TANGGAPAN Atas Komentar Pak Dzulqarnain Terhadap Syaikh Ali Hasan

KOMENTAR SINGKAT ATAS TAHDZIR UDZ TERHADAP SYAIKH ALI AL-HALABI

Telah menyebar ke medsos rekaman video yang isinya merendahkan syaikh Ali Hasan al-Halabi hafizahullah yang merupakan murid senior syaikh Albani rahimahullah

Setelah melihat video tersebut, ada beberapa komentar ringkas bagi UDz sbb :

– Masalah ini adalah masalah yang sudah lama dan telah dibahas tuntas.
Silakan baca tulisan
Ust. Abdurrahman Thayyib, Lc hafizhahullah berikut ini : http://almanhaj.or.id/…/ada-apa-dengan-syaikh-ali-al-halab…/

Ust. DR. Firanda Andirja hafizhahullah pun juga telah membantah Udz secara berseri, tuduhan Udz terhadap Syaikh Ali al-Halabi. Silakan baca : https://www.firanda.com/…/535-ada-apa-dengan-radio-rodja-ro…

– Perlu diketahui bahwa pendapat Syaikh Ali Hasan hafizhahullah dalam masalah keimanan, adalah sama dengan pendapat Syaikh Al-Albani rahimahullah (yang menyatakan bahwa amal adalah syarat kamal al-iman) dan sekiranya pendapat mereka ini dianggap keliru atau tidak rajih, maka tidak perlu bersikap ghuluw dan berlebihan di dalam menyikapinya, karena tidak ada yang ma’shum kecuali Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam dan konsekuensinya seharusnya sekalian saja Udz habisi pula As-Syaikh Al-Albani hafizhahullah

– Sungguh amat sangat disayangkan, ucapan dari Udz di dalam menyikapi “kesalahan” (jika memang dianggap keliru) seorang ulama dilakukan dengan cara-cara melewati batas dan berlebihan, kurang beradab, merendahkan ulama, dan menempatkan dirinya seperti seorang alim. Dia tidak segan menyebut Syaikh Ali Hasan al-Halabi hafizhahullah dengan menyebut nama langsung, coba perhatikan ucapan Syaikh al-Fauzan, Syaikh ar-Rajihi dan al-Humayid hafizhahumullah yang memberi kata pengantar terhadap kitab : Raf’ul Laa’imah karya Syaikh Muhammad Salim ad-Dausari yang membantah Syaikh Ali Hasan Al Halabi hafizhahullah. Semuanya ketika menyebut Syaikh Ali Hasan hafizhahullah, dengan sebutan penghormatan bahkan persaudaraan : الأخ الشيخ علي بن حسن (al-Akh Asy-Syaikh Ali bin Hasan). Coba bandingkan dengan adab Udz yang lebih rendah dari masyaikh di atas.

– Udz sepertinya banyak bersandar kepada buku Raf’ul Lâ’imah karya Syaikh Muhammad Salim ad-Dausari. Mungkin hanya karena melihat bahwa buku tersebut diberi kata pengantar oleh 3 masyaikh. Padahal Syaikh Muhammad Salim ad-Dausari ini pernah dipenjara dengan tuduhan membawa pemahaman TAKFIR dan IRHAB… Namun, UDz mendiamkannya…

– UDz menganggap bahwa Syaikh Ali Hasan hafizhahullah seakan manusia paling bermasalah, padahal beliau juga banyak membantah ahli bid’ah.

– UDz juga tidak sekaliber Syaikh Abdul Muhsin hafizhahullah yang menghormati syaikh Ali Hasan hafizhahullah, bahkan memuji Syaikh Ali Hasan hafizhahullah.

Udz juga tidak selevel Syaikh Saad Asy Syatsry hafizhahullah -anggota ulama kibar dan penasehat raja Salman- yang tetap bersikeras ingin bertemu dengan Syaikh Ali Hasan hafizhahullah waktu daurah dan bermajelis bersama. Bahkan menyatakan Syaikh Ali Hasan hafizhahullah termasuk ahlus sunnah (sebagaimana didengar langsung oleh Ust Firanda). Kalau syaikh Ali Hasan hafizhahullah menyesatkan mengapa syaikh Asy-Syatsri bersikeras ngisi bareng dengan sykh Ali Hasan.

