Karena Kesombongan, Kaum Quraisy Menolak Dakwah Nabi, Bahkan Menganggap Ayah dan Kakek Nabi Yang Penyembah Berhala Itu Lebih Baik Dari Nabi

Suryalaya

Sikap Kaum Quraisy Terhadap Dakwah Nabi , Dan Pengakuan Mereka Bahwa Ayah Nabi Dan Kakeknya Itu Adalah Penyembah Berhala

Telah menceritakan kepadaku Ibnu Abu Syaibah, telah menceritakan kepada kami Ali ibnu Misar, dari Al-Ajlah, dari Az-Zayyal ibnu Harmalah Al-Asadi, dari Jabir ibnu Abdullah radhiyallahu ‘anhu yang telah menceritakan bahwa pada suatu hari orang-orang Quraisy berkumpul, lalu mereka mengatakan,

“Carilah oarng yang paling pandai di antara kalian mengenai ilmu sihir, tenung, dan syair, lalu suruh dia mendatangi lelaki ini (maksudnya Nabi Shalallahu ‘alaihi wasallam) yang telah memecah belah persatuan kita dan mengacaukan urusan kita serta mencela agama kita.

Hendaklah ia berbicara dengannya dan kita akan melihat apa yang akan dikatakan lelaki itu.”

Sebagian dari mereka menjawab,

“Kami tidak mengetahui seseorang yang menguasai hal itu selain dari Atabah ibnu Rabi’ah.”

Lalu mereka berkata, “Engkaulah yang maju, hai Abul Walid (nama panggilan Atabah).”

Lalu Atabah mendatangi Nabi Shalallahu ‘alaihi wasallam dan berkata kepadanya,

“Hai Muhammad, engkaukah yang lebih baik ataukah Abdullah (maksudnya ayah beliau)?”

Nabi Shalallahu ‘alaihi wasallam diam, lalu Atabah bertanya lagi,

“Engkaukah yang lebih baik ataukah Abdul Muttalib?”

Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wasallam diam, dan Atabah berkata,

“Jika engkau mengira bahwa mereka lebih baik daripada kamu, maka sesungguhnya mereka telah menyembah sembahan-sembahan yang kamu cela.

Dan jika engkau mengira bahwa dirimu lebih baik daripada mereka, maka berbicaralah agar kami dapat mendengar pendapatmu. Sesungguhnya kami, demi Tuhan, belum pernah melihat seekor anak kambing pun yang dianggap lebih membawa kesialan oleh kaummu selain dari kamu sendiri.

Engkau telah memecah belah persatuan kami dan mengacaukan urusan kami; engkau cela agama kami dan engkau permalukan kami di mata semua orang Arab, hingga telah tersiar di kalangan mereka bahwa di kalangan Quraisy terdapat seorang ahli sihir, dan di kalangan orang Quraisy terdapat seorang ahli tenung (tukang meramal).

Demi Allah, tiada yang kami tunggu selain pecahnya bisul yang berakibat sebagian dari kami menyerang sebagian yang lainnya hingga saling membunuh.

Hai laki-laki, jika engkau memang mempunyai suatu keperluan, kami sanggup menghimpun dana untukmu hingga kamu nanti menjadi orang Quraisy yang paling kaya tanpa saingan.

Dan jika sesungguhnya kamu mempunyai keinginan untuk kawin, maka pilihlah wanita Quraisy yang manakah yang kamu sukai, maka kami akan mengawinkanmu dengan sepuluh orang wanita dari mereka.”

Maka Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wasallam balik bertanya,

“Sudah selesaikah kamu?”

Atabah menjawab, “Ya.”

Lalu Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wasallam membaca firman-Nya:

Dengan nama Allah Yang Maha Pemurah lagi Maha Penyayang.

Ha Mim. Diturunkan dari Tuhan Yang Maha Pemurah lagi Maha Penyayang.

(Fushshilat: 1-2) sampai dengan firman-Nya: Jika mereka berpaling, maka katakanlah,

“Aku telah memperingatkan kamu dengan petir, seperti petir yang menimpa kaum ‘Ad dan kaum Tsamud.”(Fushshilat: 13)

Maka Atabah berkata,

“Cukup, cukup, apakah engkau tidak mempunyai yang lain?”

Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wasallam menjawab,

“Tidak.”

Kemudian Atabah kembali kepada orang-orang Quraisy, lalu mereka bertanya,

“Bagaimanakah hasilmu?”

Atabah menjawab,

“Tiada suatu hal pun yang ingin kalian bicarakan dengannya melainkan telah kukemukakan kepadanya.”

Mereka bertanya, “Apakah dia menjawabmu?”

Atabah menjawab, “Ya, tidak, demi yang telah membuat sembah-sembahan ini dengan keyakinan, aku tidak dapat memahami sesuatu pun dari apa yang diucapkannya, hanya dia memperingatkan kepada kalian akan adanya petir seperti petir yang telah menimpa kaum ‘ Ad dan kaum Tsamud.”

Mereka berkata, “Celakalah kamu ini, bukankah lelaki itu berbicara denganmu memakai bahasa Arab, lalu kami tidak memahami apa yang dikatakannya?”

Atabah menjawab,

“Tidak, demi Allah, aku tidak memahami sesuatu pun dari apa yang telah diucapkannya selain penyebutan adanya sa’iqah (petir) itu.”

Hal yang sama telah diriwayatkan oleh Al-Hafiz Abu Ya’la Al-Mausuli di dalam kitab musnadnya melalui Abu Bakar ibnu Abu Syaibah berikut sanadnya yang semisal dengan sanad hadis di atas.

Imam Al-Bagawi telah mengetengahkan hadis ini di dalam kitab tafsirnya berikut sanadnya melalui Muhammad ibnu Fudail. dari Al-Ajlah alias Ibnu Abdullah Al-Kindi Al-Kufi yang berpredikat sedikit daif, dari Az-Zayyal ibnu Harmalah, dari Jabir ibnu Abdullah radhiyallahu ‘anhu Lalu disebutkan hadis yang semisal sampai dengan firman-Nya:

Jika mereka berpaling, maka katakanlah, “Aku telah memperingatkan kamu dengan petir, seperti petir yang menimpa kaum ‘Addan kaum Tsamud.” (Fushshilat: 13)

Kemudian Atabah menutupkan tangannya ke mulut Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wasallam seraya memohon kepadanya demi pertalian rahim (persaudaraan) yang ada di antara keduanya.

Lalu Atabah kembali ke rumah keluarganya dan tidak pergi ke tempat orang-orang Quraisy serta mengurung dirinya.

Maka Abu Jahal berkata, “Hai golongan orang-orang Quraisy, demi Allah, kita tidak memandang Atabah melainkan dia telah masuk agama baru bergabung dengan Muhammad, rupanya makanan Muhammad telah memikatnya. Dan itu tiada lain karena dia sedang dilanda kesengsaraan. Maka marilah kita pergi menemuinya.”

Abu Jahal membuka pembicaraan,

“Hai Atabah, mengapa engkau tidak melapor kepada kami hingga kami tidak mempunyai pandangan lain kecuali engkau telah bergabung dengan Muhammad memeluk agama baru dan kamu terpikat oleh makanannya.

Maka jika engkau memang sedang dilanda kesengsaraan, kami akan mengumpulkan dana untukmu dari harta kami sehingga engkau tidak perlu lagi kepada makanan (jamuan) Muhammad.”

Mendengar ucapan itu Atabah marah besar dan bersumpah bahwa dia tidak mau bicara lagi dengan Muhammad untuk selamanya, lalu ia mengatakan,

“Demi Allah, kalian telah mengetahui bahwa diriku ini termasuk orang Quraisy yang paling banyak memiliki harta. Pada mulanya aku datang kepadanya dan kukatakan kepadanya semua yang ingin kalian bicarakan kepadanya. Maka dia menjawabku dengan sesuatu yang demi Allah, ia bukanlah syair, bukan tenung, bukan pula sihir.

Dia membaca firman-Nya: Jika mereka berpaling, maka katakanlah, “Aku telah memperingatkan kamu dengan petir, seperti petir yang menimpa kaum Ad dan kaum Tsamud.”(Fushshilat: 13)

Lalu aku tutup mulutnya dengan tanganku dan aku memohon kepadanya —demi pertalian silaturahim yang ada— agar diam. Dan tentu kalian sudah mengetahui bahwa Muhammad itu apabila berbicara tidak pernah dusta, maka aku merasa takut bila memang benar akan

diturunkan kepadamu azab.”

