Tanggapan Untuk Saudara Arifin Badri : Bukan Salafiy Menguji Salafiy

Ustadz Mahfudz Umri -hafizhahullah- menulis:

Bukan Salafiy Menguji Salafiy

Pada tanggal 11 april 2020, pukul 02:56, saudara Arifin Badri -hadaanallah wa iyyaah- menulis:

“Kesalafiyan Anda diuji.

Pendapat sahabat Abu Bakar dikritisi, Anda adem ayem.

Pendapat sahabat Umar bin Al Khatthab dikritisi anda woles saja.

Pendapat Imam Sa’id bin Musayyib dikupas tuntas Anda seakan sedang nyruput es kelapa muda.”
(Selesai kutipan dari: https:*//www.facebook.com/405218379559341/posts/2855601271187694/*).

—————

Maka, Saya (Mahfuzh Umri) katakan:

Jika kita perhatikan perkataan saudara Arifin di atas, ada hubungannya dengan ulasan dia yang tidak sopan kepada Sahabat Nabi dan Tabi’in, yang dia tulis di FBnya tgl 30 Maret 2020 pkl 06:19, dia menulis:

“Mereka berdua lebih senior dan lebih paham dalil dibanding dirimu senjata pemungkas muqallidun sedari dahulu kala.

Dahulu sahabat Ibnu Abbas -radhiallahu anhu- mengajarkan bahwa menunaikan haji dan umrah dalam satu perjalanan (Tamattu’) adalah boleh bahkan lebih dianjurkan.

Namun Urwah bin Az Zubair dengan tegas menentang, berdalihkan dengan sikap sahabat Abu Bakar dan Umar radhiallahu anhuma, mengabaikan latar belakang sikap kedua khalifah tersebut. Baginya, kedua khalifah di atas lebih menguasai dalil, lebih senior dan lebih paham dibanding sahabat Ibnu ‘Abbas radhiallahu ‘anhu.

Saking yakinnya ‘Urwah dengan pemahamannya, ia datang dengan maksud menasehati Ibnu ‘Abbas radhiallahu ‘anhu: Tidakkah engkau bertaqwa kepada Allah, engkau membolehkan orang lain untuk menunaikan haji tamattu’? Maka Ibnu Abbas menjawab: Wahai Urayyah (Urwah imut), tanyakan saja kepada ibumu.

Merasa yakin dengan pendapatnya, maka urwah berusaha mementahkan jawaban Ibnu Abbas, Urwah kembali berkata: Akan tetapi Abu Bakar dan Umar tidak melakukan tamattu’

Maka Ibnu Abbas kembali menanggapinya dengan berkata:

والله ما أراكم منتهين حتى يعذبكم الله ، أحدثكم عن رسول الله ، وتحدثونا عن ابي بكر وعمر

Sungguh demi Allah kalian tidak akan berhenti dari keselah pahaman kalian hingga pada saatnya Allah turunkan azab kepada kalian, aku sampaikan kepada kalian dalil dari Rasulullah, namun dengan cerobohnya kalian mentahkan dengan pendapat Abu Bakar dan Umar.

Lagi lagi Urwah berusaha menentang penjelasan sahabat Ibnu Abbas dengan berkata:

لهما أعلم بسنة رسول الله ، وأتبع لها منك 

Sungguh keduanya lebih paham tentang sunnah Rasulullah dibanding dirimu wahai Ibnu Abbas. (Riwayat Ahmad, Al Khathib Al Baghdadi Ibnu Abdil Bar dll)

Bila sikap pokoknya kata senior, atau pokoknya mereka lebih sepuh, atau pokoknya keberkahan bersama yang lebih tua, dan ucapan lain yang serupa ini, ternyata bukan hanya terjadi hari ini saja, tapi juga sudah sejak dahulu kala. Bahkan oleh seorang yang sangat berilmu, semisal Urwah bin Az Zubair.
(Selesai kutipan dari https:*//www.facebook.com/405218379559341/posts/2829325977148557/*)

Maka Saya (Mahfuzh Umri) katakan:
#Pertama, Mari kita hadirkan teks hadits dengan lengkap. Berikut ini ada dua jalan terkait riwayat tersebut:

Riwayat ke-1:

Dari periwayatan Abdullah bin Abbas -radhiallahu’anhuma-:

عن عبدالله بن عباس: تمتَّعَ رسولُ اللَّهِ صلّى اللَّهُ عليه وسلَّمَ فقال عُروةُ: نهى أبو بكرٍ وعُمرُ عَنِ المُتعةِ، فقال ابنُ عبّاسٍ: فما يقولُ عُرَيَّةُ؟ قال: نهى أبو بكرٍ وعُمرُ عَنِ المُتعةِ. قال: أُراهُمْ سيَهلِكونَ. أقولُ: قال رسولُ اللَّهِ، ويقولونَ: قال أبو بكرٍ وعُمرُ!
(شعيب الأرنؤوط {١٤٣٨ هـ}، تخريج سير أعلام النبلاء ١٥/ ٢٤٢٢٤٣ • إسناده ضعيف .)

Artinya: Dari Abdullah bin Abbas -radhiyallaahu anhuma-, ia berkata: “Rasulullah -Shallallaahu alaihi wa sallam- melakukan haji tamatthu’.” Kemudian Urwah berkata: “Abu Bakr dan Umar melarang haji tamatthu’!” Kemudian Ibnu Abbas berkata: Aku lihat mereka akan binasa, karena Aku katakan bahwa ‘Rasulullah bersabda,’ mereka malah menjawab: ‘Abu Bakr dan Umar keduanya berkata (berbeda dengan sabda beliau)!'”
(HR. Ahmad, Ibnu Abdil Bar, dan al Khatib al Bagdadi).

