Kenapa HANYA Syaikh Ali Saja Yang Berani Anda Katakan Sebagai MURJI’AH Ya Ustadz ?

Ternyata Ustadz Dzul Dalam Menuduh Syaikh Ali sebagai murjiah, itu hanya mengekor kepada syaikhnya,..

Salah seorang Ustadz yang katanya muridnya Syaikh Shaalih Al-Fauzaan hafidhahullah saat diajukan pertanyaan kepadanya yang berkaitan dengan Syaikh ‘Aliy Al-Halabiy yang dikatakan telah membagi iman itu ada dua, yaitu (1) pokok iman (ashlul-iman) berupa pembenaran hati dan ucapan lisan, (2) dan penyempurna iman (kamaalul-imaan) berupa amalan (jawaarih); maka kata sang Ustadz – dengan ciri khas keakuannya – bahwa perkataan ini adalah perkataan Murji’ah.

Dan tidak lupa sang ustadz pun membumbui perkataan bahwa Syaikh ‘Aliy itu kurang dalam masalah hadits (saat berbicara tentang para perawi hadits) sehingga bikin ketawa para penuntut ilmu pemula.

Sebenarnya kalau mau jujur, sang ustadz lah yang hanya TAQLID. Dan kalau mau jujur – tanpa mengurangi rasa hormat saya pada beliau – justru perkataannya lah lebih layak untuk bikin ‘KETAWA’ dalam masalah ini – maaf.

Pembagian iman menjadi dua yaitu ashlul-iman dan kamaalul-iman itu sudah ma’ruf di kalangan orang yang bergelut dalam ilmu ‘aqidah.

Tentang masalah amal jawaarih, apakah ia masuk pada ashlul-iman atau kamaalul-iman, maka ia kembali pada masalah perbedaan pendapat tentang amal ketaatan yang jika ditinggalkan dapat menyebabkan kekafiran.

Jika ada yang berpendapat bahwa shalat jika ditinggalkan menyebabkan kekafiran, maka shalat itu termasuk ashlul-iman baginya.

Kalau kita lihat dalam penjelasan para ulama Ahlus-Sunnah, maka banyak yang mengatakan bahwa amal-amal shalihah yang dhahir itu dimutlakkan pada bagian kamaalul-iimaan.

Al-Imaam Al-Marwadziy rahimahullah berkata :

لأن البي صلى الله عليه وسلم سمّى لإيمانَ بالأصل وبالفروع، وهو الإقرارُ، والأعمال……. فجعلَ أصلَ الإيمانِ الشهادة، وسائرَ الأعمال شُعباً، ثمّ أخبرَ أنّ الإيمان يكمل بعد أصلهِ بالأعمالِ الصّالحة….

“Karena Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam menamakan iman dengan ashl (pokok) dan furuu’ (cabang); dan ia adalah iqraar dan amal-amal…… Dan beliau menjadikan ashlul-iimaan syahadat, dan menjadikan seluruh amal cabang-cabang.

Kemudian beliau mengkhabarkan bahwasannya iman DISEMPURNAKAN setelah pokoknya dengan amal-amal shaalihah….” [Ta’dhiimu Qadrish-Shalaah, 2/711-712].

Syaikhul-Islaam Ibnu Taimiyyah rahimahullah berkata :

الدّينُ القائمُ بالقلبِ من الإيمانِ علماً وحالاً هو الأصل ، والأعمالُ الظّاهرةُ هي الفروعُ ، وهي كمالُ الإيمانِ

“Agama yang tegak dengan keimanan di hati secara ilmu dan keadaannya, merupakan pokok. Dan amal-amal dhaahir merupakan cabang-cabang (iman), dan ia adalah KESEMPURNAAN IMAN” [Majmuu’ Al-Fataawaa, 7/354].

Bahkan Syaikh Rabii’ – ulama yang sangat diagungkan sang ustadz – menjelaskan dengan panjang lebar bahwa beberapa ulama Ahlus-Sunnah memang memutlakkan amal dhahir sebagai kamaalul-iman (baca : http://www.rabee.net/show_des.aspx?pid=3&id=200).

Kok bisa-bisanya dikesankan sang ustadz bahwa dulu Syaikh Rabii’ pasang badan membela Syaikh ‘Aliy atas tahdzir Lajnah hanyalah abang-abang lambe…..

Innalillaahi wa innaa ilaihi raaji’uun.

Sumber : dari postingan di sini

Print Friendly, PDF & Email

1 Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*