘dagangan’ mereka dengan menyebarluaskan klaim banyaknya para pengikut dan pendukung mereka. Misi-misi dan doktrin mereka suarakan melalui berbagai media massa agar terbentuk opini. Betapa banyak orang yang mengikuti mereka, kemauan merekalah yang diinginkan oleh publik dan selanjutnya klaim bahwa mereka berada di atas jalur yang benar dan lurus. Bukankah bila satu golongan menyimpang yang memiliki cabang di mana-mana, sedikit banyak akan mempengaruhi pandangan miring orang terhadap golongan itu?

Dalam kitab Masâilu al-Jâhiliyyah, Syaikh Muhammad bin ‘Abdul Wahhâb rahimahullah menyebutkan salah satu ciri jahiliyah, “Berhujjah dengan apa yang dipegangi kebanyakan orang tanpa menengok dasarnya”.

PARAMETER KEBENARAN
Dengan demikian, parameter kebenaran bukanlah berdasarkan kuantitas, banyak atau sedikit. Akan tetapi, “kebenaran itu (disebut kebenaran) tatkala sesuai dengan dalil tanpa perlu menengok banyaknya orang yang menerima atau minimnya penolakan orang. Antipati manusia atau respon positif mereka tidak otomatis menunjukkan kebenaran atau penyimpangan satu pendapat. Tiap pendapat dan perbuatan haruslah berdasarkan dalil (yang shahîh) kecuali pendapat (ucapan) Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam , karena ucapan beliau sudah menjadi hujjah (dasar, dalil)”[2].

Allâh Azza wa Jalla telah mengabarkan tentang umat terdahulu bahwa kaum minoritas bisa saja berada di atas al-haq. Allâh Azza wa Jalla berfirman:

وَمَا آمَنَ مَعَهُ إِلَّا قَلِيلٌ

Dan tidak beriman bersama dengan Nuh itu kecuali sedikit. [Hûd/11:40].

Maka, siapa saja berada di atas al-haq yang berlandaskan dalil yang shahîh dan lurus, berkomitmen kuat dengannya dalam ucapan, perbuatan, keyakinan, meskipun ia sendirian, dialah orang yang benar dan lurus, dan selanjutnya pantas diikuti oleh orang lain.

Bahkan, seandainya pun tidak ada seorang pun yang berpegang teguh dengan al-haq, selama itu merupakan kebenaran, tetaplah merupakan kebenaran dan menjadi sumber keselamatan.

Apabila kebanyakan orang hanyut dalam kebatilan dengan melanggar syariat, tidak konsisten dengan ajaran Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam yang diutus untuk menyampaikan ilmu dan hidayah kepada semua manusia, mengadakan hal-hal baru dalam agama Islam yang tidak ada dasarnya yang jelas dan tidak pernah dikenal oleh generasi terbaik umat Islam; dalam kondisi demikian, pendapat mereka harus ditolak dan tidak boleh terpedaya dengan jumlah mereka yang ada di mana-mana.

Sahabat ‘Abdullâh bin Mas’ud Radhiyallahu anhu pernah berkata:

لاَ يَكُنْ أَحُدُكُمْ إِمَّعَةً يَقُوْلُ: “أَنَا مَعَ النَّاسِ”. لِيُوَطِّنَ أَحَدُكُمْ عَلَى أَنْ يُؤْمِنَ وَلَوْ كَفَرَ النَّاسُ

[Janganlah seseorang dari kalian menjadi latah (dengan) mengatakan, ‘Aku bergabung dengan (arus) manusia (saja)’. Hendaknya ia melatih diri untuk beriman walaupun orang-orang telah kafir].

Atas dasar nasihat berharga di atas, mari kita tanamkan pada diri kita, “Hendaklah kita melatih diri (dan berusaha keras) untuk berkomitmen dengan petunjuk Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam , walaupun banyak orang telah mengabaikan petunjuk beliau dan mengadakan hal-hal baru dalam Islam”. Semoga Allâh Azza wa Jalla memberikan hidayah, rasyâd dan taufik-Nya kepada kita semua.

Imam Ibnul-Qayyim rahimahullah juga telah menggariskan pesan pentingnya, “Janganlah engkau (mudah) tertipu dengan apa yang mengelabui orang-orang jahil. Mereka itu mengatakan, ‘Jika orang-orang itu (yang berada di atas al-haq) betul-betul di atas kebenaran, mestinya jumlah mereka tidak akan sedikit. Sementara manusia lebih banyak yang tidak sejalan dengan mereka’. Ingatlah bahwa sesungguhnya orang-orang (yang berada di atas al-haq) itulah manusia (sebenarnya). Sedangkan orang-orang yang bertentangan dengan mereka hanyalah serupa dengan manusia, bukan manusia. Manusia (sebenarnya) hanyalah orang-orang yang mengikuti al-haq meskipun mereka berjumlah paling sedikit”.[4]

Syaikh Shâlih al-Fauzân hafizhahullâh mengatakan, “Memang betul, bila mayoritas (manusia) di atas kebenaran dan al-haq, maka itu bagus sekali. Akan tetapi, sunnatullâh (ketetapan Allâh Azza wa Jalla ) yang berjalan bahwa kuantitas yang besar berada di atas kebatilan. (Ketetapan Ilahi ini berdasarkan firman Allâh Azza wa Jalla.

