Menyongsong Hari Esok

Masing-masing mendoakan agar kami akur dan memiliki keturunan yang shalih. Berapa menit kemudian ….

Aku duduk seorang diri, menunggu siapa lagi yang akan datang. Air mata mengalir dari kedua mataku ketika aku teringat ibu, saat ia mendoakan agar aku mendapat suami yang shalih. Seolah-olah aku berada dalam mimpi. Bayangan membawa diriku kepada kejadian beberapa tahun yang lalu ….

Pada suatu pagi …

“Mana ibuku? Ke mana ia pergi?” tanyaku. Suaraku terdengar lebih keras dari besar tubuhku. Kala itu aku masih berusia lima tahun. Aku kembali bertanya, “Mana ibuku…?”

jawabannya adalah linangan air mata. Ada seorang yang menambahkan dengan suara yang lemah karena terpotong tangisnya, “Ia sudah pergi menuju surga”.

Pada saat itu aku tidak menyadari, siapa yang membuat orang-orang jadi turut menangis. Aku, atau saudaraku yang masih berumur tiga tahun. Atau mungkin tangisan orang-orang di sekitar kami? Aku menuntun adiku untuk mencari ibu kami. Kaki kami letih berlari ke sana kemari. Naik ke tingkat paling tinggi…. Mengetuk semua pintu, juga pergi ke dapur. Meski sudah amat lelah, kami tidak juga mendapatkannya. Dari situ, aku pun yakin bahwa ibuku tidak berada di rumah. Aku lalu memeluk adikku sambil menangis. Karena lelah, kami pun tertidur.

Setelah satu atau dua jam, aku kembali menuntun adikku untuk kembali mengulang mencari ibu. Kami tidak mendapatkannya di rumah, meskipun banyak wanita di situ yang jumlahnya menutupi pandangan dan pendengaranku. Tetapi di mana ibu bersembunyi? Setelah lama terdiam dan termenung, dengan gembira aku teringat, ada satu tempat yang belum kami cari. Iya, dibawah pohon itu… ibuku menyukai tempat itu. Dengan cepat aku berlari. Kami lelah menuruni tangga. Adikku sampai terjatuh karena aku menariknya terlalu keras. Akan tetapi akhirnya, kami hanya melihat pohon itu saja. Kami perhatikan bagian atas pohon,bawahnya,… semua bagian pohon itu ku telusuri dengan pandanganku. Yang kulihat cuma pohon saja, ditambah beberapa tanaman yang disukai ibu. Tetapi di mana ibuku? Tiba-tiba terdengar suara hiruk pikuk. Aku melihat kaum lelaki saling memanggil. Memekakkan telinga dan membuat mataku melotot.

Beberapa saat terdengar langkah-langkah cepat. Mereka lewat di hadapan kami dengan menggotong sesuatu. Ketika adikku bertanya, aku jawab pertanyaannya yang lugu itu, “Mereka membawa barang berat. Masing-masing ikut serta membawanya”. Aku sendiri tidak menyadari, bahwa yang digotong itu adalah ibuku! Kalau aku tahu, pasti kupegang dan tidak kubiarkan mereka pergi.

Kaum lelaki pun kemudian menghilang. Suasana menjadi hening … Kami duduk dan bermain-main di atas tanah dengan tenang, di bawah pohon, sebagaimana kebiasaan kami bersama ibu. Itulah hari pertama kami pergi ke kebun tanpa mengenakan sepatu. Kami haus, tetapi tidak mendapatkan air…

Tiba-tiba datanglah salah seorang wanita kerabat kami dan membawa kami masuk bersamanya ….

Keesokan paginya, kami mulai membahas masalah itu. Aku mengumpulkan kekuatan dan berkata kepada adikku yang terus menangis, “Ibu pasti pulang, pasti pulang lagi”.

Nenekku dengan tergopoh-gopoh datang ketika suara tangis kami mengeras. Ia memeluk kami… Aku masih merasakan air mata ibu yang menetes di kepalaku…

Setiap kali kulihat seorang ibu, tercium olehku bau khas ibuku. Aku teringat, ketika suatu hari kami membuatnya marah, ia berkata, “Aku akan pergi dan meninggalkan kalian…”.

Aku juga masih ingat ketika kami pergi mengunjunginya di rumah sakit. Di samping pembaringannya, ayah membimbingku. Ia berkata kepada ibu, “Ini dia Arwa”. Ibu memeluk dan menciumku, kemudian memeluk adikku. Airmatanya bercucuran, sambil menekan tanganku yang kecil dan menciumnya dengan kuat. Setiap hari, suaranya mengetuk pendengaranku. Suara terakhir yang kudengar darinya adalah, “Aku titipkan kalian berdua kepada Allah, yang tidak pernah menyia-nyiakan titipan di sisi-Nya”. Kemudian ia terisak menangis dan menutup wajahnya….

Mereka mengeluarkan kami dari kamarnya, sementara kami terus menangis, berlinang air mata….

Kami pun kemudian berpindah. Pindah dari rumah yang di dalamnya terdapat Ayah, Ibu juga saudara…. Kini ibu sudah pergi, maka kami pun pergi…

Lima tahun kemudian….

Aku kembali ke rumah ayahku, setelah sekian lama berada di rumah nenek. Aku bersama adikku.

