Fatwa Syaikh Shalih Al-Fauzan – Siapa Yang BERHAK Mengkafirkan Individu, Kelompok dan Negara ?

SIAPA YANG BERHAK MENGKAFIRKAN TERHADAP: PERORANGAN, KELOMPOK, ATAU NEGARA?

Syaikh Shalih Al-Fauzan -hafizhahullaah- berkata:

“Bukan hak setiap orang untuk memutlakkan Takfir (pengkafiran) atau berbicara tentang masalah Takfir (pengkafiran) terhadap kelompok, atau terhadap individu.

Takfir itu ada aturan-aturannya, barangsiapa yang menerjang salah satu pembatal keislaman; maka dia dihukumi kafir. Dan pembatal keislaman itu sudah ma’ruf (diketahui), yang paling besar: adalah Syirik kepada Allah, mengakui ilmu ghaib, dan berhukum dengan selain hukum Allah. Allah berfirman: “…Barangsiapa yang tidak berhukum dengan apa yang diturunkan Allah; maka mereka adalah orang-orang kafir.” (QS. Al-Maa-idah: 44).

Maka Takfir (pengkafiran) adalah berbahaya, tidak boleh bagi setiap orang untuk mengatakannya pada orang lain. Akan tetapi ini hanyalah tugas Mahkamah Syar’iyyah, dan tugas ahli ilmu yang kokoh keilmuannya: yang mengenal Islam, mengenal pembatal keislaman, mengenal keadaan-keadaan, dan mempelajari realita manusia serta masyarakat yang ada. Maka merekalah yang berhak untuk menghukumi dengan kekafiran dan perkara lainnya.

Adapun orang-orang bodoh, individu-individu manusia, atau para pelajar yang masih pertengahan; maka bukan hak mereka untuk memutlakkan Takfir (pengkafiran) atas individu, kelompok, atau negara. Karena mereka tidak ahli terhadap hukum ini.”

[“Al-Muntaqaa Mi Fataawaa Syaikh Fauzan” (I/112)]

Syaikh Shalih Al-Fauzan juga berkata:

“Dan diantara jenis kemurtadan dari Islam adalah: berhukum dengan selain apa yang Allah turunkan. Barangsiapa yang berhukum dengan selain apa yang Allah turunkan; dengan melihat bahwasanya itu LEBIH BAIK daripada hukum Allah dan Rasul-Nya, LEBIH TEPAT untuk manusia, atau berpendapat bahwa DIA BOLEH MEMILIH untuk berhukum dengan apa yang Allah turunkan atau berhukum dengan selainnya berupa undang-undang; maka dia kafir murtad keluar dari Islam. Allah -Ta’aalaa- berfirman: “…Barangsiapa yang tidak berhukum dengan apa yang diturunkan Allah; maka mereka adalah orang-orang kafir.” (QS. Al-Maa-idah: 44).

Dan SAMA SAJA apakah dia berhukum dengan undang-undang DALAM SEGALA SESUATU, atau berhukum dengannya PADA SEBAGIAN PERKARA; selama dia berpendapat bahwa itu adalah LEBIH TEPAT untuk masyarakat, atau bahwa itu adalah PERKARA YANG BOLEH; maka dia kafir; walaupun dia shalat, puasa, dan menyangka bahwa dirinya muslim.”

[“Al-Khutab Al-Minbariyyah” (I/24)]

-dinukil dan diterjemahkan oleh Ahmad Hendrix dari Kitab: “At-Tabshiir Bi Qawaa’id At-Takfiir” (hlm. 34), karya Syaikh ‘Ali bin Hasan Al-Halabi -hafizhahullaah-

Sumber : https://www.facebook.com/ahmadhendrix.eskanto/posts/446566039017611

Print Friendly

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*