Bagaimanakah Lafadz, Cara, dan Waktu untuk Bershalawat?

Waktu Salafi Bersolawat

Tanya: Assalamu’alaikum Ustadz, Semoga Allah memberkahimu.

Bagaimana lafazh, cara dan waktu bershalawat yang sesuai dengan sunnah?
Dikarenakan banyak sekali shalawat-shalawat diucapkan sampai-sampai dinyanyikan dengan irama? Jazakallahu Khair.

(Abu Hanun)

Jawab:

Wa’alaikumsalam warahmatullahi wabarakatuh. Wa fiikum barakallahu.

Kita diperintah untuk memperbanyak shalawat kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, sebagaimana firman Allah:

(إِنَّ اللَّهَ وَمَلائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيماً) (الأحزاب:56)

“Sesungguhnya Allah dan malaikatnya bershalawat kepada nabi, wahai orang-orang yang beriman bershalawatlah kalian kepadanya dan juga ucapkanlah salam.” (Qs. Al- Ahzab: 56)

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

((أولَى الناسِ بِيْ يوم القيامة أكثرُهم عليَّ صلاةً))

“Orang yang paling dekat dariku pada hari kiamat adalah yang paling banyak bershalawat kepadaku.” (HR. At-Tirmidzy, dan dihasankan Syeikh Al-Albany)

Maka hendaknya seorang muslim memperbanyak shalawat atas beliau. Dan disana ada waktu khusus yang disyariatkan bershalawat seperti ketika hari jum’at, ketika disebutkan nama beliau, ketika tasyahhud akhir, setelah takbir kedua pada shalat jenazah, ketika mau berdoa, ketika masuk masjid, ketika keluar masjid, setelah menjawab muadzdzin, dll.

Sebaik-baik lafadz shalawat adalah shalawat Ibrahimiyyah (di dalamnya ada penyebutan nabi Ibrahim).

Dari Ibnu Abi Laila beliau berkata:
“Aku bertemu dengan Ka’b bin ‘Ujrah kemudian beliau berkata: “Maukah kamu aku berikan hadiah yang aku dengar dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam?”Aku berkata: “Iya, hadiahkanlah itu kepadaku.” Maka beliau berkata:

سألْنا رسول الله فقلنا: يا رسول الله كيف الصلاةُ عليكم أهلَ البيت، فإن الله قد عَلَّمنا كيف نسلِّم؟ قال: قولوا اللَّهُّم صلِّ على محمدٍ وعلى آل محمد كما صلَّيْتَ على إبراهيم وعلى آل إبراهيم إنك حميد مجيد، اللَّهُّم بارِكْ على محمدٍ وعلى آل محمد كما باركتَ على إبراهيم وعلى آل إبراهيم إنك حميدٌ مجيد

“Kami bertanya kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam: “Wahai Rasulullah, bagaimana cara bershalawat kepada antum, wahai ahlul bait?” Karena Allah sudah mengajari kami bagaimana cara mengucapkan salam?” Maka beliau bersabda: Katakanlah:

اللَّهُّم صلِّ على محمدٍ وعلى آل محمد كما صلَّيْتَ على إبراهيم وعلى آل إبراهيم إنك حميد مجيد، اللَّهُّم بارِكْ على محمدٍ وعلى آل محمد كما باركتَ على إبراهيم وعلى آل إبراهيم إنك حميدٌ مجيد

“Ya Allah, bershalawatlah kepada Muhammad dan keluarganya sebagaimana engkau telah bershalawat kepada Ibrahim dan keluarganya, sesungguhnya Engkau Maha Terpuji lagi Maha Luas, Ya Allah, berkahilah Muhammad dan keluarganya sebagaimana Engkau telah memberkahi ibrahim dan keluarganya, sesungguhnya Engkau Maha Terpuji lagi Maha Luas.” (Muttafaqun ‘alaihi).

