• Sat. Nov 28th, 2020

aslibumiayu.net

Bisa Karena Terbiasa

Bantahan Atas TULISAN Saudara Dzulqarnain bin Sanusi

BANTAHAN ATAS TULISAN AL AKH DZULQARNAIN 1

Sebagaimana yang telah saya singgung di atas, bahwa saya akan menurunkan seluruh bantahan saya tersebut di sini, dan saya telah berusaha untuk mencantumkan apa yang telah ditulis oleh al akh Dzulqarnain apa adanya dari tulisannya tersebut, semua itu saya lakukan untuk menjaga amanat ilmiyyah.

I. KESALAHANNYA TENTANG HADITS DAN ILMLU HADITS.

Pada halaman yang pertama baris ke 30, dia berkata:

Adapun masalah menggerak-gerakkan jari telunjuk ketika tasyahud atau tidak menggerak-gerakannya, rincian masalahnya adalah sebagai berikut:

Hadits-hadits yang menjelaskan tentang keadaan jari telunjuk ketika tasyahhud ada tiga jenis :

  • Ada yang menjelaskan bahwa jari telunjuk tidak digerakkan sama sekali.

  • Ada yang menjelaskan bahwa jari telunjuk digerak-gerakkan.

  • Ada yang menjelaskan bahwa jari telunjuk hanya sekedar diisyaratkan (menunjuk) dan tidak dijelaskan apakah digerak-gerakkan atau tidak.

Perlu diketahui bahwa hadits-hadits yang menjelaskan tentang keadaan jari telunjuk kebanyakannya adalah dari jenis yang ketiga dan tidak ada perbedaan pendapat di kalangan para ulama dan tidak ada keraguan lagi tentang shahihnya hadits-hadits jenis yang ketiga tersebut, karena hadits-hadits tersebut diriwayatkan oleh Imam Al-Bukhary, Imam Muslim dan lain-lainnya, dari beberapa orang sahabat seperti ‘Abdullah bin Zubair,’Abdullah bin ‘Umar, Abu Muhammad As-Sa’idy, Wa’il bin Hujr, Sa’ad bin Abi Waqqash dan lain-lainnya.

Maka yang perlu dibahas di sini hanyalah derajat hadits-hadits jenis pertama (tidak digerakkan sama sekali) dan derajat yang kedua (digerak-gerakkan).

Saya berkata: Dalam perkataan al akh Dzulqarnain di atas ada beberapa kesalahan yang perlu untuk dirinci satu persatu:

Pertama: Perkataaanya, “…dan tidak ada perbedaan pendapat di kalangan para ulama dan tidak ada keraguan lagi tentang shohihnya hadits-hadits jenis yang ketiga tersebut…”

Saya berkata : Benarkah bahwa tidak ada perbedaan pendapat di kalangan ulama tentang derajat hadits-hadits tersebut?

Jawabnya adalah tidak benar sama sekali, karena di sana telah ada perselisihan di kalangan ulama tentang hadits-hadits tersebut, dan telah ada bebeerapa hadits yang telah dilemahkan oleh sebagian ulama, sebagai contoh adalah hadits Malik bin Numair al khuza’i yang dengan lafadz:

عَنْ مَالِكِ بْنِ نُمَيْرٍ الْخُزَاعِىِّ عَنْ أَبِيهِ قَالَ رَأَيْتُ النَّبِىَّ صلى الله عليه وسلموَاضِعًا ذِرَاعَهُ الْيُمْنَى عَلَى فَخِذِهِ الْيُمْنَى رَافِعًا أُصْبُعَهُ السَّبَّابَةَ قَدْ حَنَاهَا شَيْئًا.

Artinya: Dari Malik bin Numair al Khuza’i dari bapakanya (Numair), ia berkata: Aku melihat Nabi meletakkan hastanya yang kanan di atas pahanya yang kanan, sambil beliau mengangkat jari telunjuknya, dan beliau pun menundukkan jari telunjuknya sedikit.

Hadits di atas termasuk hadits yang dha’if (lemah) yang menerangkan tentang isyarat dengan jari telunjuk dalam shalat, dan masih ada beberapa hadits yang lainnya. Lihat kitab al Bisyarah karya Syaikh Abul Mundzir dari halaman 83-98, sebagaimana juga telah saya singgung di dalam pembahasan buku saya ini.

