Ustadz Dzul Ini Bukan Rujuk Kepada KEBENARAN, Tapi Istilahnya Keluar dari Mulut HARIMAU Lalu Masuk Ke Mulut BUAYA

Bismillâhirrahmânirrahîm

Saya Dzulqarnain bin Muhammad Sunusi.

Akhi fillah Al-Akh Luqman Ba’abduh dan saudara-saudaraku para dai telah memberikan beberapa kritikan kepadaku, yaitu:

1. Tidak memperingatkan orang-orang awam dari Radio Rodja.

Maka, Saya beristighfar kepada Allah dan bertaubat kepada-Nya dari perkataan yang telah Saya ucapkan itu.

Yang Saya yakini adalah memperingatkan dari Radio Rodja secara mutlak bagi kalangan umum dan selainnya tanpa perincian, dan Saya telah keliru pada rincian tersebut.

2. Pengulangan pertanyaan tentang Radio Rodja, padahal Syaikh Rabî’ hafizhahullâhtelah memutuskan masalah tersebut.

Saya beristighfar dan bertaubat kepada Allah dari menanyakan masalah, yang telah Syaikh Rabî’ putuskan tersebut, kepada Syaikh Muhammad Al-Imam.

3. Perkataan Saya tentang Yazid Jawas bahwa dia adalah seorang Salafy yang guncang.

Maka, Saya memohon ampun kepada Allah dan bertaubat kepada-Nya dari pemutlakan ini karena Yazid Jawas bukanlah seorang Salafy, melainkan seorang mubtadi’.

4. Yang Saya yakini adalah bahwa Al-Hajury merupakan mubtadi’ sesat, sedangkan Syaikh Abdurrahman Mar’iy dan Syaikh Abdullah Mar’iy adalah di antara masyaikhSalafiyyin. Saya beristighfar kepada Allah dari setiap kalimat yang dipahami bahwa Saya menyetujui peng-hizbiyah-an mereka berdua atau salah seorang di antara keduanya.

5. Di dalam ajaran Islam, tidak ada yang dinamakan “hukum karma”. Itulah keyakinan Saya. Adapun ungkapan Saya menyebutkan “karma” dan bahwa hal itu ada, Saya maksudkan berlandaskan penyebutan kebanyakan orang dengan maknanya yang benar dalam kandungan syariat Kita. Hal itu adalah kesalahan dari Saya dalam menggunakan lafazh tersebut, dan Saya memohon ampunan kepada Allah dari kesalahan itu.

6. (Perbuatan) yang Saya lakukan, dengan tidak melaksanakan perkataan Syaikh Al-Walîd Rabî’ –hafizhahullâh-, itu adalah kesalahan dari Saya, dan Saya memohon kepada Allah agar (Allah) memaafkanku.

7. Penyepelean tahdzîr terhadap Jam’iyyah Ihyâ` At-Turâts adalah perkara mungkar. Keyakinan Saya adalah wajibnya men-tahdzîr Jam’iyyah ini. Yang terjadi dari Saya berupa perkataan yang, dari (perkataan) itu, dipahami penyepelean tahdzîrterhadapnya, maka Saya rujuk dari hal tersebut serta beristighfar kepada Allah.

8. Penyifatan terhadap para dai, bahwa mereka hanya perhatian pada satu sudut pembahasan aqidah, yaitu sudut rudûd ‘bantahan’, adalah keliru dan batil. Saya beristighfar kepada Allah dari hal tersebut. Realitanya adalah bahwa mereka memperhatikan seluruh pembahasan aqidah pada pelajaran-pelajaran mereka sesuai dengan kemampuan.

9. Yang tersebut dalam ucapanku di masjid I’tisham berupa penyifatan jalan sebagian orang bahwa mereka berada pada jalan Khawarij dan hizbiyyin dalam membuat lari dari ilmu dan pelajaran para dai, Allah mempersaksikan bahwa Saya tidak memaksudkan para dai dalam hal tersebut, tetapi maksud Saya adalah sebagian orang yang namanya tidak Saya ketahui yang membuat lari dari pelajaran-pelajaran para dai. Saya beristighfar kepada Allah dari pemutlakan ini. Sangkaan Saya kepada saudara-saudara Saya adalah bahwa para Salafiyyin tidak membuat orang lari dari pelajaran-pelajaran para dai.

