Hidup Ini Pilihan Atau Takdir? Jawabnya,.. PILIHAN JUGA Itu Bagian Dari Takdir…

Hidup Itu Pilihan Menurut Islam Apa Bedanya Takdir Dan Pilihan Hidup Ini Pilihan Atau Takdir Hidup Ini Takdir Atau Pilihan Takdir Apa Pilihan?

Hidup Ini Pilihan, Atau Takdir?

hidup ini adalah TAKDIRYa sudahlah.. percuma aku berusaha lebih keras lagi, ini sudah takdirku…

Untuk apa menda’wahkan Islam untuk memperbaiki ummat?!
kenyataan bahwa kaum muslim kini terpuruk sudah takdir yang diberikan Allah…

Semua penderitaan kita sudah tertulis di Lauh al-Mahfudz,
jadi walaupun kita terus berjuang merubah kemunkaran, tidak akan ada yang berubah!

Sudah garis tangannya si fulan untuk menjadi ustadz yang paham agama,
sedangkan aku garis tangannya menjadi pengusaha,
oleh karena itu bukan urusanku untuk menyampaikan agama Islam..

Rizki itu di tangan Allah, semua sudah ditentukan sebelum kita dilahirkan di dunia,
jadi jangan kuatir dengan rizki, kalau memang rizki itu milik kita,
ia akan datang walaupun kita tidak mengusahakannya…

Ini ngawurnya,.. RIZKI, ia akan datang walaupun kita tidak mengusahakannya? Rizki dari Hongkong?.. 

Rizki , itu memang sudah ditakdirkan, dan seluruh manusia sudah ditentukan Rizkinya, tidak ada yang kurang, tidak ada yang lebih,. PAS, dan tidak akan tertukar,.

Tapi mencari Rizki tetap wajib diupayakan, ada usaha… dan usaha atau upaya manusia dalam menjemput rizki tersebut, itu sudah DITAKDIRKAN oleh Allah pula,.

Demikian juga tentang nasib manusia, Apakah dia menjadi KAFIR atau MUSLIM, kaya atau miskin, bahagia atau sengsara, jadi ustadz atau preman, atau mualaf,.. itu sudah Allah Takdirkan / tuliskan,.. jauh sebelum alam semesta ini diciptakan,.

Demikian pula apakah dia menjadi pemimpin atau rakyat jelata, semua sudah dituliskan… 

Tidak ada garis tangan… itu adalah cara dukun dalam meramal, meramal garis tangan.. ini adalah perbuatan kesyirikan,.

Apakah jika sudah berupaya berarti tidak ada perubahan??..

Ini adalah keliru, justru Allah memerintahkan kita agar berupaya, berusaha agar hidup kita berubah..
Tapi jangan anda salah faham,… UPAYA KITA untuk merubah, itu juga bagian dari TAKDIR,.. Allah menakdirkan kita berupaya,. dan HASIL itu adalah takdir Allah juga..

Kegagalan saya bukanlah kesalahan saya, melainkan sudah takdir dari yang Maha Kuasa…

Kata-kata takdir seringkali membatasi manusia dari melakukan yang terbaik dari dirinya, menjadi yang terbaik, dan merubah sesuatu yang berada di depannya. Kata ini seolah-olah menjadi legitimasi bagi seseorang untuk melakukan aktivitasnya secara minimalis dan menjadi alasan khususnya bagi kaum muslim untuk menghindar dan mengelak dari seruan Tuhan mereka.

Ini terjadi karena tidak pahamnya manusia tersebut tentang bagaimana sih memahami takdir dengan benar, sesuai dengan pemahaman islam yang benar. 

Masalah takdir, ini merupakan bagian dari RUKUN IMAN, dan takdir ini adalah MASALAH GHAIB, tidak ada manusia yang mengetahui takdir yang akan menimpanya,.

Dampak dari kesalahfahaman tentan takdir ini akan melahirkan pola pikir yang salah, diantaranya menjadikan maksiat atau kesalahan itu sebagai alasan,. ini kan TAKDIR saya,.. 

Ini seolah-olah manusia yang seperti ini menganggap dirinya mengetahui takdir yang menimpanya..
Ini juga seperti dia sedang berperasangka buruk kepada Allah, yaitu Allah menimpakan takdir yang jelek kepadanya..

