Menegakkan Hukum ISLAM Di Negara Indonesia, MUDAH, Seperti Apa Caranya?

Bagaimana Engkau Menghukumi

USAHA KITA UNTUK MENEGAKKAN HUKUM ALLAH -TA’AALAA- DI NEGERI KITA

[1]- CAKUPAN BERHUKUM DENGAN HUKUM ALLAH

Saya katakan: Sungguh, tema ini (berhukum dengan hukum Allah) telah menyibukkan umat ini dan banyak dari mereka yang kurang pemahamannya dalam masalah ini.

Tatkala saya melihat bahwa hal ini sangatlah penting; maka saya ingin menulis tentang permasalahan ini untuk menjelasakan -sebisa mungkin-: jalan untuk mengamalkan konsekuensi dari berhukum dengan hukum Allah -Ta’aalaa-, dan bagaimana cara kita untuk mewujudkannya dan menjalankannya; agar tidak terjadi fitnah (kejelekan) dan agar agama hanya bagi Allah.

Dan saya jelaskan bahwa hal ini (berhukum dengan hukum Allah) mencakup setiap individu (perorangan). Maka setiap anak Adam (manusia) adalah pemimpin. Sebagaimana penguasa adalah bertanggung jawab atas rakyat dan negaranya; maka setiap dari kita juga bertanggung jawab atas rakyatnya: di rumahnya dan pada keluarganya, bahkan -sebelum yang lainnya-: setiap diri kita adalah bertanggung jawab atas diri sendiri.

Dan saya juga menjelaskan pentingnya ilmu dalam hal ini.”

[“Kaifa Tahkumu Nafsaka Wa Ahlaka Wa Man Talii Umuurahum Bihukmillaah” (Bagaimana Engkau Menghukumi Dirimu, Keluargamu Dan Orang-Orang Yang Dibawah Tanggung Jawabmu: Dengan Hukum Allah) (hlm. 7), karya Syaikh Husain bin ‘Audah Al-‘Awayisyah -hafizhahullaah-]

[2]- BAGAIMANA CARA BERHUKUM DENGAN HUKUM ALLAH

Hal itu dilakukan dengan mengharamkan yang haram dan menghalalkan yang halal.

Dan untuk mengenal halal dan haram: haruslah dengan ilmu…

Maka, marilah kita berhukum dengan hukum Allah -Ta’aalaa- dalam Shalat.

Marilah kita berhukum dengan hukum Allah -Ta’aalaa- dalam Puasa.

Marilah kita berhukum dengan hukum Allah -Ta’aalaa- dalam Zakat.

Marilah kita berhukum dengan hukum Allah -Ta’aalaa- dalam Haji.

Marilah kita berhukum dengan hukum Allah -Ta’aalaa- dalam pernikahan dan juga kematian.

Marilah kita berhukum dengan hukum Allah -Ta’aalaa- dalam berpakaian.

Marilah kita berhukum dengan hukum Allah -Ta’aalaa- dalam makanan dan minuman.

Marilah kita berhukum dengan hukum Allah -Ta’aalaa- dalam perkara-perkara individu, keluarga, masyarakat dan umat.

Marilah kita berhukum dengan hukum Allah -Ta’aalaa- dalam ekonomi.

Marilah kita berhukum dengan hukum Allah -Ta’aalaa- dalam perdamaian dan juga peperangan.

Marilah kita berhukum dengan hukum Allah -Ta’aalaa- dalam segala aspek kehidupan kita.”

[“Kaifa Tahkumu…” (hlm. 13-14)]

[3]- HUKUM ALLAH HANYA DIKETAHUI DENGAN ILMU

Urgensi (sangat pentingnya) meneliti, men-tahqiq, dan membahas (ilmu).

Sungguh, perwujudan berhukum dengan hukum Allah -Ta’aalaa- tidak akan terlaksana -selama-lamanya- tanpa adanya: penelitian, tahqiq, mencari (kebenaran) dan pembahasan (ilmu).

Hal itu dikarenakan bahwa: sungguh agama ini adalah (berdasarkan):

– Apa yang Allah firmankan,

– Apa yang Nabi sabdakan, dan

– Apa yang para Shahabat katakan.

* Untuk Al-Qur’an; maka -alhamdulillaah- kedustaan tidak akan mengenainya sama sekali.

Akan tetapi kita harus meneliti tafsir dan makna yang menjelaskan maksud Allah -Ta’aalaa-. Karena kalau tidak dilakukan hal ini; maka akan mengantarkan kepada penyelisihan dalam penerapan berhukum kepada Allah -Subhaanahu Wa Ta’aalaa-.