10. Ucapanku pada (makalah) kalimat syukur untuk Syaikh Rabî’ hafizhahullâh bahwa para dai mengabarkan berita-berita dusta kepada Syaikh Rabî’ dan meremehkan akal mereka, serta ibarat-ibarat yang mengandung kritikan terhadap tahdzîr Syaikh Rabî’ hafizhahullâh wa ra’âhu, demikian pula ucapanku di masjid Al-Muhajirin Wal Anshor bahwa kritikan-kritikan para dai terhadapku adalah dusta atau keliru, merupakan ucapan yang batil. Saya beristighfar kepada Allah dari hal tersebut, dan mereka adalah benar dalam hal tersebut. Saya meminta maaf kepada siapa saja yang Saya telah keliru terhadapnya dari kalangan ulama Kami dan saudara-saudara Kami, para dai.

11. Bahwa Saya menampakkan rujuk di depan Syaikh Rabî’ dan menerima nasihat beliau, demikian pula di sisi Syaikh Hani`, kemudian ucapanku di sisi lain bahwa Saya tidak mengetahui kritikan terhadap Saya dan Saya dizhalimi, adalah batil dan keliru. Saya beristighfar dan bertaubat kepada-Nya dari ucapanku tersebut. Saya berjanji kepada Allah untuk tidak mengulangi hal tersebut.

12. Ucapanku bahwa ikrar para dai: Luqman dan kawan-kawannya, belum bertaubat dari kesalahan-kesalahan yang mereka terjatuh ke dalamnya pada kejadian jihad Maluku, adalah keliru dan batil, bahkan mereka telah mengumumkan taubat mereka dengan berbagai media.

Saya beristighfar kepada Allah dan meminta maaf kepada mereka, sebagaimana Saya menasihatkan kepada siapa saja yang mencela Al-AkhLuqman, Al-Akh Muhammad As-Sewed, dan ikhwah lainnya dari para dai untuk bertakwa kepada Allah dan berhenti dari celaan tersebut karena hal tersebut adalah bentuk adu domba yang syaithan bersemangat dalam hal itu guna merusak di tengah manusia, menanamkan benih-benih perpecahan, dan merusak hal-hal yang diupayakan oleh para masyaikh dan para ikhwah dalam ishlah di antara mereka.

13. Saya berlepas diri dari tulisan Al-Akh Abdul Barr tentang Al-Akh Luqman yang pada (tulisan) itu ada hukum berlebihan bahwa Al-Akh Luqman adalah politikus dakwah. Demikian pula ucapan lainnya. Sebagaimana, Saya berlepas diri tulisan Al-Akh Abdul Mu’thi Al-Maidany tentang dakwah Salafiyah dan dai-dainya. Karena, tulisan kedua (Al-Akh) tersebut membahayakan dakwah Salafiyah berupa menyelisihi persatuan kalimat dan merupakan sebab perpecahan. Saya memohon kepada Allah agar (Allah) memberi taufik kepada keduanya untuk kebaikan.

14. Sebagaimana, Saya berlepas diri dari nukilan Al-Akh Khaidir -semoga Allah memberi taufik kepadanya- tentang sebagian dai, dan (Al-Akh) Khaidir menyifatkan sebagai orang yang hasad, juga nukilan dari ucapannya tentang Syaikh Rabî’ karena itu adalah ucapan jelek yang mengandung perendahan terhadap Syaikh hafizhahullâh, baik beliau maksudkan maupun tidak beliau maksudkan.

