Ketimpangan Manhaj Muwazanah, Manhaj Islam Dan Para Imam Dalam Mengkritik Perkataan Dan Person

Manhaj Muwazanah Tahzir Khalid Basalamah Tahdzir Ustadz Khalid Tahdzir Ketimpangan Manhaj

Ketimpangan Manhaj Muwazanah, Manhaj Islam Dan Para Imam Dalam Mengkritik Perkataan Dan Person

KETIMPANGAN MANHAJ MUWAZANAH

Disusun : Ustadz Arif Fathul Ulum bin Ahmad Saifullah

Telah kita jelaskan pada pembahasan yang lalu bahwa membantah ahli bid’ah dan mengkritik mereka adalah salah satu dari pokok-pokok agama yang agung, bahkan merupakan jihad fi sabilillah yang paling utama, karena ahli bid’ah lebih berbahaya dibandingkan orang kafir. Membantah ahli bid’ah adalah salah satu pokok-pokok manhaj salaf yang diterapkan oleh para ulama salaf dari masa ke masa.

Tetapi ternyata baru-baru ini muncul kelompok sururiyyah [1] atau quthbiyyah [2] yang menyebarkan keragu-raguan terhadap manhaj salaf dalam membantah ahli bid’ah, bahkan berusaha mengganti manhaj salaf dalam masalah ini dengan manhaj mereka. Mereka cetuskan manhaj yang baru di dalam mengkritik person, tulisan dan kelompok yang mereka namakan manhaj muwazanah, yaitu manhaj yang mengharuskan bagi siapa saja yang mengkritik kesalahan person, tulisan ataupun kelompok untuk menyebutkan kebaikan dan kejelekannya secara bersamaan, karena ini adalah sikap yang adil menurut mereka. [3]. Manhaj ini dinamakan juga oleh para pencetusnya sebagai manhaj Al-‘Adl wal Inshaf.[4]

Berikut ini akan kami paparkan ketimpangan manhaj muwazanah dan bahwasanya keadilan yang hakiki adalah manhaj Islam yang dipraktekan oleh generasi terbaik dari kalangan sahabat, tabi’in dan para imam kaum muslimin, dengan banyak menukil dari risalah Syaikhuna Al-Allamah Rabi’ bin Hadi Al-Madkhali yang berjudul Manhaj Ahlis Sunnah wal Jama’ah Fi Naqdir Rijal wal Kutub Wath-Thowaif, cetakan kedua tahun 1413H.

MANHAJ ISLAM DAN PARA IMAM DALAM MENGKRITIK PERKATAAN DAN PERSON

[A]. Allah Subhanahu wa Ta’ala Memuji Orang-Orang Yang Beriman Tanpa Menyebut Kejelekan Mereka Dan Mencela Orang-Orang Kafir Dan Munafiq Tanpa Menyebut Kebaikan Mereka.

Allah Subhanahu wa Ta’ala memuji orang-orang yang beriman di dalam ayat-ayat yang banyak, dan menyebutkan pahala yang agung yang Dia siapkan bagi orang-orang yang beriman, tanpa menyebutkan sedikitpun dari kesalahan mereka –seperti yang diharuskan oleh para pencetus manhaj muwazanah- padahal : ‘Setiap anak Adam adalah selalu berbuat kesalahan”, dan hikmah yang diambil dari menyebut kebaikan mereka tanpa menyebut kejelekan mereka adalah untuk menggerakkan hati setiap manusia agar meniru dan meneladani mereka.

Di sisi lain Allah Subhanahu wa Ta’ala mencela orang-orang kafir dan munafik di dalam ayat-ayat yang banyak tanpa menyebut sedikitpun dari kebaikan mereka, karena kekufuran dan kesesatan mereka telah merusak kebaikan-kebaikan mereka dan menjadikannya tidak bernilai sama sekali seperti debu yang berterbangan. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman.

“Artinya : Dan kami hadapi segala amal yang mereka kerjakan, lalu Kami jadikan amal itu (bagaikan) debu yang berterbangan” [Al-Furqan : 23]

Demikian juga Allah mengkisahkan kepada kita umat-umat terdahulu yang mendustakan rasul-rasul mereka. Allah sebutkan kekufuran dan kebatilan mereka dan kemudian hukuman kepada mereka dan penghancuran mereka, tanpa menyebut sedikitpun dari kebaikan mereka, karena tujuan yang asasi dari penyebutan kisah mereka adalah sebagai peringatan kepada umat-umat sesudah mereka agar menjauhi perbuatan mereka dari kekufuran dan pendustaan kepada rasul-rasul mereka, supaya tidak mengalami kehancuran sebagaimana kehancuran mereka.

Kemudian Allah juga menyebut orang-orang Yahudi dan Nashara dengan sifat-sifat buruk yang ada pada mereka, dan mengancam mereka dengan ancaman yang keras, tanpa menyebut sedikitpun dari kebaikan mereka yang telah mereka hilangkan nilainya dengan kekufuran dan pendustaan mereka terhadap Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam serta penyelewengan mereka terhadap kitab mereka.

Inilah manhaj Allah didalam mencela orang-orang kafir dan munafiq, dan inilah manhaj yang paling adil, karena Allah adalah Dzat yang Maha adil.

[B]. Peringatan Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam Kepada Umatnya Dari Bahaya Ahli Bid’ah.

Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam telah memperingatkan umatnya dari kejelekan ahli bid’ah tanpa menyebut sedikitpun dari kebaikan mereka, karena kebaikan mereka tidak bernilai, sedangkan bahaya mereka lebih besar daripada maslahat yang diharapkan dari kebaikan mereka.

Dari Aisyah bahwasanya dia berkata : Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam membaca ayat ini.

“Artinya : Dia-lah yang menurunkan Al-Kitab (Al-Qur’an) kepada kalian. Di antara (isi)nya ada ayat-ayat yang muhkamat itulah pokok-pokok isi Al-Qur’an dan yang lain (ayat-ayat) mutasyaabihat. Adapun orang-orang yang dalam hatinya condong kepada kesesatan,maka mereka mengikuti sebagian ayat-ayat yang mutasyabihat untuk menimbulkan fitnah dan untuk mencari-cari ta’wilnya, padahal tidak ada yang mengetahui ta’wilnya melainkan Allah. Dan orang-orang yang mendalam ilmunya berkata : ‘Kami beriman keapda ayat-ayat yang mutasyabihat, semuanya itu dari sisi Tuhan kami”. Dan tidak dapat mengambil pelajaran (daripadanya) melainkan orang-orang yang berakal” [Ali-Imran : 7]

Aisyah berkata : “Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda : ‘Jika engkau melihat orang-orang yang mengikuti sebagian ayat-ayat yang mutasyabihat ; mereka itulah yang disebut Allah dalam kitabNya, maka awaslah dari mereka!” [Muttafaq ‘Alaih, Shahih Bukhari 4547 dan Shahih Muslim 2665]

Dari Abu Hurairah bahwasanya Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda.

