Negara Tidak Berhukum dengan Hukum Islam = Negara Kafir?

Apakah Pemerintah Yang Memakai Hukjm Dwmontrasi Maka Kafir Pandangan Islam Tentang Negara Yang Tidak Memakai Hukum Islan Negara Yang Memakai Hukum Islam Negara Yang Berhukum Islam Negara Tidak Memakai Hukum Islam Bisa Tidak

Apakah negara yang tidak berhukum dengan hukum Islam disebut negara kafir ?


Oleh Ustadz Badrusalam, Lc.

Gegabah dalam memvonis sebagai negara kafir seringkali membawa sikap yang merugikan islam, sehingga konskwensinya adalah munculnya pemberontakan dan huru hara, dan yang menjadi korban adalah rakyat jelata yang tak berdosa.

Ketahuilah saudaraku, berhukum dengan selain hukum islam adalah dosa besar yang mendatangkan kemurkaan Allah dan adzabnya, namun tidak setiap yang berhukum dengan hukum selain islam itu dikafirkan kecuali apabila disertai istihlal (meyakini bahwa Allah menghalalkan berhukum dengan selain hukum islam) atau juchud (mengingkari kewajiban berhukum dengan hukum Allah), atau ‘ienad (menentang disertai dengan sombong dan melecehkan).

Adapun apabila ia berhukum dengan selain hukum islam dalam keadaan ia meyakini haramnya perbuatan tersebut tidak dikafirkan sebagaimana yang dikatakan oleh Syaikhul islam terdahulu,”Sesungguhnya seorang hamba apabila melakukan dosa disertai keyakinan bahwa Allah telah mengharamkannya dan meyakini bahwa ketundukan hanya kepada Allah dalam apa yang Dia haramkan dan mewajibkan untuk tunduk kepadanya, maka orang seperti ini tidak dihukumi kafir.”[1]

Dan ini adalah pendapat yang dipegang oleh para ulama islam dari zaman ke zaman kecuali kaum khawarij yang di zaman sekarang ini membawakan perkataan-perkataan para ulama yang bersifat global untuk membela pendapat mereka. Berikut ini saya bawakan sebagian perkataan para ulama islam.

Ali bin Abi Thalhah meriwayatkan dari ibnu ‘Abbas ketika menafsirkan firman Allah “Barang siapa yang tidak berhukum dengan apa yang Allah turunkan maka ia kafir.” (QS Al Maidah : 44) beliau berkata,”Barang siapa yang juchud kepada apa yang Allah turunkan maka ia telah kafir, dan barang siapa yang menetapkan (kewajibannya) namun ia tidak berhukum dengannya maka ia dzalim dan fasiq.”[2]

Dan dalam riwayat Thawus, ibnu Abbas berkata,”Sesungguhnya ia bukan kufur seperti yang mereka (kaum khowarij) fahami, ia kufur yang tidak mengeluarkan dari millah, kufur dibawah kufur.”[3]

Al Qurthubi berkata,” ibnu Mas’ud dan Al Hasan berkata,” ayat ini umum untuk setiap orang yang tidak berhukum dengan apa yang Allah turunkan yaitu yang meyakini (tidak wajibnya) dan menganggap halal (berhukum dengan selain hukum Allah).”[4]

Mujahid berkata,” Barang siapa yang meninggalkan berhukum dengan apa yang Allah turunkan karena menolak[5] kitabullah maka ia kafir dzalim fasiq.”[6]

‘Ikrimah berkata,” Barang siapa yang tidak berhukum dengan apa yang Allah turunkan karena juchud kepadanya maka ia kafir, dan barang siapa yang menetapkan (kewajiban berhukum dengannya) namun ia tidak berhukum dengannya maka ia zalim fasiq.”[7]

