Hidup Ini Pilihan Atau Takdir? Jawabnya,.. PILIHAN JUGA Itu Bagian Dari Takdir…

Hidup Ini Pilihan, Atau Takdir?

Tulisan yang agak ke tengah itu tanggapan dari pernyataan koh felix

hidup ini adalah TAKDIRYa sudahlah.. percuma aku berusaha lebih keras lagi, ini sudah takdirku…

Untuk apa menda’wahkan Islam untuk memperbaiki ummat?!
kenyataan bahwa kaum muslim kini terpuruk sudah takdir yang diberikan Allah…

Semua penderitaan kita sudah tertulis di Lauh al-Mahfudz,
jadi walaupun kita terus berjuang merubah kemunkaran, tidak akan ada yang berubah!

Sudah garis tangannya si fulan untuk menjadi ustadz yang paham agama,
sedangkan aku garis tangannya menjadi pengusaha,
oleh karena itu bukan urusanku untuk menyampaikan agama Islam..

Rizki itu di tangan Allah, semua sudah ditentukan sebelum kita dilahirkan di dunia,
jadi jangan kuatir dengan rizki, kalau memang rizki itu milik kita,
ia akan datang walaupun kita tidak mengusahakannya…

Tanggapan :

Ini ngawurnya,..

RIZKI, ia akan datang walaupun kita tidak mengusahakannya?

Rizki dari Hongkong?.. 

Rizki , itu memang sudah ditakdirkan, dan seluruh manusia sudah ditentukan Rizkinya, tidak ada yang kurang, tidak ada yang lebih,. PAS, dan tidak akan tertukar,.

Tapi mencari Rizki tetap wajib diupayakan, ada usaha…

Dan usaha atau upaya manusia dalam menjemput rizki tersebut, itu sudah DITAKDIRKAN oleh Allah pula,.

Demikian juga tentang nasib manusia, Apakah dia menjadi KAFIR atau MUSLIM, kaya atau miskin, bahagia atau sengsara, jadi ustadz atau preman, atau mualaf,.. itu sudah Allah Takdirkan / tuliskan,.. jauh sebelum alam semesta ini diciptakan yaitu 50 ribu tahun sebelum Allah ciptakan apam ini,.

Demikian pula apakah dia menjadi pemimpin atau rakyat jelata, semua sudah dituliskan… 

Tidak ada garis tangan… itu adalah cara dukun dalam meramal, meramal garis tangan.. ini adalah perbuatan kesyirikan,.

Apakah jika sudah berupaya berarti tidak ada perubahan??..

Ini adalah keliru, justru Allah memerintahkan kita agar berupaya, berusaha agar hidup kita berubah..

Tapi jangan anda salah faham,… UPAYA KITA untuk merubah, itu juga bagian dari TAKDIR,.. Allah menakdirkan kita berupaya,. dan HASIL itu adalah takdir Allah juga..

Kegagalan saya bukanlah kesalahan saya, melainkan sudah takdir dari yang Maha Kuasa…

Kata-kata takdir seringkali membatasi manusia dari melakukan yang terbaik dari dirinya, menjadi yang terbaik, dan merubah sesuatu yang berada di depannya. Kata ini seolah-olah menjadi legitimasi bagi seseorang untuk melakukan aktivitasnya secara minimalis dan menjadi alasan khususnya bagi kaum muslim untuk menghindar dan mengelak dari seruan Tuhan mereka.

Tanggapan :

Ini terjadi karena tidak pahamnya manusia tersebut tentang bagaimana sih memahami takdir dengan benar, sesuai dengan pemahaman islam yang benar. 

Masalah takdir, ini merupakan bagian dari RUKUN IMAN, dan takdir ini adalah MASALAH GHAIB, tidak ada manusia yang mengetahui takdir yang akan menimpanya,.

Dampak dari kesalahfahaman tentang takdir ini akan melahirkan pola pikir yang salah, diantaranya menjadikan maksiat atau kesalahan itu sebagai alasan,. ini kan TAKDIR saya,.. 

Ini seolah-olah manusia yang seperti ini menganggap dirinya mengetahui takdir yang menimpanya..

Ini juga seperti dia sedang berperasangka buruk kepada Allah, yaitu Allah menimpakan takdir yang jelek kepadanya..

Agar tidak salah faham, tidak menjadikan kejelekan atau kesalahan sebagai alasan, silahkan baca postingan ini

Kesalahan pandangan terhadap konsep takdir biasanya dimulai dari tidak tepatnya seseorang mengartikan ketiga hal yang berkaitan dengan Allah, yaitu Ilmu Allah, Kehendak Allah dan Lauh al-Mahfudz. Mereka yang berpandangan salah tentang konsep takdir merasa bahwa apa yang mereka lakukan dan yang terjadi di dunia sudah diketahui oleh Allah sebagai yang Maha Tahu, sudah dikehendaki Allah sebagai yang Maha Berkehendak serta sudah tertulis di dalam Lauh al-Mahfudz. Sehingga sebagai manusia, makhluk yang terbatas, mereka merasa terpaksa berada dalam kondisi yang memang sudah ditentukan oleh yang Maha Kuasa. Padahal ketiga hal tersebut, yaitu Ilmu Allah, Kehendak Allah dan Lauh al-Mahfudz tidak boleh sekali-kali dicampuradukan dengan pembahasan takdir, karena tidak seorangpun yang mengetahui ilmu Allah, seperti apa Allah berkehendak atas dirinya, dan juga tidak mengetahui apa yang tertulis di dalam Lauh al-Mahfudz.

 

Tanggapan :

Pernyataan yang tidak benar,.
Darimana bisa muncul pernyataan Ilmu Allah, Kehendak Allah dan Lauh al-Mahfudz tidak boleh dicampur adukkan dengan pembahasan takdir?

Justru seluruh takdir itu sudah dicatat dan disimpan di lauhil mahfudz,.

Dan Allah mengilmui itu semua, bahkan sebelum disimpan di lauhil mahfudz,

Allah memerintahkan kepada Qalam untuk mencatat seluruh takdir hingga terjadinya hari kiamat,..

Dan kehendak Allah, itu juga terkait dengan takdir,.. Allah menghendaki seseorang menjadi muslim, atau menjadi kafir, baik, buruk, kaya , miskin, itu semua atas kehendak Allah,.

Ada sebuah ilustrasi yang sangat masyhur, adalah seorang pencuri yang tertangkap dimasa pemerintahan Islam sedang jaya-jayanya. Sang pencuri ini tengah diproses oleh seorang Hakim. Lalu si pencuri berkata membela diri ”Wahai tuan hakim, sungguh tidak pantas tuan menghukum saya”, dia melanjutkan ”karena apa yang saya lakukan ini sesungguhnya sudah diketahui oleh Allah dan Allah membiarkannya (mengizinkannya), dan sesungguhnya Allah-lah yang berkehendak atas terjadinya pencurian ini, dan kita semua tahu, di Lauh al-Mahfudz sesungguhnya telah tertulis semua aktivitas kita dari mulai dilahirkan sampai kita menemui ajal, termasuk pencurian ini sesungguhnya telah tertulis di kitab tersebut, sehingga tidak pantas tuan hakim menjatuhkan hukuman kepada saya, karena perbuatan ini bukan karena kehendak saya”.