Berkata As-Sakhawy (wafat tahun 902 H ):

استدل بتعليمه صلى الله عليه وسلم لأصحابه كيفية الصلاة عليه بعد سؤالهم عنها أنها أفضل الكيفيات؛ لأنه لا يختار لنفسه إلا الأشرف والأفضل

“Pengajaran Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam kepada para sahabatnya tentang cara bershalawat kepada beliau setelah ditanya menunjukkan bahwa shalawat tersebut adalah shalawat yang palaing afdhal caranya, karena beliau tidak memilih untuk diri beliau kecuali yang paling mulia dan yang paling afdhal.” (Al-Qaulul Badi’ fish shalah ‘alal Habib Asy-Syafi’, As-Sakhawy hal: 47)

Ibnul Qayyim juga berkata:

وأكمل ما يصلى عليه به ويصل إليه هي الصلاة الإبراهيمية كما علمه أمته أن يصلوا عليه فلا صلاة عليه أكمل منها وإن تحذلق المتحذلقون

“Dan shalawat yang paling sempurna, yang sampai kepada beliau adalah shalawat Ibrahimiyyah, sebagaimana yang beliau ajarkan kepada ummatnya, maka tidak ada shalawat yang lebih sempurna darinya, meski sebagian orang merasa lebih pintar (untuk membuat lafadz shalawat).” (Zadul Ma’ad 2/356).

Berkata Syeikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin:

وخير صيغة يقولها الإنسان في الصلاة على النبي صلى الله عليه وسلم ما اختاره النبي صلى الله عليه وسلم للصلاة عليه بها

“Dan sebaik-baik lafadz bershalawat kepada nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah apa yang beliau pilih.” (Majmu’ Fatawa wa rasail Syeikh Muhammad Al-Utsaimin 13/230).

Meskipun demikian boleh mengucapkan shalawat dengan lafadz yang lain jika lafadznya fasih, seperti mengucapkan: صلى الله

عليه وسلم, atau الصلاة والسلام على رسول الله

Dan hendaknya menjauhi lafadz-lafadz terlarang seperti ghuluw (berlebih-lebihan dalam memuji beliau) sebagaimana ini ada pada kebanyakan shalawat-shalawat buatan manusia.

Demikian pula menjauhi cara bershalawat yang tidak ada dalilnya seperti bershalawat dengan dinyanyikan, karena ini tidak pernah dicontohkan oleh para pendahulu kita dari kalangan sahabat, tabi’in, dan tabi’it tabi’in.
Wallahu a’lam.

Ustadz Abdullah Roy, Lc.

Sumber: tanyajawabagamaislam.blogspot.com

dinukil ulang dari:  http://konsultasisyariah.com/kitab/hadits/bagaimanakah-lafadz-cara-dan-waktu-untuk-bershalawat.html

9 Comments on Bagaimanakah Lafadz, Cara, dan Waktu untuk Bershalawat?

  1. Asslm… Jgn smbrg mmvonis bid’ah kpd org lain. Lbih baik smpeyan bljr lg di pndok2 salaf. Jgn cm di timur tengah bljarnya. Jd gk tau sjrh islam di tnah air.

    wa’alaikumussalam…
    memang pondok2 salaf itu yang gimana mas??
    memang islam itu di negara mana mas diturunkannya?
    Bukankah islam diturunkan di negara arab?
    Dan negara arab adalah daerah timur tengah?
    Jadi, lebih selamat kita belajar dari negara dimana islam diturunkan, bukan belajar dari pondok2 salaf (pondok-pondok jaman dulu) yang ada di indonesia,… karena tidak jelas dari mana rujukan mereka tentang ajaran islam ini,…
    Bukan berdasar alquran dan sunnah menurut pemahaman para sahabat, para salafus shalih,..
    Mudah-mudahan kita diberi kemudahan untuk mengamalkan ajaran islam ini, berdasarkan pemahaman para sahabat,…

    • betul mas sy setuju ,,amalan apapun hrs sesuai tuntunan rasul ,alquran dan hadis

      Betul mba mila, sesuai dgn alquran dan hadits dengan pemahaman para sahabat

  2. Subhanalloh…………….
    sungguh mulia orang2 yang bersholawat kpd Nabi Muhammad SAW.

    (jgn disingkat nulis shalawatnya,.. itu lebih baik, insya Allah berpahala dengan cara menulis lengkap, shalallahu ‘alaihi wasallam)

    SHollu ‘alaih wasallam.

