Memukul BEDUG Atau Kentongan Sebelum ADZAN, Itu Adalah BIDAH, Dan Bedug Termasuk Alat Musik Yang Diharamkan

Bid’ah-Bid’ah Seputar Adzan dan Iqomat

bedug-adalah-bidahAdzan merupakan ibadah, maka harus ada dalilnya dari al-Qur’an dan as-Sunnah yang shohih. Oleh karena itu wajib bagi seorang muslim untuk mengingkari setiap bentuk ibadah yang tidak ada dalilnya dalam al-Qur’an dan as-Sunnah yang shohih.

Pada masa sekarang ini, banyak mu’adzin yang melakukan berbagai amalan yang tidak ada asalnya karena sudah dianggap sebagai sunnah dan suatu kebenaran. Sehingga apabila ditinggalkan mereka mengatakan: “Islam telah dilalaikan.” Berikut ini beberapa contoh bid’ah seputar adzan yang populer dinegeri kita:

1. Memutar Murottal al-Qur’an, Dzikir dan Sholawatan Sebelum Shalat.
Dalam banyak masjid, biasanya beberapa menit sebelum adzan, khususnya sholat Subuh dan sholat Jum’at, diputar terlebih dahulu murottal al-Qur’an. Dzikr-dzikir atau sholawat-sholawat sebagai pengantar adzan dan peringatan kepada manusia bahwa adzan telah dekat.

Hal ini sekalipun dipandang baik oleh perasaan banyak orang, akan tetapi tidak ada dalilnya darial-Qur’an, hadits dan amalan generasi salaf sholih, bahkan tergolong perkara baru dalam agama. Para ulama telah menghukumi hal ini termasuk perbuatan munkar dan bid’ah. al-Hafizh Ibnu Hajar rahimahullah berkata: “Apa yang diada-adakan dari tasbih sebelum Subuh dan Jum’at serta ‘sholawatan’, bukanlah termasuk adzan baik secara bahasa maupun secara syar’i.” [1]

Lantas, bagaimana lagi kiranya bila hal itu dengan menggunakan pengeras suara?!! Bukankah itu berdampak negatif bagi orang yang mau menggunakan akalnya?!

2. Menabuh Beduk Sebelum Adzan
Dinegeri kita, sebelum adzan dikumandangkan biasanya mu’adzin terlebih dahulu memukul beduk atau kentongan beberapa pukulan, padahal sebagaimana dimaklumi bersama beduk adalah alat musik dan senda gurau.

Lantas pantaskan alat tersebut digunakan untuk memanggil manusia untuk sholat?!

Lantas apakah perbedaannya dengan lonceng atau terompet yang ditolak oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam karena hal itu adalah tradisi Yahudi dan Nashoro?!

Tidak ragu lagi bahwa penggunaan  beduk sebelum adzan termasuk kemungkaran dan kebid’ahan dalam agama. Maka hendaknya dicukupkan dengan adzan aja tanpa tambahan. Wahai kaum muslimin, marilah kita beragama berdasarkan tuntunan agama, bukan dengan adat istiadat yang tidak ada dalilnya. [2]

3. Mengeraskan Sholawat Setelah Adzan
Dalam banyak masjid, sang mu’adzin biasanya usai adzan dia mengeraskan sholawat seakan-akan bagian dari adzan. Tidak ragu lagi bahwa sholawat kepada Nabi pada asalnya disyariatkan tetapi sholawatan dengan tata cara seperti itu tidak ada tuntunannya dari Nabi dan para sahabat. Oleh karena itu, para ulama bersepakat bahwa hal itu tersebut termasuk kemungkaran dan kebid’ahan.

Ibnu Hajar al-Haitsami rahimahullah berkata: “Guru-guru kami dan selain mereka telah ditanya tentang sholawatan kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam setelah adzan seperti yang biasa dilakukan mayoritas mu’adzin. Mereka semua memfatwakan bahwa asalnya adalah sunnah tetapi kaifiyah (tata cara) yang digunakannya adalah bid’ah.” Lanjutnya, “Hal itu karena adzan merupakan syiar Islam yang dinukil secara mutawatir sejak masa Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam dan kata-katanya telah terhimpun dalam kitab-kitab hadits dan fiqih, disepakati oleh para imam kaum muslimin dari Ahli Sunnah wa Jama’ah. Adapun tambahan sholawat dan salam di akhirnya, maka itu merupakan kebid’ahan yang dibuat-buat oleh orang-orang belakangan.” [3]