Hakim tersebut lalu berfikir tentang hal tersebut, setelah lama berfikir akhirnya ia mengeluarkan keputusan untuk menghukum si pencuri itu. ”Baik, masukkan dia kedalam sel penjara!”, ujarnya. Si pencuri protes kepada tuan hakim dengan penjelasannya yang panjang lebar tadi, yang intinya adalah pencurian itu bukan kehendaknya tetapi kehendak Allah, atau sudah nasibnya. Sang hakim pun berkata dengan tenang ”Sebenarnya saya tidak mau menjatuhkan hukuman kepadamu, tetapi bagaimana lagi, ini juga kehendak Allah, dan di Lauh al-Mahfudz juga sudah tertulis pada hari ini dan waktu ini saya mengeluarkan hukuman penjara bagimu!”

Tanggapan :

Itu hakimnya yang cerdas, paham akidah yang benar, sehingga tidak mau dikadalin oleh si pencuri yang beralasan dengan takdir,.

Ilustrasi diatas memberikan kita kejelasan, bahwa si pencuri mencoba mencampuradukkan Ilmu Allah, Kehendak Allah dan Lauh al-Mahfudz dalam pembahasan takdir, sehingga pembahasan takdir menjadi kacau. Dan sampai sekarangpun masih banyak kelompok atau individu yang salah memahami konsep takdir, sehingga termasuklah mereka kedalam kaum fatalis, yaitu kaum yang menganggap bahwa manusia seperti daun yang terombang ambing di permukaan air, dengan kata lain, manusia tidak mempunyai pilihan untuk mengarahkan hidupnya. Kaum fatalis ini menganggap masuknya manusia kedalam surga ataupun kedalam neraka sesungguhnya telah ditentukan sejak awal, dan manusia tidak memiliki kekuatan untuk mengubahnya.

Tanggapan :

Itu akibat tidak memahami akidah yang benar tentang TAKDIR ini,. maka akan berkesimpulan seperti itu,.

Ini saya bawakan kisah nyata dari orang-orang yang lurus akidahnya,.

Abu Ubaidah bin Jarrah bertanya, “Apakah untuk menghindari takdir Allah?”

Umar menjawab, “Kalau saja bukan engkau yang mengatakan itu, wahai Abu Ubaidah (tentu aku tidak akan heran –pen.). Ya, kita lari dari satu takdir Allah menuju takdir Allah yang lain.

Apa pendapatmu seandainya engkau mempunyai seekor unta yang turun di sebuah lembah yang memiliki dua lereng, salah satunya subur dan yang kedua tandus.

Jika engkau menggembalakannya di tempat yang subur, bukankah engkau menggembalakannya dengan takdir Allah?

Begitu pun sebaliknya.

Kalau engkau menggembalakannya di tempat yang tandus, bukankah engkau menggembalakannya juga dengan takdir Allah?”

(Demikian pula, apa yang kita putuskan tidak lepas dari takdir Allah, sebagaimana yang dilakukan penggembala yang mengarahkan kambingnya dari tanah yang tandus menuju tanah yang subur tidak lepas dari takdir Allah –pen.)

Betul sekali manusia tidak bisa merubah apa yang sudah ditakdirkan untuknya yang sudah tercatat di LAUHIL MAHFUDZ,.

Bahkan betul, apakah manusia itu masuk surga atau neraka, itu sudah ditakdirkan, sudah ditetapkan 50 ribu tahun sebelum alam semesta ini diciptakan,.  silahkan baca ulasannya disini 

Sehingga, jika kita menginginkan untuk berfikir efektif dan produktif, hendaknya kita tidak boleh mencampuradukkan pembahasan takdir dengan Ilmu Allah, Kehendak Allah dan Lauh al-Mahfudz. Tidak kita sangsikan bahwa Allah pasti mengetahui segala sesuatu yang terjadi pada dunia yang diciptakan-Nya, ia juga mengetahui semua perbuatan hamba-Nya, baik yang telah kita perbuat, yang sedang kita buat maupun yang akan kita perbuat. Dan kita pun tahu bahwa apa pun yang menjadi kehendak Allah pastilah terjadi diatas muka bumi ini.

Kita pun yakin bahwa semua perbuatan kita dari lahir hingga mati sesungguhnya telah tertulis di Lauh al-Mahfudz. Tetapi, semua itu tidak berarti kita tidak bisa memilih apa yang kita perbuat. Sebagai contoh, Allah sudah mengetahui dan berkehendak Anda membaca artikel ini. di Lauh al-Mahfudz pun sudah tertulis, pada tanggal ini jam sekian Anda membaca sampai pada pembahasan takdir ini.

Tetapi Anda juga ingat bahwa ketika berada di website ini Anda bisa memilih dengan bebas apakah artikel ini ataukah artikel lain yang Anda baca. Dengan kata lain, Anda memiliki pilihan untuk melakukan sesuatu, memilih sesuatu dan menjadi sesuatu.

Kehendak bebas atau kesempatan memilih yang diberikan Allah kepada manusia inilah yang akhirnya melahirkan konsekuensi logis, yaitu pertanggungjawaban manusia atas perbuatan-perbuatan yang dipilih olehnya. Pertanggungjawaban ini di akhirat kita sebut dengan prosesi hisab. Di dunia pun, sudah sewajarnya bila kita dimintai pertanggungjawaban atas apa yang dipilihnya.

Tanggapan :

Nah… Ini yang salah anda pahami,.. dan ini adalah koreksi bagi anda,.. PILIHAN ANDA, ARTIKEL YANG ANDA PILIH, itu adalah bagian dari takdir juga,.

Allah sudah tuliskan bahwa anda akan memilih artikel, akan menulis, akan bikin website, dan lain-lain,.

Bahkan misalkan anda ketika membaca artikelnya itu sambil garuk-garuk hidung, itupun Allah tahu,. sudah Allah tuliskan,..

Jadi, anda sendiri belum memahami dengan benar apa itu takdir,.. 

Betul, manusia diberi kebebasan untuk memilih, tapi pilihan itu tidak akan luput sedikitpun dari TAKDIR yang sudah Allah tetapkan,.

Saya berikan permisalan yang simpel,.

Misalkan disodorkan kepada anda makanan, misalkan ada bala-bala, gehu,dodol,siomay,batagor,..

Semua makanan itu disodorkan kepada anda,. dan anda disuruh memilih dan memakan salah satu dari makanan tersebut,..

Nah, ketika anda memilih makanan tersebut, apakah anda merasa sedang dipaksa? Tidak bukan?

