Jangan Lupakan Orangtua, Beradablah Wahai Dai muda..

SIAPA SEBENARNYA YANG MENGAWALI PERPECAHAN ?

Telah berkata Syaikh Sulaiman ar-Ruhaili -hafizhahullah- dalam daurahnya di Batu- Malang:

“Diantara hal yang selalu saya peringatkan adalah : Apa yang selalu dilariskan oleh syaithan-syaithan dari kalangan jin dan sebagian syaithan-syaithan dari kalangan manusia; untuk membuat perpecahan diantara para da’i,

Bagaimanakah (itu) ?

Datang sebagian da’i muda sambil mengatakan :

“Mereka itu orang-orang tua, sedangkan kita adalah para pemuda. Orang-orang tua itu metodenya kuno, dan sekarang sudah tidak sesuai dengan zaman ini, sebaiknya kita menempuh metode lain..”

“Kami adalah para pemuda, kami akan menyusul para da’i (tua) itu,”

Dan yang semakna dengan itu..

Sebagian ikhwah, mungkin dia mengenal manhaj salaf melalui perantaraan da’i yang tua ini, dan barangkali dialah yang membantu da’i muda ini sehingga dapat dapat diterima di sebuah Universitas.

Kemudian, tatkala telah lulus dari Universitas itu, dan telah menjadi Doktor, dia berkata:

“Mereka (da’i tua) itu laki-laki, kami pun laki-laki!”

Tidak lama kemudian, dia berkata : “Mereka telah termakan waktu.”

Tidak mengapa kita berijtihad, akan tetapi kita pun berhati-hati terhadap perpecahan. Kita berada pada satu kendaraan dan satu jalan, kita bermusyawarah dengan dengan orang-orang tua yang telah mendahului kita didalam berdakwah ..

Kita bermusyawarah dengan mereka, memuliakan mereka, dan menghormati mereka.

Sungguh, termasuk diantara bentuk Allah memuliakan (seseorang); [mungkin yang tepat: Termasuk diantara pengagungan terhadap Allah]; yaitu dengan cara: (orang itu) memuliakan seorang muslim yang rambutnya dipenuhi uban.. “

– ditulis oleh Muhammad Iqbal Rahmatullah Lc.

Print Friendly, PDF & Email

1 Comment

  1. Assalamu’alaikum…
    Afwan menurut antum sekrang UKB bagaimna syaikh?
    karena ana dapat kbar dari seorang teman beliau sudah rujuk ke manhaj salaf

    Wa’alaikumussalamwarahmatullah,
    Kalau rujuk itu seharusnya duduk dulu di majlis ilmu ustadz yang lurus manhajnya, agar hilang atsar masa lalunya,..

    Bukan langsung ngisi ceramah di mana-mana,..

    Dia dulu adalah dai WI,
    Pernahkah anda mendengar taubatnya ustad tsb dari WI ?

    Demikian pula para ustadz mantan Jamaah Tahdzir, seharusnya mereka duduk dulu di majlis ilmu, hingga hilang atsar masa lalu mereka,..

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*