“Artinya : Akan datang pada akhir umarku orang-orang yang menyampaikan kepada kalian apa-apa yang tidak pernah kalian dengar dan tidak pernah didengar oleh bapak-bapak kalian, maka awaslah kalian dari mereka!” [Sahih Muslim 1/12]

Merupakan hal yang dimaklumi bahwa ahli bid’ah tentu memiliki kebaikan, tetapi Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak menoleh sama sekali kebaikan mereka, dan tidak menyebutkannya sama sekali, dan tidak mengatakan : “Ambillah manfaat dari kebaikan mereka dan sebutkanlah kebaikan mereka ketika mengkritik mereka!”

Tetapi sangat disayangkan bahwa keadaan sekarang ini telah berbalik seratus delapan puluh derajat, sekarang sering kita dapati seorang yang mengaku bermanhaj salaf tetapi dia loyal kepada ahli bid’ah, membela manhaj ahli bid’ah dan membela tulisan-tulisan mereka dengan mati-matian, dan di lain pihak mereka jauhkan umat dari ahli haq dan ahli sunnah ! Inna Lillahi wa Inna Ilaihi Raaji’uun.

[C]. Sikap Para Sahabat Dan Tabi’in Terhadap Ahli Bid’ah

Ibnu Umar berkata tentang kelompok qadariyyah : “Jika engkau bertemu mereka beritahukan bahwa Ibnu Umar berlepas diri dari mereka, dan mereka berlepas diri dari Ibnu Umar” [Diriwayatkan oleh Muslim dalam Sahihnya 1/140]

Abu Qilabah berkata : “Janganlah kalian duduk-duduk dengan ahli ahwa, karena aku khawatir mereka akan menjerumuskan ke dalam kesesatan mereka, dan mengaburkan persepsi kalian terhadap mereka” [Syarhus Sunnah oleh Imam Baghowi 1/227]

Maka lihatlah bagaimana sikap tegas para sahabat, tabi’in dan para imam terhadap ahli bid’ah, mereka peringatkan umat dari kejelekan ahli bid’ah tanpa menyebut sedikitpun dari kebaikan mereka, hal ini didasarkan atas pemahaman mereka yang benar terhadap kaidah-kaidah Islam, di antaranya kaidah masyhur.

“Menjauhkan mafsadah (kerusakan) didahulukan atas mendatangkan mashlahat”

[D]. Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam Meyebutkan Aib Orang-orang Tertentu Tanpa Menyebut Kebaikan Mereka Dengan Tujuan Nasihat.

[1]. Dari Aisyah bahwasanya ada seorang laki-laki meminta izin untuk bertemu dengan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam, ketika Rasullullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam melihatnya maka dia bersabda : “Dia adalah sejelek-jelek kerabat”. Ketika dia duduk, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bermuka manis, dan bersikap ramah kepadanya, ketika orang itu telah pergi Aisyah berkata kepada Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam : “Wahai Rasulullah ketika engkau melihatnya engkau bermuka manis, dan bersikap ramah kepadanya !”. Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda : “Wahai Aisyah, kapan engkau melihatku berbuat keji?! Sesungguhnya sejelek-jelek derajat manusia di sisi Allah adalah orang yang ditinggalkan oleh manusia karena takut kepada kejekannya” [Shahih Bukhari 6032]

Al-Imam Al-Qurthubi berkata :”Hadits ini menunjukkan bolehnya ghibah terhadap orang yang terang-terangan berbuat kefasikan atau kemaksiatan yang keji atau yang semisal itu dari kecurangan dalam menghukumi dan seruan kepada kebid’ahan, dan bolehnya mudarah (bersikap membujuk) terhadap mereka dan menjauhi bahaya kejelekan mereka selama hal itu tidak membawa kepada sikap mudahanah (menjilat) dalam agama Allah” [Fathul Bari 10/452]

[2]. Ketika Fatimah bintu Qois selesai iddahnya, dia dipinang oleh Mu’awiyah bin Abi Sufyan dan Abu Jahm, maka Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam mengatakan kepadanya : “Adapun Abu Jahm maka dia adalah seorang laki-laki yang tidak pernah meletakkan tongkat dari pundaknya (ringan tangan), adapun Mua’wiyah maka dia adalah seorang yang miskin tidak punya harta sama sekali, maka menikahlah dengan Usama bin Zaid” [Shahih Muslim 1480]

Tidak diragukan lagi bahwa Abu Jahm dan Mu’awiyah memiliki banyak keutamaan dan kebaikan, tetapi Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak menyebutkan kebaikan keduanya karena yang diharapkan oleh Fatimah bintu Qois adalah nasihat dan saran Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam tentang dua orang yang meminangnya.

Adapun para pencetus manhaj muwazanah, maka mereka mewajibkan dalam keadaan seperti ini untuk menyebut kebaikan keduanya, tanpa memperdulikan bahwa orang yang meminta nasihat akan semakin bertambah bingung dan bahkan bisa jadi terjerumus ke dalam mudharat.

[3]. Dari Aisyah bahwasanya Hindun bintu Utbah berkata : “Wahai Rasulullah sesungguhnya Abu Sufyan adalah seorang yang pelit, dia tidak memberiku nafkah yang mencukupiku dan mencukupi anak-anaku, kecuali kalau aku mengambil darinya dalam keadaan dia tidak tahu?” Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda : ‘Ambillah apa yang mencukupimu dan mecukupi anak-anakmu dengan cara yang ma’riuf” [Muttafaq ‘Alaih, Shahih Bukhari 3564 dan Shahih Musalim 1714]

Al-Hafidz Ibnu hajar berkata : “Hadits ini menunjukkan bolehnya menyebut seseorang dengan sifat yang tidak dia sukai jika tujuannya untuk meminta fatwa, mengadu, dan yang semisalnya, dan ini adalah salah satu dari keadan-keadaan yang dibolehkan.

Dalam hadits ini Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak mengingkari Hindun ketika menyebutkan kejelekan Abu Sufyan tanpa menyebut kebaikannya, padahal jelas bahwa Abu Sufyan memiliki kebaikan yang banyak.

Adapun para pencetus manhaj muwazanah, maka mereka tidak memperhatikan hal-hal seperti ini, tidak bisa membedakan antara maslahat dan mafsadah, bahkan mereka tinggalkan segi maslahat, mereka remehkan bahaya bid’ah dan mudharatnya, mereka belum sampai kepada faidah nasihat yang telah didapati oleh Islam dan para imam salaf, ketika mereka tinggalkan hal itu, terbayang kepada mereka bahwa menyebut kejelekan dan bid’ah person atau kelompok sebagai peringatan dan nasihat kepada umat merupakan sikap yang tidak adil dan penghianatan !!

