Mengapa Enggan Untuk Merapatkan Shaf?

Mengapa Enggan Untuk Merapatkan Shaf?

Hampir setiap kali menunaikan salat berjamaah kita mendengar imam salat mengatakan, “Rapatkan dan luruskan barisan!”; “Luruskan dan rapatkan barisan, karena rapat dan lurusnya barisan merupakan kesempurnaan salat!” atau kata-kata senada yang kurang lebih maknanya sama. Namun, pada kenyataannya, masih banyak kaum muslimin yang tidak mendengar dan tidak mau mematuhi ajakan imam untuk meluruskan dan merapatkan barisan.

Sering kali kita dapati para makmum tidak memedulikan masalah meluruskan barisan, yang satu agak maju ke depan, yang satu lagi agak mundur ke belakang, telapak kaki membentuk huruf V sehingga mustahil bisa rapat satu sama lain, ataupun kaki-kaki mereka tidak bersentuhan dengan saudaranya yang ada di sampingnya, tidak peduli lagi akan lurus dan rapatnya barisan salat berjamaah. Bahkan, tidak sedikit kaum muslimin yang apabila ada orang yang merapat, malah semakin menjauh dan marah karena didekati saudaranya sesama umat Islam. Padahal kaum muslimin adalah bersaudara yang diperintah agar merapatkan dan meluruskan barisan dalam salat berjamaah.

MENGAPA TIDAK MAU MERAPAT ?

Apabila kita mengajukan pertanyaan tersebut kepada diri sendiri ataupun pada saudara kita sesama umat Islam, maka kita akan mendapati jawaban yang bermacam-macam. Pada kesempatan kali ini, kami sebutkan beberapa alasan dengan disertai solusi atau jawabannya.

Merapatkan Shaf Dapat Menghilangkan/Mengurangi Kekhusyu’an?!

Sesungguhnya tidak menaati perintah-perintah Allah dan Nabi-Nya –shallallahu ‘alaihi wa sallam– merupakan sebab terhalangnya seseorang dari mendapatkan hidayah,khusyu’, dan tuma’ninah, bukan malah sebaliknya.

Terkadang memang timbul rasa was-was pada waktu pertama kali merapatkan shaf sebagaimana yang diperintahkan, dan hal ini jelas datangnya dari setan, agar kita tidak meluruskan dan merapatkan barisan shaf dalam shalat berjamaah. Hal ini karena belum terbiasa, dan kesulitan penyesuaian dalam setiap awal suatu perbuatan adalah suatu hal yang biasa dan wajar. Hal itu akan hilang dengan sendirinya setelah adanya kebulatan tekad dan pelaksanaan secara istiqamah.

Dari sahabat ‘Abdullah bin ‘Umar radhiyallahu ta’ala ‘anhuma beliau berkata: Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

“Luruskan shaf-shaf kalian, karena sesungguhnya kalian itu bershaf seperti barisannya para malaikat. Luruskan di antara bahu-bahu kalian, isi (shaf) yang kosong, lemah lembutlah terhadap tangan-tangan (lengan) saudara kalian dan janganlah kalian menyisakan celah-celah bagi setan. Barangsiapa yang menyambung shaf, niscaya Allah akan menyambungnya (dengan rahmat-Nya) dan barangsiapa yang memutuskannya, maka Allah akan memutuskannya (dari rahmat-Nya)”. (Shahih, HR. Abu Dawud no. 666)

Hadis ini sangat gamblang menjelaskan kepada kita bahwa umat Islam diperintah untuk meluruskan dan merapatkan barisan shalat berjamaah, renggangnya barisan jamaah merupakan celah bagi setan untuk menggoda orang-orang yang sedang salat.

Tidak Mengetahui Wajibnya Merapatkan dan Meluruskan Barisan ketika Salat Berjamaah

Akibat dari ketidaktahuan kaum muslimin akan wajibnya merapatkan dan meluruskan barisan ketika shalat berjamaah, banyak kita jumpai kesalahan-kesalahan yang mengakibatkan tidak rapat dan lurusnya barisan dalam salat berjamaah. Di antara kesalahan-kesalahan tersebut, yaitu:

  • banyak jamaah pergi ke masjid dengan membawa sajadah yang lebih lebar dari badannya dan terkesan tidak boleh diinjak jamaah lain karena takut kotor, memperlihatkan sajadahnya yang bagus,
  • ada jamaah yang menghindar dan tidak rela ketika kakinya disentuh/ditempeli kaki jamaah lain di sampingnya, semakin banyak celah di antara jamaah yang tidak rapat sehingga memungkinkan setan masuk di barisan salat,
  • imam salat hanya sebatas memberikan himbauan kepada makmumnya untuk merapatkan barisan shaf salat tanpa merasa perlu memeriksa lagi dan meluruskan shaf yang masih renggang.