Nah,. jika anda memilih salah satu makanan tersebut,.. dan misalkan pilihan anda jatuh pada siomay,. maka itu adalah bagian dari TAKDIR,..

Allah sudah mentakdirkan anda akan memilih siomay,

Allah juga mentakdirkan akan ada yang menawarkan makanan-makanan tersebut dan anda disuruh memilihnya,.

Jadi, PILIHAN anda, itu bukan MURNI dari upaya anda, tanpa kehendak Allah, atau luput dari TAKDIR Allah,.. 

Mudah-mudahan paham..

Pada seorang individu, selain perbuatan-perbuatan atau kejadian-kejadian yang bisa dipilih dan berada di dalam kendali manusia untuk memilihnya, ada juga kejadian-kejadian dimana manusia tidak mempunyai pilihan atasnya, dan dipaksakan terjadi atas manusia itu, serta sudah ditetapkan atas manusia, baik dia suka maupun tidak, misalnya manusia pasti akan mati, wanita memiliki kemampuan melahirkan, pria memiliki kecenderungan kepada wanita, matahari terbit dari timur dan terbenam di barat, bencana alam yang terjadi dan lain-lain.

Dalam hal ini, Allah tidak memberikan ruang kepada manusia untuk memilih, sehingga apapun yang terjadi, manusia tidak perlu atau tidak akan dimintai pertanggungjawaban atas apa yang terjadi, karena hal itu tidak dapat dipilihnya. Di dunia pun anda tidak akan dimintai pertanggungjawaban atas hal yang tidak bisa anda pilih. Misalnya, tidak seorang pun bertanya kepada Anda, kenapa anda adalah seorang pria? atau bertanya kepada Anda, mengapa matahari terbit dari timur?

Mengapa manusia akan mati?. Sekali lagi, dalam hal yang tidak bisa kita pilih, kita tidak akan dimintai pertanggungjawaban atas apa yang terjadi pada diri kita maupun orang lain.

Tanggapan :

Masih salah… sekali lagi.. Kejadian-kejadian diatas itu adalah TAKDIR  Allah,..

Ketika bencana terjadi,. kata siapa manusia dipaksakan menerima?…  

Pernahkah anda melihat terjadinya bencana? manusia tetap berupaya menghindar dari bahaya, dengan upaya mereka,.  bukan pasrah saja, misal terjadi kebakaran, maka berusaha mencari jalan selamat, demikian pula misalkan terjadi gempa bumi, maka berusaha agar selamat,..

Itu semua TAKDIR, dan upaya utk menyelamatkan diri juga itu adalah bagian dari takdir, adapun selamat atau tidaknya, itu juga adalah TAKDIR,..

Jadi tidak ada istilah ada kejadian yang bisa dipilih dan manusia bisa mengendalikannya,.. dan ada yang manusia tidak mempunyai pilihan atasnya…

Dan keyakinan seperti itu justru adalah keyakinan dari kelompok sesat, yaitu  Jabariyyah.

Maka Saya katakan, bahkan KITA MENGEDIPKAN MATA,. itu adalah atas kehendak Allah, bukan atas kemampuan kita sendiri, kehendak kita sendiri,.. apalagi urusan yang lebih besar dari itu,.

Sederhananya adalah, kejadian-kejadian yang terjadi pada manusia bisa dikelompokkan dalam dua bagian. bagian pertama adalah kejadian yang terjadi pada diri manusia yang dapat dipilih, bagian kedua adalah kejadian yang terjadi pada diri manusia yang tidak dapat dipilih, atau dipaksa terjadi atasnya. Pada bagian pertama, kita bisa memilih perbuatan atau kejadian sesuai keinginan kita, karena itulah kejadian itu akan dimintai pertanggungjawaban. Hal ini berarti, menjadi rajin ataupun menjadi malas, menjadi orang yang amanah atau yang khianat, menjadi seorang pemarah atau penyabar, menaati perintah Allah atau membangkangnya adalah sesuatu yang dapat kita pilih.

Tanggapan :

Tidak ada pembagian kelompok seperti itu,.

Seluruh kejadian di alam semesta ini, semua adalah bagian dari TAKDIR ALLAH,.

Bahkan hingga satu daun yang jatuh, semut yang merayap di batu hitam di malam yang gelap, itu semua tidak luput dari takdir Allah,

itu semua atas kehendak Allah, dan sudah dituliskan 50 ribu tahun sebelum alam ini diciptakan,..

Jadi menjadi malas,amanah,khianat,pemarah,penyabar, taat pada Allah atau membangkangnya, itu adalah tidak luput dari TAKDIR ALLAH,. bukan MURNI PILIHAN manusia,.. 

Karena tidak ada satupun makhluk yang bisa berbuat tanpa kehendak dari Allah,.

Sedangkan pada bagian kedua, kita dipaksa menerima kejadian itu dan tidak diberikan pilihan, inilah yang kita sebut takdir. Dan terhadap takdir atau ketetapan yang diberikan kepada kita, baik atau burauknya itu menurut kita, maka kita wajib mengimaninya, dan yakin bahwa itu yang terbaik untuk kita yang berasal dari Allah swt. Prakteknya dalam kehidupan sehari-hari, jika sesuatu terjadi atas kita ataupun terhadap orang lain, dan itu tidak dapat dipilihnya, maka kita tidak boleh protes atau mengeluh secara berlebihan, serta tidak boleh menyalahkan diri sendiri atas kejadian itu. Karena itu semua berasal dari Allah, dzat yang maha memberi ketetapan, dan apa yang diberikan oleh-Nya pasti baik.

Tanggapan:

SALAH BESAR, arti TAKDIR bukanlah itu,..

Pembagian perbuatan menjadi yang bisa dipilih atau tidak, ini saja sudah keliru,.

Sehingga menganggap yang bisa dipilih itu BUKANLAH BAGIAN DARI TAKDIR, dan yang tidak bisa dipilih, itulah yang disebut sebagai TAKDIR,.. ini adalah pemahaman yang sangat ANEH,. bukan pemahaman Ahlusunnah,. tapi paham MU’TAZILAH, saya sudah postingkan disini

Adapun kalau makhluk seolah-olah dipaksa untuk menjalani takdirnya, ini adalah paham JABARIYYAH,.

Setelah pembahasan ini, kita menyadari bahwa tidak sepatutnya kita menyalahkan takdir atas kejadian-kejadian yang sebenarnya bisa kita pilih. Apa yang terjadi di masa yang lalu mungkin beberapa diantaranya termasuk dalam hal yang bisa kita pilih. Masa depan pun sesungguhnya bisa kita pilih, ingin menjadi apakah Anda?

Tanggapan:

Hebat bener,.. masa depan bisa anda pilih,. emangnya anda siapa?