Riwayat ke-2:

Dari periwayatan Ayyub -rahimahullah-

عن أيوب: قال عُرْوةُ لابنِ عبّاسٍ: ألا تَتَّقي اللهَ تُرَخِّصُ في المُتْعةِ؟ فقال ابنُ عبّاسٍ: سَلْ أمَّكَ يا عُرَيَّةُ، فقال عُرْوةُ: أمّا أبو بَكرٍ وعُمَرُ، فلم يَفْعَلا، فقال ابنُ عبّاسٍ: واللهِ ما أُراكم مُنتَهينَ حتى يُعذِّبَكمُ اللهُ، أُحدِّثُكم عن رسولِ اللهِ ﷺ، وتُحَدِّثونا عن أبي بَكرٍ وعُمَرَ؟ فقال عُرْوةُ: لَهُما أعلَمُ بسُنةِ رسولِ اللهِ ﷺ، وأتبَعُ لها منكَ.
شعيب الأرنؤوط (١٤٣٨ هـ)، تخريج زاد المعاد ٢/١٩١ • إسناده صحيح

Artinya: Riwayat dari Ayyub, ia berkata bahwasanya Urwah -rahimahumallah- berkata kepada Ibnu Abbas -radhiallahu’anhu-: “Tidakkah engkau bertaqwa kepada Allah, engkau membolehkan (haji) tamatthu’?!” Maka Ibnu Abbas berkata: Tanyakan pada ibumu wahai Urayyah (tasghir dari Urwah)!” Lalu Urwah berkata: “Adapun Abu Bakr dan Umar -radhiallahu ‘anhuma- keduanya tidak melakukannya (tamatthu)!”. Kemudian Ibnu Abbas -radhiallahu’anhu- berkata: “Demi Allah! aku lihat kalian tidak berhenti hingga Allah adzab kalian! aku sampaikan pada kalian dari Rasulullah, dan kalian malah menyampaikan padaku dari Abu Bakr dan Umar!!?” Maka Urwah -rahimahullah- berkata: “Bukankah keduanya lebih tahu tentang sunnah dan lebih ittiba'(mengikuti) dibandingkan engkau!?”

#Takhrij Ringkas:

Adapun riwayat Ibnu Abbas -radhiallahu’anhu- dari jalan Syarik bin Abdillah al Qaadi dari al ‘Amasy dari al Fudhail bin ‘Amr -rahimahumullah-, sanad tersebut DHO’IF (lemah) karena perawi yg bernama Syarik bin Abdillah al Qaadi. Al Imam Al Albani berkata dlm kitab Silsilah al Ahadits ad Dha’ifah juz 11 no.hadits 5089:
“Hadits ini sanad lemah semua perawinya tsiqah kecuali Syarik bin Abdillah al Qaadi, meskipun dia termasuk rawinya Imam Muslim namun dia tidak bisa dijadikan hujjah tapi bisa dijadikan mutaba’ah sbgmna dijelaskan al Hafidz adz Dzahabi diakhir biografinya dlm kitab al Mizan dan yang sebelumnya, yaitu al Hafidz al Mundziri di akhir kitabnya at Targhib. Para Ulama beda pendapat tentangnya (Syarik). Ibnu Hajar -rahimahullah- memberikan rangkumannya dalam at Taqrib dan berkata: “Dia (Syarik) Shaduuq, tapi banyak salahnya, dan hafalannya berubah setelah menjadi qadi di Kufah.”

Adapun riwayat Ayyub -rahimahullah- dari jalan Abdur Razzaq telah berbicara kepada kami; Ma’mar dari Ayyub dan sanad tersebut shahih sebagaimana penjelasan al Imam Al Albani dalam Silsilah al Ahaadits as Shahiihah, juz 6 hal: 1096.

*Jika kita perhatikan tulisan saudara Arifin Badri tersebut, dia menggabung dua riwayat, padahal jalan kedua riwayat tersebut berbeda; yang pertama DHO’IF dan yang kedua SHAHIH sebagaimana penjelasan di atas.*

#Kedua, *saudara Arifin Badri tidak sepantasnya mengatakan bahwa Urwah -rahimahullah- adalah: “yang notabene seorang Tabi’in sebagai muqallid”; dan dikatakan sebagai “menentang Ibn Abbas”! kenapa??:*

[1]. Urwah -rahimahullah- adalah termasuk al Fuqoha’ as Sab’ah, yaitu salah satu dari tujuh Fuqoha terkemuka di Madinah.
(Lihat: Syiar a’laamu an Nubalaa’, juz 4 hal: 423)

[2]. Kenapa saudara Arifin Badri mengatakan tentang Urwah -rahimahullah- dengan perkataan tidak sopan kepada Ulama Tabiin dengan sebutan “muqollid (dengan nada negatif) menentang dan mementahkan jawaban Ibn Abbas.”!??
Kenapa yang ada dalam kepala saudara Arifin itu pikiran-pikiran negatif kepada Urwah -rahimahullah-!!?
Lihatlah Umar bin al Khattab -radhiallahu’anhu- ketika menanyakan hadits izin bertamu kepada Abu Musa al Asyari -radhiallahu’anhu- hingga minta saksi, apakah dianggap tidak percaya atau menentang hadits Nabi !??