    Betul sekali, sungguh mulia, jika bershalawatnya dengan cara-cara yang diajarkan oleh Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam,
    Jika caranya menyelisiha cara shalawat yang diajarkan Rasulullah, maka bukan menjadi mulia orang yang melakukannya, justru akan menjerumuskan pelakunya ke dalam neraka, wal iyadzubillah…. kita berlindung kepada Allah dari mengamalkan amalan shalawat yang tidak ada contohnya dari Rasulullah..

    apakah kita lebih dekat dengan Allah SWT daripada orang2 terdahulu kita saudaraku?
    wallohu a’lam…

    Tentunya orang-orang terdahulu, yaitu para sahabat, tabiin dan tabiut tabiin, itu lebih baik dari kita,.. dan kita wajib mengikuti mereka,..
    bukan orang terdahulu yang dimaksud itu adalah nenek moyang kita, atau kyiai kita, guru kita,.. itu bukan patokan kebenaran,.. wallahu a’lam..

    hormatilah apa yang ada pada orang lain,janganlah memberi hukum kepadanya sebelum kita mengerti yang sebenarnya.

    betul, dan sudah jelas kebenaran itu, ada dalil-dalilnya, tentu dalil yang shahih, bukan dalil yang dhaif

    Apabila kita merasa lebih benar,ajarkan dengan ikhlas dan khasanah,jangan sesekali mengatakan “haram,bid’ah,dosa,salah….dan sebagainya” karena mereka pun melakukan amalan memiliki alasan dan ajaran yang mungkin kita belum tau.

    Iya, betul, harusnya kita mengatakan “itu tidak sesuai sunnah nabi, itu menyelisihi ajaran rasulullah,.. jadi kesannya lebih sopan ya?

    Marilah kita saling memberi,saling menerima.saling bertukar ilmu,,,

    Marilah kita menggali ilmu-ilmu yang diajarkan Rasulullah kepada para sahabatnya,..

    JANGAN SAMPAI SESAMA ISLAM SALING MENYALAHKAN,,,MALU DENGAN ALLAH,,,
    KARENA ALLAH-LAH YANG MAHA MENGETAHUI.

    IYA, BETUL,
    DAN LEBIH MALU LAGI, JIKA KITA BERAMAL, BUKAN DENGAN AJARAN YANG ALLAH AJARKAN KEPADA RASULULLAH,. BUKAN DENGAN AJARAN YANG RASULULLAH SENDIRI TIDAK PERNAH MENGAJARKANNYA,..
    INI TENTU LEBIH MALU LAGI,..
    MALULAH KEPADA ALLAH….
    JANGAN BUAT SYARIAT SENDIRI…
    AGAMA INI MILIK ALLAH, BUKAN MILIK KITA, JADI ATURAN-ATURANNYA ALLAH YANG MENETAPKAN..

    Kewajiban kita adalah belajar sampai mati !!!

    betul…

    Bukan saling menyalahkan,,,,
    Islam adalah rahmat,kasihsayang,kedamaian,,,

    Menjelaskan apa-apa yang tidak diajarkan oleh Rasulullah, bukanlah berarti menyalahkan orang lain, yang ternyata perbuatan itu dikerjakan oleh masyarakat umum, ini bukan berarti menyalahkan… justru seharusnya berterima kasih, telah diberitahu, mana yang sesuai dengan ajaran rasulullah, mana yang menyelisihinya,
    Justru, orang yang mengingatkan saudaranya, tentang amalan-amalan yang tidak sesuai dengan ajaran Rasulullah, itu hakekatnya dia sedang menebar kasih sayang terhadap saudaranya,
    tidak ingin saudaranya terjerumus ke neraka karena amalannya yang menyelisihi sunnah rasulullah..

    jangan jadikan Islam sebagai hal yang memalukan dan sumber perpecahan.