UDz juga tidak setingkat Syaikh Abdul Malik Ramadhani, Syaikh Ibrahim ar-Ruhaili, Syaikh Husain Alu Syaikh, dll hafizhahumullab yang masih menghormati dan memuliakan Syaikh Ali al-Halabi hafizhahullah. Mungkin UDz merasa dirinya lebih alim dari mereka semua ini….

– Lagi pula panitia (STAI Ali Bin Abi Thalidb dan al-Irsyad maupun Radiorodja) yang hampir tiap tahun mengundang syaikh Ali Hasan, mereka pula lah yang setiap tahun mengundang para ulama Madinah (bahkan para pengajar mesjid Nabawi) seperti syaikh Abdurozaq al-Abbad, syaikh Sulaiman ar-Ruhaili, syaikh Ibrahim ar-Ruhaili, syaikh Sholeh as-Suhaimi, syaikh Abdus Salam as-Suhaimi, asy-Syaikh Ali bin Ghazi At-Tuwaijiri, dan syaikh Mus’id al-Husaini hafizhahumullah, …namun mereka tidak pernah menjatuhkan panitia dan tetap menghargai panitia, padahal belum tentu mereka sama dengan syakh Ali Hasan dalam permasalahan parsial tentang iman

– UDz menuduh Syaikh Ali al-Halabi membatasi kekafiran hanya ISTIHLAL dan JUHUD saja. Padahal, apabila kita dapati ucapan seorang ulama yang tampak zhahirnya keliru, maka hendaknya mengembalikannya kepada pendapatnya yang TAFSHIL.

Syaikh Ali Hasan sendiri dengan tegas dan jelas memperinci tuduhan ini di dalam TANBIIHATUL MUTAWAA’IMAH. Termasuk pula dalam MUJMAL MASAA’ILIL IIMAN yang dikeluarkan oleh Markaz Imam Albani dan disetujui oleh sejumlah ulama salafiyin.

Di dalam Mujmal Masaa’il al-Iman tersebut disebutkan :
‎6- الكُفْرُ أَنْواعٌ: جُحُودٌ، وَتَكْذِيبٌ، وَإِباءٌ، وَشَكٌّ، وَنِفاقٌ، وَإِعْراضٌ، وَاسْتِهزاءٌ، وَاسْتِحْلالٌ؛ كَما ذَكَرَهُ أَئِمَّةُ العِلْمِ؛ شَيْخُ الإسْلامِ، وَتِلْميذُهُ ابْنُ قَيِّمِ الجَوزِيَّةِ، وَغَيْرُهُمَا مِن أَئِمَّةِ السُّنَّة -رَحِمَهُم اللهُ-.
‎7- مِنَ الْكُفْرِ العَمَلِيِّ -والقَوْلِيِّ- ما هُوَ مُخْرِجٌ مِنَ المِلَّةِ بِذاتِهِ، وَلا يُشْتَرَطُ فِيهِ اسْتِحْلاَلٌ قَلْبِيٌّ؛ وَهُوَ ما كانَ مُضادّاً للإِيمانِ مِنْ كُلِّ وَجْهٍ؛ مِثْلُ: سَبِّ اللهِ – تَعالَى -، وَشَتْمِ الرَّسولِ صلى الله عليه وسلم ، وَالسُّجُودِ للصَّنَمِ، وَإِلقاءِ المُصْحَفِ في الْقاذُوراتِ… وَما في مَعْناهَا.
‎وَتَنْزِيلُ هذا الحُكْمِ عَلَى الأَعْيانِ – كَغَيْرِهِ مِنَ المُكَفِّراتِ -لا يَقَعُ إلا بشرطهِ الْمُعْتَبَر.
‎8- وَنَقُولُ – كَما يقولُ أَهْلُ السُّنَّةِ -: إِنَّ العَمَلَ الكُفْرِيَّ (كُفْرٌ) يُكَفِّرُ صَاحِبَهُ ؛ لِكَوْنِهِ يَدُلُّ عَلَى كُفْرِ البَاطِنِ ، وَلا نَقولُ – كما يَقولُ أَهْلُ البِدَعِ -: (العَمَلُ الْكُفْرِيُّ لَيْسَ كُفْراً ! لَكِنَّهُ دَلِيلٌ عَلَى الْكُفْرِ) !! والْفَرْقُ واضحٌ.
[Silakan unduh ebooknya di : http://bit.ly/e-pokok ]

UDz bukannya mengambil yang jelas dan terperinci namun malah menuduh TALAA’UB… akhirnya dirinya sendiri pun juga mendapatkan balasannya, ketika guru yang dicintainya, Syaikh Rabi’ menyebut dirinya LA’AAB juga. Al-Jazaa’ min Jinsil ‘amal.