Silahkan lihatlah hadits tersebut:

عن أبي سعيد الخدري كُنّا في مَجْلِسٍ عِنْدَ أُبَيِّ بنِ كَعْبٍ، فأتى أَبُو مُوسى الأشْعَرِيُّ مُغْضَبًا حتّى وَقَفَ، فَقالَ: أَنْشُدُكُمُ اللَّهَ هلْ سَمِعَ أَحَدٌ مِنكُم رَسولَ اللهِ ﷺ يقولُ: الاسْتِئْذانُ ثَلاثٌ، فإنْ أُذِنَ لَكَ، وإلّا فارْجِعْ قالَ أُبَيٌّ: وَما ذاكَ؟ قالَ: اسْتَأْذَنْتُ على عُمَرَ بنِ الخَطّابِ أَمْسِ ثَلاثَ مَرّاتٍ، فَلَمْ يُؤْذَنْ لي فَرَجَعْتُ، ثُمَّ جِئْتُهُ اليومَ فَدَخَلْتُ عليه، فأخْبَرْتُهُ، أَنِّي جِئْتُ أَمْسِ فَسَلَّمْتُ ثَلاثًا، ثُمَّ انْصَرَفْتُ.
قالَ: قدْ سَمِعْناكَ وَنَحْنُ حِينَئِذٍ على شُغْلٍ، فلوْ ما اسْتَأْذَنْتَ حتّى يُؤْذَنَ لكَ قالَ: اسْتَأْذَنْتُ كما سَمِعْتُ رَسولَ اللهِ ﷺ قالَ: فَواللَّهِ، لأُوجِعَنَّ ظَهْرَكَ وَبَطْنَكَ، أَوْ لَتَأْتِيَنَّ بمَن يَشْهَدُ لكَ على هذا. فَقالَ أُبَيُّ بنُ كَعْبٍ: فَواللَّهِ، لا يَقُومُ معكَ إلّا أَحْدَثُنا سِنًّا، قُمْ، يا أَبا سَعِيدٍ، فَقُمْتُ حتّى أَتَيْتُ عُمَرَ، فَقُلتُ: قدْ سَمِعْتُ رَسولَ اللهِ ﷺ يقولُ هذا.
مسلم (٢٦١ هـ)، صحيح مسلم ٢١٥٣ • [صحيح] •

Dari Abu Sa’id Al Khudri -radhiallahu ‘anhu-, ia berkata:
“Dahulu kami di suatu majlis di samping Ubay bin Ka’ab, lalu datanglah Abu Musa Al Asy’ari -radhiallahu’anhum- dalam keadaan marah hingga ia pun berhenti, lalu ia berkata: ‘Aku persaksikan kalian di hadapan Allah, apakah salah seorang diantara kalian ada yang mendengar Rasulullah-shalallahu alaihi wa sallam- bersabda: ‘Permintaan izin itu tiga kali, apabila diizinkan maka boleh bagimu, dan bila tidak diizinkan maka pulanglah!'”.

Lalu Ubay -radhiallahu’anhu- berkata: “Lantas kenapa??” Abu Musa berkata: “Aku kemarin telah meminta izin kepada Umar bin Khattab -radhiallahu’anhu- tiga kali, Namun Umar belum juga mengizinkanku lalu aku pun pulang. Kemudian hari ini aku masuk ke (rumah) Umar maka aku kabarkan padanya bahwa aku kemarin datang dan mengucapkan salam tiga kali kemudian aku pulang.”

Lalu Umar berkata: “Sungguh kami telah mendengarmu namun kami saat itu sedang dalam kesibukan. Seandainya kau (kemarin) terus meminta izin sampai kau pun diizinkan!’

Lalu Abu Musa berkata: “Sungguh aku telah meminta izin sebagaimana (cara) yang aku dengar dari Rasulullah -shalallahu ‘alaihi wa sallam-.”

Maka Umar -radhiallahu ‘anhu- berkata: “Demi Allah! Sungguh Aku akan menyakiti punggung dan perutmu! Atau kau membawakan kepadaku orang yang menjadi saksi atas (hadits) yang kau sebutkan itu (tentang cara meminta izin -pent.)!”

Maka Ubay bin Ka’ab -radhiallahu’anhu- berkata: “Demi Allah! Tidak ada seorangpun yang akan bangkit berangkat bersamamu kecuali yang paling muda diantara kami. Berdirilah wahai Abu Sa’id!”
Maka aku (Abu Sa’id) bangkit dan aku datangi Umar lalu aku katakan: ‘Sungguh aku pun telah mendengar Rasulullah -shalallahu alaihi wa sallam- bersabda yang demikian itu.”
(HR. Muslim).

Alhamdulillah, *Umar bin Khattab -radhiallahu’anhu- menyampaikan alasannya kepada Abu Musa al Asyari -radhiallahu’anhu-, yaitu: Agar jangan ada yang berdusta atas nama Nabi -shallallaahu alaihi wasallam-, dan beliau bukan menuduh Abu Musa al Asy’ari -radhiallahu’anhu-. Seandainya Umar bin Khattab -radhiallahu’anhu- tidak menjelaskan alasannya, bisa jadi saudara Arifin Badri mengatakan yang sama pada Umar sebagaimana kepada Urwah bahwa ia “menentang”, atau bahkan juga “mengancam”, “…sok senior…”, dan lain sebagainya!!*
Dan sungguh ucapan seperti itu memang bukanlah ucapan salafiy kepada para Salaf !

Kita perhatikan lagi hadits berikut

[عن أبي موسى الأشعري:] فقال عمرُ لأبي موسى: أما إني لم أتَّهِمْك، ولكن خشيتُ أن يتقوَّلَ الناسُ على رسولِ اللهِ ﷺ.
الألباني (١٤٢٠ هـ)، صحيح أبي داود ٥١٨٤ • إسناده صحيح • أخرجه أبو داود (٥١٨٤) واللفظ له، ومالك في «الموطأ» (٢/٩٦٤

Dari Abu Musa Al Asy’ari -radhiallahu ‘anhu-, ia berkata bahwasanya Umar -radhiallahu’anhu- berkata kepadanya: “Adapun aku, sungguh aku tidak menuduhmu (berdusta)! Tetapi aku khawatir manusia nantinya gampang berdusta mengklaim sesuatu atas nama Rasulullah -shalallahu ‘alaihi wa sallam-!”
(HR. Abu Daud, dishahihkan Al Albani dalam shahih Abi Daud, 5184, dan yang lainnya).