Maka, dari sini kita dapat mengetahui bahwa pemutlakan al akh bahwa tidak ada perbedaan pendapat di kalangan para ulama dan tidak ada keraguan lagi tentang shahihnya hadits-hadits jenis yang ketiga merupakan sebuah kekeliruan yang sangat nyata sekali, wallahu a’lam.

Kedua : Tentang perkataannya, “…karena hadits-hadits tesebut diriwayatkan oleh Imam al Bukhary….”

Saya berkata : Perkataan ini sangatlah aneh, saya yakin perkataan ini tidak akan terucap dari mulut orang yang telah membaca kitab Shahih al Bukhari, sebab Imam al Bukhari tidak pernah meriwayatkan hadits tentang isyarat dengan jari telunjuk ketika tasyahhud dalam kitab Shahihnya satu hadits pun juga.

Dan kalau betul beliau meriwayatkannya di dalam kitab Shahihnya, maka saya menuntut kepada al akh untuk memberikan contoh dan buktinya.

Saya melihat semua ini didasari oleh sikap tergesa-gesa dari al akh, semoga Allah memberikan kepada saya dan dia serta kita semua petunjuk-Nya… aamiin.

Ketiga : Kemudian perkataanya, “…seperti ‘Abdullah bin Zubair, ‘Abdullah bin ‘Umar, Abu Muhammad As Sa’idiy….”

Saya berkata : Tidak ada seorangpun Shahabat Nabi yang bernama “Abu Muhammad as Sa’idiy.” Sebagaimana disebutkan oleh al akh.

Pada awalnya saya berkhusnudzan kepada al akh, mungkin saja dia salah tulis, atau mungkin yang dimaksud adalah “Abu Humaid as Saa’idi,” seorang shahabat Nabi yang mulia radhiyallahu ‘anhu, yang nama lengkapnya adalah Abdurrahman bin Sa’ad bin al Mundzir atau nama-nama yang lainnya, akan tetapi ia lebih dikenal dengan kunnyahnya daripada nama aslinya, sebagaimana yang disebutkan oleh al Hafizh Ibnu Hajar al Asqalani dalam kitab al Ishabah no. 5133,8223,9787. Dan oleh Ibnu Abdil Barr dalam kitab al Istii’ab dan oleh Ibnul Atsir dalam kitab Usudul Ghabah dan yang lainnya banyak sekali.

Haditsnya berisi tentang sifat shalat Nabi sangat dikenal. Dan haditsnya pun telah saya turunkan dalam buku saya ini.

Akan tetapi, akhirnya prasangka baik saya itu pupus setelah mengetahui bahwa kesalahan ini terus ada tercantum di dalam tulisannya tersebut dan tidak juga ia berusaha untuk membetulkan dalam tulisannya yang disebar di majalah “an Nashihah” atau yang tersebar di internet, maka saya berkesimpulan bahwa peprkataan ini didasari atas kebodohan yang cukup mendasar tentang nama-nama para Shahabat Nabi, dan juga kebodohan tentang hadits-hadits sifat shalat Nabi.

II. KESALAHAN AL AKH TENTANG SANAD HADITS DAN RIJAL HADITS.

Ketika dia mentakhrij hadits Abdullah bin az Zubair yang di dalamnya terdapat lafadz “لَا يُحَرٍّكُهَا, dia berkata:

Semuanya meriwayatkan dari jalan Hajjaj bin Muhammad dari Ibnu Juraij dari Muhammad bin ‘Ajlan dari ‘Amir bin ‘Abdillah bin Zubair dari ayahnya ‘Abdullah bin Zubair.

Saya berkata : Perkataan ini sungguh-sungguh mengandung kesalahan yang sangat fatal, karena dari sini jelaslah bahwa dia tidak mengetahui thuruq (jalan-jalan) hadits Abdullah bin az Zubair yang sebenarnya. Karena sebenarnya ada seorang perawi yang bernama Ziyad bin Sa’ad di antara keduanya, begitulah Imam Abu Dawud dan dari jalannnya al Baghawi dan yang lainnya menurunkan sanad hadits Ibnu az Zubair tersebut.

