Akibat Kurang Piknik,.. Apakah Imam Madzhab Itu Lebih Tahu Seluruh Hadits Daripada Ulama Setelahnya? | Akibat Kurang Piknik Aslibumiayu

Akibat Kurang Piknik,.. Apakah Imam Madzhab Itu Lebih Tahu Seluruh Hadits Daripada Ulama Setelahnya?

Akibat Kurang Piknik Aslibumiayu Kedudukan Mazhab Dengan Perawi Hadits Imam Mazhab & Imam Hadist Imam Mashab Dan Bukhari Muslim Imam Mahzab Tidak Perlu Imam Hadits

Tidak Benar Anggapan Imam Madzhab Lebih Tahu Berbagai Hadits Dibanding Ulama Setelahnya

tahun-lahir-imam-mazhab-dan-hadits1Makin Dekat Ke Jaman Nabi.. Betul hadits itu terjaga, tapi para ulamanya berpencar karena berdakwah..
Sehingga hadits belum terkumpulkan,.
Sehingga Para Imam Madzhab pun tidak mengetahui seluruh hadits tersebut, makanya mereka berijtihad,.

Kalau mereka paham dan mengetahui hadits tentang suatu permasalahan, tentu mereka tidak berani berijtihad dalam masalah yang sudah tegas dan jelas haditsnya,..

Di jaman Sahabat saja, tidak semua sahabat mengetahui satu hadits yang Rasulullah sampaikan, apalagi setelah para sahabat tersebut berpencar untuk berdakwah,. dan jaman dahulu sarana transportasi dan komunikasi tidak secanggih sekarang,..

Berikut perkataan para imam madzhab  yang merupakan bukti bahwa mereka tidak mengetahui seluruh hadits :

Imam Abu Hanifah dan muridnya Abu Yusuf berkata,

لاَ يَحِلُّ لأَِحَدٍ أَنْ يَقُوْلَ بِقَوْلِنَا حَتَّى يَعْلَمُ مِنْ أَيْنَ قُلْنَاهُ

“Tidak boleh bagi seorang pun mengambil perkataan kami sampai ia mengetahui dari mana kami mengambil perkataan tersebut (artinya sampai diketahui dalil yang jelas dari Al Quran dan Hadits Nabawi, pen).”[1]

Imam Malik berkata,

إِنَّمَا أَنَا بَشَرٌ أُخْطِىءُ وَأُصِيْبُ فَانْظُرُوا فِي قَوْلِي فَكُلُّ مَا وَافَقَ الكِتَابَ وَالسُّنَّةَ فَخُذُوْا بِهِ وَمَا لَمْ يُوَافِقْ االكِتَابَ وَالسُّنَّةّ فَاتْرُكُوْهُ

“Sesungguhnya aku hanyalah manusia yang bisa keliru dan benar. Lihatlah setiap perkataanku, jika itu mencocoki Al Qur’an dan Hadits Nabawi, maka ambillah. Sedangkan jika itu tidak mencocoki Al Qur’an dan Hadits Nabawi, maka tinggalkanlah.[2]

Imam Abu Hanifah dan Imam Asy Syafi’i berkata,

إِذَا صَحَّ الحَدِيْثُ فَهُوَ مَذْهَبِي

“Jika hadits itu shahih, itulah pendapatku.”[3]

Imam Asy Syafi’i berkata,

إذَا صَحَّ الْحَدِيثُ فَاضْرِبُوا بِقَوْلِي الْحَائِطَ وَإِذَا رَأَيْت الْحُجَّةَ مَوْضُوعَةً عَلَى الطَّرِيقِ فَهِيَ قَوْلِي

“Jika terdapat hadits yang shahih, maka lemparlah pendapatku ke dinding. Jika engkau melihat hujjah diletakkan di atas jalan, maka itulah pendapatku.”[4]

Imam Ahmad berkata,

مَنْ رَدَّ حَدِيْثَ رَسُوْلِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَهُوَ عَلَى شَفَا هَلَكَةٍ

“Barangsiapa yang menolak hadits Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, maka ia berarti telah berada dalam jurang kebinasaan.”[5]

Berikut ini bagaimana perjalanan ulama dalam mengumpulkan hadits…  sangat berat, tidak semudah sekarang, seluruh hadits sudah dibukukan,.

Peta Perjalanan Imam Bukhari Mencari Ilmu dan Hadits

Siapa tak kenal Imam al-Bukhari? Beliau adalah tokoh Islam terkemuka, penulis kitab hadits paling shahih di muka bumi ini.

