Tradisi Orang Kafir Dalam Acara Seremonial WISUDA, Sudah Selayaknya Institusi Islam Meninggalkannya

Seremonial Wisuda , Haram ?

hukum memakai toga saat wisudaTampaknya, wisuda merupakan puncak keberhasilan dalam jenjang pendidikan perguruan tinggi dengan strata tertentu, apakah itu tingkat sarjana, megister ataupun doktor.

Seremonial wisuda seakan telah menjadi tradisi sebagai bentuk perayaan atas keberhasilan ini. Hampir semua universitas di dunia menyelenggarakannya. Dewasa ini tak hanya perguruan tinggi saja, tingkatan pendidikan lebih rendah telah pula mengadopsi tradisi wisuda, bahkan Taman Kanak-Kanak sekalipun. Meski dengan rangkaian acara yang disesuaikan dengan pemahaman mereka.

Akan tetapi, sebagai muslim yang meyakini Allah sebagai ilah dan Muhammad sebagai penutup para nabi dan rasul-Nya, kita mengamini bahwa Islam merupakan ajaran yang sempurna dan menyeluruh. Segala hal telah ada ketentuannya dalam agama ini, yang jika diamalkan dengan ikhlas dan teguh akan mengantarkan manusia kepada kehidupan yang berkeadilan dan sejahtera.

Dalam tradisi seremonial wisuda yang biasa dilakukan itu, ada beberapa hal yang patut diperhatikan. Di antaranya yang paling nyata adalah,

pertama, toga—pakaian seragam—yang digunakan pada seremonial wisuda baik oleh para wisudawan/wati maupun para pejabat yang terlibat, seperti rektor, senat universitas, guru besar dan lainnya. Pakaian ini juga mirip dengan apa yang dikenakan oleh para hakim yang bekerja di pengadilan dalam suatu persidangan ataupun oleh para hakim pada Mahkamah Konstitusi, walau tanpa tambahan topi.

Jika coba ditelusuri asal muasal dan sejarah pakaian ini maka akan sampai pada suatu kesimpulan bahwa pakaian seperti ini berasal dari sejarah peradaban Barat—dalam hal ini Romawi—dan kemudian menjadi tradisi para sarjana Barat—Kristen.

Dalam Livius, Titus (ca. 1st century BC) “Book III: The Decemvirate” Bab 26 disebutkan bahwa, “The toga was based on a dress robe used by native people, the Etruscans who lived in Italy since 1200 B.C, although it usually is linked with the Romans.

The toga was the dress clothing of the Romans: a thick woolen cloak worn over a loincloth or apron. It is believed to have been established around the time of Numa Pompilius, the second King of Rome. It was taken off indoors, or when hard at work in the fields, but it was considered the only decent attire out-of-doors. This is evident from the story of Cincinnatus: he was ploughing in his field when the messengers of the Senate came to tell him that he had been made dictator, and on seeing them he sent his wife to fetch his toga from the house so that they could be received appropriately.”

Penting diingat dalam sejarahnya para sarjana Barat berasal dari kalangan gereja. Karena memang dalam tradisi Kristen, yang mempunyai akses pada ilmu pengetahuan adalah kalangan agamawan. Jika dicermati, sampai sekarang kalangan gereja masih mempertahankan bentuk pakaian seperti ini. Begitu pula dengan tongkat khusus yang digunakan sebagai aksesoris selama resepsi wisuda oleh beberapa kalangan elite perguruan tinggi. Ini benar-benar merupakan tradisi gereja jika dilihat dari bentuk tongkat itu.

