Fatwa Para ULAMA Tentang Tidak Boleh Sembarangan MEMVONIS KAFIR

Syaikh Utsaimin Memvonis Orang

BEBERAPA FAEDAH DARI PARA ULAMA TENTANG TAKFIR (PENGKAFIRAN)

[1]- FATWA LAJNAH DAA-IMAH

PERTANYAAN:

Apakah bisa seseorang mengatakan kepada temannya: “Anda kafir.” Sebelum memberitahu (bahwa) amalannya (kufur)?

JAWAB:

Segala puji bagi Allah, shalawat dan salam atas Rasul-Nya, keluarga, dan Shahabat beliau, Amma Ba’du.

Kalau temannya kafir; maka yang disyari’atkan adalah: MEMBERITAHU BAHWA AMALANNYA KAFIR, MENASEHATINYA UNTUK MENINGGALKANNYA dengan cara yang baik. Kalau tidak dia tinggalkan amalan kufurnya; maka diperlakukan padanya hukum orang kafir, dan terancam dengan ancaman Allah terhadap orang-orang kafir dengan kekal di Neraka. DAN YANG WAJIB ADALAH BERHATI-HATI DALAM MASALAH INI, DAN TIDAK TERBURU-BURU UNTUK MENGKAFIRKAN SEBELUM DALIL ITU JELAS.

Wabillaahit Taufiiq, semoga shalawat dan salam atas Rasul-Nya, keluarga, dan Shahabat beliau.

PERTANYAAN:

Apakah ulama berhak untuk kepada seseorang bahwa dia kafir atau menuduhnya dengan kekafiran?

JAWAB:

Segala puji bagi Allah, semoga Allah memberikan shalawat dan salam atas Rasul-Nya, keluarga, dan Shahabat beliau, Amma Ba’du.

Pengkafiran yang bukan kepada individu tertentu adalah disyari’atkan; dengan dikatakan: barangsiapa yang beristighatsah kepada selain Allah dalam kekhususan Allah: maka dia kafir; seperti orang yang beristighatsah kepada nabi atau wali untuk menyembuhkannya atau menyembuhkan anaknya.

Adapun mengkafirkan individu tertentu; maka jika mengingkari suatu perkara yang telah diketahui dari agama secara pasti; seperti: mengingkari shalat, zakat, atau puasa SETELAH SAMPAI (HUJJAH); maka ini wajib, ORANG ITU DINASEHATI. Kalau dia bertaubat (maka itu yang diaharapkan), dan kalau tidak; maka wajib atas ULIL AMRI untuk membunuhnya. Kalaulah tidak disyari’atkan pengkafiran terhadap individu tertentu ketika ada hal yang mewajibkan pengkafirannya; maka tidak ada penegakkan “hadd” (hukuman bunuh) atas orang yang murtad dari Islam.

Wabillaahit Taufiiq, semoga Allah memberikan shalawat dan salam atas Rasul-Nya, keluarga, dan Shahabat beliau.

Ketua (Lajnah): Syaikh ‘Abdul ‘Aziz bin Baz.

Wakil: Syaikh ‘Abdurrazzaq ‘Afifi.

[Fataawaa Al-Lajnah Ad-Daa-imah” (II/92)]

[2]- Imam Muhammad Nashiruddin Al-Albani -rahimahullaah- berkata:

“Saya katakan: bersama semua penunjukkan ini; maka kita tidak mampu untuk mengkafirkan kaum muslimin tersebut, karena belum tegak hujjah atas mereka. Karena tidak ada para Da’i yang mencukupi yang bisa menyampaikan kepada masyarakat tentang dakwah Tauhid yang murni dari kesyirikan. Tidak ada (para Da’i) yang bisa mendominasi mereka, yang ada hanyalah beberapa individu yang sedikit, yang suara mereka lenyap dan tidak ada pengaruhnya, kecuali pengaruh terhadap beberapa individu yang memang ada hubungan dengan mereka -pada kesempatan-kesempatan yang khusus atau umum-. Akan tetapi tetap belum mencakup.

Inilah ‘Aqidah kami: kalau ada seorang INDIVIDU (dari kaum muslimin) yang shalat bersama kita, dan puasa bersama kita, kalau dia terjatuh dalam kekafiran; maka kita TIDAK mengkafirkannya. Akan tetapi jika kita mengetahui hal tersebut; maka kita jelaskan kepadanya bahwa: ini adalah kekafiran terhadap Allah -‘Azza Wa Jalla-. Maka berhati-hatilah antara engkau dan orang tersebut.”

