Dalam Islam Tidak Mengenal Adanya Anak Angkat, Menasabkan Anak Angkat Kepada Ayah Angkat Itu TERLARANG

Binti Untuk Anak Angkat Anak Angkat Yang Berstatus Anak Kandung Menggunakan Nama Binti Tidak Anak Kandungg Dosakah Menasabkan Anak Angkat Untuk Kepentingan Adminisyrasi Wajib Mana Ank Kandung Dg Ank Angkt

Anak Angkat dan Statusnya Dalam Islam

tidak ada adopsi dalam islamMengadopsi anak adalah fenomena yang sering kita jumpai di masyarakat kita, entah karena orang tersebut tidak memiliki keturunan, atau karena ingin menolong orang lain, ataupun karena sebab-sebab yang lain.

Akan tetapi, karena ketidaktahuan banyak dari kaum muslimin tentang hukum-hukum yang berhubungan dengan ‘anak angkat’, maka masalah yang terjadi dalam hal ini cukup banyak dan memprihatinkan.

Misalnya: menisbahkan anak angkat tersebut kepada orang tua angkatnya, menyamakannya dengan anak kandung sehinga tidak memperdulikan batas-batas mahram, menganggapnya berhak mendapatkan warisan seperti anak kandung, dan pelanggaran-pelanggaran agama lainnya.

Padahal, syariat Islam yang agung telah menjelaskan dengan lengkap dan gamblang hukum-hukum yang berkenaan dengan masalah anak angkat ini, sehingga jika kaum muslimin mau mempelajari petunjuk Allah Ta’ala dalam agama mereka maka mestinya mereka tidak akan terjerumus dalam kesalahan-kesalahan tersebut di atas.

Tradisi sejak jaman Jahiliyah

Kebiasan mengadopsi anak adalah tradisi yang sudah ada sejak jaman Jahiliyah dan dibenarkan di awal kedatangan Islam1. Bahkan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam sendiri melakukannya, ketika beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam mengadopsi Zaid bin Haritsah radhiyallahu ‘anhu sebelum beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam diutus Allah Ta’ala sebagai nabi, kemudian Allah Ta’ala menurunkan larangan tentang perbuatan tersebut dalam firman-Nya,

{وَمَا جَعَلَ أَدْعِيَاءَكُمْ أَبْنَاءَكُمْ ذَلِكُمْ قَوْلُكُمْ بِأَفْوَاهِكُمْ وَاللَّهُ يَقُولُ الْحَقَّ وَهُوَ يَهْدِي السَّبِيلَ}

Dan Allah tidak menjadikan anak-anak angkatmu sebagai anak kandungmu (sendiri). Yang demikian itu hanyalah perkataanmu di mulutmu saja. Dan Allah mengatakan yang sebenarnya dan Dia menunjukkan jalan (yang benar)” (QS al-Ahzaab: 4).

Imam Ibnu Katsir berkata, “Sesungguhnya ayat ini turun (untuk menjelaskan) keadaan Zaid bin Haritsah radhiyallahu ‘anhu, bekas budak Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Sebelum diangkat sebagai Nabi, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mengangkatnya sebagai anak, sampai-sampai dia dipanggil “Zaid bin Muhammad” (Zaid putranya Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam), maka Allah Ta’ala ingin memutuskan pengangkatan anak ini dan penisbatannya (kepada selain ayah kandungnya) dalam ayat ini, sebagaimana juga firman-Nya di pertengahan surah al-Ahzaab,

{مَا كَانَ مُحَمَّدٌ أَبَا أَحَدٍ مِنْ رِجَالِكُمْ وَلَكِنْ رَسُولَ اللَّهِ وَخَاتَمَ النَّبِيِّينَ وَكَانَ اللَّهُ بِكُلِّ شَيْءٍ عَلِيمًا}

Muhammad itu sekali-kali bukanlah bapak dari seorang laki-laki di antara kamu, tetapi dia adalah Rasulullah dan penutup para nabi. Dan adalah Allah Maha Mengetahui segala sesuatu” (QS al-Ahzaab: 40)”2.

Status anak angkat dalam Islam

Firman Allah Ta’ala di atas menghapuskan kebolehan adopsi anak yang dilakukan di jaman Jahiliyah dan awal Islam, maka status anak angkat dalam Islam berbeda dengan anak kandung dalam semua ketentuan dan hukumnya.