– Lagi pula, jika mau fair, ulama Lajnah tidak pernah mentahdzir Syaikh Ali, tapi yang ditahdzir adalah bukunya, dan sudah maklum bahwa tahdzir terhadap buku atau tulisan tidak otomatis tahdzir terhadap orangnya.

Lah, ini lantas ngapain UDz mentahdzir orangnya, melewati kapasitasnya dan berlaku tidak fair??!

Lihatlah Syaikh Abdul Muhsin saat membantah Syaikh al-Asyqor, beliau tidaklah mentahdzir orangnya tapi kesalahan-kesalahannya…

Bahkan buku Shaihatun Nadzir yang ditahdzir LAJNAH DA’IMAH tsb, adalah buku yang sebelum dicetak, ditelaah oleh Syaikh al-Albani, Syaikh Muhammad Syuqroh, Syaikh Muhammad Ri’fat, Syaikh Rabi’ al-Madkholi, Syaikh Muhammad Umar Bazmul, dll. Apakah UDz tidak sekalian saja mentahdzir mereka semua ini??

– Sebagaimana hukum thd suatu ucapan atau tulisan tdk otomatis hukum thd qo’il atau penulisnya… Maka demikian pula, taqdim dan pujian thd suatu buku tdk otomatis pujian thd penulis nya…

Syaikh Shâlih al-Fauzân dikenal banyak memberikan taqdim ke buku², terkadang sebagian penulisnya membawa pemahaman takfiri, sebagaimana Syaikh Muhammad Salim ad-Dausari…

– Kami nasehatkan kepada UDz agar menjaga lisannya, memahami kapasitas dirinya, tidak berlebihan (baca : lebay) dalam menilai, mengedepankan baik sangka dan berusaha untuk mempersatukan bukan malah menceraiberaikan….

Kami rasa perceraiberaian yang terjadi di barisan UDz sudah cukup menjadi pelajaran yang berharga bagi yang mau berfikir.

Kami juga berharap UDz untuk tidak bermain-main dalam pernyataan dalam perkara manhaj yang sering berubah-ubah, pernyataan yang disebarkan di web lalu diangkat lagi, hari ini bilang begini besok berubah lagi.

Semoga Allah mengembalikan kita semua kepada kebenaran dan menyatukan barisan dalam kebaikan
Wallahu Ta’ala a’lam

[Diadopsi dengan sedikit tambahan dan perubahan dari komentar Ustadz DR. Firanda]

Dari group Multaqo Duat Ila Allah

Sumber: https://daryusman.wordpress.com/2018/02/20/komentar-singkat-atas-tahdzir-udz-terhadap-syaikh-ali-al-halabi/

Print Friendly, PDF & Email

2 Comments

  1. – LAGI PULA, jika mau fair, ulama Lajnah tidak pernah mentahdzir Syaikh Ali, tapi yang ditahdzir adalah bukunya, dan sudah maklum bahwa tahdzir terhadap buku atau tulisan tidak otomatis tahdzir terhadap orangnya
    Bismillah,bukankah sebuah tulisan lahir dr sebuah pemikiran mas admin?

    Bisa diberikan contoh/kasus apake untuk memahami perkataan diatas,soal nya sy agak binggung dgn pernyataan tsb

    Siapa dari ulama lajnah yang menyatakan bahwa Syaikh Ali itu murji’ah, sebagaimana yg dikatakan oleh pak dzulqarnain ??

    Apa yang disampaikan oleh Syaikh Ali itu sama seperti yang disampaikan oleh Syaikh Albani, kenapa hanya Syaikh Ali saja yang divonis murji’ah? jadi ga fair pak dzulqarnain ini,

Leave a Reply to NOER Cancel reply

Your email address will not be published.


*