4. Adzan Di Kuburan
Sebagian Syafi’iyyah belakangan mengatakan bahwa adzan di kuburan ketika menguburkan mayit hukumnya adalah sunnah dengan alasan qiyas (analogi) kepada masalah sunnahnya adzan di telinga bayi yang baru lahir. Kata mereka, “Kelahiran adalah awal keluar menuju dunia sedangkan menguburkan mayit adalah awal keluar dari dunia, maka pembukaannya dianalogikan dengan penutupannya.” [4]

Pendapat ini diingkari oleh para ulama Hanafiyyah, Malikiyyah dan Syafi’iyyah, mereka menegaskan bahwa adzan dikuburan termasuk perkara bid’ah karena tidak ada dalilnya dari Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam , para sahabat atau seorang pun dari salaf sholih. Dan sebagaimana dimaklumi bahwa perbuatan seperti ini tidak bisa ditetapkan kecuali berdasarkan dalil karena adzan adalah ibadah sedangkan ibadah harus dibangun di atas dalil.

Adapun analogi mereka kepada masalah adzan di telinga bayi saat baru lahir, maka ini adalah analogi bathil karena ibadah itu dibangun di atas dalil, bukan berdasarkan hawa nafsu dan perasaan, terlebih lagi analogi semacam ini jauh sekali. Dari segi manakah persamaan antara kelahiran dan menguburkan mayit di kubur. Sekedar ini di awal dan itu di akhir bukan berarti harus sama.” [5]

Dari sini maka jelaslah bagi kita bahwa adzan ketika menguburkan mayit tidaklah disyariatkan, bahkan termasuk perkara bid’ah yang tercela.[6]

Demikian beberapa contoh bid’ah seputar masalah ini. Sebenarnya, masih banyak lagi lainnya tetapi kami tidak ingin memperpanjang jumlah halaman, [7] apalagi sebagian besarnya kurang populer dinegeri kita. Kita memohon kepada Allah azza wa jalla agar dihindarkan darinya dan memberi hidayah kepada saudara-saudara kita yang masih bersiteguh mempertahankannya. Amiin.

Oleh: Ustadz Abu Ubaidah Yusuf bin Mukhtar as-Sidawi hafizhahullah

Note:
[1] Fathul Bari’: IIII 2/99
[2] Lihat al-Burhanul Mubin fi Tashoddi lil Bida’ wal Abathil: 1/294 oleh al-Asyrof bin Ibrohim
[3] Al-Fatawa al-Kubro al-Fiqhiyyah: 1/191
[4] Tuhfatul Muhtaj: 1/461
[5] Al-Fatawa Al-Kubro: 2/24, Ibnu Hajar al-Haitsami
[6] Dinukil dari Ahkamul Maqobir fi Syariah Islamiyyah hal.370 oleh Dr.Abdulloh as-Sahyibani
[7] Lihat Islahul Masajid hal.114-130 oleh Muhammad Jamaluddin al-Qosini, as-Sunan wal Mubtada’at hal.57-61 oleh Muhammad asy-Syuqoiri, as-Sunan wal Mubtada’at hal.114-117 oleh ‘Amr bin Abdul Mun’im

Sumber: Diketik ulang dari Majalah al Furqon Edisi 5, Tahun Kesembilan, Dzulhijjah 1430 / Nov-Des 2009, Hal.44-45

Sumber : https://alqiyamah.wordpress.com/2010/02/19/sunnah-dan-bidah-seputar-adzan-dan-iqomat-02/

SEJARAH ASALNYA BEDUG , Bukan Dari Negara Islam

Pengertian

Bedug adalah alat musik tabuh seperti gendang. Bedug merupakan instrumen musik tradisional yang telah digunakan sejak ribuan tahun lalu, yang memiliki fungsi sebagai alat komunikasi tradisional, baik dalam kegiatan ritual keagamaan maupun politik.