Padahal Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menekankan tentang keharusan meluruskan dan merapatkan barisan ketika kaum muslimin menjalankan ibadah shalat berjamaah, sebagaimana yang diriwayatkan oleh Anas bin Malik rahimahullah, dia berkata:

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam setiap akan salat selalu menghadap kepada kami sebelum beliau bertakbir, lalu beliau bersabda, “Berdirilah kalian rapat-rapat dalam shaf dan luruskanlah shaf-shaf kalian!” (HR. al-Bukhari dan Muslim)

Dari hadis ini kita mengetahui wajibnya rapat dan lurus dalam barisan salat berjamaah, karena asal dari suatu perintah adalah menunjukkan keharusan kecuali apabila ada dalil lain yang memalingkannya. Hadis ini juga memberikan pengajaran bagi para imam agar memperhatikan dan memastikan bahwa jamaah sudah rapat dan lurus sebelum takbir untuk memulai salat berjamaah.

Setelah membaca hadis tersebut, maka tidak ada lagi alasan bagi kita untuk mengatakan saya tidak tahu dasar/dalil wajibnya merapatkan dan meluruskan barisan dalam salat berjamaah.

Kebencian terhadap Sesama

Sesungguhnya Islam telah menghimbau kepada umatnya untuk senantiasa menjaga ukhuwah ini, karena pada hakikatnya kaum mukminin itu bersaudara. Mereka bagaikan susunan bangunan yang kokoh yang saling menguatkan satu sama lain. Allah subhanahu wa ta’ala berfirman:

“Sesungguhnya orang-orang yang beriman itu adalah bersaudara.” (QS. al-Hujurat: 10)

Dari Abu Qasim al-Jadali berkata: “Aku mendengar Nu’man bin Basyir radhiyallahu ‘anhu berkata, “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menghadap­kan wajahnya kepada manusia dan bersabda: “Luruskan shaf-shaf kalian (3X)! Demi Allah, benar-benar kalian meluruskan shaf-shaf kalian atau Allah akan menjadikan hati kalian berselisih.” Nu’man berkata, “Maka aku melihat seorang menempelkan bahunya dengan bahu temannya, lututnya dengan lutut temannya, mata kaki dengan mata kaki temannya.” (Sahih, HR. Abu Dawud no. 662)

Perhatikan hadis tersebut, Rasulullah shallallahu ’alaihi wa sallam memerintah­­kan kita untuk meluruskan barisan dalam salat berjamaah yang salah satu faedahnya adalah agar hati-hati kaum muslimin tidak berselisih.

Dengannya lah –Insya Allah– akan terwujud kecintaan di antara kaum muslimin. Inilah salah satu jalan untuk meraih persatuan dan kesatuan umat Islam.

Bagaimana Cara Meluruskan dan Merapatkan Barisan Salat?

Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu menerangkan cara meluruskan dan merapat­kan shaf shalat berjamaah pada masa kehidupan Nabi shallallahu ’alaihi wa sallam, ia berkata,

“Dahulu salah seorang di antara kami menempelkan bahunya dengan bahu teman di sampingnya serta kakinya dengan kaki temannya. Andaikan engkau melakukan hal itu pada hari ini, niscaya engkau akan melihat mereka seperti bagal (hewan hasil perkawinan antara kuda dengan keledai) yang liar.” (HR. al-Bukhari)

Berdasarkan hadis tersebut dan dalil-dalil sahih yang lainnya, dapat dipahami bahwa cara meluruskan dan merapatkan shaf di antaranya adalah sebagai berikut:

  1. Merapatkan bahu dengan bahu, kemudian menempelkan telapak kaki dengan telapak kaki (bagian tumit), mata kaki dengan mata kaki, dan lutut dengan lutut saudaranya yang ada di sampingnya.
  2. Menjaga agar bahu, leher, dan dada tetap lurus dengan sampingnya, yaitu tidak lebih maju atau lebih mundur dari yang lainnya.
  3. Tidak membuat shaf sendirian selama hal itu memungkinkan, apabila tidak memungkin­kan maka tidak mengapa berjamaah dengan membuat shaf sendiri atau berdiri di samping imam.

