Saatnya Meninggalkan Musik

Mata Pencarian Menjadi Band, Bagaimana Pandangan Islam Kenapapa Rhoma Irama Masih Main Musik Padahal Haram Kenapa Roma Irama Tidak Tobat Dari Musik Kenapa Roma Irama Main Gitar Padahal Haram Kenapa Rhoma Irama Masih Main Musik Padahal Haram

Haramnya-Musik-21-720x399Siapa saja yang hidup di akhir zaman, tidak lepas dari lantunan suara musik atau nyanyian. Bahkan mungkin di antara kita –dulunya- adalah orang-orang yang sangat gandrung terhadap lantunan suara seperti itu. Bahkan mendengar lantunan tersebut juga sudah menjadi sarapan tiap harinya.

Itulah yang juga terjadi pada sosok si fulan. Hidupnya dulu tidaklah bisa lepas dari gitar dan musik. Namun, sekarang hidupnya jauh berbeda. Setelah Allah mengenalkannya dengan Al haq (penerang dari Al Qur’an dan As Sunnah), dia pun perlahan-lahan menjauhi berbagai nyanyian.

Alhamdulillah, dia pun mendapatkan ganti yang lebih baik yaitu dengan kalamullah (Al Qur’an) yang semakin membuat dirinya  mencintai dan merindukan perjumpaan dengan Rabbnya.

Lalu, apa yang menyebabkan hatinya bisa berpaling kepada kalamullah dan meninggalkan nyanyian? Tentu saja, karena taufik Allah kemudian siraman ilmu. Dengan ilmu syar’i yang dia dapati, hatinya mulai tergerak dan mulai sadarkan diri. Dengan mengetahui dalil Al Qur’an dan Hadits yang membicarakan bahaya lantunan yang melalaikan, dia pun mulai meninggalkannya perlahan-lahan. Juga dengan bimbingan perkataan para ulama, dia semakin jelas dengan hukum keharamannya.

Alangkah baiknya jika kita melihat dalil-dalil yang dimaksudkan, beserta perkataan para ulama masa silam mengenai hukum nyanyian karena mungkin di antara kita ada yang masih gandrung dengannya. Maka, dengan ditulisnya risalah ini, semoga Allah membuka hati kita dan memberi hidayah kepada kita seperti yang didapatkan si fulan tadi. Allahumma a’in wa yassir (Ya Allah, tolonglah dan mudahkanlah).

Beberapa Ayat Al Qur’an yang Membicarakan “Nyanyian”

Pertama: Nyanyian dikatakan sebagai “lahwal hadits” (perkataan yang tidak berguna)

Allah Ta’ala berfirman,

وَمِنَ النَّاسِ مَنْ يَشْتَرِي لَهْوَ الْحَدِيثِ لِيُضِلَّ عَنْ سَبِيلِ اللَّهِ بِغَيْرِ عِلْمٍ وَيَتَّخِذَهَا هُزُوًا أُولَئِكَ لَهُمْ عَذَابٌ مُهِينٌ وَإِذَا تُتْلَى عَلَيْهِ آيَاتُنَا وَلَّى مُسْتَكْبِرًا كَأَنْ لَمْ يَسْمَعْهَا كَأَنَّ فِي أُذُنَيْهِ وَقْرًا فَبَشِّرْهُ بِعَذَابٍ أَلِيمٍ

Dan di antara manusia (ada) orang yang mempergunakan perkataan yang tidak berguna untuk menyesatkan (manusia) dari jalan Allah tanpa pengetahuan dan menjadikan jalan Allah itu olok-olokan. Mereka itu akan memperoleh azab yang menghinakan. Dan apabila dibacakan kepadanya ayat-ayat Kami dia berpaling dengan menyombongkan diri seolah-olah dia belum mendengarnya, seakan-akan ada sumbat di kedua telinganya; maka beri kabar gembiralah padanya dengan azab yang pedih.” (QS. Luqman: 6-7)

Ibnu Jarir Ath Thabariy -rahimahullah- dalam kitab tafsirnya mengatakan bahwa para pakar tafsir berselisih pendapat apa yang dimaksud dengan لَهْوَ الْحَدِيثِlahwal hadits” dalam ayat tersebut. Sebagian mereka mengatakan bahwa yang dimaksudkan adalah nyanyian dan mendengarkannya. Lalu setelah itu Ibnu Jarir menyebutkan beberapa perkataan ulama salaf mengenai tafsir ayat tersebut. Di antaranya adalah dari Abu Ash Shobaa’ Al Bakrirahimahullah-. Beliau mengatakan bahwa dia mendengar Ibnu Mas’ud ditanya mengenai tafsir ayat tersebut, lantas beliau –radhiyallahu ‘anhu– berkata,

الغِنَاءُ، وَالَّذِي لاَ إِلَهَ إِلاَّ هُوَ، يُرَدِّدُهَا ثَلاَث َمَرَّاتٍ.

Yang dimaksud adalah nyanyian, demi Dzat yang tidak ada ilah (sesembahan) yang berhak diibadahi selain Dia.” Beliau menyebutkan makna tersebut sebanyak tiga kali.[1]

Penafsiran senada disampaikan oleh Mujahid, Sa’id bin Jubair, ‘Ikrimah, dan Qotadah. Dari Ibnu Abi Najih, Mujahid berkata bahwa yang dimaksud lahwu hadits adalah bedug (genderang).[2]

Asy Syaukani dalam kitab tafsirnya mengatakan, “Lahwal hadits adalah segala sesuatu yang melalaikan seseorang dari berbuat baik. Hal itu bisa berupa nyanyian, permainan, cerita-cerita bohong dan setiap kemungkaran.” Lalu, Asy Syaukani menukil perkataan Al Qurtubhi yang mengatakan bahwa tafsiran yang paling bagus untuk makna lahwal hadits adalah nyanyian. Inilah pendapat para sahabat dan tabi’in.[3]

Jika ada yang mengatakan, “Penjelasan tadi kan hanya penafsiran sahabat, bagaimana mungkin bisa jadi hujjah (dalil)?”

Maka, cukup kami katakan bahwa tafsiran sahabat terhadap suatu ayat bisa menjadi hujjah, bahkan bisa dianggap sama dengan hadits Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam (derajat marfu’). Simaklah perkataan Ibnul Qayyim setelah menjelaskan penafsiran mengenai “lahwal hadits” di atas sebagai berikut,

Al Hakim Abu ‘Abdillah dalam kitab tafsirnya di Al Mustadrok mengatakan bahwa seharusnya setiap orang yang haus terhadap ilmu mengetahui bahwa tafsiran sahabat –yang mereka ini menyaksikan turunnya wahyu- menurut Bukhari dan Muslim dianggap sebagai perkataan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Di tempat lainnya, beliau mengatakan bahwa menurutnya, penafsiran sahabat tentang suatu ayat sama statusnya dengan hadits marfu’ (yang sampai pada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam).” Lalu, Ibnul Qayyim mengatakan, “Walaupun itu adalah penafsiran sahabat, tetap penafsiran mereka lebih didahulukan daripada penafsiran orang-orang sesudahnya. Alasannya, mereka adalah umat yang paling mengerti tentang maksud dari ayat yang diturunkan oleh Allah karena Al Qur’an turun di masa mereka hidup”.[4]

Jadi, jelaslah bahwa pemaknaan لَهْوَ الْحَدِيثِ /lahwal hadits/ dengan nyanyian patut kita terima karena ini adalah perkataan sahabat yang statusnya bisa sama dengan sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Kedua: Orang-orang yang bernyanyi disebut “saamiduun

Allah Ta’ala berfirman,

أَفَمِنْ هَذَا الْحَدِيثِ تَعْجَبُونَ  , وَتَضْحَكُونَ وَلا تَبْكُونَ , وَأَنْتُمْ سَامِدُونَ , فَاسْجُدُوا لِلَّهِ وَاعْبُدُوا

Maka, apakah kamu merasa heran terhadap pemberitaan ini? Dan kamu mentertawakan dan tidak menangis? Sedang kamu saamiduun? Maka, bersujudlah kepada Allah dan sembahlah (Dia). (QS. An Najm: 59-62)

Apa yang dimaksud سَامِدُونَ/saamiduun/?