وَمَا أَكْثَرُ النَّاسِ وَلَوْ حَرَصْتَ بِمُؤْمِنِينَ

Dan sebagian besar manusia tidak akan beriman – walaupun kamu sangat menginginkannya [Yûsuf/12 : 103]

Dan firman-Nya:

وَإِنْ تُطِعْ أَكْثَرَ مَنْ فِي الْأَرْضِ يُضِلُّوكَ عَنْ سَبِيلِ اللَّهِ ۚ إِنْ يَتَّبِعُونَ إِلَّا الظَّنَّ وَإِنْ هُمْ إِلَّا يَخْرُصُونَ

Dan jika kamu menuruti kebanyakan orang-orang yang di muka bumi ini, niscaya mereka akan menyesatkanmu dari jalan Allâh. Mereka tidak lain hanyalah mengikuti persangkaan belaka, dan mereka tidak lain hanyalah berdusta (terhadap Allâh). [al-An’âm/6 ayat 116][5].

BENARKAH MAYORITAS KAUM MUSLIMIN PADA MASA SEKARANG BERAQIDAH ASY’ARIYAH?
Kaum Asya’irah (yang beraqidah Asy’ariyah) adalah orang-orang yang berintisab (menisbatkan diri) kepada Abul-Hasan al-Asy’ari, yaitu ‘Ali bin Ismâ’îl yang wafat pada tahun 330H. Sebenarnya, melalui aspek historis, dapat diketahui bahwa sosok yang terkenal ini mengarungi tiga fase dalam aqidahnya: bermadzhab Mu’tazilah, kemudian berada dalam fase antara pengaruh aqidah Mu’tazilah dan mengikuti Sunnah dengan menetapkan sebagian sifat Allâh, namun masih menakwilkan sebagian besarnya. Fase ini yang kemudian dikenal dengan aqidah Asy’ariyah. Lalu keyakinannya yang terakhir, meyakini aqidah yang dipegangi dan diyakini oleh generasi Salaf umat Islam. Sebab, ia telah menegaskan dan memaparkannya dalam kitabnya al-Ibânah yang termasuk karya terakhir beliau. Di dalamnya, beliau menjelaskan bahwa dirinya mengikuti aqidah yang dipegangi oleh Imam Ahli Sunnah, Imam Ahmad bin Hanbal rahimahullah dan Ulama Ahli Sunnah lainnya. Yaitu, menetapkan semua nama dan sifat yang ditetapkan Allâh Azza wa Jalla bagi Dzat-Nya dan ditetapkan oleh Rasûlullâh bagi-Nya, sesuai dengan keagungan dan kemuliaan Allâh Azza wa Jalla , tanpa takyîf, tamtsîl, tahrîf dan takwîl. Berdasarkan firman Allâh Azza wa Jalla.

لَيْسَ كَمِثْلِهِ شَيْءٌ ۖ وَهُوَ السَّمِيعُ الْبَصِيرُ

Tidak ada sesuatu pun yang serupa dengan Dia, dan Dia-lah yang Maha Mendengar dan Melihat. [asy-Syûrâ/42:11].

Dikala panutan dan tokoh utama Asy’ariyah, Abul-Hasan al-Asy’ari rahimahullah telah meninggalkan aqidah 20 sifatnya, para penganut aqidah Asy’ariyah masih bertahan dengan pemikiran Abul-Hasan al-Asy’ari rahimahullah sebelum meninggalkan aqidah yang digagasnya menuju aqidah Ahli Sunnah wal-Jama’ah. Belakangan, ada ungkapan populer di tengah sebagian masyarakat bahwa golongan Asy’ariyah di masa ini merepresentasikan 95% dari jumlah kaum muslimin. Artinya, yang memegangi aqidah Asy’ariyah di dunia Islam merupakan kaum mayoritas.

Syaikh ‘Abdul Muhsin al-‘Abbad menyanggah pendapat tersebut, melalui, dengan beberapa tinjauan, sebagai berikut:[6]

1. Bahwa penetapan prosentase di atas haruslah berdasarkan penghitungan detail yang menghasilkan data empiris yang valid. Dan ternyata tidak ada sensus untuk menghitung jumlah penganutnya, hanya sekedar klaim kosong belaka.

2. Anggap saja prosentasi itu benar, namun tidak otomatis jumlah yang banyak mengindikasikan lurus dan benarnya aqidah tersebut. Sebab, aqidah yang benar dan lurus hanya dapat digapai dengan mengikuti aqidah yang diyakini oleh generasi Salaf dari kalangan Sahabat Nabi dan insan-insan yang berjalan di atas manhaj mereka dengan baik. Bukan dengan mengikuti aqidah yang penggagasnya baru wafat pada abad empat hijriyah, apalagi yang bersangkutan telah meninggalkan aqidah (yang salah) itu. Selain itu, secara logika, tidak mungkin ada kebenaran yang tertutup dan tersembunyi bagi para Sahabat Nabi, generasi Tabi’in dan para pengikut mereka dengan baik, dan kemudian kebenaran itu baru diketahui oleh orang yang kelahirannya setelah masa generasi terbaik umat Islam.

