Over Dosis Serbuk Biji Pala Bisa Membuat Mabuk ? Miristisin Diduga Sebagai Penyebabnya Dan Bukan Hanya Pada Pala saja…

Menelan serbuk biji pala 2-3 sendok ( > lebih dari 5 gram) memabukkan dan berhalusinasi…….

Pala, beberapa minggu lalu ekstrak tanaman ini sempat mencuri perhatian menteri BUMN nyentrik Pak Dahlan Iskan yang memang pinter menulis plus terkenal punya cukup banyak “jamaah” pembacanya bertahun-tahun. Beliau menuliskan beberapa paragraph terkait prospek biji pala untuk mengobati penyakit gula atau diabetes. Penyakit yang akan diderita sekitar 7% orang dari populasi dunia.

Perhatian beliau tercuri oleh sosok Dr. Keri penemu dari Unpad akan hasil penelitian/laporan biji pala (Myristica fragrans Houtt) yang berprospek mengobati diabetes [1]. (Walau tanaman dan bahan untuk mencegah diabetes sangat banyak di pekarangan Anda). Dan rencana pabrik farmasi di bawah BUMN akan menindaklanjuti memperoduksi obat diabetes dengan bahan baku pala.

Walau konon buah ini pula, ada beberapa kalangan/orang mengharamkan karena dituduh memabukkan (khamar). Nah, kalau betul-betul diproduksi dan diedarkan secara massal berprospek terjadi peredaran barang haram di masyarakat atau setidaknya mereka akan berobat dengan barang haram ??

Iya kah ?….

Pala merupakan bumbu dapur asli Pulau Banda, lebih kuat lagi aseli dari pada Indonesia (jika paranoid, takut diklaim orang).

Biji pala sudah digunakan untuk pengobatan sejak abad ke 7 Masehi.

Ia menjadi ajang konflik dan perebutan oleh bangsa-bangsa Barat dan pedagang Arab setelah jaman pertengahan dan kolonialisme.

Hingga kini pala diimpor oleh Negara Barat dan re-export dengan harga sangat mahal.

Oleh orang Indonesia terutama orang Sunda, bagian yang dimanfaatkan dari pala adalah:

1. Daging buah (untuk selai, manisan dan ampyang),

2. Biji (bumbu masak),

3. Aril/fuli/mace atau selubung oranye-merah yang menyelimuti biji (minyak atsiri dan kemungkinan psikotik).

Untuk item no.1 cukup menarik karena bisa mengobati susah tidur dan gelisah bisa cepat tidur. Walau secara bisnis agroekonomi tentu tidak maksimal, fenomena negeri dunia ke-3.

Jumlah molekul kimia dalam biji pala ada sekitar 30 yang teridentifikasi.

Miristisin (myristicin) adalah komponen utama kimiawi yang dituduh memabukkan atau menghilangkan kesadaran dalam biji pala.

Dalam istilah farmakologi miristisin berefek penghambat protein monoamine oksidase (penyebab stress). Walau sebenarnya bahan aslinya bisa lebih kuat.

Hemat saya zat-zat perangsang saraf otak pada skala kadar tertentu memang berefek menormalkan sistem yang out of track dan sepertinya tidak perlu dijuluki dengan obat setan atau sejenisnya kecuali memang disalahgunakan atau abused.

Di industri kosmetik, biji pala didestilasi untuk diambil minyak atsirinya untuk digunakan sebagai bahan baku parfum.

Minyak atsiri buah pala tersusun dari senyawa terpenoid golongan rendah monoterpen (jumlah karbon 10).

Sangat mungkin parfum-parfum dengan brand keren termasuk brand lokalan menggunakan minyak atsiri termasuk buah pala juga.

Selain minyak atsiri, terdapat juga fenil propanoid (senyawa benzene dan propan), molekul lignan (gabungan beberapa molekul fenil propanoid) yang berefek anti sel kanker, dan molekul alkana rantai panjang.

Penelitian saintifik buah pala cukup menarik banyak ilmuwan, setidaknya ada sekitar 150 laporan ilmiah sejak tahun 1960 hingga Januari 2013.

Penelitian itu mulai dari komponen kimia, farmakologi (khasiat), toksikologi (kemungkinan keracunan, suatu benda jika dilaporkan khasiat harus ada laporan toksikologi) dan farmakokinetika (nasib komponen kimia pala setelah dikonsumsi) [2].