[E]. Kritikan Para Imam Terhadap Ahli Bid’ah Dan Para Perawi

Para imam banyak memberikan kritikan terhadap ahli bid’ah dan para perawi, dan mereka tidak pernah mengisyaratkan sama sekali wajibnya memakai manhaj muwazanah. Mereka menulis kitab-kitab tentang Jarh wat Ta’dil, kitab-kitab tentang pembelaan kepada sunnah dan bantahan kepada hali bid’ah dan celaan kepada mereka, kitab-kitab tentang ‘ilal, kitab-kitab tentang hadits-hadits yang maudhu (palsu), dalam keadaan sama sekali tidak mereka wajibkan manhaj muwajanah di dalam kitab-kitab yang mereka tulis, bahkan mereka menulis kitab-kitab yang khusus dalam Jarh (celaan) pada perawi, tanpa mensyaratkan sama sekali manhaj muwazanah ini !

Adapun orang-orang yang mewajibkan manhaj muwazanah maka akan menganggap bahwa yang dilakukan para imam di atas merupakan sikap yang dzolim dan khianat !, kita berlindung kepada Allah dari manhaj yang sesat ini.

[Disalin dari Majalah Al-Furqon edisi 8 Th III hal.25-30. Ketimpangan Manhaj Muwazanah oleh Arif Fathul Ulum bin Ahmad Saifullah, Penerbit Lajnah Dakwah Ma’had Al-Furqon Al-Islami Srowo, Sidayu, Grresik JATIM]
_________
Foote Note
[1]. Nisbah kepada seorang yang bernama Muhammad Surur bin Nayif Zainal Abidin, seorang yang masyhur dengan penyimpangannya dan permusuhannya kepda para ulama salaf di dalam majalahnya As-Sunnah yang terbit di London dan di dalam tulisan-tulisannya. Dia ini dikatakan oleh Syaikhuna Al-Allamah Abdul Muhsin Al-Abbad sebagai seorang yang dengki kepada ulama ahli sunnah, untuk mengenal lebih lanjut tentang dia bisa dibaca Ajwibah Mufidah oleh Syaikh Shalih Al-Fauzan hal. 51-56 dan Fitnatut Takfir wal Hakimiyah oleh Muhammad Al-Husain hal. 92-97
[2]. Nisbah kepda Sayyid Quthb seorang tokoh yang dikenal banyak penyimpangannya dari manhaj yang lurus, untuk membentengi diri dari bahaya pemikirannya bisa membaca kitab Mauriduz Zilat Fai Akhto’i Dhilal oleh Syaikh Abdullah Ad-Duwasiy, dan beberapa kitab Syaikhuna Al-Alamah Rabi’ Al-Madkhaly seperti Adhwa’ Islamiyah ‘Ala Aqidati Sayyid Quthb wa Fikrihi, Matha’in Sayyid Quthb Fi Ashaabi Rasulillah Shallallahu ‘alaihi wa sallam dan Al-Awashim Mimma Fi Kutub Sayyid Quthb Minal Qowasim.
[3]. Lihat Manhaj Ahlis sunnah wal Jama’ah Fi Taqwimir Rijal wa Muallaftihim oleh Ahmad Shouyan! Hal 27. Dhawabith Raiisiyyah Fi Taqwimil Jama’atil Islamiyah oleh Zaid Az-Zaid ! sebagaimana dalam Al-Quthbiyyah Hiyal Fitnah oleh Abu Ibrahim Al-‘Adnani hal.39, Min Ahkhlaqid Da’iyyah oleh Salman Al-Audah! Hal.40 sebagaimana dalam Manhaj Ahlis Sunnah wal Jama’ah Fi Naqdir Rijal wal Kutub wat Thowaif oleh Syaikhuna (guru kami) Al-Allamah Rabi’ bin Hadi Al-Madkhali hal. 45 dan Mauqif Ahlis Sunnah wal Jama’ah minal Bida’ wal Mubtadi’ah oleh Abdurrahman Abdul Khaliq! Hal. 1-2 sebagaimana dalam Jama’ah Wahidah oleh Syaikhuna (guru kami) Al-Allamah Rabi’ bin Hadi Al-Madkhali hal. 149
[4]. Al-Quthbiyyah Hiyal Fitnah oleh Abu Ibrahim Al-‘Adnani hal. 27

Ketimpangan Manhaj Muwazanah, Syubhat Manhaj Muwazanah Dan Bantahannya

KETIMPANGAN MANHAJ MUWAZANAH

Disusun Ustadz Arif Fathul Ulum bin Ahmad Saifullah

SYUBHAT MANHAJ MUWAZANAH DAN BANTAHANNYA

Zaid Az-Zaid berkata : “Al-Qur’an dan Sunnah telah mengajarkan kepada kita manhaj (muwazanah) ini, diantaranya firman Allah.

“Artinya : Di Antara Ahli Kitab ada orang yang jika kamu mempercayakan kepadanya harta yang banyak, dikembalikannya kepadamu ; dan diantara mereka ada orang yang jika kamu mempercayakan kepadanya satu Dinar, tidak dikembalikannya padamu, kecuali jika kamu selalu menagihnya” [Ali-Imran : 75]

Celaan diatas diiringi, bahkan didahului oleh pujian, dan penjelasan keadaan sebagia ahli kitab dan pengakuan bahwa sebagan mereka menunaikan amanah! [5]

Berkata Syaikhuna Al-Allamah Rabi’ bin Hadi Al-Madkhali membantah syubhat ini :

Pertama.
Sepanjang sepengetahuanku tidak ada seorangpun yang mengatakan bahwa ayat ini menunjukkan atas muwazanah antara kebaikan dan kejelekan atau yang semakna dengan ibarat ini, dan tidak selayaknya seorang muslim keluar dari fiqh salaf dan pemahaman mereka.

Kedua.
Yang difahami oleh para ulama tafsir dari ayat di atas adalah peringatan kepada umat Islam dari kejelekan ahli kitab sebagaimana dikatakan oleh Al-Imam Qurthubi di dalam Tafsirnya 4/116 : Allah mengkhabarkan bahwa di antara ahli kitab ada yang amanat dan ada yang pengkhianat, sedangkan orang-orang yang beriman tidak bisa memilah-milah mereka, maka selayaknya menjauhi ahli kitab semuanya.

Ketiga.
Di dalam kitab dan Sunnah banyak didapati nash-nash yang banyak sekali dalam mencela orang-orang Yahudi dan Nashrani, yang tidak menyebutkan kebaikan dan kejelekan mereka sekaligus, seperti firman Allah.

“Artinya : Dan janganlah kamu campur adukkan yang hak dengan yang bathil dan janganlah kamu sembunyikan yang hak itu, sedang kamu mengetahui” [Al-Baqarah : 42]

Dan firman Allah.

“Artinya : Mereka menjadikan orang-orang alimnya, dan rahib-rahib mereka sebagai tuhan selain Allah, dan (juga mereka mempertahankan) Al-Masih putera Maryam ; padahal mereka hanya disuruh menyembah Tuhan Yang Maha Esa, tidak ada Tuhan (yang berhak disembah) selain Dia, Maha Suci Allah dari apa yang mereka persekutukan” [At-Taubah : 31]

Dimanakah manhaj muwazanah dalam nash-nash di atas ?!