Menurut salah satu pendapat, makna saamiduun adalah bernyanyi dan ini berasal dari bahasa orang Yaman. Mereka biasa menyebut “ismud lanaa” dan maksudnya adalah: “Bernyanyilah untuk kami”. Pendapat ini diriwayatkan dari ‘Ikrimah dan Ibnu ‘Abbas.[5]

‘Ikrimah mengatakan, “Mereka biasa mendengarkan Al Qur’an, namun mereka malah bernyanyi. Kemudian turunlah ayat ini (surat An Najm di atas).”[6]

Jadi, dalam dua ayat ini teranglah bahwa mendengarkan “nyanyian” adalah suatu yang dicela dalam Al Qur’an.

Perkataan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam Mengenai Nyanyian

Hadits Pertama

Bukhari membawakan dalam Bab “Siapa yang menghalalkan khomr dengan selain namanya” sebuah riwayat dari Abu ‘Amir atau Abu Malik Al Asy’ari telah menceritakan bahwa dia tidak berdusta, lalu dia menyampaikan sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam,

لَيَكُونَنَّ مِنْ أُمَّتِى أَقْوَامٌ يَسْتَحِلُّونَ الْحِرَ وَالْحَرِيرَ وَالْخَمْرَ وَالْمَعَازِفَ ، وَلَيَنْزِلَنَّ أَقْوَامٌ إِلَى جَنْبِ عَلَمٍ يَرُوحُ عَلَيْهِمْ بِسَارِحَةٍ لَهُمْ ، يَأْتِيهِمْ – يَعْنِى الْفَقِيرَ – لِحَاجَةٍ فَيَقُولُوا ارْجِعْ إِلَيْنَا غَدًا . فَيُبَيِّتُهُمُ اللَّهُ وَيَضَعُ الْعَلَمَ ، وَيَمْسَخُ آخَرِينَ قِرَدَةً وَخَنَازِيرَ إِلَى يَوْمِ الْقِيَامَةِ

“Sungguh, benar-benar akan ada di kalangan umatku sekelompok orang yang menghalalkan zina, sutera, khamr, dan alat musik. Dan beberapa kelompok orang akan singgah di lereng gunung dengan binatang ternak mereka. Seorang yang fakir mendatangi mereka untuk suatu keperluan, lalu mereka berkata, ‘Kembalilah kepada kami esok hari.’ Kemudian Allah mendatangkan siksaan kepada mereka dan menimpakan gunung kepada mereka serta Allah mengubah sebagian mereka menjadi kera dan babi hingga hari kiamat.”[7] Jika dikatakan menghalalkan musik, berarti musik itu haram.

Hadits di atas dinilai shahih oleh banyak ulama, di antaranya adalah: Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah dalam Al Istiqomah (1/294) dan Ibnul Qayyim dalam Ighatsatul Lahfan (1/259). Penilaian senada disampaikan An Nawawi, Ibnu Rajab Al Hambali, Ibnu Hajar dan Asy Syaukanirahimahumullah-.

Memang, ada sebagian ulama semacam Ibnu Hazm dan orang-orang yang mengikuti pendapat beliau sesudahnya seperti Al Ghozali yang menyatakan bahwa hadits di atas memiliki cacat sehingga mereka pun menghalalkan musik. Alasannya, mereka mengatakan bahwa sanad hadits ini munqothi’ (terputus) karena Al Bukhari tidak memaushulkan sanadnya (menyambungkan sanadnya). Untuk menyanggah hal ini, kami akan kemukakan 5 sanggahan sebagaimana yang dikatakan oleh Ibnul Qayyim rahimahullah:

Pertama, Al Bukhari betul bertemu dengan Hisyam bin ‘Ammar dan beliau betul mendengar langsung darinya. Jadi, jika Al Bukhari mengatakan bahwa Hisyam berkata, itu sama saja dengan perkataan Al Bukhari langsung dari Hisyam.

Kedua, jika Al Bukhari belum pernah mendengar hadits itu dari Hisyam, tentu Al Bukhari tidak akan mengatakan dengan lafazh jazm (tegas). Jika beliau mengatakan dengan lafazh jazm, sudah pasti beliau mendengarnya langsung dari Hisyam. Inilah yang paling mungkin, karena sangat banyak orang  yang meriwayatkan (hadits) dari Hisyam. Hisyam adalah guru yang sudah sangat masyhur. Adapun Al Bukhari adalah hamba yang sangat tidak mungkin melakukan tadlis (kecurangan dalam periwayatan).

Ketiga, Al Bukhari memasukkan hadits ini dalam kitabnya yang disebut dengan kitab shahih, yang tentu saja hal ini bisa dijadikan hujjah (dalil). Seandainya hadits tersebut tidaklah shahih menurut Al Bukhari, lalu mengapa beliau memasukkan hadits tersebut dalam kitab shahih?

Keempat, Al Bukhari membawakan hadits ini secara mu’allaq (di bagian awal sanad ada yang terputus). Namun, di sini beliau menggunakan lafazh jazm (pasti, seperti dengan kata qoola yang artinya dia berkata) dan bukan tamridh (seperti dengan kata yurwa atau yudzkaru, yang artinya telah diriwayatkan atau telah disebutkan). Jadi, jika Al Bukhari mengatakan, “Qoola: qoola Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam [dia mengatakan bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, …]”, maka itu sama saja beliau mengatakan hadits tersebut disandarkan pada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Kelima, seandainya berbagai alasan di atas kita buang, hadits ini tetaplah shahih dan bersambung karena dilihat dari jalur lainnya, sebagaimana akan dilihat pada hadits berikutnya.[8]

Hadits Kedua

Dari Abu Malik Al Asy’ari, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

لَيَشْرَبَنَّ نَاسٌ مِنْ أُمَّتِى الْخَمْرَ يُسَمُّونَهَا بِغَيْرِ اسْمِهَا يُعْزَفُ عَلَى رُءُوسِهِمْ بِالْمَعَازِفِ وَالْمُغَنِّيَاتِ يَخْسِفُ اللَّهُ بِهِمُ الأَرْضَ وَيَجْعَلُ مِنْهُمُ الْقِرَدَةَ وَالْخَنَازِيرَ

Sungguh, akan ada orang-orang dari umatku yang meminum khamr, mereka menamakannya dengan selain namanya. Mereka dihibur dengan musik dan alunan suara biduanita. Allah akan membenamkan mereka ke dalam bumi dan Dia akan mengubah bentuk mereka menjadi kera dan babi.[9]

Hadits Ketiga

Dari Nafi’ –bekas budak Ibnu ‘Umar-, beliau berkata,

عُمَرَ سَمِعَ ابْنُ عُمَرَ صَوْتَ زَمَّارَةِ رَاعٍ فَوَضَعَ إِصْبَعَيْهِ فِى أُذُنَيْهِ وَعَدَلَ رَاحِلَتَهُ عَنِ الطَّرِيقِ وَهُوَ يَقُولُ يَا نَافِعُ أَتَسْمَعُ فَأَقُولُ نَعَمْ. قَالَ فَيَمْضِى حَتَّى قُلْتُ لاَ. قَالَ فَوَضَعَ يَدَيْهِ وَأَعَادَ الرَّاحِلَةَ إِلَى الطَّرِيقِ وَقَالَ رَأَيْتُ رَسُولَ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- وَسَمِعَ صَوْتَ زَمَّارَةِ رَاعٍ فَصَنَعَ مِثْلَ هَذَا

Ibnu ‘Umar pernah mendengar suara seruling dari seorang pengembala, lalu beliau menyumbat kedua telinganya dengan kedua jarinya. Kemudian beliau pindah ke jalan yang lain. Lalu Ibnu ‘Umar berkata, “Wahai Nafi’, apakah kamu masih mendengar suara tadi?” Aku (Nafi’) berkata, “Iya, aku masih mendengarnya.”