Seandainya al akh mau sedikit berusaha untuk membuka kitab Sunan Abi Dawud saja, niscaya dia akan dapati manfaat yang sangat banyak sekali, karena seharusnya bagi seorang pembahas untuk langsung membahas dari kitab asalnya, Dan bukannya asal-asalan seperti ini, wa ilallaahil musytaka.

Mungkin sebagian orang akan berkata, “Mungkin itu hanya salah tulis saja.” pada awalnya saya pun menduga demikian, akan tetapi dugaan itu pupus tatkala saya melihat bahwa al akh mengulang kesalahan tersebut dalam uraian sanadnya yang telah dia uraikan dengan perincian setelah itu, mari sama-sama kita lihat uraiannya dalam tulisannya tersebut:

Derajat Rawi-rawi hadits ini sebagai berikut:

  • Hajjaj bin Muhammad. Beliau rawi tsiqah ( terpercaya ) yang tsabt ( kuat ) akan tetapi mukhtalit ( bercampur ) hafalannya di akhir umurnya, akan tetapi hal tersebut tidak membahayakan riwayatnya karena tidak ada yang mengambil hadits dari beliau setelah hafalan beliau bercampur. Baca : Al-Kawakib An-Nayyirat, Tarikh Baghdad dan lain-lainnya.

  • Ibnu Juraij. Nama beliau Abdul Malik bin Abdil Aziz bin Juraij Al Makky seorang rawi tsiqah tapi mudallis akan tetapi riwayatnya di sini tidak berbahaya karena beliau sudah memakai kata Akhbarani (meberitakan kepadaku).

  • Muhammad bin Ajlan. Seorang rawi shaduq (jujur).

  • Amir bin Abdillah bin Zubair. Kata Alhafidz dalam Taqrib beliau adalah tsiqah abid ( terpercaya, ahli ibadah ).

  • Abdullah bin Zubair. Sahabat.

Saya berkata : Apakah nama “Ziyad (bin Saad)” disebutkan dalam uraian di atas ? Sama sekali tidak disebutkan nama tersebut di dalam nukilan ini, dari sini dapatlah kita pastikan bahwa kesalahan di atas bukanlah sekedar kesalahan tulis semata, akan tetapi lebih dari itu dia tidak mengetahui thuruq (jalan-jalan) hadits Abdullah bin Azzubair yang sebenarnya, atau dia tidak merujuk ke kitab aslanya atau minimal dia tidak teliti dalam hal ini. Padahal sangat tidak layak baginya untuk berbuat demikian, maka perhatikanlah!

Kemudian di akhir pembahasan hadits yang pertama ini barulah dia menyebut nama “Ziyad bin Saad,” lihatlah nukilannya berikut ini :

Dan riwayat Muhammad bin Ajlan dianggap syadz karena menyelisihi tiga orang tersebut. Tiga orang ini adalah :

a. Utsman bin Hakim, riwayatnya dikeluarkan oleh Muslim no. 112, Abu Daud no. 988, Ibnu Khuzaimah 1/245 no. 696. Ibnu Abdil Bar dalam At-Tamhid 13/194 – 195 dan Abu ‘Awanah 2/241 dan 246

b. Ziyad bin Sa’ad, riwayatnya dikeluarkana oleh Al-Humaidy 2/386 no. 879

c. Makhramah bin Bukair, riwayatnya dikeluarkan oleh Annasai 2/237 no. 1161 dan Albaihaqy 2/132.

Saya berkata : Walaupun dia telah menurunkan nama “Ziyad bin Saad” di dalam uraiannya ini, namun apakah urainyaan tersebut benar adanya?

Jawabnya tidak juga, sebab seperti yang telah saya katakan di awal tadi, bahwa “Ziyad” ini meriwayatkan dari Muhammad bin Ajlan, dan bukannya menyelisihi Muhammad bin Ajlan !!! Untuk lebih jelasnya silahkan merujuk kitab guru saya Ustadz Abdul Hakim Abdat berjudul Almasaail War Rasaail (II/73-78), karena di sana telah ada uraian jalan hadits ini dengan benar, insya Allahu ta’ala.

