Ayam Itu Haram? Sungguh Kesimpulan Yang Nyeleneh, Akibat Belajar Tanpa Bimbingan Guru,. Walaupun Seorang Kyai

ayam goreng itu halalMAKAN AYAM HARAM???

Baru-baru ini muncul suatu fatwa nyeleneh dari salah seorang Kyiai mantan NU bernama Kyiai Mahrus Ali, yang mengharamkan memakan ayam dan telur.
Tentunya orang yang mendengar fatwa nyeleneh ini akan terheran-heran, mengapa beliau begitu beraninya mengeluarkan fatwa aneh bin ajaib tersebut, padahal sepengetahuan saya belum ada para ulama yang mengharamkan makan ayam dan telurnya.

Dan diantara dalil yang beliau kemukakan adalah Hadist ibnu ‘Abbas yang melarang memakan hewan yang mempunyai cakar.

Benarkah pendalilan beliau tersebut???

Apakah betul yang dimaksud dengan MIKHLAB(hewan yang mempunyai cakar) itu termasuk ayam??

Mari kita mencoba untuk mengkajinya

TEKS HADIST

عَنِ ابْنِ عَبَّاسٍ قَالَ نَهَى رَسُولُ اللَّهِ صلى الله عليه وسلمعَنْ كُلِّ ذِى نَابٍ مِنَ السِّبَاعِ وَعَنْ كُلِّ ذِى مِخْلَبٍ مِنَ الطَّيْرِ.

“Dari Ibnu Abbas telah berkata:“Rosulullah Sholallahu ‘alaihi Wa sallam melarang (untuk memekan hewan) yang mempunyai taring dari binatang buas dan sertiap hewan yang mempunyai cakar dari jenis burung.”

TAKHRIJ HADIST

SHAHIH, Diriwayatkan oleh Imam Muslim( no.5015),Ahmad dalam Musnadnya (1/244no. 2192),( 1/327 )(no.3024,)(1/373 no.3544,)Abu Dawud no.3805,Ibnu Majah no.3234, Al-Baihaqi dalam Sunan Kubro’ 1/52,9/515 ,dan 15,Abu ‘Awanah dalam Musnadnya 5/19 , Al-Bazzar dalam Musnadnya2/184, Ibnu Abi Syaibah dalam Mushannafnya 5/399 Ibnu Jaaruud dalam Muntaqo’nya 1/224 Semuanya dari jalan dari Husyaim Bin Abi Bisyr Maimun Bin Mihran dari Ibnu ‘Abbas dan Husyaim Bin Abi Bisyr mempunyai mutaba’ah yaitu Ali bin Al Hakam diriwayatkan oleh Imam Muslim no.5103 dan Abu ya’la dalam Musnadnya 5/87Dan Hadist Ibnu ‘Abbas diatas mempunyai beberapa Syawahiid diantaranya:

1. Hadist Ali Bin Abi Thalib diriwayatkan oleh At-Thohawi dalam Syarhu ma’ani Al- Atsaar 4/190,dan dalam Muskilatul Atsaar 8/14 dari jalan Ibnu Juraij dari Habib bin Abi Tsabit dari ‘Ashim Bin Dhamrah
DHA’IF, Karena Habib Bin Abi Tsabit adalah Mudallis dan telah ber’an’anah pada sanad ini

2. Hadist ‘Irbadh Bin Saariyah diriwayatkan oleh At-Thabrani dalam Mu’jamul Awshath 3/45, dan Mu’jamul Kabiir 18/259 At-Tirmidzi no.1474, Al-Bazzar dalam Musnadnya2/124 dari jalan Abu ‘Ashim dari Wahb Bin Abi Khalid dari Ummu Habibah Semua perawinya adalah perawi-perawi yang Tsiqoh, dan Syeikh Al-Albani telah menshahihkannya dalam As-Shahihah 4/238-239,Irwa’ no. 2488 dan Shahih Abu dawud no. 1883, dan 2507

MAKNA MIKLAB(HEWAN BERCAKAR ) DALAM HADIST

Hadist diatas merupakan hadist yang dijadikan patokan oleh pak kyiai Mahrus Ali untuk mengharamkan Ayam dan telur di kerenakan menurutnya ayam tersebut termasuk hewan yang memiliki cakar.

