FATWA SYAIKH UTSAIMIN (UDZUR KARENA KEBODOHAN) Bagian 2

FATWA SYAIKH UTSAIMIN (UDZUR KARENA KEBODOHAN) Bagian 2

SYAIKH MUHAMMAD BIN SHOLEH AL-UTSAIMIN ditanya tentang uzur dengan sebab kebodohan terhadap perkara yang berkaitan dengan aqidah.

SYAIKH MENJAWAB: Ikhtilaf dalam permasalahan udzur dengan sebab kebodohan, sama seperti permasalahan ikhtilaf fiqhiyah lainnya yang bersifat ijtihadiyah, bahkan terkadang perselisihannya bersifat lafdziyah (tidak terjadi kontradiksi) dalam beberapa keadaan ketika mempraktekkannya kepada orang yang ditentukan.

Maksudnya: semua sepakat bahwa perkataan ini kufur, atau perbuatan ini kufur, atau meninggalkan ini kufur. Akan tetapi, apakah hukum kufur tersebut benar melekat kepada orang yang ditentukan karena tegaknya tuntutan pada haknya, dan hilangnya pencegah (pengkafiran)?? atau tidak terealisasi karena hilangnya sebagian tuntutan atau ada sebagian penghalang (dari kekafiran)??

Yang demikian karena bodoh terhadap hal yang mengkafirkan seseorang ada dua macam:

JENIS PERTAMA:

Kebodohan tersebut berasal dari orang yang beragama selain islam atau tidak beragama sama sekali, dan tidak terpikirkan sama sekali bahwa agama menyelisihi apa yang dia lakukan: maka yang seperti ini berlaku baginya hukum yang dzohir di dunia, adapun di akhirat maka perkaranya diserahkan kepada Allah –ta’ala-. Dan pendapat yang rojih (kuat) bahwa dia akan diuji di akhirat dengan apa yang dikehendaki Allah –azza wa jalla- dan Allah mengetahui apa yang mereka amalkan. Akan tetapi kita mengetahui bahwa dia tidak akan masuk neraka kecuali dengan sebab melakukan dosa, berdasarkan firman-Nya:

وَلَا يَظْلِمُ رَبُّكَ أَحَدًا

“dan Tuhanmu tidaklah mendzolimi seorang pun”[Al-Kahfi: 49]

Kenapa kita mengatakan: berjalan baginya hukum yang dzohir di dunia –maksudnya adalah hukum kufur- dikarenakan dia tidak beragama dengan agama islam, Maka tidak mungkin kita berikan hukumnya (dihukumi seperti muslim). Akan tetapi kita katakan bahwa yang rojih (kuat) bahwa dia akan di uji di akhirat: karena telah datang atsar yang banyak yang telah disebutkan oleh Ibnu Qoyyim –rahimahullah- dalam kitabnya thoroqul hijrotain ketika menyebutkan mazhab yang kedelapan tentang anak-anak orang musyrik dalam pembahasan thobaqot keempat belas.

JENIS KEDUA:

Kebodohan ini berasal dari orang yang beragama islam, akan tetapi dia hidup di atas hal yang mengkafirkan ini, dan tidak pernah terbetik dalam pikirannya bahwa dia menyelisihi islam, dan tidak ada seseorang pun yang mengingatkannya dalam hal itu: maka yang seperti ini BERJALAN BAGINYA HUKUM ISLAM SECARA DZOHIR. Adapun di akherat maka perkaranya kita serahkan kepada Allah –azza wa jalla-.

Dan telah menunjukkan kepada hal ini al-Kitab, as-Sunnah dan perkataan ahlul ilmi

DI ANTARA DALIL DARI KITAB:.

[1] firman Allah:

وَمَا كُنَّا مُعَذِّبِينَ حَتَّى نَبْعَثَ رَسُولًا

“Tidaklah kami mengazab sampai kami mengutus seorang rasul” [Al-Isra: 15]

[2] Dan firman-Nya:

وَمَا كَانَ رَبُّكَ مُهْلِكَ الْقُرَى حَتَّى يَبْعَثَ فِي أُمِّهَا رَسُولًا يَتْلُو عَلَيْهِمْ آيَاتِنَا وَمَا كُنَّا مُهْلِكِي الْقُرَى إِلَّا وَأَهْلُهَا ظَالِمُونَ

“ Dan tidaklah Tuhanmu menghancurkan negeri sehingga mengutus ditengahnya seorang Rasul yang membacakan kepada mereka ayat-ayat kami. Dan tidaklah kami menghancurkan negeri kecuali penduduknya berbuat dzolim” [Al-Qoshos: 59.]