Syaikh para mufassir Abu ja’far Ath Thobari berkata,” Sesungguhnya Allah ta’ala menjadikan ayat itu umum untuk orang yang juchud (mengingkari) hukum Allah, Allah mengabarkan bahwa mereka menjadi kafir karena meninggalkan berhukum (dengan hukum Allah) sesuai keadaan ketika mereka meninggalkannya (yaitu juchud), demikian pula setiap orang yang tidak berhukum dengan apa yang Allah turunkan karena juchud maka ia kafir kepada Allah sebagaimana yang dikatakan oleh ibnu ‘Abbas, karena juchudnya kepada hukum Allah setelah ia mengetahui bahwa itu termasuk apa yang Allah turunkan sama dengan juchudnya kepada kenabian nabi-Nya setelah ia mengetahui bahwa ia adalah Nabi.”[8]

Abul ‘Abbas Al Qurthubi berkata,” Firman Allah “Barang siapa yang tidak berhukum dengan apa yang Allah turunkan maka ia kafir”. Sebagian orang berhujjah dengan lahiriyah ayat ini untuk mengkafirkanorang yang berbuat dosa (besar), mereka adalah kaum khowarij. Padahal sama sekali bukan hujjah untuk mereka, karena ayat ini turun mengenai orang-orang Yahudi yang merubah-rubah kalam Allah sebagaimana tertera dalam hadits, mereka adalah orang-orang kafir, maka hukumnya sama dengan orang yang menyerupai sabab turunnya ayat tersebut. Penjelasan adalah sebagai berikut :

Seorang muslim apabila mengetahui hukum Allah secara pasti dalam suatu perkara[9] kemudian ia tidak berhukum dengannya, jika perbuatan tersebut berasal dari juchud, ia menjadi kafir tanpa ada perselisihan. Dan jika bukan karena juchud, ia dianggap berbuat maksiat melakukan dosa besar, karena ia membenarkan asal hukum tersebut dan mengetahui kewajiban berhukum dengannya, akan tetapi ia berbuat maksiat dengan meninggalkan perbuatan tersebut, demikian pula setiap hukum yang diketahui secara pasti sebagai hukum syari’at seperti sholat dan lain-lain dari kaidah-kaidah yang telah diketahui, dan ini adalah madzhab Ahlussunnah…

Maksud pembahasan ini adalah bahwa yang dimaksud ayat-ayat ini adalah ahli kufur dan ‘ienad, dan ayat tersebut walaupun lafadznya berbentuk umum, namun keluar darinya kaum muslimin, karena meninggalkan berhukum disertai keimanan kepada asal hukumnya adalah dibawah kesyirikan, sedangkan Allah berfirman :

إِنَّ اللهَ لاَ يَغْفِرُ أَنْ يُشْرَكَ بِهِ وَيَغْفِرُ مَا دُوْنَ ذَلِكَ لِمَنْ يَشَاءُ.

“Sesungguhnya Allah tidak mengampuni untuk dipersekutukan dan mengampuni dosa yang lebih rendah dari syirik bagi siapa yang Dia kehendaki.” (An Nisaa : 48).

Dan meninggalkan berhukum dengan (hukum Allah) tidak termasuk syirik dengan kesepakatan ulama, dan bisa diampuni, sedangkan kufur itu tidak bisa diampuni (jika ia mati diatasnya. Pen), sehingga meninggalkan berhukum itu bukan kufur (yang mengeluarkan pelakunya dari islam.pen).”[10]

Abu Abdillah Al Qurthubi berkata,” artinya (ia kafir) karena meyakini (tidak wajibnya) dan menganggapnya halal, adapun orang yang tidak berhukum (dengan hukum Allah) sementara ia meyakini bahwa dirinya telah melakukan keharaman maka ia termasuk muslimyang fasiq, dan urusannya diserahkan kepada Allah Ta’ala, jika berkehendak Allah akan adzab dan jika tidak Allah akan ampuni.”[11]