Kemudian, Ibnu ‘Umar terus berjalan. Lalu, aku berkata, “Aku tidak mendengarnya lagi.”

Barulah setelah itu Ibnu ‘Umar melepaskan tangannya dari telinganya dan kembali ke jalan itu lalu berkata, “Beginilah aku melihat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam ketika mendengar suara seruling dari seorang pengembala. Beliau melakukannya seperti tadi.”[10]

Keterangan Hadits

Dari dua hadits pertama, dijelaskan mengenai keadaan umat Islam nanti yang akan menghalalkan musik,berarti sebenarnya musik itu haram kemudian ada yang menganggap halal. Begitu pula pada hadits ketiga yang menceritakan kisah Ibnu ‘Umar bersama Nafi’. Ibnu ‘Umar mencontohkan bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam melakukan hal yang sama dengannya yaitu menjauhkan manusia dari mendengar musik. Hal ini menunjukkan bahwa musik itu jelas-jelas terlarang.

Jika ada yang mengatakan bahwa sebenarnya yang dilakukan Ibnu ‘Umar tadi hanya menunjukkan bahwa itu adalah cara terbaik dalam mengalihkan manusia dari mendengar suara nyanyian atau alat musik, namun tidak sampai menunjukkan keharamannya, jawabannya adalah sebagaimana yang dikatakan Ahmad bin Abdul Halim Al Haroni (julukan Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah) rahimahullah berikut ini,

اللَّهُمَّ إلَّا أَنْ يَكُونَ فِي سَمَاعِهِ ضَرَرٌ دِينِيٌّ لَا يَنْدَفِعُ إلَّا بِالسَّدِّ

“Demi Allah, bahkan mendengarkan nyanyian (atau alat musik) adalah bahaya yang mengerikan pada agama seseorang, tidak ada cara lain selain dengan menutup jalan agar tidak mendengarnya.”[11]

Kalam Para Ulama Salaf Mengenai Nyanyian (Musik)

Ibnu Mas’ud mengatakan, “Nyanyian menumbuhkan kemunafikan dalam hati sebagaimana air menumbuhkan sayuran.

Al Qasim bin Muhammad pernah ditanya tentang nyanyian, lalu beliau menjawab, “Aku melarang nyanyian padamu dan aku membenci jika engkau mendengarnya.” Lalu orang yang bertanya tadi mengatakan, “Apakah nyanyian itu haram?”  Al Qasim pun mengatakan,”Wahai anak saudaraku, jika Allah telah memisahkan yang benar dan yang keliru, lantas pada posisi mana Allah meletakkan ‘nyanyian’?

‘Umar bin ‘Abdul Aziz pernah menulis surat kepada guru yang mengajarkan anaknya, isinya adalah, ”Hendaklah yang pertama kali diyakini oleh anak-anakku dari budi pekertimu adalah kebencianmu pada nyanyian. Karena nyanyian itu berasal dari setan dan ujung akhirnya adalah murka Allah. Aku mengetahui dari para ulama yang terpercaya bahwa mendengarkan nyanyian dan alat musik serta gandrung padanya hanya akan menumbuhkan kemunafikan dalam hati sebagaimana air menumbuhkan rerumputan. Demi Allah, menjaga diri dengan meninggalkan nyanyian sebenarnya lebih mudah bagi orang yang memiliki kecerdasan daripada bercokolnya kemunafikan dalam hati.”

Fudhail bin Iyadh mengatakan, “Nyanyian adalah mantera-mantera zina.

Adh Dhohak mengatakan, “Nyanyian itu akan merusak hati dan akan mendatangkan kemurkaan Allah.

Yazid bin Al Walid mengatakan, “Wahai anakku, hati-hatilah kalian dari mendengar nyanyian karena nyanyian itu hanya akan mengobarkan hawa nafsu, menurunkan harga diri, bahkan nyanyian itu bisa menggantikan minuman keras yang bisa membuatmu mabuk kepayang. … Ketahuilah, nyanyian itu adalah pendorong seseorang untuk berbuat zina.”[12]

Empat Ulama Madzhab Mencela Nyanyian

  1. Imam Abu Hanifah. Beliau membenci nyanyian dan menganggap mendengarnya sebagai suatu perbuatan dosa.[13]
  2. Imam Malik bin Anas. Beliau berkata, “Barangsiapa membeli budak lalu ternyata budak tersebut adalah seorang biduanita (penyanyi), maka hendaklah dia kembalikan budak tadi karena terdapat ‘aib.”[14]
  3. Imam Asy Syafi’i. Beliau berkata, “Nyanyian adalah suatu hal yang sia-sia yang tidak kusukai karena nyanyian itu adalah seperti kebatilan. Siapa saja yang sudah kecanduan mendengarkan nyanyian, maka persaksiannya tertolak.[15]
  4. Imam Ahmad bin Hambal. Beliau berkata, “Nyanyian itu menumbuhkan kemunafikan dalam hati dan aku pun tidak menyukainya.[16]

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah mengatakan, “Tidak ada satu pun dari empat ulama madzhab yang berselisih pendapat mengenai haramnya alat musik.”[17]

Bila Engkau Sudah Tersibukkan dengan Nyanyian dan Nasyid

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah memberikan pelajaran yang sangat berharga. Beliau mengatakan,

“Seorang hamba jika sebagian waktunya telah tersibukkan dengan amalan yang tidak disyari’atkan, dia pasti akan kurang bersemangat dalam melakukan hal-hal yang disyari’atkan dan bermanfaat. Hal ini jauh berbeda dengan orang yang mencurahkan usahanya untuk melakukan hal yang disyari’atkan. Pasti orang ini akan semakin cinta dan semakin mendapatkan manfaat dengan melakukan amalan tersebut, agama dan islamnya pun akan semakin sempurna.”

Lalu, Syaikhul  Islam Ibnu Taimiyah mengatakan, ”Oleh karena itu, banyak sekali orang yang terbuai dengan nyanyian (atau syair-syair) yang tujuan semula adalah untuk menata hati. Maka, pasti karena maksudnya, dia akan semakin berkurang semangatnya dalam menyimak Al Qur’an. Bahkan sampai-sampai dia pun membenci untuk mendengarnya.”[18]

Jadi, perkataan Ahmad bin Abdul Halim Al Haroni (yang dijuluki Syaikhul Islam) memang betul-betul terjadi pada orang-orang yang sudah begitu gandrung dengan nyanyian, gitar dan bahkan dengan nyanyian “Islami” (yang disebut nasyid). Tujuan mereka mungkin adalah untuk menata hati. Namun, sayang seribu sayang, jalan yang ditempuh adalah jalan yang keliru karena hati mestilah ditata dengan hal-hal yang masyru’ (disyariatkan) dan bukan dengan hal-hal yang tidak masyru’, yang membuat kita sibuk dan lalai dari kalam Robbul ‘alamin yaitu Al Qur’an.

