Rebo Wekasan Itu Bukan Ajaran Islam, Jauhi Dan Tinggalkan.

Rebo Wekasan Itu Bukan Ajaran Islam, Jauhi Dan Tinggalkan.

PERINGATAN REBO WEKASAN DALAM PANDANGAN ISLAM

rebo-wekasan-bukan-ajaran-islamOleh: Muhammad Wasitho Abu Fawaz

APA ARTI ARBA’ MUSTAMIR ??

Arba dari Arbi’a yang artinya hari Rabu, Mustamir artinya membawa sial atau keburukan.

Jadi dalam bahasa Jawa nya “Rebo Wekasan.”

(*) Penjelasan :

(Dikutip Dari Tanya Jawab “Rebo Wekasan Bukan Dari Syariat Islam” bersama Ustadz Muhammad Wasitho Abu Fawaz Di BB Grup Majlis Hadits)

Bismillah. Peringatan Rabu atau Rebo Kasan yang biasa dilakukan oleh sebagian kaum muslimin di negeri ini dan negeri-negeri lainnya pada hari Rabu pekan terakhir dari bulan Shafar adalah peringatan (perayaan) yang tidak ada tuntunannya dalam ajaran agama Islam yang dibawa oleh Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam.

Demikian pula do’a-do’a yang dibaca pada waktu tersebut dalam rangka menolak bala’ (bahaya) yang mereka yakini bhw pada hari Rabu pekan terakhir dr bulan Shafar Allah menurunkan 320 ribu bencana dan musibah, maka do’a-do’atersebut tidak benar datangnya dari Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam. Bahkan jika ditelusuri sumbernya, maka do’a-do’a tersebut atau yang semisalnya berasal dari tarekat-tarekat sufi yang sesat dan menyesatkan.

Di samping itu, pada hari Rebo Kasan (Wekasan) terdapat sejumlah amalan-amalan khusus yang dianjurkan untuk diamalkan seperti sedekah, sholat sunnah, bacaan wirid dan dzikir-dzikir tertentu yang diada-adakan dalam agama Islam. Padahal Allah & Rasul-Nya tidak pernah mensyariatkan itu semua secara khusus pada hari Rebo Wekasan tersebut.

Oleh karena itu, sudah seharusnya bagi kita semua untuk menjauhinya dan memperingatkan keluarga dan saudara-saudara kita seislam agar tidak ikut-ikutan memperingatinya. Dan sebaik-baik petunjuk adalah petunjuk Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam.

Demikian jawaban yang dapat kami sampaikan. Semoga Allah melindungi kita semua dr segala keburukan dan perbuatan yang tidak ada tuntunannya di dalam Al-Quran & As-Sunnah yang Shohih. Dan semoga jawaban ini bermanfaat bagi setiap pembaca. Wallahu a’lam bish-shawab. Wabillahi at-Taufiq.

# Grup BB/WA Majlis Hadits. Chat room Tanya Jawab.

(*) Blog Dakwah Sunnah, KLIK:
https://abufawaz.wordpress.com

RABU WEKASAN

Assalamu’alaikum
Ustadz, mau tanya apakah
rebo wekasan dan shalat balak termasuk bid’ah?.

Dari: Yuningsih

Jawaban:

Wa alaikumus salam

Bismillah was shalatu was salamu ‘ala rasulillah, wa ba’du

Fenomenarebo wekasan, bukan hanya terjadi di tanah air. Karena ternyata, kaum muslimin di belahan dunia lain juga turut meribuntukan rebo bulan safar. Rebo Wekasan (rebo pungkasan) dalam bahasa Jawa, ‘Rebo’ artinya hari Rabu, dan ‘Wekasan’ atau ‘pungkasan’ artinya terakhir. Kemudian istilah ini dipakai untuk menamai hari Rabu terakhir pada bulan Safar.

Ada apa dengan rebo wekasan?

Mereka yang perhatian dengan rebo wekasan berkeyakinan bahwa setiap tahun akan turun 320.000 balak, musibah, atau bencana, dan itu akan terjadi pada hari Rabu terakhir bulan Safar.