Kemudian perkataanya, “…menyelisih tiga orang tersebut…” perkataan ini juga tidak benar, sebab hanya ada dua orang perawai saja yang meriwayatkan hadits Ibnu azzubair dari Amir bin Abdillah bin Azzubair, yaitu Utsman bin Hakim dan Makhramah bin Bukair saja tanpa Ziyad, sebagaimana juga telah saya terangkan di atas dan juga di dalam buku saya ini, walhamdulillah.

Dari sini saya sana menyangsikan al akh, apakah dia benar-benar membaca kitab-kitab hadits yang telah dia sebutkan itu atau tidak, atau dia hanya menyontek saja, hanya Allah yang mengetahu hal itu, kemudian dia sendiri.

Kemudian kesangsian saya itu semakin berat tatkala saya membaca tulisan al akh ini, yakni ketika dia menukilkan perkataan al Hafizh Ibnu Hajar pada halaman 5 baris yang ke 9 :

Dan kesimpulan yang disebutkan oleh Alhafizh Ibnu Hajar sudah sangat tepat menjelaskan keadaannya. Ibnu Hajar berkata: shoduq yukhti’u katsiran ( jujur tapi sangat banyak bersalah),…

Saya berkata: Apakah benar al Hafizh berkata demikian?

Bagi mereka yang membaca kitab Taqriibut Tahdziib (II/131-132) karya al Hafidz Ibnu Hajar, maka pasti akan dia dapati bahwa di sana al Hafizh hanya berkata, “Shaduuq Yukhti” saja, tanpa tambahan “Katsiran,” sebagaimana yang dia duga. Keterangan ini dan beberapa keterangan lainnya dapatlah membuktikan kelemahan al akh dalam penukilan. Allahul musta’an.

III. TIDAK TELITI DALAM MENULIS.

Pertama:

Beberapa contoh ketidaktelitian dia dalam tulisannya ini adalah perkataannya:

Apalagi hadits yang shohih yang telah tersebut di atas bahwa Nabi SAAW hanya sekedar berisyarat dengan jari telunjuk beliau.

Di mana dia menyebutkan hadits-hadits tersebut? Siapa pun yang membaca tulisannya itu dari awal hingga akhir, tidak akan menemukan bahwa dia telah menyebutkan hadits-hadits tersebut, saya kira ini merupakan dari khayalan dia semata, wallahu waliyut taufiq.

Kedua:

Kemudian dia juga tidak teliti dalam menyebutkan takhrij Hadits Tahrik, yakni perkataanya:

Hadits ini diriwayatkan oleh Ahmad 4/318, Ad-Darimy 1/362 no. 1357, An-Nasai 2/126 no. 889 dan 3/37 no. 1268,dan dalam Al-Kubro 1/310 no. 963 dan 1/376 no. 1191, Ibnul Jarud dalam Al-Muntaqa’ no. 208, Ibnu Hibban sebagaimana dalam Al-Ihsan 5/170 no. 1860 dan Al-Mawarid no. 485, Ibnu Khuzaimah 1/354 no. 714, Ath-Thobarany 22/35 no. 82, Al-Baihaqy 2/131 dan Al-Khatib Al-Baghdady dalam Al-Fashl Li Washil Mudraj 1/425-427. Semuanya meriwayatkan dari jalan Za’idah bin Qudamah dari ‘Ashim bin Kulaib bin Syihab dari ayahnya dari Wa’il bin Hujr.

Saya berkata : Di sini tidak disebutkan Imam Abu Dawud yang juga telah mentakhrij hadits ini dalam kitab sunannya, yang hal itu menggambarkan seolah-olah Imam Abdu Dawud tidak meriwayatkannya, padahal di sini dia telah menukil takhrij Imam al Khatib al Baghdadi dalam kitab al Fashlu Li Washil Mudaraj, yang meriwayatkan hadits ini dari jalan Imam Abu dawud di salah satu jalannya, apakah dia tidak mengetahui hal itu, atau pura-pura tidak mengetahuinya? Atau memang itu semua terjadi karena ketidaktelitian dia dalam menulis, wallaahu a’lam.

