Sejarah VAKSIN , Dan Jangan Merasa Kaget Setelah Tahu Asal Muasalnya

Imunisasi Vaksin Dusta Vaksinasi

Apakah Islam mengajarkan Imunisasi?

oleh : Sumayyah Arini

Imunisasi adalah mencakup semua metode yg meningkatkan sistem imun baik innate dan adaptif, pengertian ini sekarang sudah meluas mencakup imunoterapi.

Dan tujuaannya juga tidak sekedar untuk meningkatkan antibodi.
Tapi keseimbangan innate dan adaptif.

Vaksinasi adalah salah satu metode imunisasi yang bersifat aktif. Yang merupakan metode untuk mendapatkan imunitas spesifik terhadap penyakit tertentu.

Tujuan utama dari vaksinasi adalah terbentuknya sel memori. Prinsip kerja vaksinasi adalah pemaparan imunogen (baik virus, bakteri, sel tumor, komponen-komponen mereka, bahkan alergen, penanda tubuh dan lain-lain karena sekarang sudah dikembangkan vaksin-vaksin untuk penyakit non infeksi seperti Alergi, autoimun Kanker, DM).

Dalam arti bahasa vaksinasi berasal dari kata vacca yang artinya sapi.

Mengapa demikian karena dalam sejarahnya Edward Jenner melakukan eksperimennya dengan menggunakan cacar sapi, bukan cacar manusia.

Dalam sejarahnya prinsip imunisasi ini sudah dikenal sejak zaman Yunani kuno.

Ada seorg raja yg bernama Mithridates Pontis yang ketakutan atas usaha musuhnya untuk meracun dirinya, dan ia berpikir dengan memasukkan racun sedikit demi sedikit dan berulang ia akan kebal terhadap racun.

Sepertinya ia berhasil dengan metode ini sehingga ia dicatat sebagai bapak imunologi kuno.Yang dikembangkan oleh raja ini disebut mitridiasi.

Selain yunani kuno, peradaban lain juga punya metode imunisasi, contohnya Cina kuno.

Tabib cina kuno melakukan imunisasi secara alamiah dengan memasukkan orang yang sakit campak dalam satu kamar dengan orang yang sehat.

Lalu ada tabib yang membuat nanah dari penyakit mungkin cacar atau campak menjadi ekstrak kering, dan menghirupkannya pada orang yang sehat. Metode ini disebut sebagai variolasi.

Imunisasi ini sangat penting..karena tanpanya bayi tidak akan berkembang sistem imunnya..imunisasi itu ibarat mengajarkan anak membaca.

Hal yang sepenting ini mustahil Islam melalui Rasulullah tidak mengajarkan.

Bagaimana Allah tidak menciptakan metode imunisasi sedangkan Allah menciptakan manusia sejak Adam alaihissalam, dan menciptakan penyakit dari zaman ke zaman.

Wabah itu sudah ada sejak zaman Edward Jenner belum diciptakan.

Mari kita cermati bagaimana Al-Qur’an dan Al Hadist mengajarkannya. Cermati QS Ar-Rum, Ar Rahman,lalu Al Baqarah dan Al Qalam…

Siapa yang menguatkan tubuh manusia menurut Ar Rum, siapa yang menyeimbangkan tubuh manusia menurut Ar Rahman, siapa yang mengajarkan nama-nama benda kepada Adam alaihissalam menurut Al Baqarah, dan Allah melarang kita mengikuti siapa yang suka mencela, dan memaksa dalam Al Qalam.

Mari kita buka Bab tentang tahnik dalam fathul bari, dan tarikh khulafa tentang Abdullah anak Asma binti Abu Bakar.

Bila kita cermati yang benar-benar diperintahkan dari Al Qur’an dan hadist dalam masa kehidupan bayi sampai dengan anak-anak berumur 2 tahun hanya itu yang punya prinsip seperti vaksinasi.

Rasulullah mengajarkan tahnik dalam situasi yang saat itu ummat diancam oleh Yahudi dengan racun dan sihir. Situasi yang mirip dengan raja Mithridates yang takut dengan ancaman Racun.

Tapi yang digunakan Rasulullah adalah kunyahan kurma.

Mengapa Rasulullah tidak mengikuti perilaku raja Yunani itu? Dalam hal penggunaan racun untuk mengebalkan diri spt raja yunani (mitridiasi).