[3]. Lihatlah hadits Abu Hurairah -radhiallahu’anhu- ketika Ibnu Umar -radhiallahu’anhu- mendengar riwayat dari Abu Hurairah tentang keutamaan menshalati dan mengiringi jenazah hingga dikuburkan, Ibnu Umar mengutus Khabbab kepada Aisyah -radhiallahu ‘anhum jamii’an- untuk menanyakan tentang hadits tersebut. Apakah Ibnu Umar tidak percaya terhadap riwayat Abu Hurairah -radhiallahu ‘anhum- padahal beliau menyandarkan pada Nabi -shallallaahu ‘alaihi wasallam-?? Tentu jawabannya tidak…! Namun, entah kalau ulasan dari saudara Arifin Badri…??!!

Mari perhatikan hadits tersebut

[عن أبي هريرة:] أنَّهُ كانَ قاعِدًا عِنْدَ عبدِ اللهِ بنِ عُمَرَ، إذْ طَلَعَ خَبّابٌ صاحِبُ المَقْصُورَةِ، فَقالَ يا عَبْدَ اللهِ بنَ عُمَرَ: أَلا تَسْمَعُ ما يقولُ أَبُو هُرَيْرَةَ، أنَّهُ سَمِعَ رَسولَ اللهِ ﷺ يقولُ: مَن خَرَجَ مع جِنازَةٍ مِن بَيْتِها، وَصَلّى عَلَيْها، ثُمَّ تَبِعَها حتّى تُدْفَنَ كانَ له قِيراطانِ مِن أَجْرٍ، كُلُّ قِيراطٍ مِثْلُ أُحُدٍ، وَمَن صَلّى عَلَيْها، ثُمَّ رَجَعَ، كانَ له مِنَ الأجْرِ مِثْلُ أُحُدٍ؟

Dari Abu Hurairah -radhiallahu’anhu-, bahwasanya ia dahulu sedang duduk di samping Abdullah bin Umar -radhiallahu’anhuma-, tiba-tiba muncullah Khabbab (shaahibul Maqshuurah) -radhiallahu ‘anhu-, lalu Khabbab berkata: “Wahai Abdulllah bin Umar, tidakkah kau mendengar apa yang dikatakan Abu Hurairah? Bahwa ia telah mendengar Rasulullah -shalallahu alaihi wa sallam- bersabda: ‘Barangsiapa keluar bersama jenazah dari rumahnya dan juga menshalatinya kemudian mengikuti mengantar jenazah itu sampai dikuburkan, maka baginya mendapatkan pahala sebesar dua Qirath. Setiap satu Qirath itu sebesar gunung Uhud.
Barangsiapa menshalati jenazah tersebut sampai ia pulang maka baginya mendapatkan pahala sebesar gunung Uhud?”

فأرْسَلَ ابنُ عُمَرَ خَبّابًا إلى عائِشَةَ يَسْأَلُها عن قَوْلِ أَبِي هُرَيْرَةَ، ثُمَّ يَرْجِعُ إلَيْهِ فيُخْبِرُهُ ما قالَتْ: وَأَخَذَ ابنُ عُمَرَ قَبْضَةً مِن حَصى المَسْجِدِ يُقَلِّبُها في يَدِهِ، حتّى رَجَعَ إلَيْهِ الرَّسُولُ، فَقالَ: قالَتْ عائِشَةُ: صَدَقَ أَبُو هُرَيْرَةَ، فَضَرَبَ ابنُ عُمَرَ بالحَصى الذي كانَ في يَدِهِ الأرْضَ، ثُمَّ قالَ: لقَدْ فَرَّطْنا في قَرارِيطَ كَثِيرَةٍ.
مسلم (٢٦١ هـ)، صحيح مسلم ٩٤٥ • [صحيح] •

Maka Ibnu Umar mengutus Khabbab kepada Aisyah -radhiallahu ‘anhum jamii’an- untuk menanyakannya tentang perkataan Abu Hurairah tersebut agar Khabbab kembali kepada Ibnu Umar dengan mengabarkan apa yang dikatakan oleh Aisyah -radhiallahu’anhum-. Maka Ibnu Umar mengambil kerikil masjid lalu ia bulak-balikkan di tangannya. Sampai utusannya itu (Khabbab) datang lalu mengatakan bahwasanya Aisyah berkata: “Abu Hurairah telah benar!”
Maka Abdullah bin Umar melemparkan kerikil yang ada di tangannya itu ke bumi! Lalu berkata: “Sungguh kita telah menyia-nyiakan banyak Qirath!!”
(HR. Muslim).

[4]. Sepantasnya saudara Arifin Badri berbaik sangka kepada Urwah -rahimahullah-, karena beliau itu Tabi’in, salah seorang dari tujuh Fuqoha Madinah! Dan seharusnya saudara Arifin memandang Urwah -rahimahullah- dari sudut yang pandang positif, karena “Tidak ada seorang ulama pun -yang telah diterima oleh ummat secara umum-, dengan sengaja menyelisihi sunnah Rasulullah -shallallaahu alaihi wasallam- !! … Karena mereka sepakat dengan keyakinan yang pasti atas wajibnya Ittiba’ kepada Rasul -shalallahu alaihi wa sallam-. ”
(Raf’ul Malam ‘anil aimmatil ‘alaam hal: 60 Tahqiq: Abdurrohman bin Ahmad al Jumaizi Dar al ‘Ismah)

[5]. Kita berbaik sangka kepada Urwah bin az Zubair -radhiallahu ‘anhuma- yang telah menyanggah Ibnu Abbas -radhiallahu’anhu- adalah karena kecemburuan Urwah kepada Sunnah, dan karena Abu Bakr dan Umar -radhiallahu’anhuma- merupakan seniornya Ibnu Abbas -radhiallahu’anhu- , dan boleh jadi (dengan penilaian positif kita pada Urwah) sikap beliau itu karena mengamalkan hadits:

اقتدوا باللذَينِ من بعدي أبي بكرٍ وعمرَ !
ابن عبد البر (٤٦٤ هـ)، جامع بيان العلم ٢/١١٦٥ • حسن • أخرجه الترمذي (٣٦٦٢)، وابن ماجه (٩٧)، وأحمد (٢٣٢٩٣)

“Hendaklah kalian mengikuti dua orang ini sepeninggalku, yaitu: Abu Bakar dan Umar!”
(HR. Tirmidzi, dan yang lainnya).