Agar tidak salah faham, tidak menjadikan kejelekan atau kesalahan sebagai alasan, silahkan baca postingan ini

Kesalahan pandangan terhadap konsep takdir biasanya dimulai dari tidak tepatnya seseorang mengartikan ketiga hal yang berkaitan dengan Allah, yaitu Ilmu Allah, Kehendak Allah dan Lauh al-Mahfudz. Mereka yang berpandangan salah tentang konsep takdir merasa bahwa apa yang mereka lakukan dan yang terjadi di dunia sudah diketahui oleh Allah sebagai yang Maha Tahu, sudah dikehendaki Allah sebagai yang Maha Berkehendak serta sudah tertulis di dalam Lauh al-Mahfudz. Sehingga sebagai manusia, makhluk yang terbatas, mereka merasa terpaksa berada dalam kondisi yang memang sudah ditentukan oleh yang Maha Kuasa. Padahal ketiga hal tersebut, yaitu Ilmu Allah, Kehendak Allah dan Lauh al-Mahfudz tidak boleh sekali-kali dicampuradukan dengan pembahasan takdir, karena tidak seorangpun yang mengetahui ilmu Allah, seperti apa Allah berkehendak atas dirinya, dan juga tidak mengetahui apa yang tertulis di dalam Lauh al-Mahfudz.

 

Pernyataan yang tidak benar,.
Darimana bisa muncul pernyataan Ilmu Allah, Kehendak Allah dan Lauh al-Mahfudz tidak boleh dicampur adukkan dengan pembahasan takdir?
Justru seluruh takdir itu sudah dicatat dan disimpan di lauhil mahfudz,. Dan Allah mengilmui itu semua, bahkan sebelum disimpan di lauhil mahfudz,

Allah memerintahkan kepada Qalam untuk mencatat seluruh takdir hingga terjadinya hari kiamat,.. dan kehendak Allah, itu juga terkait dengan takdir,.. Allah menghendaki seseorang menjadi muslim, atau menjadi kafir, baik, buruk, kaya , miskin, itu semua atas kehendak Allah,.

Ada sebuah ilustrasi yang sangat masyhur, adalah seorang pencuri yang tertangkap dimasa pemerintahan Islam sedang jaya-jayanya. Sang pencuri ini tengah diproses oleh seorang Hakim. Lalu si pencuri berkata membela diri ”Wahai tuan hakim, sungguh tidak pantas tuan menghukum saya”, dia melanjutkan ”karena apa yang saya lakukan ini sesungguhnya sudah diketahui oleh Allah dan Allah membiarkannya (mengizinkannya), dan sesungguhnya Allah-lah yang berkehendak atas terjadinya pencurian ini, dan kita semua tahu, di Lauh al-Mahfudz sesungguhnya telah tertulis semua aktivitas kita dari mulai dilahirkan sampai kita menemui ajal, termasuk pencurian ini sesungguhnya telah tertulis di kitab tersebut, sehingga tidak pantas tuan hakim menjatuhkan hukuman kepada saya, karena perbuatan ini bukan karena kehendak saya”.

Hakim tersebut lalu berfikir tentang hal tersebut, setelah lama berfikir akhirnya ia mengeluarkan keputusan untuk menghukum si pencuri itu. ”Baik, masukkan dia kedalam sel penjara!”, ujarnya. Si pencuri protes kepada tuan hakim dengan penjelasannya yang panjang lebar tadi, yang intinya adalah pencurian itu bukan kehendaknya tetapi kehendak Allah, atau sudah nasibnya. Sang hakim pun berkata dengan tenang ”Sebenarnya saya tidak mau menjatuhkan hukuman kepadamu, tetapi bagaimana lagi, ini juga kehendak Allah, dan di Lauh al-Mahfudz juga sudah tertulis pada hari ini dan waktu ini saya mengeluarkan hukuman penjara bagimu!”

Itu hakimnya yang cerdas, paham akidah yang benar, sehingga tidak mau dikadalin oleh si pencuri yang beralasan dengan takdir,.