3. Selain itu, aqidah Asy’ariyah hanyalah diyakini oleh orang-orang yang mendalaminya di lembaga pendidikan Asy’ariyah atau mereka mempelajarinya dari tangan guru-guru berkeyakinan Asy’ariyah. Sedangkan orang-orang awam yang jumlahnya sangat banyak itu tidaklah mengenal Asy’ariyah. Aqidah mereka masih di atas fitrah.

4. Syaikh Bakr Abu Zaid dalam at-Ta’âlum menambahkan bahwa aqidah orang-orang dari tiga generasi terbaik; dari generasi Sahabat dan dua generasi selanjutnya sejalan dengan Kitâbullâh dan Sunnah Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam yang dalam perjalanan sejarah dikenal dengan Aqidah Salaf.

MAKA, BERSABARLAH DAN TETAPLAH KOMITMEN DENGAN AL-HAQ
Dengan melihat fakta lapangan, orang yang tidak dan belum komitmen dengan ajaran Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam jumlahnya lebih banyak bahkan dominan di tengah masyarakat, maka seorang Muslim yang taat kepada Allâh Azza wa Jalla dan Rasul-Nya Shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak perlu merasa cemas, resah dan terasing lantaran tidak “memiliki” teman banyak atau bahkan tidak punya teman sama sekali. Sebab, hatinya ingin bersama dengan “orang-orang orang-orang yang dianugerahi nikmat oleh Allâh, yaitu: nabi-nabi, para shiddîqîn, orang-orang yang mati syahid, dan orang-orang saleh. Dan mereka itulah teman yang sebaik-baiknya”.[8]

Apabila kesabaran dan keyakinannya menipis, maka ia akan meninggalkan kebenaran itu, tidak sanggup menanggung beban (untuk menjalankan)nya, apalagi bila ia tidak memiliki teman dan merasa resah dengan kesendiriannya. Akhirnya, ia akan berkata, “Kemana manusia pergi, maka aku mengikuti mereka”.[9]

MARI SEBARKAN AJARAN AHLI SUNNAH WAL-JAMAAH!
Tersebarnya ajaran dan petunjuk yang bersumber dari al-Qur`ân dan Sunnah yang shahîhah di tengah satu masyarakat, dari masyarakat terkecil seperti keluarga, hingga masyarakat berskala besar seperti negara, akan mendatangkan kebaikan demi kebaikan bagi mereka semua. Oleh karena itu, sepatutnya penyeru kepada perbaikan berusaha keras untuk memperbanyak jumlah ahlul-haq. Sebab, para nabi pun memperoleh kedudukan yang berbeda-beda juga berdasarkan sedikit banyaknya pengikut mereka. Oleh sebab itu, Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

إِنِّي لَأَرْجُوْ أَنْ تَكُونُوْا أَكْثَرَ أَهْلَ الْجَنَّةِ

Sesungguhnya aku benar-benar berharap kalian menjadi penghuni terbanyak di dalam surga. [HR al-Bukhâri dan Muslim dari hadits Ibnu ‘Abbâs Radhiyallahu anhu][10].

Wallâhu a’lam.

[Disalin dari majalah As-Sunnah Edisi 05/Tahun XVII/1434H/2013. Diterbitkan Yayasan Lajnah Istiqomah Surakarta, Jl. Solo – Purwodadi Km.8 Selokaton Gondangrejo Solo 57183 Telp. 0271-858197 Fax 0271-858196]
_______
Footnote
[1]. Miftâhu Dâris-Sa’âdah, 1/147.
[2]. Lihat Manhajul-Istidlâl, 2/695.
[3]. Syarhu Masâili al-Jâhiliyyah, hlm. 61.
[4]. Miftâhu Dâris-Sa’âdah, 1/147.
[5]. Syarhu Masâili al-Jâhiliyyah, Shâlih al-Fauzân, hlm. 62.
[6]. Lihat Qathfu Jana ad-Dânî, Darul-Fadhîlah, Cet. I Th. 1423H-2002M, hlm35-36
[7]. At-Ta’âlum, hlm. 121-122.
[8]. an-Nisâ/4 ayat 69. Lihat keterangan ini dalam ash-Shawâriwu ‘anil-Haqq, hlm. 109.
[9]. Syarhu al-‘Aqîdah ath-Thahâwiyah, 2/361.
[10]. Ash-Shawâriwu ‘anil-Haqq, hlm. 106-112.