Jika kita perhatikan penilaian kedua orang Salaf tersebut begitu sopan, menjaga kehormatan dan berusaha mengarah pada penilaian positif dan pembelaan, bukan seperti saudara Arifin! di mana dia malah mengatakan:

  • “Senjata pamungkas muqollidin sedari dahulu kala….”,

  • “Namun Urwah bin az Zubair dengan tegas menentang….”.

  • “Baginya, kedua khalifah di atas lebih menguasai dalil, lebih senior dan lebih paham dibanding sahabat Ibn Abbas radhiyallahu anhu……”

  • “Saking yakinnya Urwah dengan pemahamannya…….”

  • “Maka Urwah berusaha mementahkan jawaban Ibn Abbas…..”

  • “Bila sikap ‘pokoknya kata senior atau pokoknya mereka lebih sepuh ikuti yang lebih sepuh”

[6]. Kita lihat bagaimana salafiy menyikapi kaum Salaf, pasti berbeda dengan penilaian dari yang bukan Salafiy (terkait atsar di atas yang dibawakan oleh saudara Arifin Badri -‘aafaniyallah wa iyyahu- ).

1). Penilaian al Khatib al Baghdadi -rahimahullah- (392 – 463 H.) terhadap Urwah bin az Zubair -rahimahullah-, beliau berkata: “Benar adanya tentang Abu Bakr dan Umar -radhiallahu’anhuma- sebagaimana yang disifati oleh Urwah ( yakni al Baghdadi mengakui sifat yg diberikan Urwah pada mereka berdua, yaitu: lebih paham Sunnah dan lebih Ittiba’). Namun tidak boleh bagi seseorang untuk Taklid yang kemudian meninggalkan Sunnah Rasulullah -shallallaahu alaihi wasallam-!”.
(al Faqih wal mutafaqqih juz:1 hal:378)

2). Penilaian adz Dzahabi (673-748 H), beliau berkata:
“Aku katakan: Urwah tidak bermaksud mempertentangkan (sabda) Nabi -shalallahu alaihi wasallam- dengan (perkataan) keduanya (yaitu: Abu Bakr dan Umar) bahkan Urwah berpendapat bahwa tidaklah Abu Bakr dan Umar melarang haji Tamatthu’ kecuali memang keduanya sudah mengetahui (hadits) yang me-mansukh (menghapus larangan tersebut).”
(Syiar ‘alaam an Nubalaa’.juz:15 hal:243)

3). Begitu pula Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah (661-728 H) -rahimahullah- ketika menyikapi Umar bin al Khattab -radhiallahu’anhu- tentang hadits Isti’dzan (cara meminta izin). Ibnu Taimiyah berkata:
“Demikian juga dengan Umar bin al Khattab -radhiallahu’anhu-, beliau belum mengetahui Sunnah meminta izin hingga Abu Musa al Asy’ari -radhiallahu ‘anhu- memberitahukannya dan meminta saksi dari sahabat Anshar. Padahal Umar -radhiallahu ‘anhu- lebih tahu tentang Sunnah dibandingkan orang yang menyampaikan (hadits isti’dzan) kepadanya (yaitu Abu Musa al Asyari).”
(Raf’ul malam ‘anil aimmatil ‘alaam hal:77 tahqiq Abdurrahman bin Abdillah al Jumaizi Dar al ‘Aashimah)

Ibnu Taimiyah -rahimahullah- dengan sopan menilai bahwa Umar -radhiallahu’anhu- tidak mengetahui tentang hadits Isti’dzan dan beliau menegaskan bahwa Umar lebih unggul ilmu tentang Sunnah dibandingkan Abu Musa al Asyari. Tidak ada celaan sama sekali…

Tidak ada under estimate terhadap mereka. Padahal telah terjadi dialog cukup tegang antara Umar bin al Khattab dengan Abu Musa al Asy’ari -radhiallahu’anhuma-, lebih tegang dibandingkan dialog antara Ibnu Abbas -radhiallahu’anhu- dengan Urwah -rahimahullah-.

Begitu juga dialog yang terjadi antara Ibnu Umar dengan Khabbab -radhiallahu ‘anhum- terkait keutamaan menshalati dan menguburkan jenazah. Akan tetapi, tidak ada Ulama yang menilai dengan kesan menyudutkan! Semua berusaha membawa kepada keadaan sudut pandang positif, khusnuzhan. Lihatlah sikap al Khatib al Baghdadi, Imam adz Dzahabi, dan begitu pula Syaikhul Islam Ibn Taimiyah, -rahimahullah jamii’an-.*

Bandingkan perkataan saudara Arifin di akun Facebooknya itu dengan penilaian para Salafiyun di atas…
Di tulisan saudara Arifin itu terdapat kesan meremehkan lafadz “Kibaar” (senior), padahal istilah-istilah tersebut merupakan istilah syar’i. Sebagaimana dalam hadits:

البركةُ مع أكابرِكم.
ابن حبان (٣٥٤ هـ)، صحيح ابن حبان ٥٥٩

“Keberkahan itu ada bersama orang-orang senior (para kibar) diantara kalian.”
(HR. Ibnu Hibban).