    Suatu kesalahan besar, jika ada orang yang mengingatkan tentang amalan-amalan yang menyelisihi ajaran rasulullah itu dibilang memecah belah umat…

    Semoga kita selalu mendapat petunjuk-Nya dan diberikan khusnul khotimah,,amin.

    Semoga kita diberikan hidayah tuk selalu mengamalkan ajaran-ajaran Rasulullah, sehingga kita mendapatkan khusnul khatimah..

    Mustahil khusnul khatimah diraih, dengan cara-cara yang tidak diajarkan oleh Rasulullah…

  3. Jika kita bershalawat tiap waktu boleh tidak?

    silahkan, bershalawat kapan saja, tidak usah ditentukan waktunya, tentu dengan bacaan shalawat yg diajarkan oleh rasulllah, bukan shalawat buatan manusia, spt shalawat nariyah,fatih,dll..

  4. banyak yg bilang2…

    “jagalah persatuan islam, jangan memecah belah umat, dikit2 bid’ah dikit2 musrik, kayaknya islam ente aja yg bener, kayak ente aja yg punya sorga..!”

    wahai para ahlul bid’ah..

    kami salafy tidak pernah mengatakan amalan kami lah yg paling benar…

    tp kami sanggup ber argumen dan membuktikan bahwa amalan kami lah yg paling mendekati ibadahnya Rasulullah Salallahu alaihi wassalam. wallahu ‘alam…

  5. assalammualaikum…
    saya kagum atas balasan komentar anda yg sopan.bijak dan tegas!beribadah lah menurut ajaran rosulullah dngn dalil yg shahih.terima kasih atas ilmu nya!
    wassalam….

    Wa’alaikumussalam warahmatullah,
    Mudah-mudahan bermanfaat, sekedar menukil saja dari sumber yang bisa dipertanggungjawabkan,.
    Jazakumullahu khairan atas suportnya,

  6. Ass.ww. Yaa mas admin, ….

    dari beberapa keterangan hadits bab sholawat Ibrahimiyah … redaksinya kok beda ?

    tidak seperti yang selama ini kami baca : “Allhumma Sholli alaa Muhammad wa alaa ali Muhammad kama sholaita alaa Ibrohim wa alaa ali Ibrohim wa barik alaa Muhammad wa alaa ali Muhammad kama barokta alaa Ibrohim wa alaa Ibrohim fil alamina innaka hamidun Majid”, mohon penjelasannya dan atas bantuan pencerahannya kami ucapkan Alhamdulillah terima kasih. wass.ww. Nurjoko Sukriyo

    Wa’alaikumussalam warahmatullahi wabarakatuh,.
    Terimakasih Nurjoko, sudah komentar disini, silahkan lihat disini ulasannya , dan anda sesuaikan dengan lafadz yang ada disitu, .. tinggal dirubah dikit saja agar sesuai dengan shalawat yang rasul ajarkan,. klik di link ini

  7. Kasihan sekali mrk, udah jelas terang begitu, msh menbantah dgn hawa nafsu..

    Terima kasih ya allah telah engkau beri hidayah hamba ini utk menerima kebenaran ini dan tetap kanlah hati hamba utk berpegang teguh pada jalan yg lurus ini ya allah,,
    dan buka kan lah hati mrk yg msh membenci kebenaran ini.

    Alhamdulillah,..
    Aamiin

  8. asalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh

    Wa’alaikumussalam warahmatullahi wabarakatuh

    ini comentar anda
    “Tentunya orang-orang terdahulu, yaitu para sahabat, tabiin dan tabiut tabiin, itu lebih baik dari kita,.. dan kita wajib mengikuti mereka,..
    bukan orang terdahulu yang dimaksud itu adalah nenek moyang kita, atau kyiai kita, guru kita,.. itu bukan patokan kebenaran,.. wallahu a’lam..”

