Adab-Adab Masjid (1/4)

Bagi kaum muslimin, masjid merupakan tempat mulia yang dijaga dari berbagai hal yang mencemarinya, baik maknawi ataupun lahiri. Masjid, juga memiliki nilai-nilai khusus bagi orang-orang beriman, tempat pengagungan nama-nama Allah, syari’at Allah ditegakkan, tempat berhubungan langsung dengan Sang Pencipta, tempat seorang muslim berniaga dengan Penciptanya, tempat yang harus dijaga dari kotoran dan najis.
Allah berfirman,

فِي بُيُوتٍ أَذِنَ اللَّهُ أَنْ تُرْفَعَ وَيُذْكَرَ فِيهَا اسْمُهُ يُسَبِّحُ لَهُ فِيهَا بِالْغُدُوِّ وَالْآصَالِ﴿٣٦

رِجَالٌ لَا تُلْهِيهِمْ تِجَارَةٌ وَلَا بَيْعٌ عَنْ ذِكْرِ اللَّهِ وَإِقَامِ الصَّلَاةِ وَإِيتَاءِ الزَّكَاةِ ۙ يَخَافُونَ يَوْمًا تَتَقَلَّبُ فِيهِ الْقُلُوبُ وَالْأَبْصَارُ﴿٣٧

(36) Bertasbih kepada Allah di masjid-masjid yang telah diperintahkan untuk dimuliakan dan disebut nama-Nya di dalamnya, pada waktu pagi dan waktu petang,

(37) laki-laki yang tidak dilalaikan oleh perniagaan dan tidak (pula) oleh jual beli dari mengingati Allah, dan (dari) mendirikan sembahyang, dan (dari) membayarkan zakat. Mereka takut kepada suatu hari yang (di hari itu) hati dan penglihatan menjadi goncang. (QS. An-Nur: 36-37).

Al-Allamah Ibnu Katsir rahimahullah berkata,

Demikianlah Allah menjelaskan secara khusus tentang masjid, sebagai tempat yang paling dicintai Allah dibandingkan tempat-tempat lainya di muka bumi. Karena itu, hendaklah seorang yang beriman kepada Allah dan hari akhir mengetahui adab-adab dan hal-hal berkaitan dengan masjid, hingga kemudian mengamalkannya.

Ketika Allah memberikan permisalan tentang hari seorang muslim dengan apa yang ada di dalamnya berupa petunjuk dan ilmu dengan pelita-pelita di dalam kaca bening dan dinyalakan dengan minyak yang baik, maka hal itu ibarat pelita yang terang, menyebutkan tempatnya yakni di masjid-masjid yang merupakan tempat di bumi yang paling Allah cintai, yang merupakan rumahNya. Tempat Dia diibadahi dan diesakan di dalamnya.
Maka Allah berfirman,

(Tafsir Ibnu Katsir 3/390.)

Di rumah-rumah (masjid-masjid) yang Allah telah perintahkan agar disebut
(QS. An-Nur: 36).

Dan Qatadah berkata, Yakni masjid-masjid yang Allah telah perintahkan untuk membangunnya, memakmurkannya dan menyucikannya.

Yakni, Allah memerintahkan dengan mengikatkan diri dengan-Nya dan menyucikannya dari najis, permainan yang melalaikan dan ucapan serta perbuatan yang tidak pantas.

Sebagaimana dikatakan oleh Ali bin Abi Thalhah dari Ibnu Abbas tentang ayat ini, “(Sesungguhnya) Allah melarang perbuatan yang melalaikan di dalamnya.” Demikian pula dikatakan oleh Ikrimah, Abu Shalih, Adh-Dhahak, Nafi Ibnu Jubari, Abu Bakar Ibnu Abi Hatsmah dan Sufyan Ibnu Husein serta para ulama’ tafsir lainnya.