* Adapun untuk Sunnah (Nabi); maka jelas kita harus melakukan tahqiq dan penelitian.

Karena perkataan kita: “Rasulullah -shalllallaahu ‘alaihi wa sallam- bersabda”; ini merupakan agama. Kalau ada kedustaan atas nama Nabi -shallallaahu ‘alaihi wa sallam-; maka ini juga kedustaan atas nama Allah, sehingga akan ada pensyari’atan agama yang tidak diizinkan oleh Allah.

(Intinya bahwa) tidak adanya penelitian: akan menyampaikan kepada berhukum dengan selain hukum Allah -Subhaanahu Wa Ta’aalaa-.”

[“Kaifa Tahkumu…” (hlm. 16-17)]

[4]- TASHFIYAH DAN TARBIYAH ADALAH JALAN UNTUK MENEGAKKAN BERHUKUM DENGAN SYARI’AT ALLAH

Syaikh Al-Albani -rahimahullaah- berkata:

Oleh karena itu; maka kita harus mulai dengan mengajarkan agama Islam yang benar kepada manusia -sebagaimana Rasulullah -‘alaihish shalaatu was salaam- memulai dengannya-.

Akan tetapi kita tidak boleh mencukupkan diri hanya sekedar mengajarkan saja; karena sungguh, Islam telah dimasuki dengan hal-hal yang bukan berasal darinya dan yang tidak ada kaitannya sama sekali dengannya; berupa bida’ah-bid’ah dan hal-hal yang baru; yang menyebabkan hancurnya bangunan Islam yang kokoh.

Oleh karena itulah wajib atas para da’i untuk memulai dengan men-TASHFIYAH (memurnikan) islam ini dari hal-hal yang masuk ke dalamnya.

Inilah PRINSIP YANG PERTAMA: TASHFIYAH.

Adapun PRINSIP YANG KEDUA; yaitu: Tashfiyah ini harus disertai TARBIYAH (pembinaan) pemuda muslim di atas Islam yang sudah dimurnikan ini.”

[“Fitnatut Takfiir” (hlm. 42), dikumpulkan oleh: ‘Ali bin Husain Abu Luz. Dan lihat: “Fiq-hus Siyaasah Asy-Syar’iyyah” (hlm. 96-111), karya Syaikh Doktor Khalid bin ‘Ali Al-‘Anbari -hafizhahullaah-]

[5]- MEMULAI DARI DIRI SENDIRI

A. Secara Ilmu

Allah -Ta’aalaa- berfirman:

إِنِ الْحُكْمُ إِلاَّ لِلَّهِ أَمَرَ أَلاَ تَعْبُدُوا إِلاَّ إِيَّاهُ ذَلِكَ الدِّينُ الْقَيِّمُ وَلَكِنَّ أَكْثَرَ النَّاسِ لاَ يَعْلَمُونَ

“…Hukum (keputusan) itu hanyalah milik Allah. Dia telah memerintahkan agar kamu tidak menyembah selain Dia. Itulah agama yang lurus, tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui.” (QS. Yusuf: 40)

Al‑Baghawi berkata dalam Tafsirnya: “Hukum (keputusan) itu” (Yakni): keputusan, perintah dan larangan [“hanyalah milik Allah”].”

Hukum itu hanyalah milik Allah”; apakah dalam perkara yang kecil ataupun besar, sedikit maupun banyak; maka keputusan, perintah dan larangan di dalamnya adalah milik Allah -Ta’aalaa-. Terkadang hukum Allah diselisihi dikarenakan fanatik terhadap keluarga dan kerabat, atau dikarenakan kecintaan kepada harta, perdagangan, kelompok, golongan, guru, atau perkara-perkara yang semisalnya.

Maka kita harus mengenal dalil-dalil yang berisi: pengharaman dan penghalalan, serta perintah dan larangan; agar kita mengharamkan apa yang Allah haramkan, menghalalkan apa yang Allah halalkan, melaksanakan perintah Allah, dan menjauhi apa yang Allah larang.

Maka ini berkonsekuensi agar kita mengerahkan segenap usaha kita untuk ilmu, berlutut di hadapan para ahli ilmu, menyelami kitab-kitab, dan mengambil faedah dari para ulama umat ini yang terdahulu. Semua itu sesuai kemampuan yang dimiliki, sehingga akan ada:

– orang ‘alim (berilmu) yang mengajarkan, dan

– ada para penuntut ilmu yang belajar.

– Adapun bagi yang tidak memilki kemampuan; maka jangan sampai dia berfatwa ataupun memberikan pengajaran; akan tetapi tugasnya adalah belajar.