Syaikhul islam ibnu taimiyah berkata,”Mereka itu apabila mengetahui bahwa tidak boleh berhukum kecuali dengan apa yang llah turunkan namun mereka tidak beriltizam dengannya, bahkan meyakini halal berhukum dengan selain apa yang Allah turunkan maka mereka kafir dan jika tidak demikian maka mereka adalah orang-orang bodoh (yang tidak kafir).”[12]

Ibnu Qayyim Al jauziyyah berkata,” Yang shahih bahwa berhukum dengan selain apa yang Allah turunkan mencakup dua kufur : kufur besar dan kecil sesuai dengan keadaan hakim tersebut, jika ia meyakini wajibnya berhukum dengan apa yang Allah turunkan dalam kejadian ini, dan ia menyimpang darinya dan berbuat maksiat disertai pengakuannya bahwa ia berhak mendapatkan adzab, maka ini adalah kufur ashgor (kecil), dan jika ia meyakini bahwa berhukum dengan hukum Allah itu tidak wajib dan bahwa ia diberi kebebasan padanya, disertai keyakinan bahwa itu adalah hukum Allah maka ini kufur akbar, jika ia tidak tahu atau salah maka ia dihukumi sebagai orang yang beralah (tidak kafir).”[13]

Ibnu Katsir berkata,” (Barang siapa yang tidak berhukum dengan apa yang Allah turunkan maka ia kafir) karena mereka juchud kepada hukum Allah, ‘ienad dan sengaja.” [14]

Syaikh Al ‘Allamah Muhammad bin Ibrahim rahimahullah berkata,” Barang siapa yang berhukum dengannya (yaitu undang-undang buatan manusia) dengan keyakinan bolehnya berbuat itu maka ia kafir keluar dari millah, dan jika ia melakukan itu dengan tanpa keyakinan tadi maka ia kafir kufur amali yang tidak mengeluarkannya dari millah.”[15]

Dan ulama-ulama lainnya seperti ibnu daqiq Al ‘ied, ibnul jauzi, Al Baidlawi, Abu Su’ud, Al Jashshosh, dan lain-lain bahkan Abul ‘Abbas Al Qurthubi menyatakan bahwa ini adalah kesepakatan para ulama ahlussunnah sebagaimana telah kita sebutkan tadi.

Perselisihan ulama mengenai negara islam kapan menjadi negara kafir.

Bila kita telah mengetahui bahwa tidak semua yang berhukum dengan hukum islam kafir keluar dri islam, namun disesuaikan dengan keadaannya, maka ketahuilah sesungguhnya kaum muslimin berbeda pendapat mengenai negara islam kapan menjadi negara kafir menjadi lima pendapat :

Pertama : bahwa negeri islam tidak akan menjadi nergeri kafir secara mutlak, ini adlah pendapat ibnu hajar Al Haitami dan beliau menisbatkannya kepada Asy Syafi’iyyah.

Kedua : Negeri islam menjadi negeri kafir dengan diperbuatnya dosa-dosa besar, ini adalah pendapat kaum khowarij dan mu’tazilah.

Ketiga : negeri islam tidak berubah menjadi negeri kafir dengan sebatas dikuasai orang kafir, namun sampai syi’ar-syi’ar islam terputus sama sekali. Ini adalah pendapat Ad Dasuki Al maliki.

Keempat : Negeri islam berubah menjadi negeri kafir dengan dikuasai oleh orang kafir secara sempurna. Ini adalah pendapat Abu hanifah.

Kelima : Negeri islam berubah menjadi negeri kafir apabila dikuasai oleh orang-orang kafir dimana mereka menampakkan hukum-hukumnya, dan ini pendapat Abu Yusuf dan Muhammad bin Al hasan.[16]

Pendapat terakhir ini yang rajih dan paling kuat, berdasarkan beberapa dalil diantaranya hadits ketika Rosulullah shallallahu ‘alaihi wasallam mengirim pasukan beliau besabda :

… ادْعُهُمْ إِلَى الإِسْلاَمِ فَإِنْ أَجَابُوْكَ فَاقْبَلْ مِنْهُمْ وَكُفَّ عَنْهُمْ ثُمَّ ادْعُهُمْ إِلَى التَّحّوُّلِ مِنْ دَارِهِمْ إِلىَ دَارِ الْمُهَاجِرِيْنَ.