Karena keyakinan ini, sebagian orang menghimbau untuk melakukan bentuk ibadah khusus pada hari itu. Terutama orang syiah. Di berbagai forum online, mereka sangat antusias membicarakan rebo wekasan ini. Tidak lupa mereka sebuntukan sederet amalan sebagai upaya tolak balak, yang sama sekali tidak pernah dicontohkan dalam islam.

Di antara amalan tersebut adalah mengerjakan shalat empat raka’at dengan satu kali salam, dalam rangka tolak balak. Shalat ini dikerjakan pada waktu dhuha atau setelah terbit matahari. Pada setiap raka’at membaca surat Al-Fatihah kemudian surat Al-Kautsar 17 kali, surat Al-Ikhlas 50 kali, Al-Mu’awwidzatain (Al-Falaq dan An-Nas) masing-masing satu kali. Ketika salam membaca surat Yusuf ayat 21 yang berbunyi:

وَاللَّهُ غَالِبٌ عَلَى أَمْرِهِ وَلَكِنَّ أَكْثَرَ النَّاسِ لَا يَعْلَمُونَ.

Dan Allah berkuasa terhadap urusan-Nya, tetapi kebanyakan manusia tiada mengetahuinya.”

Ayat ini dibaca sebanyak 360 kali.

Kemudian ditambah dengan Jauharatul Kamal tiga kali dan ditutup dengan bacaan (surat Ash-Shaffat ayat 180-182) berikut:

سُبْحَانَ رَبِّكَ رَبِّ الْعِزَّةِ عَمَّا يَصِفُونَ وَسَلَامٌ عَلَى الْمُرْسَلِينَ وَالْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ.

Kegiatan ini dilanjuntukan dengan memberikan sedekah makanan kepada fakir miskin. Tidak cukup sampai di situ, ada juga yang menyuruh untuk membuat rajah-rajah dengan model tulisan tertentu pada secarik kertas, kemudian dimasukkan ke dalam sumur, bak kamar mandi, atau tempat-tempat penampungan air lainnya.

Mereka berkeyakinan, siapa yang melakukan ritual tersebut pada rebo wekasan, dia akan terjaga dari segala bentuk musibah dan bencana yang turun ketika itu.

Sumber Referensi yang kami jumpai yang membahas masalah ini adalah kitab Kanzun Najah karya Abdul Hamid bin Muhammad Ali Quds. Salah satu tokoh sufi, murid Zaini Dahlan. Dalam buku tersebut, dia menyatakan di pasal: Hal-hal yang Dianjurkan ketika bulan safar,

اعلم…أن مجموع الذي نقل من كلام الصالحين كما يعلم مما سيأتي أنه ينزل في آخر أربعاء من صفر بلاء عظيم، وأن البلاء الذي يفرِّق في سائر السنة كله ينزل في ذلك اليوم، فمن أراد السلامة والحفظ من ذلك فليدع أول يوم من صفر، وكذا في آخر أربعاء منه بهذا الدعاء؛ فمن دعا به دفع الله سبحانه وتعالى عنه شرَّ ذلك البلاء. هكذا وجدته بخط بعض الصالحين

Ketahuilah bahwa sekelompok nukilan dari keterangan orang shaleh – sebagaimana nanti akan diketahui – bahwa pada hari rabu terakhir bulan safar akan turun bencana besar. Bencana inilah yang akan tersebar di sepanjang tahun itu. Semuanya turun pada hari itu. Siapa yang ingin selamat dan dijaga dari bencana itu, maka berdoalah di tanggal 1 safar, demikian pula di hari rabu terakhir dengan doa yang sama. Siapa yang berdoa dengan kalimat itu maka Allah akan menyelamatkannya dari keburukan musibah tersebut. Inilah yang aku temukan dari tulisan orang-orang shaleh.

Selanjutnya, penulis menyebuntukan beberada doa yang dia ajarkan. (Kanzun Najah, hlm. 49).

Sebagai orang beriman daan meyakini bahwa sumber syariat adalah Al-Quran dan sunah Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, tentu saja berita semacam ini tidak boleh kita percaya.

