• Thu. Sep 24th, 2020

aslibumiayu.net

Bisa Karena Terbiasa

ABU THALIB Meninggal Dalam Kondisi KAFIR, Mengikuti Agama Abdul Muthalib (Agama Kesyirikan)

MENGURANGI MASA KESEDIHAN

Belum lama terlepas dari embargo kaum kafir Quraisy, ternyata beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam harus menanggung kesedihan, dikarenakan paman beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam , yaitu Abu Thâlib yang selalu membantu melindunginya meninggal dunia. Belum lama berselang, istri beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam tercinta, yaitu Khadîjah binti Khuwailid yang selalu menjadi penopang dakwah ini juga menyusulnya.

Peristiwa ditinggalkan orang-orang terdekat ini yang secara beruntun ini sangat membekas pada diri Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam . Sehingga sebagian ahli sejarah, menyebut tahun tersebut sebagai tahun kesedihan. Namun penamaan ini tidak dipakai oleh sebagian ahli sejarah lainnya. Karena, kesedihan yang dirasakan Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bukan disebabkan ditinggal dua orang yang sangat beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam cintai ini. Akan tetapi, karena beliau merasakan kaumnya semakin berani menolak dakwah. Mereka semakin gencar menghalangi dan berusaha mematikan dakwah al-haq ini.

SAAT DITINGGALKAN ABU THALIB DAN KHADIJAH RADHIYALLAHU ANHA
Abu Thâlib meninggal pada tahun kesepuluh kenabian. Yaitu tidak lama setelah mereka keluar dari lembah tempat mereka tinggal saat pemboikotan kaum Quraisy. Ada juga riwayat yang menjelaskan bahwa Abu Thâlib meninggal pada bulan Ramadhân. Yaitu tiga hari sebelum Khadîjah Radhiyallahu anha wafat. Lihat Sirah adz-Dzahabi, halaman 237.

Dalam sebuah hadits shahîh dijelaskan, Abu Thâlib meninggal dalam keadaan kafir, meskipun selama hidupnya melindungi dan membela Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam .

Imam al-Bukhâri dan Imam Muslim meriwayatkan dari Ibnu Musayyib Radhiyallahu anhu, bahwa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam masuk ke Abu Thâlib saat ia sedang sakaratul maut. Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam melihat Abu Jahl dan ‘Abdullah bin Abi Umayyah bin al-Mughirah sedang berada di sisi Abu Thalib.

Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata kepada pamannya:

يَا عَمِّ قُلْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ كَلِمَةً أَشْهَدُ لَكَ بِهَا عِنْدَ اللَّهِ فَقَالَ أَبُو جَهْلٍ وَعَبْدُ اللَّهِ بْنُ أَبِي أُمَيَّةَ يَا أَبَا طَالِبٍ أَتَرْغَبُ عَنْ مِلَّةِ عَبْدِ الْمُطَّلِبِ

“Wahai, pamanku! Ucapkanlah Lâ ilâha illallâh, sebuah kalimat yang akan aku gunakan untuk mempersaksikan engkau di hadapan Allah Azza wa Jalla ”.

Maka Abu Jahl dan ‘Abdullah bin Abi Umayyah berseru: “Wahai, Abu Thalib! Apakah Anda benci dengan millah ‘Abdul-Muththalib?”

Dalam kondisi kritis itu, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam tetap terus mengatakan hal demikian kepada Abu Thâlib, dan begitu pula dengan kedua tokoh kafir Quraisy ini. Mereka berdua juga terus mengulangi perkataannya, hingga akhirnya, perkataan terakhir yang diucapkan Abu Thâlib kepada mereka, bahwa Abu Thâlib tetap berada di atas millah ‘Abdul-Mutthalib, dan dia enggan mengucapkan kalimat Lâ ilâha illallâh.

Melihat kenyataan ini, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam pun berkata:

أَمَا وَاللَّهِ لَأَسْتَغْفِرَنَّ لَكَ مَا لَمْ أُنْهَ عَنْكَ

Demi Allah, sungguh, aku akan memohonkan ampunan untuk engkau, selama aku tidak dilarang.