“…dakwahilah mereka kepada islam, jika mereka menjawab maka terimalah mereka dan tahanlah dari mereka kemudian serulah agar hijrah ke negeri muhajirin…” (HR Muslim no 1731).

Disini Rosulullah menyebutnya sebagai negeri muhajirin karena mereka yang menguasai negeri tersebut, maka negeri islam adalah yang dikuasai oleh kaum muslim dimana mereka mampu menampakkan syi’ar-syi’ar islam yang besar seperti melaksanakan sholat jum’at, ‘ied, puasa ramadlan, haji, dikumandangkannya adzan secara bebas dan lain-lain. Dan negeri kafir adalah sebaliknya.

Syaikhul islam ibnu Taimiyah memberikan batasan syari’at mengenai ini, beliau berkata,”Suatu negeri disebut negeri kafir atau negeri iman atau negeri fasiq bukanlah sifat yang tetap namun ia bersifat relatif sesuai dengan keadaan penduduknya.”[17]

Beliau juga berkata,”Negeri itu berubah-ubah hukumnya sesuai dengan keadaan penduduknya, terkadang suatu negeri menjadi negeri kafir bila penduduknya kafir, kemudian menjadi negeri islam bila penduduknya masuk islam sebagaimana keadaan Makkah yang tadinya negeri kafir.”[18]

Dalam hadits Anas ia berkata,” Adalah Rosulullah shallallahu ‘alaihi wasallam menyerang apabila tiba waktu adzan, bila terdengar suara adzan maka beliau menahan dan jika tidak beliau menyerang.” (HR Bukhari dan Muslim).[19]

Hadits ini adalah dalil yang tegas bahwa adanya sebagian hukum-hukum islam yang tampak, dapat dijadikan tanda sebagai negeri islam karena ia menunjukkan siapa yang menguasai negeri tersebut.

Bila ada yang berkata,” lalu bagaimana di zaman sekarang ini di Amerika, dan negara-negara kuffar lainnya yang dikumandangkan padanya adzan, apakah menjadi negara islam ?” jawabnya tentu tidak karena penduduk disana mayoritas orang-orang kafir dan merekalah yang menguasainya dan dikumandangkannya adzan disana tidak secara bebas tidak seperti di negeri-negeri islam.”

Fatwa syaikhul islam mengenai negeri maridin.

Negeri maridin adalah negeri islam yang dikuasai oleh orang kafir namun mereka membiarkan kaum muslimin memperlihatkan syi’ar-syi’ar agama islam di sana seperti sebuah negeri islam yang terkenal di Turki dan dikuasai oleh Al Aratiqah selama tiga abad kemudian dikuasai oleh Tartar namun mereka membiarkan kaum muslimin dihukumi oleh Al Aratiqah.

Syaikhul islam berkata mengenai negeri tersebut,” Adapun apakah negeri mereka itu negeri perang (kafir) atau negeri islam maka ia terdiri dari dua makna, tidak sama dengan negeri islam yang berjalan padanya hukum-hukum islam, tidak pula sama dengan negeri kafir yang penduduknya orang-orang kafir, namun ia adalah macam yang ketiga dimana orang islam di dalamnya di perlakukan sesuai dengan porsinya, dan orang yang keluar dari syari’at islam diperangi sesuai dengan porsinya juga.”[20]

Syaikhul islam tidak mengkafirkan pemerintah negeri maridin tidak juga tentaranya padahal mereka memberikan loyalitas kepada orang-orang kafir dan menolong mereka atas kaum muslimin, karena belum terwujudnya illat (alasan) hukum untuk dikafirkan yaitu ridla kepada agama orang-orang kafir itu dan membela mereka karena agama tersebut, dan ini sama keadaannya dengan kisah Hathib bin Abi Balta’ah yang telah kita sebutkan.