15. Pertanyaanku kepada Syaikh Utsman As-Sâlimy sebagaimana berikut,

“Misalnya sekarang sebagian ikhwan Kita memiliki kebiasaan ke suatu tempat dan mengadakan daurah tentang tahdzîr terhadap Ihyâ` At-Turâts selama dua hari-tiga hari, daurah ringkas yang (di dalamnya) membicarakan Ihyâ` At-Turâts atau Sururiyah saja, hingga ke suatu tempat di Indonesia Timur, padahal mereka sama sekali tidak mengenal Ihyâ` At-Turâts,”

Adalah hal yang batil dan menyelisihi realita karena ikhwan tersebut tidak membatasi pembahasan itu saja dalam daurahdaurah mereka, bahkan mereka menyeru kepada Al-Kitab dan As-Sunnah, mengajarkan manhaj Salafy, dan mengajarkan perkara-perkara syar’iyyah yang beraneka ragam kepada manusia. Demikian pula Indonesia Timur adalah salah satu tempat yang teruji dengan dai-dai Sururiyah dan Jam’iyyahIhyâ` At-Turâts. Maka, Saya beristighfar dan bertaubat kepada-Nya dari ucapanku tersebut dan dari meringankan masalah men-tahdzîr dai Sururiyah dan Ihyâ` At-Turâts.

16. Ucapanku tentang Abdul Ghafur adalah bahwa dia salah seorang ikhwah Salafiyyin yang berjasa dalam menyebarkan nukilan yang menjelaskan keadaan Ihyâ` At-Turâts, Sururiyyin, Halabiyyin, dan semisalnya. Hal itu disyukuri terhadapnya. Saya memohon kepada Allah untuk memberinya taufik dalam membela Salafiyah dan terus mengambil andil dalam penyebaran nukilan yang menyingkap keadaan ahlul bid’ah dan kesesatan.

17. Secara penuh Saya menguatkan kesimpulan jalsah dengan Syaikh Rabî’ yang tersebar di internet dan telah Syaikh Rabî’ sepakati. Sama sekali tidak ada kritikan dari Saya. Sangkaanku kepada ikhwah para dai adalah bahwa mereka tidak menulisnya dengan hawa nafsu. Apa saja yang berasal dari Saya yang menyelisihi hal tersebut maka Saya bertaubat dan rujuk darinya, dan Saya menginginkan persatuan kalimat serta membuka lembaran baru sebagaimana arahan ulama Kita.

18. Yang Saya yakini dan anggap sebagai agama: pernyataan bahwa ulama tidak bersepakat dalam men-tahdzîr Abul Hasan Al-Ma`riby, dan tahdzîr tersebut adalah masalah ijtihadiyah yang tidak diingkari terhadap mukhâlif ‘penyelisih’, adalah batil dan menyelisihi keadaan Ahlus Sunnah yang men-tahdzîr ahlul bid’ah berdasarkan dalil dan argumen tanpa persyaratan kesepakatan dalam hal tersebut. Saya berlepas diri kepada Allah dari ucapan tersebut dan Saya memperingatkan manusia dari jalan yang jelek ini.

19. Ucapanku bahwa ada di antara ikhwan yang dituduh dengan tamyî’, padahal dia mengajar buku-buku aqidah, adalah ucapan yang batil lagi menyelisihi realita. Pengajaran aqidah adalah salah satu ciri yang membedakan Salafiyyun, sedangkan tamyî’ adalah menelantarkan kebenaran dan bergampangan dalam muamalah dengan mukhâlif pada hal yang tidak mencocoki manhaj Salafy. Saya beristighfar dan bertaubat kepada Allah dari ucapanku dan Saya meminta maaf kepada ikhwan dari pemutlakan ini.

20. Saya berlepas diri kepada Allah dari siapa saja yang memujiku secara berlebihan, dan Saya berlepas diri kepada Allah dari hal tersebut, serta Saya tidak menginginkan seorang pun memujiku.

21. Saya berlepas diri dari Ja’far Shalih karena dia telah membuat kaidah-kaidah batil yang menjadi perang terhadap Salafiyyin. Saya men-tahdzîr darinya dan dari ucapan-ucapannya di Facebook dan Blackberry.