Sesungguhnya penetapan manhaj muwazanah yang bid’ah in akan membuka pintu kepada orang-orang Yahudi, Nashrani, Komunis, dan Rasionalis untuk menyerang kaum muslimin, mencela Allah dan rasulnya, dan apa yang ditulis oleh para ulama Islam dalam mengkritik kelompok-kelompok sesat, dalam masalah jarh wat ta’dil. Hal ini merupakan bukti yang jelas atas kebatilan manhaj muwazanah ini.[6]

FATWA PARA ULAMA TENTANG MANHAJ MUWAZANAH

[1]. Fatwa Samahatusy Syaikh Abdul Aziz bin Abdullah bin Baz rahimahullah.

Ada seorang yang bertanya kepada Samahatusy Syaikh : “Ada orang-orang yang mewajibkan muwazanah ; yaitu jika engkau mengkritik seorang ahli bid’ah maka wajib atasmu untuk menyebutkan kebaikannya agar engkau tidak mendholiminya?”.

Maka Samahatusy Syaikh menjawab : “Tidak, hal ini tidak harus, hal ini tidak harus, karena inilah jika engkau melihat kitab-kitab Ahli Sunnah, maka engkau akan mendapati apa yang dimaksud yaitu tahdzir, bacalah dalam kitab Bukhari Kholqu Af’alil Ibad dan Kitabul Adab dari Shahihnya, kitab As-Sunnah oleh Abdullah bin Ahmad bin Hanbal, kitab Tauhid oleh Ibnu Khuzaimah, Bantahan Utsman bin Said Ad-Darimi kepada Ahli Bida’… dan yang lainnya.

Mereka tulis kitab-kitab ini sebagai peringatan kepada setiap muslim dari kebatilan ahli bid’ah, dan bukan bertujuan memaparkan kebaikan-kebaikan mereka … maka yang dimaksud adalah peringatan kepada setiap muslim dari kebatilan mereka, sedangkan kebaikan mereka tidak bernilai sama sekali bagi yang kafir dari mereka, jika kebid’ahan mereka adalah bid’ah yang mengkafirkan pelakunya maka hapuslah kebaikannya, dan jika bid’ahnya belum mengkafirkannya maka dia berada dalam bahaya, maka yang dimaksud adalah penjelasan kesalahan mereka yang wajib untuk dihindari dan dijauhi”

[Dari kaset Ta’lim Samahatusy Syaikh Abdul Aziz bin Abdullah bin Baz di Thoif tahun 1413H sebagaimana dalam Manhaj Ahlis Sunnah wal Jama’ah Fi Naqdir Rijal Wal Kutub wath Thowaif oleh Syaikhuna Al-Alamah Rabi’ bin Hadi Al-Madkhali hal. 9]

[2] Fatwa Syaikh Al-Alamah Shalih bin Fauzan Al-Fauzan

Ada pertanyaan yang dilontarkan kepada Fadhilatusy Syaikh Shalih bin Fauzan Al-Fauzan –setelah beliau ditanya tentang beberapa pertanyaan mengenai kelompok-kelompok Islam-. Baik ya Syaikh apakah engkau memperingatkan manusia dari mereka tanpa menyebut kebaikan mereka, atau engkau sebutkan kebaikan dan kejelekan mereka secara bersamaan ?

Maka Fadhilatusy Syaikh menjawab : “Jika engkau menyebut kebaikan mereka berarti engkau mengajak (manusia,-pent) kepada mereka, tidak ; jangan engkau sebut kebaikan mereka!, tetapi sebutkan kesalahan mereka saja, karena tugasmu bukanlah untuk mempelajari keadaan mereka dan menilainya… tetapi tugasmu adalah menyebutkan kesalahan yang ada pada mereka agar mereka bertaubat darinya, dan agar selain mereka menjauhi kesalahan itu. Demikian juga kesalahan yang ada pada mereka bisa jadi menghilangkan kebaikan mereka semuanya jika kesalahan itu berupa kekufuran atau kesyirikan, bisa jadi mengalahkan kebaikan mereka, dan bisa jadi itu adalah kebaikan menurut pandanganmu padahal sebenarnya bukanlah kebaikan di sisi Allah”

[Ajwibah Mufidah ‘An As’Ilatil Manahijil Jadidah hal. 13-14]

[3]. Fatwa Syaikh Al-Allamah Al-Muhaddits Muhammad Nashiruddin Al-Albani rahimahullah.

Ketika ditanya tentang manhaj muwazanah Syaikh Al-Albani berkata : ‘Ini adalah cara-cara ahli bid’ah. Ketika seorang ahli hadist menilai seorang perawi yang shalih atau alim atau faqih dengan perkataannya : “Fulan jelek hafalannya”, apakah dia juga mengatakan bahwa dia adalah seorang muslim atau seorang yang shalih atau seorang yang faqih atau seorang yang diambil dalam istinbath hukumnya ?! Allahu Akbar. Pada hakekatnya kaidah yang terdahulu (yaitu kaidah : setiap kebaikan adalah dalam ittiba’ kepada salaf) adalah kaidah yang sangat penting sekali yang mencakup cabang-cabang yang banyak khususnya pada zaman ini.

Dari mana mereka (pemilik manhaj muwazanah) mendapatkan dalil yang mengatakan jika seorang hendak menjelaskan kesalahan seorang muslim –jika dia adalah seorang da’i atau bukan- maka wajib bagi dia melakukan cermah yang mennjelaskan kebaikan orang tadi dari awal sampai akhir, Allahu Akbar ini adalah sesuatu yang aneh. Demi Allah ini adalah sesuatu yang aneh….”

[Silsilatul Huda wan Nur kaset no. 850 sebagaimana dalam Nashrul Aziz oleh Syaikhhuna Al-Allamah Rabi’ bin Hadi Al-Madkhali hal. 96-97]