Sumber: https://almanhaj.or.id/4303-jumlah-banyak-bukan-barometer-kebenaran.html

Print Friendly, PDF & Email

15 Comments

  1. saya setuju dengan artikel anda, tapi yang harus jadi catatan di sini adalah, bukan masalah benar atau salah.
    anda mengaku paling benar di dunia ini. no…no…no… tidak ada hadist dan nash alquran nya , kalau anda wahabi paling benar. apa lagi sebagai penghuni surga.

    penempatan hadits tersebut salah , kalau anda kemukaan di sini. itu hadist di menggambarkan keadaan muslim dan kafir ( bukan antara golongan muslim seperti suni,wahabi,syaih, khawarij, ahmadiyah dll ), kalau anda jabar kan itu , ada yang lebih minoritas lagi , apa lalu di bilang minoritas itu benar ….??? ( berarti wahabi juga salah dong )

    saya sedih dengan anda , anda salah memakai hadist itu untuk menghantam mayoritas.
    andai hadist itu benar ada nya , berarti golongan anda wahabi juga , bukan minoritas,anda juga sesat , krn ada yang lebih sedikit lagi pengikut nya.

    yang jelas adalah anda wahabi tidak usah usil terhadap amalan orang lain. karena anda pun belum di jamin masuk surga , mari kita sama2 perangi kemungkaran, berantas judi, minuman keras, narkoba , prostitusi, pornografi dll , itu akan lebih bermanfaat ketimbang anda sibuk nyari kesalahan golongan lain, biarlah merkea ibadah dengan keyakinan mereka yg merka anggap benar.
    jangan anda sibuk ngurusin org tahlil, tawasul, yasinan,dll tapi di sekliling anda maksiat merajalela.
    wallohu aklam bishowab.

    Wahabi ngurusin orang tahlilan,tawasul,yasinan, dll, itu karena RASA KASIH SAYANG WAHABI kepada kaum muslimin,.
    WAHABI tidak ingin kaum muslimin diusir dari telaga rasulullah karena amalan yang tidak ada contohnya dari rasulullah seperti yasinan,tahlilan,maulidan,barzanjian,dll

    Wahabi tidak ingin kaum muslimin terjerumus dalam kesyirikan, kebidahan,..

    Itulah bentuk kasih sayang wahabi kepada kaum muslimin,.. lalu,. kenapa anda membenci wahabi?? anda ingin membiarkan kaum muslimin masuk neraka karena mengerjakan kesyirikan, kebidahan??
    Inikah sifat kepedulian seorang muslim kepada muslim lainnya?? DUSTA… itu adalah bentuk ketidakpedulian kepada sesama muslim,.. bukan bentuk kasih sayang,..

    • memang kalau tahlilan , yasinan, tawasul, g ada contoh dari nabi.
      lantas kalau TV rodja, dakwah pakai internet , sholat pakai celana dll ada contoh juga dari nabi .

      Bagi yang bingung terhadap hal-hal yang tidak ada contohnya dari nabi,. silahkan baca postingan ini

      • 9. Ibadah kok ber-INOVASI ? apa boleh ?

        Dalam Islam TIDAK BOLEH ! tapi agama lain mungkin DIBIARKAN..

        dalam kehidupan tidak terlepas dari yang namanya ibadah, alloh swt menciptakan mahluk nya untuk beribadah.

        Betul sekali, Allah menyuruh beribadah, dan Allah sudah menurunkan pula ketetapan dan tatacara beribadah tersebut,. ikutilah ketetapan tersebut, dan ketetapan tersebut sudah Rasulullah sampaikan seluruhnya, tidak ada yang tertinggal, sudah sempurna,. silahkan tinggal ikuti saja, BUKAN BERINOVASI SENDIRI DALAM HAL BERIBADAH KEPADA ALLAH

        5. Contoh INOVASI yang baik buat manusia ?

        • Kereta kuda menjadi Mobil
        • Telegram menjadi SMS
        • Surat menjadi E-Mail
        • Mesin Ketik menjadi Laptop
        • Kurir Pesan menjadi Gelombang Radio/Signal Telephone
        • Bedah pisau menjadi bedah laser
        • Dan masih buaanyaaaaaak lagi hampir semua teknologi dan fasilitas yang kita pake saat ini merupakan hasil dari INOVASI dari jaman sebelumnya

        hal tersebut di atas anda sebut bukan ibadah.
        yang membawa maslahat dan kebaikan untuk umat adalah ibadah dan ibadah adalah perkara agama.

        Kata siapa yang membawa maslahat dan kebaikan untuk umat adalah ibadah?? bagaimana jika ada orang kristen membantu fakir miskin, memberikan bantuan kepada korban bencana alam, apakah itu bernilai ibadah?? TIDAK,.
        Bagaimana jika ada orang kafir shalat,puasa,. apakah itu bernilai ibadah?? TIDAK,.
        Jadi yang membawa maslahat dan kebaikan tidak otomatis adalah ibadah, JIKA TIDAK SESUAI KETENTUAN DENGAN PEMBUAT SYARIAT IBADAH INI, yaitu ketentuan Allah,… demikian pula dalam hal tatacara ibadah yang dilakukan kaum muslimin, ITU WAJIB MENGIKUTI KETENTUAN ALLAH dan Rasulnya

        di dunia itu dalam islam hanya berlaku 5 hukum , wajib , sunah, mubah, makruh dan haram , adapun balasan nya adalah. pahala dan dosa.