Di Antara ucapan-ucapan Ja’far Shalih yang dikritik oleh ikhwah dengan pertanggungjawaban sumber nukilan dan penerjemahannya terhadap Al-Akh Luqman dan kawan-kawan yang bersamanya adalah:

– “Seseorang dinilai salafi atau bukan tidak dilihat hanya dari sikapnya terhadap IT. Pokok-pokok ajaran ahlussunnah seperti yg ada dalam “ushulus sunnah “ Imam Ahmad, misalnya adalah ukuran dalam hal ini. Begitupula yang terdapat dalam “Aqidah Washitiyah “, “Syarhussunnah” dll.”

– Tatkala dikritik oleh salah seorang ikhwah tentang sikap-sikapnya terhadap hizbiyyin, (Jafar Shalih) menjawab, “Kekhawatiranku terhadap orang-orang yang semisal engkau tidak kurang dari kekhawatiranku tentang Ihyâ At-Turâts terhadap keselamatan dakwah Salafiyah.”

– “Kalau mengambil dana IT lantas memanfaatkannya dalam menyebarkan dakwah salaf, itu cerdas namanya.”

– “Mengambil bantuan dari Ihyâ At-Turâts adalah boleh jika tanpa syarat. Syaikh Muqbil meninggal di atas pendapat ini dan tidak rujuk darinya.”

– “Waspada dari Ihyâ At-Turâts adalah waspada dari harta dan manhaj-nya. Apabila seseorang menerima bantuan dari Ihyâ At-Turâts, tetapi dai terus menyebarkan dakwah Salafiyah, membela tauhid dan Sunnah, memerangi syirik dan bid’ah, dan tidak berubah manhaj-nya, Kita tidak mempermasalahkannya. Sebab, kalau dipermasalahkan, maka Kita akan memecah Salafiyyin.”

– “Saya menghormati da’i-da’i yang mentahdzir dari mengambil dana Ihyâ At-Turâts, tetapi Saya tidak bergampangan dalam menuduh orang yang mengambil dana bahwa dia adalah Surury sepanjang orang tersebut berdakwah kepada apa yang didakwahkan. Akan tetapi, sangat disayangkan bahwa sebagian orang menuduh seseorang sebagai Surury hanya sekadar orang tersebut menerima dana dari Ihyâ At-Turâts. Yang lebih jauh dari itu, siapa yang duduk dengan orang yang menerima dana dari Ihyâ At-Turâts dituduh sebagai Surury. Saya heran, mereka itu di atas manhajsiapa?”

– “catatan: sy rabi tidak pernah mentahzir radio, tp beliau hanya ingin persatuan. Coba yg menukil memahami semua perkataan syaikh secara keseluruhan,bukan sepenggal-sepenggal.”

– “InsyaAllah tidak ada yang salah bagi pihak yang mentahdzir Radio kalau memang menurutnya hal itu lebih mendekatkannya dirinya kepada Allah Ta’aala dengan syarat ikhlas dan diatas ilmu. Sebagaimana juga tidak ada yang salah bagi mereka yang menganggap sebaliknya. Bukankah perselisihan dalam masalah Jarh wat Ta’dil serupa dengan perselisihan dalam masalah fikih?! Apa antum mau memaksa orang yang mengatakan shalat jama’ah sunnah muakkadah bahwa berjamaah itu wajib?! Kan tidak? Apalagi dalam perkara Jarh wat Ta’dil yang mana dalil-dalilnya tidak seterang perkara fiqih. Apa ada ayatnya Radio fulan begini…begitu…? atau barangkali ada haditsnya? Kan tidak. Kalau dalam perkara fikih para ulama yang berselisih saja mereka mentolerir ulama yang kontra dengannya, apalagi dalam perkara Jarh wat Ta’dil akhi. Dan seperti itulah aplikasi ulama kita dulu dan sekarang dalam perselisihan pada bab Jarh wat Ta’dil ini.”

