NKRI dalam tinjauan syariat Islam

Dalil Bahwa Negara Itu Sebuah Negara Islam Jika Indonesia Menjadi Negara Islam Dalil Negara Islam Adzan Hukum Nkri Penjelasan Menyerang Negeri Adzan

بسم الله الرحمن الرحيم

NKRI dalam tinjauan syariat Islam

(1) Definisi negara Islam

Pengetahuan tentang hal ini sangatlah penting karena memberikan banyak konsekwensi, yang paling penting adalah bahwa seseorang diharamkan menetap di negeri yang dihukumi kafir, dan dia diwajibkan untuk hijrah. Dalam hal ini baginda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

أَنََ بَرِىءٌ مِنْ كُ ل مُسْلِمٍ يُقِيمُ بَيَْْ أَظْهُرِ الْمُشْرِكِيَْ

Aku berlepas diri dari setiap muslim yang bermukim antara kaum musyrikin”.1

Ibnu Daqiq al-Ied rahimahullah berkata: “Hadits ini menunjukan wajibnya hijrah dari negeri kafir”.2

Syaikh Khalid al-Anbari hafizahullah berkata: “Kekuasaan kaum muslimin atau orang-orang kafir atas satu negara adalah alasan hukum penetapan negeri Kafir atau Islam, kemudian diikuti oleh tanda-tanda lainnya yang terkadang kuat, dan terkadang lemah pada kesempatan lainnya, bahkan terkadang hilang, seperti rasa aman dan takut, juga penerapan hukum Islam atau kekufuran.

Ulama Madzahibul Arba’ah sepakat dalam satu pandangan bahwa, satu negara menjadi negara Islam jika masuk dalam kekuasaan kaum muslimin, dimana mereka bisa menampakan hukum-hukum Islam dan mencegah musuh mereka…..

Dan mesti diketahui bahwa, yang dimaksud dengan nampak hukum-hukum Islam adalah nampaknya syiar-syiar Islam yang besar, seperti Jum’at,shalat dua hari raya, puasa romadhon dan haji tanpa ada kesulitan, bukan penerapan syariat Islam walaupun itu pun yang sangat diharapkan.3

Lalu beliau melanjutkan: “Kami sama sekali tidak mendapatkan perbedaan pendapat antara ulama Madzahibul Arba’ah dalam alasan ini, yang ada hanya perbedaan redaksi dalam mengungkapkannya”.

Dalil para ulama tentang masalah ini:

Pertama: Hadits Buraidah radhiyallahu ‘anhu yang diriwayatkan oleh Imam Muslim.

Dalam hadits tersebut diungkapkan:

ثم ادعهم إلى التحول من دارهم إلى دار المهاجرين

Kemudian ajaklah mereka untuk berpindah dari negeri mereka ke negeri kaum Muhajirin”.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mengidhafatkan kata ad-Darr (negeri) pada kata al-Muhajirin karena keberadaan dan kekuasaan mereka di sana, kemudian Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam memerintahkan mereka untuk hijrah ke negeri yang ada di bawah kekuasaan kaum muslimin, ini menunjukan bahwa negara itu dinisbatkan kepada kekuasaan, artinya jika kaum muslimin yang menguasainya maka itu adalah negara Islam dan demikian pula sebaliknya.

Kedua: Hadits Anas radhiyallahu ‘anhu dalam riwayat al-Bukhari dan Muslim yang muttafaq ‘alaihi:

كان رسول الله صلى الله عليه و سلم يغير إذا طلع الفجر وكان يستمع الأذان فإن سمع

أذانَ أمسك وإلا أغار

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam senantiasa menyerang ketika tiba waktu fajar, selalu beliau menunggu adzan, jika terdengar kumandang adzan maka beliau menahan diri, jika tidak maka menyerang”.

Hadits di atas menunjukan bahwa, nampaknya sebagian hukum Islam menunjukan negeri tersebut adalah negeri Islam. Tentunya ini jika tidak diketahui bahwa kekuasaannya dibawah orang kafir, karena dalam hadits ini hanya tanda bukan illah (alasan), seperti Amerika kita ketahui ada kumandang adzan di sana, maka tidak bisa kita tetapkan sebagai negeri Islam, hal itu karena kita ketahui bahwa, negeri tersebut dibawah kekuasaan orang-orang kafir.

Pandangan ulama Madzahibul Ar’baah:

Pertama: Ulama Hanafiyah.

Imam as-Sarkhasi rahimahullah berkata dalam kitabnya al-Mabsuth: “Satu negeri dinisbatkan kepada kita atau kepada mereka karena kekuatan, setiap negeri yang nampak padanya hukum syirik maka kekuatan di negeri tersebut milik orang-orang musyrik, dan setiap negeri yang paling nampak padanya hukum Islam maka kekuatan milik kaum muslimin”.4

Al-Kasani rahimahullah berkata: “Tidak ada perbedaan diantara mazhab kami (Hanafiyah) bahwa, negeri kafir berubah menjadi negeri Islam dengan nampaknya hukum-hukum di negeri tersebut”.5

Lalu apa yang dimaksud dengan hukum-hukum Islam dalam perkataan ulama di atas, hal itu dijelaskan oleh penulis kitab ad-Durrul Mukhtar:

Dan negeri kafir berubah menjadi negeri Islam dengan berlakunya hukum-hukum Islam di negeri tersebut seperti pelaksanaan shalat jum’at dan ied”.6

Tentunya penafsiran tersebut berdasarkan hadits Anas bin Malik yang menjadi dasar dalam pembahasan ini.

Kedua: Ulama Malikiyah.

