Apakah Makmum Membaca Alfatihah Pada Shalat Yang Imam Mengeraskan Bacaannya?

MEMBACA AL-FATIHAH DI BELAKANG IMAM [SHALAT JAHRIYAH]

Oleh : Syaikh Muhammad Nashiruddin Al-Albani

Pertanyaan
Syaikh Muhammad Nashidruddin Al-Albani ditanya : Anda menyebutkan dalam kitab Shalat Nabi, dari hadits Abu Hurairah, tentang di nasahkkannya (dihapuskannya) bacaan Al-Fatihah di belakang Imam yang sedang shalat jahar.

Kemudian anda mengeluarkan hadits ini, dan anda sebutkan bahwa hadits tersebut mempunyai penguat dan hadits Umar. Akan tetapi dalam kitab Al-I’tibar Fi An-Nasikh wa Al-Mansukh yang dikarang oleh Al-Hazimii disebutkan bahwa hadits ini diriwayatkan oleh seorang yang tidak dikenal (majhul), dimana tidak ada yang meriwayatkan dari si majhul ini kecuali hadits tersebut, dan seandainya hadits ini tsabit, yang berisi larangan untuk membaca Al-Fatihah di belakang imam yang sedang membaca ayat, maka bagaimana pendapat anda tentang perkataan Al-Hazimi ?

Jawaban
Ini adalah perkara yang diperselisihkan oleh para ulama dengan perselisihan yang banyak. Dan perkataan Al-Hazimi ini mewakili para ulama yang berpendapat wajibnya membaca Al-Fatihah di belakang imam yang menjaharkan bacaannya.

Di dalam perkataannya ada dua sisi ; yang pertama, dari sisi hadits, yang kedua dari sisi fiqih

Adapun dari sisi hadits, ialah tuduhan cacat terhadap ke shahihan hadits tersebut dengan anggapan bahwa di dalam hadits tersebut terdapat seorang yang majhul (tidak dikenal). Akan tetapi kemajhulan yang di maksud ternyata adalah seorang perawi yang riwayatnya diterima oleh Imam Az-Zuhri. Tentang perawi ini, memang terdapat banyak komentar mengenai dirinya, akan tetapi mereka menganggap tsiqah (terpercaya), disebabkan pentsiqohan Imam Az-Zuhri, bahkan beliau telah meriwayatkan hadits darinya.

Dan hadits ini ternyata mempunyai penguat-penguat lain yang mewajibkan kita untuk menguatkan pendapat para ulama yang tidak membolehkan membaca Al-Fatihah di belakang imam yang membaca dengan jahar.

Yang paling pokok dalam hal ini, adalah firman Allah Subhanahu wa Ta’ala.

وَإِذَا قُرِئَ الْقُرْآنُ فَاسْتَمِعُوا لَهُ وَأَنْصِتُوا لَعَلَّكُمْ تُرْحَمُونَ

“Dan jika dibacakan Al-Qur’an maka perhatikanlah, dan diamlah, agar kalian mendapat rakhmat” [Al-A’raaf/7 : 204]

Pendapat seperti ini merupakan pendapat Imam Ibnul Qayyim, Ibnu Taimiyah dan lain-lain. Setelah mengkompromikan semua dalil yang ada akhirnya mereka menyimpulkan bahwa makmum wajib diam ketika imam menjaharkan bacaan, dan (makmum) wajib membaca ketika imam membaca perlahan.

Masalah sepelik ini tidak boleh disimpulkan hanya berdasarkan satu dua hadits saja. Tapi harus dilihat dari semua hadits yang berkaitan dengan masalah ini.

Maka seandainya kita berpendapat wajibnya membaca Al-Fatihah di belakang imam ketika jahar, ini jelas-jelas bertentangan dengan berbagai masalah dan dalil, dimana tidak mungkin bagi kita menentang dalil-dalil tersebut.

Dalil yang pertama kali kita tentang adalah firman Allah Subhanahu wa Ta’ala : “Dan jika dibacakan Al-Qur’an maka perhatikanlah dan diamlah”, dari perkataan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam.