Orang yang pergi karena kematian tidak dapat diharapkan akan kembali lagi

Meskipun orang yang pergi melakukan perjalanan akan selalu kembali lagi

Ternyata telah ada seorang wanita di rumah ayahku…..

“Ini adalah Asma. Berila salam kepadanya…”, demikian kata Ayah.

Ia bukan ibuku, tetapi ia adalah wanita yang paling baik bagi ayahku…. Ia memperhatikan pendidikan kami denga sangat baik. Ia juga bertekad agar aku menyelesaikan studiku. Ia memulai dengan menganjurkan diriku menghafal Al Qur’an, memilihkan teman-teman yang shalihah untuk diriku, menyiapkan segala yang aku dan adikku inginkan, bahkan lebih dari pada itu.

Terkadang kami membuatnya marah. Meski demikian, ia adalah wanita yang penyabar lagi cerdas. Ia tidak pernah menyia-nyiakan sedikit pun dari waktunya tanpa ada guna. Lisannya selalu basah dengan dzikir kepada Allah. Ia menggabungkan antara kedalaman agama dan akhlak yang  baik. Ia sungguh telah mengisi kekosongan hidup kami yang amat besar.

Berikut ini penjelasan dia tentang pergaulan yang baik ketika pada suatu hari aku mengajukan pertanyaan kepadanya:

“kenapa ibu berbeda dengan ibu-ibu tiri yang lain? Di mana letak kezhaliman dan perlakuan buruk yang biasa dilakukan para ibu iri itu dalam diri ibu?”

ia menjawab, “Aku takut kepada Allah dan selalu mengharapkan pahala dari setiap perbuatanku. Kalian adalah amanah di sisiku. Jangan heran. Sampai dengan merapikan rambut kalian pun aku mengharapkan pahala. Kemudian wahai Arwa, berapa juz Alquran yang telah engkau hafal?

Bukankah aku juga mendapatkan pahala dengan mendidikmu melalui pendidikan yang baik? Semua yang kulakukan adalah demi mendapatkan keridhaan Allah …

Ia menambahkan , “Sebagaimana seseorang mencari pahala dengan ibadah seperti puasa dan shalat ia juga mencari pahala dalam pergaulannya. Seorang mukmin selalu dituntut untuk bergaul dengan baik, wahai putriku…”.

“Tetapi kami telah melelahkanmu, bahkan menyulitkan dirimu”, potongku.

“Wahai Arwa, setiap pekerjaan pasti membawa kelelahan dan kepayahan. Surga itu mahal. Bukankah engkau mengetahui, bahwa untuk shalat dan melakukan haji, seseorang juga harus merasa lelah? Allah subhanahu wata’ala berfirman:

“Barangsiapa yang mengerjakan kebaikan sebesar dzarrah pun, niscaya ia akan melihat (balasan)nya. Dan barangsiapa yang mengerjakan kejahatan sebesar dzarrah pun, niscaya ia akan melihat (balasan)nya pula”. (Az-Zalzalah:7-8)

Adapun kezhaliman para ibu tiri yang engkau ketahui wahai Arwa, tidaklah berlalu tanpa perhitungan. Bahkan akan mendapatkan perhitungan yang berat. Apa dosa anak yatim, sehingga ia dizhalimi? Atau apa dosa anak kecil, sehingga ia diperas? Kezhaliman akan menjadi kegelapan di hari kiamat nanti”.

Aku berkata kepadanya sedangkan perasaan terharu mencekik leherku. Inilah doa ibuku yang kulihat tampak dalam perlakuannya terhadap kami, “Sungguh Allah tidak menyia-nyiakan titipan di sisi-Nya…

Tiba-tiba pintu rumah diketuk. Ibu tiriku masuk dan memberi salam kepadaku serta mendoakan keberkahan bagiku. Aku mencium kepalanya. Bagiku ia lebih dari segalanya. Ia adalah profil seorang wanita muslimah yang mulia. Ia berkata dengan air mata yang mengiringinya, “jangan lupa untuk mengharapkan pahala dari Allah dalam setiap pekerjaan yang engkau lakukan”. Kemudian ia menambahkan dengan senyuman yang selalu mengiringinya:

“Sungguh aku hafal hadits Nabi shalallahu ‘alaihi wasallam: Bila seorang wanita menjalankan shalat lima waktu, melakukan puasa, memelihara kemaluannya dan menaati suaminya, akan dikatakan kepadanya, ‘masuklah engkau dari pintu surga manapun yang engkau kehendaki’”.

Sekarang tibalah saat mempraktikannya. Aku berkata kepada diriku sendiri, “Sungguh ayahku tidak keliru ketika ia menikahi seorang wanita yang shalihah. Sungguh ayahku tidak keliru ketika ia menikahi wanita yang takut kepada Allah.

Dinukil dari majalah elfata edisi 5/II/2002

1 Comment

  1. Kisah yang bagus dan indah agar kita senantiasa berjalan di jalan Allah subhanahu wata’ala, apa pun perbuatan kita semata-mata untuk ibadah kepadaNya. Semoga kita dapat mengambil hikmah dan menjadikan teladan. Jendelakatatiti.wordpress.com, wassalam.

    Mudah-mudahan kita juga bisa mendidik anak-anak kita, sehingga bisa menyongsong hari esok dengan dengan bahagia, baik di dunia maupun di akherat… Mudah-mudahan Allah memberikan hidayah taufik kepada kita semua, amin ya rabbal alamin…

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*