BIDAH Itu Musibah Yang Jauh Lebih Besar Dari Sekedar Banjir Bandang..

Ketika Imam Malik Menjelaskan bahwa Bid’ah itu adalah Musibah

pray-for-bidahPada suatu hari, seseorang bertanya kepada Imam Malik rahimahullah tentang bolehkah kita berihram sebelum miqat.

Kemudian Imam Malik berkata,

أخاف عليك فتنة

“Aku khawatir musibah akan menimpamu.”

Orang ini lantas menjawab,

أي فتنة في ذلك؟ وإنما زيادة أميال في طاعة الله عز وجل

“Musibah apa yang akan menimpa?

Bukankah itu hanya nambah sekian kilometer saja dalam ibadah kepada Allah ‘Azza wa Jalla?”

Imam Malik lalu menjawab dengan penjelasan yang sangat mencengangkan,

أي فتنة أعظم من أن تظن في نفسك أنك خصصت بفضل لم يفعله رسول الله صلى الله عليه وسلم؟

“Musibah apa yang lebih besar daripada pikiran bahwa anda telah melakukan sebuah keutamaan yang tidak pernah dilakukan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam?”

Saudaraku…

Kita semua menginginkan kebaikan. Kita semua menginginkan pahala dan ridha’ dari Allah Subhanahu wa Ta’ala atas amalan-amalan ibadah kita.

Namun, kita pun harus memperhatikan bagaimana tuntunan dari Allah ‘Azza wa Jalla untuk melakukan amalan-amalan ibadah tersebut. Jangan sampai kita menganggap amalan kita itu sebagai sesuatu yang baik, padahal itu teranggap buruk di Sisi Allah Subhanahu wa Ta’ala.

Para ulama’ telah menjelaskan sebuah kaidah yang sangat penting untuk kita renungkan, yaitu:

Sebuah amalan, jika faktor penyebabnya sudah ada di jaman Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam namun beliau tidak melakukannya, maka itu berarti amalan tersebut tidak ada dalam syari’at.

Contoh:

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dan para sahabatnya selalu melakukan shalat ‘id saat ‘idul-fithri dan ‘idul-adhha, namun beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak pernah memerintahkan untuk mengumandangkan adzan dan iqamah sebelum shalat ‘id.

Ini berarti bahwa meninggalkan adzan dan iqamah sebelum shalat ‘id adalah tuntunan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Barangsiapa yang mengumandangkan adzan dan iqamah sebelum salat ‘id, maka dia telah melakukan sebuah kesalahan.

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dan para sahabatnya telah melakukan haji dan ‘umrah. Namun, mereka melakukan ihram dari miqat yang telah ditentukan. Jadi, barangsiapa yang melakukan ihram sebelum miqat, maka ia telah terjatuh dalam sebuah kesalahan.

Imam Malik rahimahullah menyebutnya sebagai musibah. Inilah yang disebut oleh para ulama’ sebagai bid’ah, yaitu amalan yang dianggap sebagai ibadah dan dianggap baik oleh pelakunya namun amalan tersebut tidak dituntunkan dalam syari’at.

Ketika seseorang menyelisihi tuntunan syari’at, maka berhati-hatilah dengan makar Allah Subhanahu wa Ta’ala, sebagaimana yang termaktub dalam firmanNya,

فليحذر الذين يخالفون عن أمره أن تصيبهم فتنة أو يصيبهم عذاب أليم

“Maka hendaklah orang-orang yang menyalahi perintah Nabi itu takut akan musibah yang akan menimpa atau ‘adzab pedih yang akan menimpa.”

Para ulama’ menjelaskan bahwa yang dimaksud dengan “musibah” di ayat ini adalah “menganggap mashlahat sebagai mafsadat dan menganggap mafsadar sebagai mashlahat.”

Sungguh benar firman Allah Subhanahu wa Ta’ala! Ketika seseorang tidak lagi memperhatikan ilmu tentang masalah ini, maka amalan yang tidak dituntunkan oleh Nabi akan dianggapnya sebagai kebaikan, sedangkan nasihat dari saudaranya tentang masalah ini akan dianggapnya sebagai keburukan. Nas’alullah as-salamah wal-‘afiyah.

Abu ‘Abdillah Andy Latief
Selly Oak, Birmingham, UK

Sumber : http://ilmfirst.com/ketika-imam-malik-menjelaskan-bahwa-bidah-itu-adalah-musibah/

1 Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*