Kemudian ketahuilah wahai al akh – semoga Allah menunjukiku dan engkau serta seluruh kaum muslimin kepada jalan yang lurus– bahwa Imam Al Bukhari juga telah mengeluarkan hadits tersebut dalam kitabnya Qurratul ‘Ainain Biraf’il Yadain Fish Shalah dengan ringkas, sebagaimana yang telah dikatakan oleh Imam al Khatib al Baghdadi sendiri dalam kitab tersebut, dan telah saya nukil dalam buku saya ini. Maka telitilah dalam membaca!!

IV. CONTOH PERBUATANNYA YANG MEMOTONG PERKATAAN SEBAGIAN ULAMA

Pada hal. 8, baris 38-39 dia berkata:

Dan Syaikh Al-Albany rahimahullahu ta’ala dalam Tamamul Minnah mengisyaratkan cara kompromi lain yaitu kadang digerakkan kadang tidak.

Saya berkata:

Di sini dia telah melakukan pemenggalan perkataan Imam Al-Albani. Dengan dia berkata seperti itu, maka akan tergambar di benak para pembaca bahwasanya Imam Al Albani telah mensahkan hadits Abdullah bin az Zubair yang di dalamnya terdapat lafazh “ لَا يُحَرٍّكُهَا, karena beliau telah mengisyaratkan cara kompromi, padahal apabila diketahui kelemahan sebuah hadits, maka tidak perlu dikompromikan lagi.

Kemudian juga akan tergambar oleh para pembaca bahwa Imam Al Albani telah rujuk dari pendapatnya untuk menggerakkan jari telunjuk ketika tasyahud.

Adapun perkataan al Imam dalam kitab Tamamul Minnah hal. 220-221 adalah sebagai berikut, – sesudah beliau membantah perkataan pengarang kitab al Bisyarah, – maka kemudian beliau mengatakan:

seandainya telah ada riwayat dari Ibnu Umar bahwa ia tidak menggerakkan jari telunjuknya, maka riwayat itu akan dapat menjadi penguat alasannya (alasan pengarang kitab al Bisyarah), dan itu tidak akan mungkin ada!

Dan kalaupun memang benar ada riwayat yang sah dari Ibnu Umar maupun dari yang lainnya yang menerangkan tentang adanya menggerakkan jari telunjuknya, maka riwayat itu akan dapat menjadi penguat alasannya (alasan pengarang kitab al bisyarah), dan itu tidak mugnkin ada!
Dan kalaupun memang benar ada riwayat yang sah dari Ibnu Umar maupun dari yang lainnya yang menerangkan tentang adanya menggerakkan jari telunjuk, maka pada saat itu kami berpendapat dengan diperbolehkan keduany, yakni , boleh untuk menggerakkan (jari telunjuk) dan boleh juga tidak, sebagaimana yang dipilih oleh ash Shan’ani dalam kitab Subulus Salam (I/290-291),
walaupun pendapat yang lebih kuat menurutku adalah menggerak-gerakkannya, berdasarkan kaidah fiqih yang berbunyi , , “Yang menetapkan itu lebih didahulukan daripada yang menafikan.” Dan juga dengan alasan bahwa (Shahabat) Wail bin Hujr mempunyai perhatian yang khusus untuk menyampaikan (berita) tentang sifat shalat beliau, terlebih lagi tentang cara duduk tasyahud beliau….

Dari sini kita dapat mengetahui bahwa beliau hanya memberikan angan-angan saja, bukan berarti benar-benar mengisyaratkan cara kompromi, sebagaimana yang telah dikatakan olehnya.

Saya tidak mengetahui apakah al akh tidak mengerti ucapan Imam Al Albani, atau pura-pura tidak mengerti, atau mungkin dia masih kurang baik dalam menguasai bahasa Arab, sehingga dia tidak dapat memahaminya dengan benar.

V. BUKTI KELEMAHANNYA DALAM BAHASA ARAB.

Pertama:

Sebagai contoh kesalahan dia dalam bahasa adalah nukilannya :

وَيُشِيْرُ بِأُصْبِعِهِ وَلَا يُحَرِّكُهَا وَيَقُوْلُ إِنَّهَا مُذِبَّةُ الشَّيْطَانِ وَيَقُوْلُ كَانَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَفْعَلُهُ.

…dan beliau berisyarat dengan jarinya dan tidak menggerakannya dan beliau berkata : “Sesungguhnya itu adalah penjaga dari Syaithan”. Dan beliau berkata : “Adalah Rasulullah SAAW mengerjakannya.