[3] Dan Firman-Nya:

رُسُلًا مُبَشِّرِينَ وَمُنْذِرِينَ لِئَلَّا يَكُونَ لِلنَّاسِ عَلَى اللَّهِ حُجَّةٌ بَعْدَ الرُّسُلِ

“para Rasul yang memberikan kabar gembira dan peringatan agar tidak menjadi alasan bagi manusia kepada Allah setelah (Allah mengutus) rasul-rasul” [An-Nisa: 165]

[4] Dan firman-Nya:

وَمَا أَرْسَلْنَا مِنْ رَسُولٍ إِلَّا بِلِسَانِ قَوْمِهِ لِيُبَيِّنَ لَهُمْ فَيُضِلُّ اللَّهُ مَنْ يَشَاءُ وَيَهْدِي مَنْ يَشَاءُ وَهُوَ الْعَزِيزُ الْحَكِيمُ

“Kami tidak mengutus seorang rasul pun, melainkan dengan bahasa kaumnya, supaya ia dapat memberi penjelasan dengan terang kepada mereka. Maka Allah menyesatkan siapa yang Dia kehendaki, dan memberi petunjuk kepada siapa yang Dia kehendaki” [ Ibrohim: 4]

[5] Dan firman-Nya:

وَمَا كَانَ اللَّهُ لِيُضِلَّ قَوْمًا بَعْدَ إِذْ هَدَاهُمْ حَتَّى يُبَيِّنَ لَهُمْ مَا يَتَّقُونَ إِنَّ اللَّهَ بِكُلِّ شَيْءٍ عَلِيمٌ

“Dan Allah sekali-kali tidak akan menyesatkan suatu kaum, sesudah Allah memberi petunjuk kepada mereka sehingga dijelaskan-Nya kepada mereka apa yang harus mereka jauhi.” [At-Taubah: 115]

[6] Dan firman-Nya:

وَهَذَا كِتَابٌ أَنْزَلْنَاهُ مُبَارَكٌ فَاتَّبِعُوهُ وَاتَّقُوا لَعَلَّكُمْ تُرْحَمُونَ أَنْ تَقُولُوا إِنَّمَا أُنْزِلَ الْكِتَابُ عَلَى طَائِفَتَيْنِ مِنْ قَبْلِنَا وَإِنْ كُنَّا عَنْ دِرَاسَتِهِمْ لَغَافِلِينَ أَوْ تَقُولُوا لَوْ أَنَّا أُنْزِلَ عَلَيْنَا الْكِتَابُ لَكُنَّا أَهْدَى مِنْهُمْ فَقَدْ جَاءَكُمْ بَيِّنَةٌ مِنْ رَبِّكُمْ وَهُدًى وَرَحْمَةٌ

“Dan Al-Quran itu adalah kitab yang Kami turunkan yang diberkati, maka ikutilah dia dan bertakwalah agar kamu diberi rahmat

(Kami turunkan al-Quran itu) agar kamu (tidak) mengatakan: “Bahwa kitab itu hanya diturunkan kepada dua golongan saja sebelum kami, dan sesungguhnya kami tidak memperhatikan apa yang mereka baca

Atau agar kamu (tidak) mengatakan: “Sesungguhnya jikalau kitab ini diturunkan kepada kami, tentulah kami lebih mendapat petunjuk dari mereka”. Sesungguhnya telah datang kepada kamu keterangan yang nyata dari Tuhanmu, petunjuk dan rahmat.” [ Al-An’am: 155-157]

Dan yang lainnya dari ayat-ayat yang menunjukkan bahwa hujjah tidak tegak kecuali dengan ilmu dan penjelasan.

ADAPUN DALIL DARI SUNNAH:
Dalam Shohih Muslim (1/134)

عن أبي هريرة رضي الله عنه أن النبي صلى الله عليه وسلم قال : ( والذي نفس محمد بيده لا يسمع بي أحد من هذه الأمة – يعني : أمة الدعوة – يهودي ولا نصراني ثم يموت ولم يؤمن بالذي أرسلت به إلا كان من أصحاب النار )

Dari Abu Hurairah –radhiyallah anhu- sesungguhnya Nabi shallallahu alaihi wa salam bersabda: “Demi Dzat yang jiwaku berada di tangan-Nya, tidaklah mendengar tentangku seorang pun dari umat ini –maksudnya umat yang didakwahi- baik dia orang yahudi atau Nasrani kemudian dia mati dan tidak beriman terhadap apa yang aku diutus dengannya kecuali dia termasuk penghuni neraka”