Maka cobalah renungkan perkataan-perkataan ulama islam tersebut, mereka sangat berhati-hati untuk memvonis kafir, tidak ada yang berani dan tergesa-gesa kecuali mereka yang sedikit ilmu dan wara’nya. Semoga Allah menunjuki kita kepada jalan kebenaran dan memberi taufiq kepada pemerintah kita untuk berpegang kepada syari’at islam yang mulia ini, Amin.


[1] Ibnu Taimiyah, Ash Sharimul maslul hal 521.

[2] Dikeluarkan oleh ibnu Jarir dalam tafsirnya 4/333 cet. Dar ibnu Hazm. Periwayatan Ali bin AbiThalhah dari ibnu Abbas adalah riwayat yang shahih, walaupun Ali tidak mendengar dari ibnu ‘Abbas, akan tetapi perantaranya telah diketahui yaitu Mujahid dan Ikrimah yang keduanya adalah imam yang tsiqah.

[3] HR Al Hakim dalam mustadrok no 3219 tahqiq Abdul Qadir ‘Atho, Al Hakim berkata “Shahih” dan disetujui oleh imam Adz Dzahabi. Qultu : hadits ini shahih sesuai dengan syarat Bukhari dan Muslim sebagaimana yang dikatakan oleh Syaikh Albani rahimahullah, semua perawinya tsiqah kecuali Hisyam bin Hujair, ibnu Hajar berkata,” Shoduq lahu auhaam”. Sehingga sanad atsar ini hasan, tetapi ia tidak bersendirian namun dimutaba’ah oleh Abdullah bin Thawus dari ayahnya dari ibnu ‘Abbas sebagaimana yang dikeluarkan oleh ibnu Abi Hatim dalam tafsirnya, dan Abdullah bin Thawus dikatakan oleh ibnu Hajar,” Tsiqah.” Sehingga atsar ini menjadi shahih, bagaimana jadinya bila digabungkan lagi dengan jalan Ali bin Abi Thalhah di atas, tentu menjadi semakin shahih. Maka sungguh sangat aneh bila riwayat ini berusaha dilemahkan oleh sebagian khowarij di zaman ini, selain ia bertentangan dengan ijma’ (kesepakatan ulama) untuk menshahihkan atsar ini. Demikianlah bila orang bodoh berbicara, akan melahirkan keajaiban dunia !!

[4] Al jami’ liahkamil qur’an 6/190.

[5] Kata “menolak” disini maknanya adalah ‘ienad.

[6] Mukhtashor tafsir Al Khozin 1/310.

[7] Ibid.

[8] ibnu Jarir dalam tafsirnya 4/334.

[9] Perkataan beliau ini membantah orang yang berkata bahwa maksud kufur duuna kufrin adalah untuk hakim yang tidak berhukum dalam satu atau dua kejadian namun ia tetap berhukum dengan hukum Allah. dan perkataan para ulama tidak membedakan apakah dalam satu kejadian atau seratus kejadian, bahkan pendapat tadi menjerumuskan kepada aqidah murji’ah yang mengatakan bahwa maksiat tidak mempengaruhi kesempurnaan iman, karena apabila seorang hakim berhukum dengan semua hukum islam kecuali dalam satu kejadian karena juchud dan ‘ienad maka ia kafir dengan ijma’ ulama. Dan apabila ia berhukum dengan selain apa yang llahturunkan bukan karena juchud tidak pula ‘ienad dan istihlal, ia meyakini wajibnya berhukum dengan hukum Allah dan ia mengakui bahwa ia berhak mendapatkan adzab, maka orang ini menjadi fasiq dan tidak kafir walaupun dalam banyak kejadian dengan ijma’ ulama juga.