Ilustrasi diatas memberikan kita kejelasan, bahwa si pencuri mencoba mencampuradukkan Ilmu Allah, Kehendak Allah dan Lauh al-Mahfudz dalam pembahasan takdir, sehingga pembahasan takdir menjadi kacau. Dan sampai sekarangpun masih banyak kelompok atau individu yang salah memahami konsep takdir, sehingga termasuklah mereka kedalam kaum fatalis, yaitu kaum yang menganggap bahwa manusia seperti daun yang terombang ambing di permukaan air, dengan kata lain, manusia tidak mempunyai pilihan untuk mengarahkan hidupnya. Kaum fatalis ini menganggap masuknya manusia kedalam surga ataupun kedalam neraka sesungguhnya telah ditentukan sejak awal, dan manusia tidak memiliki kekuatan untuk mengubahnya.

Itu akibat tidak memahami akidah yang benar tentang TAKDIR ini,. maka akan berkesimpulan seperti itu,.

Ini saya bawakan kisah nyata dari orang-orang yang lurus akidahnya,.

Abu Ubaidah bin Jarrah bertanya, “Apakah untuk menghindari takdir Allah?”

Umar menjawab, “Kalau saja bukan engkau yang mengatakan itu, wahai Abu Ubaidah (tentu aku tidak akan heran –pen.). Ya, kita lari dari satu takdir Allah menuju takdir Allah yang lain.

Apa pendapatmu seandainya engkau mempunyai seekor unta yang turun di sebuah lembah yang memiliki dua lereng, salah satunya subur dan yang kedua tandus.

Jika engkau menggembalakannya di tempat yang subur, bukankah engkau menggembalakannya dengan takdir Allah? Begitu pun sebaliknya.

Kalau engkau menggembalakannya di tempat yang tandus, bukankah engkau menggembalakannya juga dengan takdir Allah?”

(Demikian pula, apa yang kita putuskan tidak lepas dari takdir Allah, sebagaimana yang dilakukan penggembala yang mengarahkan kambingnya dari tanah yang tandus menuju tanah yang subur tidak lepas dari takdir Allah –pen.)

Betul sekali manusia tidak bisa merubah apa yang sudah ditakdirkan untuknya yang sudah tercatat di LAUHIL MAHFUDZ,.

Bahkan betul, apakah manusia itu masuk surga atau neraka, itu sudah ditakdirkan, sudah ditetapkan 50 ribu tahun sebelum alam semesta ini diciptakan,.  silahkan baca ulasannya disini 

Sehingga, jika kita menginginkan untuk berfikir efektif dan produktif, hendaknya kita tidak boleh mencampuradukkan pembahasan takdir dengan Ilmu Allah, Kehendak Allah dan Lauh al-Mahfudz. Tidak kita sangsikan bahwa Allah pasti mengetahui segala sesuatu yang terjadi pada dunia yang diciptakan-Nya, ia juga mengetahui semua perbuatan hamba-Nya, baik yang telah kita perbuat, yang sedang kita buat maupun yang akan kita perbuat. Dan kita pun tahu bahwa apa pun yang menjadi kehendak Allah pastilah terjadi diatas muka bumi ini.

Kita pun yakin bahwa semua perbuatan kita dari lahir hingga mati sesungguhnya telah tertulis di Lauh al-Mahfudz. Tetapi, semua itu tidak berarti kita tidak bisa memilih apa yang kita perbuat. Sebagai contoh, Allah sudah mengetahui dan berkehendak Anda membaca artikel ini. di Lauh al-Mahfudz pun sudah tertulis, pada tanggal ini jam sekian Anda membaca sampai pada pembahasan takdir ini.

Tetapi Anda juga ingat bahwa ketika berada di website ini Anda bisa memilih dengan bebas apakah artikel ini ataukah artikel lain yang Anda baca. Dengan kata lain, Anda memiliki pilihan untuk melakukan sesuatu, memilih sesuatu dan menjadi sesuatu.

Kehendak bebas atau kesempatan memilih yang diberikan Allah kepada manusia inilah yang akhirnya melahirkan konsekuensi logis, yaitu pertanggungjawaban manusia atas perbuatan-perbuatan yang dipilih olehnya. Pertanggungjawaban ini di akhirat kita sebut dengan prosesi hisab. Di dunia pun, sudah sewajarnya bila kita dimintai pertanggungjawaban atas apa yang dipilihnya.

Nah… yang salah anda pahami,.. dan ini adalah koreksi bagi anda,.. PILIHAN ANDA, ARTIKEL YANG ANDA PILIH, itu adalah bagian dari takdir juga,. Allah sudah tuliskan bahwa anda akan memilih artikel, akan menulis, akan bikin website, dan lain-lain,.