        Darimana anda bisa mengatakan bahwa dalam islam berlaku hanya 5 hukum??? sebutkan dalilnya dong, baik dari Alquran atau hadits,. silahkan mas ikbal, tentang 5 hukum diatas, ingat lho ya, DARI ALQURAN DAN HADITS yang menyatakan bahwa dalam islam berlaku HANYA 5 HUKUM,

        apa anda punya dalil dan nash alquran nya, kala ada perkara di dunia yang bukan merupaka ibadah.
        ingat segala sesuatu itu harus ada dasar hukum nya.

        Saya pegang kata-kata anda,..

        “ingat segala sesuatu itu harus ada dasar hukum nya”

        Kata-kata yang sangat agung, dan yang saya tuntut dari anda, dan hendaknya SEMUA KAUM MUSLIMIN SEPERTI ITU,

        Semua amalannya harus ada dasar hukumnya dari Alquran dan Sunnah, dengan pemahaman para sahabat, karena para sahabatlah yang PALING PAHAM ALQURAN DAN SUNNAH SETELAH RASULULLAH

      • pak ikbal dalam kontek ini dia sperti tidak bisa membedakan mana bidah dunia, mana bidah agama , aku sbg awam akan ajaran islam juga sedikit bisa membedakan mana yg dunia mana yg kaitanya dgn agama ,

        Mudah-mudahan mas ikbal sekarang mulai paham, apalagi mas ikbal sering baca blog ini, dan membaca komentar-komentarnya,
        Mungkin mas ikbal belum paham karena masih belum jelas sekali, kita doakan, mudah2an mas ikbal segera paham,

        klo dlm pemahaman sya sih bidah dunia klo di niatkan untuk ibadah bisa jdi bidah khasah sperti : mobil – >dlu dijaman rosul tidk ada mobil ,ini adl bidah dlm kontek dunia ,ini bisa jadi bidah khasanah klo mobil itu di gunakan utk ibadah ,

        empek2 ini mknn yg dlu dijaman rosul tak ada, ini termasuk bidah dunia, tpi bisa jdi bidah khasanah klo niat makan empek2 untuk lebih kuat lagi ato semangat utk ibadah kpd alloh ,

        Ya, betul sekali, dan masih banyak yang dianggap urusan dunia, contoh masjid yang memakai karpet,pakai keramik, sebab masjid rasulullah pakai pasir saja,atau masjid pakai speaker,mic, jadi masjid pun itu urusan dunia, kecuali arah kiblatnya,. nah itu baru masuk urusan agama,

        dan menurut pandangan saya sebagai org yg awam akan pngetahuan agama ,semua yg tidak ada dijaman rosul bentuk dunia maupun bentuk ibadah adl bidah ,dalam kontek keduniaan bisa jdi bidah kasanah ato dolalah sesuai dgn niat , ketika rosul bersabda “semua bidah itu sesat (dalam kontek ibadah/agama) yg tidak diajarkan oleh rosul,krn dlm hal ini rosul menurut saya lebih menuju ke kontek agama, krn rosul di utus alloh semata2 hanya untuk membenarkan kita dlm hal ibadah utk alloh,

        maaf krn rosul mungkin tidak begitu mengetahui tentang keduniaan,sperti ilmu teknologi dll yg bersifat keduniaan,

        Ya,Rasul diutus bukan untuk membuat mobil,pesawat,mic,speaker,.
        Rasul diutus untuk memurnikan ibadah hanya kepada allah, dan dengan cara yang sudah allah tetapkan,.
        Jadi salah besar jika ada yang mengatakan mobil,pesawat,mic,speaker, itu adalah bidah,. karena Rasulullah diutus bukan untuk bikin pesawat,.. wong mengawinkan pohon kurma saja Rasulullah tidak bisa, apalagi bikin pesawat,

        kalian menyakini tahlilan,maulidan ,yasinan itu adalah suatu ibadah , tpi rosul tidak mencontohkannya ,terus siapa yang menjamin ibadah itu bisa diterima klo rosulpun tidak mencontohkanya?

        Mudah-mudahan ini bisa menjadi bahan renungan para pelaku tahlilan, maulidan,yasinan,.
        Tidak ada dari mereka yang mengatakan amalan tersebut bukan ibadah,. tidak ada yang mengatakan amalan mereka tersebut sekedar main-main belaka, mereka menganggap amalan tersebut adalah ibadah, untuk menambah ketakwaan,menambah kecintaan kepada Allah, dan menambah keridhaan Allah,.
        Padahal,.. Allah semakin murka kepada pelaku amalan tersebut, karena semua amalan tersebut adalah amalan bidah,

        maaf org awam ini ikut komen ,mungkin sya kurang ato ada yg salah ,tolong pak admin dibenarkan sekiranya ada yg salah ,terima kasih.

        Terimakasih atas komentarnya,..