Tentang nasyid yang dikenal di kalangan sufiyah dan bait-bait sya’ir, Syaikhul Islam mengatakan,

“Oleh karena itu, kita dapati pada orang-orang yang kesehariannya dan santapannya tidak bisa lepas dari nyanyian, mereka pasti tidak akan begitu merindukan lantunan suara Al Qur’an. Mereka pun tidak begitu senang ketika mendengarnya. Mereka tidak akan merasakan kenikmatan tatkala  mendengar Al Qur’an dibanding dengan mendengar bait-bait sya’ir (nasyid). Bahkan ketika mereka mendengar Al Qur’an, hatinya pun menjadi lalai, begitu pula dengan lisannya akan sering keliru.”[19]

Adapun melatunkan bait-bait syair (alias nasyid) asalnya dibolehkan, namun tidak berlaku secara mutlak. Melatunkan bait syair (nasyid) yang dibolehkan apabila memenuhi beberapa syarat berikut:

  1. Bukan lantunan yang mendayu-dayu sebagaimana yang diperagakan oleh para wanita.
  2. Nasyid tersebut tidak sampai melalaikan dari mendengar Al Qur’an.
  3. Nasyid tersebut terlepas dari nada-nada yang dapat membuat orang yang mendengarnya menari dan berdansa.
  4. Tidak diiringi alat musik.
  5. Maksud mendengarkannya bukan mendengarkan nyanyian dan nadanya, namun tujuannya adalah untuk mendengar nasyid (bait syair).
  6. Diperbolehkan bagi wanita untuk memukul rebana pada acara-acara yang penuh kegembiraan dan masyru’ (disyariatkan) saja.[20]
  7. Maksud nasyid ini adalah untuk memberi dorongan semangat ketika keletihan atau ketika berjihad.
  8. Tidak sampai melalaikan dari yang wajib atau melarang dari kewajiban.[21]

Penutup

Kami hanya ingin mengingatkan bahwa pengganti nyanyian dan musik adalah Al Qur’an. Dengan membaca, merenungi, dan mendengarkan lantunan Al-Qur’anlah hati kita akan hidup dan tertata karena inilah yang disyari’atkan.

Ingatlah bahwa Al Qur’an dan musik sama sekali tidak bisa bersatu dalam satu hati. Kita bisa memperhatikan perkataan murid Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah, yaitu Ibnul Qayyim rahimahullah. Beliau mengatakan, “Sungguh nyanyian dapat memalingkan hati seseorang dari memahami, merenungkan dan mengamalkan isi Al Qur’an. Ingatlah, Al Qur’an dan nyanyian selamanya tidaklah mungkin bersatu dalam satu hati karena keduanya itu saling bertolak belakang. Al Quran melarang kita untuk mengikuti hawa nafsu, Al Qur’an memerintahkan kita untuk menjaga kehormatan diri dan menjauhi berbagai bentuk syahwat yang menggoda jiwa. Al Qur’an memerintahkan untuk menjauhi sebab-sebab seseorang melenceng dari kebenaran dan melarang mengikuti langkah-langkah setan. Sedangkan nyanyian memerintahkan pada hal-hal yang kontra (berlawanan) dengan hal-hal tadi.”[22]

Dari sini, pantaskah Al Qur’an ditinggalkan hanya karena terbuai dengan nyanyian? Ingatlah, jika seseorang meninggalkan musik dan nyanyian, pasti Allah akan memberi ganti dengan yang lebih baik.

إِنَّكَ لَنْ تَدَعَ شَيْئاً لِلَّهِ عَزَّ وَجَلَّ إِلاَّ بَدَّلَكَ اللَّهُ بِهِ مَا هُوَ خَيْرٌ لَكَ مِنْهُ

Sesungguhnya jika engkau meninggalkan sesuatu karena Allah, niscaya Allah akan memberi ganti padamu dengan sesuatu yang lebih baik.”[23]

Tatkala Allah memerintahkan pada sesuatu dan melarang dari sesuatu pasti ada maslahat dan manfaat di balik itu semua. Sibukkanlah diri dengan mengkaji ilmu dan mentadaburri Al Quran, niscaya perlahan-lahan perkara yang tidak manfaat semacam nyanyian akan ditinggalkan. Semoga Allah membuka hati dan memberi hidayah bagi setiap orang yang membaca risalah ini.

Washallallahu ‘ala nabiyyina Muhammad wa ‘ala alihi wa shohbihi ajma’in. Walhamdulillahi robbil ‘alamin.

***

Disempurnakan di Pangukan-Sleman, 16 Rabi’ul Awwal 1431 H (02/03/2010)

Penulis: Muhammad Abduh Tuasikal

Artikel www.muslim.or.id, dipublish ulang oleh www.rumaysho.com


[1] Lihat Jami’ul Bayan fii Ta’wilil Qur’an, Ibnu Jarir Ath Thobari, 20/127, Muassasah Ar Risalah, cetakan pertama, tahun 1420 H.

[2] Zaadul Masiir, Ibnul Jauziy, 5/105, Mawqi’ At Tafasir.

[3] Lihat Fathul Qadir, Asy Syaukani, 5/483, Mawqi’ At Tafasir.

[4] Lihat Ighatsatul Lahfan min Masho-idisy Syaithon, Ibnu Qayyim Al Jauziyah, 1/240, Darul Ma’rifah, Beirut, cetakan kedua, 1395 H

[5] Lihat Zaadul Masiir, 5/448.

[6] Lihat Ighatsatul Lahfan, 1/258.

[7] Diriwayatkan oleh Bukhari secara mu’allaq dengan lafazh jazm/ tegas.

[8] Lihat Ighatsatul Lahfan, 1/259-260.

[9] HR. Ibnu Majah dan Ibnu Hibban. Syaikh Al Albani mengatakan bahwa hadits ini shahih.

[10] HR. Ahmad. Syaikh Syu’aib Al Arnauth mengatakan bahwa hadits ini hasan.

[11] Majmu’ Al Fatawa, Ahmad bin Abdul Halim Al Haroini, 11/567, Darul Wafa’, cetakan ketiga, tahun 1426 H.

[12] Lihat Talbis Iblis, Ibnul Jauzi, hal. 289, Darul Kutub Al ‘Arobi, cetakan pertama, 1405 H

[13] Lihat Talbis Iblis, 282.

[14] Lihat Talbis Iblis, 284.

[15] Lihat Talbis Iblis, 283.

[16] Lihat Talbis Iblis, 280.

[17] Majmu’ Al Fatawa, 11/576-577.

[18] Iqtidho’ Ash Shirothil Mustaqim li Mukholafati Ash-haabil Jahiim, Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah, Tahqiq & Ta’liq: Dr. Nashir ‘Abdul Karim Al ‘Aql, 1/543, Wizarotusy Syu’un Al Islamiyah, cetakan ketujuh, tahun 1419 H

[19] Majmu’ Al Fatawa, 11/567.