Benarkah demikian??

Mari simak pernyataan para ulam tentang makna Mikhlab (hewan yang bercakar) dari hadist tersebut
Berkata Syeikh Abdul Muhsin Al-‘Abbad dalam Syarh Sunnan Abi Dawud

أورد أبو داود حديث ابن عباس : [ (نهى رسول الله صلى الله عليه وسلم عن أكل كل ذي ناب من السبع، وعن أكل كل ذي مخلب من الطير) ]، وهذا فيه بيان أن ما كان ذا مخلب من الطيور يفترس به كالصقر والباز وغيرها فإنه يكون حراماً،

Abu Dawud membawakan Hadist Ibnu ‘Abbas “Rosulullah Sholallahu ‘alaihi Wa sallam melarang (untuk memekan hewan) yang mempunyai taring dari binatang buas dan sertiap hewan yang mempunyai cakar dari jenis burung.”Dan dalam hadist ini terdapat penjelasan bahwa setiap hewan yang mempunyai cakar dari jenis burung (yang) menyerang(mangsanya) dengan cakar tersebut seperti burung rajawali, dan sejenisnya dan itu termasuk haram.”

Berkata pengarang kitab ‘Aunul Ma’bud 10/198

قال أهل اللغة المخلب للطير والسباع بمنزلة الظفر للإنسان
قال في شرح السنة أراد بكل ذي ناب ما يعدو بنابه على الناس وأموالهم كالذئب والأسد والكلب ونحوها
وأراد بذي مخلب ما يقطع ويشق بمخلبه كالنسر والصقر والبازي ونحوها

berkata ahli bahasa Al-Mikhlab(hewan yang bercakar) digunakan untuk burung dan binatang buas sejenis kuku bagi manusia,Dan pengarang kitab Syarhu Sunnah mengatakan “yang dimaksud dengan setiap hewan yang mempunyai taring yang menyerang dengan taringnya tersebut kepada manusia dan hartanya seperti serigala,singa, anjing dan sejenisnya.Dan yang di maksud dengan hewan bercakar yaitu yang memotong dan menyobek sesuatu dengan cakarnya sepert burang rajawali, elang, burung falcon dan sejenisnya.”

Berkata Al-Imam Ibnul Jauzi dalam kitabnya Kasyful Muskil di hal. 598

المخلب للصائد من الطير وللسباع أيضا الظفر وسمي مخلبا لأنها تخلب به والخلب الشق والقطع

hewan bercakar untuk berburu dari burung dan hewan buas juga disebut Al-Mikhlab(hewan bercakar) karena dia menyerang (mengsanya) dengan cakar tersebut dan AL-KHALB artinya menyobek dan memotong.”

Berkata Imam An-Nawawi dalam Majmu’ Sayrh Muhadzzab 9/22

قال الشافعي والمصنف والاصحاب يحرم أكل كل ذى مخلب من الطير يتقوى به ويصطاد كالصقر والنسر والبازى والعقاب وغيرها للحديث السابق

berkata As-Syafi’I dan penulis (Al-muhadzdzab) dan para ulama Syafi’iyah: “ diharamkan memakan hewan yang bercakar dari burung yang memangsa dengan cakar tersebut seperti rajawali, burung elang, dan burung flacon.”

Dari penjelasan para ulama diatas maka jelas bahwa yang dimaksud dengan Mikhlab(hewan bercakar) adalah hewan yang menyerang mangsanya dengan cakar, bukan hanya semata-mata memiliki cakar.
Dan ayam ini tidak masuk dalam katagori hewan bercakar yang diharamkan oleh Rosulullah Sholallahu ‘alaihi Wa sallam.

