KEWAJIBAN SEORANG ALIM KETIKA BERGAUL DENGAN MANUSIA

KEWAJIBAN SEORANG ALIM KETIKA BERGAUL DENGAN MANUSIA

Syaikh Al-Imam Nashiruddin Al-Albani -rahimahullah berkata: “wajib bagi seorang alim yang berbincang bersama orang awam ketika duduk bermajlis bersama mereka untuk menjelaskan kewajiban, keharaman, ketaatan yang bersifat sunnah, menyebutkan pahala dan siksa bagi perbuatan kebaikan dan keburukan. Dan perbincangannya bersama mereka hendaknya dengan ungkapan yang mudah dan jelas sehingga mereka bisa mengetahui dan memahaminya, serta menambah kejelasan untuk perkara-perkara yang ia (seorang alim) ketahui bahwa mereka (masyarakat) memang melakukannya. Dia (orang alim) tidak boleh diam sampai ditanya tentang sesuatu dari ilmu, padahal dia mengetahui bahwa mereka sangat butuh kepada penjelasannya. Karena pengetahuan seorang alim tentang keadaan mereka adalah pertanyaan dari mereka (secara tidak langsung) dengan lisanul hal (isyarat perbuatan).

Orang-orang awam, sikap mereka didominasi oleh bermudah-mudahan dalam urusan agama, baik secara ilmu maupun secara amalan. Maka tidak boleh bagi ulama untuk menolong mereka dalam sikap tersebut dengan diam tidak mengajarkan dan membimbing mereka, sehingga kebinasaan akan tersebar dan musibah akan membesar. Tidak sedikit apabila engkau menguji orang awam -dan kebanyakan manusia adalah orang awam- kecuali mereka tidak mengetahui tentang kewajiban dan keharaman dalam perkara agama yang tidak ada uzur bagi seorang hamba untuk tidak mengetahuinya.

Kalaupun tidak ditemukan kejahilan secara menyeluruh, niscaya akan didapati jahil terhadap sebagiannya, dan kalaupun ia mengetahui sebagian ilmu agama, engkau akan mendapati bahwa ilmunya diambil dari apa yang didengar dari lisan-lisan manusia. Kalaupun engkau mau membongkar kejahilannya, dapat engkau lakukan dengan mudah, karena tidak adanya pondasi/pokok dan keabsahan dalam perkara yang ia ketahui.

Wajib bagi para ulama, terlebih apabila mereka bagian dari penguasa (qodhi), untuk menasehati manusia ketika mereka mengadukan perselisihan mereka kepadanya, dan harus membuat mereka takut dengan apa yang datang dari Allah dan rasul-Nya berupa ancaman keras bagi dakwa yang dusta, persaksian palsu, sumpah yang bohong, dan muamalah yang rusak, seperti riba dan selainnya. Mereka harus mengingatkan manusia dengan dalil yang datang menjelaskan pengharaman perkara-perkara ini, dan beratnya siksa terhadapnya. Yang demikian karena dominannya kebodohan dan ketamakkan mereka serta kurang perhatiannya terhadap agama.

Betapa banyaknya orang awam yang mendengar keharaman dusta dalam dakwa, persaksian dan sumpah mereka tidak jadi melakukan apa yang sudah mereka niatkan (berdusta) karena kebodohan dan sedikitnya ilmu. Kesimpulannya, sangat ditekankan bagi ulama untuk duduk bersama manusia dengan ilmu, berbicara bersama mereka dengan ilmu, menyebarkan ilmu kepada mereka. Dan perkataan seorang alim bersama mereka berisi penjelasan tentang perintah agama yang berkaitan dengan sebab kedatangan mereka kepada ulama.

Sebagai contoh: apabila mereka datang untuk akad pernikahan, maka pembicaraanya kepada mereka adalah hal-hal yang berkaitan dengan hak-hak wanita, berupa: mahar pernikahan, nafkah, bergaul dengan baik, dan segala hal yang berkaitan.

Dan contoh lain: apabila mereka datang untuk akad jual beli, maka pembicaraannya kepada mereka adalah tentang persaksian, sah atau tidaknya jual beli, dan semisalnya. Pembicaraan ini, lebih baik dan utama ketika seorang alim duduk bersama mereka, dibandingkan larut dalam pembicaraan yang tidak bermanfaat, dan yang tidak berkaitan dengan kebutuhan mereka dan tidak berkaitan dengan agama mereka. Tidak pantas bagi seorang alim mendalami obrolan bersama mereka dan tidak boleh menghabiskan sedikitpun waktunya selain untuk menegakkan agama.

Dan apa yang telah kami sebutkan berupa: seorang alim sangat ditekankan kepadanya agar waktu bermajlis, bergaul bersama orang awam dari kaum muslimin dihabiskan untuk mengajarkan, menyadarkan, dan mengingatkan mereka terlebih khusus pada jaman ini adalah perkara yang paling penting bagi seorang alim untuk; mengalahkan kelalaian, kebodohan dan berpaling kebanyakan manusia dari ilmu dan amal.

Apabila ahli ilmu menolong mereka dalam kelalaian ini dengan diam dari mengajarkan dan mengingatkan mereka, maka keburukan dan kerusakan akan merajalela. Dan yang demikian bisa disaksikan, karena orang awam mengabaikan perkara agama, sedangkan ulamanya terdiam dari mengajarkan dan memberitahu mereka, laa haula walaa quwwata illa billlah.
(Islaahul Masaajid, hal. 38-40)

Dika Wahyudi Lc.

Sumber: https://web.facebook.com/dika.wahyudi.140/posts/1703463066474213

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*