Tafsir Surat Annisa 137 – 140, Bahaya kaum munafik terhadap umat Islam

Asli Bumi Ayu Ancaman Bagi Orang Munafik Dalil Alquran Tentang Munafik Dan Penjelasannya Tafsir Munafik

Ayat 137-139: Bahaya kaum munafik terhadap umat Islam

إِنَّ الَّذِينَ آمَنُوا ثُمَّ كَفَرُوا ثُمَّ آمَنُوا ثُمَّ كَفَرُوا ثُمَّ ازْدَادُوا كُفْرًا لَمْ يَكُنِ اللَّهُ لِيَغْفِرَ لَهُمْ وَلا لِيَهْدِيَهُمْ سَبِيلا (١٣٧) بَشِّرِ الْمُنَافِقِينَ بِأَنَّ لَهُمْ عَذَابًا أَلِيمًا (١٣٨) الَّذِينَ يَتَّخِذُونَ الْكَافِرِينَ أَوْلِيَاءَ مِنْ دُونِ الْمُؤْمِنِينَ أَيَبْتَغُونَ عِنْدَهُمُ الْعِزَّةَ فَإِنَّ الْعِزَّةَ لِلَّهِ جَمِيعًا (١٣٩

Terjemah Surat An Nisa Ayat 137-139

137. Sesungguhnya orang-orang yang beriman lalu kafir, kemudian beriman (lagi), kamudian kafir lagi, lalu bertambah kekafirannya[11], maka Allah tidak akan mengampuni mereka, dan tidak (pula) menunjukkan kepada mereka jalan (yang lurus)[12].

138. Kabarkanlah kepada orang-orang munafik[13] bahwa mereka akan mendapat siksaan yang pedih,

139. (Yaitu) orang-orang yang menjadikan orang-orang kafir sebagai penolong dengan meninggalkan orang-orang mukmin. Apakah mereka mencari kekuatan di sisi orang kafir itu? Ketahuilah bahwa semua kekuatan itu milik Allah[14].

Ayat 140: Tidak bolehnya berwala’ kepada orang-orang kafir dan tidak bolehnya duduk bersama orang-orang yang mengolok-olokkan Al Qur’an, serta bagus memilih teman yang baik

وَقَدْ نَزَّلَ عَلَيْكُمْ فِي الْكِتَابِ أَنْ إِذَا سَمِعْتُمْ آيَاتِ اللَّهِ يُكْفَرُ بِهَا وَيُسْتَهْزَأُ بِهَا فَلا تَقْعُدُوا مَعَهُمْ حَتَّى يَخُوضُوا فِي حَدِيثٍ غَيْرِهِ إِنَّكُمْ إِذًا مِثْلُهُمْ إِنَّ اللَّهَ جَامِعُ الْمُنَافِقِينَ وَالْكَافِرِينَ فِي جَهَنَّمَ جَمِيعًا (١٤٠

Terjemah Surat An Nisa Ayat 140

140. Dan sungguh, Allah telah menurunkan ketentuan kepadamu di dalam Al Quran[15] bahwa apabila kamu mendengar ayat-ayat Allah diingkari dan diperolok-olokkan (oleh orang-orang kafir), maka janganlah kamu duduk bersama mereka[16], sebelum mereka memasuki pembicaraan yang lain. Karena (kalau kamu tetap duduk dengan mereka), tentulah kamu serupa dengan mereka[17]. Sesungguhnya Allah akan mengumpulkan semua orang-orang munafik dan orang-orang kafir di neraka Jahanam[18],

[11] Misalnya di samping kekafirannya, ia merendahkan Islam pula.

[12] Ada yang menafsirkan ayat di atas sebagai berikut, “Sesungguhnya orang-orang yang beriman kepada Nabi Musa, yaitu orang-orang Yahudi, lalu kafir karena menyembah anak sapi, kemudian beriman lagi setelahnya, lalu kafir lagi kepada Nabi Isa dan bertambah lagi kekafirannya dengan Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam, maka Allah tidak akan mengampuni mereka selama mereka seperti itu dan tidak menunjukkan mereka jalan yang lurus.” Yakni jauh dari taufiq dan hidayah ke jalan yang lurus. Ayat di atas juga menunjukkan bahwa jika mereka tidak bertambah kafir, bahkan kembali kepada Islam serta meninggalkan kekafirannya, maka Allah akan mengampuni mereka meskipun telah melakukan kemurtadan berkali-kali. Jika orang yang melakukan kekafiran saja seperti ini, yakni Allah akan menerima tobatnya jika dia kembali, maka terhadap dosa-dosa yang di bawahnya sudah tentu Allah akan membukakan pintu tobat kepadanya jika dia kembali bertobat, meskipun ia telah berkali-kali melakukan dosa.

[13] Yakni orang-orang yang menampakkan keislaman di luar dan menyembunyikan kekafiran di dalam.

[14] Inilah keadaan mereka kaum munafik, mereka bersangka buruk kepada Allah dan kurang yakin bahwa Allah akan memenangkan hamba-hamba-Nya yang mukmin, padahal kekuatan itu milik Allah semuanya, semua makhluk dalam kekuasaan-Nya, dan kehendak-Nya berlaku pada mereka. Dia menjamin akan memenangkan agama-Nya dan memenangkan hamba-hamba-Nya yang mukmin, kalau pun terkadang musuh yang menang, namun tidak selamanya, karena kemenangan terakhir akan diperoleh kaum mukmin. Dalam ayat ini terdapat ancaman memberikan wala’ (loyalitas) kepada kaum kafir dan meninggalkan berwala’ kepada kaum mukmin, dan bahwa yang demikian termasuk sifat orang-orang munafik, padahal keimanan yang sesungguhnya menghendaki mencintai kaum mukmin dan berwala’ kepada mereka serta membenci orang-orang kafir dan memusuhi mereka.

[15] Seperti di surat Al An’aam ayat 68.

[16] Bersama orang-orang kafir dan orang-orang yang memperolok ayat-ayat Allah. Hal itu, karena seorang muslim dituntut mengimani ayat-ayat Allah, memuliakannya dan mengagungkannya serta menghormatinya. sedangkan kebalikannya adalah merendahkan dan memperolok-oloknya. Dalam ayat ini juga terdapat larangan menghadiri majlis-majlis maksiat dan kefasikan yang di sana perintah Allah direndahkan dan larangan-Nya dikerjakan. Dengan demikian barang siapa yang menghadiri majlis yang di sana dikerjakan maksiat, maka ia harus mengingkari jika memiliki kemampuan atau pergi meninggalkan jika tidak mampu mengingkari.

[17] Dalam hal dosa, karena yang demikian menunjukkan keridhaan kamu terhadap kekafiran mereka dan keridhaan kepada sikap mereka mengolok-olok ayat Allah, sedangkan orang yang ridha dengan maksiat sama seperti orang yang melakukannya.

[18] Sebagaimana mereka berkumpul bersama di atas kekafiran dan mengolok-olok ayat-ayat Allah ketika di dunia, dan keadaan mereka (kaum munafik) yang zhahirnya seakan-akan bersama kaum mukmin tidaklah bermanfaat apa-apa bagi mereka.

Sumber : http://www.tafsir.web.id/2013/01/tafsir-nisa-ayat-135-143.html?m=1#sthash.N9z2Ju7s.i2BGMaaC.dpuf

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*