[dinukil dari Kitab: “Fitnatut Takfiir” (hlm. 74-75), ‘Ali bin Husain Abu Lauz]

[3]- Syaikh Ibrahim bin ‘Amir Ar-Ruhaili -hafizhahullaah- berkata:

“Penjelasan tentang siapa yang berhak untuk meneliti dan menghukumi dalam masalah Takfir (pengkafiran).

Telah berlalu pembahasan tentang penetapan bahwasanya kekufuran termasuk hukum syar’i dan sifatnya tauqifi; dikembalikan kepada dalil dan tidak boleh AKAL bermain di dalamnya. Bahkan itu adalah HAK Allah dan Rasul-Nya. Maka tidak boleh memutlakan kekufuran atas perbuatan atau amalan bahwasanya itu kufur, sebagaimana TIDAK BOLEH memutlakan atas individu tertentu bahwa dia kafir; kecuali dengan dalil sam’i yang pasti.

Jika telah tetap hal ini; maka telah jelas bahwasanya: meneliti dalam masalah ini tidak boleh dilakukan kecuali oleh ahli ilmu yang kokoh, yang mampu untuk istinbath (mengambil) hukum syar’i dalam permasalahan ini dari dalil-dalil syar’i. Maka seorang yang akan meneliti dalam masalah Takfir (pengkafiran) ini harus memperhatikan: terpenuhinya syarat-syarat yang dianggap untuk Mufti dalam hukum-hukum syar’i yang lain -sebagaimana dijelaskan dalam kitab-kitab Ushul Fiqih-.”

[“At-Takfiir Wa Dhwaabithuhu” (hlm. 307)]

-ditulis oleh: Ahmad Hendrix-

 FAHAM TERHADAP HUJJAH

[1]- Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah -rahimahullaah- berkata:

“Demikianlah perkataan-perkataan yang orang yang mengatakannya dikafirkan:

– Kadang seseorang tidak sampai dalil-dalil padanya yang dengannya dia bisa mengenal kebenaran,

– Kadang sampai akan tapi menurutnya tidak sah,

– Atau dia tidak mampu memahaminya,

– Dan kadang ada syubhat yang membuatnya dia diberi udzur oleh Allah.”

[2]- Imam Ibnul Qayyim -rahimahullaah- berkata:

“Sungguh tegaknya hujjah adalah berbeda-beda disesuaikan dengan perbedaan (1)waktu, (2)tempat, dan (3)individu.

Maka kadang hujjah Allah tegak atas orang-orang kafir pada suatu zaman akan tetapi tidak pada zaman yang lain, tegak pada suatu daerah akan tetapi tidak pada daerah lain, sebagaimana kadang hujjah tegak atas seorang individu tapi tidak pada yang lain, bisa jadi:

– Karena dia tidak faham atau belum mumayyiz seperti anak kecil atau orang gila,

– Dan terkadang karena tidak faham; seperti orang yang tidak paham pembicaraan atau tidak ada penerjemah yang bisa menerjemahkan baginya.

Maka ini seperti orang yang tuli yang tidak mendengarkan apapun dan tidak bisa memahami. Maka itulah salah satu dari empat orang yang memberikan alasan kepada Allah pada Hari Kiamat.”

[3]- Syaikh Ibrahim bin ‘Amir Ar-Ruhaili -hafizhahullaah- berkata:

“Maka nukilan-nukilan ini menunjukkan atas ketetapan ahli ilmu bahwa: HUJJAH tidak tegak kecuali dengan memahaminya, dan bahwa pengkafiran tidak bisa dilakukan kecuali setelah penerangan dan penjelasan.”

[Dinukil dari Kitab: “At-Takfiir Wa Dhawaabithuhu” (hlm. 283-284), karya Syaikh Ibrahim Ar-Ruhaili]

[4]- Syaikh Muhammad bin Shalih Al-‘Utsaimin -rahimahullaah-

السائل: إذا بلغته الحجة، لا يُعَّرَف، بلغته الحجة القرآن والرسول -صلى الله عليه وسلم-؟

Penanya : Jika telah sampai hujjah; maka tidak butuh diberi pengertian (penjelasan). Telah sampai hujjah berupa Al-Qur’an dan (Sunnah) Rasul -shallalllaahu ‘alaihi wa sallam-?