– Dan jangan pula engkau menjadi orang yang mengahalangi (dari menuntut ilmu), atau orang yang mengkritisi (orang yang menuntut ilmu; sehingga engkau termasuk) orang-orang yang binasa.”

[“Kaifa Tahkumu…” (hlm. 15-16)]

B. Secara Amal

Apakah perbaikan dimulai dari pemerintah atau dengan cara memperbaiki umat?…

Maka jawabannya…terdapat dalam nash ayat dan hadits -dan tidak boleh berijtihad ketika ada nash-.

Allah -Ta’aalaa- berfirman:

إِنَّ اللَّهَ لاَ يُغَيِّرُ مَا بِقَوْمٍ حَتَّى يُغَيِّرُوا مَا بِأَنْفُسِهِمْ

“…Sesungguhnya Allah tidak akan mengubah keadaan suatu kaum sebelum mereka mengubah keadaan mereka sendiri…” (QS. Ar-Ra’d: 11)

Maka, alangkah jelasnya ayat ini!

Akan tetapi, walaupun jelas; tetap saja banyak orang-orang yang manamakan diri mereka dengan harakah (pergerakan) Islami; mereka telah berijtihad, dan keadaan mereka seolah-olah berkata:

Sesungguhnya Allah tidak akan mengubah keadaan suatu kaum sebelum mereka mengubah pemerintah mereka!!”

Laa Haula Wa Laa Quwwata Illaa Billaah. Seakan mereka menutup mata dari Siroh (perjalanan hidup) Nabi -shallallaahu ‘alaihi wa sallam- yang menafsirkan penjelasan ini. Mereka mengabaikan bahwa: sesungguhnya mereka tidak akan jaya sebelum mereka menjadikan agama ini sebagai sumber hukum dalam diri-diri mereka; berdasarkan hadits Ibnu ‘umar -radhiyallaahu ‘anhumaa-, bahwa Nabi -shallallaahu ‘alaihi wa sallam- bersabda:

إِذَا تَـبَايَـعْـتُـمْ بِـالْـعِـيْـنَـةِ، وَأَخَــذْتُـمْ أَذْنَـابَ الْـبَقَرِ، وَرَضِيْـتُمْ بِـالـزَّرْعِ، وَتَرَكْــتُمُ الْـجِهَـادَ؛ سَلَّـطَ اللهُ عَـلَيْكُمْ ذُلاًّ؛ لاَ يَـنْـزِعُـهُ حَتَّى تَـرْجِــعُــوْا إِلَـى دِيْــنِـكُمْ

Jika kalian telah berjual beli dengan sistem Bai’ul ‘Iinah, kalian memegang ekor-ekor sapi dan ridha dengan pertanian, dan kalian meninggalkan jihad; niscaya Allah akan menjadikan kehinaan menguasai kalian, Dia tidak akan mencabut (kehinaan) itu dari kalian; hingga kalian kembali kepada agama kalian.”

Diriwayatkan oleh Abu Dawud dan hadits ini Hasan.

Inilah hukum Allah dan Rasul-Nya;

فَبِأَيِّ حَدِيثٍ بَعْدَ اللَّهِ وَآيَاتِهِ يُؤْمِنُونَ

“…maka dengan perkataan mana lagi mereka akan beriman setelah Allah dan ayat-ayat-Nya.” (QS. Al-Jaatsiyah: 6).”

[Madaarikun Nazhar Fis Siyaasah (hlm.132- cet. I), karya Syaikh ‘Abdul Malik bin Ahmad Ar-Ramadhani Al-Jaza-iri -hafizhahullaah-]

Rasulullah -shallallaahu ‘alaihi wa sallam- bersabda:

كُلُّكُمْ رَاعٍ، وَكُلُّكُمْ مَسْئُولٌ عَنْ رَعِيَّتِهِ، الإِمَامُ رَاعٍ وَمَسْئُولٌ عَنْ رَعِيَّتِهِ، وَالرَّجُلُ رَاعٍ فِي أَهْلِهِ وَهُوَ مَسْئُولٌ عَنْ رَعِيَّتِهِ، وَالْمَرْأَةُ رَاعِيَةٌ فِي بَيْتِ زَوْجِهَا وَمَسْئُولَةٌ عَنْ رَعِيَّتِهَا

Setiap dari kalian adalah pemimpin, dan masing-masing bertanggung jawab atas rakyatnya. Imam (penguasa) adalah pemimpin dan dia bertanggung jawab atas rakyatnya. Laki-laki adalah pemimpin di keluarganya dan bertanggung jawab atas rakyatnya. Wanita juga pemimpin di rumah suaminya dan bertanggung jawab atas rakyatnya.”