Dalam ayat tersebut di atas Allah Ta’ala mengisyaratkan makna ini:

“Yang demikian itu hanyalah perkataanmu di mulutmu saja”, artinya: perbuatanmu mengangkat mereka sebagai anak (hanyalah) ucapan kalian (semata-mata) dan (sama sekali) tidak mengandung konsekwensi bahwa dia (akan) menjadi anak yang sebenarnya (kandung), karena dia diciptakan dari tulang sulbi laki-laki (ayah) yang lain, maka tidak mungkin anak itu memiliki dua orang ayah3.

Adapun hukum-hukum yang ditetapkan dalam syariat Islam sehubungan dengan anak angkat yang berbeda dengan kebiasaan di jaman Jahiliyah adalah sebagai berikut:

1. Larangan menisbatkan anak angkat kepada selain ayah kandungnya, berdasarkan firman Allah Ta’ala,

{ادْعُوهُمْ لِآَبَائِهِمْ هُوَ أَقْسَطُ عِنْدَ اللَّهِ فَإِنْ لَمْ تَعْلَمُوا آَبَاءَهُمْ فَإِخْوَانُكُمْ فِي الدِّينِ وَمَوَالِيكُمْ وَلَيْسَ عَلَيْكُمْ جُنَاحٌ فِيمَا أَخْطَأْتُمْ بِهِ وَلَكِنْ مَا تَعَمَّدَتْ قُلُوبُكُمْ وَكَانَ اللَّهُ غَفُورًا رَحِيمًا}

Panggillah mereka (anak-anak angkat itu) dengan (memakai) nama bapak-bapak (kandung) mereka; itulah yang lebih adil di sisi Allah, dan jika kamu tidak mengetahui bapak-bapak mereka, maka (panggilah mereka sebagai) saudara-saudaramu seagama dan maula-maulamu Dan tidak ada dosa bagimu terhadap apa yang kamu salah padanya, tetapi (yang ada dosanya adalah) apa yang disengaja oleh hatimu. Dan adalah Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang” (QS al-Ahzaab: 5).

Imam Ibnu Katsir berkata, “(Ayat) ini (berisi) perintah (Allah Ta’ala) yang menghapuskan perkara yang diperbolehkan di awal Islam, yaitu mengakui sebagai anak (terhadap) orang yang bukan anak kandung, yaitu anak angkat. Maka (dalam ayat ini) Allah Ta’ala memerintahkan untuk mengembalikan penisbatan mereka kepada ayah mereka yang sebenarnya (ayah kandung), dan inilah (sikap) adil dan tidak berat sebelah”4.

2. Anak angkat tidak berhak mendapatkan warisan dari orang tua angkatnya, berbeda dengan kebiasaan di jaman Jahiliyah yang menganggap anak angkat seperti anak kandung yang berhak mendapatkan warisan ketika orang tua angkatnya meninggal dunia5.

3. Anak angkat bukanlah mahram6, sehingga wajib bagi orang tua angkatnya maupun anak-anak kandung mereka untuk memakai hijab yang menutupi aurat di depan anak angkat tersebut, sebagaimana ketika mereka di depan orang lain yang bukan mahram, berbeda dengan kebiasaan di masa Jahiliyah. Sebagaimana dalam hadits yang diriwayatkan oleh ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha bahwa Salim maula (bekas budak) Abu Hudzaifah radhiyallahu ‘anhu tinggal bersama Abu Hudzaifah dan keluarganya di rumah mereka (sebagai anak angkat), maka (ketika turun ayat yang menghapuskan kebolehan adopsi anak) datanglah Sahlah bintu Suhail radhiyallahu ‘anhu, istri Abu Hudzaifah radhiyallahu ‘anhu kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dan dia berkata: Sesungguhnya Salim telah mencapai usia laki-laki dewasa dan telah paham sebagaimana laki-laki dewasa, padahal dia sudah biasa (keluar) masuk rumah kami (tanpa kami memakai hijab), dan sungguh aku menduga dalam diri Abu Hudzaifah ada sesuatu (ketidaksukaan) akan hal tersebut. Maka Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda kepadanya,”Susukanlah dia agar engkau menjadi mahramnya dan agar hilang ketidaksukaan yang ada dalam diri Abu Hudzaifah”7.8

4. Diperbolehkannya bagi bapak angkat untuk menikahi bekas istri anak angkatnya, berbeda dengan kebiasaan di jaman Jahiliyah. Sebagaimana firman Allah Ta’ala,