Khasiat dan efek farmakologi ekstrak biji pala dan molekul-molekul yang dikandungnya dilaporkan sebagai anti bakteri, pencerah kulit, anti kanker, antimutagen, anti Alzheimer’s, anti stress, antioksidan, antidiabetes, menaikkan memori dan banyak lagi [2].

Walau penggunaan secara klinik dan khusus secara resmi ekstrak biji pala oleh dokter paramedis belum ada. Kebanyakan digunakan oleh pengobat tradisional.

Prospek memabukkan efek toksik biji pala: dalam kadar tinggi > 5 g (atau 2-3 sendok makan penuh)menyebabkan psikotik (kehilangan realita dan merubah perilaku).

Memabukkan adalah salah satu katagori (tanda) toksisitas.

Toksis berarti merubah fungsi normal sel, jaringan, organ, individu dengan output kerusakan jaringan atau perubahan perilaku. Jika toksisitas mengenai kumpulan masyarakat maka disebut masyarakat mabuk.

Senyawa miristisin (myrsticin) adalah penyebab hilangnya kesadaran (mabuk) dalam biji pala jika pala sengaja dikonsumsi dosis sangat tinggi (> 5 gram).

Prospek miristisin sebagai obat psikotik (merubah persepsi) ini pernah mencuri perhatian khusus di majalah NATURE [3], waktu itu penampilannya masih bersahaja.

Masalahnya senyawa atau molekul miristisin ini terdapat pada tanaman-tanaman famili WORTEL (Umbellifera) lain [4,5].

Karena strukturnya mirip dengan amfetamine (induk ectasy dan cathinone) diduga di dalam tubuh miristisin mengadopsi senyawa nitrogen menjadi turunan amfetamin, namun tidak terbukti.

Dampak memabukkan dan penyalahgunaan biji pala didokumentasikan secara resmi ada[6,7]:

1. Bocah perempuan 13 tahun keracunan menelan serbuk pala 14 gram yang dimasukkan kapsul dan sambil menghisap ganja.

2. Mahasiswa umur 23 tahun menelan sekitar satu sendok makan serbuk biji pala. Timbullah gejala toksisitas berupa halusinasi (persepsi tanpa ada stimulasi = ndleming).

3. Menelan > 5 gram akan timbul: pusing, halusinasi, merasa bukan dirinya.

4. Efek toksiskat akut mematikan pada manusia diperkirakan sekitar 3-4 sendok penuh atau > 80 gram. Namun belum mengancam jiwa. Paling banter hilang kesadaran.

Walau, penyalahgunaan dan abuse biji pala ini belum menjadi trend dan bukan masalah besar oleh pemerintah dan kepolisian di dunia karena selain telan dalam jumlah banyak rasa tidak disukai serta repot dipakai dan untuk betul-betul mabuk dosisnya jauuh lebih tinggi dari takaran bumbu masak.

Namun laporan tidak resmi mencatat bisa digunakan untuk zat mabuk (intoxicant) oleh narapidana, mahasiswa, pelaut dll.

Akhirnya bahan untuk memabukkan diri CUKUP BANYAK dan tersedia juga disekitar kita….!

Walau, jika dikaji lebih lanjut dari beberapa obat-obat yang diresepkan oleh DOKTER juga memiliki dampak yang demikian atau lebih DAHSYAT.

Obat adalah RACUN……., itulah salah satu doktrin pendidikan apoteker (dan dokter), yakni suatu benda bisa menjadi obat dalam jumlah tepat namun bisa menjadi racun (termasuk memabukkan bahkan mematikan) pada jumlah yang berlebihan.

Sayangnya pala adalah salah satu bumbu, dan saya tidak tahu doktrin ahli pangan…….

Apakah yang penting bisa dimakan berdasarkan stratifikasinya….?.

Bagaimana jika berbagai bumbu lain dites yang mengandung minyak atsiri atau komponen dalam dosis tinggi berprospek memabukkan juga ?

Dalam hal mabuk dan memabukkan terkait fiqih dan syariat ada kata khusus yakni khamr yakni suatu sifat menutup akal dan yang menutup akal adalah khamr walau berkadar kecil [8].