Rasulullah mengajarkan tentang larangan berobat dengan racun dan yang haram. Berobat dengan racun dan haram saja dilarang. Karena ditegaskan tidak ada obat dalam racun.

Artinya dalam kondisi sakit saja dilarang, apalagi dalam kondisi sehat, belum nampak tanda-tanda sakit.

Sakitpun belum tentu pasti mati. Padahal kedaruratan penggunaan babi misalnya dalam Al Qur’an dan oleh sebagian besar ulama..bila tanpanya kita saat itu PASTI MATI.

Bagaimana batasan syariat tentang imunisasi sebenarnya sudah disebutkan Rasulullah dalam beberapa hadist tentang wabah dan obat.

Bukan tidak mungkin ummat Islam pada saat itu tidak mendengar tentangg mitridiasi dan perilaku orang Cina bukan? Wallahu a’lam.

Tapi yang jelas Rasulullah melarang kita menyengaja memaparkan diri pada penyakit.

Buktinya di hadist tentang unta yang sakit dan juga hadist tentang tha’un. Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam melarang kita mencampur unta yang sakit dengan yang sehat dan ini menegaskan bahwa yang dilakukan oleh tabib Cina itu dilarang.

Lalu Rasulullah pernah melarang orang yang berada di luar daerah wabah untuk masuk ke daerah wabah, demikian pula yang berada di dalam area wabah keluar..

Disini ada ajaran tentang aqidah. Bahwa sakit dan penyakit itu adalah hak Allah yang menentukan, dan wabah juga ditegaskan sebagai bentuk azab dan rahmat.

Yang dikerjakan Mithridates, tabib Cina dan Edward Jenner sesuai tidak dengan prinsip-prinsip yang diajarkan Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wasallam ?

Padahal teladan kita adalah Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam.

Rasulullah itu sangat penyayang pada bayi dan anak-anak. Bahkan anak-anak baru boleh dipukul dengan pukulan ringan saja ketika berusia 10 th.

Dan prinsip ini juga diakui dalam ilmu psikoneuroimunologi. Paparan di kulit itu bisa mempengaruhi sistem organ tubuh secara luas..bahkan kata ahli yg bernama Slomonski..the skin run the brain.

Bayangkan memukul itu kan hanya rangsang mekanik(fisik)?

Lalu bagaimana dengan menyuntikkan sesuatu yang mengandung zat asing, logam berat, formalin, msg mungkin..antibiotik pada kulit yang bslum berkembang sempurna..ini rangsang kimiawi dan mutagenik.

Menyuntik sesuatu yang bisa bertahan lama dikulit yang kemampuan metabolisme xenobiotiknya belum sempurna, pada kondisi sistem imun yang imatur dan tersupresi secara alamiah?

Mengerikan…maka jangan heran para ahli vaksin modern menyebutkan vaksin intra mukosa dan trans epidermal lebih baik.

Kembali ke Edward Jenner…Vaksin ala Edward Jenner itu dibuat dari nanah segar tanpa tambahan lain-lain dan hanya digores tidak disuntik.

Jadi pada prinsipnya yang dilakukan Mithridates, tabib Cina dan Edward Jenner itu metode vaksinasi trans kutan dan intra mukosa.

Seperti halnya prinsip kerja ASI dan tahnik.

Barangkali kita bertanya bagaimana bukti-bukti dari ASI dan tahnik sebagai metode Imunisasi atau tepatnya vaksinasi.

Untuk itu kita harus mengerti dulu tentang kandungan vaksin dan cara kerjanya, serta imunologi mukosa.

Panjang dan lebar ceritanya..tapi kita harus yakin bahwa Allah yang Maha Tahu itu lebih ahli tentang vaksinologi dibanding Ahli vaksinologi terpandai di dunia ini

Apakah benar vaksinasi dg injeksi itu dicontohkan Islam?

Oleh : dr.Susilorini, MSi.Med, SpPA

Pada zaman dahulu peradaban yang dikenal maju dalam dunia pengobatan salah satunya adalah Cina. Mereka juga punya teori tentang pencegahan cacar dan eradikasinya.

Dalam penulusuran saya ada 3 cara yang mereka praktekkan.