{وَإِذْ تَقُولُ لِلَّذِي أَنْعَمَ اللَّهُ عَلَيْهِ وَأَنْعَمْتَ عَلَيْهِ أَمْسِكْ عَلَيْكَ زَوْجَكَ وَاتَّقِ اللَّهَ وَتُخْفِي فِي نَفْسِكَ مَا اللَّهُ مُبْدِيهِ وَتَخْشَى النَّاسَ وَاللَّهُ أَحَقُّ أَنْ تَخْشَاهُ فَلَمَّا قَضَى زَيْدٌ مِنْهَا وَطَرًا زَوَّجْنَاكَهَا لِكَيْ لا يَكُونَ عَلَى الْمُؤْمِنِينَ حَرَجٌ فِي أَزْوَاجِ أَدْعِيَائِهِمْ إِذَا قَضَوْا مِنْهُنَّ وَطَرًا وَكَانَ أَمْرُ اللَّهِ مَفْعُولا}

Dan (ingatlah), ketika kamu berkata kepada orang yang Allah telah melimpahkan nikmat kepadanya dan kamu (juga) telah memberi nikmat kepadanya: “Tahanlah terus isterimu dan bertaqwalah kepada Allah”, sedang kamu menyembunyikan di dalam hatimu apa yang Allah akan menyatakannya, dan kamu takut kepada manusia, sedang Allah-lah yang lebih berhak untuk kamu takuti. Maka tatkala Zaid telah mengakhiri keperluan terhadap isterinya (menceraikannya), Kami kawinkan kamu dengan dia supaya tidak ada keberatan bagi orang mu’min untuk (mengawini) isteri-isteri anak-anak angkat mereka, apabila anak-anak angkat itu telah menyelesaikan keperluannya daripada isterinya (menceraikannya). Dan adalah ketetapan Allah itu pasti terjadi” (QS al-Ahzaab: 37).

Syaikh ‘Abdur Rahman as-Sa’di berkata: “Sebab turunnya ayat ini adalah bahwa Allah Ta’ala ingin menetapkan ketentuan syriat yang umum bagi semua kaum mukminin, (yaitu) bahwa anak-anak angkat hukumnya berbeda dengan anak-anak yang sebenarnya (kandung) dari semua segi, dan bahwa (bekas) istri anak angkat boleh dinikahi oleh bapak angkat mereka…Dan jika Allah menghendaki suatu perkara, maka Dia akan menjadikan suatu sebab bagi (terjadinya) hal tersebut, (yaitu kisah) Zaid bin Haritsah yang dipanggil “Zaid bin Muhammad” (di jaman Jahiliyah), karena Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam telah mengangkatnya sebagai anak, sehingga dia dinisbatkan kepada (nama) Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, sampai turunnya firman Allah:

Panggillah mereka (anak-anak angkat itu) dengan (memakai) nama bapak-bapak (kandung) mereka” (QS al-Ahzaab: 5).

Maka setelah itu dia dipanggil “Zaid bin Haritsah”.

Istri Zaid bin Haritsah adalah Zainab bintu Jahsy radhiyallahu ‘anha, putri bibi Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Telah terlintas dalam hati Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bahwa jika Zaid menceraikannya maka beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam akan menikahinya. Kemudian Allah menakdirkan terjadinya sesuatu antara Zaid dengan istrinya tersebut yang membuat Zaid mendatangi Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dan meminta izin kepada beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam untuk menceraikan istrinya…(Kemudian setelah itu Allah Ta’ala menikahkan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dengan Zainab bintu Jahsy radhiyallahu ‘anha sebagaimana ayat tersebut di atas)”9.

Memanggil ‘anak atau nak’ kepada orang lain untuk memuliakan dan kasih sayang

Hal ini diperbolehkan dan sama sekali tidak termasuk perkara yang dilarang dalam ayat di atas. Karena Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam sendiri melakukannya, sebagaimana yang disebutkan dalam beberapa hadits yang shahih, di antaranya:

– Dari Ibnu Abbas radhiayallahu ‘anhuma dia berkata: Ketika malam (menginap) di Muzdalifah, kami anak-anak kecil keturunan Abdul Muththalib datang kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam (dengan menunggangi) keledai, lalu beliau menepuk paha kami dan bersabda: “Wahai anak-anak kecilku, janganlah kalian melempar/melontar Jamrah ‘aqabah (pada hari tanggal 10 Dzulhijjah) sampai matahari terbit”10.