    – terus kita mengenal islam dari mana, apa ilmu islam kita langsung dari para sahabat, tabiin dan tabiut tabiin???
    – anda bisa menulis periwayatan ini darimana, bukankah dari kyai atau ustad anda? (cek komentar anda “Mudah-mudahan bermanfaat, sekedar menukil saja dari sumber yang bisa dipertanggungjawabkan”) jawaban anda ini adalah menukil, menukil dari mana????

    – belajar butuh proses dan transfer ilmu, tidak dari buku atau internet, yang anda sampaikan hanya secuil, tapi seakan menjawab berbagai bab.

    pernyataan anda harus diklarifikasi, hal ini yang akan menggiring umat kepada ketidak tawadu’an murid kepada gurunya, dan seakan-akan tanpa sadar umat akan lebih percaya pada internet dari pada majelis, atau anda justru menganggap andalah yang dari golongan tabiin???

    Peryataan saya tidak perlu diklarifikasi,.
    Tapi ditambahkan penjelasan karena anda tidak paham,.
    Rasul menyampaikan pada para sahabat, sahabat menyampaikan kepada tabiin, dst,. tabiut tabiin punya murid, dan banyak dari mereka itu menulis kitab,.
    Jadi kita tinggal mempelajari dari kitab-kitab mereka,.

    Adapun guru kita, perlu dilihat, apa yang disampaikan oleh guru kita, itu sesuai tidak dengan yang disampaikan oleh Rasul kepada sahabatnya,.
    Bagaimana kita tahu? ya kita bisa merujuk pada kitab-kitab para ulama tentunya,.,

    jadi ucapan guru kita, kyai,ajengan,habib,tuan guru, itu wajib ditimbang dan tidak langsung ditelan mentah-mentah,.
    Dan ini bukan sedang merendahkan guru,. justru ini sedang menyelamatkan guru kita,. jika yang disampaikan guru kita itu berseberangan dengan yang disampaikan rasul kepada para sahabatnya, maka kita bisa menasehati guru kita dgn cara yang bijak,.

    – komentar anda “silahkan, bershalawat kapan saja, tidak usah ditentukan waktunya, tentu dengan bacaan shalawat yg diajarkan oleh rasulllah, bukan shalawat buatan manusia, spt shalawat nariyah,fatih,dll..”
    lalu korelasikan dengan tulisan anda dibawah ini
    “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

    ((أولَى الناسِ بِيْ يوم القيامة أكثرُهم عليَّ صلاةً))

    “Orang yang paling dekat dariku pada hari kiamat adalah yang paling banyak bershalawat kepadaku.” (HR. At-Tirmidzy, dan dihasankan Syeikh Al-Albany)

    Maka hendaknya seorang muslim memperbanyak shalawat atas beliau. Dan disana ada waktu khusus yang disyariatkan bershalawat seperti ketika hari jum’at, ketika disebutkan nama beliau, ketika tasyahhud akhir, setelah takbir kedua pada shalat jenazah, ketika mau berdoa, ketika masuk masjid, ketika keluar masjid, setelah menjawab muadzdzin, dll”

    yang saya tangkap malah ada kontradiksi masalah waktu dalam bersolawat????

    Bukan cuma masalah waktunya saja, tapi juga LAFADZ SHALAWAT yang bukan dari Rasulullah, seperti shalawat naariyah,barzanji,badar,fatih, dll itu semua adalah shalawat bidah,.
    Saya sudh posting tentang shalawat yang diajarkan oleh Rasulullah, silahkan baca disini

    Justru orang yang mengingatkan saudaranya, tentang amalan-amalan yang tidak sesuai dengan ajaran Rasulullah, itu hakekatnya dia sedang menebar kasih sayang terhadap saudaranya,
    tidak ingin saudaranya terjerumus ke neraka karena amalannya yang menyelisihi sunnah rasulullah..
    Semoga kita diberikan hidayah tuk selalu mengamalkan ajaran-ajaran Rasulullah, sehingga kita mendapatkan khusnul khatimah..
    Wasalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh. Wa fiikum barakallahu.

    Aamiin, wa’alaikumussalam warahmatullahi wabarakatuh,.
    wafiikum baarakallahu

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*