PENUTUP

Jelaslah dari uraian di atas bahwa :
[1]. Apa yang didakwakan dari wajibnya memakai manhaj muwazanah dalam mengkritik person, tulisan, dan kelompok adalah dakwaan yang tidak ada dalilnya sama sekali dari kitab maupun sunnah, maka manhaj muwazanah adalah manhaj yang asing dan bid’ah.
[2]. Ulama salaf tidak pernah memakai manhaj muwazanah dalam mengkritik person, tulisan dan kelompok
[3]. Wajib memperingatkan umat dari bid’ah dan ahlinya dengan kesepakatan kaum muslimin, dan boleh bahkan wajib menyebut kebid’ahan mereka dan menjauhkan manusia dari mereka.
[4]. Para ulama salaf telah menulis kitab-kitab dalam jarh wa ta’dil dan kitab-kitab yang khusus dalam jarh saja, kitab-kitab ini jumlahnya banyak sekali, tidak ada seorangpun dari mereka yang mewajibkan atau menyunahkan muwazanah, bahkan mereka mewajibkan jarh saja.
[5]. Para ulama salaf telah menulis kitab-kitab tentang sunnah dan bantahan kepad bid’ah dan ahlinya tanpa memakai manhaj muwazanah.
[6]. Manhaj salaf dilandaskan atas maslahat dan nasihat kepada umat.
[7]. Manhaj salaf adalah benteng yang teguh di dalam melindungi kaum muslimin dari bahaya dan makar ahli bid’ah
[8]. Manhaj muwazanah akan membuka pintu kepada semua ahli bid’ah untuk merusak aqidah kaum muslimin dan melancarkan berbagai macam fitnah kepada mereka.
[9]. Wajib bagi setiap muslim untuk waspada trehadap pemikiran-pemikiran yang membahayakan aqidah dan manhajnya, tidak sepantasnya setiap muslim untuk mengikuti setiap seruan yang memperdayakan, yang akan menyebabkan tercabutnya nikmat yang paling agung, yaitu keteguhan di atas manhaj salaf.

[Disalin dari Majalah Al-Furqon edisi 8 Th III hal.25-30. Ketimpangan Manhaj Muwazanah oleh Arif Fathul Ulum bin Ahmad Saifullah, Penerbit Lajnah Dakwah Ma’had Al-Furqon Al-Islami Srowo, Sidayu, Grresik JATIM]
_________
Foote Note
[5]. Dhawabith Raiisiyyah oleh Zaid Az-Zaid! Sebagaimana dalam Al-Quthbiyyah Hiyal Fitnah oleh Abu Ibrahim Al-Adnani hal. 43 dan semakna dengan ini perkataan Ahmad Shouyan dalam Manhaj Ahli Sunnah wal Jama’ah Fi Taqwimir Rijal wa Muallafatihim sebagaimana dalam Manhaj Ahlis Sunnah wal Jama’ah Fi Naqdir Rijal wal Kutub wath Thowaif oleh Syaikhuna Al-Allamah Rabi’ bin Hadi Al-Madkhali hal. 49
[6]. Manhaj Ahlis Sunnah wal Jama’ah Fi Naqdir Rijal Wal Kutub wath Thowaif hal. 49-51

sumber :https://almanhaj.or.id/1786-ketimpangan-manhaj-muwazanah-manhaj-islam-dan-para-imam-dalam-mengkritik-perkataan-dan-person.html

Print Friendly, PDF & Email

Khalid Basalamah Bukan Salafi Ustadz Khalid Aslibumiayy Tahdziran Ustadz Kholid Basalamah Tahdzir Khalid Basalamah Tahdzir Khalid

18 Comments

  1. Saya baru mengenal manhaj salaf, dan pertama kali saya tau mengenai manhaj tsb dr kajian ust KB.

    Apakah yg diajarkan beliau sepenuhnya salah?

    Mohon informasinya, karena sy yang baru hijrah ini jd semakin bingung.

    Ya, banyak juga koq kaum muslimin yang mengenal manhaj salaf dari tokoh2 yang memusuhi dakwah tauhid, adapula yang mengenal manhaj salaf dari ustadz yang suka mencaci sesama salafi,

    Namun setelah mengenal manhaj salaf, dan mengetahui mana ustadz yang lebih selamat untuk diambil ilmunya, maka dia bisa memilih, dan meninggalkan ustadz yg suka mencela tersebut,..

    Terkait dgn UKB, dia tadinya adalah dai WI (wahdah islamiyah) lalu pindah ke manhaj salaf, tapi bukan duduk dulu di majlis ustadz yang memang mendakwahkan manhaj salaf, tapi ini langsung menjadi penceramah,..

    Ustadz salafi itu dikenal, dimana belajarnya, siapa gurunya,

    Bukan ustadz yang tiba-tiba muncul,apalagi efek media juga, bertebarnya video ustadz tersebut, lalu dishare oleh ikhwahbyg sdh pada ngaji, dll sehingga dianggap itu adalah ustadz salafi,

    Tapi lucunya, ketika menjelaskan kelompok yang jelas penyimpangannya, kok dijawab dgn jawaban ngambang, bahkan menyatakan kelompok tsb dakwahnya baik, tidak memiliki kesalahan yang signifikan,.

    Jadi, jangan asal ngaji, baca di sini ulasannya

    Insya Allah saya juga mulai memposting video-video ceramah ustadz ahlusunnah waljamaah, silahkan lihat di http://www.video.aslibumiayu.net

  2. assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh,
    alhamdulillah dapat penjelasan.

    kalau pendapat ust.UKB ttg JT tsb begitu, tentu salah dan apakah tidak ada saling mengingatkan sesama penyebar dakwah ?

    kalau lihat record di youtube UKB termasuk tertinggi ratingnya dalam frekuensi di tonton masyarakat.

    dan bukannya juga UKB lulusan univ.Madinah dan melanjutkan doktoralnya di Malaysia ?

    afwan, wassalam, syukron

    Wa’alaikumussalamwarahmatullahi wabarakatuh

    Saya mendengar kabar memang sudah dinasehati, tapi masih sama pendapatnya,..

    Video pertama itu pendapatnya sebelum dinasehati,

    Adapun video kedua itu setelah dinasehati, dan ternyata kesimpulannya masih sama,

    Lulusan LIPIA atau universitas madinah, itu bukan jaminan kalau lulusannya PASTI bermanhaj Salaf,

    Walaupun lembaga tersebut diajarkan disana tentang akidah yang benar, diajarkan tentang manhaj salaf,

    Tapi itu kembali kepada person yg belajar di tempat tersebut,

    Banyak kok yang sekolah di lembaga tersebut, ketika kembali ke kelompoknya, maka akan seperti kelompoknya, pemikirannya akan sama,

    Banyak karena salah pergaulan, salah baca buku atau tanpa bimbingan guru, maka akan mengambil kesimpulan yang salah,
    Contoh..
    Gembong takfiri di indonesia, dulunya sekolah di LIPIA, beliau hafal alquran dan hadits, bahasa arabnya bagus, menjadi imam masjid, akan tetapi kepandaiannya membawa dia ke pemikiran yang rusak, contohnya aman abdurrahman,

    Dan di lembaga tersebut, mereka akan ngumpul dengan komunitas yang sepemikiran dengan kelompoknya,..

    Yang pemikirannya takfiri, di lipia ada komunitas yg namanya hawari, yg “aswaja” ngumpul dengan “aswaja” dan yang lurus diatas manhaj salaf, maka akan ngumpul dengan yang sepemikiran,..

