Manhaj Flexibel , Menjelaskan Pada Orang Awam Masalah Khilafiyah Tanpa Tarjih

Cara Orang Awam Mentarjih

Betapa banyak sekarang ini, ustadz/ustadzah di dunia nyata dan maya yang berkata seperti ini, “ini masalah khilafiyah, ada dua pendapat”.

Tanpa tarjih ilmiyyah, sehingga seolah-olah dia mengatakan “silahkan pilih mana yang menurutmu benar dan sesuai”.

Orang awwam disuruh mentarjih sendiri, dengan apa? Alatnya saja tidak punya.

Inilah tanda ilmu sang ustadz/ustadzah itu belum mumpuni, atau bahkan dia belum mengerti, hanya sekedar diustadzkan saja.

Akhirnya keluarlah manhaj fleksibel “ini masalah khilafiyah, semua ada ulamanya, semua punya dalilnya”.

Saat dia mengalami A, maka dia ambil pendapat 1, tapi jika suatu saat berubah dia mengalami B (lawan dari A) maka dia ambil pendapat 2 (lawan dari 1).

Fleksibel tergantung keadaan akhirnya syariat dibuat main main.
__________________

Al ‘ilmu qobla qauli wa ‘amal.
Ilmu itu sebelum berbicara dan beramal.

Di masa lalu, ada seorang yang dianggap mufti (ahli fatwa) oleh manusia.

Suatu ketika ia berhalangan karena hendak melakukan safar, maka sang mufti meminta anaknya menggantikan posisinya selama dia safar.

Bapaknya sadar bahwa anaknya tersebut tidak mengetahui tentang ilmu syariat atau yang berkaitan dengan majlis fatwa.

Si anak menyadari hal tersebut, lalu ia berkata :

“Wahai Bapakku! Bagaimana aku akan menggantikan posisimu, aku kan tidak tahu apa-apa!?

Bapaknya menjawab :
”Saya akan beri satu petunjuk yang membuat engkau selamat sampai aku kembali”.

Si Anak menimpali “Apa itu?”.

Bapaknya menjawab,
”Nanti, setiap ada yang bertanya padamu, bertanya tentang suatu masalah, tinggal katakan saja “Fil mas-alah qoulani ” (Dalam masalah ini ada dua pendapat), tidak usah berpanjang lebar.

Misalnya nanti ada orang datang bertanya :
“Wahai Tuan Syaikh! Seseorang sholat dzuhur kurang rakaatnya , apakah sholatnya batal atau tidak.”

Jawab saja. : “Ada dua pendapat dalam masalah ini”. Beres (Maksudnya ada pendapat yang mengatakan batal dan pendapat lain mengatakan tidak batal).

Misal lagi nanti ada yang datang bertanya , ”Wahai Tuan Syaikh!, Saya telah menikahi istriku tanpa izin walinya apakah sahih akad nikahnya?

Jawab saja “Ada dua pendapat dalam masalah ini”. Cukup begitu saja.

Kemudian si anak mengucapkan :
“Wahai Bapak, Jazaakallah khoir dan si Bapak pun pergi. Kemudian datanglah orang2.

Begitulah ,setiap ada pertanyaan dijawab sebagaimana yang telah direncanakan tanpa malu dengan jawaban singkat tersebut.

Kemudian diantara mereka ada seseorang yang cerdas, mengetahui bahwa orang ini jahil dan mengkhawatirkan pengaruhnya kepada yang lain.

Lalu dia suruh seseorang disebelahnya untuk bertanya : “Apakah pada Allah ragu? ( A fillah syakkun ?)

Ketika ditanyakan, Si Mufti (palsu) itu menjawab :

Dalam masalah ini ada dua pendapat….
(Maka tertawalah majlis syaikh Albani).

Syaikh Albani mengatakan bahwa hakikat cerita diatas bisa saja khurafat tapi ini nyata persis seperti kondisi sekarang.

Bagaimana manusia menyangka sebagian orang itu ahli ilmu, ahli fiqih, padahal orang tersebut hanyalah orang jahil, namun disebut oleh manusia sebagai kaum cendekiwan.

Cerita dengan suara asli Syaikh Albani
rahimahullah : http://www.islamway.com/?
iw_s=Lesson&iw_a=view&lesson_id=43764

Sumber : Copas dari akun Ummu Suhail.

Print Friendly, PDF & Email

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*