Perkara Pengkafiran Sangatlah Berbahaya , HATI-HATI…

YANG PALING BELIAU TAKUTKAN…

[1]- Rasulullah -shallallaahu ‘alaihi wa sallam- bersabda:

(إِنَّ أَخْوَفَ مَا أَخَافُ عَلَيْكُمْ: رَجُلٌ قَرَأَ الْقُرْآنَ، حَتَّى إِذَا رُئِيَتْ بَهْجَتُهُ عَلَيْهِ -وَكَانَ رِدْءاً لِلْإِسْلَامِ- اِنْسَلَخَ مِنْهُ، وَنَبَذَهُ وَرَاءَ ظَهْرِهِ، وَسَعَى عَلَى جَارِهِ بِالسَّيْفِ، وَرَمَاهُ بِالشِّرْكِ)) قُلْتُ: يَا نَبِيَّ اللهِ! أَيُّهُمَا أَوْلَى بِالشِّرْكِ: الْمَرْمِيُّ أَمِ الرَّامِيْ؟ قَالَ: ((بَلِ الرَّامِيْ))

“Sungguh, yang paling aku takutkan atas kalian adalah: seorang laki-laki yang membaca Al-Qur’an, sampai terlihat kebagusannya pada dirinya -sedangkan dia menolong Islam-; (kemudian) orang itu terlepas darinya (Al-Qur’an) dan mencampakkannya, serta membawa pedang (untuk membunuh) tetangganya, dan menuduhnya dengan syirik.”

Aku (Hudzaifah) bertanya: Wahai Nabi Allah, siapakah yang lebih tepat dilabeli syirik: Yang dituduh atau yang menuduh?

Beliau menjawab: “Yang menuduh.”

[Lihat: “Silsilah Al-Ahaadiits Ash-Shahiihah” (no. 3201), karya Imam Al-Albani -rahimahullaah-]

[2]- Pertanyaan: Di sana ada seklompok ikhwah yang belajar sedikit ilmu, kemudian mulai lah dia mengkafirkan manusia. Sedangkan Rasulullah -shallallaahu ‘alaihi wa sallam- bersabda:

إِذَا قَالَ الرَّجُلُ لِأَخِيهِ يَا كَافِرُ، فَقَدْ بَاءَ بِهِ أَحَدُهُمَا

“Jika seseorang berkata kepada saudaranya: “Wahai kafir”; maka salah satunya akan kembali dengan membawanya.” [Muttafaqun ‘Alaihi]

Maka, adakah kalimat arahan -tentang kekufuran-?

Dan kapan seseorang dikatakan kafir?!

Imam Muhammad Nashiruddin Al-Albani -rahimahullaah- menjawab:

“Pertama-tama: Bagi seorang yang berilmu dan memahami Al-Kitab dan As-Sunnah: maka tidak boleh memutlakkan kekufuran atas seorang pun atau jama’ah tertentu: KECUALI SETELAH MENEGAKKAN HUJJAH ATASNYA.

Dan ini menuntut dari orang yang berilmu untuk memahami pendapat orang yang akan dikafirkan dengan pemahaman yang benar. Kemudian (pendapat orang) itu dibandingkan dengan dalil-dalil dari Al-Kitab dan As-Sunnah. Kalau pun dalil-dalil menunjukkan bahwa orang itu berhak untuk dikafirkan; maka tetap tidak boleh untuk menghukumi keadaannya KECUALI SETELAH MENEGAKKAN HUJJAH ATASNYA.