الشيخ: ما يكفي، ما يكفي .

Syaikh Al-‘Utsaimin : Tidak cukup, tidak cukup.

السائل: كيف يعني؟

Penanya : Bagaimana maksudnya?

الشيخ: أفرض أنه أعجمي، ما يفهم القرآن أيش معناه؟

Syaikh Al-‘Utsaimin : Saya umpamakan bahwa dia adalah orang ‘ajam (non Arab), dia tidak bisa memahami Al-Qur’an: Apa maknanya?

السائل: يعني ما بلغتْه؟

Penanya : Yakni: Berarti hujjah belum sampai?

الشيخ: لا بلغته، وصل، سمع، لكن لا بد أن يفهم المعنى .

Syaikh Al-‘Utsaimin : Bukan begitu. (Hujjah) sudah sampai. Sampai dan dia mendengar; akan tetapi dia harus memahami maknanya.

السائل: كيف شيخ؟

Penanya : Bagaimana Syaikh?

الشيخ: يعني أقول لا بد أن يفهم المعنى، بارك الله فيك .

Syaikh Al-‘Utsaimin : Saya katakan padamu: Dia harus memahami maknya. Baarakallaahu Fiik.

https://m.facebook.com/story.php?story_fbid=445595735781308&id=100009926563522

[5]- Syaikh Ibrahim bin ‘Amir Ar-Ruhaili -hafizahullaah- berkata:

“Dan telah berlalu isyarat ketika penyebutan khilaf dalam masalah pemahaman hujjah; bahwa di antara Imam dakwah: ada yang menisbatkan kepada Syaikh Muhammad bin ‘Abdul Wahhab -rahimahullaah-: pendapat bahwa tidak disyaratkan memahami hujjah, dan bahwasanya hujjah telah tegak dengan sampainya Al-Qur’an dan mendengarnya, dan tidak disyaratkan untuk menegakkan hujjah harus dengan memahami Al-Qur’an…”

(Padahal Syaikh Muhammad bin ‘Abdul Wahab -rahimahullaah-) berkata: “Jika individu tertentu dikafirkan kalau sudah tegak hujjah atasnya; maka sudah maklum bahwa jika tegaknya hujjah bukanlah maknanya: DIA MEMAHAMI firman Allah dan sabda Rasul-Nya: SEPERTI PEMAHAMAN ABU BAKAR ASH-SHIDDIQ -radhiyallaahu ‘anhu-, bahkan jika sampai kepadanya firman Allah dan sabda Rasul-Nya, dan TIDAK ADA SESUATU YANG DIA DIBERI UDZUR DENGANNYA; maka dia kafir.”

Maka dengan tegas Syaikh (Muhammad bin ‘Abdul Wahhab) menyebutkan bahwa: PEMAHAMAN YANG DINAFIKAN DALAM SYARAT PENEGAKKAN HUJJH ADALAH: PEMAHAMAN MENDALAM UNTUK MASALAH; #SEPERTI_PEMAHAMAN_ABU BAKAR -radhiyallaahu ‘anhu-. Dan ikatan ini yang disebutkan oleh Syaikh di sini: itulah yang sepantasnya dibawa kepadanya lahiriyah perkataan beliau tentang: tidak disyaratkan memahami dalam penegakan hujjah. Sehingga pemahaman yang dinafikan adalah: pemahaman yang rinci dan mendalam, bukan pemahaman global yang tidak diketahui maksud dari pembicaraan kecuali dengannya.

Maka perkataan Syaikh Muhammad (bin ‘Abdul Wahhab) -rahimahullaah- adalah: sesuai dengan apa yang ditunjukkan dari dalil-dalil serta pendapat para ulama muhaqqiq dari kalangan Ahlus Sunnah bahwasanya: dalam penegakan hujjah atas individu tertentu: harus dia memahaminya.”

[“At-Takfiir Wa Dhawaabithuhu” (hlm. 285-288), karya Syaikh Ibrahim bin ‘Amir Ar-Ruhaili -hafizhahullaah-]

-ditulis oleh: Ahmad Hendrix-

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*