إِنَّمَا جُعِلَ الإِمَامُ لِيُؤْتَمَّ بِهِ فَإِذَا كَبَّرَ فَكَبِّرُوْاوَإِذَا قَرَأَ فَأَنْصِتُوْا

“Bahwasanya dijadikan imam itu untuk diikuti, jika ia bertakbir, maka bertakbirlah, dan jika ia membaca, maka diamlah”

Termasuk juga satu pertanyaan bahwa jika seorang (makmum) mendapati imam dalam keadaan rukuk, maka ia telah mendapat satu rakaat, padahal dia ini belum membaca Al-Fatihah. Oleh karena itu hadits.

لاَ صَلاَةَ لِمَنْ لَمْ يَقْرَأْ بِفَا تِحَةِ الْكِتَابِ

“Tidak ada shalat bagi orang yang tidak membaca Al-Fatihah”

Dan hadits-hadits lain yang semakna adalah merupakan dalil khusus, bukan dalil secara umum. Dan satu hadits (dalil) jika telah bersifat khusus, maka keumumannya menjadi lemah, dan iapun siap dimasuki pengkhususan yang lain, atau dimasuki oleh dalil yang lebih kuat tingkat keumumannya dari hadits tadi.

Maka disini, hadits : “Tidak ada shalat bagi yang tidak membaca Al-Fatihah”. Menurut kami menjadi hadits umum yang terkhususkan, dan pada saat itu juga hadits-hadits lain yang mengandung arti umum tentang wajibnya diam dibelakang imam dalam shalat jahar menjadi lebih kuat (tingkat keumumannya) dari hadits di atas.

Adapun hadits al-Alaa’.

مَنْ لَمْ يَقْرَأْ بِفَاتِحَةِ الْكِتَابِ فَصَلاَتُهُ خِدَاجٌ

“Barangsiapa yang tidak membaca Al-Fatihah maka shalatnya tidak sempurna”.

Maka hadits ini tidak marfu [1] kepada Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam, akan tetapi ia merupakan pendapat Abu Hurairah, ketika ia menjawab dengan jawaban.

اِقْرَأْ فِيْ نَفْسِكَ

”Bacalah dalam hatimu”

Dan kalimat : “Bacalah dalam hatimu”, tidak bisa kita artikan membaca sebagaimana lazimnya, yaitu membaca dengan memperdengarkan untuk dirinya, dengan mengeluarkan huruf-huruf dari makhraj-makhraj (tempat-tempatnya) huruf.

Dan kalaupun kita dianggap bahwa maksudnya adalah membaca dalam hati sebagaimana bacaan imam dalam shalat sirriyah atau bacaan ketika shalat sendiri. Maka pendapat seperti ini yang merupakan pendapat Abu Hurairah, bertentangan dengan pendapat sebagian besar shahabat, dimana mereka telah berselisih pendapat masalah ini.

Perselisihan ini bukan hanya terjadi setelah zaman para shahabat, tapi perselisihan ini justru dimulai dari zaman mereka. Pendapat Abu Hurairah ini harus dihadapkan dengan seluruh dalil yang terdapat dalam masalah ini, tidak boleh hanya berdalil dengan pendapat beliau saja, karena bertentangan dengan sebagian atsar para shahabat yang justru melarang membaca Al-Fatihah di belakang imam yang shalat jahar.

Adapun hadits.

لاَ تَفْعَلُوْا إِلاَّ بِأُمِّ الْكِتَابِ

“Janganlah kalian membaca di belakang imam kecuali dengan Al-Fatihah”.

Kami berpendapat bahwa pengecualian ini ia merupakan suatu tahapan, dari tahapan-tahapan syari’at.

Barangsiapa yang hanya berdalil dengan hadits ini, maka terdapat perkara-perkara yang harus dia ketahui bagaimana ia bersikap terhadap hadits-hadits tersebut.

