Trik Dan Rahasia Bersenang-Senang Dengan Istri , Yang Belum Nikah Ini Buat Persiapan…

Asmirandah

Bersenang-Senang Dengan Istri Tidak Akan Sempurna Melainkan Dengan Disertai Kesabaran Terhadap Kekuranganya

Begitulah pesan ulama setelah menjelaskan hadits terkait nasihat terhadap para suami. Karena, setiap suami pasti akan mendapatkan kekurangan pada Istrinya. Dan ternyata hal tersebut telah dikabarkan dan dijelaskan oleh Rasulullah -shallallahu ‘alaihi wa sallam-, bahkan beliau pun memberikan solusi dan rumus dalam menyikapinya.

Penjelasan beliau itu sangat penting untuk direnungkan oleh para Suami sehingga memiliki bekal penting ketika barlabuh dalam bahtera rumah tangga agar bisa bertahan saat badai menerjang bertubi-tubi. Berikut ini kami bawakan hadits-hadits beserta penjelasannya dari dua Ulama besar mengenai hal tersebut:

وعن أبي هريرة رضي الله عنه قال قال رسول الله صلى الله عليه وسلم: “استوصوا بالنساء خيرا فإن المرأة خلقت من ضلع وإن أعوج ما في الضلع أعلاه؛ فإن ذهبت تقيمه كسرته وإن تركته لم يزل أعوج فاستوصوا بالنساء“. (متفق عليه)
وفي رواية في الصحيحين: “المرأة كالضلع؛ إن أقمتها كسرتها وإن استمتعت بها استمتعت وفيها عوج“.
وفي رواية لمسلم: “إن المرأة خلقت من ضلع لن تستقيم لك على طريقة؛ فإن استمتعت بها استمتعت بها وفيها عوج وإن ذهبت تقيمها كسرتها؛ وكسرها طلاقها“.

Dari Abu Hurairah –radhiallahu ‘anhu- berkata: Rasulullah bersabda:
“Berwasiatlah kepada para wanita dengan kebaikan; karena wanita itu tercipta dari tulang rusuk, sedangkan yang paling bengkok dari rusuk itu adalah yang paling atasnya. Apabila kau (memaksa) meluruskannya maka niscaya kau mematahkannya, dan apabila kau membiarkannya maka ia akan terus bengkok; maka berwasiatlah kepada para wanita.” (Muttafaqun ‘alaih).

Dalam riwayat yang lain di Shahihain (Shahih Bukhari dan Muslim) disebutkan: “Wanita bagaikan tulang rusuk; apabila kau menegakkannya niscaya kau mematahkannya dan bila kau bersenang-senang dengannya niscaya kau akan bersenang-senang sedangkan padanya ada kebengkokan.”