Dan bukan merujuk pada suatu nama zat atau senyawa namun sifat atau karakter (!).

BUAH PALA
Secara historis, sangat jelas bahwa ribuan tahun entitas yang diperdagangkan di bandar-bandar Eropa, Asia dan Arab dari buah pala adalah bijinya bukan buahnya.

Sehingga jelas bahwa yang dimaksud para ulama yang mengharamkan pala itu adalah BIJInya bukan buahnya atau tidak mungkin satu pohon pala utuh dan semua bagiannya.

Karena pada waktu itu belum dikenal pengawet, pendingin, plastik perkamen agar daging buah pala juga awet untuk ditransportasikan berbulan-bulan antar benua (justeru muncul laporan analisis aflatoksin pada biji pala).

Selain itu dari penelusuran farmakologi, fitokimia dan tradisi abused atau penyalahgunaan pala selalu merujuk pada biji/nut/seed (150 paper jurnal ilmiah), bukan daging buahnya.

Secara waqi` dan urf fakta tidak ada laporan adanya orang Sunda (sebagai konsumen lokal tertinggi) mabuk, ndleming, ngomyang, meracau akibat mengkonsumsi manisan, ampyang atau bahan-bahan daging buah pala (allahu a’lam, CMIIW!).

Meskipun belum pernah dilakukan secara komprehensif, biasanya komponen daging buah jauh lebih banyak mengandung gula/karbohidrat dan asam lemak dan derivat gula lain sedangkan makromolekul secara kuantitatif jauh lebih kecil tentu secara farmakologi berpotensi tidak sama.

Miristisin walau diduga terkandung lebih tinggi dalam daging buah dan dituduh penyebab mabuk tetapi sekali lagi menurut laporan bahwa ekstrak biji utuh ternyata jauuh berefek memabukkan dari pada senyawa miristisin yang dimurnikan.

Jika diperlukan, secara mudahnya perlu konfirmasi kembali profil kimiawi perbandingan antara biji, fuli, dan daging buah pala untuk memprediksi sifat farmakologi yang sama.

PREDIKSI MEMABUKKAN BUAH PALA:
Karena manisan atau olahan daging segar itu dibuat dari buah segar maka saya tertarik mencermati buah segar bukan yang dikeringkan.

Dilaporkan kandungan minyak atsiri dalam buah segar adalah 0.6% per 1 kg maka kandungan minyak atsirinya adalah = 6 gram/Kg buah segar.

Laporan lain miristisin terbesar dilaporkan adalah 1% dalam buah segar maka dalam 6 gram itu mengandung 0.06 g atau 60 mg miristisin.

Sedangkan untuk membuat euforia dan kecemasan minimal dibutuhkan 400 mg maka didapatkan angka konversi 6.7 (dari 400mg/60mg).

Agar mendapatkan angka 400. Maka seseorang harus makan daging buah pala setidaknya 6.6 kg agar timbul gejala euforia dan kecemasan atau gejala mabuk !!!.

Sepertinya sulit tercapai dan seseorang sudah akan merasa kekenyangan dan muak atau mblenger jauh sebelum mencapai taraf mabuk.

Nah, kalau makan ampayang buah yang dikasih butiran gula (dengan treatment penjemuran) saya rasa masih dikisaran 2-3 kg, itupun rasanya sudah mblenger juga. Allahu a’lam .

Jika pengharaman dilandaskan keberadaan miristisin maka ternyata, sekali lagi, senyawa/molekul ini terkandung dan terdistribusi pada familia umbellifera/wortel-wortelan.
(Saya abaikan kasus buah kering atau destilasi dari bahan kering karena kurang relevan dalam bahan olahan manisan buah pala).

Terkait Biji Pala
Finally, apakah terkait dengan biji pala sendiri halal atau haram ? haramkah walau sejimpit, walau seujung sendok, walau 100 mg jika digunakan sebagai bumbu atau obat ?

Selanjutnya saya persilahkan Anda tanya pada MUI dan para ustadz yang berkompeten dalam ushul fiqih.

Allahu a’laam bishawab !
Azis Saifudin
(*) apoteker

Sumber : https://stereofarmasi.wordpress.com/2013/02/09/obat-dan-makanan-kadang-racun-biji-pala/

Print Friendly, PDF & Email

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*