– Dari Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu dia berkata: Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah berkata kepada: “Wahai anakku”11.12

Oleh karena itu, imam an-Nawawi dalam kitab “shahih Muslim” (3/1692) mencantumkan hadits ini dalam bab: Bolehnya seseorang berkata kepada selain anaknya: “Wahai anakku”, dan dianjurkannya hal tersebut untuk menunjukkan kasih sayang.

Penutup

Demikianlah penjelasan singkat tentang hukum mengadopsi anak dalam Islam. Meskipun jelas ini bukan berarti agama Islam melarang umatnya untuk berbuat baik dan menolong anak yatim dan anak terlantar yang membutuhkan pertolongan dan kasih sayang.

Sama sekali tidak! Yang dilarang dalam Islam adalah sikap berlebihan terhadap anak angkat seperti yang dilakukan oleh orang-orang di jaman Jahiliyah, sebagaimana penjelasan di atas.

Agama Islam sangat menganjurkan perbuatan menolong anak yatim dan anak terlantar yang tidak mampu, dengan membiayai hidup, mengasuh dan mendidik mereka dengan pendidikan Islam yang benar. Bahkan perbuatan ini termasuk amal shaleh yang bernilai pahala besar di sisi Allah Ta’ala, sebagaimana dalam sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam,“Aku dan orang yang menyantuni anak yatim (kedudukannya) di surga seperti ini”, kemudian beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam mengisyaratkan jari telunjuk dan jari tengah beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam, serta agak merenggangkan keduanya13.

Artinya: orang yang menyantuni anak yatim di dunia akan menempati kedudukan yang tinggi di surga dekat dengan kedudukan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam 14.

Demikianlah, dan kami akhiri tulisan ini dengan memohon kepada Allah dengan nama-nama-Nya yang maha indah dan sifat-sifat-Nya yang maha sempurna, agar Dia melimpahkan taufik dan kemudahan dari-Nya kepada kita untuk mencapai keridhaan-Nya dengan melaksanakan semua kebaikan dalam agama-Nya. Sesungguhnya Dia Maha Mendengar lagi Maha Mengabulkan doa.

وصلى الله وسلم وبارك على نبينا محمد وآله وصحبه أجمعين، وآخر دعوانا أن الحمد لله رب العالمين

Kota Kendari, 18 Rabi’ul awal 1432 H

Penulis: Ustadz Abdullah bin Taslim al-Buthoni, MA

Artikel www.muslim.or.id

1 Lihat “Taisiirul Kariimir Rahmaan” (hal. 658) dan “Aisarut tafaasiir” (3/289).

2 Kitab “Tafsir Ibnu Katsir” (3/615).

3 Kitab “Tafsir Ibnu Katsir” (3/615).

4 Ibid.

5 Sebagaimana dalam HSR al-Bukhari (no. 3778), lihat juga kitab “Tafsir al-Qurthubi” (14/119).

6 Mahram adalah orang yang tidak halal untuk dinikahi selamanya dengan sebab yang mubah (diperbolehkan dalam agama). Lihat kitab “Fathul Baari” (4/77).

7 HSR Muslim (no. 1453), hadits yang semakna juga terdapat dalam “Shahih al-Bukhari” (no. 3778).

8 Lihat kitab “Tafsir Ibnu Katsir” (3/615).

9 Kitab “Taisiirul Kariimir Rahmaan” (hal. 665).

10 HR Abu Dawud (no. 1940), Ibnu Majah (no. 3025) dan Ahmad (1/234), dinyatakan shahih oleh syaikh al-Albani.

11 HSR Muslim (no.2151).

12 Lihat kitab “Tafsir Ibnu Katsir” (3/615).

13 HSR al-Bukhari (no. 4998 dan 5659).

14 Lihat kitab “’Aunul Ma’buud” (14/41) dan “Tuhfatul ahwadzi” (6/39).

sumber : http://muslim.or.id/fiqh-dan-muamalah/anak-angkat-dan-statusnya-dalam-islam.html

 

Print Friendly, PDF & Email

Hukum Menggunakan Nama Ayah Di Belakang Nama Anak Angkat Hukum Anak Adopsi Panggil Bapak Binti Anak Angjat Wali Anak Angkat Yang Di Rahasiahkan Kedudukannya Dalam Islam Apakah Anak Angkat Bisa Pakai Bin