Lihat kitab حقوق كبار السن في الإسلام oleh Syaikh Abdur Razzaq al Badr -radhiallahu’anhu-, guru besar Univ. islam Madinah tempat saudara Arifin Badri belajar.

Ada kesan memperolok-olok hadits “Keberkahan bersama para kibar”, padahal kita tahu bahwa para Ulama sudah menjelaskan makna “kibar” tersebut, diantaranya penjelasan Syaikh Sulaiman ar Ruhaily -hafizhahullah-, bahwa kibar, yaitu senior dalam umur dan senior dalam ilmu.
Senior dalam umur tidak bisa dipungkiri, bahkan Syaikh AbdurRazzaq al Badr memberi contoh hadits dan Atsar tentang hak-hak senior di antaranya:

1). Hadits Sahl bin Abi Hastmah -radhiyallaahu anhu- beliau berkata:

عن سهل بن أبي حثمة: انْطَلَقَ عبدُ اللَّهِ بنُ سَهْلٍ، ومُحَيِّصَةُ بنُ مَسْعُودِ بنِ زَيْدٍ، إلى خَيْبَرَ وهي يَومَئذٍ صُلْحٌ، فَتَفَرَّقا فأتى مُحَيِّصَةُ إلى عبدِ اللَّهِ بنِ سَهْلٍ وهو يَتَشَمَّطُ في دَمِهِ قَتِيلًا، فَدَفَنَهُ ثُمَّ قَدِمَ المَدِينَةَ، فانْطَلَقَ عبدُ الرَّحْمَنِ بنُ سَهْلٍ، ومُحَيِّصَةُ، وحُوَيِّصَةُ ابْنا مَسْعُودٍ إلى النبيِّ صَلّى اللهُ عليه وسلَّمَ، فَذَهَبَ عبدُ الرَّحْمَنِ يَتَكَلَّمُ، فَقالَ: كَبِّرْ كَبِّرْ وهو أحْدَثُ القَوْمِ، فَسَكَتَ فَتَكَلَّمَا المزيد
البخاري (٢٥٦ هـ)، صحيح البخاري ٣١٧٣

Sahl bin Abi Hatsmah -rahimahullah- mengatakan bahwasanya Abdullah bin Sahl dan Muhayyishah bin Mas’ud bin Zaid pergi ke Khaibar, yang saat itu dalam masa perdamaian, lalu keduanya berpisah. Kemudian Muhayyishah mendapatkan ‘Abdullah bin Sahal dalam keadaan gugur bersimbah darah lalu dia menguburkannya. Kemudian dia kembali ke Madinah. Lalu ‘Abdur Rahman bin Sahal, Muhayyishah dan Huwayyishah, keduanya anak Mas’ud, menemui Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam. ‘Abdur Rahman bin Sahal memulai berbicara, namun Beliau -Shallallahu ‘alaihi wasallam- bersabda; “Yang lebih tua, yang lebih tua! (yang diutamakan bicara terlebih dahulu. -pent)”. Dia (Abdur Rahman) memang yang paling muda usia diantara kaum yang hadir, lalu dia pun diam. Maka keduanya (yang lebih tua) berbicara…..”
(HR. Bukhari).

2). Hadits Abi Musa al Aay’ari -radhiallahu’anhu-

عن أبي موسى الأشعري: إنَّ مِن إجلالِ اللهِ إكرامَ ذي الشَّيبةِ المُسلِمِ، وحاملِ القُرآنِ غيرِ الغالي فيه والجافي عنه، وإكرامَ ذي السُّلطانِ المُقسِطِ.
أبو داود (٢٧٥ هـ)، سنن أبي داود ٤٨٤٣ وحسنه الألباني

Artinya: “Sesungguhnya termasuk mengagungkan Allah Ta’ala adalah menghormati orang muslim yang telah beruban, dan para penghafal Al-Qur’an dengan tanpa berlebihan atau mengurangi, serta memuliakan penguasa yang adil.”
(HR. Abu Daud).

3). Dari al Fadhl bin Musa -rahimahullah-, dia berkata:
“Aku dan Abdullah bin Mubarok menuju sebuah jembatan, aku katakan kepada Abdullah bin Mubarok: ‘Silahkan engkau duluan!’ Ia menjawab: ‘Tidak, Silahkan engkau yang lebih dulu!’ Maka aku menghitung-hitung, ternyata umurku lebih tua dua tahun darinya.”
(al Jaami’ lakhlaqi ar Raawi wa adaabi aa Saami’ juz 1/285).

Kita memahami hal tersebut karena dakwah seperti itulah yang diserukan guru-guru kita yang senantiasa istiqomah hingga sekarang, dan semoga sampai kelak menghadap Allah Ta’ala.
Itulah manhaj kita, yaitu: memahami Al Quran dan As Sunnah sebagaimana yang dipahami para Sahabat, Tabi’in, dan Tabi’ut Tabi’in. (As Salafush shaalih)*

Itulah yg diserukan oleh ustadz saya… guru saya… Ustadz Abdul Hakim bin Amir Abdat … Ustadz Yazid bin Abdul Qadir Jawas.. -hafizhahumullaah- dari dahulu sampai sekarang, sampai kita berjumpa dengan Allah Ta’ala insya Allah, semoga kita istiqomah, dan bukan dakwah kepada hingar bingar politik.. bukan mengikuti kemauan khalayak ramai… kegaduhan yang tidak bermakna!