Semoga dengan risalah yang singkat ini menguatkan semangat kita dalam mengamalkan kewajiban-kewajiban, termasuk merapatkan dan meluruskan barisan dalam salat berjamaah. Dan semoga umat Islam bisa bersatu secara lahiriah maupun batiniah dengan berpegang erat serta berpedoman pada al-Qur’an dan Hadis yang sahih. Dan akhirnya persatuan umat Islam kembali bermula dan semakin kokoh ke depannya. Aamiin.

Oleh : Abu Hisyam Liadi

Sumber : Bulettin Al-Iman Judul Asli : Mengapa tidak Mau Merapat?

sumber : http://abangdani.wordpress.com/2013/05/10/mengapa-enggan-untuk-merapatkan-shaf/

Print Friendly, PDF & Email

14 Comments

  1. Bagaimana bila berdiri dengan melebihi garis dari karpetnya, sehingga mengambil hak jamaah yang dibelakangnya.

    Saya sering tidak lurus dengan jamaah disamping kanan-kiri karena hampir semuanya berdiri dibelakang melebihi garis karpet. Karena menurut saya, walaupun didalam sholat, saya tidak akan mengambil hak orang lain..

    Saya juga terkadang kesal bila berada didepan jamaah yang berdiri melebihi karpet sehingga mengganggu ketika rukuk dan sujud.

    terimakasih risdi,.
    lurus itu adalah mata kaki nempel dengan mata kaki, bahu dengan bahu,. bukan karpet yang jadi patokan,. ikuti perintah imam shalat saja,. ngga usah mikirin mengambil hak jamaah dibelakangnya, kan ada imam yang mengatur barisan,.

    • Saya juga sering mengalami hal seperti Risdi, banyak jamaah yang melebihi garis karpet. yang menurut saya sama saja mengambil hak orang dibelakangnya. Padahal ukuran karpet sudah diukur sesuai dengan panjang rukuk & sujud yang disunahkan.

      Dalam sholat aja masih mengambil hak orang lain, apalagi ketika diluar sholat…???

      Menurut saya penulis juga egois, dengan nggak usah mikirin hak jamaah dibelakang. padahal masing-masing jamaah punya hak dan kewajiban saat sholat.

      Justru kewajiban kitalah untuk mengingatkan agar tidak mengambil hak orang lain meskipun dalam beribadah.

      Imam dapat melihat dan mengatur barisan paling banyak 2-3 shaf, belum pernah saya menjumpai imam yang mengatur shaf hingga kebelakang.
      selebihnya hanya berupa himbauan.

      Terimakasih mas nandi,.
      Dalam shalat berjamaah itu imam yang bertanggungjawab,.
      Imam kalau diibaratkan supir bus, maka dia harus memperhatikan penumpangnya, apakah sudah naik semua, atau ada yang belum naik, atau ada yang masih naik,.jangan main tancap gas tanpa memperhatikan penumpang,.

      Dalam shalat berjamaah juga begitu, yang mengatur barisan shaf itu adalah imam, imam jangan memulai shalat sebelum shaf betul-betul rapat dan lurus,. dan kita bisa lihat kondisi para imam di masjid2 yang ada di indonesia,.. anda mungkin juga lebih tahu,.

      • Berarti kondisi imam di Masjidil Haram juga sama yah, dengan imam di masjid masjid di Indonesia, kan nggak ngecek barisan dibelakangnya, apakah sudah rapat dan lurus atau belum. Langsung tancap gas tanpa memperhatikan penumpang. Coba deh lihat di youtube.

        terimakasih mas zulfikar,
        silahkan perhatikan di youtube, bagaimana shafnya, apakah seperti shaf orang indonesia? ngga tuh,. rapat shafnya, bahu nempel dengan bahu,.mata kaki dengan mata kaki, kecuali ya mungkin orang indonesia, karena biasa shalat dengan shaf yg ga mau rapat, sajadahnya ga boleh di injak oleh makmum di sampingnya,.

        Mudah-mudahan Allah mudahkan anda agar bisa pergi ke masjidil haram, dan melihat langsung bagaimana rapatnya shaf disana,

      • Terima kasih Pak atas do`anya. Semoga saya bisa sholat langsung di Masjidil Haram dan menyaksikan sendiri apakah shaftnya rapat lurus dan tidak mengambil karpet shaft yang dibelakangnya.