Dari Abu Hurairah, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

لاَ تَقُومُ السَّاعَةُ حَتَّى تَأْخُذَ أُمَّتِى بِأَخْذِ الْقُرُونِ قَبْلَهَا ، شِبْرًا بِشِبْرٍ وَذِرَاعًا بِذِرَاعٍ . فَقِيلَ يَا رَسُولَ اللَّهِ كَفَارِسَ وَالرُّومِ . فَقَالَ وَمَنِ النَّاسُ إِلاَّ أُولَئِكَ

Kiamat tidak akan terjadi hingga umatku mengikuti jalan generasi sebelumnya sejengkal demi sejengkal, sehasta demi sehasta.” Lalu ada yang menanyakan pada Rasulullah -shallallahu ‘alaihi wa sallam-, “Apakah mereka itu mengikuti seperti Persia dan Romawi?” Beliau menjawab, “Selain mereka, lantas siapa lagi?(HR. Bukhari no. 7319)

Kedua, berdirinya para hadirin pada saat-saat tertentu, seperti di waktu rektor memasuki ruangan dan berdiri manakala menyanyikan lagu kebangsaan. Lagi-lagi ini bukanlah tradisi Islam, tapi diambil dari tradisi orang-orang Persia (Majusi) dan Romawi (Kristen).

Seperti diisyaratkan dalam satu hadits riwayat Muslim, hadits nomor 413, dari Jabir ibn ‘Abdillah, ia berkata, “Rasulullah tengah menderita sakit, maka kami mengerjakan salat di belakang beliau sementara beliau mengerjakannya sambil duduk. Abu Bakar memperdengarkan takbir beliau kepada para makmum.

Beliau menoleh ke arah kami dan melihat kami yang sedang berdiri. Maka, beliau mengisyaratkan agar kami duduk, lalu kami pun duduk. Maka kami mengerjakan salat bersama beliau sambil duduk. Setelah mengucapkan salam, beliau bersabda:

Hampir saja tadi kalian melakukan perbuatan orang-orang Persia dan Romawi. Mereka berdiri atas raja-raja mereka.

Dari hadits di atas sangat jelas bahwa terlarang untuk berdiri menghormati para pembesar, ataupun orang-orang yang diagungkan. Dan ini juga merupakan perbuatan para penguasa yang sombong dan para pejabat yang angkuh.

Juga penting untuk disimak apa yang ditulis Bukhari dalam al-Adaab al-Mufrad hadits nomor 977 dan al-Albani mengatakan, “Shahiih” dari Mu’awiyah, Nabi bersabda:

“Sesiapa yang menyukai hamba-hamba Allah berdiri menghormatinya maka hendaklah ia menyiapkan rumahnya dalam neraka”.

Atau menurut lafaz Abu Daud dalam Sunan-nya hadits nomor 5229 dan al-Albaniy mengatakan, “Shahiih” masih dari Mu’awiyah, Nabi bersabda:

Sesiapa yang menyukai orang-orang menghormatinya sambil berdiri maka hendaklah ia mempersiapkan tempat duduknya dari api neraka.”

Ketiga, adanya nyanyian-nyanyian yang dibawakan dengan hymne (senandung), seperti dalam nyanyian hymne universitas setempat maupun hymne universitas sedunia. Padahal hymne itu sendiri dalam sejarah Yunani kuno selalu didentikkan dengan kegiatan sakral kepada para dewa dan juga diadopsi oleh gereja yang menjadikan nyanyian dengan senandung ini sebagai bagian dari peribadatan mereka.

Lebih-lebih lagi tatkala para petinggi universitas memasuki dan meninggalkan ruangan diiringi oleh nyanyian tertentu—Gaudeamus Igitur.

Tidak diragukan lagi bahwa, umat Islam dilarang untuk meniru-niru kebiasaan agama lain, apalagi hal itu merupakan bentuk peribadatan mereka.

Keempat, adanya suatu prosesi di mana pihak yang ditunjuk seperti rektor, guru besar, dekan atau pejabat perguruan tinggi lainnya memindahkan jambul yang ada pada topi toga wisudawan/wati dengan posisi tertentu.

Ini juga merupakan bukan tradisi Islam dan sangat jelas bahwa hal ini mirip dengan cara pemberkatan para pendeta dan juga Paus kepada jemaatnya, serta cara pemberkatan oleh para rabi Yahudi, seperti pemberkatan pada para tentara Israel yang akan berperang dan menjajah di Palestina.