[20] Seperti terdapat riwayat dari ‘Umar bahwa beliau membolehkan memukul rebana (ad-duf) pada acara nikah dan khitan. Dan ini adalah pengkhususan dari dalil umum yang melarang alat musik. Sehingga tidak tepat jika rebana ini diqiyaskan (dianalogikan) dengan alat musik yang lain. (Lihat An Nur Al Kaasyif fii Bayaani Hukmil Ghina wal Ma’azif, hal. 61, Asy Syamilah)

[21] Lihat An Nur Al Kaasyif fii Bayaani Hukmil Ghina wal Ma’azif, hal. 44-45, Asy Syamilah.

[22] Ighatsatul Lahfan, 1/248-249.

[23] HR. Ahmad. Syaikh Syu’aib Al Arnauth mengatakan bahwa sanad hadits ini shahih.

Print Friendly, PDF & Email

Musik Menurut Rhoma Musik Yang Dihalalkan Gambar Atau Kata-kata Tema Dakwah Bernyanyi Teks Nada Dawah Tanggapan Ulama Dakwah Musik Rhoma

21 Comments

  1. Ya ampun! kalau udah kayak gitu, dunia mungkin udah jadi bisu!
    Meranalah para musisi!

    Masih mending merana di dunia mas,..
    Daripada merana di akhirat nanti…

    Imam Syafi’i dalam kitabnya Al Qadha’ berkata: “Nyanyian adalah kesia-siaan yang dibenci, bahkan menyerupai perkara batil. Barangsiapa memperbanyak nyanyian maka dia adalah orang dungu, syahadat (kesaksiannya) tidak dapat diterima.”

    Kebanyakan lagu dan musik pada saat ini di adakan dalam berbagai pesta juga dalam tayangan televisi dan siaran radio. Mayoritas lagu-lagunya berbicara tentang asmara, kecantikan, ketampanan dan hal lain yang lebih banyak mengarah kepada problematika biologis, sehingga membangkitkan nafsu birahi terutama bagi kawula muda dan remaja.

    “Kelak akan ada dari umatku beberapa kaum yang menghalalkan zina, sutera, minuman keras dan musik.” (HR. Bukhari dan Abu Daud)

    Syaithan telah menghiasi pecandu musik.

    “Sungguh, akan ada orang-orang dari umatku yang meminum khamr, mereka menamakannya dengan selain namanya. Mereka dihibur dengan musik dan alunan suara biduanita. Allah akan membenamkan mereka ke dalam bumi dan Dia akan mengubah bentuk mereka menjadi kera dan babi.”
    HR. Ibnu Majah dan Ibnu Hibban. Syaikh Al Albani mengatakan bahwa hadits ini shahih.

  2. kalau syair dalam musik itu justru menjadi jalan kita mengingat Allah, lagu2 nasyid misalnya, gmna mas?
    saya sering mendengarkan siaran radio islami (MQ fm Bdg), dan disitu sering diputar lagu-lagu nasyid. itu gmna?
    mhon pnjelasannya..
    syukron

    Silahkan baca artikel ini :

    https://aslibumiayu.net//2010/06/25/bingkisan-istimewa-untuk-saudariku-agar-bersegera-meninggalkan-nasyid-%e2%80%9cislami%e2%80%9d%c2%a01/
    dan artikel lanjutannya yang ini :

    https://aslibumiayu.net//2010/06/25/bingkisan-istimewa-untuk-saudariku-agar-bersegera-meninggalkan-nasyid%c2%a0%e2%80%9cislami%e2%80%9d%c2%a02/

    Baca pelan-pelan ya, jangan cepat-cepat…. Insya Allah sudah cukup jelas…

  3. musik yang menyesatkan adalah musik yang melalaikan.
    selagi tidak melalaikan, musik jelas tidak dilarang.

    Memang ada musik yang tidak melalaikan?
    Saya dulu juga mantan orang musik mas,.. saya dulu kerja dari studio musik ke studio musik di jakarta,..
    Teman2 pemusik banyak, jadi saya tahu bagaimana kehidupan di dunia musik itu,…

    Seandainya kalian tahu, bagaimana kehidupan di dunia musik….

    Lagian, Rasulullah sudah mengingatkan tentang bahaya musik ini melalui hadits2nya,..
    Kalau nasehat Rasulullah saja sudah tidak kita hiraukan,… ini merupakan musibah..

    Padahal ancaman Rasulullah sangat keras terhadap orang yang gandrung dengan musik :
    Dari Abu Malik Al Asy’ari, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, yang artinya:
    “Sungguh, akan ada orang-orang dari ummatku yang meminum khamr, mereka menamakannya dengan selain namanya. Mereka dihibur dengan musik dan alunan suara biduanita. Allah akan membenamkan mereka ke dalam bumi dan Dia akan mengubah bentuk mereka menjadi kera dan babi” (HR. Ibnu Majah dan Ibnu Hibban. Syaikh Al Albani mengatakan bahwa hadits ini shahih)

  4. Musik itu indah….bagi yang tidak setuju yang silahkan….terutama yang baru “bisa” kerja di studio musik….bila dunia musik sudah mengecewakan saudara……semoga saudara di berikan kesempatan untuk lebih banyak belajar dan bertanya pada orang yang lebih pintar dari saudara….

    Terimakasih kang benu atas komentarnya, mudah-mudahan Allah menunjuki anda dan kaum muslimin semua dengan pemahaman islam yang benar, yaitu pemahaman islam menurut pengamalan sahabat,
    Yang tidak setuju, bahkan melarangnya adalah Allah dan rasulnya,..
    Alam semesta ini, juga anda dan semua makhluk hidup adalah ciptaan Allah,..

    Allah melarang lagu dan musik,..
    Lalu sikap kita sebagai makhluk ciptaan Allah yang sangat lemah ini,.. gimana menyikapinya??
    Sikapnya adalah mentaati perintah Allah, dan menjauhi larangannya, termasuk yaitu kita disuruh meninggalkan lagu dan musik,..

  5. Tidak mudah untuk meninggalkan yang satu ini, gak pernah bisa istiqomah.

    Gimana kabarnya nih kang miwanro, mudah-mudahan sehat dibawah lindungan Allah ta’ala,.
    Betul mas, tidak mudah, akan tetapi jika kita berkeinginan kuat, dan didorong rasa takut akan ancaman Allah jika kita tetap gandrung dengan musik, insya Allah perasaan berat itu lambat laun akan hilang dengan sendirinya,..

    Alhamdulillah, saya dulu juga begitu, bahkan dulu saya kerja di studio rekaman di daerah jakarta, teman-teman pemusik juga banyak, karena kebetulan saya sendiri juga menjadi tukang service alat2 musik juga, seperti keyboard,organ,modul,micro composer MC-50/MC-500 merk Roland,R8, dll.. juga salah satu teknisi studio musik rekaman di jakarta. Banyak studio-studio rekaman di jakarta yg pernah saya singgahi, termasuk studio rekaman terbesar di jakarta di daerah cilangkap-cipayung yg berdekatan dengan Taman mini.

    Saya juga tahu gimana dunia musik itu, parah sekali mas,.. alhamdulillah dengan pertolongan Allah juga saya bisa meninggalkan itu semua,.. walhamdulillah

  6. Alhamdulillah baru beberapa bulan terakhir bisa meninggalkan musik walau tidak 100%..di ganti denger mp3 kajian dan murottal ternyata hidup lebih adem, ASLI!!!

    Alhamdulillah, pelan-pelan kang,.. insya Allah lambat laun bisa meninggalkannya 100 % , karena semua itu butuh proses, dan ada yg prosesnya cepat, ada juga yang lambat.

    Pikirkanlah apa yg akan didapatkan dari ancaman Allah yg sangat pedih, daripada kenikmatan semu dari mendengarkan musik..