HADIST TENTANG HALALNYA AYAM

Setelah kita mengetahui bahwa pendalian Kyiai Mahrus Ali tersebut sangatlah tidak tepat maka sekarang kita mencoba untuk mengetahui hadist-hadist yang menunjukkan halalnya ayam tersebut

1.Hadist Abu Hurairoh

عَنْ أَبِى هُرَيْرَةَ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صلى الله عليه وسلمقَالَ « مَنِ اغْتَسَلَ يَوْمَ الْجُمُعَةِ غُسْلَ الْجَنَابَةِ ثُمَّ رَاحَ فَكَأَنَّمَا قَرَّبَ بَدَنَةً وَمَنْ رَاحَ فِى السَّاعَةِ الثَّانِيَةِ فَكَأَنَّمَا قَرَّبَ بَقَرَةً وَمَنْ رَاحَ فِى السَّاعَةِ الثَّالِثَةِ فَكَأَنَّمَا قَرَّبَ كَبْشًا أَقْرَنَ وَمَنْ رَاحَ فِى السَّاعَةِ الرَّابِعَةِ فَكَأَنَّمَا قَرَّبَ دَجَاجَةً وَمَنْ رَاحَ فِى السَّاعَةِ الْخَامِسَةِ فَكَأَنَّمَا قَرَّبَ بَيْضَةً فَإِذَا خَرَجَ الإِمَامُ حَضَرَتِ الْمَلاَئِكَةُ يَسْتَمِعُونَ الذِّكْرَ

Dari Abu Hurairoh berkata:” bahwa Rosulullah Sholallahu ‘alaihi Wa sallam bersabda:“barangsiapa yang mandi pada hari jum’at dengan mandi janabah, kemudian pergi (kemasjid pada waktu pertama), maka seolah-olah dia berqurban dengan Badanah, dan barangsiapa yang pergi pada waktu kedua maka seolah-olah dia berqurban dengan sapi dan barangsiapa yang pergi pada waktu ketiga maka seolah-olah dia berqurban dengan kambing dan barangsiapa yang pergi pada waktu keempat maka seolah-olah dia berqurban dengan ayam, dan barangsiapa yang pergi pada waktu kelima maka seolah-olah dia berqurban dengan telur dan apabila Imam telah keluar Untuk Khutbah maka para Malaikat hadir untuk mendengarkan Khutbahnya.”Diriwayatkan oleh Al-Bukhari dalam shahihnya no.841 Imam Muslim no.2001Abu dawud no.351 At-Tirmidzi no.499 An-Nasa’i Sunan Al-Kubro’ 1/526 no.1695.

SISI PENDALILAN : dalam hadist ini Rosulullah Sholallahu ‘alaihi Wa sallam memperumpakan orang yang pergi shalat jum’at pada waktu keempat dengan berqurban dengan ayam yang hal ini menunjukkan bahwa ayam itu halal untuk disembelih dan dimakan.

2. Hadist Abu Musa

عن زهدم الجرمي قال : دخلت على أبي موسى وهو يأكل دجاجة فقال آذن فكل فإني رأيت رسول الله صلى الله عليه و سلم يأكله

dari Zahdam Al-jarmiy telah berkata: aku masuk ke dalam rumah Abu Musa dan dia sedang memakan ayam dan dia berkata kemarilah sesungguhnya aku melihat Rosulullah Sholallahu ‘alaihi Wa sallam memakan ayam.”

Diriwayatkan oleh oleh Al-Bukhari dalam Shahihnya no. 5198, Muslim dalam Shahihnya no.4355,4357 At-Tirmidzi dalam sunannya no.1826

3. Atsar Umar Bin Khattab

قَالَ عُمَرُ : ضَبٌّ أَحَبَّ إِلَيَّ مِنْ دَجَاجَةٍ

Berkata Umar : “ Sungguh Dhabb lebih Aku sukai dari pada ayam”Diriwayatkan oleh Ibnu Abi Syaibah dalam Mushannafnya 8/84

SISI PENDALILAN : Umar bin Khattab lebih memilih untuk memakan Dhabb dari pada ayam bukan karena ayam itu haram dimakan melainkan karena beliau leih menyukai Dhabb