Teks hadis ini mirip dengan teks hadis yang diriwayatkan oleh Al-Bazzar dan Abu Ya’la, hanya Allah-lah Yang Maha Mengetahui.

Kisah ini telah diriwayatkan pula oleh Imam Muhammad ibnu Ishaq ibnu Yasar di dalam Kitabus Sirah-nya, tetapi dengan penyajian yang berbeda.

Dia mengatakan, telah menceritakan kepadaku Yazid ibnu Ziyad, dari Muhammad ibnu Ka’b Al-Qurazi yang menceritakan bahwa ia pernah mendengar Atabah ibnu Rabi’ah yang termasuk penghulu kaumnya pada suatu hari duduk di tempat perkumpulan orang-orang Quraisy (klub mereka), sedangkan Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wasallam saat itu sedang duduk di dalam Masjidil Haram sendirian, Atabah mengatakan,

“Hai golongan orang-orang Quraisy, bolehkan aku bangkit menuju kepada Muhammad, aku akan berbicara kepadanya dan menawarkan kepadanya beberapa perkara, barangkali dia mau menerima sebagiannya, lalu kita berikan kepadanya dan dia menahan dirinya tidak mengganggu kita lagi?”

Peristiwa ini terjadi di saat Hamzah radhiyallahu ‘anhu telah masuk Islam, dan orang-orang Quraisy

menyaksikan bahwa sahabat Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wasallam kian bertambah banyak dan Islam semakin pesat kemajuannya.

Mereka menjawab, “Benar engkau, hai Abul Walid.

Bangkitlah engkau kepadanya dan berbicaralah dengannya.”

Atabah bangkit menuju ke tempat Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wasallam berada, lalu duduk di dekatnya dan membuka pembicaraan,

“Hai anak saudaraku, sesungguhnya engkau adalah dari kalangan kami, saya mengetahui bahwa engkau dari keturunan yang terpandang dan terhormat dalam nasab lagi mempunyai kedudukan.

Dan sesungguhnya engkau telah mendatangkan kepada kaummu suatu perkara yang besar (meresahkan) sehingga berakibat engkau cerai beraikan persatuan mereka, engkau nilai bodoh orang-orang pandai mereka, dan engkau cela sembah-sembahan mereka dan juga agama mereka. Ini berarti engkau mengingkari agama nenek moyang mereka yang terdahulu.

Maka dengarkanlah dariku, aku akan menawarkan kepadamu beberapa perkara yang sebaiknya engkau mempertimbangkannya terlebih dahulu, barangkali saja kamu mau menerima sebagian darinya.”

Maka Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wasallam menjawab,

“Katakanlah, hai Abul Walid, aku akan mendengarmu.”

Atabah berkata, “Hai anak saudaraku, jika sesungguhnya engkau menginginkan di balik apa yang engkau sampaikan dari urusanmu itu sejumlah harta yang banyak, maka kami akan menghimpunkannya untukmu dari harta kami hingga engkau menjadi orang yang paling banyak hartanya di kalangan kami.

Dan jika engkau di balik itu menginginkan kedudukan yang terhormat, maka kami akan menjadikanmu sebagai orang yang berkuasa di kalangan kami, dan kami tidak berani memutuskan suatu perkara pun tanpa seizinmu.

Jika di balik itu engkau menginginkan kerajaan, maka kami akan mengangkatmu menjadi raja kami.

Dan jika apa yang datang kepadamu itu merupakan gangguan kejiwaan yang selalu membayang-bayangimu, sedangkan kamu tidak mampu menolaknya dan mengusirnya dari dalam jiwamu, maka kami akan mencarikan para tabib untuk menyembuhkanmu, dan kami akan membelanjakan semua harta kami untuk pengobatan ini hingga kami dapat menjadikanmu sembuh.

Karena sesungguhnya adakalanya orang yang kesurupan itu dapat dikalahkan oleh yang merasukinya hingga ia memerlukan pengobatan dari pihak luar yang akan mengusirnya,” atau kalimat lain yang semisal.