    Demikian pula di universitas islam madinah,

    Jadi itu kembali kepada person, bukan karena lembaganya, sebab lembaga tersebut justru mengajarkan tentang manhaj salaf,

    Banyak di indonesia lulusan UIM yang aneh pemikirannya,

    Jadi tidak semua lulusan lembaga itu berarti lurus manhajnya, ada dari mereka yg gabung ke parlemen,terjun ke politik, dll

    Dan musibahnya, sekarang jaman share, mudah menshare video2 sesuka hati, apalagi kondisi masyarakat indonesia yg mulai terbuka, mau menerima dalil, ini dimanfaatkan oleh pihak2 yang berkepentingan untuk berenang sambil minum air,..

    Tiba-tiba muncul wajah-wajah baru, yang tidak diketahui sebelumnya belajar dimana, muridnya siapa, lalu terkenal dimana-mana, karena tampilan yang serupa dengan ustadz2 salafi, yang diajarkan pun rujukannya dari kitab ulama salafi,..

    Sehingga wajar banyak yang menganggap itu sama,..

    Makanya…jangan asal ngaji, baca di sini

  3. https://www.youtube.com/watch?v=eJsh6YUWGNs&feature=youtu.be
    2:04:23
    ini penjelasan dari UKB.
    Bgmn menurut antum?

    Sungguh aneh, kalau dia ga paham kalau JT itu sesat,. dan itu bukan satu kali pernyataanya,. ada dua video di kesempatan berbeda,.
    Dan klarifikasi UKB tentang FPI , itu kejadian enam tahun yang lalu, nah, saat enam tahun yang lalu dia masih di harokah apa? sudah klarifikasi juga belum kalau dia itu dulu adalah dai WI ( wahdah islamiyah ) yang pusatnya di makasar,. sudah taubatkah ukb dari WI ?

    karena WI itu membolehkan demonstrasi, makanya pimpinan WI saat aksi di monas kemarin ikut hadir, dan WESAL TV yang UKB sebagai pembina tv tersebut ikut meliput secara LIVE / langsung acara di monas tersebut,. dan ini belum ada klarifikasinya,.

    Ingat…
    Ustadz SALAFI itu dikenal..
    Dimana dia belajarnya, berguru kepada siapa,

    Bukan ustadz yang TIBA-TIBA muncul,
    Memanfaatkan situasi dimana dakwah salafi sudah mulai diterima di masyarakat, bermunculan dai-dai yang tidak jelas murid siapa, tadinya di firqah mana, lalu secara tampilan sama dgn ustadz salafi, yang disampaikannjuga merujuk kepada kitab-kitab ulama manhaj salaf, lalu dianggap itu ustadz salafi?

    Ustadz salafi paham manhajnya kelompok2 yang ada, baik sekarang atau 6 tahun yang lalu,..

    Sekarang tahun 2017 , 6 tahun ke belakang itu tahun 2000an,

    Ustadz Abdul hakim abdat berdakwah sudah sejak tahun 80an, sangat paham tentang kesesatan jamaah tabligh, masa UKB tidak tahu? Demikian pula ttg kelompok yang sering menghina penguasa, melakukan tindakan yang sebenarnya itu adalah wewenang penguasa,..

  4. Semakin kesini semakin tampak keliatan sikap ta’asub dan lomba tahdzir trhadap sesama salafy.

    tidak ustadz nya,tidak muridnya,semua hobi saling menyerang sampai ke dalam background2 yg seharusnya tdk perlu diangkat.

    Menganggap diri salafy sejati dan melabeli lawan dengan surury,hawary,dan macam2 sebutan yg lain.dan juga blm tentu yg tahdzir lebih sharih hujahnya dripada yg ditahdzir.

    Lalu para ahlul bidah menari diatas keadaan ini dan menyerang pakai celah saling tahdzirnya para salafiyyin.

    Bagi saudara2 yg mengaku berdiri diatas manhaj salaf ini,sya mau berbagi saran jangan terlalu menuruti egoisitas dlm duduk di majelis.seoeang ustadz bukan malaikat yg slalu bnr.

    Jika sudah tegak hujah bahwa dia salah maka cukup ketahuilah saja bagimu.tak perlu untuk memisahkan diri dari majelisnya seakan2 dia kau anggap sama dengan ahlul bidah.

    Karna ta’asub inilah awal bencana yg akan membuatmu melompat dari manhaj yg haq ini.

    Ini contoh akibat salah pergaulan..
    Sedikit demi sedikit syubhat masuk,..
    Na’udzubillaahi min dzalik

    Hati kita itu lemah, dan syubhat itu kencang menyambar,

    Ustadz salafi itu dikenal, bukan sekedar tampilan berjenggot,celana ngatung, kajiannya merujuk pada kitab ulama bermanhaj salaf, lalu dianggap sebagai ustadz salafi

    Makanya Jangan asal ngaji, baca postingannya di sini

    Sekarang, dakwah salafi sudah meluas, diterima oleh kaum muslimin..

    Lalu muncullah dai-dai baru yang tidak dikenal sebelumnya, dimana belajarnya, siapa gurunya,…

    Lalu dia menyampaikan masalah tazkiyatun nufus, masalah keluaraga,.. Dan karena bahasanya yang memukau, rujukannya dari kitab para ulama yang bermanhaj salaf,..lalu tertipulah orang-orang yang baru kenal pinggiran dakwah salafi,

    Asal casing sama, lalu dianggap sebagai ustadz salafi,

    Maka tidak heran, yang ngaji pada orang2 semisal ustadz tersebut adalah orang-orang baru, yang belum paham manhaj salaf secara tafshil,terperinci, orang-orang awam,

    Selain itu adalah dampak media, terlalu banyak yg menshare videonya, apalagi ustadznya punya media seperti televisi,

    Jadilah ustadz yg nebeng tenar, ibarat lahan persawahan yang siap tanam, dia sudah mendapati lahan yang siap tanam, tidak ikut menyiapkan lahan tersebut, lalu dia nanam tanpa merasa bersalah pada lahan orang lain tersebut,lalu mengklaim itu adalah lahan sawahnya juga,..