4.Hadist Abi Sa’id Al-Khudriy

عن أبي سعيد الخدري قال سمعته يقول كنا معشر اصحاب محمد صلى الله عليه و سلم لأن يهدى إلى أحدنا ضب مشوي أحب إليه من دجاجة

“Dari Abu Sa’id Al-Khudriy berkata: “ kami para Sahabat Rosulullah Sholallahu ‘alaihi Wa sallam lebih menyukai untuk diberi Dhabb yang di panggang daripada ayam.”Diriwayatkan oleh Abdurozzaq dalam Mushannafnya 4/512 dengan sanad yang lemah sekali karena terdapat perawi yang bernama Abu Harun Al-‘Abdi berkata Ibnu Hibban dalam kitabnya Al-Majruuhin 2/177:

كان رافضيا , يروى عن أبى سعيد ما ليس من حديثه , لا يحل كتابة حديثه إلا على
جهة التعجب

dia seorang Rafidhah, meriwayatkan Hadist dari Abi sa’id yang bukan Hadistnya , tidak halal menulis (riwayat) hadistnya kecuali dalam rangka ta’ashub”. Liwat Irwa’ 8/208.PENDAPAT

ULAMA MADZHAB TENTANG HALALNYA AYAM

1. Ulama hanafiyah

Dalam fatawa Hindiyah 2/84

فَلَوْ حَلَفَ لَا يَأْكُلُ لَحْمَ دَجَاجَةٍ فَأَكَلَ لَحْمَ الدِّيكِ لَا يَحْنَثُ وَكَذَلِكَ إذَا حَلَفَ لَا يَأْكُلُ لَحْمَ دِيكٍ فَأَكَلَ لَحْمَ دَجَاجَةٍ لَا يَحْنَثُ

kalau sekiranya seseorang bersumpah untuk tidak makan ayam betina kemudian dia memakan ayam jantan, maka dia tidak melanggar sumpahnya, demikian juga jika dia bersumpah untuk tidak makan ayam jantan kemudian dia memakan ayam betina maka tidak dihitung melanggar sumpah.”Komentar: kalau sekiranya ayam itu haram dimakan maka tidaklah pas untuk memberikan contoh dalam kasus seperti ini, di berikan contoh dengan memakan ayam menunjukkan bahwa ayam itu halal.Berkata As-Sarakhsi alam kitabnya Al-Mabshuth 24/52

وعلى هذا لو ماتت دجاجة فوجد في بطنها بيضة فلا بأس بأكل البيضة عندنا

dan dengan ini kalau sekiranya seeokor ayam betina mati, dan didapatkan dalam perutnya tersebut telur, maka menurut kami (madzhab hanafi) tidak mengapa memakannya.”Komentar: kalau sekiranya telur ayam yang didapati pada ayam betina itu halal lalu bagaimana dengan telur ayam yang didapati pada ayam betina yang masih hidup???

dengan ayam betina sendiri yang disembelih??

2. Ulama malikiyahBerkata Al-Imam Malik:

لا بأس بأكل الجلالة من الدجاج وغيره وإنما جاء النهي عنها للتقذر

tidak mengapa memakan Jalalah dari ayam dam selainnya, dam larangan ini hanya bersifat jijik”
Lihat Tuhfatul Ahwadzi 5/450Dalam kitab At-Taj Wal Iklil 3/295

وكذلك من حلف أن لا يأكل دجاجا فأكل دجاجة أو ديكا حنث

demikian juga kalau sekiranya seseorang bersumpah untuk tidak makan ayam jantan kemudian dia memakan ayam betina, maka dia melanggar sumpahnya,”Dalam Mawaahibul jalill 1/116

ولو أن دجاجة لم يغسل مذبحها فسمطت في ماء حار ثم غسلت بعد ذلك جاز ذلك طبخت بعد ذلك أو شويت

kalau sekiranya ayam tersebut belum dibersihkan tempat menyembelihnya dan dimasukkan kedalam air yang panas kemudian dicuci setelah itu, maka itu boleh dimasak setelah itu atau dipanggang.Dalam Mawaahibul Jaliil 4/453

في سماع عبد الملك من حلف لا يأكل دجاجة فأكل ديكة لا يحنث وكذا عكسه

pada riwayat Abdul Malik: “barangsiapa yang bersumpah untuk tidak makan ayam betina kemudian dia makan ayam jantan maka dia tidak melarnggar sumpahnya demikian sebaliknya.”

