Dilarang Ghuluw Terhadap Ahli Ilmu

GHULUW TERHADAP AHLI ILMU

Catatan seputar pembahasan ghuluw terhadap ahli ilmu yang diangkat di masa-masa fitnah:

📕 Sikap ghuluw sangat dilarang keras dalam islam, sikap ini memunculkan berbagai macam keburukan mulai dari terkotorinya diinul islam hingga tercerai berainya kaum muslimin karenanya.

📕 Para Ulama Ahlul Hadits selalu tampil terdepan melawan sikap ghuluw dan hanya ucapan mereka yang diperhitungkan ketika berbicara masalah tercelanya ghuluw, adapun orang-orang awwam dan orang-orang jahil serta para penuntut ilmu pemula atau orang yang tampil sebagai ahli ilmu namun tidak jelas dari mana asalnya maka ucapan mereka ketika berbicara masalah ghuluw tidak diperhitungkan bahkan tidak perlu melirik kepadanya demi menutup celah munculnya fitnah dan kekacauan.

📕 Ghuluw terhadap Ahli Ilmu juga sangat dilarang keras hingga Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab -rahimahullah- membuat 2 bab tentangnya di dalam bukunya yang terkenal KITAB AT-TAUHID, karenanya Ahlu Tauhid menghindari sikap ghuluw terhadap ahli ilmu demi menjaga tauhid mereka dari Syirkut Tho’ah.

📕 Secara Umum, ada 2 bentuk sikap ghuluw terhadap ahli ilmu:
(1) Mengikuti semua pernyataan ahli ilmu tanpa menimbangnya dengan al-Qur’an dan as-Sunnah.
(2) Menjadikan person ahli ilmu sebagai ukuran kebenaran yang dengannya dibangun sikap loyalitas (wala’ dan baro’) padahal tidak ada manusia di tengah ummat ini yang menjadi tolak ukur kebenaran yang dengannya dibangun loyalitas melainkan hanya Rasululullah -shallallahu alaihi wasallam-.

Dari 2 gambaran di atas maka yang diterima ucapannya saat berbicara tentang sikap ghuluw adalah ahli ilmu yang mengilmui al-Qur’an dan as-Sunnah dengan pemahaman yang benar sehingga dengannya ia bisa menimbang sesuatu itu benar atau salah, serta mengetahui rincian bentuk-bentuk ghuluw, atau murid-murid dari ahli ilmu yang telah dipersaksikan keilmuannya oleh gurunya atau dikenal hati-hati dalam berbicara dan bersikap.

📕 Di masa-masa fitnah manusia tidak bisa membedakan dengan jeli antara sikap ghuluw yang tercela dengan sikap ittiba dan iltizam yang terpuji dan dituntut dalam beragama. Sehingga menimbang segala sesuatu menjadi terbalik, itu semua dikarenakan:
(1) Jahil terhadap Ilmu Diin
(2) Salah memilih guru
(3) Kurang perhatian terhadap ta’shilat dan tafshilat yang akurat dan terambil dari dalil-dali yang kokoh
(4) Jika dia memiliki ilmu mungkin belenggu hizbiyyah telah menutup ilmunya atau su’ul qashd menguasai dirinya hingga salah dalam menilai sesuatu.
(5) Terbiasa memahami agama dengan ar-Ra’yu dan al-Hawa, jauh dari bimbingan ahli ilmu terutama bimbingan ahli ilmu yang senior. Dan lebih parahnya jika kemudian ia menyelami kitab-kitab para ulama tanpa bimbingan ahli ilmu yang sudah teruji sehingga ia jatuh dalam kesimpulan-kesimpulan dangkal lagi gegabah.

📕 Secara umum di masa-masa fitnah ada 2 kelompok manusia yang menyimpang saat berbicara tentang ghuluw:
(1) Mereka yang benar-benar terjatuh pada ghuluw karena jahilnya mereka terhadap diinul islam atau karena terlalu berlebihan mengagumi manusia selain Rasulullah -shallallahu alaihi wasallam- dan mereka menganggap manusia yang tidak ghuluw terhadap ahli ilmu sebagai orang-orang yang lancang terhadap ahli ilmu dan tidak menghormati mereka, padahal menghormati ahli ilmu bukan berarti mengikuti segala perkataan ahli ilmu walaupun berupa kesalahan ijtihad, karena salafiyyun memegang prinsip bahwa tidak ada yang ma’shum di tengah ummat ini selain Rasululullah -shallalllahu alaihi wasallam-

(2) Mereka yang tidak bisa membedakan antara Ittiba’ dengan ghuluw, sehingga mengikuti kebenaran yang ada pada Ahli Ilmu dianggap ghuluw. Hal itu dikarenakan mereka gerah ketika penyimpangannya dibongkar oleh ahli Ilmu sehingga mereka tidak senang jika manusia mengikuti jihadnya ahli ilmu dalam membantah penyimpangan dan menilainya sebagai bentuk ghuluw.

📕 Di majelis ilmu yang bersifat umum, ahli ilmu biasanya akan berbicara tentang larangan sikap ghuluw secara umum. NAMUN ADA SEBAGIAN MANUSIA YANG ISI HATINYA TIDAK BAIK MEMBAWA UCAPAN UMUM ITU UNTUK DITODONGKAN KEPADA AHLUL HAQ TERUTAMA DITODONGKAN KEPADA MURID-MURID AHLI ILMU TADI, mereka ini terjatuh pada Ibtigha’ul fitnah dan ibtigha’u ta’wilihi.

📕 Oleh karena, di masa-masa fitnah seprti ini segalanya perlu dirinci, dikembalikan kepada ahli ilmu atau murid-murid ahli ilmu yang ma’ruf. Dan jangan kita latah mengeshare sesuatu terutama di zaman penuh kekacauan, bukankah ahlu bid’ah terkadang menukil ucapan ahli ilmu dalam rangka IBTIGHA’AL FITNAH & IBTIGHA’ TA’WILIH. Maka ANDA wahai ahlussunnah jangan latah ngeshare sesuatu terutama potongan¬≤ ucapan yang dishare oleh orang-orang yang tidak jelas asal-usulnya apalagi yang jelas-jelas ia memusuhi Dakwah Salafiyyah yang haq ini.

📝 al-Faqir ila taufiqi Rabbihi: Abu Hafshoh Amir al-Kadiry

Print Friendly, PDF & Email

1 Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*