Banyak hal tentang seremonial wisuda yang mesti dibedah dengan kaca mata Islam. Namun dari empat hal sederhana di atas, sangat mudah dipahami bahwa seremonial wisuda seperti yang selama ini dikenal bukan berasal dari ajaran Islam, tidak pula dari tradisi keilmuan kaum muslimin.

Bahkan begitu terang lagi nyata semua hal itu merupakan kebiasaan-kebiasaan yang ada pada kaum bukan Islam. Terlihat dari sangat kentalnya unsur-unsur keagamaan dan tradisi kaum bukan Islam yang mengiringi rangkaian acara pada seremonial wisuda.

Untuk itulah, sudah sepatutnya bagi kaum muslimin untuk tidak mengikuti, menghadiri, atau terlibat dalam bentuk apapun dalam acara-acara sedemikian.

Karena telah tetap pada agama Islam, seperti hadits Nabi Shalallahu ‘alaihi wasallam yang sudah sangat terkenal di semua lapisan masyarakat Islam bahwa,

Dari Ibnu ‘Umar, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

مَنْ تَشَبَّهَ بِقَوْمٍ فَهُوَ مِنْهُمْ

Barangsiapa yang menyerupai suatu kaum, maka dia termasuk bagian dari mereka.”

(HR. Ahmad 2: 50 dan Abu Daud no. 4031)

Pun telah menjadi ketetapan bahwa Islam menyerukan pemeluknya untuk menyelisihi dan berbeda dengan kaum-kaum sebelum mereka. Seperti kaum lelaki untuk memanjangkan jenggot dan memendekkan kumis, kepada kaum wanita diperintahkan untuk mengenakan jilbab.

Bahkan umat Islam juga dianjurkan berpuasa pada hari ‘Asyura (10 Muharram) di mana orang-orang Yahudi juga berpuasa pada hari itu. Namun Islam memberikan kekhasan pada kaum muslimin agar mereka juga berpuasa pada hari setelah atau sebelumnya untuk menyelishi kaum bukan Islam tersebut.

Seyogyanya, wisuda sebagai luahan kegembiraan, sepatutnya dihiasi dengan penuh kesyukuran. Susah payah selama perkuliahan paling tidak terbayarkan dengan gelar yang diraih. Tugas ke depan adalah bagaimana ilmu yang digeluti di bangku perguruan tinggi selama ini dapat bermanfaat untuk kemaslahatan umat. Bukan malah dihiasi dengan sesuatu yang bertentangan dan melanggar nilai-nilai luhur agama Islam.

Mungkin inilah masa seperti yang diisyaratkan oleh sebuah hadits dari Abu Sa’id Al Khudri dalam Shahiih al Bukhaariy, hadits nomor 7320,

Dari Abu Sa’id Al Khudri radhiyallahu ‘anhu, ia berkata bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

لَتَتَّبِعُنَّ سَنَنَ الَّذِينَ مِنْ قَبْلِكُمْ شِبْرًا بِشِبْرٍ وَذِرَاعًا بِذِرَاعٍ حَتَّى لَوْ دَخَلُوا فِى جُحْرِ ضَبٍّ لاَتَّبَعْتُمُوهُمْ , قُلْنَا يَا رَسُولَ اللَّهِ آلْيَهُودَ وَالنَّصَارَى قَالَ : فَمَنْ

Sungguh kalian akan mengikuti jalan orang-orang sebelum kalian sejengkal demi sejengkal dan sehasta demi sehasta sampai jika orang-orang yang kalian ikuti itu masuk ke lubang dhob (yang sempit sekalipun, -pen), pasti kalian pun akan mengikutinya.” Kami (para sahabat) berkata, “Wahai Rasulullah, apakah yang diikuti itu adalah Yahudi dan Nashrani?” Beliau menjawab, “Lantas siapa lagi?” (HR. Muslim no. 2669).