[10] Al Mufhim 5/117-118.

[11] Al jami’ liahkamil qur’an 6/190.

[12] Minhajussunnah 5/130.

[13] Madarijussalikin 1/337.

[14] Tafsir ibnu Katsir 3/87 tahqiq Hani Al haj.

[15] Majmu’ fatawa 1/80.

[16] Lihat kitab fiqih siyasah syar’iyyah karya Dr Khalid bin Ali bin Muhammad.

[17] Majmu’ fatawa ibnu taimiyah 18/287.

[18] Majmu fatawa ibnu taimiyah 27/144.

[19] Bukhari no 610 dan Muslim no 1365.

[20] Majmu’ fatawa ibnu Taimiyah 28/241.

Disalin dari http://abuyahyabadrusalam.com

dinukil ulang dari : www.salafiyunpad.worpress.com

Print Friendly, PDF & Email

Negara Kafir Hukum Meneror Negara Kafir Hukum Islam Hukum Bernegara Di Indonesia Bykan Hukum Kafir Dosa Memakai Selain Hukum Allah

11 Comments

  1. mengapa agama selain islam di sebut kafir?
    terimakasih mas,

    Sebab Kata Allah agama yg diterima disisi Allah hanya agama islam, jd mereka yg tdk mau memeluk islam disebut orang kafir,.

    apkah mereka tidak tau bahwa islamlah yang benar?

    Ada yang tahu, dan ada juga yg tidak tahu, tetap mempertahankan keyakinan nenek moyangnya

    mungkin agak tidak nyambung pertanyaan saya tapi misalkan ada jawaban dari pertanyaan di atas saya akan menanyakan tentang artikel ini insyallah sebisa dan setau saya maklum saya kan masih belajar hehehe…

  2. 1. yang jelas pemerintah ordelama telah membantai kaum muslimin warga negara NII.
    itulah awal mula perang kaum muslimin bangsa indonesia.
    2.pemerintah saat ini juga masih saja mencap NII lewat buku2 sejarah sekolah sebagi pemberontak, padahal NII kalau dilihat pd sejarah. tidak pernah memberontak pada siapapun.
    3.pemerintah saat ini juga masih saja menggunakan BIN membuat NII tandingan (yang sudah banyak korban) guna mencap/ memperburuk citra NII, dimaksudkan untuk menghambat perjuangan umat islam.
    4. RI dan NII saat ini berperang ideologi

    Terimakasih ere,. sudah komentar disini,
    Tentang NII, itu adalah kelompok yang ingin menegakkan islam, tapi MEREKA BODOH TERHADAP APA ITU SYARIAT ISLAM, mereka hanya BERMODALKAN SEMANGAT SAJA, sehingga terjatuh dalam kejelekan-kejelekan yang tidak diajarkan dalam islam, terjatuh dalam pemikiran khawarij,
    NII lahir karena terdorong pemikiran Ikhwanul muslimin, karena memang IM itu adalah biangnya pemikiran tersebut, biangnya terorisme, sehingga kita lihat bagaimana sepak terjang NII kala itu,

    Tentang NII sudah saya posting, silahkan baca disini

    Bukti-bukti kesesatan NII banyak sekali, silahkan baca disini

    • Pak itu kan NII yang sekarang.
      kalau NII dulu menurut bapak gmana?
      tlg tunjukan pemikiran khowarij NII yang dulu
      mereka itu dibunuh para TNI orla lho pak. padahal mereka nggak memberontak.
      sekarangpun mereka masih saja difitnah dengan hadirnya NII kw IX buatan BIN (pemerintah)

      Sama saja ere, NII jaman kartosuwiryo itu adalah buah pemikiran dari gerakan Ikhwanul Muslimin yang ada di Mesir,
      Sehingga pemikirannya pun adalah pemikiran khawarij, memberontak kepada penguasa yang sah, RI kala itu, sehingga gerakan apapun yang melawan pemerintah yang sah adalah TIDAK DIBENARKAN DALAM ISLAM,
      Jadi SUNGGUH SANGAT ANEH ada yang ingin mendirikan Negara Islam dalam sebuah Negara yang sudah berdiri, maka ini dianggap bughat atau memberontak, dan Rasulullah melarang akan hal ini.