Diantaranya ialah perkataan Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam : “Janganlah kalian membaca”, adalah suatu larangan. Dan perkataan beliau : “Melainkan Al-Fatihah” adalah pengecualian dari larangan tersebut. Apakah ini secara bahasa pengecualian ini menjelaskan adanya kewajiban yang dikecualikan (dalam hal membaca Al-Fatihah), atau hanya sekedar bolehnya ? Masalah ini harus diteliti lebih dalam lagi. Pendapat yang kuat, bahwa boleh membaca Al-Fatihah, bukan wajib.

Disamping itu kenyataan yang tidak bisa kita pungkiri adalah bahwa orang yang mendapatkan ruku’nya imam berarti ia mendapatkan rakaat tersebut.

Bagaimanapun juga, dalam masalah ini kami mempunyai suatu pendapat, yang memperkuat pendapat jumhur, dan pendapat ini sama dengan pendapat Imam Malik dan Ahmad. Dan Ibnu Taimiyyah mengatakan bahwa pendapat ini adalah pendapat yang paling adil. Dan dalam hal ini kami tidak ta’ashub (fanatik).

[Disalin dari buku Majmu’ah Fatawa Al-Madina Al-Munawarah, Edisi Indonesia Fatwa-Fatwa Albani, Penulis Muhammad Nashiruddin Al-Albani Hafidzzhullah, Penerjemah Adni Kurniawan, Penerbit Pustaka At-Tauhid]
_______
Footnote
[1]. Hadist Marfu’ adalah hadits yang disandarkan kepada Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam,-pent

Read more https://almanhaj.or.id/1788-membaca-al-fatihah-di-belakang-imam-shalat-jahriyah.html

Print Friendly, PDF & Email

8 Comments

  1. assalamu’alaikum,
    bagaimana jika imam tidak berhenti lama setelah membaca alfatihah, apa kita harus berhenti membaca alfatihah untuk mendengarkan bacaan imam atau melanjutkan alfatihah kita? masih bingung.

    Wa’alaikumussalam warahmatullah,.
    tidak usah bingung, tinggal kita diam saja mendengarkan bacaan imam,sebagaimana perintah Rasulullah,.

  2. Assalamu`alaikum warohmatullahi wabarokatuh.
    Tanya Pak : saya tetap membaca al-fatihah dalam hati mengikuti bacaan imam. apakah salah saya berbuat demikian.
    mohon penjelasan dan pencerahhannya.
    Jazaakullahu khairan.
    wassalamu`alaikum warohmatullahi wabarokatuh

    Wa’alaikumussalam warahmatullahi wabarakatuh,.
    Membaca itu perbuatan mulut, tidak ada yang bisa membaca dalam hati, membaca itu dengan lisan atau mulut,.
    Yang diperintahkan ketika imam sedang membaca, kita diam mendengarkan, menyimak, ,.
    Yang namanya menyimak, ya akan mengikuti dalam hatinya, kecuali orang yang tidak nyimak, sehingga sedang shalat hatinya ke pasar, ke kantor, atau mungkin hatinya sedang merencanakan hal-hal yang lain,.

    Jadi, ketika imam membaca, kita diam, menyimak dan konsentrasi, kan bisa saja bacaan imam salah maka makmum mengingatkan, ini bisa dilakukan jika makmum menyimak bacaan imam,

  3. Assalamu’alaykum…
    mas admin saya mau tanya jika imam sudah rukuk tetapi makmum masbuk belum menyelesaikan bacaan surat al-fatihah apakah membaca alfatihah tersebut di hentikan lalu ikut rukuk bersama imam? terus apakah makmum tersebut di hitung mendapatkan satu rakaat bersama imam walaupun membaca al-fatihahnya tidak tuntas? jazakallahu khairon

    wa’alaikumussalam warahmatullah,
    terimakasih mas nurhadi,.
    Jika kita belum selesai membaca, lalu imam rukuk, maka kita juga langsung ikut rukuk,. karena imam itu ada utk diikuti gerakannya,.