-“Maka tepat sekali yang dikatakan Syaikh Mar’i bahwa masalah ini termasuk perkara yang masing-masing pihak melihat dari sudut pandang yang berbeda sehingga hasilnya berbeda pula. Dan ingat apa yang dikatakan Sy Wushabi tentang bidáh memaksa/menigilzam orang lain dalam perkara ijtihadi, mendekatkan yang sepaham menjauhkan yang bersebrangan. Dan sebagian yang mengaku salafy jatuh kedalam bid’ah ini.”

– “Jamaah Tahdzir terus menggembosi dakwah tauhid, berdiri satu barisan dgn iblis2 menjauhkan manusia dari agama Allah.”

– Ketika ditanya tentang Yazid Jawwas dan Firanda, (Ja’far Shalih) menjawab, “Bagi Saya, kalau saya tuduh mereka hizbi, luqman lebih pantas.”

– Dia juga berkata tentang Abu Yahya Badrussalam, penanggung jawab Radio Rodja, bahwa “Ust. Badru Salafy murni.”

– Ucapannya tentang fatwa Al-Lajnah Ad-Dâ`imah terhadap Ali Al-Halaby, “Saya sendiri tidak setuju dengan pemikiran Sy. Ali Hasan yang dikritisi Lajnah, tapi perkara ini bukan alasan untuk berpecah-belah dan bermusuhan.”

– Juga pujian Ja’far Shalih pada ceramah salah seorang da’i radio dan tv Rodja, Dr. Erwandi Tirmidzy, sebagai “Ceramah ilmiah yang jarang ada yang menjelaskannya dengan Bahasa yang mudah.”

– “Radio Rodja dakwahnya jelas kepada tauhid dan sunnah. Hendaknya berhati-hati bagi siapa saja yang menggembosinya karena itu adalah penggembosan terhadap tauhid dan sunnah.”

– “Adapun Radio Rodja hingga saat ini tidak ada hujjah yang cukup untuk menuduh mereka dengan Sururiyah atau melarang manusia dari mendengarkannya. Bahkan, yang tampak bagi Saya adalah kebalikan hal tersebut, bahwa hujjah dalam mendengar dan menyebarkannya sangat kuat, karena dakwahnya adalah dakwah Kita.”

Juga (Ja’far Shalih) menganjurkan untuk mengikuti program-program Radio Rodja dengan ucapannya, “Ayo menuntut ilmu. Siaran langsung Tafsir Surah Al-Kautsar bersama Ustadz Abdullah Zain.”

Ja’far Shalih yang masyhur dalam memuji Radio Rodja dan da’i-da’inya, serta mengajak Salafiyyin untuk mengikutinya. Tetapi, pada keadaan itu, juga dikenal membicarakan sebagian da’i Salafiyyin dan mencela mereka. Kadang dia menggelari mereka Haddadiyah, kadang Jamaah Tahdzir, dan kadang Jamah Ilzam, dan sebagian mereka digelari Amirul Mukminin sebagai istihza`, serta dakwah ini dipimpin oleh gerombolan hizbiyyah.

Ucapan-ucapan (Ja’far Shalih) dibaca oleh orang jauh maupun orang dekat dari kalangan Salafiyyin dan hizbiyyin.

22. Sesungguhnya Saya menulis dan memahami tulisanku dengan kelapangan dada tanpa ada paksaan. Saya mengingatkan manusia agar tidak terjatuh ke dalam kesalahan-kesalahan ini. Semoga Allah membalas kebaikan kepada siapa saja yang membantuku dalam taubat ini. Saya memohon kepada Allah agar menerima dariku.

23. Juga, Saya menegaskan bahwa, ketika menulis (tulisan) ini, Saya memperumpamakan diri sendiri, tidak memperumpamakan orang lain. Saya menegaskan pula bahwa, jika Saya mengulangi kesalahan-kesalahan ini, perkara Saya dikembalikan kepada masyaikh Kami, seperti Syaikh Rabî’ atau Syaikh ‘Ubaid hafizhahumallâh, agar mereka memberi hukum yang layak terhadap Saya.