      • Bismillahirahmanirrahim. Sedikit menambahkan, ada beberapa saya jumpai juga orang yang sholat sampai “menyundul” ( jawa ) makmum depannya saat sujud sehingga sangat mengganggu kekhusyukan sholat bagi makmum yang ada di depannya padahal dia sudah mengambil start agak ke belakang ( mengambil hak karpet makmum belakangnya saat bersujud ) yang menjadikan shaf tidak lurus saat sujud sehingga setelah berdiri dia akan sibuk meluruskan barisan padahal saya melihat beliau ini tidak tinggi2 banget postur tubuhnya sehingga kalau melakukan posisi sujud dengan posisi wajar ( tidak terlalu “ndlosor” ) cukup, sebenarnya adakah dalil/ hadist yang menjelaskan bahwa sholat itu harus dengan posisi tekukan lutut lebih dari 90 derajat? Maaf karena pengetahuan agama saya yang minim mohon pencerahan penulis apabila ada referensi, saya masih belajar. Jazzakumullahukhoiron katsiron…

        Memang kadang kita dapati orang yang sujud secara berlebihan, mereka mamanjangkan badannya ketika sujud, sehingga menyundul orang yang didepannya,. ini adalah cara sujud yg salah,.
        Tidak ada ketentuannya tekukan lutut harus 90 derajat, yang ada adalah dahi dan hidung,kedua telapak tangan,kedua lutut,dan kedua ujung jari nempel ke lantai, lalu siku tidak boleh nempel ke lantai,.

  2. assalamu’alaikum, sekedar berbagi cerita kang,
    di masjid kampung shaf masih renggang, tidak seperti yang dicontohkan pada gambar.

    alhamdulillah aku sudah mengerti bahwa meluruskan dan merapatkan shaf adalah perkara penting, hanya saja ketika praktik, aku mencoba merapatkan bahu dan kaki dengan jamaah lain, mereka malah menjauh, piye jal? ingin rasanya memberi tahu mereka tentang perkara ini, tapi aku tidak memiliki ilmu untuk berda’wah, bisa – bisa salah metode, dianggap wahabi dicaci maki, kesannya nanti malah menggurui, kalau tidak ku sampaikan kebenaran maka salah juga untukku, dan mereka yang dianggap memiliki pengetahuan agama lebih di kampung tidak pernah mempermasalahkan soal ini. piye yo kang?

    wa’alaikumussalam wrahmatullahi wabarakatuh,.
    sabar kang, jika kita sudah berusaha merapatkan, tapi mereka ogah, malah bergeser,. itu karena kebodohan mereka ttg ajaran agamanya sendiri,.
    miris memang,.
    Tapi dengan bagusnya akhlak kita, murah senyum, menebar salam, grapyak istilah jawanya,. insya allah lambat laun mereka juga akan menilai, atau malah simpati kepada kita, sehingga kita bisa menasehati, atau memberi masukan kepada mereka,.

    Dakwah itu bukan hanya dengan ucapan, bisa juga dengan sikap,.. dan betapa banyak orang terdakwahi hanya dengan sikap kita,.

  3. Memang patut kita yakini, ini adalah salah satu penyebab atas perselisihan dan perpecahan Umat Islam di Indonesia saat ini.

    Perlu kita sadari baik-baik juga, anjuran utama dlm hadits2 tsb adalah merapatkan dan meluruskan shaf; yaitu merapatkan ujung kaki dan bahu sesama makmum. Sekali lagi, bahu dan ujung (sisi) kaki. Banyak kelompok yg baru “melek” ini lbh sering mengejar ujung kaki tetangga sebelahnya sebelum merapatkan bahu.
    Apa yg terjadi, sang “paham hadits” td mengangkangkan kakinya dan otomatis mencegah dirinya merapatkan bahu.

    Coba kl didahului dgn merapatkan bahu, niscaya bisa bersentuhan kaki tanpa harus berdiri menngangkang. Salah kaprah! Sekarang coba pakai akal, banyak mana jumlah jamaah yg berdiri dlm satu saf dgn kaki mengangkang (bersentuhan kaki) atau yg lurus saja?

    Bisa jadi sama, atau malah lbh sedikit jumlah jamaah yg mengangkang dlm satu saf. Jadi, mana saf yg lebih rapat?

    Ya, betul mas, kesalahan yang terjadi dalam meluruskan shaf, mereka bukan MENEMPELKAN BAHU TERLEBIH DAHULU, tapi NGEJAR KAKI DULUAN,.. sehingga berakibat kaki terlalu mengangkang , sementara bahu tidak nempel,.

    Ini juga terjadi pada orang-orang yang sudah paham wajibnya merapatkan SHAF,.