    Dakwahnya cari aman, maka ga aneh jika menerapkan manhaj muwaazanah

    Syubhat itu untuk dijauhi, sebab jija syubhat sudah masuk, maka akan sulit mengenali kebenaran, baca ulasannya di sini

    • Cba kita perhatikan:

      – Syaikh Yahya Al-Hajuri (murid senior Syaikh Muqbil)
      mentahdzir Ustadz Luqman Ba’abduh CS, Firanda CS,dan Rodja CS.
      – Ustadz Dzulqarnain Muhammad Sanusi Al-Makassari
      dan Ustadz Afifuddin mentahdzir Ustadz Firanda Andirja
      dan Radio Rodja.
      – Ustadz Luqman Ba’abduh mentahdzir Ustadz
      Dzulkarnain CS dan memfatwakan bahwa Dzulkarnain
      CS adalah MLM (Mutalawwin La’ib Makir).
      – Ulama Salafi dari madinah, yakni Syaikh DR.Abdullah
      Al-Bukhari menyebut Syaikh Muqbil Bin Hadi Al-Wadi’i
      sebagai khawarij, meyebut Ust.Firanda sebagai ‘Dajjal’,
      dan menyebut Ust.DR.Ali Musri sebagai pendusta dan
      ‘khabits’.
      – Ustadz DR.Ali Musri di tahdzir Ustadz Luqman
      Ba’abduh, sedangkan Ust.Luqman Ba’abduh di katakan
      MALING oleh Ustadz Ali Musri karena -kata dia- pernah
      mencuri kitab seharga kurang lebih 200 juta.
      – Ustadz Agus Hasan Bashori dan Syaikh Mamduh
      Farhan Al-Buhairi di tahdzir oleh Ustadz Abdurrahman
      At-Tamimi dan di vonis sebagai Sururi.
      – Sedangkan Ustadz Abdurrahman at-Tamimi CS di
      tahdzir sebagai Hizbi oleh para pengikut Ustadz Faisal
      Usamah Mahri dan Ust. Ahmad Khadim.
      – Ustadz Indra Al-Medani, Syaikh Utsman Shalih Al-
      Ifriki, dan para asatidzah Salafi di STAI Aly As-Sunnah
      medan di tahdzir oleh Ustadz Abu Ihsan Al-Medani CS
      dan dianggap sebagai Hizbi, manhajnya tidak jelas, dst.
      – Syaikh Salim Bin ‘Ied Al-Hilali dituduh pencuri oleh
      mereka yang kontra Syaikh Yahya Al-Hajuri.
      – Syaikhain Ibnai Bazmul (dua bersaudara) mentahdzir
      Syaikh Ali Hasan Al-Halabi dan memvonisnya
      mubtadi’ (ahli bid’ah).
      – Syaikh Rabi’ bin Hadi Al-Madkhali menyebut Syaikh Ali
      Hasan Al-Halabi sebagai ahli bid’ah dan mentahdzirnya.
      – Sedangkan Syaikh Falih bin Naafi’ Al Harbi mentahdzir
      Syaikh Rabi’.
      – Di Mesir juga demikian, dua murid Syaikh Al-Albani
      yakni Syaikh Muhammad Hasan dan Syaikh Abu Ishaq
      Al-Huwaini disebut mubtadi’ (ahli bid’ah) oleh murid-
      muridnya Syaikh Muqbil.
      – Ulama besar Salafi sekaliber Syaikh Ibnu Jibrin
      ditahdzir oleh Syaikh Yahya An-Najmi sebagai ikhwani
      (ikhwanul muslimin).
      – Ulama Salafi Syaikh Hasan bin Abdullah Qu’ud
      menyindir Syaikh Rabi’ bahwa bahasa Arab Sayyid
      Quthub sekelas mahasiswa sedangkan bahasa Arab
      Syaikh Robi’ masih sekelas anak-anak i’dadi (pemula).
      – Syaikh Abdul Aziz bin Manshur Al Kinani mentahdzir
      Syaikh Robi’ dan membuat kitab khusus membantah
      “kesesatan” Syaikh Robi’ berjudul Ar-Raddu ‘Alal-
      Ad’iyatis-Salafiyah setebal 239 hal.
      – Syaikh Abu Utsman As-Salafi mentahdzir Syaikh Robi’
      dengan menulis kitab khusus berjudul “61 Ashlan
      Faasidan lifirqati murji’ah al khuluf: Ra-Rabi’iyun”.

      Demikianlah faktanya!

      Saya kasihan sama anda mas, akibat salah pergaulan, terlalu banyak syubhat yang masuk di kepala anda,..

      Padahal buku Mulia Dengan Manhaj Salaf sudah anda Beli, demikian pula Syarah Akidah Ahlussunnah waljamaah, keduanya karya Ustadz Yazid Abdul Qadir Jawas, bahkan kalau tidak salah ingat, anda membeli dua kali,..

      Silahkan anda baca lagi dengan teliti mas , jika ingin tahu apa itu manhaj salaf, baca Buku Mulia Dengan Manhaj Salaf,

      Jika ingin tahu apa akidah yang benar, baca Syarah akidah Ahlusunnah waljamaah,..

      Dan saya berikan ulasan yang menjelaskan penyebab FITNAH yang melanda dakwah salafi di indonesia, yang berujung pada satu tokoh saja, dan yang meneruskan itu adalah murid-muridnya yang TAKLID BUTA padanya, dan lucunya tokoh tersebut sudah tidak dianggap sebagai ustadz salafi, tapi koq tahdzirannya dipegang kuat dan digigit dengan gigi gerahamnya,

      Baca di sini mas

      Saya berterimakasih atas nama-nama yang anda sebutkan, saya butuh untuk membuat postingan tentang fitnah perpecahan ini, dan saya akan membuat diagramnya, lengkap dengan nama-nama ustadznya, siapa yang ada di atas kelompok tersebut, sehingga kaum muslimin tidak bingung dan tertipu lagi, untuk melengkapi artikel yang saya ambil dari web di sini

      • Jangan skedar kasihan mas,
        Coba bantu sya menjawab siapa yg paling benar?
        Dan kalo berkenan silahkan accept moderasi postingan sya yg paling urgent.
        Dan silahkan di list ustadz siapa2 saja yg anda anggap salafi.

        Saya mau buat postingan tentang hal tersebut mas,.

        Tunggu saja,

  5. Ada postingan sya yg paling urgent kenapa tdk di moderasi?
    Apakah antum blm bs untuk mengklarifikasi realitas dari apa yg sya posting trsebut?
    Sya rasa jangan menutupi kenyataan yg sedang terjadi.
    Semua ustadz2 yg saling tahdzir trsebut mengklaim paling benar,lalu beranikah antum menilai siapa yg paling benar?

    Nanti akan terjawab di postingan mas, tunggu saja

  6. Hati2 Menasehati saudara seiman,karna saking getolnya mengkritik sesama tanpa terasa kita pun jatuh dlm ta’asub..

    Ta’asub versi anda,.

    Bedakan antara ihtiram dan ta’asub

  7. postingan2 sya mengenai tabayun knp tdk di confirmed pak admin?
    bagaimana antum mau meluruskan dan mendakwahi muqalid awam jika prtanyaan2 urgent tdk dijawab dan tdk di moderasi?

    Paham apa arti TABAYYUN mas?
    tabayyun itu bahasa jawanya CROSS CEK,
    sudah seperti matahari di siang bolong, apa yang mau ditabayuni mas??