Di Indonesia, sebuah bedug biasa dibunyikan untuk pemberitahuan mengenai waktu shalat atau sembahyang. Bedug terbuat dari sepotong batang kayu besar atau pohon enau sepanjang kira-kira satu meter atau lebih. Bagian tengah batang dilubangi sehingga berbentuk tabung besar. Ujung batang yang berukuran lebih besar ditutup dengan kulit binatang (kerbau, sapi atau banteng) yang berfungsi sebagai membran atau selaput gendang. Bila ditabuh, bedug menimbulkan suara berat, bernada khas, rendah, tetapi dapat terdengar sampai jarak yang cukup jauh.

Sejarah

Dari Cina
Bedug sebenarnya berasal dari India dan Cina. Berdasarkan legenda Cheng Ho dari Cina, ketika Laksamana Cheng Ho datang ke Semarang, mereka disambut baik oleh Raja Jawa pada masa itu. Kemudian, ketika Cheng Ho hendak pergi, dan hendak memberikan hadiah, raja dari Semarang mengatakan bahwa dirinya hanya ingin mendengarkan suara bedug dari masjid. Sejak itulah, bedug kemudian menjadi bagian dari masjid, seperti di Negara Cina,Korea dan Jepang, yang memposisikan bedug di kuil-kuil sebagai alat komunikasi ritual keagamaan.

Asli Warisan Nusantara

Namun menurut Drs M Dwi Cahyono, arkeolog dari Universitas Negeri Malang yang melakukan studi bedug di Jawa bersama tim Sampoerna Hijau, pada masa prasejarah, nenek moyang kita juga sudah mengenal nekara dan moko, sejenis genderang dari perunggu. Pemakaiannya berhubungan dengan religi minta hujan.

Kata Bedug juga sudah disinggung dalam kidung Malat, sebuah karya sastra berbentuk kidung. Susastra kidung berisi cerita-cerita panji. Umunya ditulis pada zaman Mahapahit, dari kurun waktu abad ke 14-16 Masehi. Dalam Kidung Malat dijelaskan, instrumen musik membrafaon bedug dibedakan antara bedug besar yang diberi nama teg-teg dengan bedug ukuran biasa.

Bedug pada masa itu berfungsi sebagai alat komunikasi dan penanda waktu seperti perang, bencana alam, atau hal mendesak lainnya. Dibunyikan pula untuk menandai tibanya waktu. Maka ada istilah dalam bahasa Jawa: wis wanci keteg. Artinya “sudah waktu siang” yang diambil dari waktu saat tegteg dibunyikan.

Cornelis De Houtman dalam catatan perjalanannya D’eerste Boek menjadi saksi keberadaan bedug yang sudah meluas pada abad ke-16. Ketika komandan ekspedisi Belanda itu tiba di Banten, ia menggambarkan di setiap perempatan jalan terdapat genderang yang digantung dan dibunyikan memakai tongkat pemukul yang ditempatkan di sebelahnya. Fungsinya sebagai tanda bahaya dan penanda waktu. Kesaksian ini jelas menunjuk pada bedug.

Kendati demikian, pengaruh Cina pun tidak dinafikan. Ditilik dari sisi konstruksi, teknik pemasangan tali/pasak untuk merekatkan selaput getar ke resonator pada bedug Jawa, mirip pada cara yang digunakan pada bedug di Asia Timur seperti Jepang, Cina, atau Korea. Bukti lain terlihat pada penampilan arca terakota yang ditemukan di situs Trowulan. Arca-arca prajurit berwajah Mongoloid itu tampak menabuh tabang-tabang, sejenis genderang yang terpengaruh budaya timur tengah. Kemungkinannya itulah instrumen musik yang dimainkan orang-orang Cina Muslim di ibukota Majapahit.

Menariknya, tabang-tabang sebenarnya merupakan instrumen musik yang sudah ada sejak masa Hindu-Budha. Di dalamnya ada pengaruh kuat dari India dan budaya Semit beragama Islam. Namun diperkenalkan dan dimainkan oleh masyarakat Cina Muslim.

Jadi, bedug bisa dikatakan contoh perwujudan akulturasi budaya waditra (instrumen musik membrafon, di mana secara fisiografis terjadi perpaduan antara waditra membrafon etnik Nusantara dengan wadistra sejenis dari luar seperti India, Cina, dan Timur Tengah.