Setelah Atabah selesai dari mengutarakan maksudnya yang semuanya itu didengar oleh Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wasallam, lalu Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wasallam bertanya,

“Sudah selesaikah engkau, hai Abul Walid, dari maksudmu?”

Atabah menjawab, “Ya.”

Lalu Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wasallam bersabda,

“Sekarang dengarkanlah diriku.”

Atabah mengatakan, “Lakukanlah.”

Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wasallam membaca firman-Nya:

Dengan nama Allah Yang Maha Pemurah

lagi Maha Penyayang.

Ha Mim. Diturunkan dari Tuhan Yang Maha Pemurah lagi Maha Penyayang.

Kitab yang dijelaskan ayat-ayatnya, yakni bacaan dalam bahasa Arab, untuk kaum yang mengetahui, yang membawa berita gembira, dan yang membawa peringatan, tetapi kebanyakan mereka berpaling (darinya); maka mereka tidak (mau) mendengarkan. (Fushshilat: 1-4)

Kemudian Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wasallam Melanjutkan bacaannya.

Dan ketika Atabah mendengarkannya, maka ia diam mendengar dengan penuh perhatian, lalu meletakkan kedua tangannya ke belakang punggunya seraya bersandar pada kedua tangannya sambil mendengarkan bacaan Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wasallam hingga bacaan beliau sampai pada ayat sajdah yang ada padanya, lalu melakukan sujud tilawah. Sesudah itu beliau Shalallahu ‘alaihi wasallam bersabda,

“Hai Abul Walid, sekarang engkau telah mendengarkan apa yang barusan kamu dengar, maka terserah engkau begaimanakah penilaianmu terhadapnya.”

Maka Atabah bangkit menuju tempat teman-temannya, dan sebagian dari mereka berkata kepada sebagian yang lain,

“Kita bersumpah dengan nama Allah, sesungguhnya Abul Walid datang kepada kalian dengan roman muka yang berbeda dengan saat ia pergi menemuinya.”

Setelah Abul Walid bergabung duduk dengan teman-temannya, lalu mereka bertanya,

“Hai Abul Walid, bagaimanakah hasilmu?”

Atabah menjawab, “Hasil yang kudapat ialah aku telah mendengar suatu ucapan yang demi Allah aku belum pernah mendengar hal yang semisal dengannya.

Demi Allah, itu bukanlah sihir, bukan syair, bukan pula tenung.

Hai orang-orang Quraisy, turutilah perkataanku ini, dan dengarkanlah saranku ini. Biarkanlah antara lelaki ini (Nabi Shalallahu ‘alaihi wasallam maksudnya) dengan apa yang menjadi urusannya, asingkanlah saja dia, sesungguhnya akan terjadi suatu berita besar dari ucapannya yang telah kamu dengar ini. Jika dia dapat dikalahkan oleh orang-orang Arab (selain kalian), berarti kalian telah terhindar dari gangguannya melalui orang-orang selain kalian.

Dan jika dia beroleh kemenangan atas orang-orang Arab, berarti kemenangannya adalah kemenangan kalian juga, kejayaannya adalah kejayaan kalian juga dan kalian akan menjadi orang-orang yang paling berbahagia karena memilikinya.”

Orang-orang Quraisy berkata, “Dia telah menyihirmu, demi Allah, hai Abul Walid, melalui lisannya.”

Atabah menjawab, “Ini hanyalah pendapatku tentangnya, maka lakukanlah oleh kalian apa yang kalian pandang baik.”

Teks hadis ini mirip dengan hadis yang sebelumnya.

Hanya Allah-lah Yang Maha Mengetahui.

Sumber : http://www.ibnukatsironline.com/2015/10/tafsir-surat-fushshilat-ayat-1-5.html

4 Comments

  1. Ini hanya pendapat pribadi saya:

    tampaknya orang kafir quraisy kala itu lebih jauh memahami Al-Qur’an dibandingkan mayoritas umat muslim saat ini. Ini terbukti dari pernyataan Utbah bin Rabi’ah yang dedengkot kafir, yang jelas2 paham bahwa Al-Qur’a, bukan sihir dan bukan syair. Hal ini juga dibuktikan bahwa Utbah tak bisa membalas kata-kata Rasulullah karena keyakinan Utbah bahwa MUSTAHIL manusia mampu mengeluarkan kata-kata itu.