3. Ulama Syafi’iyahBerkata Abu Yahya Zakariah Al-Anshaari dlam kitabnya Asna Al-Mathaalib 1/565

وَيَحِلُّ ما على شَكْلِ الْعُصْفُورِ لِأَنَّهُ من الطَّيِّبَاتِ

dan halal atas setiap jenis yang menyerupai burung karena itu termasuk At-thoyyibaat (sesuatu yang baik-baik).

Kemudian beliau menyebutkan contoh-contohnya diantaranya

وَالنَّعَامِ جَمْعُ نَعَامَةٍ وَالدَّجَاجِ جَمْعُ دَجَاجَةٍ

dan An-Na’aam bentuk jamak dari Na’amah yaitu burung unta, Dan Ad-Dajaj yaitu bentuk jamak dari Dajajah yaitu ayam.”Dalam kitab Tuhafatul Muhtaaj 42/101

أَنَّهُ لَوْ حَلَفَ لَا يَأْكُلُ مِنْ هَذِهِ الدَّجَاجَةِ مَثَلًا لَمْ يَحْنَثْ بِبَيْضِهَا

yaitu kalau sekiranya dia bersumpah untuk tidak makan ayam betina ini maka dia tidak dikatakan melanggar sumpahnya kalau dia memakan telurnya.”

4. Ulama Hambali

Dalam Masaail Imam Ahmad riwayat Ibnu Hani’ disebutkan:

سألت أبا عبد الله عن دجاجة ذبحت من قبل قفاها؟ قال كرهه سعيد ابن المسيب، والشعبي لم ير به بأساً. قلت: أيش ترى أنت؟ قال: قول سعيد أحب إليّ من قول الشعبي

aku bertanya kepada Abu Abdillah (Ahmad Bin Hanbal) tentang ayam yang disembelih dari belakang lehernya? Kemudian berkata Sa’id Bin Musayyib membencinya dan As-Sya’bi memandang tidak mengapa. Kemudian aku(Ibnu Hani’) berkata: apa pendapat kamu? Beliau menjawab: perkataan Sa’id lebih aku sukai daripada pertkataan As-Sya’bi.”Komentar: yang dipahami dari perkataan Imam Ahmad tersebut bahwa menyembelih Ayam dari lehernya tidak mengapa dan HALAL.Berkata Al-Imam Ibnu Qudamah dalam kitabnya Al-Mughniy 11/54

وقد سئل احمد عن رجل ذبح دجاجة فأبان رأسها فقال يأكلها قيل له والذي بان منها أيضا؟
قال نعم قال البخاري قال ابن عمر وابن عباس إذا قطع الرأس فلا بأس به وهو قول الحسن والنخعي والشعبي والزهري والشافعي وإسحاق وابي ثور وأصحاب الرأي

dan Imam Ahmad telah ditanya tentang seseorang yang menyembelih Ayam dengan memotong kepalanya, apakah boleh untuk di makan dan bagian kepala yang terpisah juga? Dia berkata “ iya (boleh dimakan) dan ini adalah pendapat Al-Bukhari, Ibnu Umar, Ibnu ‘Abbas, apabila dia memotong kepalanya tidak mengapa dan ini juga pendapat Al-Hasan An-Nakha’I, Asy-Sya’bi, Az-Zuhri, Asy-Syafi’i, Ishaq, Abu Tsaur, Dan Ahli Ra’yu.”Berkata Ibnu Muflih dalam kitabnya Al-Furu’ 1/123

وإن صلب قشر بيضة دجاجة ميتة فباطنها طاهر موإلا فوجهان

dan Apabila kulit telur ayam yang telah mati itu keras maka dalam telur tersebut suci, dan jika tidak maka ada dua pendapat.”