  7. Saya ingin–kalau bisa– kajian musik dan nyanyian haram ini dibaca oleh musisi musisi seperti: Rhoma Irama, Wali, Bimbo, dan Kelompok kelompok Nasyid dan musisi yang banyak memperdengarkan lagu lagu bernada Islam/dakwah. Lantas kita dengar/baca komentar / sikap mereka untuk melengkapi keyakinan dan tersebarnya hukum Islam ini di masyarakat Islam. Terima Kasih…

    Alhamdulillah, sudah sangat banyak saudara-saudara kita yang sadar dari dunia musik, meninggalkannya, setelah mengetahui tentang haramnya musik, dan tidak ada yang disebut musik islami, atau musik religi ,

  8. alhamdulillah ane jg berusaha meninggalkan hal2 ber-BAU musik. syukron kang. tp masih ada satu yg mengganjal dalam diri. sehubungan dng surat Yasin : 69
    “Dan Kami tidak mengajarkan syair kepadanya (Muhammad) dan bersyair itu tidaklah layak baginya. Al Quran itu tidak lain hanyalah pelajaran dan kitab yang memberi penerangan. ”

    kata syair & bersyair sudah berbeda jika ditambahi imbuhan. kira2 melantunkan ayat-ayat Alquran dng cara mengindahkan boleh apa tidak? karena sebatas pengetahuan sy, ayat-ayat alquran itu bentuknya percakapan. Jika percakapan dibuat indah (spt lagu, jd inget setiap bln ramadhan, saat mw buka puasa artis2 pd nyanyin doa buka puasa & saat sahur, benci bnget kelakuan mereka bkn orgnya) bukankah terlihat candaan thd firman Allah SWT ini. Bgmn tanggapan kang mas, atau sy yg kurang memahami?

    terimakasih mas,
    Kita disuruh melagukan bacaan alquran, tentu sesuai kaidah2 ilmu tajwid,
    bukan melagukan spt lagu, spt lagu dangdut,dll… bukan itu,. mdh2an bisa dipahami

  9. Assalamu’alaikum wr. wb.
    Sangat sangat bagus sekali pembahasannya. Ijin share ya.
    mas, itu photonya … ya ? Meskipun ditutupi, semua orang pasti tau kok & sudah jadi rahasia umum. Sy dulu pengagum berat dia, tapi, setelah saya mencari-tahu terus menerus ttg hukum musik dlm Islam tanpa berhenti tiap hari dari satu blog ke blog lainnya, dari satu web ke web lainnya, saya jadi banyak tahu.

    Mana blog yg benar & setengah benar, mana blog Islam yg lurus seperti blog ini & mana blog aliran Qardhawi & mana blog yg mengkabur-kaburkan masalah musik & lagu supaya terlihat bisa disukai.

    Tapi, yg benar & lurus itu memang tidak bisa dibohongi karena faktanya selalu mengikuti dalil yg benar pula. Sekarang bukannya saya jadi kagum sama dia, tapi secara akal sehat, saya pikir dia orang yg sangat bodoh & sudah banyak membodohi orang Indonesia sendiri.

    Bukan saja membodohi tapi juga menyesatkan.

    Coba saja pengiring musik dia si tukang seruling, tukang gendang, dll., penampilannya malah seperti hantu menurut saya meskipun dikasih pakaian yg bagus sekalipun. Pasti setan saja mungkin berpendapat, “koq orang2 itu lebih parah dari saya ya ?!” Its funny, its very funny. the funniest man ! Apakah salah dengan otak saya ini ya ??? Kan hak saya berpendapat seperti itu.

    Meskipun begini2, saya ini juga pernah belajar di Yamaha musik school kurang lebih hampir 4 tahun. Sy pandai main gitar klasik. Tapi, sekarang saya malah berpikir bhw dulu kenapa saya bodoh sekali. Sepertinya asyik memang, tapi ternyata banyak waktu terbuang. Karena yg lebih penting itu adl ilmu yg syar’i. Mohon pencerahannya.

    Wa’alaikumussalam warahmatullahi wabarakatuh,.
    Alhamdulillah mas, bisa lepas dari dunia musik,.
    Saya juga dulu hidup dari situ, bahkan dari studio ke studio,. temen2 pemusik banyak, namun alhamdulillah saya tdk bisa main musik, tapi tahu fungsi2 alat2 buat program musik, spt mc 50 , mc 500, modul, dll… he..he..he.. kalau mau bikin album musik dari nol dgn komputer juga bisa,. guampang,. alhamdulillah saya bisa keluar dari situ setelah paham bagaimana hukum musik,.

    boleh tahu nmr hapenya mas, sms ke nmr sms center blog ini,. terimakasih,

  10. Assalamu’alaikum ya akhi fillah saya sangat salut atas hidayah Allah lah sehingga akhi bisa berlepas 100% dari musik apalagi dasar nya memang sudah ada musik ,saya pun dulu merasa berat sekali meninggalkan yg namanya musik

    tapi atas izin Allah saya bisa dan ketenangan yg saya dapat kan setelah selalu mendengar murotal dan Tausyiah2 yg sangat banyak manfaatnya dari mendegarkan musik

    bahkan sekarangpun saya coba agar anak2 saya pun senang dengan murotal2 tersebut selalu saya setel di mobil bila sedang bepergian

    Alhamdulillah akhir nya bisa membantu saya dan keluarga untuk lambat laut bisa menghafal ayat2 murotal tersebut

    mungkin bisa di coba buat ikhwan2 yang lain saran saya ini

    semoga kita semua di mudah kan oleh Allah dalam Agama ini Barakallahu fiikum wajazakulumullahu khairan akhi wassalamu’alaikum warahmatullahi wa’barakatuhu

    wa’alaikumussalam warahmatullahi wabarakatuh,.
    alhamdulillah,.. turut gembira mendengarnya,.. mudah2an banyak kaum muslimin yang mengikutinya,.. juga temen2 saya yang masih berkecimpung di musik,.. mudah2an allah berikan hidayah kepadanya,..

  11. Assalam mu’alaikum warohmatullahi wabarakatuh,

    Wa’alaikumussalam warahmatullahi wabarakatuh

    Ini adalah kesekian kalinya saya membaca artikel mengenai hukum musik dalam Islam sesuai Quran dan Sunnah.

    Sudah 2 tahun ini saya berusaha utk meninggalkan musik.

    Dulu saya adalah pemusik dari panggung ke panggung.

    Saya jg berlatarbelakang kuliah di fakultas seni.

    Saya jg dulu menggambar wajah sbg hobi atau mencari nafkah.

    Dua tahun ini saya sdh tdk bermusik dr panggung ke panggung lagi, tapi menjadi musisi belakang layar dgn mengerjakan ilustrasi musik utk iklan atau company profile perusahaan.

    Namun sejak bertemu dengan dakwah manhaj salafus sholih, saya perlahan berusaha untuk berlepas dari yg telah saya jalani yg bertentangan dengan Quran dan Sunnah.

    InsyaAllah semua dilakukan demi menjadi taat kpd Allah dan RasulNya.

    Berat memang bagi saya utk meninggalkan dunia musik.

    Apalagi itu menjadi mata pencaharian.

    Namun perlahan Allah tunjukkan jalan dan bukti bahwa Dia memberi rizki dari arah yg tdk kita duga. Semakin yakin bahwa jika meninggalkan sesuatu krn Allah, Allah akan beri ganti yg lbh baik.

    Semoga Allah selalu memberi hidayah kpd saya utk bisa istiqomah menjalankan perintahNya dan meninggalkan laranganNya. Amin.

