Dosa SYIRIK Yang Tidak Diampuni Allah, Dan Apakah Ada UDZUR Atas Kebodohan ?

Dalil Dosa Syirik Yang Tidak Diampuni Allah. Nisfu Syabna

Dosa SYIRIK Yang Tidak Diampuni Dan UDZUR Atas Kebodohan

15. Ketahuilah! Bahwa dosa syirik yang tidak diampuni seperti keterangan di atas ialah: Apabila orang yang mengerjakannya telah mengetahuinya (memiliki ilmunya), dan dia telah paham akan maksudnya, dan dia mengerjakannya dengan sengaja, yaitu atas kehendak atau kemauannya dan pilihannya sendiri.

Maka apabila dia tidak tahu atau belum tahu, atau dia telah tahu akan tetapi dia belum paham akan maksudnya, atau dia mengerjakannya dengan tidak sengaja seperti dipaksa, atau dia tidak sadar atau dia lupa atau keliru, maka dia tidak terkena dosa dan ancaman di atas.

——————-SYARAH—————-

Firman Allah:

“…Dan Kami tidak akan meng’adzab sebelum Kami mengutus seorang Rasul”. (QS. Al Israa’ : 15).

Firman Allah:

“Yang demikian itu adalah karena Rabbmu tidak akan membinasakan (penduduk) negri negri secara zhalim, sedangkan penduduknya belum mengetahui(hujjah Allah) (sampai Allah mengutus seorang Rasul)”. (QS. Al An’aam: 131).

Firman Allah:

“Para Rasul itu (Kami utus) sebagai pembawa berita gembira dan pemberi peringatan agar supaya tidak ada hujjah (alasan lagi) bagi manusia untuk membantah Allah sesudah diutusnya para Rasul itu. Dan adalah Allah Maha Perkasa dan Maha Bijaksana”.

(QS. An Nisaa’: 165)

Firman Allah:

“Dan Allah sekali kali tidak akan menyesatkan suatu kaum, sesudah Allah memberi hidayah (petunjuk) kepada mereka sampai Allah menjelaskan kepada mereka apa yang harus mereka jauhi. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui segala sesuatu”. (QS. At Taubah: 115).

Firman Allah:

“Allah tidak akan membebani seseorang melainkan sesuai dengan kesanggupannya. Dia akan mendapat pahala (dari kebaikan) yang diusahakannya dan dia akan mendapat dosa (dari kejahatan) yang dikerjakannya.

(Mereka orang orang mu’min berdo’a): “Ya Rabb kami, janganlah Engkau hukum kami jika kami lupa atau tersalah(keliru).

Ya Rabb kami, janganlah Engkau bebankan kepada kami beban yang berat sebagaimana Engkau telah bebankan kepada orang orang yang sebelum kami.

Ya Rabb kami, janganlah Engkau pikulkan kepada kami apa yang tak sanggup kami memikulnya. Dan ma’afkanlah kami, ampunilah kami dan rahmatilah kami. Engkaulah Penolong kami, maka tolonglah kami terhadap kaum yang kafir”.

(QS. Al Baqarah: 286).

-<Allah telah mengabulkan do’a orang orang mu’min di atas sebagaimana riwayat Imam Muslim dalam shahihnya ( no: 125&126).>-

Ayat yang PERTAMA, KEDUA dan KETIGA bersifat UMUM untuk seluruh manusia, bahwa Allah tidak akan meng’adzab mereka sampai Allah menegakkan HUJJAH kepada mereka, yaitu:

1. Mereka telah mengetahuinya (memiliki ilmunya).

2. Mereka telah paham akan maksudnya dengan pemahaman yang benar. Karena yang dimaksud dengan ilmu ialah AL FAHMU (paham). Oleh karena itu belum tegak hujjah kepada orang yang telah sampai ilmu kepadanya, tetapi dia belum paham maksudnya dengan pemahaman yang benar. Ilmu yang dimaksud adalah dalil dari Al Qur’an dan As Sunnah dan Ijma’ Shahabat.

Adapun ayat yang KEEMPAT lebih bersifat KHUSUS, yaitu untuk orang orang mu’min yang Allah telah berikan hidayah (petunjuk) kepada mereka dengan iman dan islam.

Maka Allah tidak akan menyesatkan mereka sesudah Allah berikan hidayah kepada mereka untuk masuk kedalam AgamaNya (Al Islam) sampai Allah menjelaskan kepada mereka apa apa saja yang harus mereka jauhi.

Oleh karena itu orang orang mu’min yang melanggar syari’at Allah dengan meninggalkan perintah atau mengerjakan larangan, padahal dia belum tahu atau sudah tahu tetapi belum paham maksudnya, maka dia tidak berdosa dan tidak dihukum oleh Allah sampai dia tahu dan paham.