    Ironis memang jika kekafiran mereka justru menutup hati mereka padahal mereka paham dengan ayat suci Al-Qur’an yang menurut saya, pemahamannya jauh lebih baik dibandingkan kita mayoritas umat-umat muslim saat ini.

    Memang orang kafir quraisy itu lebih paham tentang keberadaan Allah, tentang makna laa ilaaha illallah DENGAN KONSEKWENSINYA, makanya orang kafir quraisy TIDAK MAU MEMELUK ISLAM, karena salah satu konsekwensinya adalah mereka harus meninggalkan sesembahan atau berhala mereka,.

    Sedangkan umat islam indonesia, banyak yang tidak paham konsekwensi dari laa ilaaha illallah, sehingga banyak kaum muslimin yang masih melakukan pembatal-pembatal SYAHADAT, melakukan pembatal-pembatal islam,.

    Ketika ditanyakan kepada orang kafir quraisy, siapa pencipta alam semesta ini, maka mereka akan menjawab,.. ALLAH…

    Bahkan ketika mereka tertimpa musibah yang resikonya itu adalah NYAWA, maka mereka memurnikan berdoa hanya kepada Allah, misal saat mereka berada di tengah laut dan dihantam badai, mereka berdoa kepada Allah saja, melupakan berhala-berhala mereka,.

    Tapi ketika mereka sudah kembali aman ke daratan, mereka kembali menyekutukan Allah,. bertawasul kepada berhala-berhala tersebut yang merupakan perwujudan dari orang-orang shalih yang sudah meninggal,.

    Kalau di indonesia, banyak kaum muslimin yang tawassul kepada orang shalih yang sudah mati, dengan datang ke kuburan-kuburan wali untuk meminta didoakan oleh orang yang sudah mati tersebut,.. ini adalah kesyirikan yang sama seperti yang dilakukan oleh orang kafir quraisy

    Orang kafir quraisy TIDAK MAU masuk islam karena paham konsekwensi Islam, sementara banyak orang islam indonesia yang sudah islam sejak lahir, tapi ngga paham konsekwensi Islam,

  2. Assalamualaikum . .

    Tlng jelaskan arti. . Nabi muhammad saw disebut 2 putra yg disembelih.
    Adakah penjelasan,knapa Nabi dilahirkan melalui kdua org tuay yg msk neraka, kenapa nabi ga dilahirkan dr org2 yg soleh atau knpa ga dilahirkan seperti nabi isa .

    Justru BAPAKNYA PARA NABI pun BAPAKNYA itu MASUK NERAKA, siapa nabi tersebut, Nabi Ibrahim, Keturunan nabi ibrahim banyak yang menjadi nabi,

    Tidak aneh tuh,.Isa dan Muhammad itu salah satu keturunan nabi Ibrahim juga

  3. Best Quote Ever;

    Orang kafir quraisy TIDAK MAU masuk islam karena paham konsekwensi Islam, sementara banyak orang islam indonesia yang sudah islam sejak lahir, tapi ngga paham konsekwensi Islam.

    Saya patrikan dalam hati, insya Allah

    Alhamdulillah,.
    Memang seperti itu REALITANYA

  4. Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh..
    Ada satu pertanyaan syubhat yg hinggap di hati saya, ttg ayat alquran yg menjelaskan Nabi Ibrahim pergi ke palestin untuk menemui Tuhannya.
    Maka secara dzahir berarti Allah itu di Palestine. Terima kasih, mohon pencerahannya..

    Wa’alaikumussalamwarahmatullahi wabarakatuh,
    Jawabannya ayat alquran juga,
    Ketika Musa ingin agar Allah menampakkan diri, maka gunung yang BESAR itupun hancur berkeping-keping karena TAKUT kepada Allah,

    Dan MUSA juga diajak bicara oleh Allah,

    Jadi tidak benar Allah menampakkan dirinya di hadapan nabi Ibrahim,

    Biar paham maksudnya, silahkan baca tafsirnya,

    Bukan memahami sendiri, atau dipahami berdasarkan logika sebagaimana ahli kalam, pengikut tasawuf,

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*