Saya berkata : Sepertinya dia belum begitu pandai dalam membaca tulisan Arab, sebab di atas dia mengharakatkan: “مُذِبَّةُ ” , padahal seharusnya dia mengharakatkan: “مِذَبَّةُ ” , yakni dengan mengkasrahkan huruf 2“Mim” dan memfathahkan huruf “Dza” nya, karena kata itu berasal dari kata “ذَبَّ يَذِبُّ ذَبًّا

Mungkin ada sebagaian orang yang akan berkata bahwa ini merupakan kesalahan yang biasa terjadi pada tulisan-tulisan, maka saya katakan : Memang benar ini merupakan sebuah kesalahan yang biasa terjadi, akan tetapi dalam hal ini al akh Dzulqarnain tidak pernah membenarkannya atau meralatnya, bahkan ia justru menyebarkannya di internet dengan tanpa rasa malu sedikit pun juga, padahal Nabi telah bersabda :

((…إِذَا لَمْ تَسْتَحِ فَاصْنَعْ مَا شِئْتَ)).

Artinya : … jika kamu tidak malu, maka kerjakanlah sesukamu.

[ Diriwayatkan oleh al Bukhari no. 3484 & 3485 , dan oleh yang lainnya. ]

Kemudian kesalahan itupun mempengaruhi makna, sehingga dia pun tidak terlalu tepat mengartikan kata tersebut, yang seharusnya dia artikan “Penghalau”, dia hanya mengartikan “Penjaga”, sehingga arti ini kurang tepat menurut saya, wallahu a’lam.

Kedua:

Kemudian dia juga keliru dalam mengharakatkan kata yang lainnya, yakni kata : إِصْبَعَهِ, seharusnya dia tulis إِصْبَعَهُ.

Pada awalnya saya hendak memasukkan kesalahan ini pada kesalahan cetak saja, akan tetapi al akh Dzulqarnain terus-menerus menyebarkan tulisan yang berisi banyak kesalahan itu, maka saya berkesimpulan bahwa ini bukan sekedar salah cetak, wallahu a’lam.

Apabila kita lihat tulisan dia ini, maka dapatlah kita katakan bahwa apabila dalam tulisan yang sedikit ini dia melakukan kesalahan yang sebanyak itu, maka bagaimana bila dia menulis yang lebih banyak lagi? Allahul musta’an.

VI. KESALAHAN CETAK

Tentang kesalahan cetak dalam tulisannya itu, maka sangat banyak sekali, sebagai contoh saya akan sebutkan tiga contoh saja, karena penyebutannya secara keseluruhan akan memakan tempat yang sangat banyak.

Contoh pertama:

Dia berkata : “Enam rawi yang tersebut di atas… ini merupakan kesalahan cetak, seharusnya ditulis “Tujuh rawi“…, “ kemudian ada kesalahan penulisan nomor sehingga membingungkan para pembaca, dia menulis sebagai berikut, dengan memberikan dua nomor sekaligus:

dan ini merupakan kesalahan karena dua sebab :

1. Enam rawi yang tersebut di atas dalam riwayat mereka tidak menyebutkan lafadz laa yuharrikuha ( tidak digerak-gerakkan).

2. Dalam riwayat Ayyub As-Sikhtiany : …

Contoh Kedua :

Dalam penulisan “Shalallahu ‘Alaihi Wa Sallam,” dia tulis “SAAW” seharusnya – kalaupun boleh untuk disingkat maka seharusnya ditulis : “SAW” padahal dalam hal ini para ulama telah melarang penyingkatan semacam itu, wallahul Musta’an.

Contoh Ketiga:

Dia banyak salah dalam memanjang dan memendekkan bacaan, sebagai contoh saja, dia menuliskan kata “Syadz” seperti ini : “Syazd,” padahal bila hendak mengikuti kaidah penulisannya sendiri, maka seharusnya dia tulis seperti ini: “Syadz” dengan memberikan garis di bawah huruf “a”, karena memang ia dibaca panjang. Dan yang seperti itu banyak, dan masih banyak contoh-contoh yang lainnya, akan tetapi saya cukupkan yang ada ini.