Berkenaan dengan tekad Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam ini, lalu Allah Azza wa Jalla menurunkan ayat :

مَا كَانَ لِلنَّبِيِّ وَالَّذِينَ آمَنُوا أَنْ يَسْتَغْفِرُوا لِلْمُشْرِكِينَ وَلَوْ كَانُوا أُولِي قُرْبَىٰ مِنْ بَعْدِ مَا تَبَيَّنَ لَهُمْ أَنَّهُمْ أَصْحَابُ الْجَحِيمِ

Tiadalah sepatutnya bagi Nabi dan orang-orang yang beriman memintakan ampun (kepada Allah) buat orang-orang musyrik, walaupun orang-orang musyrik itu adalah kaum kerabat(nya), sesudah jelas bagi mereka, bahwasannya orang-orang musyrik itu adalah penghuni neraka Jahannam. [at-Taubah/9 : 113]

Dan juga firman Allah Azza wa Jalla :

إِنَّكَ لَا تَهْدِي مَنْ أَحْبَبْتَ وَلَٰكِنَّ اللَّهَ يَهْدِي مَنْ يَشَاءُ ۚ وَهُوَ أَعْلَمُ بِالْمُهْتَدِينَ

Sesungguhnya kamu tidak akan dapat memberi petunjuk kepada orang yang kamu kasihi, tetapi Allah memberi petunjuk kepada orang yang dikehendaki-Nya, dan Allah lebih mengetahui orang-orang yang mau menerima petunjuk. [al-Qashash/28 : 56].

Imam Muslim juga meriwayatkan dengan sanadnya dari Abu Hurairah Radhiyallahu anhu , beliau Radhiyallahu anhu mengatakan, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata kepada pamannya:

قُلْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ أَشْهَدُ لَكَ بِهَا يَوْمَ الْقِيَامَةِ

“Ucapkanlah Laailaaha Illallah, sebuah kalimat yang akan aku gunakan untuk mempersaksikan engkau pada hari Kiamat”.

Abu Thalib menjawab: “Seandainya kaum Quraisy tidak akan mencelaku dengan mengatakan ‘Dia mengucapkan kalimat itu hanya karena takut,’ maka tentu aku ikuti permintaanmu,” lalu Allah Azza wa Jalla menurunkan firman-Nya (Qs al-Qashash/28 ayat 56):

إِنَّكَ لَا تَهْدِي مَنْ أَحْبَبْتَ وَلَٰكِنَّ اللَّهَ يَهْدِي مَنْ يَشَاءُ ۚ وَهُوَ أَعْلَمُ بِالْمُهْتَدِينَ

Sesungguhnya kamu tidak akan dapat memberi petunjuk kepada orang yang kamu kasihi, tetapi Allah memberi petunjuk kepada orang yang dikehendaki-Nya, dan Allah lebih mengetahui orang-orang yang mau menerima petunjuk

Demikianlah kesudahan akhir kehidupan Abu Thâlib. Dia meninggal dalam keadaan kafir. Adapun riwayat-riwayat yang menceritakan bahwa ia mengucapkan kalimat syahadat pada akhir hayatnya, maka riwayat-riwayat tersebut tidak ada yang shahîh. Jadi, Abu Thâlib meninggal tidak dalam keadaan Islam. Tentu dalam masalah ini terdapat banyak hikmah yang hanya diketahui Allah Azza wa Jalla , dan Allah Azza wa Jalla Maha Adil. Sedikit pun Dia tidak akan berbuat zhalim kepada hamba-Nya. Dan sepeninggal Abu Thâlib, maka kaum kafir Quraisy semakin leluasa mengejek dan menyakiti Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam . Tidak ada lagi yang mereka segani dan bisa menghalangi dari hal itu, sebagaimana Abu Thâlib.

Adapun tentang wafatnya Khadîjah Radhiyallahu anha terdapat beberapa riwayat yang berbeda. Ada yang mengatakan beliau Radhiyallahu anha wafat dua bulan setelah Abu Thâlib. Ada yang berpendapat, satu bulan lima hari, dan lain sebagainya. Sedangkan yang masyhur, beliau Radhiyallahu anha wafat pada bulan Ramadhân tahun kesepuluh dari kenabian. Yaitu tiga tahun sebelum Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam hijrah ke Madinah.

Jarak antara wafatnya Abu Thâlib dan Khadîjah Radhiyallahu anha sangat pendek, yaitu kurang dari satu tahun. Ini berarti Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam ditimpa musibah secara beruntun.

Semasa hidupnya, Khadîjah binti Khuwailid, sebagai istri beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam , ialah orang yang pertama kali menyatakan keislamannya dan menjadi pendamping setia beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam . Dia banyak membantu Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam suka dan duka. Banyak riwayat yang menjelaskan keistimewaan dan kedudukan Khadîjah binti Khuwailid x di sisi Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam . Sedangkan Abu Thâlib, ia selalu melindungi beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam dengan segenap kemampuannya.