  4. Saya dahulu termasuk orang yg kalau sholat di rumah, jarang ke masjid.

    Lalu pada suatu saat, saya sholat maghrib di masjid, saya blm tahu apa itu salaf, nah, jamaahnya langsung merapat dan menempelkan kakinya dengan kaki saya tanpa sungkan.

    Lalu rasa hati ini, nyesss, adem, sholat terasa lebih khusyu’ dan terasa benar persatuan dan persaudaraan sesama jamaah.

    Alhamdulillah sejak saat itu hidayah menyapa, dan saya berusaha sholat 5 waktu di masjid. dan ini hanya karena jamaah yg “menempelkan” kakinya dgn kaki saya..

    Benarlah sabda Rasulullah Shallallahu Alaihi Wassallam

    Alhamdulillah,..

  5. http://www.deleted-nabi-tidak-memerintahkan-menempel-kaki.html?m=1
    tolong mas…gmn dengan web ini…

    KOmentar saya,. pengelola web tersebut yang bodoh, ga paham perkataan nabi dan praktek sahabat,.
    Sahabat mempraktekkan cara merapatkan shaf, dan dihadapannya ada NABI, dan NABI tidak menegur sahabat tersebut, juga para SAHABAT yang LAIN tidak ada yang menegurnya, ini berarti begitulah PRAKTEK MERAPATKAN SHAF YANG BENAR,.

    Merapatkan shaf, bahu dengan bahu, mata kaki dengan mata kaki, itulah bentuk dari menegakkan shaf

    Jadi kesimpulan penulis di web tersebut yang keliru dan gagal paham terhadap ucapan nabi,.
    Dengan kesimpulan seperti ini :

    PERHATIKAN: Nabi cuma berkata: Tegakkanlah shaf kalian!; tiga kali.
    Perhatikan sekali lagi, Nabi cuma berkata: Tegakkanlah shaf kalian!; tiga kali.
    Adakah Nabi memerintahkan kita menempel kaki dengan kaki? Tidak bukan?

    Bagaimana memahami perkataan nabi di atas?

    Jelas praktek SAHABAT yang ikut ketika itu adalah PRAKTEK YANG BENAR,.

  6. dalam redaksi hadits tsb yg mempraktikkan hanya satu sahabat ya..berarti sahabat yg lain ga mempraktikkan..klo hnya satu sahabat yg mempraktikkan dan dibiarkan nabi kemudian disimpulkan sebagai sunnah..bagaimana dgn sahabat lainnya yg ga mempraktikkannya (ga menempelkan telapak n mata kaki)..bukankah jg dibiarkan oleh nabi..berarti sunnah jg kan..jd baik yg menempelkan maupun yg ga menempelkan dua dua nya dibiarkan oleh nabi..berarti dua dua nya sunnah ya..

    sbgai catatan sy hanya ada satu sahabat yg berinovasi(menafsirkan perintah nabi) dg cara menempelkan telapak n mata kaki dlm sholat jamaah sedangkan sahabat yg lain yg jumlahnya lebih dari satu tidak melakukannya..jd dalam hak ini dua dua nya sunnah..bukankah nabi membiarkan dua dua nya kan..

    Kalau jeli membacanya, justru yang mempraktekkan bukan satu saja, tapi seluruh sahabat yang ikut shalat berjamaah

    Jadi KELIRU jika memahaminya hanya SATU sahabat saja yang melakukan

    Ini saya nukilkan :

    Dari Abu Qasim al-Jadali berkata: “Aku mendengar Nu’man bin Basyir radhiyallahu ‘anhu berkata, “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menghadap­kan wajahnya kepada manusia dan bersabda: “Luruskan shaf-shaf kalian (3X)!

    Demi Allah, benar-benar kalian meluruskan shaf-shaf kalian atau Allah akan menjadikan hati kalian berselisih.”

    Nu’man berkata, “Maka aku MELIHAT SEORANG menempelkan bahunya dengan bahu temannya, lututnya dengan lutut temannya, mata kaki dengan mata kaki temannya.” (Sahih, HR. Abu Dawud no. 662)

    Apakah Rasulullah sedang memimpin shalat berjamaah dengan makmum sedikit atau banyak sahabat ?

    Jawabnya, Rasulullah memimpin shalat dengan makmum para sahabat dalam jumlah banyak,

    Dan seorang sahabat menempelkan mata kakinya dengan mata kaki sahabat yang ada disampingnya, demikian seterusnya, maka bukan satu sahabat, jadi sahabat saling menempelkan mata kakinya

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*