SOLUSI Yang Diberikan Oleh Rasulullah Agar Perpecahan Bisa Menjadi PERSATUAN

Ketika Terjadi Perpecahan, Rasulullah Memberikan Solusi; Bersatu Di Atas Manhaj Salaf

Solusi inilah yang dahulu telah dipraktikkan oleh para Shahabat Nabi yang mana sebelummya; pada masa jahiliyah -sebelum mereka masuk Islam- mereka berpecah belah dan bermusuh-musuhan. Kemudian hati mereka disatukan di atas aqidah Tauhid yang diajarkan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam sejak permulaan dakwah beliau hingga akhir hayat beliau. Sebagaimana yang Allah Ta’ala kabarkan di dalam firmanNya:

وَاذْكُرُوا نِعْمَتَ اللَّهِ عَلَيْكُمْ إِذْ كُنْتُمْ أَعْدَاءً فَأَلَّفَ بَيْنَ قُلُوبِكُمْ فَأَصْبَحْتُمْ بِنِعْمَتِهِ إِخْوَانًا وَكُنْتُمْ عَلَى شَفَا حُفْرَةٍ مِنَ النَّارِ فَأَنْقَذَكُمْ مِنْهَا

Artinya: “….dan ingatlah akan nikmat Allah kepadamu ketika kamu dahulu (masa Jahiliyah) bermusuh-musuhan, MAKA ALLAH MEMPERSATUKAN HATIMU, lalu menjadilah kamu karena nikmat Allah, orang-orang yang bersaudara; dan kamu telah berada di tepi jurang neraka, lalu Allah menyelamatkan kamu dari padanya….” (QS. Ali Imran: 103).

Allah _subhanahu wa ta’ala_ berkenan menyatukan hati-hati mereka adalah setelah mereka menerima dakwah Rasulullah _shallallahu ‘alaihi wa sallam_ untuk masuk Islam dan mengamalkannya. Dan begitu pula generasi setelah mereka ketika berpecah belah, maka solusi perpecahan tersebut adalah kembali mengamalkan Islam yang sebagaimana dahulu telah diamalkan oleh para shahabat Nabi. Namun sebaliknya, umat Islam akan berpecah belah apabila umat ini telah jauh dari Islam yang dahulu diamalkan para shahabat Nabi. Hal tersebut telah diisyaratkan oleh Rasulullah dalam hadits berikut ini:

💠 Rasulullah _shallallahu ‘alaihi wa sallam_ bersabda:

أُوصِيكُمْ بِتَقْوَى اللهِ عَزَّ وَجَلَّ، وَالسَّمْعِ وَالطَّاعَةِ، وَإِنْ تَأَمَّرَ عَلَيْكُمْ عَبْدٌ حَبَشِيٌّ، فَإِنَّهُ مَنْ يَعِشْ مِنْكُمْ فَسَيَرَى اخْتِلاَفًا كَثِيرًا, فَعَلَيْكُمْ بِسُنَّتِي وَسُنَّةِ الْخُلَفَاءِ الرَّاشِدِينَ الْمَهْدِيِّينَ , تَمَسَّكُوا بِهَا , وَعَضُّوا عَلَيْهَا بِالنَّوَاجِذِ، وَإِيَّاكُمْ وَمُحْدَثَاتِ الأُمُورِ؛ فَإِنَّ كُلَّ مُحْدَثَةٍ بِدْعَةٌ , وَكُلَّ بِدْعَةٍ ضَلاَلَةٌ

Artinya: “Aku wasiatkan kalian dengan taqwa kepada Allah ‘azza wa jalla, mendengar dan ta’at, walau pun yang memimpin kalian itu adalah hamba sahaya dari Habasyi. Maka sesungguhnya, *orang yang hidup diantara kalian sepeninggalku AKAN MELIHAT PERSELISIHAN yang banyak!* Maka WAJIB ATAS KALIAN BERPEGANG PADA SUNNAHKU DAN PADA SUNNAH PARA AL-KHULAFA-IR RAASYIDIIN AL-MAHDIYYIIN (para khalifah yang mendapat petunjuk dan hidayah), pegang teguhlah padanya dan gigitlah dengan gigi geraham! Dan, *AWASLAH KALIAN DARI PERKARA-PERKARA YANG BARU (dalam agama) karena setiap perkara yang baru tersebut merupakan BID’AH*, dan setiap bid’ah itu adalah sesat.” (HR. Abu Daud no. 4607, dan Tirmidzi no. 2676, dan ia (Tirmidzi) berkata: ini hadits hasan shahih, lihat Shahiihul Jaami’, no. 2546 ).

