Takfir Terhadap Individu Muslim Untuk #ZAMAN_SEKARANG

TAKFIR TERHADAP INDIVIDU MUSLIM UNTUK #ZAMAN_SEKARANG

[1]- Imam Ibnu Qayyim Al-Jauziyyah -rahimahullaah- berkata:

“Seorang mufti dan hakim tidak akan bisa berfatwa dan menghukumi kecuali dengan dua jenis pemahaman:

Pertama: Pemahaman terhadap realita, (dengan) mendalaminya dan berusaha mengetahui hakikat kejadian (dan keadaan) yang sebenarnya, (yaitu) dengan (cara) mempelajari indikasi dan tanda-tanda, sehingga dia benar-benar menguasai (realita) tersebut.

Kedua: Pemahaman terhadap kewajiban (kita) dalam menghadapi realita tersebut, yaitu: pemahaman terhadap hukum Allah yang terdapat dalam kitab-Nya maupun (Sunnah) Rasul-Nya.

Kemudian dia menggabungkan dua jenis pemahaman tersebut.

Barangsiapa yang bersungguh-sungguh dalam mengerahkan kemampuannya dalam hal ini; maka (kalau benar) dia mendapat dua pahala atau (kalau salah) dia mendapat satu pahala. Maka yang dinamakan ‘Aalim (orang yang berilmu) adalah: orang yang mengetahui realita dan mempelajarinya, kemudian pemahamannya (terhadap realita) ini dia gunakan untuk mengetahui hukum Allah dan Rasul-Nya (dalam perkara-perkara tersebut)…

Barangsiapa memperhatikan syari’at dan hukum-hukum para Shahabat (Nabi), maka dia akan mendapatkannya dipenuhi dengan (metode) ini. Dan barangsiapa yang tidak menempuh (jalan) ini; maka dia akan menyia-nyiakan hak manusia dan menisbatkan (ketidak adilan) tersebut kepada syari’at (Islam) yang Allah turunkan kepada Rasul-Nya.”

[“I’laamul Muwaqqi’iin” (I/165-166-cet. III)]

[2]- Yang HARUS diperhatikan: kalau benar bahwa Syaikh Fulan dan lainnya berpendapat bahwa UNTUK ZAMAN SEKARANG adalah tidak ada udzur bagi perkara yang zhahir; maka berarti: itu adalah #IJTIHAD beliau; karena berkaitan dengan “Tahqiiqul Manaath”, karena sesuatu yang dikaitkan dengan “Tahqiiqul Manaath” adalah: Ijtihadiyyah. Silahkan lihat makalah: Mintalah Fatwa Pada Hatimu: https://m.facebook.com/story.php….

Sedangkan kalau untuk masalah: apakah kekufuran zhahir #ZAMAN_SEKARANG sudah sangat terang (sehingga tidak ada udzur kalau pelakunya bodoh/tidak tahu) atau pun tidak (sehingga masih ada udzur), [atau bahkan: tidak dibedakan antara keduanya dalam masalah diberi udzur]; maka tentunya ulama yang sudah KELILING DUNIA lebih faham dibandingkan yang lainnnya. Karena ulama yang #keliling_dunia tersebut; tentunya lebih mengetahui waaqi’/realita berbagai macam manusia di berbagai penjuru dunia.

Wallaahu A’lam.

[3]- Dan untuk kita -di negeri kita- bagi yang #merasa berilmu; maka bukanlah kita fokus pada orang lain -yang tidak sampai hujjah kepadanya-. Akan tetapi: apakah kita sudah maksimal dalam usaha menyampaikan hujjah? Ataukah belum – sehingga dikhawatirkan kita berdosa-!

Nas-alullaah As-Salaamah Wal ‘Aafiyah.

-Ahmad Hendrix-

sumber : https://www.facebook.com/ahmadhendrix.eskanto/posts/406935529647329

Print Friendly, PDF & Email

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*