Komentar: kalau sekiranya telur dari bangkai ayam yang keras suci dan boleh di makan maka bagaimana dengan telur dari ayam yang masih hidup dan daging ayam itu sendiri??

 

KESIMPULAN

Dari penjelasan diatas maka dapat ditarik suatu kesimpulan bahwa daging ayam tersebut adalah HALAL untuk dimakan, demikian juga telurnya.

Dan pendalilan Kyiai Mahrus Ali dengan hadist Ibnu ‘Abbas tersebut sangat dan amat tidak tempat dan tidak pada tempatnya, karena sebagaimana dijelaskan diatas bahwa yang dimaksud hewan yang bercakar yang diharamkan oleh Rosulullah Sholallahu ‘alaihi Wa sallam adalah hewan yang menerkam dan menyerang mangsanya dengan cakarnya tersebut sepertti burung elang, rajawali, flacon dan lain-lainnya, jadi hukum ini dikembalikan kepada asalnya yaitu HALAL dan tidak bisa kita mengharamkannya dengan tanpa dalil yang jelas.

Kehalalan Ini pun didukung oleh Hadist-hadist yang menunjukkan kehalalan ayam dan peerkataan beberapa ulama madzhab serta ijma’ para ulama tentang kehalalan ini sebagaiman dikatakan oleh Ibnu Mulaqqin:

“Halalnya ayam merupakan kesepakatan ulama karena termasuk hewan yg halal. Tidaklah dianggap pendapat yg membencinya jika memang ada, baik liar atau peliharaan, sebagaimana ditegaskan oleh ibnu Shobbagh dalam kitabnya Asy Syamil”. (Al I’lam bi Fawaid Umdatil Ahkam 10/122-123).

Terakhir saya menasihatkan kepada pak Kyiai Mahrus Ali untuk bertaqwa kepada Allah dengan tidak serampangan dan gegabah mengeluarkan suatu fatwa dan pernyataan yang nyeleneh, dan kalau dia mau betul-betul kembali kepada Sunnah hendaknya dia harus mengikuti bimbingan para ulama dan tidak cepat-cepat mengeluarkan suatu pendapat yang sangat aneh, sebagaimana saya menasihatkan kepada beliau untuk mengambil ilmu dari para ulama, dan tidak bersendrian dalam memahami suatu masalah dalam agama karena sesungguhnya Imam Ahmad pernah berkata: “Hati-hatilah engkau mengatakan pendapat yg tidak ada imam panutannya”.

Semoga tulisan memberikan manfaat…

Wallahu’alam

Ditulis oleh

Agus Susanto Bin Sanusi

Di Madinah Nabawiyyah 25 Dzulhijjah 1435H

sumber : http://gussusanto.blogspot.com/2014/11/makan-ayam-haram.html?m=1

Print Friendly, PDF & Email

3 Comments

  1. Tulisan yang bermanfaat sekali. Menunjukkan bahwa kita harus memahami hadits yang berasal dari Rasulullah dengan pemahaman para ulama yang mumpuni. Bukan sekadar memahami dengan akal yang sangat rentan kesalahan.

    Alhamdulillah,.
    Jazakumullahu khairan atas kunjungannya akhi..

  2. assalamualaikum

    maaf akhi. numpang tanya, dalam buku apa hal. brpa ust mahrus ali mengatakan ayam haram?

    terima kasih

    wassalamualaikum

    Wa’alaikumussalam warahmatullah,
    Di websitenya

  3. Ini dia pengarang buku “Mantan Kiyai NU Menggugat Tahlilan..” Ternyata memang asalnya suka berfatwa nyeleneh dan merasa bisa berijtihad…

    Akibat belajar tanpa guru,memahami ajaran islam tidak mengikuti pemahaman sahabat, akhirnya tersesat dan menyesatkan

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*