Pelajarilah akidah yang benar,.. sungguh pemaparan anda tentang takdir ini, jauh dari kebenaran..

don’tfollow @felixsiauw for less :)

sumber pernyataan felix diambil dari websit pribadinya, disini  : felixsiauw.com/home/hidup-ini-pilihan-atau-takdir/

Dan pelurusan tentang pernyataannya itu dari admin web aslibumiayu.net

Print Friendly, PDF & Email

Hidup Ini Pilihan Atau Takdir Takdir Atau Memilih Takdir Salafi Lari Dari Takdir Allah Kata Takdir Yg Tdk Bisa D Elak

13 Comments

  1. Semoga limpahan hidayah trus Allahu ta’ala berikan kepada orang2 yg mau mencari dan mempelajari nya… Dan keistiqomahan insyaa Allahu ta’ala… Amin…

    Aamiin

  2. Hidayah mengenal manhaj sunnah menurut pemahaman para sahabat lah yg utama… Generasi yg terdidik langsung oleh Rosullulloh… Dan bukannya fanatik buta terhadap madzhab, firqoh, organisasi,ulama,ustadz,kiyai,

    • Paragraf tulisan biru dan ada garis merah itu jawaban yang benar tentang takdir. Yang tulisan hitam, itu pendapat keliru tentang takdir.

      Tulisan HITAM itu tulisan asli koh felix siauw, saya copas dari sumber asalnya

  3. Assalamualaikum…

    Wa’alaikumussalamwarahmatullah

    Ana pernah mendengar salah 1 kajian seorang ustadz, beliau mengatakan, takdir ada 2 macam, yaitu takdir mutlak yaitu takdir yg kita tidak bisa menghindari nya seperti kita di lahirkan, kematian dll..

    Yg ke 2 adalah takdir yg diusahakan misalnya, jodoh, rezeki dll…

    Namun semuanya itu adalah takdir. Nah ini bagaimana pernyataan seperti ini apakah benar? Mohon penjelasannya… Syukron jazakallahu khoir.

    Penjelasan ust tersebut TIDAK TEPAT, bahkan KELIRU, saya sudah simak video ust adi hidayat tersebut,..

    Seluruh TAKDIR makhluk sudah Allah tetapkan, dan TIDAK ADA satupun makhluk yg bisa LEPAS dari takdir, termasuk urusan yang diusahakan, itu SUDAH ALLAH takdirkan,.

    Usaha mencari rizki, mencari jodoh, itu Allah yang mentakdirkannya,..

    Allah mentakdirkan dia manusia mencari jodoh atau rizki, baik dengan cara halal atau haram, itu Allah yang mentakdirkannya, dan manusia ga ada satupun dari mereka yang mengetahui TAKDIR yang akan menimpa dirinya, itu rahasia di sisi Allah,

    Saran saya, ga usah mengambil ilmu dari ustadz sepertinitu, daripada nanti tersusupi syubhat dari pemikiran qadariyyah,

  4. Assalamualaikum wr.wb.

    Wa’alaikumussalamwarahmatullahiwabarakatuh

    Izin interupsi.Memang jika ditelaah seperti itu bahwa sahnya pilihan adalah bagian dari takdir dapat dibenarkan mengingat bahwa takdir anda pada saat itu memilih, tapi coba difikirkan pada saat proses pemilihan itu anda memilih yang buruk tentunya anda tidak akan senang dengan akhirnya dan besar kemungkinan akan terjadi penyesalan.

    Pertanyaanya, siapa yang memberikan kemampuan berpikir ? Apakah itu bukan takdir dari Allah ?
    Pertanyaan tambahan, siapa yang memunculkan keinginan untuk berpikir, apakah itu bukan takdir Allah ?

    Jawabannya, semua adalah takdir Allah, manusia mengetahui pilihannyabitu setelah terjadi, sebelum terjadi maka tidak tahu, namun Allah maha tahu, jauh sebelum terjadinya proses pemilihan tersebut, bahkan 50 ribu tahun sebelum alam ini diciptakan

    Kemungkinan adanya penyesalan hanya dalam konteks keduniaan namun Al-Quran dan hadits menjelaskan bahwa di neraka akan terjadi penyesalan yang sangat besar bagi orang2 yg dulunya berbuat kemaksiatan, ini menandakan bahwa tdk seorangpun makhluk Ciptaan Allah akan merasa biasa2 saja terhadap adzab yang akan ditimpahkan padanya.

    Bahkan di dunia pun banyak koq peristiwa penyesalan, dan itu semua TAKDIR ALLAH, jadi bukan penyesalan di neraka, sebab seluruh perbuatan makhluk di dunia ini sudah Allah takdirkan, baik perbuatan baik atau buruk, semua tidak ada yang bisa lepas dari takdir yang sudah ditetapkan oleh Allah

    Selanjutnya melihat kenyataan bahwa tak seorangpun akan memilih yang buruk “maka” pilihan buruk menjadi gugur dan jelas tdk dapat dijadikan pertimbangan.

    Kata siapa tidak akan ada yang memilih hal yang buruk?
    Ada banyak manusia yang memilih keburukan, dan semua itu memang Allah takdirkan,..

    Contoh, rokok itu BURUK, namun betapa banyak orang merokok,
    Pacaran itu buruk, perbuatan haram, banyak yang melakukannya,
    Zina itu buruk, banyak yang melakukannya, dll

    Nah, apakah merokok, pacaran, zina itu dilakukan oleh mereka karena mereka merasa dipaksa, atau itu pilihan mereka sendiri ?

    Jawabannya, mereka tidak dipaksa, dan melakukan karena pilihan mereka sendiri,..
    Pertanyaanya, apakah perbuatan tersebut, pilihan mereka tersebut itu adalah TAKDIR dari Allah ?

    Jaeabannya, IYA, Allah mentakdirkan hal tersebut, makanya terjadi ,

    Ikhwa forum diskusi sekalian tinggallah satu ketentuan yang harus dijalankan yakni MELAKUKAN YANG BAIK.

    Jika kita menganggap hidup ini pilihan maka kembalilah kepada perintah Allah “amar ma’ruf nahi mungkar” Wallahua’lam bissawab :).

    Pilihan yang baik atau buruk, itu TAKDIR yang sudah Allah tetapkan, dan tidak ada satupun makhluk yang mengetahui takdir yang akan menimpanya,dan TIDAK ADA satupun makhluk yang MAMPU keluar dari takdir yang akan menimpanya,

  5. SEBELUMNYA MUDAH-MUDAHAN DENGAN FEEDBACK SAYA INI JANGAN SAMPAI IMAN PEMBACA SEKALIAN MENJADI KENDOR, DIAKHIR KOMEN SAYA SEBELUMNYA SUDAH SAYA BERIKAN KUTIPAN FIRMAN YAKNI”…amar ma’ruf nahi mungkar”
    =>Pertanyaanya, siapa yang memberikan kemampuan berpikir ?….

    Bahkan di dunia pun banyak koq peristiwa penyesalan, dan itu semua TAKDIR ALLAH, jadi bukan penyesalan di neraka,

    tapi coba difikirkan pada saat proses pemilihan itu(kemampuan berpikir) anda memilih yang buruk tentunya anda tidak akan senang dengan akhirnya dan besar kemungkinan akan terjadi penyesalan

    =>Kata siapa tidak akan ada yang memilih hal yang buruk?