1. Menyengaja mengumpulkan anak yang sehat dengan yang sakit dalam satu kamar, dengan tujuan anak yang sehat akan terpapar secara alamiah. Dan ini juga dipraktekkan di eropa saat itu.

2. Menggunakan nanah penderita cacar yang dikeringkan dan dihirupkan ke hidung

3. Mengambil nanah segar dari penderita cacar dengan jarum akupungtur dan menusukkannya di salah satu titik akupungtur. Bukan di sembarang titik.

Dlm Islam Rasulullah melarang kita mencampur unta yang sakit dengan yang sehat, dan menyengaja mendekati area wabah.

Dan Ar Razi bapak imunologi Modern yang menjelaskan patologi cacar pun menganjurkan yang seperti Rasulullah contohkan. Dalam penelusuran saya, selain Cina yang diketahui mempraktekkan penggunaan jarum yg dipaparkan nanah ini juga dipraktekkan di Iran.

Yang notabene dipengaruhi oleh kedokteran Persia, bukan Islam. Akan tetapi yang dipraktekkan di Iran ini paparan jarum tidak dilakukan pada titik akupungtur.

Pada masa kekhalifahan Turki ustmaniyah, tabib-tabib pada masa itu terbagi menjadi beberapa kelompok menurut dari mana mereka mengambil ilmunya.

Ada yang terpengaruh pengobatan persia, yunani, mesir, cina maupun hindustan. Yang hanya mengambil dari apa yang disunnahkan nabi hanya segelintir.

Dan biasanya mereka tidak dekat dengan para penguasa. Jadi penisbatan sebuah metode kepada Islam itu hrs kita telusuri dengan seksama…dan sanadnya harus bersambung kepada Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam. Yang menarik adalah tentabg modifikasi yabg dilakukan Edward Jenner.

Edward Jenner tidak menggunakan nanah dari penderita cacar manusia..tapi dari sapi. Dan dia tidak menyuntik tapi dia hanya menggores.

Apa yang dilakukan Edward Jenner ini yang disebut vaksinasi. Karena berasal dari kata vacca yang artinya sapi.

Maka saya menjadi heran…bagaimana metode injeksi dinisbatkan pd Edward Jenner dan Islam.

Padahal dari sudut pandang anatomi, histologi dan biomolrkuler jelas ini sangat berbeda.

Rangsang yang diberikan oleh Edward Jenner hanya bersifat traskutan, karena hanya menggores. Ia hanya merangsang keratinosit. Berbeda dengan rangsang yang diberikan dengan jarum akupungtur yang ditusukkan lebih dalam di titik-titik akupungtur dan berbeda dengan yang dipraktekkan di Iran.

Vaksin yang digunakan pada masa lalu pun berbeda seperti Edward Jenner ia menggunakan nanah dari cacar sapi bukan cacar manusia.

Dulu pun tidak ditambah macam.
Sepertinya kita butuh dokter-dokter yang mau mendalami sains Islam dari sudut pandang historinya agar sejarah bisa diluruskan.

[8/25, 13:22] susilorinidr: Sebenarnya ada beberapa metode imunisasi yang dicontohkan oleh Rasulullah dimana cara kerjanya menyerupai Edward Jenner, yaitu Tahnik dan Bekam.

Tahnik menggores permukaan sel yang meliputi langit-langit mulut dan gusi dengan campuran air liur yg saat ini diketahui mengandung 700 spesies bakteri dengan kurma.

[8/25, 13:23] susilorinidr: Lapisan langit-langit mulut dan gusi itu menyerupai kulit yaitu terdiri dari keratinosit. Yang saat ini diketahui punya kemampuan seperti sel imun

[8/25, 13:26] susilorini. Pelapis di langit-langit mulut dan gusi berbeda dengan kulit tubuh yang mengandung lapisan keratin.

Lapisan keratin ini sebenarnya juga kaya mikroba dan antigen.

Maka ketika seseorang berbekam sesungguhnya pada saat itu ia sedang menyengaja memaparkan mikroba dipermukaan kulit dan antigen permukaan kulit pada sel keratinosit dan sel penyaji antigen yang sel langerhans dalam kulit.

Sumber : akun fb dr.Susilorini, MSi.Med, SpPA

Print Friendly, PDF & Email

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*