Bahkan misalkan anda ketika membaca artikelnya itu sambil garuk-garuk hidung, itupun Allah tahu,. sudah Allah tuliskan,..

Jadi, anda sendiri belum memahami dengan benar apa itu takdir,.. 

Betul, manusia diberi kebebasan untuk memilih, tapi pilihan itu tidak akan luput sedikitpun dari TAKDIR yang sudah Allah tetapkan,.

Saya berikan permisalan yang simpel,.

Misalkan disodorkan kepada anda makanan, misalkan ada bala-bala, gehu,dodol,siomay,batagor,..

Semua makanan itu disodorkan kepada anda,. dan anda disuruh memilih dan memakan salah satu dari makanan tersebut,..

Nah, ketika anda memilih makanan tersebut, apakah anda merasa sedang dipaksa? Tidak bukan?

Nah,. jika anda memilih salah satu makanan tersebut,.. dan misalkan pilihan anda jatuh pada siomay,. maka itu adalah bagian dari TAKDIR,..

Allah sudah mentakdirkan anda akan memilih siomay, Allah juga mentakdirkan akan ada yang menawarkan makanan-makanan tersebut dan anda disuruh memilihnya,.

Jadi, PILIHAN anda, itu bukan MURNI dari upaya anda, tanpa kehendak Allah, atau luput dari TAKDIR Allah,.. 

Mudah-mudahan paham..

Pada seorang individu, selain perbuatan-perbuatan atau kejadian-kejadian yang bisa dipilih dan berada di dalam kendali manusia untuk memilihnya, ada juga kejadian-kejadian dimana manusia tidak mempunyai pilihan atasnya, dan dipaksakan terjadi atas manusia itu, serta sudah ditetapkan atas manusia, baik dia suka maupun tidak, misalnya manusia pasti akan mati, wanita memiliki kemampuan melahirkan, pria memiliki kecenderungan kepada wanita, matahari terbit dari timur dan terbenam di barat, bencana alam yang terjadi dan lain-lain.

Dalam hal ini, Allah tidak memberikan ruang kepada manusia untuk memilih, sehingga apapun yang terjadi, manusia tidak perlu atau tidak akan dimintai pertanggungjawaban atas apa yang terjadi, karena hal itu tidak dapat dipilihnya. Di dunia pun anda tidak akan dimintai pertanggungjawaban atas hal yang tidak bisa anda pilih. Misalnya, tidak seorang pun bertanya kepada Anda, kenapa anda adalah seorang pria? atau bertanya kepada Anda, mengapa matahari terbit dari timur?

Mengapa manusia akan mati?. Sekali lagi, dalam hal yang tidak bisa kita pilih, kita tidak akan dimintai pertanggungjawaban atas apa yang terjadi pada diri kita maupun orang lain.

Masih salah… sekali lagi.. Kejadian-kejadian diatas itu adalah TAKDIR  Allah,..

Ketika bencana terjadi,. kata siapa manusia dipaksakan menerima?…  pernah melihat terjadinya bencana? manusia tetap berupaya menghindar dari bahaya, dengan upaya mereka,.  bukan pasrah saja, misal terjadi kebakaran, maka berusaha mencari jalan selamat, demikian pula misalkan terjadi gempa bumi, maka berusaha agar selamat,..

Itu semua TAKDIR, dan upaya utk menyelamatkan diri juga itu adalah bagian dari takdir, adapun selamat atau tidaknya, itu juga adalah TAKDIR,..

Jadi tidak ada istilah ada kejadian yang bisa dipilih dan manusia bisa mengendalikannya,.. dan ada yang manusia tidak mempunyai pilihan atasnya…

Dan keyakinan seperti itu justru adalah keyakinan dari kelompok sesat, yaitu  Jabariyyah.

Saya katakan, bahkan KITA MENGEDIPKAN MATA KITA,. itu adalah atas kehendak Allah, bukan atas kemampuan kita sendiri, kehendak kita sendiri,.. apalagi urusan yang lebih besar dari itu,.