Nama asli beliau adalah Abu Abdullah Muhammad bin Ismail bin Ibrahim bin al-Mughirah bin Bardizbah al-Ju’fi al-Bukhari atau lebih dikenal Imam Bukhari (Lahir 196 H/810 M – Wafat 256 H/870 M)

Lahir di Bukhara, Uzbekistan, Asia Tengah. Ayahnya adalah seorang ulama bermadzhab Maliki dan merupakan murid dari Imam Malik, seorang ulama besar dan ahli fikih.

Dalam meneliti hadis beliau 16 tahun mengunjungi berbagai kota guna menemui para perawi hadits, mengumpulkan dan menyeleksi hadis-hadis shahih. Dari mulai Bashrah, Mesir, Hijaz (Mekkah, Madinah), Kufah, Baghdad dan negara-negara Asia Barat lain.

Di Baghdad, imam Bukhari sering bertemu dan berdiskusi dengan ulama besar terutama Imam Ahmad bin Hanbali.

Menurut riwayat, ia bertemu dengan 80.000 perawi. Tidak semua hadis yang ia hafal diriwayatkan, melainkan terlebih dahulu diseleksi dengan sangat ketat.

Menurut Ibnu Hajar Al Asqalani, akhirnya imam Bukhari hanya menuliskan sebanyak 9082 hadis dalam Al Jami’al-Shahih yang dikenal sebagai Shahih Bukhari.

Sejarah Kodifikasi Hadits

Hadis Nabawi atau Sunnah Nabawiyyah adalah satu dari dua sumber syariat Islam setelah Al-Quran. Fungsi hadits dalam syariat Islam sangat strategis. Diantara fungsi hadis yang paling penting adalah menafsirkan Al-Qur`an dan menetapkan hukum-hukum lain yang tidak terdapat dalam Al-Qur`an. Begitu pentingnya kedudukan hadits, pantas jika salah seorang ulama berkata, “Al-Qur`an lebih membutuhkan kepada Sunnah daripada Sunnah kepada Al-Qur`an.”

Dahulu, para sahabat yang biasa mendengarkan perkataan Nabi dan menyaksikan tindak-tanduk dan kehidupan Nabi secara langsung, jika mereka berselisih dalam menafsirkan ayat Al-Quran atau kesulitan dalam menentukan suatu hukum, mereka merujuk kepada hadits Nabi. Mereka sangat memegang teguh sunnah yang belum lama diwariskan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam sebagai pelengkap wahyu yang turun untuk seluruh manusia.

Sejak jaman kenabian, hadis adalah ilmu yang mendapat perhatian besar dari kaum muslimin. Hadits mendapat tempat tersendiri di hati para sahabat, tabi’in dan orang-orang yang datang setelah mereka. Setelah Al-Quran, seseorang akan dimuliakan sesuai dengan tingkat keilmuan dan hapalan hadisnya. Karena itu, mereka sangat termotivasi untuk mempelajari dan menghafal hadis-hadis Nabi melalui proses periwayatan. Tidak heran, jika sebagian mereka sanggup menumpuh perjalanan beribu-ribu kilometer demi mencari satu hadits saja.

Di awal pertumbuhan ilmu hadis ini, kaum muslimin lebih cenderung bertumpu pada kekuatan hapalannya tanpa menuliskan hadis-hadis yang mereka hapal sebagaimana yang mereka lakukan dengan Al-Qur`an. Kemudian, ketika sinar Islam mulai menjelajah berbagai negeri, wilayah kaum muslimim semakin meluas, para sahabat pun menyebar di sejumlah negeri tersebut dan sebagiannya sudah mulai meninggal dunia serta daya hapal kaum muslimim yang datang setelah mereka sedikit lemah, kaum muslimin mulai merasakan pentingnya mengumpulkan hadis dengan menuliskannya.

Masa Sahabat

Sebetulnya, kodifikasi (penulisan dan pengumpulan) hadis telah dilakukan sejak jaman para sahabat. Namun, hanya beberapa orang saja diantara mereka yang menuliskan dan menyampaikan hadis dari apa yang mereka tulis. Disebutkan dalam shahih al-Bukhari, di Kitab al-Ilmu, bahwa Abdullah bin ‘Amr biasa menulis hadis. Abu Hurairah berkata, “Tidak ada seorang pun dari sahabat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam yang lebih banyak hadisnya dari aku kecuali Abdullah bin ‘Amr, karena ia biasa menulis sementara aku tidak.”