Ayat yang mulia ini turun berkenaan dengan istighfar (permohonan ampun) para Shahabat untuk orang tua dan kerabat mereka yang mati dalam keadaan musyrik dan kafir, sebelum mereka mengetahui hukumnya karena Allah belum menjelaskannya dengan menurunkan larangannya.

Maka perbuatan para Shahabat tersebut tidak berdosa dan tidak dihukum oleh Allah karena mereka memang belum tahu.

Kemudian Allah menurunkan ayat (113) yang menjelaskan larangan bagi orang orang mu’min memintakan ampun kepada Allah untuk orang orang yang mati dalam keadaan musyrik dan kafir meskipun mereka keluarga dekatnya.

Kemudian setelah ayat (113) di atas turun, maka berhentilah para Shahabat semuanya karena mereka telah tahu hukumnya dan paham akan maksudnya.

Adapun ayat yang KELIMA bersifat UMUM dan KHUSUS.

Pada bagian pertama bersifat UMUM, yaitu firman Allah: “ALLAH TIDAK AKAN MEMBEBANI SESEORANG MELAINKAN SESUAI DENGAN KESANGGUPANNYA”.

Cara pengambilan dalilnya sebagai berikut:

1. Apabila seseorang dikenakan dosa atau dihukum sebelum dia tahu, maka yang demikian artinya membebani seseorang diluar kemampuan, padahal Allah tidak akan membebani seseorang melainkan sesuai dengan kesanggupannya. Hal ini menunjukkan bahwa salah satu syarat shahnya TAKLIF( yaitu menerima perintah dan larangan) ialah ILMU (mengetahui hujjah Allah).

2. Apabila seseorang dikenakan dosa dan dihukum sebelum dia paham akan maksudnya, walaupun dia telah mengetahuinya (memiliki ilmunya), maka yang demikian artinya membebani seseorang diluar kemampuannya. Padahal Allah telah menegaskan bahwa Allah tidak akan membebani seseorang melainkan sesuai dengan kesanggupannya. Karena HAKIKAT ILMU adalah PAHAM.

Maka dari itu orang yang tidak atau belum paham dikatakan dia tidak berilmu. Hal ini menjelaskan kepada kita bahwa salah satu syarat shahnya TAKLIF (yaitu menerima perintah dan larangan) ialah PAHAM.

Jika ada yang mengatakan : “Telah cukup tegak hujjah kepada seseorang apabila ilmu telah sampai kepadanya meskipun dia belum paham apa maksudnya oleh ayat dan hadits. Buktinya orang orang musyrik dan kafir Quraisy seperti Abu Jahal dan Abu Lahab dan teman teman mereka telah cukup tegak hujjah atas mereka dengan hanya mendengarkan ayat ayat Al qur’an yang dibacakan dan disampaikan oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam kepada mereka tanpa disyaratkan dan ditanya mereka telah paham atau tidak?”.

Jawaban kami sebagai berikut:

#Pertama : Perkataan di atas hanyalah sebuah pendapat yang bisa benar dan bisa juga salah. Dan kami mengatakan bahwa pendapat di atas salah-kalau tidak mau dikatakan sebagai kesalahan yang fatal-!

#Kedua : Jika mereka mengatakan: “Bahwa kami telah membawakan sejumlah dalil bukan semata mata pendapat sebagaimana persangkaan saudara!”.

Kami jawab: Betul! Akan tetapi, saudara tidak menggunakannya pada tempatnya, INI YANG PERTAMA.

Kemudian saudara berdalil dengan dalil yang bersifat UMUM yang sama sekali tidak ada hubungannya dengan masalah yang sedang kita bahas, INI YANG KEDUA.

Kemudian saudara TIDAK MENJAMA’ antara satu dalil dengan dalil yang lainnya dan mendudukannya pada tempatnya masing masing, INI YANG KETIGA.

Saudara mengambil sebagian dalil dengan membuang sebagiannya, yang menunjukkan saudara TIDAK/BELUM PAHAM maksud dari dalil dalil tersebut, INI YANG KEEMPAT.

Saudara diberi udzur karena TIDAK/BELUM PAHAM walaupun saudara telah mengetahuinya, INI YANG KELIMA.

#Ketiga : Pendapat diatas jelas bertentangan dengan sejumlah dalil dari Al Qur’an dan hadits di antaranya beberapa ayat yang saya bawakan di atas.

#Keempat : Pendapat di atas juga bertentangan dengan dalil dalil AQLIYYAH (akal).

Misalnya, jika saudara sebagai seorang guru, setelah selesai memberikan satu mata kuliah, apakah yang BIASA ditanyakan oleh seorang guru kepada murid muridnya?

Bukankah setiap guru -atau GHALIBnya- akan bertanya:

“Apakah kalian PAHAM apa yang telah saya ajarkan tadi?”.

Kalau ada diantara murid yang tidak / belum paham dengan mata pelajaran yang saudara berikan, apakah saudara akan memberikan udzur kepadanya dengan mengulang kembali supaya dia paham pada saat itu atau pada lain waktu, ataukah saudara tidak akan memberikan udzur dan saudara langsung menghukumnya?

