Hilal Ramadhan Dan Syawwal Mengikuti Ru’yah Masing-Masing Negeri, Berbeda Dengan Ru’yah Arafah

Melihat Hilal adalah perintah rasulullah shalallahu alaihi wa sallam dalam berpuasa ramadlan dan berbuka serta ucapan ketika ied.

Berbeda dengan puasa arafah dibulan dzul hijjah nanti. Dimana ia mengikuti ru’yah makkah (kerajaan saudi). Bukan mengikuti ru’yah masing-masing negeri.

Karena telah datang ketegasan dalam hadits nabi shalallahu alaihi wa sallam dari Abu Qatadah Al-anshory. Bahwa puasa arafah terkait dengan waktu dan juga tempat.

Dalam penetapan puasa dan berbuka (akhir ramadlan), perintah dari rasulullah adalah dengan melihat hilal. Dengan dalil dari shahabat ibnu umar radhiyallahu anhuma.

إذا رأيتموه فصوموا، وإذا رأيتموه فأفطروا، فإن غم عليكم فاقدروا له

“Jika kalian melihatnya (hilal) maka berpuasalah kalian. Dan jika kalian melihatnya lagi, maka berbukalah kalian dan jika mendung maka sempurnakanlah.”

Dan dari jalan yang lain, masih dari ibnu umar

لا تصوموا حتى تروا الهلال، ولا تفطروا حتى تروه، فإن غم عليكم فاقدروا له

“Janganlah kalian mulai berpuasa hingga kalian melihatnya (hilal) dan janganlah kalian berbuka hingga kalian melihatnya, dan jika mendung, maka sempurnakanlah.” [Keduanya diriwayatkan imam bukhary]

Dan jika negeri berdekatan apakah mengharuskan sama waktunya?

Pertanyaan ini telah dijawab didalam shahih muslim, hadits kuraib yang masyhur. Bahwa mu’awiyyah di syam dan ibnu abbas di madinah.

Dan keduanya memiliki hilal yang berbeda, bahkan ketika ibnu abbas radhiyallahu ta’ala anhum ditanya, apakah tidak cukup ru’yah muawiyyah , beliau tegas menjawab.

.لا هكذا أمرنا رسول الله صلى الله عليه وسلم

Tidak, beginilah (melihat hilal) rasulullah shalallahu alaihi wa sallam telah memerintahkan kita.(1)

Maka tidak perlu bingung kalau antara negeri-negeri kaum muslimin di asia tenggara akan berbeda dengan dijazirah arab. Karena setiap negeri ada ru’yahnya masing-masing.

Dan alhamdulillah, para umara kaum muslimin hampir diseluruh belahan dunia mengamalkan sunnah dalam hadits-hadits ini dengan memulai ramadlan dan mengakhirinya dengan ru’yatul hilaal bukan dengan hisab.

Dan ucapan tahniah yang biasa diucapkan oleh para salaf seperti abu umaamah al baahiliy radhiyallahu anhu adalah “Taqabbalallahu minna wa minkum” adapun ucapan minal aidzin wal faizin dst. Hanya amaliyyah yg bisa dikatakan hanya beredar dinegeri kita ini. Maka sudah tentu dipahami amaliyah siapa yang harus kita contoh.

Wallahu a’lam.


(1) Pembahasan luas tentang hadits kuraib tentang masalah hilal ini telah dipaparkan secara ilmiyyah -insyaallah- didalam al-masail 2 dibawah nomer 39.

(2) Pembahasan tentang puasa arafah telah juga dibahas dalam kitab al-masaail 5 dibawah nomer 110.

Juga telah ada rekaman pembahasan beserta syubuhaat-nya di Chanel youtube Maktabah Mu’awiyyah Bin Abi Sufyan.

Sumber: Status akun fb Bambang Deny Suatpandy

Pembahasan tentang puasa arafah dan syubuhaatnya bisa disimak di video ini:

Print Friendly, PDF & Email

1 Comment

  1. Bismillah,jadi afdholnya hari apa kita puasa arafah?

    Ikut ru’yahnya saudi, karena arafah terkait dengan ibadah haji

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*