Ulama Malikiyah menjadikan adzan sebagai tanda yang membedakan antara negeri Islam dan kafir, ingat ini hanya sebatas tanda adapun illahnya jelas, yakni kekuasaan yang dimiliki oleh kaum muslimin.

Ibnu Abdil Barr rahimahullah berkata: “Tidak saya ketahui adanya perbedaan pendapat diantara para ulama bahwa, secara umum adzan itu wajib atas seluruh penduduk negeri, karena ia adalah tanda yang membedakan antara negeri Islam dan Kafir, Nabi shallalalhu ‘alaihi wa sallam jika mengutus pasukan, beliau mengatakan: “Jika kalian mendengarkan adzan maka tahanlah”.7

Al-Mazari rahimahullah berkata: “Adzan itu memiliki dua tujuan penting, pertama: menampakan syiar Islam, kedua: mengenalkan bahwa negeri tersebut adalah negeri Islam”.8

Ketiga: Ulama Syafi’iyah.

Ulama Syafiiyah membagi negeri Islam menjadi tiga:

1) Negeri Islam yang dimiliki secara paksa.

2) Negeri Islam yang dimiliki karena diberikan begitu saja oleh orang-orang kafir, dan mereka keluar dari negeri tersebut.

3) Negeri Islam yang dimiliki dengan perdamaian, dengan syarat mereka membayar pajak.

Pada macam yang ketiga ini, negeri tersebut masih disebut negeri Islam walaupun penduduknya kafir dan menerapkan syariat agama mereka, hal itu karena kekuasaan ada di tangan kaum muslimin.9

Imam ar-Rafii rahimahullah berkata: “Satu negeri sudah cukup dinamakan negeri Islam hanya karena dibawah kekuasaan penguasa muslim, bahkan seandainya tidak ada muslim di negeri tersebut”.10

Kalimat “Tidak ada muslim” menunjukan tidak ada penerapan hukum Islam di sana.

Keempat: Ulama Hanabilah.

Ibnu Qudamah mengatakan bahwa, “Negeri Islam itu ada dua…..kedua: adalah negeri yang ditaklukan oleh kaum Muslimin seperti negeri-negeri di Syam, walaupun hanya ada seorang muslim di negeri tersebut maka negeri itu disebut negeri Islam….”11

Syaikh Khalid al-Anbari mengatakan: “Demikianlah perkataan para ulama, diantara mereka ada yang menyatakan bahwa, diantara negeri Islam adalah negeri yang ditaklukan oleh kaum muslimin dan orang-orang kafir menyerah dengan membayar jizyah, tentu tidak diragukan bahwa, mereka di negeri itu menetapkan hukum yang tidak diturunkan oleh Allah. Ini menunjukan bahwa, negeri itu dinisbatkan kepada yang berkuasa padanya”.12

Abu Ya’la al-Hanbali berkata: “Setiap negeri yang didominasi dengan hukum Islam di atas hukum kafir, maka ia adalah negeri Islam”.13

Catatan: bahwa yang dimaksud dengan hukum Islam adalah Syiar-syiar Islam sebagaimana dijelaskan di atas, dan berdasarkan hadits Anas bin Malik.

Kesimpulannya adalah sebagaimana ditegaskan oleh Ibnu Hazm:

Negara itu dinisbatkan kepada yang berkuasa dan yang memimpinnya”.14

Jadi negeri kita ini Indonesia adalah negeri Islam walaupun yang diterapkan adalah hukum positif, tentunya selama yang berkuasa adalah penguasa muslim dan syiar-syiar Islam nampak ditunaikan.

Jika demikian maka tidak ada kewajiban hijrah dari negeri ini, yang ada adalah kewajiban untuk mensyukuri segala nikmat yang ada di dalamnya, diantaranya nikmat aman.

Demikian pula memperbaiki segala kekurangannya yang ditempuh dengan Tashfiyah dan Tarbiyah, dan menjadikan dakwah Tauhid sebagai prioritas sebagaimana dilakukan oleh baginda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Kemudian adanya negeri Islam yang tidak menerapkan aturan Islam dalam aturan negara atau tidak berhukum dengan hukum Allah, itu tidak otomatis disebut sebagai negeri kafir, demikianlah yang ditetapkan oleh Ahlus Sunnah, berbeda dengan kaum Khawarij.

Perbedaan tersebut disebabkan oleh:

1) Perbedaan mereka tentang alasan satu negeri itu disebut negeri Islam.

2) Perbedaan mereka tentang hukum penguasa yang berhukum dengan selain hukum Allah.

3) Tidak adanya pemahaman yang benar terhadap istilah-istilah yang diungkapkan oleh para ulama.

Sumber : Makalah tulisan ustadz Beni Sarbeni, Lc

Footnote :

1 Shahih, riwayat Ashabus Sunan.

2 Syarhul Ilmam bi Ahaditsil Ahkam (IV/ 498)

3 Takfirud Duwal wal Hukkam karya Syaikh DR Khalid al-Anbari, hal: 157, lihat pula Qadhaya Fiqhiyyah Muashirah (I/ 182).

4 Al-Mabsuth (X/ 114)

5 Bada’ius Shana’I (VII/ 130)

6 Ad-Durrul Mukhtar (IV/ 130).

7 Al-Istidzkar (IV/ 18).

8 Ad-Dzakhirah karya al-Qarrafi (II/ 58)

9 LIhat kitab Takfirud Duwal wal Hukkam, hal: 167.

10 Fathul Aziz (VIII/ 14)

11 Al-Mugni (VI/ 35)

12 Takfirud Duwal wal Hukkam (169)

13 Al-Mu’tamad fi Ushuliddin (267)

14 Al-Muhalla (XIII/ 140).

Download EBOOK NKRI Dalam Tinjauan Syariat Islam di LINK INI

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*