Sederhananya adalah, kejadian-kejadian yang terjadi pada manusia bisa dikelompokkan dalam dua bagian. bagian pertama adalah kejadian yang terjadi pada diri manusia yang dapat dipilih, bagian kedua adalah kejadian yang terjadi pada diri manusia yang tidak dapat dipilih, atau dipaksa terjadi atasnya. Pada bagian pertama, kita bisa memilih perbuatan atau kejadian sesuai keinginan kita, karena itulah kejadian itu akan dimintai pertanggungjawaban. Hal ini berarti, menjadi rajin ataupun menjadi malas, menjadi orang yang amanah atau yang khianat, menjadi seorang pemarah atau penyabar, menaati perintah Allah atau membangkangnya adalah sesuatu yang dapat kita pilih.

Tidak ada pembagian kelompok seperti itu,.
Seluruh kejadian di alam semesta ini, semua adalah bagian dari TAKDIR ALLAH,.
Bahkan hingga satu daun yang jatuh, semut yang merayap di batu hitam di malam yang gelap, itu semua tidak luput dari takdir Allah, itu semua atas kehendak Allah, dan sudah dituliskan 50 ribu tahun sebelum alam ini diciptakan,..

Jadi menjadi malas,amanah,khianat,pemarah,penyabar, taat pada Allah atau membangkangnya, itu adalah tidak luput dari TAKDIR ALLAH,. bukan MURNI PILIHAN manusia,.. 
Karena tidak ada satupun makhluk yang bisa berbuat tanpa kehendak dari Allah,.

Sedangkan pada bagian kedua, kita dipaksa menerima kejadian itu dan tidak diberikan pilihan, inilah yang kita sebut takdir. Dan terhadap takdir atau ketetapan yang diberikan kepada kita, baik atau burauknya itu menurut kita, maka kita wajib mengimaninya, dan yakin bahwa itu yang terbaik untuk kita yang berasal dari Allah swt. Prakteknya dalam kehidupan sehari-hari, jika sesuatu terjadi atas kita ataupun terhadap orang lain, dan itu tidak dapat dipilihnya, maka kita tidak boleh protes atau mengeluh secara berlebihan, serta tidak boleh menyalahkan diri sendiri atas kejadian itu. Karena itu semua berasal dari Allah, dzat yang maha memberi ketetapan, dan apa yang diberikan oleh-Nya pasti baik.

SALAH BESAR, arti TAKDIR bukanlah itu,..

Pembagian perbuatan menjadi yang bisa dipilih atau tidak, ini saja sudah keliru,. sehingga menganggap yang bisa dipilih itu BUKANLAH BAGIAN DARI TAKDIR, dan yang tidak bisa dipilih, itulah yang disebut sebagai TAKDIR,.. ini adalah pemahaman yang sangat ANEH,. bukan pemahaman Ahlusunnah,. tapi paham MU’TAZILAH, saya sudah postingkan disini

Adapun kalau makhluk seolah-olah dipaksa untuk menjalani takdirnya, ini adalah paham JABARIYYAH,.

Setelah pembahasan ini, kita menyadari bahwa tidak sepatutnya kita menyalahkan takdir atas kejadian-kejadian yang sebenarnya bisa kita pilih. Apa yang terjadi di masa yang lalu mungkin beberapa diantaranya termasuk dalam hal yang bisa kita pilih. Masa depan pun sesungguhnya bisa kita pilih, ingin menjadi apakah Anda?

Hebat bener,.. masa depan bisa anda pilih,. emangnya anda siapa?

Pelajarilah akidah yang benar,.. sungguh pemaparan anda tentang takdir ini, jauh dari kebenaran..

don’tfollow @felixsiauw for less :)

sumber pernyataan felix diambil dari websit pribadinya, disini  : felixsiauw.com/home/hidup-ini-pilihan-atau-takdir/

Dan pelurusan tentang pernyataannya itu dari admin web aslibumiayu.net

Print Friendly, PDF & Email

Hidup Itu Pilihan Apa Takdir Baik Atau Buruk Itu Takdir Atau Pilihan Pilihan Apakah Termasuk Takdir Semua Kejadian Murni Kehendak Allah Hidup Ini Takdir Apah Pilihan

3 Comments

  1. Semoga limpahan hidayah trus Allahu ta’ala berikan kepada orang2 yg mau mencari dan mempelajari nya… Dan keistiqomahan insyaa Allahu ta’ala… Amin…

    Aamiin

  2. Hidayah mengenal manhaj sunnah menurut pemahaman para sahabat lah yg utama… Generasi yg terdidik langsung oleh Rosullulloh… Dan bukannya fanatik buta terhadap madzhab, firqoh, organisasi,ulama,ustadz,kiyai,

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*