ADAPUN PERKATAAN AHLI ILMU:

[1] Berkata (Ibnu Qudamah) dalam al-mughni (VIII/131): “Maka apabila termasuk orang yang tidak mengetahui kewajiban seperti orang yang baru masuk islam, dan orang yang tumbuh di selain negeri islam, atau tinggal di pedalaman jauh dari perkotaan: Ahli ilmu tidak menghukumi kekafirannya”

[2] Berkata Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah dalam Fatawa (IV/229) kumpulan Ibnu Qoshim: “Aku senantiasa –dan yang senantiasa bermajlis denganku mengetahui hal itu dariku- termasuk orang yang paling melarang dari menisbatkan takfir (pengkafiran) pada orang yang tertentu, tafsiq (memfasikkan) orang tertentu, dan juga menisbatkan kemaksiatan, kecuali apabila ia mengetahui bahwa telah tegak hujjah risaliyah (bukti dari dalil syar’i) yang apabila ada yang menyelisihinya terkadang dia kafir, terkadang dia fasiq, terkadang juga dia pelaku kemaksiatan.

Dan saya sungguh menetapkan bahwa Allah –ta’ala- telah mengampuni untuk umat ini (orang yang) salah. Dan yang demikian mencakup permasalahan al-khabariyah al-qauliyah (permasalahan aqidah) dan permasalahan amaliah. Dan senantiasa para salaf berselisih dalam banyak permasalahan. Dan tidak pernah ada seorangpun yang memvonis kekufuran orang lain, dan tidak juga (menisbatkan) kefasikan, dan tidak juga kemaksiatan.”

Sampai pada perkataannya: “ Dan saya menjelaskan: Apa yang dinukilkan dari salaf dan para imam: dari pemutlakkan mereka mengkafirkan orang yang melakukan ini dan itu: Ini juga benar, hanya saja harus dibedakan antara pemutlakkan (secara umum) dengan ta’yin (ditentukan orangnya).”

Sampai pada perkataannya: “ Dan takfir (pengkafiran) merupakan sebuah ancaman, karena sesungguhnya walaupun sebuah perkataan merupakan pendustaan terhadap sabda Rasul –shallallahu alaihi wa salam- akan tetapi orang tersebut termasuk orang yang baru masuk islam, atau tumbuh jauh di pedalaman. Dan semisal ini tidak dikafirkan dengan pengingkarannya (terhadap sabda Nabi) sampai tegak baginya hujjah. Dan bisa jadi orang tersebut belum mendengar teks hadis itu, atau sudah mendengarnya akan tetapi tidak sah (hadis itu) baginya, atau dihalangi oleh penghalang lain yang membuatnya mentakwilnya walaupun salah (dalam mentakwilnya)”

[3] berkata Syaikhul Islam Muhammad bin Abdul Wahhab dalam ad-Duror as-Saniyah (I/56): “Adapun masalah takfir: Maka aku menkafirkan orang yang mengenal agama Rasul, kemudian setelah mengenalnya, ia mencelanya, dan mencegah manusia darinya, dan memusuhi orang yang melaksanakannya, inilah yang saya kafirkan.”

Dan dalam [hlm 66] “Adapun merupakan kedustaan dan kebohongan adalah perkataan mereka: Sesungguhnya kita mengkafirkan secara umum dan mewajibkan hijrah kepada kami bagi orang yang sanggup untuk menampakkan agamanya. Maka semua ini termasuk kedustaan dan kebohongan yang mencegah manusia dari agama Allah dan Rasul-Nya. Dan apabila kita tidak mengkafirkan orang yang menyembah berhala yang ada di atas kuburan Abdul Qodir dan berhala yang berada di atas kuburan Ahmad Al-Badawi dan yang semisal mereka berdua karena kebodohan mereka dan tidak ada orang yang mengingatkan mereka, lalu bagaimana mungkin kita mengkafirkan orang yang tidak berbuat syirik kepada Allah apabila tidak hijrah kepada kami, atau tidak mengkafirkan atau tidak memerangi ( orang musyrik ) ?? selesai.