      Alhamdulillah banyak kawan-kawan saya yang mantan NII dan sudah tobat, mereka pun menganggap NII KW IX bukanlah NII yang dulu, tapi NII yang menyimpang, NII sempalan,

      Kebanyakan kelompok yang menyimpang dalam islam itu tidak memahami islam dengan benar, sehingga memahami ayat atau hadits serampangan, contoh dalam hal ini seperti NII,LDII,kelompok ingkarus sunnah seperti MTA, dll

      Sehingga karena pemahaman yang salah, maka akan menghasilkan tafsir yang sangat jauh dari kebenaran,

      • Kapan nii memberontak?
        Gmana sejarahnya pak?
        Nii itu tidak pernah memberontak. Nii berdiri setelah wilayah RI menciut karena perjanjian2. Dijabar kosong tidak ada pemerintahan. Rencana mau dibuat negara pasundan sama belanda lewat RIS. Tapi keduluan NII proklamasi.

        RI telah menjajah dan merampas wilayah NII pak.
        NII tidak pernah memberontak.

        Begitulah sejarah yg sebenarnya.

        tuh anda sudah tahu,.
        Indonesia merdeka tanggal 17 agustus 1945
        NII mendeklarasikan tanggal 7 agustus 1949

        Berarti NII lah yang memberontak kepada Negara RI , dan sangat wajar jika NII akhirnya diberangus, dianggap memberontak
        ini saya nukilkan sedikita biografi kartosuwiryo,
        Sekar Marijan Kartosuwiryo mendirikan Darul Islam (DI) dengan tujuan menentang penjajah Belanda di Indonesia. Akan tetapi, setelah makin kuat, Kartosuwiryo memproklamasikan berdirinya Negara Islam Indonesia (NII) pada tanggal 17 Agustus 1949 dan tentaranya dinamakan Tentara Islam Indonesia (TII). Upaya penumpasan dengan operasi militer yang disebut Operasi Bharatayuda. Dengan taktis Pagar Betis. Pada tanggal 4 juni 1962, Kartosuwiryo berhasil ditanggap oleh pasukan Siliwangi di Gunung Geber, Majalaya, Jawa Barat. Akhirnya Kartosuwiryo dijatuhi hukuman mati 16 Agustus 1962.

      • Pak bagaimana pendapat anda tentang pemerintah dengan BINnya dengan membuat NII tandingan NII KW 9.

        Sudah banyak korban lho pak

        tolong berikan datanya jika itu bentukan BIN , data validnya, bukan sekedar uraian yang tidak ada buktinya,

      • kalau data valid, berarti harus berupa dokumen pak. dokumen itu adanya di kantor BIN.

        kalau kita pingin tau validnya, ya berarti kita harus jadi anggota intelijen dulu pak.

        tapi yang nyata2 terjadi
        sudah ribuan korban NII KW9,
        sudah banyak yang lapor polisi
        tidak ada tindak lanjut,
        pemerintah RI masih saja membiarkan NII KW9.

        coba tanya teman2 bapak yang mantan NII KW9
        “dengan melihat pembiaran2 diatas, kalau ada yang bilang BIN/pemerintah adalah sang pembuat NII KW 9, kira2 mereka percaya apa tidak”

        sy yakin mereka akan jawab “ya kemungkinan besar gitu sih, soale kita sudah lapor kemana2 dak digubris ame pemerintah”

        itu artinya cuma kabar kabur,. bukan kabar valid, anda sendiri tidak bisa mendatangkan buktinya, kabar terakhir, sudah tidak ada kegiatan belajar di azzaitun, tinggal gedung kosong, bahkan pemerintah malasyia sudah memblacklist pesantren siluman tersebut,