RASULULLAH SHALLALLAHU ALAIHI WA SALLAM MENIKAHI SAUDAH RADHIYALLAHU ANHA
Meskipun Rasulullan Shallallahu ‘alaihi wa sallam berada dalam kondisi susah dan menderita, akan tetapi beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam tetap memiliki semangat membantu para sahabat beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam dan berusaha meringankan beban derita yang sedang menimpa para sahabatnya. Contoh dalam masalah ini, misalnya, pernikahan beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam dengan Saudah binti Zam’ah Radhiyallahu anha .

Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam menikahi Saudah binti Zam’ah Radhiyallahu anha. Wanita yang dinikahi Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam ini termasuk wanita yang berhijrah di jalan Allah Azza wa Jalla . Saudah Radhiyallahu anha pernah hijrah ke Habasyah bersama sang suami yang bernama Sakrân bin Amr. Hijrahnya Radhiyallahu anha menyebabkan keluarga Saudah Radhiyallahu anha marah besar kepadanya. Ketika Saudah Radhiyallahu anha kembali dari hijrah bersama sang suami, sang suami meninggal. Ada yang menyatakan bahwa suaminya meninggal di Habasyah. Sehingga tinggallah Saudah Radhiyallahu anha seorang diri, tidak memiliki keluarga.

Melihat hal ini, Rasulullah khawatir jika Saudah akan disakiti oleh kaumnya. Mengingat kaum Saudah Radhiyallahu anha termasuk di antara kabilah yang paling keras memusuhi Islam. Akhirnya, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam memutuskan untuk menikahinya. Dan pernikahan ini terjadi setelah Khadîjah binti Khuwailid wafat. Menurut pendapat yang kuat, pernikahan berlangsung pada bulan Syawwâl tahun kesepuluh dari kenabian.

Saat Saudah Radhiyallahu anha memasuki usia senja, beliau Radhiyallahu anha khawatir akan diceraikan oleh Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam , padahal beliau Radhiyallahu anha masih ingin menjadi istri beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam . Maka beliau Radhiyallahu anha memberikan malam-malam gilirannya kepada istri Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam yang lebih muda, yaitu ‘Aisyah Radhiyallahu anhuma. Ada yang meriwayatkan bahwa firman Allah Azza wa Jalla surat an-Nisa`/4 ayat 128 turun disebabkan dengan sikap Saudah Radhiyallahu anha ini. Ayat tersebut ialah :

وَإِنِ امْرَأَةٌ خَافَتْ مِنْ بَعْلِهَا نُشُوزًا أَوْ إِعْرَاضًا فَلَا جُنَاحَ عَلَيْهِمَا أَنْ يُصْلِحَا بَيْنَهُمَا صُلْحًا

Dan jika seorang wanita khawatir akan nusyuz atau sikap tidak acuh dari suaminya, maka tidak mengapa bagi keduanya mengadakan perdamaian yang sebenar-benarnya.

Demikianlah Saudah bin Zam’ah Radhiyallahu anha yang dinikahi Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam sebagai wujud kepedulian beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam kepada para sahabat, dan juga sebagai perhargaan terhadap suami Saudah. Jadi, meskipun dalam kondisi sulit dan susah, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam tetap memberikan perhatian kepada para sahabat.

Diringkas dari as-Sîratun Nabawiyatu fi Dhau-il Mashâdiril ash Liyyah, karya Dr. Mahdi Rizqullah Ahmad, Penerbit XXX, Cetakan XXX, Tahun XXX, halaman 222-225 dan 697-698.

[Disalin dari majalah As-Sunnah Edisi 08/Tahun XI/1428H/2007M. Penerbit Yayasan Lajnah Istiqomah Surakarta, Jl. Solo-Purwodadi Km.8 Selokaton Gondangrejo Solo 57183 Telp. 0271-761016]

Sumber: https://almanhaj.or.id/2053-mengarungi-masa-kesedihan.html

Print Friendly, PDF & Email
5 thoughts on “ABU THALIB Meninggal Dalam Kondisi KAFIR, Mengikuti Agama Abdul Muthalib (Agama Kesyirikan)”
  1. assalamuallaikum…
    bagaimana dengan orangtua rasulullah pak ?