12 Comments

  1. Assalamu`alaikum warohmatullah wabarokatuh
    Tanya : kalau pasangan suami istri belum diberi keturunan/anak sampai hampir tua,kemudian mengangkat seorang anak dari sauda kandungnya sendiri atau mengangkat anak dari saudara yang lain.
    yang saya tanyakan adalah
    status anak tersebut dan apakah bisa mendapatkan warisan dikarenakan sampai meninggal dunia orang tua angkatnya tidak diberi keturunan/anak.
    mohon pencerahannya.
    Jazakullah Khairan.
    Wassalamu`alaikum warohmatullah wabarokatuh.

    wa’alaikumussalam warahmatullahi wabarakatuh,.
    yang perlu diketahui,.
    Anak angkat harus dinasabkan ke bapak aslinya, bukan kepada bapak angkatnya, walaupun jd anak angkat dari bayi
    Anak angkat tidak mendapat warisan dari bapak angkatnya, karena tidak ada hubungan nasab, walaupun orangtua angkatnya tidak punya anak,.
    tapi bisa diberi wasiat, bukan warisan, itupun jika sebelum meninggal ortu angkat tsb berwasiat,

  2. Assalamualaikum,
    Sya mau brtnya,apa konteks maksud rasulullah menyuruh istri abu hudzaifah untuk menyusukan salim?
    Dan 1 lagi pertnyaan pnting,sya kurang memahami maksud dari pernyataan (telah terlintas di dlm hati rasulullah jika zaid menceraikan zainab,maka rasulullah akan menikahinya.stelah itu Allah SWT dngan sgala kuasanya memisahkan zaid dan zainab.kmudian Allah SWT menikahkan rasul dan zainab.
    Konteks bahasa diatas dalam tafsiran sya mempunyai sdikit arti negatif.tlong untuk sdikit dijelaskan lebih detil maknanya.karna sya berpikir kontek diatas bisa ditafsirkan sikap mengingini istri sesamamu.apa motif prasaan rasul ktika memikirkan suatu saat akan menikahi zainab?

    wa’alaikumussalam warahmatullah,.
    maksud Rasul menyuruh istri abu hudzaifah menyusukan salim, sebab salim itu adalah anak angkat, dan sudah baligh, sehingga anak angkat itu bukan menjadi mahram bagi istri abu hudzaifah,.sehingga antara salim dan istrinya abu hudzaifah itu tidak boleh berdua-duaan, sebab dia adalah orang lain, bukan mahram,

    Agar menjadi mahram, maka disuruh istrinya menyusui salim, tapi jangan dibayangkan salim menyusu langsung kepada istri abu hudzaifah tsb, apalagi sudah besar,.

    dengan disusui, maka dia menjadi saudara sepersusuan, dan menjadi mahram bagi ibu yang menyusuinya,.

    Tentang kisah zaid,.
    Anda perlu ingat, Rasulullah itu adalah utusan Allah,. jangan disamakan dengan orang lain,
    Semua yang Rasul katakan itu berdasarkan wahyu dari Allah,
    Dan hal tersebut tidak terjadi pada selain rasulullah, para sahabat saja tidak ada yang seperti itu,
    jadi penafsiran yang menyatakan berarti boleh mengingini istri sesamamu, ini adalah penafsiran yang jauh dari kebenaran,.Rasul tahu bahwa beliau akan menikahi zainab itu dari Allah, nah jika selain rasulullah itu dapet wahyu dari mana? sudah saya ulas tentang mencintai istri orang lain, silahkan baca disini

    Bukankah rasulullah beristri lebih dari empat, dan itu boleh, sedangkan umatnya tidak boleh?

  3. Assalamualaikum,
    Tlong minta penjelasan agak detil tntang maksudnya kalimat bhwa (nabi sempat terbersit bahwa suatu saat akan menikahi zainab stelah salim menceraikannya.dan akhirnya zaid benar2 berpisah dngan zainab.kmudian rasul menikahinya)
    Di hati dan akal sya terbersit pemahaman yg mungkar yaitu ada nilai tntang meng ingini istri saudaramu.
    Apa kaidah penjelasan makna diatas,trimakasih wassalamualaikum

    Wa’alaikumussalam warahmatullahi wabarakatuh,.
    Hal diatas itu utk menunjukkan bahwa bolehnya menikahi mantan istri anak angkat,. karena keyakinan di jaman jahiliyah dulu itu tidak boleh menikahi mantan istri anak angkat,.