Karena kedatangan bencana di muka bumi ini, merupakan sesuatu yang ghaib dan tidak ada yang tahu kecuali Allah. Satu-satunya cara untuk mengetahui hal itu adalah melalui wahyu Al-Quran dan sunah. Sementara penulis sama sekali tidak menyebuntukan sumber selain klaim bahwa itu tulisan orang shaleh. Terlebih tidak ada keterangan dari sahabat maupun ulama masa silam yang menyebuntukan hal ini.

Lajnah Daimah pernah ditanya tentang ritual rebo wekasan yang dilakukan di akhir safar. Jawaban yang diberikan,

هذه النافلة المذكورة في السؤال لا نعلم لها أصلا من الكتاب ولا من السنة، ولم يثبت لدينا أن أحدا من سلف هذه الأمة وصالحي خلفها عمل بهذه النافلة، بل هي بدعة منكرة، وقد ثبت عن رسول الله صلى الله عليه وسلم أنه قال من أحدث في أمرنا هذا ما ليس منه فهو رد. ومن نسب هذه الصلاة وما ذكر معها إلى النبي صلى الله عليه وسلم أو إلى أحد من الصحابة رضي الله عنهم فقد أعظم الفرية، وعليه من الله ما يستحق من عقوبة الكذابين‏.‏ وبالله التوفيق‏.‏ وصلى الله على نبينا محمد، وآله وصحبه وسلم‏.‏

Amalan seperti yang disebuntukan dalam pertanyaan, tidak kamijumpai dalilnya dalam Al-Quran dan sunah. Tidak juga kami ketahui bahwa ada salah satu ulama masa silam dan generasi setelahnya yang mengamalkan ritual ini. Jelas ini adalah perbuatan bid’ah. Dan terdapat hadis shahih dari Nabishallallahu ‘alaihi wa sallam,beliau bersabda,

من أحدث في أمرنا هذا ما ليس منه فهو رد

Siapa yang membuat hal yang baru dalam agama ini, yang bukan bagian dari agama maka dia tertolak.”(HR. Bukhari, Muslim, Abu Daud, dll)

Siapa yang beranggapan ritual semacam ini pernah dilakukan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam atau pernah dilakukan sahabat radhiyallahu ‘anhu, maka dia telah melakukan kedustaan yang besar. Dia berhak mendapatkan hukuman sebagaimana pendusta di sisi Allah.Wa billahi at-Taufiiq. Wa shallallahu ‘ala muhammadin wa ‘ala aalihi wa shahbihii wa sallam.

Allahu a’lam.

Dijawab oleh ustadz Ammi Nur Bait (Dewan Pembina www.KonsultasiSyariah.com)

Sumber: https://konsultasisyariah.com/15874-rebo-wekasan.html

https://abufawaz.wordpress.com/2014/12/16/peringatan-rebo-wekasan-dalam-pandangan-islam/

Arsip Artikel

3 Comments on Rebo Wekasan Itu Bukan Ajaran Islam, Jauhi Dan Tinggalkan.

  1. Assalamualaikum,
    hampir sekampung merayakan rebo pungkasan,di pimpin ustad ustad lulusan dr berbagai pondok terkenal,

    dan rata rata mrk imam di mushola tsb,sy sering peringatkan mrk bahwa itu bid’ah ,

    tp sy hanya di tertawakan,kata mrk sy tdk mondok dan hanya belajar lewat Internet,

    Wa’alaikumussalamwarahmatullah,

    Itu sebagai bukti, walau belajar langsung ga pakai internet,tapi ga jelas pemahaman gurunya, maka akan tersesat juga,

    Banyak dai-dai penyeru ke jurang neraka, rasulullah sendiri yang mengatakannya

  2. Islam indonesia,ya…begitulah dia dari gurunya,gurunya dari gurunya dan seterusnya tanpa mau belajar lagi dan mencari,katakanlah dari internet justru di internet banyak guru yang bisa kita pelajari juga ilmunya tidak melulu pada satu referensi ,jadi lebih pintar dari santri yang mondok!

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*