Namun, kebanyakan mereka hanya cukup mengandalkan kekuatan hapalan yang mereka miliki. Hal itu diantara sebabnya adalah karena di awal-awal Islam Rasulullah sempat melarang penulisan hadis karena khawatir tercampur dengan Al-Qur`an. Dari Abu Sa’id al-Khudri, Bahwa Rasulullah bersabda, “Janganlah menulis dariku! Barangsiapa menulis dariku selain Al-Quran, maka hapuslah. Sampaikanlah dariku dan tidak perlu segan..” (HR Muslim)

Masa Tabi’in dan setelahnya

Tradisi periwayatan hadis ini juga kemudian diikuti oleh tokoh-tokoh tabi`in sesudahnya. Hingga datang masa kepemimpinan khalifah kelima, Umar Ibn Abdul’aziz. Dengan perintah beliau, kodifikasi hadits secara resmi dilakukan.

Imam Bukhari mencatat dalam Shahihnya, kitab al-ilmu, “Dan Umar bin Abdul ‘aziz menulis perintah kepada Abu Bakar bin Hazm, “Lihatlah apa yang merupakan hadis Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam lalu tulislah, karena sungguh aku mengkhawatirkan hilangnya ilmu dan lenyapnya para ulama.”

Ibnu Hajar mengatakan, “Dapat diambil faidah dari riwayat ini tentang permulaan kodifikasi hadis nabawi. Dahulu kaum muslimin mengandalkan hapalan. Ketika Umar bin Abdul aziz merasa khawatir –padahal beliau ada di akhir abad pertama- hilangnya ilmu dengan meninggalnya para ulama, beliau memandang bahwa kodifikasi hadis itu dapat melanggengkannya.

Abu Nu’aim meriwayatkan dalam tarikh ashfahan kisah ini dengan redaksi, “Umar bin Abdul ‘aziz memerintahkan kepada seluruh penjuru negeri, “lihatlah hadis Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dan kumpulkanlah.”

Diantara yang pertama kali mengumpulkan hadis atas perintah Umar bin Abdul ‘aziz adalah Muhammad bin Muslim, ibnu Syihab az-Zuhry, salah seorang ulama ahli Hijaz dan Syam. Setelah itu, banyak para ulama yang menuliskan hadis-hadis Rasulullah dan mengumpulkannya dalam kitab mereka.

Di Mekah ada Ibnu Juraij (w 150 H) dengan kitab “as-sunan”, “at-Thaharah”, “as-shalah”, “at-tafsir” dan “al-Jaami”. Di madinah Muhammad bin Ishaq bin Yasar (w 151 H) menyusun kitab “as-sunan” dan “al-Maghazi”, atau Malik bin Anas (w 179 H) menyusun “al-Muwaththa”. Di Bashrah Sa’id bin ‘Arubah (w 157 H) menyusun “as-sunan” dan “at-tafsiir”, Hammad bin Salamah (w 168 H) menyusun “as-sunan”. Di Kufah Sufyan ast-Tsauri (w 161 H) menyusun “at-Tafsir”, “al-Jami al-Kabir”, al-Jami as-Shaghir”, “al-Faraaidh”, “al-Itiqad”

Al-‘Auza’I di Syam, Husyaim di Washith, Ma’mar di Yaman, Jarir bin Abdul hamid di ar-Rai, Ibnul Mubarak di Khurasan. Semuanya adalah para ulama di abad ke dua. Kumpulan hadis yang ada pada mereka masih bercampur dengan perkataan para sahabat dan fatwa para ulama tabi’iin.

Begitulah juga penulisan hadis ini menjadi tradisi ulama setelahnya di abad ke tiga dan seterusnya. Hingga datang zaman keemasan dalam penulisan hadis. Ia adalah periode Kitab Musnad Ahmad dan kutub sittah. Diantaranya adalah dua kitab shahih. Al-Imam al-Bukhari, seorang ulama hadis jenius yang memiliki kedudukan tinggi, menulis dan mengumpulkan hadis-hadis shahih dalam satu kitab yang kemudian terkenal dengan nama “shahih al-Bukhari”. Diikuti setelahnya oleh al-Imam Muslim dengan kitab “shahih muslim”.

Tidak hanya itu, zaman keemasan ini telah menelurkan kitab-kitab hadis yang hampir tidak terhitung jumlahnya. Dalam bentuk majaami, sunan, masanid, ‘ilal, tarikh,  ajzaa` dan lain-lain. Hingga, tidak berlalu zaman ini kecuali sunnah seluruhnya telah tertulis. Tidak ada riwayat yang diriwayatkan secara verbal yang tidak tertulis dalam kitab-kitab itu kecuali riwayat-riwayat yang tidak diperhitungkan.