      • kalo boleh saya tambahkan bantahan terhadap saudaraku Ikbal tentang pernyataan:
        5. Contoh INOVASI yang baik buat manusia ?
        • Kereta kuda menjadi Mobil
        • Telegram menjadi SMS
        • Surat menjadi E-Mail
        • Mesin Ketik menjadi Laptop
        • Kurir Pesan menjadi Gelombang Radio/Signal Telephone
        • Bedah pisau menjadi bedah laser
        • Dan masih buaanyaaaaaak lagi hampir semua teknologi dan fasilitas yang kita pake saat ini merupakan hasil dari INOVASI dari jaman sebelumnya

        hal tersebut di atas anda sebut bukan ibadah.
        yang membawa maslahat dan kebaikan untuk umat adalah ibadah dan ibadah adalah perkara agama.

        saya jawab:
        jika mobil, sms, telepon, laptop, radio, bedah laser, dll dikatakan bid’ah hasanah? lalu bagaimana

        1. kalau mobil digunakan untuk ngangkut bir atau rokok, jadi bid’ah apa mobil itu? bid’ah hasanah?
        2. kalau sms buat pacaran, jadi bid’ah apa sms itu? bid’ah hasanah?
        3. kalau telepon itu buat ngancam bom/teror, jadi bid’ah apa telepon itu? bid’ah hasanah?
        4. kalau laptop digunakan untuk mutar film porno, jadi bid’ah apa laptop itu? bid’ah hasanah?
        5. kalau laser digunakan untuk operasi ganti kelamin, jadi bid’ah apa laser itu? bid’ah hasanah?

        dari situ dapat kita fahami, bahwa suatu perkara dunia yang bisa bermanfaat dan menunjang ibadah itu dibolehkan dan kadang kalanya malah diwajibkan, itulah yang disebut maslahat mursalat, bukan bid’ah hasanah.

        saya kasih contoh, orang indonesia yang mau ibadah haji di makkah dan madinah wajib memili paspor. itu bukan bid’ah, sekalipun nabi tidak contohkan. paspor adalah urusan dunia, tetapi menjadi wajib ketika masuk ke negara arab untuk menunaikan ibadah haji. itulah yang disebut maslahat mursalat.

        walhasil tidak ada bid’ah hasanah dalam ibadah itu, mereka para pelaku bid’ah hanya mencari-cari alasan untuk mendukung perbuatannya.

        mereka hanya mengambil perkataan para ulama seperti perkataan imam syafi’i yang membagi bid’ah menjadi dua, tetapi tidak melihat contoh bid’ah hasanah menurut syafi’i, dan tidak memahami penjelasan para ulama ahlusunnah.

        para pelaku bid’ah juga mengesampingkan hadits nabi tentang tercelanya perbuatan bid’ah.

        Terimakasih atas tambahan jawaban buat mas ikbal, mudah2an mas ikbal bisa semakin paham,.

  2. kalau saya jelas, kaum sunni selain dalil ambil dari hadist dan alquran sebagai sumber utama segala hukum , di samping itu juga pendapat ulama. itu pasti silahkan anda di kitab / buku karangan para ulama .

    Betulkah? anda dan aswaja berdalil dengan alquran dan hadist?
    Saya ingin bukti, tolong datangkan satu dalil saja tentang amalan tahlilan kematian,. saya yakin, sampai kiamatpun anda dan aswaja tidak akan mendapatkannya,.

    Rasulullah saja tidak pernah sekalipun mengamalkan tahlilan kematian, sebagaimana sudah saya posting disini

    kami kaum sunni perpendapat tidak mengapa tidak ada contoh dari rosul, tapi ada keterkaitan nya dengan hukum tertentu , contoh tahlil ( itukan isinya baca alquran dan dxzikir jadi ada hukum mengkait di dalam nya ) . rosulloh saw berkata ” melakukan sesuatu yang baru, yang tidak aku contohkan ,tapi tidak melanggar agama , itu di maaf kan “.
    jadi tidak ada masalah bagi kami kaum sunni.

    Sunni bukanlah pengakuan doang, sunni adalah pengikut sunnah, tolong jika anda pengikut sunnah, sampaikan bukti bahwa yang anda lakukan itu sunnah, ada sunnahnya dari nabi, dikerjakan oleh nabi, juga dikerjakan oleh para sahabat,. itu jika betul klaim anda sebagai sunni,. bukan KLAIM DUSTA,PALSU,.
    Bukan menyimpangkan dalil, di alquran atau hadits ada perintah berdzikir, lalu kaum “sunni” mengarang-ngarang dzikir sendiri, mengarang amalan sendiri,.. ini adalah tindakan super ngawur bin konyol,. Rasulullah saja tidak melakukan amalan tersebut, kok “sunni” melakukan,. ini adalah kebodohan diatas kebodohan,.. Imam syafii saja yang diklaim bahwa sunni itu pengikut syafii, tidak melakukkannya,.

    trus anda wahabi bagaimana jawaban anda, bahwa tahlil, tawassul, yasinan, dll , masih tetap di vonis bidah …..??????