    Jadi bukan Rasulullah menyuruh zaid utk menceraikan istrinya,

    Dan ingat, Semua perkataan Rasulullah, perbuatan rasulullah, jangan pernah dicocok-cocokkan dengan akal, atau dipikir2 dgn akal, sebab apa yang rasulullah lakukan itu adalah wahyu dari Allah, bukan dari pribadi rasulullah,

    • Tp dalam tata bahasa penulisan artikel diatas sangat mengandung tafsir yg sngat bebas.(telah terlintas dihati rosul jika zaid kelak menceraikan istrinya,maka rosul akan menikahinya.)
      Kalimat diatas bs ditafsirkan seperti doa karna menunggu sesuatu yg belum tentu terjadi.ktika diterapkan dalam khidupan umat,bolehkah kita berpikiran sperti itu?
      Bolehkah sya menunggu jandanya wnita yg berstatus masih istri orang?

      mas,.
      memahami ajaran islam, apalagi hadits2 rasul, itu bukan dengan kaidah bahasa indonesia yang sangat terbatas,.
      Bkan pula menggunakan akal atau logika sendiri, apalagi penafsiran sendiri,. akan tersesat nantinya,
      Sebagaimana dari pertanyaan anda, bolehkah sya menunggu jandanya wanita istri orang,.itu akibat gagal paham,gagal dalam memahami kisah zaid diatas,.

      Anda menyamakan rasulullah dengan manusia lainnya, atau mungkin menyamakan dengan orang indonesia, na’udzubillahi min dzalik,.
      Rasulullah itu terjaga dari kesalahan,. ucapan yang keluar dari lisan rasulullah adalah wahyu, bukan dari pribadi rasul,.

      Rasululah mengetahui zaid akan menceraikan istrinya, itu juga wahyu dari Allah,. bukan rasululah menebak-nebak, atau menyuruh zaid utk menceraikan istrinya,. Rasulullah mengetahui hal tsb dari kabar yang diberikan oleh Allah,.

      Mudah2an bisa dipahami penjelasan ini, dan tidak ada penafsiran dari pribadi anda yang spt diatas,

  4. Asslamualaikum warahmatullahi wabarakatuh,

    Saya ingin bertanya, klo saya ingin mengangkat anak sedangkan saya sndri blm berkeluarga apa boleh??
    Lalu saya jg ingin menanyakan, anak itu nantinya d panggil dg bin siapa ya??
    Sedangkan anak itu lahir d luar nikah,
    Terimakasih,,

    Wassalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh
    wa’alaikumussalam warahmatullahi wabarakatuh,.
    Boleh, tapi jangan dianggap seperti anak sendiri, dia di bin kan ke bapak biologisnya, jika anak sah nikah, jika anak zina maka di binkan ke ibu yang melahirkannya,. jadi kalau sudah besar nanti dikenalkan ke ibunya, dan wajib berbakti kepadanya,.
    Dan ingat, anak angkat tidak akan menjadi mahram bagi pengasuhnya, dan tidak ada saling mewarisi,.

    • Terimakasih atas penjelasaannya 🙂
      Satu pertanyaan lg yg sya ingin tau, jika anak trsbt perempuan.. apakah nanti jika anak tersebut menikah, haruskah saya mencari bpaknya untuk menjadi wali nikah anak itu??

      Jika anak itu perempuan, maka ada beberapa hal yang timbul:
      1. anak tersebut tidak menjadi mahram bagi bapak angkatnya, sehingga jika dia sudah baligh, maka dia seperti wanita lain, ga boleh berduaan dengan bapak angkatnya, bahkan boleh bagi bapak angkatnya untuk menikahi anak angkatnya

      2. Jika anak perempuan tsb kelak menikah, walinya adalah wali hakim, karena dia statusnya sebagai anak zina, sebagaimana kata anda,. doa anak yang lahir di luar nikah, sehingga dia tidak punya bapak sebagai wali,

      Oh iya, anda sendiri laki-laki atau perempuan?

      • saya perempuan,
        Jadi jika saya mengangkat anak tersebut boleh saja ya??
        & anak tersebut binti k ibunya..