💡Perhatikanlah; bagaimana Beliau menghadapkan keadaan perpecahan tersebut dengan komitmen berpegang teguh kepada manhaj ini agar diketahui bahwasannya pengikatan dengan pemahaman Salafush Shalih (dalam memahami Islam) merupakan sebab keselamatan dari perpecahan.

Oleh karena itu, imam Malik bin Anas –rahimahullah- berkata:
*“Tidak akan menjadikan baik akhir umat ini kecuali dengan apa-apa yang dahulu telah menjadikan baik generasi awal umat ini.”* (Musnad Al Muwaththa’, nomor 783. karya Al Jauhariy).

➡ Dan dalam hadits tersebut pun terkandung larangan dari berbuat perkara yang diada-adakan dalam agama atau disebut juga bid’ah sebagaimana yang disabdakan dalam hadits di atas, karena komitmen melaksanakan sunnah Rasul tidak akan terjadi bila masih melakukan amalan bid’ah yang merupakan lawan dari Sunnah.

Ibnu Abbas –radhiallahu ‘anhu- salah seorang Shahabat Nabi sekaligus kerabat beliau; telah berkata:

ما أتى على الناس عام إلا أحدثوا فيه بدعة وأماتوا فيه سنة، حتى تحيا البدع وتموت السنن

“Tidaklah datang suatu tahun kepada manusia melainkan mereka mengada-adakan ajaran baru (dalam agama) dan mereka pun mematikan Sunnah, sehingga hiduplah kebid’ahan dan matilah Sunnah-sunnah (Rasulullah).” (‘Ilmu Ushul Al Bida’, 288. Karya Ali Hasan Al Halabiy. Dan Lihat: Ittibaa’us Sunnah, nomor 9.)

Dan Ibnu Umar –radhiallahu ‘anhu- yang juga salah seorang Shahabat Rasul berkata:
*“Setiap bid’ah adalah sesat walau pun manusia memandangnya baik.”* (Diriwayatkan oleh: Al Laalika-iy, nomor 126).

Kemudian salah seorang pembesar Tabi’in (murid para Shahabat), yakni Ibnu Sirin –rahimahullah- berkata:
“Tidaklah ada seseorang yang mengada-adakan ajaran baru (dalam agama, yakni: bid’ah), lalu dia pun menjadikan Sunnah sebagai rujukkan!” (Diriwayatkan oleh: Al Laalika-iy, nomor 129).

Bahkan terkait permasalahan kebid’ahan yang dianggap baik, Imam Malik bin Anas –rahimahullah- dengan tegas berkata:
*“Barangsiapa berbuat suatu bid’ah dalam Islam yang dia anggap baik; maka sungguh dia telah menuduh bahwa Muhammad –shallallahu ‘alaihi wa sallam- mengkhianati risalah (tugas sebagai Rasul pent.), karena sesungguhnya Allah berfirman: الْيَوْمَ أَكْمَلْتُ لَكُمْ دِينَكُمْ ‘…_pada hari ini telah Aku sempurnakan agamamu untukmu_….’ (QS. Al Ma’idah: 3). Jadi, apa-apa yang pada hari itu bukan termasuk agama maka pada hari (sekarang) ini pun bukan pula termasuk agama!”* (Al I’tisham, 1/49. Karya Imam Asy-Syatibiy).

➡ Oleh karena itu, apabila persatuan dipaksakan terwujud hanya dengan metode asal kumpul dan dengan tanpa saling menasihati dalam rangka amar maruf nahi munkar ; sehingga tidak ada lagi pengingkaran terhadap bid’ah dan bahkan terhadap syirik, maka persatuan tersebut bagaikan persatuan yang dilakukan kaum Yahudi.

Sebagiamana yang dikatakan Syaikh Bakr Abu Zaid -hafizhahullah-:
“Kami memohon perlindungan kepada Allah bagi setiap Muslim dari menyerap hujjahnya kaum Yahudi; yang mana mereka itu saling berselisih di atas kitab suci mereka dan mereka itulah orang-orang yang menyelisihi Kitab suci mereka. Akan tetapi, bersamaan dengan itu *mereka justru menampakkan persatuan dan berkumpul. Padahal, sungguh Allah telah mendustakan (persatuan) mereka itu* maka Dia berfirman: *{“…._kamu kira mereka itu bersatu, sedang hati mereka berpecah belah_….”}* (QS. AL Hasyr: 14)”. (Ar Rad ‘alal Mukhaalif min Ushuulil Islam, halaman 76, karya: Syaikh Bakr Abu Zaid).

==============

📝 -disusun oleh: Muhammad Hilman Alffiqhy-

Print Friendly

1 Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*