    Jawaban saya, karena itu semua tidak pernah dilakukan oleh Rasulullah,.. katanya anda “sunni” datangkan dong satu dalil saja bahwa rasulullah mengerjakan amalan tersebut,.. silahkan, ada hadiah besar menanti, jika anda bisa membawakan SATU DALIL saja,. silahkan anda cari, silahkan bertanya pada kyai top anda, habib top anda, ajengan top anda, atau ulama top anda,..silahkan,.. kalau sudah nemu, silahkan sampaikan disini

    Bahkan tawassul kepada orang yang sudah mati adalah KESYIRIKAN,. sudah saya posting disini

    lalu bagaimana TV RODJA , sholat pakai celana . apa jawaban anda . pasti anda juga pakai dasar hukum dari ijtihad ulamakan.

    TY Rodja, itu sekedar sarana, kita tidak berkeyakinan bahwa dengan TV Rodja itu akan membawa ke surga, yang tidak mau mendengarkan atau melihat tv rodja akan ke neraka,. itu sekedar sarana, tidak ada keyakinan khusus sebagaimana orang tahlilan,yasinan,maulidan,shalawatan,.. mereka menjadikan amalan tsb seolah2 itu adalah amalan yang mulia, padahal rasulullah tidak mengerjakannya,.

    Pakaian juga bukan urusan ibadah, itu urusan dunia, Rasulullah memakai jubah,gamis, itu karena masyarakatnya memakai pakaian seperti itu,. tapi perlu diCATET BESAR-BESAR,. Jubah rasulullah tidak melampaui mata kaki, alias separuh betis, demikian pula ttg celana,. boleh,, tapi tidak melampaui mata kaki, alias tidak isbal,. gimana celana anda?

    Bagaimana resikonya jika memakai celana atau sarung melewati mata kaki? siksanya pedih mas ikbal, sudah saya posting disini

    kalau anda wahabi boleh pakai dasar hukum ulama, kenapa kaum sunni tidak.
    jangan suka teriak bidah tapi anda melakukan bidah.
    ingat ” ulama adalah pewaris para nabi “.

    SEbutkan ulama ahlusunnah yang melakukan TAHLILAN,YASINAN,MAULIDAN,. monggo mas,,

    • ini hujjah untuk maulid.

      Amalan umat islam ahlusunnah wal jamaah pada saat “maulid”
      – Perintah mengingati Hari – Hari Allah (12 rabiul awwal adalah hari lahir, hijrah (nabi sampai di madinah) dan wafat nabi Muhammad SAW)

      Ini jawaban dari syubhat anda,.silahkan klik disini

      Hal semacam in telah difahami dan dijelaskan oleh para khulafa’urrasyidin, sahabat radhiyallahu’ anhum, Imam dan Muhadditsin, para ulama, fuqaha dan bahkan orang muslimin yg awam, namun hanya sebagian saudara saudara kita muslimin yg masih bersikeras untuk menentangnya,

      Dusta ucapan anda dan kelompok yang beranggapan seperti itu,.

      semoga Allah memberi mereka keluasan hati dan kejernihan, amiin.

      Aamiin

    • ‘Ibnu Taimiyah Membungkam Wahhabi ( ini saya copy dari blog salafi tobat).
      Belakangan ini kata ‘salaf’ semakin populer. Bermunculan pula kelompok yang mengusung nama salaf, salafi, salafuna, salaf shaleh dan derivatnya. Beberapa kelompok yang sebenarnya berbeda prinsip saling mengklaim bahwa dialah yang paling sempurna mengikuti jalan salaf. Runyamnya jika ternyata kelompok tersebut berbeda dengan generasi pendahulunya dalam banyak hal. Kenyataan ini tak jarang membuat umat islam bingung, terutama mereka yang masih awam. Lalu siapa pengikut salaf sebenarnya? Apakah kelompok yang konsisten menapak jejak salaf ataukah kelompok yang hanya menggunakan nama salafi?.
      Tulisan ini mencoba menjawab kebingungan di atas dan menguak siapa pengikut salaf sebenarnya. Istilah salafi berasal dari kata salaf yang berarti terdahulu. Menurut ahlussunnah yang dimaksud salaf adalah para ulama’ empat madzhab dan ulama sebelumnya yang kapasitas ilmu dan amalnya tidak diragukan lagi dan mempunyai sanad (mata rantai keilmuan) sampai pada Nabi SAW. Namun belakangan muncul sekelompok orang yang melabeli diri dengan
      nama salafi dan aktif memakai nama tersebut pada buku-bukunya.

      oh,.. rupanya dari salafi tobat rujukannya, pantesan saja, sama-sama seperti itu,.
      Maaf, komentarnya terlalu panjang, ngga penting,. saya hapus,.

      Nanti saya posting juga deh, siapa sih salafi tobat itu
      Saya kasih linknya dulu untuk menjawab yang anda copy paste, silahkan buka link ini

    • Inti nya Andai amalan yang anda tuduhkan ke kami itu bidah , terus saya tidak bisa memberi hujjah ,

      terus bagaimana dengan amalan anda kaum wahabi, seperti TV rodja, sholat pakai celana, tausiah melalui media dll.

      jawaban nya sudah pasti BIDAH. karena sesuatu yang tidak ada contoh dari rosul dan yang baru dalam agama itu adalah bidah.

      anda mau ngeles lagi kalau itu bukan bidah.
      sedih rasa nya ada kelompok anti bidah , eheheheh tau nya pengagum bidah , udah gitu mau di panggil salafi lagi. masih pantas kah itu ???…..

      terimakasih ikbal, masih betah komentar disini,
      Adanya tv rodja atau tidak adanya, ngga pengaruh dengan cara ibadah kami, lha wong rodja tv itu cuma sarana saja,.

