Apa Kata Umar Bin Khattab Tentang Berbicara Dengan Selain Bahasa Arab ?

*Salafush Shalih dan Bahasa Arab*

Banyak yang tidak mengetahui sikap Salafush shalih dahulu terhadap bahasa Arab, ternyata mereka itu:

🔖 Sangat tegas dalam menjaga bahasa Arab,

🔖 Tidak menyukai berbicara menggunakan bahasa selain bahasa Arab,

🔖 Mereka tidak akan menggunakan bahasa non-Arab kecuali apabila sangat diperlukan dan untuk kemaslahatan umum,

🔖 Tidaklah mereka menaklukan dan membebaskan suatu negeri melainkan mereka mengajarkan bahasa Arab di negeri-negeri tersebut.

📌 Oleh karena itu, mempelajari bahasa Arab dan menggunakannya merupakan salah satu bentuk terpenting usaha kita dalam meniti manhaj Salafush Shalih.

Mari kita simak penjelasan yang ringkas tentang masalah tersebut dari *Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah* –rahimahullah-, ia berkata:

اللسان العربي شعار الإسلام وأهله ، واللغات من أعظم شعائر الأمم التي بها يتميزون

“Lisan yang berbahasa Arab merupakan syi’ar Islam dan syi’ar Kaum Muslimin, dan suatu bahasa itu merupakan syi’ar terbesar bagi suatu bangsa (umat) yang mana dengan syi’ar bahasa itulah suatu bangsa memiliki nilai identitas tersendiri.”

✅ Mengenai ketegasan Salafush Shalih dalam menjaga bahasa Arab, Syaikhul Islam membawakan beberapa perkataan dan pendapat para ulama Salaf mengenai masalah hukum berbicara menggunakan bahasa non-Arab,

Diantaranya adalah: Riwayat dari Umar bin Khattab –radhiallahu ‘anhu- melarang Rathanah orang-orang non-Arab (Ajam)!

Lalu beliau berkata: إنها خِبَّ

“Rathanah itu merupakan bentuk tipu daya/ khianat!”

Rathanah adalah berbicara dengan menggunakan bahasa selain bahasa Arab.

Imam Syafi’i berkata: “Kami tidak menyukai berbicara dengan selain bahasa Arab sehingga menamai sesuatu dengan selain bahasa Arab (‘Ajam).

Hal itu karena bahasa Arab merupakan lisan yang Allah ‘Azza wa Jalla pilih sehingga Dia pun menurunkan kitab suci Al-Quran dengan berbahasa Arab; dan Dia menjadikannya sebagai bahasa bagi sang penutup para Nabi, yakni: Nabi Muhammad –shallallahu ‘alaihi wa sallam-.

 Oleh karena itu, kami katakan bahwa bagi siapapun orang yang mampu mempelajari bahasa Arab maka sudah seharusnya-lah ia mempelajarinya, karena bahasa Arab adalah bahasa lisan yang lebih layak untuk digandrungi, dan dengan tanpa bermaksud mengharamkan seseorang untuk berbicara dengan bahasa non-Arab (Ajam).”

Maka dari itu Imam Syafi’i memakruhkan seseorang yang mengetahui bahasa Arab namun menamai sesuatu dengan nama selain bahasa Arab.

Pendapat ini yang juga merupakan pendapat para Imam besar lainnya, pun diriwayatkan dari para Sahabat Nabi dan para Tabi’in.”

✅ Lebih lanjut, Syaikhul Islam menjelaskan tentang makruhnya berbicara menggunakan bahasa selain bahasa Arab:

“Secara umum, ucapan secara kata per kata dengan bahasa non-Arab merupakan perkara yang hampir sama hukumnya (dengan berbicara menggunankan bahasa non-Arab), dan kebanyakan mereka yang melakukannya adalah karena yang diajak bicara adalah orang Ajam (non-Arab), atau karena yang diajak bicara tersebut sudah terbiasa dengan bahasa non-Arab lalu mereka hendak memudahkan pemahaman kepada yang diajak bicara tersebut (agar mudah memahami pembicaraan).

Sebagaimana Nabi pun pernah berkata kepada Ummu Khalid binti Khalid bin Sa’id bin Ash, Ummu Khalid ini saat itu anak perempuan yang masih kecil yang lahir di negeri Habasyah ketika bapaknya hijrah ke Habasyah.

Nabi pernah memakaikannya pakaian Khamishah (semacam jubah), lalu beliau bersabda:

يَا أُمَّ خَالِدٍ هَذَا سَنَاهْ
‘Wahai Ummu Khalid, (pakaian) ini sanaa.’

Sanaa adalah bahasa Habasyah yang artinya: bagus. Hadits tersebut diriwayatkan dalam shahih Bukhari, no. 5845.”

✅ Salafush Shalih tidak akan menggunakan bahasa non-Arab kecuali apabila sangat diperlukan dan untuk kemaslahatan umum, sebagaimana penjelasan Syaikhul Islam berikut:

“Adapun membiasakan mengajak berbicara dengan selain bahasa Arab, yang mana bahasa Arab itu merupakan Syi’ar Islam dan sekaligus bahasa Al-Quran, sehingga bahasa non-Arab tersebut menjadi tradisi di suatu kota dan penduduknya, pada penduduk suatu negeri, menjadi kebiasaan seseorang dengan temannya dan orang-orang di pasar atau di kalangan para umara (pejabat), atau di kalangan ahli pembukuan (diiwaan), atau di kalangan ahli fiqih, maka tidak diragukan lagi bahwa semua ini adalah makruh (dibenci), karena hal tersebut merupakan bentuk tasyabbuh (baca: penyerupaan) terhadap orang-orang ‘Ajam, dan ini pun adalah makruh.”