    Wa’alaikumussalam warahmatullah,
    Orangtua rasulullah juga mengikuti agama Abdul muthalib, justru dengan tidak mau masuk islamnya Abu Thalib, padahal beliau paham akan kebenaran islam, ini memperkuat bahwa orangtua nabi pun mengikuti agama yang Abu Thalib sendiri mengikutinya,yaitu agama kesyirikan,

    Hal ini yang menyebabkan orangtua nabi juga masuk neraka, saya sudah memposting di postingan ini, silahkan dibaca

    Bukti tambahan,orang kafir quraisy pun mengenal Allah, ini sebagai bukti bahwa orangtua nabi pun mengenal Allah, bahkan nama bapaknya itu adalah ABDULLAH, artinya Hamba Allah, tapi orangtua nabi menyembah selain Allah juga, sebagaimana kebiasaan orang kafir quraisy, silahkan baca disini

  2. Yang jadi unek unek dalam hati saya, apakah benar bahwa orang orang yang mati sebelum masa kenabian rosulullah, mereka mati dalam keadaan syirik?
    Darimana mereka mengetahui bahwa ajaran agama saat itu salah, sedangkan rosulullah saja belum lahir?

    Allah sendiri yang mengatakan, Allah sendiri yang menceritakan, jika mereka sedang ditengah laut, diombang ambing oleh badai, mereka berdoa hanya kepada Allah semata, tidak menyekutukannya,.
    Namun ketika sudah kembali ke negerinya, mereka berbuat syirik kembali, itu yang dilakukan oleh musyrikin jahiliyah,.
    Mereka paham berhala yang mereka sembah itu tidak bisa apa-apa, lah mereka yang buat, bahkan berhala mereka bisa dimakan, karena ada yang terbuat dari tepung,.
    Mereka menyembah berhala itu sebagai perantara saja, berhala itu adalah perwujudan orang shalih yang sudah meninggal, agar menyampaikan hajat penyembahnya kepada Allah,.
    Sebelum rasulullah lahir, sudah ada agama islam, karena seluruh para nabi mendakwahkan dakwh yang sama, yaitu dakwah islam, mentauhidkan Allah dan tidak menyekutukannya, itu seruan dakwah seluruh nabi dan rasul, dan di jaman nabi muhammad islam disempurnakan,.

    Jadi jangan bingung, bagaimana sebelum nabi muhammad lahir, kan belum ada dakwah islam, .. ini keliru, justru seluruh nabi mendakwahkan islam, silahkan lihat disini ulasannya

    Sebelum nabi lahir, orang kafir quraisypun menyembah Allah, tapi selain menyembah Allah mereka juga menyekutukan Allah, ini penyebab amalan mereka hapus seluruhnya, dan kekal di neraka, termasuk orangtua nabi muhammad sendiri, silahkan baca disini

    1. Maksud saya apakah mereka melakukan kesyirikan karena sengaja atau karena tidak tahu mana yg syirik mana yg bukan seperti saat ini?

      Justru mereka melakukan kesyirikan karena keyakinan mereka,.
      Dan mereka tidak mau menerima islam yang didakwahkan rasulullah, itu karena pahamnya mereka akan konsekwensi jika masuk islam, yaitu wajib meninggalkan mempersekutukan Allah,

      Berbeda kaum muslimin sekarang ini,.. mereka mungkin berislam sejak lahir, tapi mereka tidak paham akan konsekwensi memeluk agama islam, sehingga kita bisa mendapati kaum muslimin indonesia terjerumus dalam perbuatan kesyirikan, yang lebih parah dari kesyirikan musyrikin jahiliyah,.

      Kaum musyrikin jahiliyah, mereka menyembah berhala ketika mereka senang, tapi ketika mereka mengalami kesulitan, mereka berdoa hanya kepada Allah semata,..

      Kaum muslimin sekarang,.. ketika senang berbuat kesyirikan, ketika mengalami kesulitan, semakin menjadi-jadi kesyirikan yang dilakukannya,.. ketika ditimpa musibah, malah syiriknya semakin menggila,.. ini realita di indonesia,

  3. Lalu gimana dong kalau justru kakek dan ortu Nabi Muhammad saw dulu mengikuti millah Ibrahim a.s ?

    Mereka mengikuti millah ibrahim, tapi selain itu menyekutukan Allah juga, jadi tidak bermanfaat amal kebaikannya karena menyekutukan Allah,.. hapus seluruh amalnya, hingga kekal di neraka,

Silahkan tinggalkan komentar di sini