Adab-Adab Masjid

  1. Berdo’a ketika keluar rumah menuju ke masjid

Sebagaimana diriwayatkan dari Ibnu Sa’ad,

اَللَّهُمَّ اجْعَلْ فِيْ قَلْبِيْ نُوْرًا، وَفِيْ لِسَانِيْ نُوْرًا، وَفِيْ سَمْعِيْ نُوْرًا، وَفِيْ بَصَرِيْ نُوْرًا، وَمِنْ فَوْقِيْ نُوْرًا، وَمِنْ تَحْتِيْ نُوْرًا، وَعَنْ يَمِيْنِيْ نُوْرًا، وَعَنْ شَمَالِيْ نُوْرًا، وَمِنْ أَمَامِيْ نُوْرًا، وَمِنْ خَلْفِيْ نُوْرًا، وَاجْعَلْ فِيْ نَفْسِيْ نُوْرًا، وَأَعْظِمْ لِيْ نُوْرًا، وَعَظِّمْ لِيْ نُوْرًا، وَاجْعَلْ لِيْ نُوْرًا، وَاجْعَلْنِيْ نُوْرًا، اَللَّهُمَّ أَعْطِنِيْ نُوْرًا، وَاجْعَلْ فِيْ عَصَبِيْ نُوْرًا، وَفِيْ لَحْمِيْ نُوْرًا، وَفِيْ دَمِيْ نُوْرًا، وَفِيْ شَعْرِيْ نُوْرًا، وَفِيْ بَشَرِيْ نُوْرًا. [اَللَّهُمَّ اجْعَلْ لِيْ نُوْرًا فِيْ قَبْرِيْ … ونُوْرًا فِيْ عِظَامِيْ ] [وَزِدْنِيْ نُوْرًا، وَزِدْنِيْ نُوْرًا، وَزِدْنِيْ نُوْرًا] [وَهَبْ لِيْ نُوْرًا عَلَى نُوْرٍ

Ya Allah, ciptakanlah cahaya di hatiku, cahaya di lidahku, cahaya di pendengaranku, cahaya di penglihatanku, cahaya di atasku, cahaya di bawahku, cahaya di sebelah kananku, cahaya di sebelah kiriku, cahaya dari depanku, cahaya dari belakangku.

Ciptakanlah cahaya dalam diriku, perbesarlah cahaya itu untukku, berilah cahaya untukku, dan jadikanlah aku sebagai cahaya.

Ya Allah, berikanlah cahaya kepadaku, ciptakan cahaya pada urat sarafku, cahaya dalam dagingku, cahaya dalam darahku, cahaya di rambut dan di kulitku. [Ya Allah, ciptakanlah cahaya untukku dalam kuburku… cahaya dalam tulangku]. [Tambahkanlah cahaya untukku 3x].
[Karuniakanlah bagiku cahaya di atas cahaya].
Lihat Hisnul Muslim oleh Syaikh Sa’id Al-Qahthani 23-24.

Berdo’a ketika memasuki masjid dan mendahulukan kaki kanan

Imam Nawawi rahimahullah menyebutkan dalam kitab Al-Adzkar, dari Abu Humaid atau Abu Usaid, Rasulullah bersabda,

Apabila salah seorang di antara kalian memasuki masjid, maka bershalawatlah kepada Nabi, kemudian katakanlah,

اَللَّهُمَّ افْتَحْ لِيْ أَبْوَابَ رَحْمَتِكَ

“Ya Allah, bukakanlah untukku pintu-pintu rahmatmu.”

Dan apabila keluar, katakanlah,

    اَللَّهُمَّ إِنِّيْ أَسْأَلُكَ مِنْ فَضْلِكَ

“Ya Allah aku memohon kepadaMu sebagian karuniaMu.”

Riwayat Imam Muslim, Abu Dawud, An-Nasa’i, dan Ibnu Majah serta yang lainnya dengan sanad yang shahih.

Dan dalam riwayat Ibnu Sunni disebutkan,

    بِسْمِ اللهِ وَالصَّلاَةُ وَالسَّلاَمُ عَلَى رَسُوْلِ اللهِ

Dengan nama Allah dan shalawat.
Lihat Hishnul Muslim dan Shahihul Kalimut Thayyib, hal. 31.

Dan dalam riwayat yang lain dari Abdullah bin Amir, dari Nabi, apabila memasuki masjid, beliau berdo’a,

    أَعُوْذُ بِاللهِ الْعَظِيْمِ، وَبِوَجْهِهِ الْكَرِيْمِ، وَسُلْطَانِهِ الْقَدِيْمِ، مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيْمِ

Aku berlindung kepada Allah Yang Agung dan wajahNya Yang Mulia, kekuasanNya yang abadi dari syetan yang terkutuk.

Beliau bersabda, Apabila berkata demikian, maka syetan akan berkata,

“Dia terjaga dariku selama sehari penuh.”
Hishnul Muslim, Al-Adzkar dan Shahihul Kalimut Thayyib.

Mendahulukan kaki kanan ketika memasuki masjid, berdasarkan hadits ‘Aisyah,

Rasulullah menyukai mendahulukan yang kanan dalam bersandal, bersisir, bersuci dan seluruh kegiatannya. (Muttafaqun ‘alaih)

Dikutip dari majalah As-Sunnah 09/VII/1421H

Dinnukil ulang dari : http://blog.vbaitullah.or.id/2005/06/02/605-adab-adab-masjid-14/

You May Also Like

0 Comments

Silahkan tinggalkan komentar di sini