Dan apabila ini adalah tuntutan nushush Al-Kitab dan As-Sunah dan perkataan para ahli ilmu maka ini juga merupakan tuntutan hikmah Allah –ta’ala- kelembutannya, dan belas kasihnya. Maka Allah tidak akan mengazab seorang pun sampai diberikan uzur padanya. Dan akal tidak bisa bersendirian mengetahui apa yang diwajibkan Allah ta’ala- dari hak-hak (yang wajib ditunaikan). Kalau sekiranya Akal bisa bersendirian dalam hal itu maka hujjah tidak akan tegantung pada pengutusan para rasul. (maksudnya tidak butuh diutus para rasul, karena cukup bergantung dengan fithrohnya saja, Pent.)

Maka asal dari orang yang menisbatkan kepada islam: Adalah tetap dalam keislamannya sampai terealisasi hilangnya perkara ini darinya dengan tuntutan dalil syar’i.

Maka wajib sebelum menghukumi kafir, seseorang melihat dua perkara;

PERTAMA: Penunjukan Al-Kitab dan As-Sunnah bahwa perkara ini mengkafirkan agar tidak berdusta atas nama Allah.

KEDUA: Tepatnya hukuman kepada orang tertentu dimana telah sempurna syarat-syarat takfir pada haknya dan hilangnya semua penghalang (takfir).

Dan diantara syarat yang paling penting adalah dia mengetahui penyelisihannya (terhadap syariat) yang menyebabkan kekufurannya, berdasarkan Firman-Nya:

وَمَنْ يُشَاقِقِ الرَّسُولَ مِنْ بَعْدِ مَا تَبَيَّنَ لَهُ الْهُدَى وَيَتَّبِعْ غَيْرَ سَبِيلِ الْمُؤْمِنِينَ نُوَلِّهِ مَا تَوَلَّى وَنُصْلِهِ جَهَنَّمَ وَسَاءَتْ مَصِيرًا

Dan barangsiapa yang menentang Rasul sesudah jelas kebenaran baginya, dan mengikuti jalan yang bukan jalan orang-orang mukmin, Kami biarkan ia leluasa terhadap kesesatan yang telah dikuasainya itu dan Kami masukkan ia ke dalam Jahannam, dan Jahannam itu seburuk-buruk tempat kembali” [An-Nisa: 115]

Maka Allah mensyaratkan azab neraka dengan menentang rasul SETELAH JELAS BAGINYA PETUNJUK, akan tetapi apakah disyaratkan ia mengetahui akibat penyelisihannya berupa kekufuran atau selainnya, atau cukup dia mengetahui penyelisihannya walaupun dia tidak mengetahui akibat dari penyelisihannya?

Jawaban: Nampaknya (yang benar) pendapat yang kedua, yaitu: Hanya sebatas ia mengetahui bahwa ia menyelisihi syariat sudah cukup untuk menghukumi sesuai dengan tuntutannya (baik mengkafirkan atau memfasikkan) karena nabi –shallallahu alaihi wasallam- mewajibkan kafarah bagi yang berjima’ di siang hari bulan Ramadan karena ia mengetahui bahwa ia menyelisihi syariat walaupun dia tidak mengetahui kafaratnya. Dan karena orang yang berzina lagi muhson (sudah pernah menikah) yang mengetahui haramnya perbuatan zina: dia dirajam walaupun tidak mengetahui konsekuensi perbuatan zinanya. Dan bisa jadi apabila mengetahui, tidaklah dia berzina…

Alhasil, bahwa orang yang bodoh diberikan uzur dengan apa yang diucapkan, atau diperbuat yang membuatnya kufur, sebagaimana diberikan uzur dengan perkataan atau perbuatan yang membuatnya fasik. Yang demikian berdasarkan Al-kitab, As-sunnah, penelitian, dan perkataan Ahli ilmu.

Majmu’ fatwa asy-syaikh al-utsaimin (II/soal no.224)

Penterjemah
Dika Wahyudi Lc.

https://m.facebook.com/story.php?story_fbid=875057899314738&id=100004316073711

Print Friendly, PDF & Email

1 Comment

  1. afwan, sebenarnya apa yang berbahaya dari vonis ustadz J**** S**** tentang masalah takfir? dan apa dampak bagi para penuntut ilmu tentang statement beliau?

    syukran.

    Dampaknya bisa berbahaya, yaitu pengkafiran membabibuta,
    Dan tidak aneh banyak orang-orang yang mengusung pemikiran takfiri yang menshare penjelasannya,
    Tidak usah mengambil ilmu dari ustadz seperti itu, karena takut bisa ada SYUBHAT yang masuk ke dalam hati, sehingga kita susah keluar dari syubhat tersebut, hati kita lemah sementara syubhat kencang menyambar

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*