    “pilihan buruk menjadi gugur” karena Al-Quran dan hadits menjelaskan bahwa di neraka akan terjadi penyesalan yang sangat besar, ini ditujukan bagi orang-rang yang iman kepada hari akhir, ya kalau tidak iman pada yaumul hisab jelas Dia mau-mau saja pilih yang buruk, bahkan orang yang iman pada hari akhir ketika memilih yang buruk sebenarnya itu murni bukan kemauannya, kenapa? kembali ke Al Qur’an dan Hadits

    =>Pilihan yang baik atau buruk, itu TAKDIR yang sudah Allah tetapkan
    ini alasan paling jelas, semua pilihan sudah di74kd1rk4n.Jadi apapun hasilnya everithing is undercontrol, sudah ditetapkan….(sampai disini saja akh takutnya alasan saya melemahkan akidah, kalau mau chat personal via email)

    Cat:
    =>TIDAK ADA satupun makhluk yang MAMPU keluar dari takdir yang akan menimpanya..
    “takdir bukan sesuatu yang datang atau baru ditetapkan pada saat makhluk berpikir, takdir ada sebelum manusia dilahirkan”

    IYA, takdir itu sudah Allah tetapkan 50ribu tahun sebelum alam ini diciptakan,..dan semua makhluk akan menetapi takdirnya tanpa merasa dipaksa, mereka akan berjalan sesuai takdir yang sudah Allah tetapkan, baik takdir yg baik atau yang buruk, dan tidak ada satupun makhluk yang mengetahui takdir yang akan menimpanya

  6. kalau antum bahasakan “takdir yang menimpanya”, seakan-akan takdir itu adalah hal yang buruk atau baru terjadi setelah yang bersangkutan menjalani hidupnya.
    contoh:

    “saya tertimpa tangga”. Ya tangga itu tidak akan menimpa saya kalau saya tidak ada disitu.Tangga itu tidak akan menimpa saya klw tangga itu tdk ditaruh(sudah ada sebelum adanya saya bukan ketika saya ada kemudian tangga itu baru juga ada) dsitu, terkesan tangga itu diciptakan memang untuk saya padahal sekalipun saya tidak ada tangga itu akan tetap ada dan jatuh.

    Itu kan menurut kesan anda, dan…kesan anda atau komentar anda yang seperti itu, itu adalah TAKDIR Allah juga, Allah sudah mentakdirkan anda akan komentar seperti itu, di web saya,

    Padahal kalau kita bertanya, apakah Allah mentakdirkan dia tertimpa tangga atau tudak, maka jawabnya :

    IYA, Allah yang mentakdirkan dia tertimpa tangga,

    Allah yang mentakdirkan dia ada di situ,

    Bahkan Allah yang mentakdirkan tangganya itu tangga dari bambu atau alumunium,..

    Bahkan Allah yang mentakdirkan kejatuhannya dalam posisi apa,

    Allah yang mentakdirkan pula apakah ada yang menolongnya atau tidak,

    Allah yang mentakdirkan pula apakah setelah kejatuhan tangga itu benjol atau tidak,..

    Dan Allah yang mentakdirkan pula setelah kejatuhan tangga dia meringis2 atau tidak,..

    Dan Allah sudah tahu kalau dia akan kejatuhan tangga jam sekian, detik sekian, ..itu 50 ribu tahun sebelum alam ini diciptakan, karena memang Allah yang mentakdirkannya, sementara orang tersebut ga tahu kalau akan kejatuhan tangga, tahunya setelah hal tersebut terjadi,

    Sebaiknya anda baca postingan tentang TAKDIR biar anda ga terjerumus dalam pemahaman yang SALAH,

    Iman kepada qadar memiliki empat tingkatan:

    Pertama: Al-‘Ilmu (Ilmu)
    Yaitu, mengimani bahwa Allah dengan ilmu-Nya, yang merupakan Sifat-Nya yang azali dan abadi, Allah Maha mengetahui semua yang ada di langit dengan seluruh isinya, juga semua yang ada di bumi dengan seluruh isinya, serta apa yang ada di antara keduanya, baik secara global maupun secara rinci, baik yang sudah terjadi maupun yang akan terjadi.

    Allah Maha mengetahui tentang daun yang kering ataupun basah, biji-bijian yang tumbuh dan lainnya.

    Allah Maha mengetahui semua yang ghaib dan Dia Maha mengetahui segala amal perbuatan makhluk-Nya, serta mengetahui segala ihwal mereka, seperti taat, maksiat, rizki, ajal, bahagia dan celaka.

    Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

    وَعِندَهُ مَفَاتِحُ الْغَيْبِ لَا يَعْلَمُهَا إِلَّا هُوَ ۚ وَيَعْلَمُ مَا فِي الْبَرِّ وَالْبَحْرِ ۚ وَمَا تَسْقُطُ مِن وَرَقَةٍ إِلَّا يَعْلَمُهَا وَلَا حَبَّةٍ فِي ظُلُمَاتِ الْأَرْضِ وَلَا رَطْبٍ وَلَا يَابِسٍ إِلَّا فِي كِتَابٍ مُّبِينٍ

    “Dan pada sisi Allah-lah kunci-kunci semua perkara yang ghaib; tidak ada yang mengetahuinya kecuali Dia sendiri, dan Dia Maha mengetahui apa yang ada di daratan dan di lautan, dan tidak ada sehelai daun pun yang gugur melainkan Dia mengetahuinya (pula), dan tidak jatuh sebutir biji pun dalam kegelapan bumi dan tidak juga sesuatu yang basah atau yang kering, melainkan tertulis dalam kitab yang nyata (Lauh Mahfuzh).” [Al-An’aam: 59]

    Read more https://aslibumiayu.net/20618-penjelasan-iman-kepada-takdir-serta-tingkatannya.html

  7. Jadi Sebenarnya Anda menganggap bahwa saya tidak sepaham bahwa hidup ini adalah pilihan.

    Nah…itu masalahnya, harusnya anda tambahkan bahwa PILIHAN kita itu juga TAKDIR dari Allah, ini ga anda tambahkan,

    Bukannya diawal komentar pertama, saya membenarkan pemahaman anda akan hal itu tetapi kemudian saya menjelaskan bahwa sahnya hidup ini sekalipun kita memilih, pilihan itu sebenarnya sudah ditetapkan jadi….(silahkan di analisa).

    mudah-mudahan Anda sudah paham sampai disini bagaimana cara berfikir saya.
    Karena komentar anda yg panjang, justru saya menganggap anda belum terlalu paham,

    Saya paham kalau ini adalah takdir saya dan saya terima apapun itu sekalipun saya tau bahwa ketika melakukan ini atau itu dampaknya bagaimana?