Lihatlah perkataan Ustadz Abdul Hakim bin Amir Abdat -hafizhahullah-, beliau berkata: “Yaitu sebuah kitab yang dari awal sampai akhir, insya Allah Ta’ala, berbicara mengenai sebagian dari Ushul (dasar-dasar) aqidah mereka, aqidahnya kaum Salaf yang terdiri dari para Sahabat, kemudian orang-orang yg mengikuti manhaj atau cara dan sikap beragama mereka; dari para Tabi’in dan Tabi’ut Tabi’in, dan seterusnya; dari para Imam dan Ulama yang berjalan di atas manhaj mereka dari zaman ke zaman, di timur dan di barat bumi, dari yang alim sampai orang awam, semoga Rahmat Allah tercurah atas mereka semuanya.”
(Syarah Aqidah Salaf hal:9-10)

Beliau pun berkata: “Bahwa wahyu itu lebih tinggi dari akal manusia, karena dia datang dari pencipta manusia, yaitu: Rabbul ‘aalamiin. Wahyulah yang menjadi dasar atau asas, bukan akal! Bahwa ruang bagi akal sangat sempit dan terbatas. Sedangkan wahyu berasal dari Allah, Rabb semesta alam dan tidak ada batasannya.”
(Syarah Aqidah Salaf hal:13)

Perhatikan pernyataan beliau tentang manhaj, yaitu: cara beragama mengikuti wahyu, bukan akal, bukan taqlid pada pendapat akal siapapun dia, akan tetapi mengikuti al Quran dan as Sunnah sesuai pemahaman salaf.

Mana tuduhan taklid…!? Bahwa kami muqollid karena tidak mau tergiring hiruk-pikuk politik…!? Sekarang apa yg terjadi …?!

Orang yang engkau dukung jadi no. 1 di Republik ini sudah bergabung dengan orang yang engkau kritik di depan umum

Cuplikan vidio ini lebih pantas diberi judul jangan masuk lubang berkali-kali! atau: jangan terjebak berkali kali),
Padahal ia merupakan pimpinan negri ini yg notabenenya sebagai Ulil Amri !! apakah ini SALAFIY….???!!!!

Tolong beritahu referensinya kalau memang hal tersebut merupakan manhaj Salaf…! Benar kita diuji kesalafiyan kita oleh yang bukan salaf.

Lihatlah perkataan Ustadz Yazid bin Abdul Qadir Jawas -hafizhahullah-, beliau berkata: “Mengikuti manhaj (jalan) Salafush Shalih (yaitu: para Sahabat) adalah kewajiban bagi setiap individu Muslim.”
(Syarah Aqidah Ahlus Sunnah wal Jama’ah hal:99)

Beliau pun berkata: “Tidak boleh kita beribadah melainkan dengan apa yang telah Allah syariatkan dalam kitabNya atau yang telah disyariatkan dalam Sunnah NabiNya yang terpelihara! Tidak dengan bid’ah dan tidak dengan hawa nafsu.”
(Konsekuensi Cinta kepada Nabi Muhammad صلى الله عليه وسلم hal:20-21)

Bukankah semua itu sebagai bukti seruan beliau kepada Al Quran dan As Sunnah!? Bukan taqlid yang Anda tuduhkan wahai saudara Arifin Badri! Dan masih banyak seruan-seruan mereka berdua, baik dalam tulisan maupun ceramah, untuk menjauhi taklid, maksudnya taklid buta, dan mereka mengajak untuk Ittiba’.

#Ghuluw dan #Taqlid

Adapun mengenai perkara taqlid, kita semua paham; bahwa untuk orang awam yang belum paham dalil, boleh taqlid bahkan wajib.
(Lihat: Syarhu al Ushul min ‘Ilmil ushul hal:527 oleh Syaikh Muhammad bin Shalih al ‘Utsaimin, Dar al Aqidah).

Bahkan, seorang mujtahid boleh taqlid dalam keadaan mendesak, Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah -rahimahullah- berkata:
“Adapun orang yg mampu beeijtihad, maka yang benar adalah boleh baginya taqlid di mana dia tidak mampu ber-ijtihad yang disebabkan belum cukup baginya dalil-dalil atau sempitnya waktu untuk ijtihad, atau tidak jelas baginya dalil, maka ketika dia tidak mampu sehingga gugur kewajiban baginya untuk ber-ijtihad dan beralih pada gantinya, yaitu: Taqlid.”
( Majmu’ al Fatawaa juz:20 hal:113)

Dalam masalah tersebut kita kembali pada pembahasan Ushul fiqh, artinya jangan terlalu phobi dengan taqlid, namun kita pun tetap wajib berusaha ittiba’.

Adapun tentang ghuluw, bedakan antara cinta dan ghuluw, antara berkecamuknya rasa syukur karena beliaulah yg menunjukkan kita ke manhaj yang haq ini… (tapi, jangan-jangan ini pun dianggap ghuluw juga!?).
Lantas bagaimana dengan perkataan Imam Ahmad bin Hambal tentang Imam Syafi’i -rahimahumullah-, beliau berkata:

لو لا الشافعي ما عرفنا فقه الحديث

Artinya: “Seandainya kalau bukan karena Syafi’i, kita tidak bisa memahami Fiqih hadits!”
(Silsilatu ‘alaamu al Muslimin juz:12 hal:62)

Apakah Imam Ahmad -rahimahullah-tersebut termasuk ghuluw atau tidak?? Padahal ucapannya seperti itu! Akan tetapi, pada hakikatnya hal tersebut menunjukkan rasa syukur dan terimakasih..

[عن أبي هريرة:] لا يَشكُرُ اللهَ مَن لا يَشكُرُ النّاسَ.
أبو داود (٢٧٥ هـ)، سنن أبي داود ٤٨١١

Artinya: “Tidaklah bersyukur kpd Allah orang yang tdk bersyukur kpd manusia.”
(HR. Abu Daud).

Lalu bagaimana halnya kalau orang tersebut telah membimbing kita hingga kenal dengan manhaj yang haq ini!?