Allah Jalla wa ‘Alâ menyaksikan bahwa Saya telah bertaubat dari kesalahan-kesalahan yang telah berlalu. Kesalahan lain apa saja yang Saya terjatuh di dalamnya, maka Saya akan rujuk dari (kesalahan) tersebut. Saya mensyukuri semua pihak yang menunjukkan kesalahanku agar Saya meninggalkan dan bertaubat dari (kesalahan) itu.

Saya mensyukuri Al-Akh Luqman akan semangatnya dalam dakwah Salafiyah. Saya memohon kepada Allah agar mengumpulkan Kami di atas ketaatan dan memberi taufik kepada Kami menuju segala kebaikan dan keshalihan dakwah Salafiyah di Indonesia dan selainnya.

Ditulis oleh

Dzulqarnain bin Muhammad Sunusi

Rabu, 23 Jumadil Akhir 1435 H

Peringatan:

Penulisannya dengan ikhwah terlaksana bersama Usâmah bin ‘Athâyâ bin ‘Utsman Al-‘Utaiby.

Hendaknya diketahui bahwa tulisan ini berada dalam jalan ishlah dan penyatuan kalimat Salafiyyin di Indonesia. Yang wajib atas (para Salafiyyin) adalah teguh di atas kebenaran, menapaki jalan ulama, dan istiqamah di atas ishlah, serta menjauhi siapa saja yang urusannya hanya menyulut fitnah dan perpecahan di antara Salafiyyin.

Wallâhul muwaffiq

sumber : http://web.archive.org/web/20140625132144/http://dzulqarnain.net/kalimat-rujuk-dan-penjelasan.html

Pernyataan di atas itu sebagai BUKTI bahwa ustadz tersebut BELUM bertaubat dari jamaah tahdzir.

Bahkan yang katanya sudah rujuk hanya karena dekat dengan dai rodja, atau ngisi bareng dai rodja, itupun bukan sebagai pertanda rujuknya, dan ternyata sekarangpun ada keanehan pemikiran terhadap ustadz tersebut.

Print Friendly, PDF & Email

4 Comments

  1. Assalamu’alaikum (Admin) pernyataan Ustadz Dzulkarnain tersebut menurut sumber adalah postingan tahun 2014, apakah tidak ada kabar terbaru di 2017,. apalagi ini sudah mau 2018.

    sedangkan di web ini baru ustadz share di thn 2017. maksud saya postingan tersebut sudah sangat lama. mngkin beliau sudah rujuk. semoga kita terhindar dari kabar yang lama yang membuat keadaan menjadi hangat kembali.
    syukron

    Wa’alaikumussalamwarahmatullah,
    Kata ust Abdul hakim dan ustadz Yazid, ustadz tersebut belum bertaubat,

    Belum rujuk dari jamaah tahdzir,
    Tentu yang ditahzir lebih tahu, kalau dia bertaubat, tentu akan datang ke ust abd hakim dan ust yazid untuk meminta maaf, tapi itu tidak dilakukan oleh ustadz tersebut, apa dia LUPA syarat taubat nasuha ???

    Padahal ust tersebut tinggalnya di pasar minggu, bahkan dekat dengan rumah ustadz Abdul hakim, kenapa ust tsb tidak mau ziarah dan meminta maaf?

    Ustadz Yazidpun tinggal di bogor, dekat dari pasar minggu, kenapa tidak ziarah dan meminta maaf?
    Padahal ust Yazid itu merupakan gurunya dia juga saat di degolan dulu,..

    Jadi murid yang KURANG AJAR kepada gurunya sendiri,..

    • Coba lihat tulisan ustadz Dzulqarnain berikut:

      http://dzulqarnain.net/nasihat-dan-penjelasan-guna-mengobati-sumber-fitnah.html

      Kelihatannya beliau sudah (cukup lama) berlepas diri dari tulisannya yg antum nukil di artikel antum ini.