    Tahukah anda kalau dampak baik atau buruk juga adalah takdir dari Allah?

    hanya saja yang perlu lakukan ketika saya sudah beriman maka apapun itu, ketentuannya saya harus tetap melaksanakan karena itu baik menurut-Nya (ALLAH SWT).

    Kalau saja hari ini saya temukan kebijakan terbaik daripada kebijakan Allah SWT tentunya saya tinggalkan tapi saya pastikan tidak akan ada kebijakan terbaik daripada kebijakan ALLAH SWT.

    Apakah anda tahu kebijakan Allah yang akan menimpa anda ?

    Inilah sebenarnya persoalannya sekalipun hal itu adalah kebenaran yang nyata tapi semua manusia memiliki pemahaman berbeda, beberapa manusia diberikan hidayah untuk memahami sebagaimana kelompok A memahami dan sebagian lainnya ditetapkan untuk memahami sebagaimana kelompok B memahami.

    Nah, sepertinya anda juga cara memahami masalah takdir ini juga masih RANCU, terbukti dari komentar2 anda,

    Akan tetapi saya juga tidak mengadakan pembenaran pada diri saya pribadi namun itulah yang saya fahami berdasar pada pengetahuan ilmiah dan intuisi saya.

    Seharusnya anda pahami masalah takdir ini dengan pemahaman yang benar, silahkan anda baca postingan ini

  8. Assalamualaikum akhi,

    Wa’alaikumussalamwarahmatullah

    Mohon penjelasan antum.
    Jika demikian, apa dasar Allah Subhanahu Ta’ala menghisab kita kelak jika semua pilihan kita tidak mungkin keluar dari takdir Nya?
    Bagaimana mengselaraskan kan hal ini dgn statement bahwa Allah tdk akan mendzolimi hambanya? Padahal semua yg terjadi pada hamba tersebut adalah takdir Nya.

    Sejauh apa manusia punya otoritas dalam melakukan pilihan jika setiap aktifitas memilihnya ternyata tdk akan keluar dari apa yg telah Allah Subhanahu Ta’ala takdir kan?

    Manusia hanya mampu mengetahui apa yg dilakukan itu setelah dia melakukan perbuatan tersebut, sedangkan Allah sudah mengetahui 50 rb tahun sebelum alam semesta ini diciptakan, karena Allah sdh menuliskan takdirnya,

    Dan manusia dalam menempuh takdir tsb tanpa merasa sedang diPAKSA, alami saja, dan itu sesuai dgn takdir yg audah Allah tetapkan

    Aktifitas Ana saat ini menuliskan pertanyaan ini pun, telah tertulis dan ditetapkan ribuan tahun sebelum alam ini tercipta.

    Bahkan ana tdk bisa dan tidak sanggup serta tdk mampu dan tidak berdaya saat ini utk berfikir utk melakukan hal lain selain menulis pertanyaan ini ke antum… Karena memang ini lah yang telah Allah subhanahu Ta’ala tetapkan utk terjadi kepada ana saat ini..
    Sehingga, adalah hal yg belum bisa

    Sebuah pertanyaan, apakah anda merasa DIPAKSA ketika melakukan itu semua ?
    Pasti jawabnya , tidak merasa dipaksa, dan ini dilakukan oleh anda sendiri, dan anda mengetahui perbuatan tersebut juga setelah melakukan hal tsb, anda belum tahu perbuatan tsb 5 tahun yang lalu, namun Allah tahu, anda PASTI akan melakukan hal tersebut, karena Allah sudah mentakdirkannya

    sampai ke pemahaman ana, bagaimana mungkin Allah Subhanahu Ta’ala menghisab seseorang atas apa apa yang memang telah Allah sendiri takdir kan dan tetapkan terjadi pada diri orang tersebut? Padahal DIA menyatakan tdk akan mendzolimi hambanya..

    Mohon penjelasan Antum, semoga Allah selalu memberikan penjagaan Nya atas antum sekeluarga

    Penjelasannya ada di postingan ini

    Jazakallahu Khair
    Wassalamu’alaikum

    Jazaakallahu khairan, wa’alaikumussalamwarahmatullahiwabarakatuh

    • Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh,

      Sebelumnya ana ucapkan terima kasih atas kesediaan antum utk memberikan pencerahan.

      Akhi, pernyataan “apakah anda merasa DIPAKSA ketika melakukan itu semua?”… Bagi ana hal ini masih sangat sulit utk menjawab nya… Jika di jawab “tidak”, maka bisa jadi benar, karena memang tidak ada seorang pun saat ini yg menodongkan senjata nya ke kepala ana, memaksa ana utk menuliskan respon ini ke antum..

      Maksud dipaksa dalam hal ini, ketika anda menuliskan komentar apakah tangan anda merasa dipaksa, atau bergerak sendiri tanpa keinginan anda, atau memang anda menuliskan hal tersebut sesuai keinginan anda, itu maksudnya,
      Maka jawabnya anda ga dipaksa, dan itu sesuai keinginan anda, nah itu semua sudah Allah takdirkan, Kalau anda mungkin baru mengetahui setelah anda melakukan, tapi Allah sudah mengetahui dan mentakdirkannya,

      Anda ga akan pernah tahu besok anda akan melakukan apa saja, namun Allah sudah mengetahuinya, bahkan jauh seblum anda lahir ke dunia, bahkan 50 ribu tahun sebelum Allah ciptakan langit dan bumi

      Namun sisi lain, jawaban “tidak” tadi, bukankah akan berseberangan dgn apa yg Allah Ta’ala telah menetapkan terkait hal ini utk terjadi 50ribu tahun sebelum alam ini tercipta?

      Bolehkah ini diartikan bahwa 50rb thn sebelum alam ini tercipta, Allah telah menetapkan atau dalam kata lainnya “memaksa” ana utk duduk memegang HP dan berdiskusi masalah takdir dgn antum pada hari, bulan dan jam serta detik yg telah tertulis di kitab Nya, tidak kurang dan tidak lebih.
      Ana suka atau tidak, terpaksa atau tidak, mau atau tidak… Apa yg Allah telah tuliskan di buku itu pasti terjadi..benarkah demikian?

      Allah SUDAH mntakdirkannya, sudah menetapkannya, …

      Dan TIDAK ADA satupun manusia yang mengetahui takdir yg akan menimpanya,

      Semua yang Allah takdirkan itu PASTI akan terjadi, dan tidak ada satupun makhluk Allah yang mampu melakukan perbuatan yang tidak Allah takdirkan, semuanya akan menetapi takdirnya, dan makhluk tidak ada merasa dipaksa, melakukan sesuai dengan pilihannya, dimana pilihannya itu tidak akan penah lepas dari takdir Allah

      Sehingga saat ini ana balik lagi ke pertanyaan awal, sejauh mana seorang manusia memiliki otoritas utk memilih, apakah akan berbaik sangka dgn Allah atau malah bertambah buruk sangka kepada Nya?… Jika pilihan yang dia pilih (dengan tanpa paksaan) itupun ternyata sdh Allah tuliskan/tetapkan/tentukan/paksakan utk terjadi pada Lauh Mahfuz 50ribu thn sebelum semua ini tercipta.