Di Indonesia, sebuah bedug biasa dibunyikan untuk pemberitahuan mengani waktu salat atau sembahyang. Saat Orba berkuasa bedug pernah dikeluarkan dari surau dan masjid karena mengandung unsur-unsur non-Islam. Bedug digantikan oleh pengeras suara. Hal itu dilakukan oleh kaum Islam modernis, namun warga NU melakukan perlawanan sehingga sampai sekarang dapat terlihat masih banyak masjid yang mempertahankan bedug.

Fungsi

  • Fungsi sosial: bedug berfungsi sebagai alat komunikasi atau petanda kegiatan masyarakat, mulai dari ibadah, petanda bahaya, hingga petanda berkumpulnya sebuah komunitas.
  • Fungsi estetika: bedug berfungsi dalam pengembangan dunia kreatif, konsep, dan budaya material musikal.

Permainan (Seni Ngadulag)

Seni ngadulag berasal dari daerah Jawa Barat. Pada dasarnya, bedug memiliki fungsi yang sama seperti yang telah dijelaskan sebelumnya. Namun, tabuhan bedug di tiap-tiap daerah memiliki perbedaan dengan daerah lainnya, sehingga menjadikannya khas. Sehingga lahirlah sebuah istilah “Ngadulag” yang menunjuk pada sebuah keterampilan menabuh bedug. Kini keterampilan menabuh bedug telah menjadi bentuk seni yang mandiri yaitu seni Ngadulag (permainan bedug).

Di daerah Bojonglopang, Sukabumi, seni ngadulag telah menjadi sebuah kompetisi untuk mendapatkan penabuh bedug terbaik. Kompetisi terbagi menjadi 2 kategori, yaitu keindahan dan ketahanan. Keindahan mengutamakan irama dan ritme tabuhan bedug, sedangkan ketahanan mengutamakan daya tahan menabuh atau seberapa lama kekuatan menabuh bedug. Kompetisi ini diikuti oleh laki-laki dan perempuan.

Dari permainan inilah seni menabuh bedug mengalami perkembangan. Dahulu, peralatan seni menabuh bedug hanya terdiri dari bedug, kohkol, dan terompet. Tapi kini peralatannya pun mengalami perkembangan.

Selain yang telah disebutkan di atas, menabuh bedug kini juga dilengkapi dengan alat-alat musik seperti gitar, keyboard, dan simbal.

sumber : http://www.kesekolah.com/artikel-dan-berita/pendidikan/asal-usul-bedug.html

MASIHKAH MAU MELETAKAN ALAT MUSIK YANG ALLAH HARAMKAN DI MASJID-MASJID?

Print Friendly, PDF & Email

Hadist Hukum Nya Bedug Sebelum Azan Baca Doa Pake Mic Uas Ide Siapa Bedug Di Gunakan Penanda Waktu Solat Dimasjid Pertama Kali Yang Membuat Bedug Definisi Bedug Sebelum Azan

8 Comments

  1. Beberapa waktu yang lalu wapres sempat melarang hal ini kiranya ini memang betul ya

    Bukan melarang, tapi gunakan speaker untuk peruntukannya, dan memang BENAR speaker luar itu hanya untuk mengeraskan suara ADZAN saja,

  2. Assalamualaikum wr.wb
    nyong gep takon.
    lah. .trus,apike ger bayi lair de macakna apa kang?
    Solawat pa syahadat?
    Apa. . Ora han demacakna apa2.

    Wa’alaikumussalamwarahmatullaiwabarakatuh
    Didoakan, ditahnik, bukan diadzanin,sebab derajat hadits mengadzani bayi itu tidak ada yang shahih, baca di sini

  3. Jadi apakah mengendarai mobil,motor,pesawat,kereta,bus,taxsi,termasuk bid’ah suatu perbuatan yg tidak dicontohkan rasulullah bisa anda jelaskan bila hal yg demikian itu bid’ah apakah untuk ke tanah suci kita harus jalan kaki atau mengendarai onta,kuda

    Siapa yang mengatakan demikian?
    Yang mengatakan atau menyimpulkan seperti itu berarti dia tidak paham apa arti bidah,.