Kalau sesama makhluk telah saling memberikan UDZUR apalagi Rabbul ‘alamin, bukankah Allah memiliki misal yang lebih tinggi!

#Kelima: Sama sekali tidak benar jika saudara katakan bahwa Abu lahab Abu Jahal dan kawan kawannya dari kaum musyrik Quraisy hanya mendengarkan ayat yang dibacakan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam tanpa pemahaman akan maksud dari ayat dan keterangan dari Nabi yang mulia shallallahu ‘alaihi wa sallam!

Bahkan , mereka lebih paham dari sebagian kaum muslimin pada hari ini tentang maksud dari kalimat tauhid: LAA ILAAHA ILLALLAH.

Sebab kalau mereka tidak paham , tentu mereka tidak akan mengingkari dan menentangnya. Mereka paham betul maksud dari kalimat TAUHID yang berakibat hancurnya berhala berhala yang selama ini mereka sekutukan dengan Allah jalla wa ala. Keterangan ini sebagaimana firman Allah:

“Sesungguhnya apabila dikatakan kepada mereka: “Laa ilaaha illallah”, mereka menyombongkan diri”.

Dan mereka berkata : ” Apakah sesungguhnya kita harus meninggalkan tuhan tuhan kita hanya karena seorang penyair gila”.

(QS. Ash Shaaffaat: 35&36).

Firman Allah:

“Dan mereka heran dengan kedatangan seorang pemberi peringatan (rasul) dari kalangan mereka. Dan orang orang kafir itu berkata: “Ini adalah seorang penyihir yang banyak berdusta”.

“Mengapa ia menjadikan tuhan tuhan itu Tuhan yang satu saja? Sesungguhnya ini benar benar suatu hal yang sangat mengherankan”.( QS. Shaad: 4&5).

Bukankah beberapa ayat tadi menjelaskan kepada kita bahwa kaum kuffar Quraisy benar benar telah memahami maksud dari kalimat tauhid…!!!

Kita lanjutkan…

Sedangkan bagian kedua dari ayat atau dalil KELIMA bersifat khusus untuk orang orang mu’min. Do’a mereka telah dikabulkan oleh Allah sebagaimana riwayat Imam Muslim (no: 125 & 126).

Dari apa yang kami terangkan di atas dengan ringkas, dapatlah disimpulkan bahwa syarat shahnya TAKLIF (menerima perintah dan larangan) ialah:

1. Baligh.

2. Berakal.

3. Sampai hujjah kepadanya setelah terpenuhi dua syarat yang menjadi tegaknya HUJJAH yaitu: Mengetahui (memiliki ilmunya) dan paham akan maksudnya.

4. Dia mengerjakannya dengan kehendak dan pilihannya sendiri.

***

(Keterangan al ustadz Abdul Hakim bin Amir Abdat hafizhahullahu ta’ala dalam kitab Syarah Aqidah Salaf point aqidah ke 15, halaman 262-269).

Sumber : https://www.facebook.com/markaz.elislami/posts/1403837106373137

3 Comments

  1. Kalo begitu orang tua rosul yang mati sebelum rosul diutus jd rosul mrk kena udzur dong? Berarti org tua rosul masuk surga dong

    Nabi sendiri yang mengabarkan kondisi kedua orangtuanya,

    Sebagai umat nabi muhammad, maka WAJIB membenarkan KABAR yang beliau sampaikan, karena itu adalah hal ghaib yang Allah kabarkan kepada Nabi Muhammad,
    Dan salah satu ciri orang beriman adalah beriman kepada hal ghaib yang Rasulullah sampaikan kepada umatnya,

    Karena perkataan Nabi Muhammad itu adalah WAHYU yang datang dari Allah,

    Kondisi orang quraisy ketika nabi berdakwah Allah mengabadikannya dalam Alquran,

    https://aslibumiayu.net/18569-tafsir-surat-fushilat-ayat-1-5-karena-kesombongan-kaum-quraisy-menolak-dakwah-nabi.html

  2. Assalamualaikum,
    saya seorang mualaf ingin belajar Islam yg benar, apakah ada pengajian lain di kota Surabaya ? krn saya taunya cm di Masjid AlFalah jl. Darmo.
    Terima kasih banyak sebelumnya.

    Wa’alaikumussalamwarahmatullah,
    Alhamdulillah, turut bergembira anda masuk ke dalam islam,
    Untyk di surabaya, silahkan lihat di sini

  3. السلام عليكم ورحمة الله وبركاته

    admin yang semoga selalu dalam lindungan Allah, kalau boleh usul Aslibumiayu dibuatkan aplikasinya buat android.
    شكرا
    جزاك الله خيرا

    Wa’alaikumussalamwarahmatullah,
    Silahkan saja jika ada pembaca yang bisa berpartisipasi

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*