      Manusia diberi kebebasan untuk memilih, namun pilihannya itu tidak akan pernah MELESET dari TAKDIR yang sudah Allah tetapkan..

      Dan masalah takdir ini adalah masalah yg GHAIB, hanya Allah saja yang tahu, tidak ada makhluk yg tahu, bahkan makhluk yg terdekat seperti malaikat jibril pun tidak tahu, karena takdir yg sudah Allah tetapkan itu tecatat di lauhil mahfudz,

      Saya beri contoh, misalkan ada yang menyodorkan kepada anda buah2an dan anda disuruh memilih, misal ada buah rambutan, apel,jeruk,nanas,pepaya,duren, mana kira2 yg akan anda pilih?

      Maka anda pun akan memilih buah tersebut, misalkan dalam hal ini anda memilih buah rambutan,..

      Nah ketika anda memilih rambutan apakah anda merasa ada yang memaksa anda memilih rambutan, atau itu pilihan anda sndiri tanpa ada paksaan? Jawabnya itu pilihan anda sendiri,

      Kapan anda mengetahui pilihan tersebut?
      Anda mengetahuinya setelah disodorkan pada anda dan anda memilih rambutan,..

      Nah…anda mengetahui pilihan setelah anda memilihnya, tapi Allah sudah mengetahui 50 rb tahun sebelum Allah ciptakan langit dan bumi.
      Allah sudah menetapkan anda akan memilih rambutan,

      Bahkan Allah mengetahui darimana rambutan itu, siapa yg menanamnya, demikian pula perjalanan si buah rambutan tersebut hingga sampai ke depan anda, itu semua sudah Allah takdirkan, bahkan ketika rambutan iti anda pegang apakah langsung dimakan atau tidak, setelah dimakan jadi apa, itu Allah tahu, sementara anda malah ga tahu kan ketika rambutan itu anda makan, padahal itu masuk ke badan anda

      Mohon maaf akhi.. ana berusaha menjauh dari paham jabariah dan qadariah.. namun ana belum cukup berilmu utk mampu menalar masalah takdir ini dgn sempurna.. ana tdk mau sedekah emas sebesar Uhud sia sia karena pemahaman ana yg salah atas takdir ini.

      Jangan salah faham sebagaimana FELIX SIAUW pun salah paham ttg masalah takdir ini, baca postingannya di sini

      Semoga antum diberikan (ditakdirkan) Allah utk tetap bersedia menjawab kebingungan ana.

      Coba antum baca postingan ttg takdir sesuai ahlusunnah, perlu energi ekstra, baca perlahan dan pahami, kalau perlu di print artikelnya, baca diulang2, baca di postingan ini

      Jazakallahu Khair

      Jazaakallaahu khairan

  9. Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh.

    Semoga antum selalu dalam perlindungan Allah Subhanahu Ta’ala.

    Terima kasih atas link link yg telah antum share utk ana pelajari.. saat ini ana masih berusaha utk bisa memahaminya dgn pemahaman yg benar.. walau terus terang bagi ana tidak mudah utk itu.

    Pada respon antum terakhir terdapat statement berikut ini:

    Manusia diberi kebebasan untuk memilih, namun pilihannya itu tidak akan pernah MELESET dari TAKDIR yang sudah Allah tetapkan..

    Mohon kesediaan antum untuk kembali menjelaskan. Bagaimana caranya mencerna statement tersebut agar tidak dipahami sebagai sebuah statement yg memiliki arti yg saling bertentangan.

    Pertama, “manusia diberi kebebasan utk memilih”

    Kedua, “pilihannya (manusia) itu tidak akan pernah MELESET dari TAKDIR yang sudah Allah tetapkan”

    Analisa, statemen pertama adalah statement yg salah.. karena ketentuan memiliki kebebasan dalam memilih pada statement pertama ini sudah dianulir oleh pernyataan pada statement kedua yang menyatakan “pilihan yg dilakukan manusia tdk boleh keluar dari apa yg telah ditetapkan Allah”

    Kesimpulan, manusia tidak memiliki kebebasan dalam memilih. Semua pilihan yg dilakukan manusia… Dipaksa atau tidak, suka atau tidak, mau atau tidak, sadar atau tidak… semuanya Harus berjalan secara alami mengikuti apa yg telah Allah subhanahu Ta’ala tetapkan dalam buku Nya.. DIA tidak mungkin salah catat.

    Benarkah demikian? Jika tidak benar, maka bagaimana cara nya mencerna kedua statement tersebut agar tdk dipahami sebagai 2 statemen yg saling berseberangan. Karena tdk mungkin dikatakan memiliki kebebasan memilih namun kemudian dikatakan pilihan tersebut harus sesuai dgn apa yg telah ditentukan sebelumnya. Dimanakah letak kebebasannya jikalau memang demikian?

    Karena akan lebih fatal lagi analisanya jika statement tersebut dibenturkan dengan statemen lain yg menyatakan “Allah Subhanahu Ta’ala tdk akan pernah mendzolimi hambanya”

    Mohon antum berkenan utk kembali membimbing ana dari pemahaman yang salah ini.

    Semoga Allah Subhanahu Ta’ala memberikan perlindungan Nya bagi antum sekeluarga

    Jazakallahu Khair

    Saya jawab dengan singkat,
    Jawaban saya berupa pertanyaan yang harus anda jawab…

    Anda menulis komentar di atas itu PILIHAN ANDA atau anda merasa DIPAKSA, ada sesuatu yang mungkin memaksa tangan anda untuk menuliskan komentar di atas ?

    Jika anda menjawab, itu bukan paksaan, anda menulis sendiri, perhurupnya itu kemauan anda sendiri, Maka itu sebenarnya sudah menjawab pertanyaan anda..

    Tinggal anda pahami hal ini, apa yang anda lakukan di atas, itu Allah sudah mentakdirkannya, sudah tertulis di lauhil mahfudz, dan pasti anda akan melakukannya,

    Dan takdir itu sekali lagi itu hal ghaib, hanya Allah saja yg tahu..

    Dan apapun yang sudah Allah takdirkan itu PASTI akan terjadi, tidak meleset baik perbuatannya atau waktu terjadinya perbuatan tersebut, juga pelakunya, semua PAS sesuai dgn yg sdh Allah takdirkan,

    Padahal saya sdh ngasih contoh dgn buah yang disodorkan pada anda, apakah sudah dibaca dan dicerna permisalan tsb?