        Boleh saja, tapi di bin kan ke ibu kandungnya,. dan jika anda menikah maka suami anda tidak menjadi mahram bagi anak perempuan tsb,dan tetap dikasih tahu ke anak perempuan tersebut siapa ibu kandungnya, dan anak tersebut wajib berbakti kepada ibunya

  5. Assalamualaikum
    Saya mau bertanya, banyak yang bilang bahwa kita boleh mempunyai istri sampai 4 orang, tapi dalam kisah rasulullah ada yang menceritakan bahwa istri beliau lebih dari 4, tidak hanya beliau, bahkan ada sahabat yang menikah lebih dari 4…

    pertanyaan saya, apakah kita boleh mempunyai istri lebih rai 4 orang atau tidak…?

    Wa’alaikumussalam warahmatullah,.
    Rasulullah melarang umatnya beristri lebih dari 4 , oleh karena itu di masa rasullah ada sahabat yang beristri lebih dari 4, maka sahabat tersebut menceraikan istri yang ke 5 dan seterusnya,. jadi tidak benar bahwa ada sahabat yang beristri lebih dari 4,.

    Adapun Rasulullah, itu adalah kekhususan bagi beliau, beristri lebih dari 4, bahkan khusus istri rasulullah, mereka tidak boleh dinikahi oleh laki-laki lain setelah rasulullah wafat, karena seluruh istri rasulullah akan menjadi istrinya pula di akherat kelak,.

    Jadi ada beberapa perbuatan yang itu khusus bagi rasulullah, dan tidak boleh dikerjakan oleh umatnya,.

  6. mas admin,
    ada anak adopsi yang sudah besar.laki-laki…

    anggaplah namanya sifulan
    yang jadi masalah kita tidak tahu ayah kandungnya siapa?apakah anak zina atau tidak?dan nama ibunya pun tidak tahu
    jadi namanya sifulan bin ………

    atau sifulan saja ngga perlu pake bin siapa2
    gimana mas?

    namakan saja fulan bin fulan,. kan ngga tahu, pokoknya jangan dinasabkan kepada bapak angkatnya, pahamkan pada si anak,. dan dia bukan mahram bagi ibu angkatnya,.

    • misalnya nama anaknya abdullah
      jadi kita sebut namanya abdullah bin fulan
      gitu ya?
      dalam pandangan saya sangat menyedihkan anak ini
      di masyarakat dia dipandang sebagai anak yang tak punya ayah jelas
      namun saya yakin Allah punya pandangan terbaik buat anak ini

      ya,..
      dan kelak nanti didiklah anak ini dengan pemahaman islam yang benar, dan jika sudah cukup usianya, maka jelaskan tentang dirinya, bahwa dia bukan anak kandung anda,.

      Jika dia dibekali dengan pemahaman islam yang benar, maka dia akan menerima, karena konsekwensi orang yang menasabkan dirinya kepada orang yang bukan nasabnya, maka diharamkan surga baginya,.

      Atau jika ingin dia menjadi mahram bagi anda, jika anda bisa menyusuinya, atau ada saudari anda yang bisa menyusuinya, maka dia bisa menjadi mahram karena persusuan,.

  7. bismillah..

    jika seorang perempuan br mengetahui bahwa dia diadopsi sejak bayi, dan krn kejahilan akan ilmu agama mk dibuatkan akte lahir atas nama kedua orang tua angkatnya. kmdn ketika bapak angkatnya sudah lanjut usia, apakah bs menjadi sebab dibolehkannya bersalaman saat lebaran sbg tanda hormat dan kasih sayang atas pengasuhannya berpuluh tahun?

    Tidak bisa, sebab orang tua angkat bukan mahram, kecuali jika si perempuan tsb menikah dengan anaknya ortu angkat tsb, maka boleh,
    Orangtua angkat tsb disadarkan dengan hadits rasulullah tsb, jangan sampai kebaikan yg begitu banyak malah dibalas dengn siksa neraka karena menasabkan anak bukan pada nasab yang sebenarnya,..

    baiknya si perempuan tadi mengingatkan,. dengan bahasa yang lemah lembut tentunya, dengan cara yang bijak, dan minta ke ortu angkat tsb utk dipertemukan ke ortu aslinya, agar si anak bisa berbakti pada ortu aslinya, tentu dengan tetep berbuat baik pada ortu angkatnya, dan tidak menganggap itu sebagai ortu aslinya

  8. Assalamualaikum.

    Saya mau bertanya.
    Jdi binti apa anak yang kita angkat. Jikalau kita tidak mengetahui ayahnya?

    Wa’alaikumussalam warahmatullah,
    binti Abdillah

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*