Adanya UDZUR BIL JAHL Itu Adalah Pendapat Yang BENAR , Dan Itu Adalah Pendapat SALAF

Udzhur Bil Jahl

Apakah Ada Uzur bil Jahl ?

#Pertama

Ustadz Beni Sarbeni -hafizhahullaah- berkata:

“Faidah:

Tadi malam (Malam Jum’at pekan kemaren, di Masjid Nabawi) ketemu sama syaikh Ibrahim ar-Ruhaili -hafizhahullah- nanya:

“Apakah masalah UDZUR bil JAHLI dalam masalah kesyirikan adalah masalah KHILAFIYAH ?”

Jawab beliau, intinya:

“[1]- Antum jangan RAGU bahwa, adanya udzur bil Jahli adalah pendapat yang BENAR.

[2]- Inilah pendapat SALAF.”

Lalu ana tanya tentang bagaimana MAUQIF Syaikh bin Bazz dan Syaikh Shalih al-Fauzan?

Jawab beliau:

“[1]- Beliau pendapatnya benar, yakni ADANYA UDZUR BIL JAHLI, tapi kadang-kadang beliau mengungkapkan BAHASA MUTLAQ.

[2]- Karena itu dalam beberapa kesempatan keduanya sangat jelas TIDAK menta’yin.”

[Copas dari Ustadz Muhammad Hilman Al-fiqhy, via Grup WA Minhajus Sunnah]

#Kedua

Pertanyaan: Apa bedanya:

– Menghukumi dengan kekufuran atas AMALAN,

– Dan menghukumi individu tertentu dengan kekufuran, serta meyakini kafirnya individu tersebut.

Syaikh Shalih Al-Fauzan -hafizhahullaah- menjawab:

“Adapun menghukumi dengan kekufuran atas amalan; seperti:

– Berdoa kepada selain Allah,

– Menyembelih kurban untuk selain Allah,

– Beristighatsah dengan selain Allah,

– Mengolok-olok agama,

– Dan mencela agama;

maka ini adalah kekafiran dengan ijma’ (kesepakatan ulama) tanpa diragukan.

Akan tetapi orang yang muncul darinya perbuatan tersebut; maka ini harus diperhatikan terlebih dahulu:

– Kalau dia bodoh,

– Atau dia mentakwil,

– Atau dia taqlid;

Maka ditolak darinya kekufuran sampai dijelaskan kepadanya.

Karena bisa jadi:

– Dia punya syubhat,

– Atau padanya ada kebodohan.

Sehingga tidak boleh terburu-buru untuk memutlakkan kekafiran atasnya sampai penegakkan hujjah.

Jika sudah ditegakkan hujjah atasnya dan dia terus berada di atas kekafiran tersebut; maka dia dihukumi dengan kafir; karena tidak punya udzur lagi.”

[“Syarh Risaalah Ad-Dalaa-il Fii Hukmi Muwaalaati Ahlil Isyraak” (hlm. 212), milik Syaikh Shalih bin Fauzan Al-Fauzan -hafizhahullaah-]

Sumber : https://www.facebook.com/ahmadhendrix.eskanto/posts/452506861756862

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*