  10. Assalamualaikum Warrahmatullahi wabarakatuh,

    Terima kasih untuk sekian kali nya atas kesediaan antum dalam merespon ana.
    Terkait dengan pertanyaan yang antum berikan

    “Anda menulis komentar di atas itu PILIHAN ANDA atau anda merasa DIPAKSA, ada sesuatu yang mungkin memaksa tangan anda untuk menuliskan komentar di atas ?”

    maka untuk saat ini jawaban ana adalah:

    1a)
    Anda menulis komentar di atas itu PILIHAN ANDA ? atau anda merasa DIPAKSA?
    Jawaban:
    bukan pilihan ana, … mengapa demikian? karena Allah Subhanahu Ta’ala sudah menetapkan nya demikian di kitab NYA

    Ini jawaban org yg ga jujur,
    Bagaimana mungkin itu bkn pilihan anda ?
    Seharusnya anda jawab, itu plihan anda, anda yg mengerjakan, dgn pilihan sendiri..

    Dan saya mengetahui pilihan itu setelah ada kejadian tersebut, sebelumnya ngga tahu, namun Allah tahu , bahkan Allah yg mentakdirkan hal tsb terjadi,

    Jadi pilihan siapapun itu dilakukan oleh pelakunya, pilihan pelakunya, namun bukan MURNI dari diri pelakunya melainkan itu sudah Allah takdirkan..

    Namanya TAKDIR kita tidak tahu, itu hal ghaib, namanya hal ghaib hanya Allah saja yg tahu

    Kita tahu setelah itu terjadi, seminggu yg lalu anda belum tahu apa yg terjadi sekarang, namun Allah maha tahu,

    Jadi dari jawaban anda juga sudah salah, maka jika ini diteruskan bkn anda makin paham, justru bisa makin salah paham,

    1b)
    atau anda merasa DIPAKSA?
    Jawaban:
    Ya ana melakukannya karena terpaksa… walau “paksaan” tersebut tidak ana sadari apalagi ana rasaka Mengapa demikian? karena aktifitas ana menulis inipun sudah Allah tetapkan dalam kitab NYA untuk pasti mutlak harus terjadi trilyunan tahun sebelum ana hidup.

    DUSTA, tidak ada satupun manusia yg melakukan perbuatannya dapam kondisi normal seperti anda nulis komentar di sini itu dalam kondisi DIPAKSA, itu dusta, anda tidak dipaksa, anda mengetik per hurufnya bukan karena DIPAKSA, tapi terjadi secara ALAMI, mengikuti keinginan otak kita,..

    Justru yg meyakini kita dipaksa, itu akidah yg SESAT dan menyesatkan, keimanan kita taruhannya, bahaya, itulah akidah jabariyyah, padahal saya sudah memberikan link postingan ttg hal tsb,

    2)
    ada sesuatu yang mungkin memaksa tangan anda untuk menuliskan komentar di atas ?
    Jawaban:
    Ya ada, … apakah itu yang memaksa tangan ana bergerak untuk menulis?…

    jawabannya: ketetapan Allah Ta’ala yang telah BELIAU tetapkan bagi ana untuk terjadi 50rb tahun sebelum semua ini tercipta..

    Ini bkn jawaban jujur, tapi jawaban dusta, sama seperti jawaban komentar sebelumnya

    Sadarkah ana jika dipaksa? jawabannya tidak.
    Merasakah ana dipaksa? Jawabannya ana tidak bisa atau tidak mampu untuk bisa merasakannya.

    Nah, lucu dan menggelikan, merasa DIPAKSA tapi tidak merasakannya ?
    Padahal tinggal jawab, saya tidak merasa dipaksa, dan memang demikian, sbagaimana saya menjawab komentar anda saya ga merasa sedang dipaksa, saya lakukan sendiri, dan kemauan sendiri, namun itu semua tidak lepas dari takdir Allah,

    Semuanya berjalan natural dan alami berdasarkan ketentuan (atau “paksaan”) yang telah Allah tetapkan bagi ana 50rb tahun sebelum semua ini tercipta….

    Nah natural dan alami itu artinya TANPA PAKSAAN sama sekali,
    Dan semua apapun yg terjadi di dunia ini, itu PASTI dengan takdir Allah,
    Sampai anda KENTUT saja, apakah anda dipaksa untuk kentut ? Maka jawabannya tidak dipaksa, apakah kita kentut itu sudah ditakdirkan, jawabannya IYA, bahkan berapa kali kentutnya, atau seperti apa bunyinya, di mana saja kentutnya, bau atau tidak, diketawain org atau ketawa sendiri, itu semua sdh ditakdirkan

    jangan lupa Akhi, Allah punya satu nama yang agung yaitu Al Jabbar, Maha Memaksa 🙂

    Antum jgn mengartikan nama Allah seenak sendiri, menafsirinya sendiri, bahaya akibatnya..
    Al Jabbar koq maha memaksa ?
    Al jabbar artinya maha kuat, maha perkasa

    Jgn berbicara ttg Allah tanpa ilmu,

    ana berikan contoh berikut:
    Seorang manusia yang normal, sehat, dan tidak gila…. dalam keadaan sangat lapar kemudian kepadanya di sodorkan rambutan segar dan rambutan busuk… maka selama dia normal, sehat dan tidak gila… dia akan memilih rambutan segar bukan?

    jika lalu ditanyakan kepadanya Apakah anda merasa dipaksa untuk memilih rambutan segar? maka selama dia normal, sehat dan tidak gila, dia akan menjawab “tidak, saya tidak merasa dipaksa dalam melakukan pilihan saya”…

    Ini sbenarnya jawaban mirip pertanyaan saya di atas, hanya orang GILA yg menjawab dia dipaksa ketika menulis komentar,
    Maaf jika agak kasar,

    Dari prespektive orang itu… benar jika dia katakan “tidak dipaksa”… namun dari prespektiv lain, kita bisa katakan bahwa orang itu dipaksa untuk memilih rambutan segar. mengapa demikian?

    karena sebagai org yang normal, sehat dan tidak gila, maka dalam keadaan sangat lapar dia “dipaksa” harus memilih rambutan segar ketimbang rambutan busuk.

    Demikianlah yang terjadi dengan ana saat ini. Allah Ta’ala telah menciptakan sebuah kondisi bagi ana, yang menyebabkan ana saat ini “dipaksa” oleh NYA untuk menjalani apa yang telah ditetapkan dalam buku NYA yaitu menulis komentar.

    Satu hal yang harus antum ketahui, apa yang ana paparkan diatas cenderung pada paham jabariah… dan ana akui bahwa paham ini sesat… karena paham ini bertabrakan dengan statemen bahwa “Allah tidak akan mendzolimi hamba NYA”…
    Harapan ana berdiskusi dgn antum ini adalah semoga Allah memberikan kesabaran kepada antum untuk bisa membimbing ana menjauhi paham tersebut.

    Memang keyakinan yang antum pahami jika seperti itu, jelas itu keyakinan JABARIYYAH

    untuk kesekian kalinya ana haturkan

    Jazzakallhu Khoiron

    Sebaiknya antum banyak belajar lagi,
    Apalagi masalah takdir ini memang butuh energi ekstra, salah memahami justru bisa FATAL akibatnya,

    Baca postingan ini, mudah2an bisa paham, dan mintalah kepada Allah hidayah taufik, baca di sini

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*