TAK MALU LAGI…

Kos-kosan mahasiswa di pinggir sawah itu disebut pak Hilman, ketua ta’mir masjid, dengan nama “kos peternakan”. Saya sempat heran dan agak mikir-mikir bingung dengan penamaan seperti itu. Apakah karena penghuni kosnya teman-teman yang kuliah di fakultas peternakan, atau karena penghuni kos tersebut senang memelihara ternak, atau…?

Pertanyaan saya akhirnya terjawab juga dengan penjelasan pak takmir masjid sendiri. “Di kos-kosan itu campur antara mahasiswa dengan mahasiswi,” papar beliau. “Ha?” saya benar-benar terkejut, sambil mengelus dada yang tiba-tiba jadi sesak. “Kita sedang cari cara untuk menghentikan kemungkaran itu, Mas,” lanjut pak takmir. Alhamdulillah, masih ada yang peduli dengan kebaikan dan moral masyarakat seperti pak Hilman. Semoga Allah ta’ala memperbanyak orang seperti beliau.

Melihat pergaulan adik kita, atau teman-teman sesama remaja, memang bisa membikin dada sesak. Semakin hari, hubungan lelaki dan perempuan non mahram menjadi semakin berani. Bergoncengan mesra ketika naik motor, berangkulan, atau berciuman di taman atau tempat-tempat umum tak lagi sulit ditemukan.

Teman-teman kita, para remaja cilik pun ambil bagian dalam masalah ini. Tanpa malu-malu lagi. Kita yang tak sengaja beradu mata dengan pemandangan seperti itu merasa malu, tidak seperti yang melakukannya.

Namun, masyarakat semakin hari tampaknya tambah rela dengan aktifitas memalukan seperti ini. Pengingkaran pada maksiat ini menjadi semakin langka didapatkan.

Mayoritas media informasi yang terkait dengan remaja hampir tak lepas dari dukungan terhadap maksiat seperti ini. Alasan hak asasi, kebebasan dan sejenisnya tak jarang terdengar untuk melegalkan aktifitas maksiat ini.

Demikian pula berbagai maksiat lain, seperti pernikahan sesama jenis ( homoseksual ) didukung dengan alasan HAM. Akhirnya, dengan alasan seperti ini berbagai hak Allah dilanggar.

Bila aktifitas maksiat kini tak lagi malu-malu, sebaliknya banyak orang yang hendak berbuat kebaikan dan menyebarkan kebaikan malahan malu-malu.

Sekadar mengajak teman atau tetangga untuk melakukan shalat saja orang segan dan malu. Mau mengingatkan orang yang merokok di sebelah tempat duduk kita di bus juga gak enak, dan lain-lain.

Malu dan gak enak pada aktifitas kebaikan tentu tidak pada tempatnya. Bila orang tak malu berbuat kemaksiatan, namun malahan malu berbuat kebaikan tentu kejelekan akan menyebar dengan merata.

Karenanya, jangan malu berbuat kebaikan dan menyebarkannya. Agar perbuatan kemaksiatan menjadi malu untuk muncul ke permukaan.

Dinukil  dari majalah elfata edisi 07 volume 07 tahun 2007 pada rubrik renungan

Print Friendly, PDF & Email

2 Comments

  1. sudah menjadi rahasia umum sepertinya…
    ya Allah, semoga kejadian seperti itu tidak menimpa pada anak cucuku, pada keturunanku nanti. lindungi kami ya Allah.

    Makanya, sudah kewajiban kita, mendidik dan membekali anak-anak kita dengan bekal yang kuat,..
    Fitnah jaman sekarang saja sudah begini hebatnya, gimana jaman anak cucu kita kelak?…

  2. bismillah..asSalamualaykum.. sepertinya rasa malu itu telah hilang..kata Rosulullah,kalo udah gak punya malu lakukan lah sesukamu..Naudzubillah..seorang muslimah lah yang kelak mencetak generasi robbani,maka sudah seharusnya di bekali ilmu dan mampu menjaga kehormatannya dan kehormatan keluarganya..AllOhu’alam..makasih udah diingatkan ^_^

    wa’alaikumussalam…
    Mudah-mudahan bisa diambil hikmahnya,…

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*