      • intelijen itu kerjane rapi pak. dak boleh ada yang tau. kita tau sedikit saja bobroknya pemerintah kita bisa mati pak

        contoh
        1. kasus pembunuhan wartawan udin, kan sampe skarang dak ada ujungnya. kalau bsa terungakap, wa bisa bahaya pak pemerintahan bantul, dampaknye sistemik.
        2.kasus munir
        3.1998 trisakti

        intelijen itu kerjane rapi pak. setelah operasi dianggap bocor. mereka akan tutup rapat2 tanpa jejak supaya tidak terlacak, supaya pemerintahan RI punya muka, punya wibawa di hadapan rakyatnya.

        kalu semua kasus bisa terungkap, bahaya pak, bisa2 berdampak sistemik bagi kelangsungan pemerintahan RI.

        BIN itu adalah lembaga murni milik pemerintah, misalkan NII KW IX itu bentukan BIN , lalu apa masalahnya? Berbeda dengan NII asli buatan kartosuwiryo, itu adalah pemberontakan,
        Masalah pembunuhan wartawan yang vokal thd pemerintah, munir, atau mahasiswa trisakti yang ngga mikir, yaitu demo,. itu sudah menuai apa yang mereka dapatkan,.

        Melawan pemerintah, lalu mati akibat melawan pemerintah, itu adalah kematian yang buruk, padahal perintah rasul kita disuruh bersabar terhadap kedzaliman pemerintah,. tidak boleh melawan, memberontak,atau demo,.
        Demontsrasi hukumnya haram, mati akibat demo maka bukan mati syahid, tapi mati konyol, ngga perlu digelari sebagai pahlawan, apalagi pahlawan reformasi, silahkan baca postingannya disini

  3. contoh nyata saja,. pemerintah mau membuat aturan undang-undang pornografi, siapa yang menentang?? banyak umat islam yang menentang, bahkan dari tokoh-tokohnya,.

    jadi,..

    tugas yang urgen sekarang ini adalah menyadarkan rakyat indonesia agar paham ajaran islam, dengan pemahaman yang benar,. mudah2an saja dari rakyat tersebut lahir generasi yang beriman dan bertakwa yang akan membangun negeri ini menuju kejayaannya,.. aamiin,.

    ANE SETUJU PAK. INI YANG PALING BERAT DAN URGEN

    Tugas utama adalah, mewujudkan pengamalan tauhid kepada diri sendiri, mendakwahkan kepada keluarga sendiri, dengan cara-cara yang baik dan lembut, semuanya butuh kepada ilmu, bukan asal itu kebaikan, lalu langsung disampaikan tanpa ilmu, modal semangat saja,.. sehingga yang timbul adalah kerusakan, bukan mengenal dakwah tauhid ini, tapi malah lari dari dakwah ini,

    Lihat bagaimana Rasulullah membangun sebuah negeri, Rasulullah benahi akidah dan tauhid dahulu,. baru Allah berikan kepemimpinan,. TAUHID BERES, NEGARA SUKSES,. silahkan baca postingannya disini

  4. bgaimana pendapat anda dengan Pemerintah RI lewat BIN yang membuat NII tandingan alias NII KW9.

    suadh banyak korban lho pak

    NII KW 9 adalah bentukan BIN? saya baca di web voa islam, wajar saja voa islam berkata begitu, wong voa islam dan NII itu sama pemikirannya, pemikiran menjelek2an penguasa, bahkan kalau ada kekuatan bisa saja mereka akan memberontak juga kepada pemerintahan yan sah, sama seperti NII,

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*