Sebuah Faedah Dari Majlis Pertama SYAIKH IBRAHIM BIN ‘AMIR AR-RUHAILI -hafizhahullaah-

Sebuah Faedah Dari Majlis Pertama SYAIKH IBRAHIM BIN ‘AMIR AR-RUHAILI -hafizhahullaah-

Demonstrasi adalah pintu untuk pemberontakan.

Fitnahnya telah mengenai sebagian Ahlus Sunnah; sehingga musuh mereka mengatakan:

“Bukannya kemarin kalian mengingkari demontrasi?!”

Maka dijawab: “Ini demonstrasi damai … ini demonstrasi Salafi.”

(Kata Syaikh Ibrahim:) Apa bedanya demonstrasi ikhwani dengan demonstrasi Salafi???!!!

Salafiyyah berlepas diri dari demonstrasi. Adapun sebagian orang yang menisbatkan diri kepada Salafi; maka ada yang ikut berdemonstrasi dari sebagian orang yang terkena syubhat.

Sebagian mereka berkata: “Kalau pemerintah membolehkan demo; maka berarti hal itu boleh.”

Maka aku katakan: Pertama kali lihatlah kepada Hukum demonstrasi: Apakah wajib, atau sunnah, atau makruh, atau haram?

Melihat kepada hakekatnya; maka demonstrasi adalah: keluarnya manusia ke jalan untuk mengingkari pemerintah; agar mau mengikuti tuntutan manusia.

Dan ini bukanlah cara yang syar’i, dalil-dalil menunjukkan tertolaknya cara ini karena:

– Mengingkari pemerintah tidak boleh terang-terangan.

– Kemudian juga demonstrasi ini bisa menjadi tempat para penyusup yang menginginkan kekacauan.

– Dan juga Nabi -shallallaahu ‘alaihi wa sallam- bersabda

أَعْطُوا الطَّرِيقَ حَقَّهُ

“Berikanlah hak jalan!”

Sedangkan dengan demonstrasi: Maka hak jalan akan terganggu.

Sehingga walaupun pemerintah membolehkan demonstrasi -atau bahkan memerintahkannya-; maka jangan kalian ikuti, karena demonstrasi itu haram.

Dan TIDAK BOLEH bagi PEMERINTAH: Untuk membolehkan sesuatu yang haram untuk manusia.

Dan hak pemerintah bukanlah untuk dirinya, akan tetapi untuk Umat, selama dia menjadi penguasa atau pemerintah; maka tidak boleh baginya: untuk membuat manusia menjadi berani terhadap dirinya.

Oleh karena itulah menjadi jelas bahwa: Walaupun pemerintah membolehkan demonstrasi; maka jangan diikuti; karena maslahatnya adalah: untuk maslahat umat….untuk maslahat jalan…. untuk maslahat kaum muslimin.

Dan fitnah (demonstrasi) ini -sangat disayangkan-: sebagian orang yang ILMUNYA TIDAK TA’SHIIL (tidak memiliki pondasi); dia lemah dalam menghadapinya, tidak ada yang bisa memahami kecuali yang faham tentang “Ushuul” dari masalah ini.

Sehingga dengan sebab fitnah (demonstrasi) ini; Umat terbagi menjadi beberapa kelompok:

– Yang Berdemonstrasi,

– Ada juga yang tidak bergabung bersama demonstran; akan tetapi MEREKA TIDAK MENGINGKARI,

– Dan tidak ada yang bisa faham kecuali SEDIKIT DARI AHLI ILMU YANG MENGINGKARI perkara-perkara ini; sehingga mereka disifati dengan orang-orang yang menggembosi.

Orang-orang yang pro demonstrasi mengatakan: “Kalian menggembosi umat ini! Kami ingin menegakkan Kitabullah dan menghilangkan thaghut ini; akan tetapi kalian menghalangi di hadapan kami!!”

Dan mereka juga dijulukki dengan ulama penguasa. Maka hal ini tidak membahayakan Ahlus Sunnah sama sekali.

-Disarikan dengan ringkas oleh: Ahmad Hendrix-

https://www.facebook.com/ahmadhendrix.eskanto/posts/397692250571657

Print Friendly, PDF & Email

1 Comment

  1. SHAHABIAH radhiyallahu anha ITU MENDEMO SANG KHALIFAH DIMUKA UMUM.
    Ketika Umar bin Al Khathab Radhiallahu ‘Anhu menyampaikan khutbah di atas mimbar, dia menyampaikan bahwa Umar hendak membatasi Mahar sebanyak 400 Dirham, sebab nilai itulah yang dilakukan oleh Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam, jika ada yang lebih dari itu maka selebihnya dimasukkan ke dalam kas negara.