      Beliau juga cukup lama ga mau meminta MAAF kepada ustadz yang merupakan GURUNYA sendiri, mengatakan ustadz yazid BUKAN SALAFI, tapi MUBTADI’

      Ustadz yazid yg merupakan gurunya dzulqarnain berkata,..
      Bahwa dzulqarnain belum bertaubat,..

      Apakah ustadz tersebut LUPA syarat taubat nasuha dari ustadz jamaah tahdzir?

      Dzulqarnain tinggal di pasar mingg, dekat dengan rumah ustadz Abdul hakim abdat, pernahkah ustadz tersebut ziarah ke rumahnya ust Abdul hakim untuk meminta maaf??

      Bahkan ustadz Abdul hakim setelah mengetahui anaknya sekolah di sekolah yg ust dzul menjadi pembinanya, yaitu sekolah yg ada di pasar minggu, maka ust Abdul hakim pun menarik anaknya dari sekolah tersebut, dan diikuti oleh ikhwah yang lainnya..

      Taubat dari tahdzir serampangan itu bukan CUMA nulis dan buat pernyataan di WEB, dishare di dunia maya, di medsos…

      Datangi dong ustadz yg sudah dirusak namanya, minta maaf, apalagi itu gurunya sendiri,

      Jangan menjadi murid yang DURHAKA kepada gurunya

      Saya sudah baca link yang antum berikan, dan TIDAK ADA sepatah katapun tulisan PERMINTAAN MAAF pada ustadz Yazid yang dzulqarnain sebut bukan salafi, tapi mubtadi’

      Sudah lupakah dengan syarat taubat istadz yang katanya murid syaikh Fauzan tersebut??

      Link tersebut justru menunjukkan kerusakan dakwah jamaah tahdzir yang dUlqarnain sendiri dulu bersama mereka,..

      • Na’am. Ana sepakat dgn antum ttg permohonan maaf. Jika itu belum terjadi, kita berharap ust. Dzulqarnain mau melakukannya kedepannya.

        Tapi ana pikir bukan termasuk keadilan antum memposting tulisan lama beliau, padahal antum tahu beliau sudah berlepas diri dari tulisan itu dan sdh mempublikasikan pernyataan berlepas dirinya. Beliau berkata:

        “Oleh karena itu, saya berlepas diri kepada Allah dari segala sesuatu yang saya mengalah dan ridha dari dikte-dikte Usâmah ‘Athâyâ, Luqman Ba’abduh dan orang-orang yang bersamanya, serta saya rujuk dari setiap sesuatu yang tersebar dari hal itu.”

        Saya memahami dari perkataan tersebut bahwa termasuk di dalamnya beliau berlepas diri dan rujuk dari tabdi’ beliau terhadap ust. Yazid. Hal ini krn tabdi’ beliau thd ust. Yazid merupakan bagian dari tulisan beliau sebelumnya (yg beliau kini telah berlepas diri dan rujuk darinya).

        Semoga Allah menyatukan barisan ahlussunnah. Wallahu a’lam.

        DUSTA, tidak ada terbersit dari tulisan sang ustadz kata-kata rujuk dari tabdi, itu kesimpulan antum saja, mungkin karena antum sering menghadiri majlisnya,..

        Saya akan posting lagi kronologi dari awal fitnah berupa diagram dan NAMA-NAMA ustadznya, sehingga akan diketahui mana dan siapa-siapa yang tadinya MENYIMPANG dan ikut tahdzir serampangan, dan mana yang menjadi korban tahdzir dari awal dakwah salafi ini baru merangkak di dekade tahun 90an

        Dan ust dzul termasuk dalam barisan ustadz jamaah tahdzir,..

  2. Masya Allah … indah sekali da’wah salaf .. saling menasihati dengan tahdzir dan saling cinta dengan menuntut tobat .. Salaf zaman now ..

    Ustadz jamaah tahdzir koq ngaku sebagai ustadz salafi?
    Salaf jaman NOW ya?

1 Trackback / Pingback

  1. Fatwa Lajnah Tentang Syaikh Ali Menurut Imam Dan Khatib Masjid Nabawi – "Bisa Karena Terbiasa"

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*