Matahari Tidak Ditanyakan Cahayanya..

Dengan sebab adanya sebagian pelajar ilmiyyah yang kemarin berani bertanya tentang hal ini qadarullah dari sana keluar sejumlah kaidah kaidah ilmu dalam bab ini.

______________________

Matahari tidak ditanyakan cahayanya.

Syaikhunaa hafidzahullah ditanya,

Penanya : Bagaimana sikap seorang thaalib jika mendengar gurunya dicela? Apakah diam saja atau ia bela? (1)

Syaikhuna : Jika dia benar-benar tau bahwa gurunya tidak seperti yang dikatakan, maka ia jawab (bela).

Penanya : Kalau begitu ustadz, terkait guru kami asy-syaikh Yazid bin Abdul Qodir Jawas. Sebagian manusia mengangkat kembali permasalahan mengenai apakah benar beliau duduk dimajelis Syaikh Ibnu Utsaimin?

Syaikhuna : Ustadz Yazid masyhur, tidak perlu ditanyakan (tentang keadaan dirinya) Justru kita bertanya kepada beliau tentang manusia, fulan bagaimana (salafi atau bukan)?

Karena salah satu cara menilai ketsiqahan seorang rowi adalah dengan melihat kemasyhurannya sebagai ahli ilmu. Seperti para aimmah tidak perlu ditanyakan kembali. (2)

Maka orang yang masyhur tidak perlu ditanyakan. Seperti Syaikh Ibn Baaz, Syaikh Albani, apakah kita akan tanyakan? (3)

Ustadz Yazid belajar di majelis Syaikh Ibnu Utsaimin itu masyhur.

Andaikata Ustadz Yazid tidak duduk di majelis Syaikh Ibnu Utsaimin itu tidak memudharatkan beliau karena ia sudah masyhur sebagai ahli ilmu. Dan saya tahu percis beliau belajar dengan syaikh Ibnu Utsaimin.

orang-orang yg seperti ini fii qulubihim mardh. Karena bagaimana mereka mau menghilangkan nikmat Allah kepada seseorang?

-selesai catatan jawaban yg ada di naskah kami-
———

(1) yg dimaksud untuk membantahnya adalah jika yang mencela adalah tokoh yang berpengaruh adapun orang-orang majhluun maka tinggalkan saja.

(2) Jika memungkinkan, kami mengajak para pelajar (yang kami berharap kepada allah agar bisa ikut berkumpul bersama mereka) untuk memurajaah kaidah besar ini agar bisa diamalkan dalam keseharian dalam menyikapi manusia.

Silakan ditelaah kembali kitab al-kifaayah yang ditulis oleh imam besar yang maruf dengan nama Alkhatiib Albaghdadi di mana beliau menulis judul baab

باب في المحدث المشهور بالعدالة والثقة والأمانة لا يحتاج إلى تزكية المعدل.

Yang kurang lebih, bab penjelasan terkait masalah muhadits yang telah masyhur dengan ketaqwaannya dan ketsiqohannya serta amanahnya dalam ilmu. Maka untuk yang semisal ini tidak perlu tazkiyyah dari seorang muaddil.

Al-imaam melanjutkan, Contohnya seperti Malik bin Anas, Sufyan Ats-tsaury, Sufyan bin Uyaynah, Syu’bah bin Hajjaaj, Al-auzaai, Al-laits bin Saad, Hammad bin Zaid, Ibnul Mubaarok, Yahya Al-qathaan, Abdurrahman bin Mahdi, Waki’ bin Jarrah, Yazid bin Harun, Affan bin Muslim, Ahmad bin Hambal, Ali Al-madini, Yahya bin Ma’in, dan banyak lagi yang tidak mugkin disebutkan disini.

Yang dikenal keistiqomahannya, masyhur dengan kejujurannya, bashirahnya serta ilmunya maka mereka tidak ditanya tentang ketsiqahannya, karena yang ditanya itu mereka-mereka yang majhuul atau samar keadaannya.

(Setelah sanad) yg sampai kepada Hanbal bin Ishaq bin Hanbal (sepupu Imam Ahmad) bahwa ia berkata bahwa ia mendengar Abu Sbdillah Imam Ahmad ditanya tentang Ishaq bin Rahuwaih maka beliau menjawab, “Semisal Ishaq ditanyakan?? Ishaq itu di sisi kami seorang imam dari para imam kaum muslimin”

(3) Syaikhuna melanjutkan, “karena memang seseorang itu tidak menyebut-nyebut saya murid fulan saya duduk di majelis fulan apalagi jika hanya dalam waktu yg sebentar. Seperti saya duduk di majelis syaikh ibn baaz tapi saya tidak menyebut-nyebut itu karena memang bukan tujuan ilmu.” -selesai perkataan syaikhuna dengan makna-

Perhatikan ketawadhuan beliau ini dengan keadaan sebagian manusia, yang gemar menjual nama duduk disyaikh fullan wa allan, murid ini dan itu.

Ada juga yang berbangga saya ada sanad ini dan itu. Bahkan saya pernah melihat seorang manusia menderetkan nama masyaikh di websitenya yang begitu banyak, yang ia katakan mereka itu gurunya.

Yang justru membuat kami bertanya-tanya, “ini beneran ni segini banyak syaikhnya?”

Dan memang kami paham, bahwa orang rendahan butuh bergelantung dibawah nama orang besar agar bisa naik. Allahul mustaan wa naudzubillahi min dzalik.

Terakhir, ikhwan sebagaimana Ustadz Yazid bin Abdul Qadir Jawas masih dipertanyakan seperti ini. Maka ustadz Abdul Hakim Abdat sendiri juga sangat sering dipertanyakan “siapa gurunya?”

Maka setelah ini antum jawab mereka dengan lantang agar antum bisa membungkam kesombongan mareka,

“Matahari tidak ditanyakan cahayanya!”

(Dari catatan Bambang Deny Suatpandy)

Print Friendly, PDF & Email

4 Comments

  1. Assalamualaykum Warahmatullahi Wabarakatuh.
    Afwan min, layanan WA dgn nomer 0812 1207 0001 apakah sedang offline ? Karena ana ingin bertanya sesuatu. Sudah 2x WA ana tidak direspon soalnya…

    Wa’alaikumussalamwarahmatullahi wabarakatuh,

    Iya tidak selalu online karena kadang batrenya ngedrop, jadi kalau kirim wa nanti diresponnya kala aktif

  2. Assalamualaikum. Afwan min, ini syaikuna siapa nggih?

    Wa’alaikumussalamwarahmatullah,
    Ustadz Abdul Hakim Bin Amir Abdat Hafidzahullahu ta’ala

  3. Baarakallahu fiikum,
    Faedah yg bermanfaat dari sebuah pertanyaan.
    Persaksian ustadz Abdul Hakim kepada Ustadz Yazid adalah ketika beliau (ustadz Yazid) menitipkan kitab2 beliau ke ustadz Abdul Hakim saat hendak pergi untuk mulazamah ke Syaikh Ibnu Utsaimin. (Hanya sebatas ini yg ana dengar, Wallahu a’lam)

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*