VII. AL AKH DZULQARNAIN TIDAK MENGIKUTI SUNNAH NABI

Pertama:

Saya berkata : Al akh Dzulqarnain tidak pernah bershalawat kepada Nabi setiap kali dia menyebut nama beliau dalam tulisannya ini, padahal Nabi telah bersabda:

رَغِمَ أَنْفُ امْرِىءٍ ذُكِرْتَ عِنْدَهُ فَلَمْ يُصَلِّ عَلَيْكَ فَقُلْتُ آمِيْنَ


Artinya: …celaka seseorang yang disebut namamu di sisinya, akan tetapi dia tidak bershalawat atasmu, maka aku ( Nabi ) menjawab: Aamiin.”

[Hadits tersebut telah diriwayatkan oleh Bukhari dalam kitab Adabul Mufrad no. 646 dan oleh yang lainnya, Imam al Albani berkata dalam kitab Shahih Adabul Mufrad no. 502, “Hasan Shahih.”] 3

Akan tetapi saya tetap berhusnuzhzhan (berbaik sangka) kepada seorang muslim, mudah-mudahan al akh Dzulqarnain tetap bershalawat dengan lisannya, Aamiin.

Adapun singkatan “SAW,” maka itu bukanlah shalawat, perhatikan hal itu!

Kedua:

Al Akh tidak membuka atau menutup perkataan atau “Fatwa” nya itu dengan puji-pujian kepada Allah, walaupun hanya dengan isyarat saja. Padahal Nabi selalu membuka khutbahnya dengan puji-pujian kepada Allah. Lihat keterangan tentang permasalahan tersebut dalam kitab al Masaa-il jilid 1 halaman 1, karya guru kami Ustadz Abdul Hakim bin Amir Abdat – hafizhahullah, atau di kitab Syarah Akidah Ahlus Sunnah Wal Jama’ah karya Ustadz Yazid bin Abdul Qadir Jawas – hafizhahullah, karena di kedua kitab tersebut ada keterangan yang Sunnah tentang hal itu.

Inilah beberapa bantahan saya atas tulisan tersebut, saya selalu berharap mudah-mudahan dengan bantahan ini, al akh dapat bersikap rendah hati, dan tidak selalu berusaha menjatuhkan kehormatan orang lain sesama muslim. Karena sesungguhnya kesalahan yang ada pada diri kita sangat banyak sekali, dan hal itu sangatlah jelas pada dirinya, sebagaimana yang dapat pembaca lihat dari bantahan penulis sebelum ini. Dan dikatakan:

Binasalah seseorang yang tidak tahu diri

Dan di dalam syair dikatakan :

Rendahkanlah hatimu

Jadilah seperti bintang yang bayangnya berada di kerendahan permukaan air, menerangi siapapun yang melihatnya.

Padahal dia berada tinggi di atas langit sana

Janganlah kamu seperti asap, yang melayang tinggi ke udara,

Padahal dia itu rendahan dan hina.

Semoga Allah berkenan untuk mengampuni dosa-dosa kita semua, dan juga berkenan untuk menunjuki kita semua kepada jalan-Nya yang lurus dan akhir do’a kami adalah segala puji bagi Allah Rabb semesta alam.

Jakarta, Jum’ah 19 Dzulqa’dah 1425 / 31 Des 04

———

  1. Tulisannya yang telah diedarkan di majalah an Nashihah dan di internet. Dan bantahan ini selesai ditulis di jakarta pada hari Sabtu, 21 Rabi’uts Tsani 1425 H / 10 Juni 2004 M.
  2. Lihat kamus al Mu’jamul Wasith ( I/309)
  3. Dan saya juga telah mempunyai takhrij hadits ini dengan panjang lebar di salah satu tulisan saya yang masih berbahasa Arab yang khusus berisi takhrij hadits tersebut, dan di sini saya hanya menurunkan salah satunya saja, yakni dari jalan Abu Hurairah radhiyallahu’anhu.

Sumber :
Dinukil dari Buku Petunjuk Bagi Mereka Yang Menolak Untuk Menggerakkan Jari Telunjuk Ketika Tasyahhud halaman 24-36 karya ustadz Ibnu Saini Rahimahullah

Print Friendly, PDF & Email