    Mendapatkan rukuknya imam, itu dihitung mendapat 1 rakaat,.

    contoh, ketika kita datang , imam posisi rukuk , maka kita datang lalu bertakbir dan langsung rukuk pula,. itu dihitung mendapat rakaat,

  4. Assalamu`alaikum warohmatullahi wabarakatuh,
    mas admin, berkenankah anda meng-upload bacaan sholat dari takbir hingga salam?
    Setiap hari saya membaca bacaan sholat yang diajarkan ketika saya masih duduk di bangku SDI. Sedangkan saat ini saya pernah mendengar ceramah-ceramah dari para ustadz yang bacaan sholatnya berbeda-beda, misalnya:
    *Sujud = Subhaanakallahummaa wa bihamdika asyhadu’allaa ilaa ha illallah
    *Sujud pendapat lain = Subhaanaka robbiyal a’laa wa bihamdi
    Mohon pencerahan dan penjelasannya.
    Jazaakullahu khairan..

    Wa’alaikumussalam warahmatullahi wabarakatuh,
    terimakasih Fyyan, sudah komentar disini,.
    Memang miris, banyak kaum muslimin melakukan shalat, tapi mereka hanya ikut-ikutan saja, sehingga cara shalatnya, bacaan shalatnya, itu menyelisihi apa yang rasulullah ajarkan,
    Sehingga saya pribadi merasakan, sekolah 12 tahun belum bisa mengerjakan wudhu dan shalat yang sesuai tuntunan Rasulullah, sudah saya posting disini

    Adapun bacaan-bacaan shalat secara ringkas dan juga dalil-dalil tentang cara shalat bisa dilihat di postingan ini

    Bacaan ruku dan sujud ada dua bacaan, bisa dipilih salah satunya,

  5. assalamu’alaikum..
    mas brrti klo sholt mgrb,isya n sbuh pda rakaat 1&2 kita diam mnymk bcaan imam??

    wa’alaikumussalam wrahmatullah,.
    iya,.. betul sekali,.kita diam menyimak bacaan imam,. nanti pas imam membaca siir atau pelan baru kita membaca sendiri, dgn cara pelan juga, cukup kita sendiri yang mendengar, makmum di sebelah kita tidak terganggu dengan bacaan kita,

  6. Assalamu’alaikum…
    Kak,saya ingin bertanya.
    jika imam membaca Al-Fatihah,makmum diam.Dan setelah imam selesai membaca Al-Fatihah,makmum membaca Al-Fatihah.apakah itu diperbolehkan atau tidak kak?
    mohon penjelasannya kak…
    terima kasih kak…
    Wassalamu’alaikum….

    Wa’alaikumussalam warahmatullah,.
    Makmum tetap diam menyimak bacaan imam, baik ketika imam baca alfatihah atau imam baca surat lainnya,.
    Karena bacaan imam itu sudah termasuk bacaan makmum,
    Nah kalau imam membaca sir , baru makmum baca sir juga, suara cukup terdengar oleh sendiri, makmum di sebelah kita tidak mendengar bacaan kita,

  7. Assalamualaikum..
    Kalo kita temui bacaan imam pd saat sholat yg bacaannya di sirr sprti shokat duhur dan asar kalo gk salah ya min hehe, tetapi ternyata setelah disimak bacaan imam jelas terdengar apakah selaku makmum tetap membaca alfateah atau diam mendengarkan, sbgaimana ketentuan sholat yang di sirrkan bacaannya oleh imam bagaimana itu admin??
    Mohon penjelasanya Jazakallahukharion

    Wa’alaikumussalamwarahmatullah,
    Itu kesalahan yangvdilakukan imam, tidak mengikuti cara shalat Nabi, nabi memerintahkan membaca siir, cukup diri sendiri saja yang baca, ini malah bacanya sampai terdengar oleh makmum??

    Maka bagi makmum tetap mengikuti cara nabi, baca sendiri,
    Ngga nyimak bacaan imam, nanti apa perlu mengaminkan juga?? Itu kan konsekwensinya..

    Maka kalau anda mampu, nasehatilah imam tsb secara baik-baik, berdua saja, bukan di hadapan jamaah

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*