DAN TIDAK DIRAGUKAN LAGI BAHWA HAL INI BUKAN LAH SPESIALISASI (KEAHLIAN) DARI PARA PENUNTUT ILMU. Cukuplah bagi mereka untuk menghadirkan firman Allah -Ta’aalaa-:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا عَلَيْكُمْ أَنْفُسَكُمْ لا يَضُرُّكُمْ مَنْ ضَلَّ إِذَا اهْتَدَيْتُمْ…

“Wahai orang-orang yang beriman! Jagalah dirimu; (karena) orang yang sesat itu tidak akan membahayakanmu apabila kamu telah mendapat petunjuk…” (QS. Al-Maa-idah: 105)

Maka sebagai penuntut ilmu: Wajib atasnya untuk menjauh -dan menyelamatkan dirinya- jangan sampai terjatuh kepada perkara (kekafiran) yang orang yang ingin dikafirkannya telah terjatuh ke dalamnya.

Dan sabda beliau -‘alaihis salaam-:

“Jika seseorang berkata kepada saudaranya: “Wahai kafir”; maka salah satunya akan kembali dengan membawanya.”; di dalamnya terdapat ancaman keras bagi seorang muslim yang terburu-buru dalam memutlakkan kata kafir terhadap seorang (muslim lainnya) yang bersyahadat: Laa Ilaaha Illallaah Muhammad Rasululullaah.

Jika seorang penuntut ilmu memiliki pendapat (tentang kafirnya seseorang); maka hendaknya dia paparkan kepada orang yang ingin dia kafirkan, dan mendiskusikan hal tersebut dengannya. KARENA BISA JADI JUSTRU DIA SENDIRI LAH YANG SALAH; bukan orang (yang ingin dia kafirkan) tersebut.

Intinya bahwa: PERKARA PENGKAFIRAN SANGATLAH BERBAHAYA. Oleh karena itulah dikatakan oleh para ulama:

“Jika di sana ada 99 (sembilan puluh sembilan) pendapat untuk mengkafirkan individu tertentu, dan hanya ada 1 (satu) pendapat yang tidak mengkafirkannya;

MAKA UNTUK KEHATI-HATIAN DAN KEWASPADAAN ADALAH: DENGAN MENGIKUTI PENDAPAT YANG HANYA SATU INI dibandingkan mengikuti pendapat-pendapat yang banyak tersebut. KARENA PERKARANYA SANGAT BERBAHAYA.

Ketika ada seseorang yang akan dikafirkan -dimana dia telah terjatuh ke dalam perbuatan kufur-; maka apa salahnya jika kita menjaga diri dan berhati-hati untuk diri kita sendiri; dengan tidak memutlakkan kata kafir kepadanya?!

Saya kira munculnya sikap terburu-buru ini dari mereka SEBABNYA ADALAH: TERTIPU (DENGAN DIRI SENDIRI) DAN SIFAT ‘UJUB (BERBANGGA), SERTA TERKECOH DENGAN ILMU -PADAHAL MASIH DANGKAL- yang didapatkan oleh sebagian mereka. Mereka mengkafirkan hamba-hamba Allah

…وَهُمْ يَحْسَبُونَ أَنَّهُمْ يُحْسِنُونَ صُنْعًا

“…sedangkan mereka mengira telah berbuat sebaik-baiknya.” (QS. Al-Kahfi: 104)

(Mereka mengira telah berbuat sebaik-baiknya) dalam perbuatan (pengkafiran) mereka tersebut.

Dan tugas penuntut ilmu yang hakiki adalah: untuk selalu mengingat ayat yang telah disebutkan:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا عَلَيْكُمْ أَنْفُسَكُمْ لا يَضُرُّكُمْ مَنْ ضَلَّ إِذَا اهْتَدَيْتُمْ…

“Wahai orang-orang yang beriman! Jagalah dirimu; (karena) orang yang sesat itu tidak akan membahayakanmu apabila kamu telah mendapat petunjuk…” (QS. Al-Maa-idah: 105)”

[“Al-As-ilah Asy-Syaamiyyah” (hlm. 50-53), dikumpulkan oleh Syaikh ‘Ali bin Hasan Al-Halabi -hafizhahullaah-]

-ditulis oleh: Ahmad Hendrix-

sumber : https://www.facebook.com/ahmadhendrix.eskanto/posts/443879675952914

Silahkan tinggalkan komentar di sini