    Alhamdulillah , mas sudah mulai menyadari, dan bertekad untuk meninggalkan musik, dan sudah paham haramnya musik,.
    Saya juga dulu begitu mas, setiap hari bahkan setiap tidur pasti full musik, semua musik saya suka, kebetulan saya juga dulu bekerja di musik, pencaharian dari situ,
    Studio musik di jakarta banyak saya ketahui, dan ada satu studio rekaman yang saya pegang, kebetulan jadi teknisi di studio tsb,
    Teman-teman pemusikpun banyak, kebetulan alat2 musik mereka sering saya benerin juga, dari Merk Roland,Korg,Yamaha, dll,.
    Alhamdulillah setelah mengenal dakwah salaf, saya jadi paham tentang haramnya musik,
    saya tidak ingin anak dan istri saya makan dari harta haram, hasil dari musik,
    Saya kala itu kerja seminggu datang cuma satu kali, ngecek mixer studio, dan perlengkapan lainnya, jika tidak ada masalah, maka tidak ada yang dikerjakan,. jadi sebulan cuma 4 kali datang,.

    Setelah mengenal manhaj salaf, maka saya mengutarakan maksud saya ke bos perusahaan rekaman, saya ingin mengundurkan diri, tentu bukan dengan alasan itu haram, sebab bos saya itu orang chinese, baik sekali sama saya,. alasan saya pindah ke luar jakarta,. akhirnya si bos ngasih opsi, ya udah, kamu kerja setengah bulan sekali kesini, gaji saya naikan, jika kesini boleh bawa istri, ada penginapan, plus transport ditanggung,…
    duh, cobaannya, .. berat memang, ngga mudah,. tapi akhirnya tetap saya menolaknya,..
    dan sejak saat itu betul-betul saya putus hubungan dengan mereka, juga temen2 saya para pemusik, bahkan di kota saya yang baru pun, sebenarnya banyak pemusik2 kondang teman saya, tapi saya ngga ingin berhubungan lagi, hingga sampai sekarang, sdh lebih dari 7 tahun yg lalu,

    Memang di dunia musik mudah mencari uang,.. tapi apalah artinya uang banyak tapi haram,.. tidak akan berkah, hanya semakin menambah dosa kita, kita memberi makan dengan hasil yang haram,.

    Mudah-mudahan mas halifah diberi kekuatan oleh Allah untuk meninggalkan musik secara total,….
    masalah rizki, insya Allah yang halal masih banyak,.

    Dan buat pendorong agar cepat keluar dari dunia musik, hendaknya ditanamkan dalam hati kita,. umur kita, hanya Allah yang tahu, Allah berhak mengambilnya kapan saja,.. dan kita takut, Allah mengambil nyawa kita disaat kita sedang bermaksiat, diantaranya yaitu disaat kita sedang bermusik ria, atau sedang memprogram musik, sedang take vokal, sedang mixing,… tentu ini akhir kematian yang jelek, ,.. na’udzubillahi min dzalik,,

  12. Alhamdulillah, makasih doanya ya akh.

    InsyaAllah ana bisa total lepas dr musik. Sekarang sdh mulai mengurangi sedikit demi sedikit. Dimulai dari sudah tidak menerima job bikin musik lagi. Lalu sekarang sudah tidak menyukai tayangan hiburan di tv.

    Berusaha juga utk menundukkan pandangan dr hal2 yg diharamkan.

    Kalau di mobil ana juga sempatkan dengerin radio Rodja.
    Dunia hiburan sangatlah melenakan dan memabukkan. Sangat besar godaannya.

    Terutama godaan wanita.

    Dulu saya sempat jd musisi pengiring 2 orang pemusik terkenal. Dan melihat sendiri bagaimana dahsyatnya godaan di dunia hiburan, terutama dunia hiburan musik.

    Tayangan tv juga begitu dahsyat melalaikan kita. Banyak yg akhirnya melambatkan sholat bahkan meninggalkan sholat demi sebuah tontonan di layar tv.

    Semoga Allah memberi hidayah kpd kita semua umat muslim agar bersegera menuju jalan yg diRidhaiNya. Amin.

    Betul sekali akhi, dulu waktu di studio rekaman saya lihat sendiri, musik itu ngga jauh dari narkoba dan wanita,. bohong saja slogan no drug, dll,
    Kalau penggemar artis, ngga akan paham kehidupan artis, walaupun sdh terbukti berbuat mesum sekalipun,.

    Saya bahkan pernah menasehati teman saya yang jadi programer musik, dimana dia berzina dgn anak sma , sehingga saya beritahu, ingat, bapak juga punya anak gadis,. jika bapak melakukan zina , maka anak bapak juga nanti akan dizinai juga oleh laki-laki lain,,. hendaklah bapak takut akan hal ini,.. setelah denger gitu, dia rada ketakutan,.
    sudah ngga aneh, dunia musik dan wanita,.

    Makanya ngga heran jika artis kehidupannya kurang bahagia, kurang langgeng, karena peluang utk ke arah itu terbuka lebar, itu di dunia musik, dunia perfileman/sinetron lebih dahsyat lagi godaanya,,. acara televisi umum di indonesia tidak ada yang mendidik, 90 persen lebih acaranya merusak moral bangsa ini,. tentang televisi saya sudah mempostingnya disini

    Alhamdulillah sudah hadir televisi yang 100 persen bermanfaat, silahkan tonton via parabola, ada Rodja TV, Insan TV , kalau di internet ada yufid.tv,ahsan.tv, dan masih banyak lagi,.

  13. Assalamu’alaikum warahmatullah wabarakatuh,

    Ikut share..
    Sejak kecil, musik jadi konsumsi telinga ana setiap hari, dari lagu-lagu lokal hingga barat.

    Selalu jadi pengisi hari, baik melalui media radio hingga TV. Lalu ketika SMA, ana mulai belajar gitar. Setiap hari tidak bisa lepas dari gitar. Bahkan ana les gitar elektrik rutin mingguan. Kemudian ngeband-ngebend-ngeband-ngebend.

    Berjuta-juta rupiah sudah dihabiskan. Namun alhamdulillah, Allah selalu menghambat ana dalam musik. Band ana tidak berkembang. Dia seperti tidak ingin hamba-Nya ini terus terjerumus dalam kubangan maksiat.

    Sungguh sebuah rahmat Allah yang besar jika kita dipersulit dan tidak diberi kesempatan untuk bisa melakukan maksiat. Karena jika band ana mencapai popularitas dan musik jadi sarana ana menghasilkan uang, ana pasti akan lebih sulit hijrah atau mungkin bisa berpaling dari ayat-ayatNya. Naudzubillah.

    Karena itu, ana salut dengan kisah orang-orang yang mempunyai semisal nama besar, popularitas dari bandnya atau sehari-harinya mencari makan dari musik kemudian berhijrah. Pasti mereka telah mendaki melewati perjalanan yang berat menuju kembali pada jalan Allah.

    Dua tahun lalu, ana membaca tulisan-tulisan dari akun Twitter seorang Ustadz yang mana baru pertama kali ana tau sejak dua puluh tahunanan ana hidup tentang keharaman musik berdasarkan perkataan Nabi shollallahu ‘alaihi wa sallam sebagaimana dicantumkan di atas.

    Dan perkataan ini “Al Quran dan nyanyian itu sama sekali tidak akan terkumpul dalam satu hati karena keduanya bertentangan.” (Ibnul Qoyyim dlm Ighatsah al Lahfan 1/248) kala itu seolah jadi jawaban kenapa upaya ana sejak kecil untuk dekat dengan Qur’an selalu sulit.