    Kalau dilakukan ngumpet-ngumpet, itu butuh tabayyun, kalau dilakukan di depan orang banyak, videonya tersebar, apa yang mau ditabayuni?
    Justru harus dijelaskan tentang penyimpangan ustadz tersebut, dan dishare di umum juga, agar kaum muslimin tidak tertipu,

  8. ada 5 komentar sya disini yg tdk dimoderasi.apa alasan anda?
    takut pembaca yg lain kena subhat(versi anda)?
    hehehe

    Hak saya tidak meloloskan komentar anda,

  9. Alhamdulillah… semakin terang ana melihat orang-orang yang tidak perlu lagi di ambil ilmu nya dari mereka… Jazaakallahu khairan admin…

    Alhamdulillah

  10. kalau ngga salah ust dzulqarnain sdh rujuk min…

    Rujuk dari mana?
    Ust Abdul hakim tinggal dekat rumah ust dzulqarnain, di pasar minggu,

    Belum ada tuh permintaan maaf dari ust dzul ke ust Abdul Hakim Abdat,

    Banyak mantan jamaah tahdzir LUPA syarat taubat nasuha dari tukang tahdzir serampangan…

    Jika benar dia sudah rujuk, maka wajib bagi dia untuk DUDUK di majlis ilmu ustadz yg LURUS manhajnya, hingga hilang atsar masa lalunya jadibtukang tahdzir, dan ga boleh ngisi menjadi pemateri kajian,

    Radio rodja dan pematerinyapun taknluput dari tahdzir serampangannya, sudah rujukkah dia?
    Rodja dekat dari pasar minggu,
    Pematerinyapun dekat,

    Parahnya lagi, gurunya sendiri pun dicelanya, disebut sebagai salafi goncang, siapa guru ust dzul ini?
    Ustadz Yazid Abdul qadir jawas itulah gurunya, dan bagaimana adab dia kepada gurunya?
    Buruk,..kurang adab, bahkan menjadi murid yang durhaka,

    Ustadz Yazid juga mewanti-wanti kepada ikhwah agar hati-hati terhadap ustadz mantan jamaah tahdzir, jangan langsung dipercaya pengakuan rujuknya hingga terbukti, dia duduk di majlis ilmu para ustadz yang lurus manhajnya, dan terlihat perubahannya

  11. Assalaamu’alaikum akhi, uhibbukum fillah.

    Syukron atas penjelasannya.

    Terkait tindakan yang kita ambil ke UKB (memang jelas terasa, beliau kurang tegas dalam mengajak ke manhaj salaf), tetapi di lain kesempatan beliau tidak setuju demo (meski kurang tegas melarang yg mau demo) dan ini berbeda jauh dengan pentolan WI ust. Zaitun Rasmin (tetangga ane nih di Ciracas, hehe..) yg sangat getol demo nya.

    Pertanyaannya, apakah kita sebaiknya selektif saja dalam mengambil ilmu dari UKB, khususnya jangan yg topik berkaitan manhaj? karena kalau ditinggalkan semua atau di tahzir, khawatir ini berlebihan (menurut ana)seolah-olah dia ahlul bidah dari kalangan sururi/haroki.

    Jujur saja UKB ini jauh lebih baik dan lebih dekat dengan manhaj salaf, dibanding ustadz2 yg tenar di youtube seperti ust. Adi Hidayat, ust. Abdul Somad, ust. Oemar Mita, dsb.

    Mohon tanggapan antum, ana harap comment ana di-publish.

    Jazaakumullah khayran

    Wesal tv, itu kembaran tv milik wqhdah yaitu Umat TV, bedanya di umat tv itu tidak ada ustadz salafi yang jadi pemateri, kalau di wesal tv ada, dan ada ustadz yang bkn salafi yang ngisi di sana, dan ini justru bisa membuat ikhwah terkecoh, dianggapnya sama saja seperti tv sunnah yang lainnya,…

    Dan saat aksi demo 212 wesal tv pun live acara tersebut dari monas,

    Dan UKB itu pembina wesal tv,

    Bahkan saya kenal ustadz salafi yg pernah ngisi di wesal tv, itu seperti tv sururi,..

  12. Saya mendengar kabar Katanya beliau sudah ruju . Apa benar itu ?

    Dai-dai yang katanya rujuk itu harus duduk di majlis ustadz yang lurus manhajnya, minimal 10 tahun, agar syubhat di fikrah lamanya hilang,

    Bukan langsung ngajar jadi pemateri kajian

  13. Afwan. Jadi kita boleh ngambil ilmu dari beliau tidak?
    Apa saja pernyataan atau keyakinan beliau yang menyimpang?
    Mohon pencerahannya karena ana beru kenal manhaj salaf

    Ambil ilmu dari ustadz yang dikenal kokoh di atas manhaj salaf, jelas di mana belajar manhaj salafnya, siapa gurunya, khususnya guru yang ada di indonesia,..

    Bukan ustadz yang tiba-tiba muncul karena efek media

  14. Assalamu’alaykum

    Ustad, mengapa comment yang menyatakan tentang UKB begini & begitu seperti yang antum jelaskan di beberapa comment sebelumnya tidak dihapus?

    Afwan, yang ana tahu bahwa sudah ada klarifikasi dari UKB sendiri dan juga ana lihat postingan Ustadz Abu Yahya Badrussalam yang memberikan statement bahwa “beliau (UKB) diatas manhaj salaf dan penyeru kepada sunnah.. Beliau da’i yang tawadlu dan mudah menerima nasehat”
    Yah begitu sekilas statement dari Ustad Badrussalam yang ana baca.

    Syukron

    Wa’alaikumussalamwarahmatullah,

    Saya tambahkan biar anda paham,
    TRANSKRIP ISI PERNYATAAN USTADZ ABDURRAHMAN THOYYIB Lc

    Alhamdulillah kita terima klarifikasinya cuma jangan kebangetan…

    Makanya apa ??

    Harus belajar dulu aqidah manhaj Salaf sebelum jadi dai….
    Apa lagi kita kenal dia seorang dai lintas manhaj
    dulunya bukan salafi….

    TIBA TIBA DIANGKAT BEGITU SAJA…

    tanpa adanya pembelajaran lagi..aqidah dan manhaj salafi-nya…yang salah juga diantaranya kita

    Kita yang meninggikan dia …
    Kita yang menjadikan dia seperti itu…
    Makanya sekali lagi…
    HARUS KITA SELEKTIF…
    Kalo nda’…bahaya terhadap diri (kita) dan Dakwah Salafiyah ini

    (Selesai Transkrip ucapan Ustadz Abduraahman Thoyib Lc)


    UKB adalah Ex dai Wahdah Islamiyah yang BELUM PERNAH MENYAMPAIKAN ALASAN RUJUKNYA DARI ORMAS INI….sampai sekarang..berbeda dengan ustadz2 lain ex wahdah yang ruju’ ke mahaj salaf kemudian menjelaskan pada ummat akan penyimpangan2 hizbnya yang dulu yakni WI

    Bisa jadi beliau belum rujuk dari WI…dan beliau ini diketahui masih dekat dengan mereka…

    Kami mengikuti ucapan asatidzah ahlus sunnah bahwa WI bukan Salafi mereka Haroki sebagaimana HASMI dan pergerakan yang seperti keduanya

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*