Sehingga rasa senang serta cinta menuntut hingga tingkat rasa syukur tersebut…
Dan jangan lupa, siapakah dahulu yang diantara pertama kali memberi bimbingan dan mengajar dengan penuh kesabaran…

Ada baiknya kita mengingat kembali, ataukah memang tidak perhatian, terhadap Prinsip Dasar Dakwah Salaf yang berkah ini! Banyak ulama yang berupaya menjelaskan prinsip-prinsip tersebut, yaitu: bahwasanya dakwah salaf bukan dakwah politik (non-Syar’i)… Dakwah salaf bukan dakwah sandiwara!

Mesir jadi contoh dalam masalah dakwah politik itu! Hingga da’i politiknya berhasil menjadi presiden lalu apa yg terjadi…!? Demikian pula Afganistan, masih berdarah-darah hingga sekarang…! Dakwah Salaf bukan pula dakwah ekonomi (yang hanya sibuk mengurusi ekonomi)…!

Mari kita kaji satu kitab yang mengingatkan kita akan garis-garis besar dakwah Salaf, diantaranya kitab:

ست الدرر من أصول أهل الآثر

Enam Prinsip Dasar Dakwah Salaf.
Kitab tersebut karya Syaikh Abdul Malik bin Ahmad al Mubarok Ramadhani al Jazaairy -hafizhahullah-.

Pernah saya tanyakan kepada Syaikh Ali Hasan al Halabi -hafizhahullah- beberapa waktu lalu di Hotel Grand Alia, Mampang Prapatan, Senen, Jakarta, tentang kitab tersebut sebagai panduan dalam berdakwah, lalu beliau merekomendasikan kitab tersebut.

Enam prinsip penting dalam dakwah yang dibahas dalam kitab tersebut adalah:

Prinsip pertama, إخلاص الدين yaitu: menegakkan Tauhid; menjauhi syirik besar dan kecil secara terperinci.

Prinsip Kedua, الطريق واحد
Jalan hanya satu, yaitu: mengikuti Sunnah dan menjauhi bid’ah, baik aqidah dan ibadah.

Prinsip Ketiga, اتباع الكتاب وااسنة على فهم السلف الصالح
Yaitu: mengikuti al Quran dan As Sunnah sesuai dengan pemahaman Salafush Shalih.

Prinsip Keempat, نيل السؤدد بالعلم yaitu: meraih kemuliaan dengan ilmu, yakni bukan dengan politik dan bukan dengan yang lain.

Prinsip Kelima, الرد على المخالف من الأمر بالمعروف والنهي عن المنكر
Yaitu: Membantah orang yg menyimpang bagian dari amar makruf nahi munkar.

Prinsip Keenam, التصفية والتربية
Yaitu: Membersihkan dan memurnikan agama dari segala perkara yg bukan bagian dari agama dan dianggap agama, kemudian mendidik umat dengan manhaj yang benar.

Semoga kedepannya menjadi bahan kajian bersama bagi kita semua para da’i dan mad’u, terutama panitia kajian sehingga diharapkan dakwah Salaf tetap di atas jalannya dan tidak silau dengan hiruk pikuk follower dan politik.
والله أعلم بالصواب

Saya tutup tulisan ini dengan bait-bait syair yang pernah disampaikan Syaikh Hafidz al Hakami (1342-1377 H) -rahimahullah-:

وَحَاصِلُ العِلْم ما أُمْلِي الصِّفَاتِ لَهُ ** فَأَصْغِ سَمْعَكَ واسْنَتْصِتْ إلَى كَلِمِي

وَذَاكَ لَا حِفْظَكَ الفُتْيَا بِأحْرُفِهَا ** وَلَا بِتَسْوِيدِكَ الْأَوْرَاقَ بِالْحُمَمِ

وَلَا تَصَدُّر صَدْرَ الْجَمْع مُحْتَبِيًا ** تُمْلِيهِ لَمْ تَفْقَهِ الْمَعْنِيَّ بالكَلِمِ

ولا العِمَامَة إذْ تُرخَى ذُؤابَتُها ** تَصَنُّعًا وخِضاب الشيْبِ بالْكَتَمِ

ولا بِقَوْلكَِ يعني دائبًا ونَعَمْ ** كَلا ولا حَمْلكَ الأسْفارَ كالْبُهُمِ

ولا بِحَمْلِ شهاداتٍ مُبَهْرَجَةٍ ** بِزُخْرُفِ القَوْلِ مِن نَثْرٍ ومُنْتَظِمِ

بلْ خَشْيَة اللهِ في سِرٍّ وفِي عَلَنٍ ** فاعْلَمْ هيَ العِلْمُ كلَّ العِلْمِ فالْتَزِمِ

Orang yang berhasil meraih ilmu adalah yang memiliki sifat-sifat yang akan kusebutkan…..maka siapkan pendengaranmu dan dengar dengan seksama kalimatku

Ia bukanlah ketika engkau hafal fatwa dengan huruf-hurufnya…..bukan pula lembaran-lembaran yang kau hitamkan dengan arang

Bukan pula saat engkau tampil di hadapan khalayak seraya duduk (ihtiba’)…..lalu kau dikte mereka tapi kau tak paham maknanya

Tidak juga dengan sorban yang kau julurkan ujungnya….. ataupun dengan menghitamkan rambut yang telah memutih dengan maksud membuat-buat

Tidak juga dengan selalu mengatakan “iya” “tidak”(berfatwa)…..tidak juga dengan selalu memikul kitab-kitab seperti hewan pengangkut barang

Dan juga bukan dengan membawa ijazah-ijazah yang membanggakan…..berhiaskan kalimat prosa ataupun sya’ir

Tapi keberhasilan adalah ketika *engkau TAKUT KEPADA ALLAH* di saat sepi maupun ramai…..sadarlah itulah ilmu yang sebenarnya maka lazimkan ia

—————————

Ditulis oleh: Mahfudz Umri,
di Bekasi tgl 22 Sya’ban 1441H/ tgl 16 April 2020

Diposting di akun Facebook: Mochammad Hilman Alfiqhy

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*