Fokus Dakwah Di Daerah Tertentu, Bukan Menjadi DAI Kondang-an..

MU’ADZ FOKUS DAKWAH DI YAMAN

[1]- Pengutusan Mu’adz ke Yaman

وَعَنِ ابْنِ عَبَّاسٍ -رَضِيَ اللهُ عَنْهُمَا-، قَالَ: قَالَ رَسُوْلُ اللهِ -صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ- لِمُعَاذِ بْنِ جَبَلٍ حِيْنَ بَعَثَهُ إِلَى اليَمَنِ: ((إِنَّكَ سَتَأْتِيْ قَوْمًا أَهْلَ كِتَابٍ، فَإِذَا جِئْتَهُمْ؛ فَادْعُهُمْ إِلَى أَنْ يَشْهَدُوْا أَنْ لَا إِلٰهَ إِلَّا اللهُ، وَأَنَّ مُـحَمَّدًا رَسُولُ اللهِ[وَفِيْ رِوَايَةٍ: إِلَى أَنْ يُوَحِّدُوا اللهَ]،…))

Dari Ibnu ‘Abbas -radhiyallaahu ‘anhumaa-, dia berkata: Rasulullah -shallallaahu ‘alaihi wa sallam- bersabda kepada Mu’adz ketika mengutusnya ke Yaman: “Sungguh, engkau akan mendatangi orang-orang Ahli Kitab (Yahudi dan Nasrani); maka hendaklah pertama kali yang harus engkau dakwahkan kepada mereka adalah: Syahadat “Laa Ilaaha Illallaah” [dalam riwayat yang lain disebutkan: Agar mereka mentauhidkan Allah],…”

[Muttafaqun ‘Alaihi: HR. Al-Bukhari (no. 1496, 7372) dan Muslim (no. 19)]

[2]- Mu’adz Fokus Dakwah Di Yaman

Al-Hafizh Ibnu Hajar -rahimahullaah- berkata:

وَاتَّـفَقُوْا عَلَى أَنَّهُ لَـمْ يَزَلْ عَلَى الْيَمَنِ، إِلَى أَنْ قَدِمَ فِـيْ عَهْدِ أَبِـيْ بَكْرٍ، ثُـمَّ تَـوَجَّـهَ إِلَى الشَّامِ، فَمَاتَ بِـهَا

“Mereka (para ulama) sepakat bahwa: beliau (Mu’adz) terus berada di Yaman, sampai akhirnya beliau datang pada zaman Abu Bakar, kemudian pergi menuju Syam, dan wafat di sana.”

[“Fat-hul Baari” (III/451- cet. Daarus Salaam)]

[3]- Mu’adz Tidak kembali Sampai Tidak Lagi Bertemu Nabi -shallallaahu ‘alaihi wa sallam-.

عَنْ مُعَاذِ بْنِ جَبَلٍ قَالَ: لَمَّا بَعَثَهُ رَسُوْلُ اللهِ -صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ- إِلَى الْيَمَنِ؛ خَرَجَ مَعَهُ رَسُوْلُ اللهِ -صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ- يُوصِيْهِ -وَمُعَاذٌ رَاكِبٌ وَرَسُوْلُ اللهِ -صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ- يَـمْشِي تَـحْتَ رَاحِلَتِهِ-، فَلَمَّا فَرَغَ قَالَ: ((يَا مُعَاذُ! إِنَّكَ عَسَى أَنْ لَا تَلْقَانِـيْ بَعْدَ عَامِيْ هٰـذَا، وَلَعَلَّكَ أنَ تَـمُرَّ بِـمَسْجِدِيْ هٰـذَا، وَقَبْرِيْ)) فَبَكَى مُعَاذٌ جَشَعًا لِفِرَاقِ رَسُولِ اللهِ -صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ-، ثُـمَّ الْــتَفَـتَ، فَأَقْبَلَ بِوَجْهِهِ نَـحْوَ الْمَدِيْنَةِ، فَقَالَ: ((إِنَّ أَوْلَى النَّاسِ بِـيْ: الْمُتَّقُوْنَ مَنْ كَانُوْا وَحَيْثُ كَانُوْا))

Dari Mua’dz bin Jabal, tatkala Rasulullah -shallallaahu ‘alaihi wa sallam- mengutusnya ke Yaman, Rasulullah -shallallaahu ‘alaihi wa sallam- keluar bersamanya (mengantarkannya) untuk memberi wasiat -Mu’adz naik kendaraan dan Rasulullah -shallallaahu ‘alaihi wa sallam- berjalan kaki di bawah kendaraannya (Mu’adz)-. Tatkala selesai memberi wasiat; beliau bersabda:

“Wahai Mu’adz! Mungkin engkau tidak akan lagi bertemu denganku setelah tahun ini, mungkin nanti engkau melewati masjidku ini dan kuburku.”

Maka Mu’adz menangis karena kaget akan berpisah dengan Rasulullah -shallallaahu ‘alaihi wa sallam-.

Kemudian beliau menengok dan menghadapkan wajahnya ke Madinah, kemudian bersabda:

“Sungguh, manusia yang paling dekat denganku adalah orang-orang yang bertakwa, siapa pun mereka dan dimana pun mereka berada.”

[Shahih: HR. Ahmad (V/235), lihat: “Silsilah al-Ahaadiits ash-Shahiihah” (no. 2497)]

-diambil dari Al-Maqaalaat (III/71-73), makalah ke-83, karya: Ahmad Hendrix-

Print Friendly, PDF & Email