Oleh : WAHID MUNFARID

(Warga Kelurahan Cupak Tangah Kecamatan Pauh Padang)

sumber: http://harianhaluan.com/index.php?option=com_content&view=article&id=2926:seremonial-wisuda-haram&catid=11:opini&Itemid=83

Print Friendly, PDF & Email

2 Comments

  1. Bagus sekali penjelasannya. Tapi ketika saya baca tulisan ini, saya berfikir kenapa ditulis di blog gratisan yang berinduk pada WordPress yang diciptakan oleh Matt Wullenweg dan Mike Littel yang kelahiran Amerika dan saya yakin orang nonmuslim?

    Saya bertanya bagaimana hukumnya membaca tulisn melaui blog semacam ini?

    Terimakasih mas Hadi, sudah komentar bagus sekali,.
    Memang ada larangan menggunakan barang buatan orang kafir?
    Jika ada larangannya, sungguh banyak yang harus dibuang tuh,. anda punya mobil? buatan mana, motor, buatan mana, hape, buatan mana?

    Resleting celana anda, itu buatan mana, mungkin celana dalam anda, itu buatan mana? wah,…wah….

    Produk-prouduk kafir yang terkait dengan urusan dunia , itu boleh selama tidak ada dalil yang melarangnya,
    Demikian pula berdakwah dengan sarana blog,facebook,internet, itu bukanlah hal yang dilarang, silahkan baca disini ulasannya

    • Assalamualaikum
      Semoga penulis selalu dirahmati oleh Allah SWT.
      sekadar menyambung komentar pertama
      Jika anda merespon komentar pertama dengan komentar “Jika ada larangannya, sungguh banyak yang harus dibuang tuh,. anda punya mobil? buatan mana, motor, buatan mana, hape, buatan mana?” maka tidak ada larangan juga kan hal-hal yang berbau “kafir (menurut sebutan Saudara Penulis)”
      Wordpress ini blog yang dibuat orang kafir dan dipakai orang kafir. berarti Saudara juga ikut2an cara orang kafir donk ya untuk menulis?

      hal-hal yang berbau “kafir (menurut sebutan Saudara Penulis)” jikalah banyak mudharatnya haruslah kita tinggalkan, namun tetaplah haarus kita ambil hal-hal yang baiknya. tidak semua ajaran orang “kafir (menurut sebutan Saudara Penulis)” adalah hal-hal yang buruk.

      Mohon maaf jikalau komentar saya menyinggung. sekali lagi karena saya sangat-sangat kurang ilmu

      Wa’alaikumussalam warahmatullahi wabarakatuh,.
      Terimakasih, sudah komentar disini,.
      Sepertinya anda salah dalam memahami komentar saya,.
      Saya hanya menggunakan logika komentar sebelumnya,. dan bukan menganggap TIDAK BOLEH MEMAKAI PRODUK ORANG KAFIR,.
      Justru kalau saya. menggunakan produk orang kafir tidak mengapa selama ada maslahat, contoh internet untuk berdakwah, facebook untuk berdakwah, atau blog wordpress untuk dakwah,.

      Jadi,.. coba baca lagi tanggapan komentar saya dari awal,. sehingga tidak salah faham,.
      Dan anda ngga perlu minta maaf, saya tidak tersinggung kok, justru bingung dengan komentar andaa,.
      Tapi perlu saya luruskan,.. saya hanya menanggapi tentang produk orang kafir,. bukan ajaran orang kafir,.

      tentang ajaran orang kafir sebagaimana komentar anda yang ini =========tidak semua ajaran orang “kafir (menurut sebutan Saudara Penulis)” adalah hal-hal yang buruk. ======

      Maka tidak ada ajaran baik yang terluput dalam ajaran islam,.
      Semua kebaikan sudah ada dalam ajaran islam, jadi tidak usah mengambil ajaran baik dari orang kafir,. tinggal anda pelajari saja ajaran islam yang benar dengan pemahaman para sahabat,.. niscaya ajaran islam jauuuuh lebih baik, dan semua ajaran kebaikan yang dilakukan oleh orang kafir sesungguhnya sudah ada dalam ajaran islam

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*