Rujukan Utama:

  • Muqaddimah Mushahhih Kitab “Ma’rifah ‘Ulum al-Hadis”, al-Hakim an-Naisaburi.
  • Al-Manhaj al-Muqtarah lii fahmi al-Musthalah, Syaikh DR. Syarif Hatim al-‘Auni
  • Fathul Bariy, al-Hafidz ibnu Hajar.
  • dll
Penulis: Ustadz Abu Khaleed Resa Gunarsa, Lc (Alumni Universitas Al Azhar Mesir)
Artikel Muslim.Or.Id
sumber artikel :
http://www.putramelayu.web.id/2014/12/peta-perjalanan-imam-bukhari-mencari.html
https://muslim.or.id/12725-sejarah-kodifikasi-hadits.html
https://aslibumiayu.net/7678-apakah-kita-wajib-ikut-madzhab-tertentu.html

[1] I’lamul Muwaqi’in, 2/211, Darul Jail

[2] I’lamul Muwaqi’in, 1/75

[3] Dinukil dari Shahih Fiqh Sunnah, 1/39, 41

[4] Majmu’ Al Fatawa, 20/211, Darul Wafa’

[5] Ibnul Jauzi dalam Manaqib, hal. 182. Dinukil dari sifat Shalat Nabi hal. 53

Imam Madzhab Hadits Shahih Imam Mazhab Hadits Shahih Imam Malik Dan Lahir Tahun Berapa Hadis Para Mshzab Beda Imam Madzah Dan Imam Hadist

Arsip Artikel

8 Comments on Akibat Kurang Piknik,.. Apakah Imam Madzhab Itu Lebih Tahu Seluruh Hadits Daripada Ulama Setelahnya?

  1. assalamualaikum admin.. Sebelumnya saya ingin berterima kasih dulu atas kehadiran web ini. saya lebih banyak belajar d web ini dan sering mensave as halamannya.

    Tapi sayang saya lebih suka tampilan yang d wordpress dulu. klo sekarang ga bisa di save as lagi halamannya. Atas perhatiannya terima kasih jazakallah khairan..

    Wa’alaikumussalam warahmatullah,

    Oh iya, anda membuka web ini pakai apa, komputer atau hape? Biar saya kasih tahu cara save webnya,

    Jazakumullahu khairan

    • Kalau pake Hp, Gima acara savenya pak?

      Dibuka pakai browser, setelah terbuka semua, klik tombol menu di kiri bawah hape, sehingga muncul menu , nah pilih simpan untuk dibaca secara offline

  2. assalamualaikum..,
    maaf mas admin sy mau bertanya sedikit keluar dr artikel diatas, siapakah imam nawawi albantani, apakah beliau ini ulama salaf? yg katanya beliau ini org indonesia tapi bnyak cerita tentang beliau ini sedikit dibumbui tahyul. mohon penjelasan, terimakasih

    Wa’alaikumussalam warahmatullah,.
    Ya, memang.. cerita yang ada di indonesia sudah terkontaminasi,..
    Apalagi oleh orang-orang yang banyak mengamalkan amalan sufi,. Seorang nawawi albantani pun diklaim sebagai tokoh sufi, padahal beliau gigih memberantas pemikiran sufi,.

    Tentang itu sudah saya posting, silahkan baca disini

  3. Assalamualaikum.

    Wa’alaikumussalam warahmatullah

    Saya mau tanya apakah ada riwayat empat imam mazhab pernah melakukan perjalanan jauh seperti imam Bukhari mengumpulkan hadits apalagi bisa dibilang imam Ahmad dan Bukhari masih sejaman bahkan guru dan murid.

    Imam Malik adalah gurunya imam syafii, imam syafii melakukan perjalanan menemui imam malik, bahkan di usia yang sangat muda, imam syafii adalah gurunya imam ahmad,
    Jadi mereka adalah guru dan murid,. tapi banyak hadits yang tidak diketahui oleh imam malik, tapi diketahui oleh imam syafii, dan ada haits yang tidak diketahui imam syafii, tapi diketahui oleh imam ahmad,.
    Ada hadits yang menurut imam syafii itu shahih, tapi menurut imam ahmad itu dhaif, contoh dalam kasus ini adalah masalah qunut shubuh terus menerus, menurut imam syafii itu shahih, sedangkan menurut muridnya yaitu imam ahmad, itu adlah dhaif, sehingga imam syafii menetapkan qunut shubuh itu sunnah, sedangkan menurut imam ahmad itu bidah,.. tapi beliau tidak mencela imam syafii,.. dan yang betul memang hadits qunut shubuh itu dhaif atau lemah sehingga tidak boleh diamalkan

    Apakah dalam 4 mazhab ada juga pembahasan aqidah dan muamalah atau hanya fiqih?