Dan dalam riwayat Muslim disebutkan: “Sesungguhnya wanita itu tercipta dari tulang rusuk yang tidak akan pernah lurus dengan cara apapun, apabila kau bersenang-senang dengannya niscaya kau akan bersenang-senang sedangkan padanya ada kebengkokan, apabila kau (memaksa) meluruskannya maka niscaya kau mematahkannya, dan patahnya itu adalah menceraikannya.”

~~~~~~~~~

✅ Syaikh Muhammad bin Shalih Al ‘Utsaimin –rahimahullah- ketika menjelaskan hadits tersebu berkata:

“Penulis (kitab: Riyadhush Shalihin) menyebutkan hadits yang dinukil dari Abu Hurairah –radhiallahu ‘anhu- mengenai sikap mempergauli para wanita; bahwasannya Nabi -shallallahu ‘alaihi wa sallam- bersabda: “استوصوا بالنساء خيرا” yang maknanya: Terimalah wasiat ini yang dengannya aku wasiatkan kepada kalian; dan hal itu adalah dengan melakukan kebaikan terhadap para wanita; karena para wanita itu pendek akalnya, pendek agamanya, pendek berfikirnya, dan pendek dalam segala halnya karena mereka itu tercipta dari tulang rusuk.

Hal itu karena Adam –‘alaihish shalatu wa salam- telah diciptakan Allah dengan tanpa bapak dan ibu, bahkan Allah mencipakan beliau dari tanah, kemudian Allah berfirman padanya: _“kun !, fayakuun!”_ (“Jadilah! Maka terjadilah”).

Dan ketika Allah ta’ala hendak memperbanyak makhluk ini *Maka Allah menciptakan dari beliau pasangan beliau, lalu Allah menciptakan pasangan beliau itu dari tulang rusuk beliau yang bengkok, maka terciptalah pasangan beliau itu dari tulang rusuk yang bengkok.*

Sedangkan tulang rusuk bengkok; apabila kau bersenang-senang dengannya maka kau bisa bersenang-senang dengannya sedangkan padanya terdapat kebengkokan, dan bila kau (memaksa) meluruskannya maka tulang rusuk itu akan patah.

Maka wanita pun seperti itu; apabila seseorang bersenang-senang dengan wanita, maka dia bisa bersenang-senang dengannya disertai adanya kebengkokan lalu dia ridha terhadap apa yang telah dimudahkan, dan bila dia ingin wanitanya itu lurus maka sungguh wanita itu tidak akan pernah lurus dan dia tidak akan pernah mampu meluruskannya! *

Wanita itu seandainya telah lurus agamanya maka ia tidak akan pernah lurus dalam hal lain yang menjadi konsekuensi kebengkokan tabi’atnya, dan tidak akan pernah menjadi sesuai dengan apa yang diinginkan oleh suaminya dalam segala hal*.

Justru, mesti ada perselisihan, mesti ada ketidaksempurnaan bersamaan dengan kekurangan yang merupakan konsekuensi tabi’at wanita; maka wanita itu adalah ‘pendek (akal)’ berdasarkan watak dan tabi’atnya, serta wanita pun merupakan muqashshirah (orang yang membuat serba salah) yang mana bila kau (paksakan) meluruskannya maka kau akan mematahkannya; dan patahnya itu adalah menthalaqnya (menceraikannya).

⛔ *Yakni, makna dari hal tersebut adalah bahwasannya bila kau mencoba menjadikan istrimu lurus sesuai dengan yang kau inginkan; maka itu tidak mungkin terjadi, dan pada saat itulah kau akan menganggapnya sial, lalu menceraikannya.

Maka patahnya wanita itu adalah menceraikannya.*

Pada (pembahasan) ini pun terdapat arahan dari Rasulullah –shallallahu ‘alaihi wa sallam- mengenai pergaulan seseorang dengan keluarganya, yaitu

*Bahwasannya hendaklah dia memberikan maaf kepada keluarganya dan menerima apa yang telah dimudahkan*, sebagaimana Allah ta’ala telah berfirman: _“…ambillah sikap memaafkan…”_ yakni; apa (yang bisa) dimaafkan dan mudah dari akhlak manusia, _“…dan suruhlah kepada perbuatan yang ma’ruf serta berpalinglah dari orang-orang bodoh.”_(QS. Al A’raf: 199).

Walau bagaimanapun, tidak mungkin kau menemukan seorang wanita yang seratus persen selamat dari aib (kekurangan), atau yang seratus persen baik terhadap suaminya!

Akan tetapi, sebagaimana yang telah diarahkan oleh Nabi –shallallahu ‘alaihi wa sallam-: *

Bersenang-senanglah padanya dengan disertai apa yang ada padanya berupa kebengkokan.

Dan juga seandainya kau membenci suatu bagian akhlak istrimu maka niscaya kau ridha pada akhlaknya yang lain, maka imbangilah hal satu dan yang lainnya dengan disertai kesabaran.*

Sungguh Allah ta’ala telah berfirman: _“….Kemudian bila kamu tidak menyukai mereka (para istri), (maka bersabarlah) karena mungkin kamu tidak menyukai sesuatu, padahal Allah menjadikan padanya kebaikan yang banyak.”_” (QS. Annisa: 19). –selesai nukilan- (Syarhu Riyaadhish Shaalihiin, 3/116-118).

⏸ Bila hakikat keadaan perempuan seperti itu dan kita diperintah untuk bersabar dan menganggapnya wajar, lantas sampai batasan apakah kita menyikapinya seperti itu?

Maka jawabannya terdapat pada penjelasan Ibnu Hajar berikut ini:
✅ Ibnu Hajar Al Atsqalaniy –rahimahullah- berkata:

“Sabda beliau: [ بالنساء خيرا :“…terhadap para perempuan dengan baik…”] Di dalamnya terdapat suatu rumus untuk meluruskan, yaitu: Dengan cara lemah lembut; yang mana tidak berlebih lebihan dalam meluruskan sehingga mematahkan dan tidak pula membiarkan begitu saja sehingga terus menerus bengkok.

Kepada hal tersebutlah penulis (kitab riyadhush shalihin) mengisyaratkan dengan menjadikan judul setelahnya diikuti dengan judul _

“Bab: lindungilah diri kalian dan keluarga kalian dari Neraka.”_

Maka, darinya terambil (faidah;) bahwasannya tidak boleh membiarkan perempuan tetap berada dalam ‘kebengkokan’ apabila kebengkokannya itu membawanya kepada perbuatan maksiat; apakah itu berupa melakukan perbuatan maksiat itu sendiri atau berupa meninggalkan kewajiban.

*Dan yang dimaksud membiarkan (tabi’at) perempuan itu dalam kebengkokan (dengan tanpa dipaksakan lurus sehingga patah. pent-) adalah dalam perkara-perkara yang mubah.*

Dan dalam hadits tersebut pun terdapat anjuran berlaku ramah untuk menarik jiwa dan melunakkan hati.

Pada hadist tersebut pun terdapat cara mensiasati para wanita, yaitu; Dengan memberi mereka maaf dan bersabar terhadap ‘kebengkokkan’ mereka, dan bahwasannya orang yang menginginkan lurusnya mereka itu adalah; Dengan melalui mengambil menfaat (bersenang-senang) dengan mereka.

Bersamaan dengan itu, sesungguhnya seorang lelaki sangat membutuhkan seorang perempuan yang akan menenangkannya dan membantu kehidupannya.

Maka, seolah-olah beliau mensabdakan: *’Bersenang-senang dengan perempuan tidak akan sempurna melainkan dengan disertai kesabaran terhadap (kekurangan)nya.’*” –selesai nukilan- (Fathul Baari: 9/290).
=======================

-Disusun oleh: Muhammad Hilman Alfiqhy-

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*