[HR. Al-Bukhari (no. 893) dan Muslim (no. 1829)]

Demikianlah, setiap orang adalah pemimpin dan penguasa di rumahnya, dan dia mempunyai banyak tanggung jawab yang besar yang harus ditunaikan…”

[“Kaifa Tahkumu…” (hlm. 44)]

Jika anda menunda-nunda dalam pelaksanaan tanggung jawab anda -dengan alasan ingin mendahulukan penegakan syar’iat di Negara ini-: Siapa yang bisa menjamin bahwa anda akan tetap hidup sampai nantinya tegak syari’at di Negara ini?!

[Lihat: “Kaifa Tahkumu…” (hlm. 50)]

[6]- LALU BAGAIMANA DENGAN MUSUH-MUSUH ISLAM

Syaikh ‘Ali bin Hasan Al-Halabi -hafizhahullaah- berkata:

Mungkin ada orang yang akan mengatakan: “Kalau kami mengikuti jalan-jalan kalian…; maka sungguh, musuh-musuh (Islam) itu tidak akan tinggal diam dan tidak akan membiarkan kita.

Maka jawabannya dari dua segi:

Pertama: Bahwa jalan kita ini adalah jalan para Salaf, maka tidak membahayakan kita setelah itu: apa yang akan menimpa kita -baik dari mereka (musuh-musuh Islam) maupun dari yang lainnya-.

وَأَنَّ هَذَا صِرَاطِي مُسْتَقِيمًا فَاتَّبِعُوهُ وَلا تَتَّبِعُوا السُّبُلَ فَتَفَرَّقَ بِكُمْ عَنْ سَبِيلِهِ

Dan sungguh, ini adalah jalan-Ku yang lurus; maka ikutilah! Janganlah kamu ikuti jalan-jalan (yang lain), karena jalan-jalan itu akan mencerai-beraikan kamu dari jalan-Nya…” (QS. Al-An’aam: 153)

Kedua: Bahwa jalan kami ini adalah cara yang tepat untuk menghancurkan rancangan mereka (musuh-musuh Islam) dan menggagalkan tipu daya mereka. Karena, tidak ada alasan bagi mereka sama sekali untuk menyifati kami dan juga kalian dengan sifat “Teroris” atau “Ekstrimis”!

Sedangkan cara kalian justru mengajak dan mengingatkan mereka untuk terus menjalankan rancangan mereka, dan mewujudkan keinginan mereka, serta menjadikan orang-orang melampaui batas terhadap kalian.”

[“Ru’yah Waaqi’iyyah Fil Manaahij Al-Jadiidah” (hlm. 93-94- cet. I)]

[7]- TERAKHIR…JANGAN REMEHKAN ORANG-ORANG LEMAH

Rasulullah -shallallaahu ‘alaihi wa sallam- bersabda:

ابْغُوْنِي الضُّعَفَاءَ، فَإِنَّمَا تُرْزَقُوْنَ وَتُنْصَرُوْنَ بِضُعَفَائِكُمْ

Carikanlah orang-orang lemah untukku. Sungguh kalian diberi rizki dan ditolong: hanya dengan sebab orang-orang lemah di antara kalian.”

[HR. Abu Dawud (no. 2594), dan lainnya dengan sanad yang Shahih]

Dalam hadits lain beliau -shallallaahu ‘alaihi wa sallam- menjelaskan:

إِنَّمَا يَنْصُرُ اللهَ هٰذِهِ الْأُمَّةَ بِضَعِيْفِهَا: بِدَعْوَتِهِمْ، وَصَلاَتِهِمْ، وَإِخْلاَصِهِمْ

Allah menolong umat ini hanyalah dengan sebab orang-orang lemahnya: dengan do’a mereka, shalat mereka, dan keikhlasan mereka.”

[Diriwayatkan oleh An-Nasa-i dan lainnya. Lihat: “Ash-Shahiihah” (no. 779)]

Demikianlah Allah akan menolong umat ini disebabkan orang-orang lemahnya; maka tidak sepantasnya kita meremehkan orang lemah dan bersombong atasnya. Karena dengan do’anya, shalatnya dan keikhlasannya: kita diberikan pertolongan dan rizki -dengan izin Allah Subhaanahu Wa Ta’aalaa-. Dan kita tidak diperkenankan -sama sekali- untuk meremehkan amalan shalih, tidak boleh pula kita meremehkan kebaikan yang dilakukan oleh seorang muslim -sedikit maupun banyak-.”

[“Kaifa Tahkumu…” (hlm. 69)]

-ditulis oleh: Ahmad Hendrix-

sumber:https://www.facebook.com/ahmadhendrix.eskanto/posts/404511089889773

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*