    Tidak betul, mereka dalam hal AKIDAH itu SATU,. tidak ada perbedaan, dan ini yang tidak diterapkan oleh kaum muslimin indonesia yang mengaku sebagai pengikut imam syafii, akidah imam syafii kok tidak diambil, tapi hanya masalah fikih saja yang diambil,.
    Padahal akidah imam yang empat itu sama, karena mereka mengikuti manhaj salaf,.
    Tapi mereka memilih akidah asy’ariyah yang menyimpang, saya sudah posting disini

    Kalau saya yakin para imam mazhab dan muhaddits semua sangat tinggi ilmunya tapi postingan disebelah seakan2 merendahkan dibanding yang lain para ulama ini sehingga saya senang skali admin membahas masalah ini. Saya kira stop cuma singgung syekh Albani saja tak kusangka sampai Bukhari Muslim pun kena getahnya.

    Ya, karena mereaka berbicara bukan di atas ilmu, tapi mengikuti hawa nafsu

    Ustad ini selalu menyarankan belajar k LIPIA atau mesir krn beliau lulusan lipia( kl bkn lulusan lipia tentu jg gk nyaranin) dan sebatas itu saja gk pernah nyaranin k saudi.

    Padahal LIPIA itu sekolah yang dibangun oleh Saudi, bahkan dibiayai oleh saudi, baik guru atau yang belajar disitu itu mendapatkan uang dari saudi,.. lucu ya,.
    Dan LIPIA mengajarkan ilmu berdasarkan manhaj salaf, tapi orang yang belajar disitu tergantung niatnya, jika niatnya bukan untuk mendapatkan ilmu, cuma pengin gelar dan duit (uang saku dari saudi) maka ilmu yang didapatkanpun tidak bermanfaat,.

    Perlahan2 terbuka kedoknya anti terhadap sesuatu. Makasih barakallau fiik.

    Buat admin tambahan kalo tanggapan saya diposting tolong diperbaiki bahasa dan istilah yg saya pakai karena kurangnya ilmu saya namanya juga belajar. Barakallahu fiik

    Ya.. lama-lama akan terbuka kedoknya…
    wafiikum baarakallah,.

  4. JADI, ulama-ulama sekarang lebih tahu aneka hadis ya mas admin daripada ulama terdahulu…??

    Betul,.. ulama-ulama sekarang mengumpulkan hadits-hadits dari ulama-ulama dulu,.
    Kalau ulama dulu, belum tentu paham hadits yang ada di ulama lain yang sejaman dengannnya,..
    secara logika saja mudah dipahami,
    Bukan terbalik memahaminya, karena ulama dahulu lebih dekat ke jaman sahabat, berarti hadits yang dterima itu lebih banyak… tergantung,..
    Kalau logikanya seperti itu, tentu para sahabat yang lebih banyak menguasai hadits-hadits,. tapi nyatanya,. hadits-hadits itu diriwayatkan dari banyak sahabat, bukan satu sahabat saja, dan haditsnya berbeda-beda,.

  5. assalamu’alaikum , afwan oot . saya mau tanya tentang kewajiban qodho sholat . apakah jika seseorang bertahun tahun lamanya sengaja tidak sholat, bahkan belasan tahun tidak sholat . apakah dia cukup bertaubat saja atau harus disertai dengan meng qodho semua sholat yang pernah ditinggalkan selama bertahun tahun itu ?
    syukron

    Wa’alaikumussalam warahmatullah,
    Wajib bertaubat dengan taubat nasuha / taubat dengan sebenar2 taubat

  6. cukup hanya dengan bertaubat atau juga wajib meng qodho semua sholat yang ditinggalkan ??

    Bertaubat saja, dan tidak wajib mengqadha shalatnya, yang wajib adalah bertaubat

  7. Mas admin bahas juga bagaimana habib munzir yang berpemahaman bahwa ilmu harus ber sambung dan keyakinan bahwa para imam mahzab hanya meriwayatkan kurang dari 70 persen hadist yg mereka tahu. Sehingga sisa ajaran nabi yg 30 persen hilang

    Sudah lama di posting, silahkan baca di sini

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*