✅ Selanjutnya, Syaikhul Islam memaparkan bagaimana dahulu para Salafush Shalih benar-benar berusaha menebarkan bahasa Arab di setiap negeri yang mereka dakwahi, ia menjelaskan:

“Oleh karena itulah, kaum Muslimin terdahulu ketika menempati negeri Syam dan Mesir yang mana bahasa kedua negeri tersebut adalah bahasa Romawi; negeri Iraq dan Khurasan yang mana bahasa kedua negeri tersebut adalah bahasa Persia, dan negeri Maghrib (Maroko) yang mana bahasa penduduknya adalah bahasa Barbar, maka kaum Muslimin terdahulu tersebut membiasakan kepada penduduk negeri-negeri tersebut dengan bahasa Arab sehingga bahasa Arab pun mendominasi penduduk negeri-negeri tersebut baik orang-orang Islamnya maupun orang-orang Kafirnya.

Itulah pula yang dahulu terjadi pada negeri Khurasan.

Kemudian mereka menyepelekan perkara bahasa ini, sehingga mereka terbiasa berbicara dengan bahasa Persia sampai bahasa tersebut mendominasi mereka, lalu bahasa Arab pun ditinggalkan oleh mayoritas mereka, maka tidak diragukan lagi bahwa keadaan tersebut adalah makruh (dibenci).

Metode yang baik adalah membiasakan berbicara dengan bahasa Arab sehingga anak-anak kecil di halaqah-halaqah dan maktab (tempat belajar anak-anak) diajarkan bahasa Arab.

Sehingga tampaklah syi’ar Islam dan kaum Muslimin, dan hal tersebut akan memudahkan kaum Muslimin dalam memahami makna-makna Al-Quran dan Sunnah serta perkataan-perkataan ulama Salaf.

Lain halnya apabila seseorang yang telah terbiasa dengan suatu bahasa asing kemudian ia hendak berpindah ke bahasa yang lain maka ini akan memberatkannya.”

✅ Sungguh sangat mengagumkan, ternyata sikap-sikap Salafush Shalih terhadap bahasa Arab tersebut memiliki hikmah yang sangat penting sebagaimana yang dijelaskan oleh Syaikhul Islam –rahimahullah- berikut ini:

واعلم أن اعتياد اللغة يؤثر في العقل والخلق والدين تأثيرا قويا بينا ، ويؤثر أيضا في مشابهة صدر هذه الأمة من الصحابة والتابعين، ومشابهتهم تزيد العقل والدين والخلق، وأيضا فإن نفس اللغة العربية من الدين ، ومعرفتها فرض واجب ، فإنَّ فهم الكتاب والسنة فرض ، ولا يفهم إلا بفهم اللغة العربية ، وما لا يتم الواجب إلا به فهو واجب ، ثم منها ما هو واجب على الأعيان ، ومنها ما هو واجب على الكفاية .

“Ketahuilah! Bahwa pembiasaan berbahasa Arab akan berpengaruh pada akal, akhlak, dan agama, dengan pengaruh yang sangat kuat dan nyata.

Dan berpengaruh juga pada penyerupaan terhadap generasi awal umat ini; dari kalangan para Sahabat dan para Taabi’iin.

Penyerupaan terhadap mereka inilah yang akan menambah (kualitas) akal, agama, dan akhlak.

Demikian pula karena memang bahasa Arab itu sendiri merupakan bagian dari agama Islam maka mengetahui bahasa Arab adalah fardhu serta wajib, karena memahami Al-Quran dan Sunnah adalah fardhu sedangkan keduanya tidak bisa difahami melainkan dengan memahami bahasa Arab terlebih dahulu.

Dan (kaidah fiqih menyebutkan bahwa) apabila kewajiban tidak bisa ditunaikan kecuali dengan terpenuhinya sesuatu, maka sesuatu tersebut pun menjadi wajib dipenuhi.

Akan tetapi, di antara pelajaran bahasa Arab tersebut ada yang hukum wajib ‘ain dan ada pula yang wajib kifayah.”

✔ Di akhir pembahasan masalah tersebut, Syaikhul Islam membawakan perkataan Umar bin Khattab -radhiallaahu ‘anhu- :

تعلموا العربية فإنها من دينكم ، وتعلموا الفرائض فإنها من دينكم

“Pelajarilah bahasa Arab karena ia merupakan bagian dari agama kalian, dan pelajarilah ilmu Fara-idh karena ia pun bagian dari agama kalian!”

Selesai nukilan dengan ringkas dari kitab: Iqtidhaa-ush Shiraat Al-Mustaqiim, 1/204-208.

Semoga nukilan-nukilan di atas memotivasi dan menyadarkan kita akan pentingnya bahasa arab bagi kita selaku umat Islam, dan khususnya bagi yang hendak berkomitmen mentauladani jejak para ulama Salaf.

Baarakallaah fiikum.

===========

📝 Dirangkum dan Diterjemahkan oleh:

Mochammad Hilman Alfiqhy.
Bandung, 1 Rabi’ul Akhir 1440 H.

Print Friendly, PDF & Email

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*