    Biar paham, silahkan baca postingan ini

  4. Assalammu’alaikum min,gimana dengan yang terjadi di masjidil haram,sering sekali sebelum adzan memperdengarkan murratal al quran,karena selama ini saya kira di Saudi selalu mengamalkan ajaran yang dibawa slafus saleh terutama di Makkah.mohon dijawab min…

    Wa’alaikumussalamwarahmatullah,
    Masa sih, pernah dengar sendiri atau hanya katanya?
    Saya pernah di masjid nabawi dan masjidil haram, ga ada tuh yang seperti itu, bahkan dari masjid-masjid sekitarnya pun tidak ada sebelum adzan nyetel murattal

  5. Ternyata anda tidak tahu sejarah BEDUG yg sbenarnya tapi asal ngomong & buat tulisan!!

    ni ane kasih tahu,.
    Bedug dulu di gunakan oleh Sunan Kalijaga untuk menandakan masuknya waktu sholat, knapa harus pake Bedug..??

    Karna dulu masyarakat jawa masih awam mngenai islam jadi blum tahu kpan masuknya waktu sholat. Kalo cuma adzan juga g bakal kedengeran soalnya belum ada mic dan speaker karna dulu rumah masih jauh2 masih banyak hutan dan sawah.

    Maka Sunan kalijaga bijaksana membuat BEDUG dan berpesan kpada santrinya ” Nak.. kalo bedug ini saya tabuh brarti sudah masuk waktunya sholat mari kita kumpul Adazan lalu sholat berjama’a”.

    Apa menurut anda itu membawa manfaat atau mudhorot??

    Bedug sudah ada sebelum jaman sunan kalijaga mas, silahkan baca sejarah,

    Memukul bedug saat masuk waktu shalat itu BIDAH, semua BIDAH akan memudharatkan pelakunya dan orang2 yang memerintahkannya,

    Islam sudah mengajarkan ADZAN sebagai pertanda masuk waktu shalat, silahkan baca postingannya di sini

  6. Mas,,orang sprti sampean itu slah tempat kalo mau merubah islam di negara ini,hidup di israel/usa sana berusaha rubah agama mereka nanti kamu dapat bonus gelar wali,wali bid’ah mungkin!

    Jangan rusak kerukunan beragama di indonesia khususnya islam yg sudah lama ada sebelum embah mu.

    Kamu itu islam karbitan yg di bentuk dari organisasi sesat.

    Mas, agama islam yang diajarkan oleh nabi itu COCOK untuk semua tempat dan waktu, mau di arab,di indonesia atau di negara manapun,..

    Dan menabuh bedug bukanlah dari ajaran islam, maka jangan dimasuk2an ke dalam ajaran islam.

    Nabi sudah mengajarkan pertanda masuk waktu shalat adalah dengan kumandang adzan saja, tanpa didahului menabuh bedug, atau memutar murattal, atau ritual-ritual lainnya

  7. Kon iku opo2 bid’ah .. Bedug itu ada fungsinya untuk sebagai pertanda masuk waktu sholatt .. Waktu jumat.an juga sebagai pertanda. “deng deng deng” artinya : isih sedeng (masih longgar) , ada jg Kentong ” tong tong tong ” isih kothong (masih kosong) ..

    Pertanda masuk waktu shalat itu sudah nabi ajarkan, cukup dgn suara adzan yang lantang, itu saja, ga perlu pakai menabuh bedug segala,

    Tidakkah merasa cukup dengan apa-apa yang nabi ajarkan?
    Maka menambah-nambahi ajaran nabi itu adalah letak bid’ahnya

  8. Maaf sebelum nya,bukan kah memukul beduk sebelum adzan boleh,karena beduk mempunyai arti,
    Yaitu kalau beduk di pukul itu dalamnya kosong,artinya masjid itu masih kosong,setelah memukul muazin adzan,artinya pangilan sholat.
    Jadi arti beduk di pukul sebelum azan bermaksud mari kita sholat ke masjid agar tidak kosong seperti beduk………….
    Dulukan belum ada mix ,jadi adzan tidak begitu Terdengar jadi mengunakan media bedug

    Nah disitulah letak bid’ahnya, menambah-nambah ajaran , Rasul sangat mampu membuat bedug, namun Rasul ganya mengajarkan ADZAN dengan suara yg KENCANG / KERAS,
    Dan Rasulullah belum mampu membuat MIC atau speaker untuk mengecangkan suara ADZAN,

    Jadi mic dan speaker itu bukan ajaran baru, karena itu hanya ALAT untuk membuat suara ADZAN menjadi kencang

Leave a Reply to Abu hanif candra Cancel reply

Your email address will not be published.


*