      Jika kita berkeyakinan bahwa Rodja tv lah patokan kebenaran, harus mengikuti arahan rodja tv, yang menyelisihi rodja tv adalah sesat, ini keyakinan yg tidak benar,.

      Yang dilihat adalah , apa yang disampaikan oleh rodja tv, apakah sesuai dengan petunjuk rasulullah atau tidak,. contoh, apakah cara shalat yang disampaikan oleh rodja tv itu menyalahi petunjuk rasulullah?? jawabnya TIDAK,.

      Jadi itu semua adalah sarana,.

      Sebagaimana BAHASA INDONESIA,.. Rasulullah tidak berdakwah menggunakan BAHASA INDONESIA,.. apakah berdakwah dengan memakai bahasa indonesia adalah BIDAH???

      Itu konsekwensi jika anda memaksakan bahwa rodja tv adalah bidah,..

      Jika anda tidak berani membidahkan berdakwah dengan bahasa indonesia,. ini namanya standar ganda, disatu sisi anda memaksakan penilaian anda bahwa rodja tv adalah bidah, tapi anda tidak berani ngomong berdakwah dengan bahasa indonesia adalah bidah,.

      Bagi kami, berdakwah dengan bahasa indonesia bukan bidah, karena itu sarana saja, sebagaimana rodja tv, intrnet,radio,dll

      • Sepertinya mas Ikbal ini tidak mengerti arti bid’ah yang di sabdakan Rosululloh Sholallohu ‘alaihi wassalam, yaitu tata cara ibadah yang tidak pernah di ajarkan oleh Rosululloh Sholallohu ‘alaihi wassalam yang di tetapkan waktu, tempat dan jumlahnya.Begitu pula tidak pernah di lakukan/di ikuti oleh khulafa’rasyidin dan para sahabat

        Biarin saja akh Abu Fadhilah, mungkin mas ikbal belum bisa mencerna, makanya saya menjadikan komentar-komentar mas ikbal itu sebagai inspirasi saya untuk memposting artikel yang mungkin bisa lebih mudah difahami, khususnya tentang bidah ini,.

        Alhamdulillah sudah saya posting artikel baru, yang ini menjawab kebingungan mas ikbal dan mungkin para pembaca, silahkan bisa di lihat postingannya disini

  3. abu fadilah, saya mau bertanya apa sih arti ibadah itu ?

    Mudah-mudahan Allah berikan semangat kepada mas ikbal untuk semakin mempelajari ajaran islam dengan pemahaman yang benar,
    spesial buat mas ikbal, saya postingkan apa sih makna ibadah, silahkan bisa dibaca disini

    • terimakasih jawaban nya akhi abu fadilah. tapi tawassul, tahlil dll itu apa termasuk ibadah ya.

      terimakasih ikbal,
      Coba tanyakan saja kepada orang yang melakukan tawassul, tahlilan,.
      Tanya kepada dia, kalian sedang main-main ya, bukan sedang beribadah,.. dan silahkan anda lihat reaksi mereka,.

      Jika mereka mengakui yang mereka lakukan itu bukan ibadah, SAYA AKAN TUTUP BLOG INI,.. silahkan tanyakan mas,

      Kalau perlu ketika Kyai anda sedang tawassul, sedang tahlilan, anda berkata,. kenapa kalian main-main dengan tahlilan, dengan tawassul, kan tahlilan dan tawassul itu bukan ibadah, itu hanya main-main, tidak berpahala,.

      silahkan kalau berani mas ikbal,.. saya tunggu hasil praktek anda,.. mengatakan kepada orang yang sedang tawassul bahwa tawassul mereka itu bukan ibadah,. tahlilan mereka bukan ibadah,.. silahkan,.. saya tunggu komentar anda, dan bukti perkataan anda,.. kalau perlu direkam videonya mas,

    • bagimana anda sebut tahlil, tawasul dll itu ibadah sedang anda sebut itu bidah , dan tidak ada dalil nya.

      Anda sudah bertanya belum kepada orang yang melakukan tahlilan, tawassul, mereka sedang beribadah atau bukan? jangan nanya saya, kan kata anda itu bukan ibadah, coba tanya kepada mereka yang melakukan hal tersebut, itu ibadah atau bukan?

    • lalu menurut anda kira2 tahlilan , tawasul itu ibadah bukan ya ?

      Tanyakan kepada pelaku amalan tersebut, mereka beramal dalam rangka beribadah atau bukan?
      Jika dalam rangka beribadah, maka wajib mendatangkan dalil yang memerintahkan amalan tersebut,.

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*