    Ya, ana sejak kecil selalu ada keinginan untuk bisa dekat dengan Al Qur’an tapi entah kenapa selalu tidak bisa. Lidah selalu tidak nyaman membaca, mata tidak betah melihat huruf-huruf Al Qur’an, suara bacaan Qur’an pun terasa tidak sreg di telinga. Al Qur’an bagai sesuatu yang jauh dan gelap kala itu.

    Alhamdulillah Allah mencabut kebodohan dan menyadarkan diri ana kalau ternyata itu semua akibat racun, inveksi, dan virus dari musik yang telah menumpuk dan menutupi hati.

    Akhirnya ana bertekad lepas total dari musik, dari tidak ngeband dan main gitar lagi hingga mampu menghapus koleksi berGiga2 musik video dan merusak alat-alat musik milik ana.

    Semoga Allah mengampuni ana.

    Sungguh Allah sangat memudahkan ana hijrah, setelah berlepas dari musik, Allah mudahkan ana dekat dengan Al Qur’an.

    Benarlah perkataan Rasulullah shollallahu ‘alaihi wa sallam “Sesungguhnya jika engkau meninggalkan sesuatu karena Allah, niscaya Allah akan memberi ganti padamu dengan sesuatu yang lebih baik.”

    Yang dulu tiada hari tanpa musik, kini menjadi tiada hari tanpa Qur’an.

    Jika seseorang benar-benar mencintai Al Qur’an pasti tidaklah ada kenyamanan sedikit pun saat mendengarkan musik.

    Al Qur’an, anugrah terbesar bagi seorang muslim, pemberi jawaban-jawaban atas pertanyaan setiap manusia, pembuka tabir kehidupan.

    Karena itu, setan akan terus menyesatkan manusia agar jauh dari Al Qur’an salah satunya melalui musik ini. Sungguh, rugilah jika seorang muslim menyia-nyiakan Al Qur’an.

    Semoga semakin banyak muslim yang meninggalkan musik dan kembali pada Al Qur’an dan Sunnah. Maaf agak panjang. Moga sedikit ada ibrohnya.

    Wa’laikumussalam warahmatullahi wabarakatuh,.

    Alhamdulillah , hidayah taufik itu memang mahal,.
    Ingin rasanya saya mengumpulkan kisah-kisah orang-orang yang hijrah dari dunia musik..
    Saya sendiri dulu juga tidak lepas dari musik,. bahkan tidur dengan suara musik yang hingar bingar pun tetap nyaman,.

    Mudah2an semakin banyak saudara2 kita , pemusik yang sadar, penyanyi yang paham.. bahwa profesinya itu adalah HARAM… baik pemusik dan penyanyi RELIGI,.. apalagi non Religi,.

  14. Maaf apa yang sebenarnya diharamkan dari nyanyian? musik (nadanya) atau isinya?
    Kalau isinya bagaimana dengan nyanyian yang isinya berisi pesan2 moral?
    Kalau nadanya bagaimana dengan mengaji atau adzan? atau membaca kitab barzanzi?

    Terimakasih mas Bagus,.
    Yang diharamkan adalah nyanyiannya, bentuk perbuatan menyanyi dan memainkan alat musik,.
    Walaupun syairnya diambil dari ALQURAN atau HADITS, maka tetap HARAM hukum menyanyi dan main musik,.
    Bahkan itu salah satu bentuk penodaan terhadap Alquran dan hadits, jika ada orang yang membawakan lantunan alquran diiringi dengan musik,.

    Mencampur adukkan antara kebenaran dan keharaman,.

    Tidak ada musik islami, silahkan baca ulasannya disini

  15. Assalamualaikum.wr.wb.

    Mohon doa nya untuk saya yg mau berhijrah mulai tgl 15 okt 2015 ini sya sudah tdak menerima job untuk bermain musik…

    smoga Alloh Swt… memudahkan niat saya dan menggantinya dngn yg lebih baik lagi untuk menuju ridho Alloh Swt.
    Amiin ya Robbalalamiin.

    Wa’alaikumussalam warahmatullah,.
    Alhamdulillah, mudah-mudahan Allah mudahkan, Allah ganti dengan yang halal dan baik

  16. Alhamdulillah mas, setelah dapat hidayah dan taufiq dari Allah dan saya telah mengenal sunah koleksi album metallica kill em all sampai album black,gnr,skidrow,napalm death dan banyak album metal yg lain saya buang dan saya bakar

    padahal saya duluny cinta mati sma grup metallica,dan sekarang saya telah mengenal sunah ternyata denger murottal lebih asik dan saya juga meninggalkan grup band saya

    Alhamdulillah,..

    Mudah-mudahan Allah berikan istiqamah di atas alquran dan sunnah dengan pemahaman sahabat

  17. Berbagi pengalaman ah coy
    Umur saya sekarang 15 tahun dan saya sudah tobat dari musik. Dan mungkin karena musik saya bisa mengenal dakwah sunnah ini .

    Dahulu saya amat sangat suka musik (terutama lagu barat , EDM ,) . Setiap saat saya punya waktu luang saya pasti mendengar musik bahkan dikamar mandi denger musik .

    Karena saking seringnya ddegerin musik , saya bertanya dalam hati “hukum musik itu apa ya?” .

    Lalu saya bertanya kepada orang yg katanya ustadz , tapi jawabbannya tidak memuaskan “kata mama ajengan ga boleh”.

    Lalu saya mencoba mencari tahu kembali dengan berbagai cara.

    Lalu saya menemukn website ini dan waktu itu adminnya menyarankan saya mendengarkan radio rodja , dan semenjak mengenal radio itu hidup saya benar benar berubah.

    Udah gitu aja gan

    Alhamdulillah,. hidayah taufik dari Allah, itu akan Allah berikan pada orang yang berusaha mencarinya,.

  18. Assalamu’alaikum…
    Saya mantan musisi yang baru hijrah di malam tahun baru 2017
    Alhamdulillah atas nikmat yang lezat berupa hidayah yang Allah berikan kepada saya,
    pertanyaannya :
    Bagaimanakah hukumnya harta saya berupa rumah, motor dll yang saya dapat dari hasil bermain musik ???

    Wa’alaikumussalam warahmatullah,
    Alhamdulillah,
    Harta yang didapat sebelum bertaubat, jika itu bukan hak orang lain, maka tidak mengapa dimanfaatkan, beda halnya jika profesi sebelumnya adalah mencuri,menipu,maka wajib mengembalikan kepada pemiliknya.

    Dan jika itu profesi haram seperti pemusik,pelacur,maka setelah bertaubat maka harta yang didapat dari profesi tersebut bisa dimanfaatkan,

    Dalam hal ini sama saja seperti bertaubat dari bank, pegawai pajak,

    Setelah bertaubat maka boleh memanfaatkan harta yg didapatnya dahulu, walaupun dari profesi yg haram
    Karena tidak tahu hukum dari profesi tersebut, sehingga setelah bertaubat maka dimaafkan,

  19. assalamu’alaikum…
    afwan mau tanya….
    keluarga ana rental sound system….
    pertanyaannya :
    bagaimana hukumnya menyewakan sound itu di acara maulid nabi, dan acara ritual agama lain…
    syukron

    Wa’alaikumussalam warahmatullah,
    Jika direntalkan untuk acara bidah, acara yang haram, seperti musik,orgen tunggal, maka uang sewanya pun HARAM,.

    Lebih baik jangan direntalkan untuk hal tersebut,.

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*