    Hal ini diprotes langsung oleh seorang wanita, di depan manusia saat itu, dengan perkataannya:

    “Wahai Amirul mu’minin, engkau melarang mahar buat wanita melebihi 400 Dirham?”

    Umar menjawab: “Benar.”

    Wanita itu berkata: “Apakah kau tidak mendengar firman Allah:

    “ …. sedang kamu telah memberikan kepada seseorang di antara mereka harta yang banyak, Maka janganlah kamu mengambil kembali dari padanya barang sedikitpun. Apakah kamu akan mengambilnya kembali dengan jalan tuduhan yang Dusta dan dengan (menanggung) dosa yang nyata ?.” (QS. An Nisa (4): 20)

    Umar menjawab; “Ya Allah ampunilah, semua manusia lebih tahu dibanding Umar.” Maka umar pun meralat keputusannya. (Tafsir Al Quran Al ‘Azhim, 2/244. Imam Ibnu katsir mengatakan: sanadnya jayyid qawi (baik lagi kuat). Sementara Syaikh Abu Ishaq Al Huwaini menyatakan hasan li ghairih)

    Inilah Umar bin Al Khathab.

    Beliau menerima kritikan terbuka wanita tersebut, dengan jiwa besar dia mengakui kesalahannya, serta tidak mengatakan: “Engkau benar, tapi caramu menasihatiku salah, seharusnya engkau nasihatiku secara diam-diam, tidak terang-terangan!” Tidak.

    Umar tidak sama sekali mengingkari cara wanita itu menasihatinya di depan banyak manusia. Bukan hanya itu, para sahabat yang melihatnya pun tidak pula mengingkari wanita tersebut. Jikalau wanita itu salah dalam penyampaiannya, maka tentunya serentak dia akan diingkari oleh banyak manusia saat itu. Faktanya tidak ada pengingkaran itu.

    Ini disebabkan karena keputusan khalifah Umar, akan membawa dampak bagi rakyatnya, maka meralatnya pun dilakukan secara terbuka.

    Salahkah shahabiah radiallahu anha mengkritik penguasa dimuka umum?
    Apakah illat riwayat diatas tdk bs dijadikan hukum demonstrasi?

    Tidak SALAH, anda yang kurang TELITI,. nih mas saya copaskan apa yang anda nukilkan,. dan mudah-mudahan bisa menghilangkan SYUBHAT ANDA,..

    ==============================================
    Hal ini diprotes langsung oleh seorang wanita, di depan manusia saat itu,
    ==============================================

    Lihat,. baca kembali, apakah si Wanita tersebut berkata setelah mengetahui putusan Umar, lalu si wanita tersebut mengajak orang banyak untuk MENDEMO Umar?
    TIDAK… bahkan si wanita tersebut justru berada di tempat tersebut KETIKA UMAR MEMUTUSKAN DEMIKIAN, lalu SI WANITA tersebut mengingatkan UMAR denga ayat Alquran,.

    JELAS ini bukan DEMONTRASI,..
    Jika ada yang menganggap ini dalil DEMONTRASI, maka dia orang yang BODOH, walaupun dia seorang TOKOH ISLAM,. dia menyelisihi keterangan Ulama yang menjelaskan ayat tersebut, yaitu IBNU KATSIR,.

    Mudah-mudahan anda paham dengan apa yang anda nukilkan di atas,.
    Bahkan si wanita tersebut justru sedang mengamalkan petunjuk Rasulullah, hadits ini :
    Rasulullah -shallallaahu ‘alaihi wa sallam- bersabda:

    ﺃَﻓْﻀَﻞُ ﺍﻟْﺠِﻬَﺎﺩِ ﻛَﻠِﻤَﺔُ ﻋَﺪْﻝٍ ﻋِﻨْﺪَ ﺳُﻠْﻄَﺎﻥٍ ﺟَﺎﺋِﺮٍ ﺃَﻭْ ﺃَﻣِﻴْﺮٍ ﺟَﺎﺋِﺮٍ

    “Jihad yang paling utama adalah: mengatakan perkataan yang ‘adil di sisi penguasa atau pemimpin yang zhalim.”
    HR. Abu Dawud (no. 4344), At-Tirmidzi (no. 2174), dan Ibnu Majah (no. 4011).
    Dan dalam riwayat Ahmad (V/251 & 256):
    كَلِمَةُ حَقٍّ
    “Perkataan yang haqq (benar).”

    Hadits ini Shahih. Lihat Silsilah Al-Ahaadiits Ash-Shahiihah (no. 491), karya Imam Al-Albani -rahimahullaah

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*