• Fri. Oct 2nd, 2020

aslibumiayu.net

Bisa Karena Terbiasa

Wajibnya Mengedepankan DALIL Dalam Melakukan Amalan Yang Diajarkan Nabi

KHUTHBAH & CERAMAH USTADZ YAZID BIN ‘ABDUL QADIR JAWAS -hafizhahullaah-

1. Wajib Bagi Setiap Muslim: Mengikuti Dalil

2. Jangan Mengikuti Ulama dan Umara’ Apabila Menyelisihi Sunnah Nabi

3. Wajib Merapatkan Shaf Ketika Shalat dan Tidak Boleh Renggang

Allah -Subhaanahu Wa Ta’aalaa- berfirman:

{يَاأَيُّهَا الَّذِيْنَ آمَنُوا اسْتَجِيْبُوْا لِلَّهِ وَلِلرَّسُوْلِ إِذَا دَعَاكُمْ لِمَا يُحْيِيْكُمْ وَاعْلَمُوْا أَنَّ اللهَ يَحُوْلُ بَيْنَ الْمَرْءِ وَقَلْبِهِ وَأَنَّهُ إِلَيْهِ تُحْشَرُوْنَ}

“Wahai orang-orang yang yang beriman! Penuhilah seruan Allah dan Rasul-Nya apabila Dia menyerumu kepada sesuatu yang memberi kehidupan kepadamu, dan ketahuilah bahwa sesungguhnya Allah membatasi (menghalangi) antara manusia dan hatinya dan sesungguhnya kepada-Nyalah kamu dikumpulkan.” ) QS. Al-Anfaal: 24)

Syaikh ‘Abdurrahman bin Nashir As-Sa’di -rahimahullaah- berkata:

“Allah mengancam orang yang tidak mau memenuhi seruan Allah dan Rasul-Nya: “dan ketahuilah bahwa sesungguhnya Allah membatasi (menghalangi) antara manusia dan hatinya”, MAKA JANGAN SAMPAI KALIAN MENOLAK PERINTAH ALLAH PADA SAAT PERTAMA KALI (PERINTAH ITU) SAMPAI KEPADA KALIAN; KARENA NANTI KALIAN AKAN DIHALANGI DARINYA KETIKA KALIAN INGIN MELAKSANAKANNYA SETELAH ITU.
Sungguh, Allah menghalangi antara seseorang dengan hatinya, Dia membolak-balikkan hati manusia sekehendak-Nya dan Dia memalingkannya sesuai dengan keinginan-Nya.”

[“Taisiirul Kariimir Rahmaan Fii Tafsiir Kalaamil Mannaan” (hlm. 318 -cet. Mu-assasah ar-Risaalah]

Syaikh ‘Abdurrahman bin Hasan bin Muhammad bin ‘Abdul Wahhab -rahimahullaah- berkata:

“Maka kewajiban seorang mukallaf (orang yang dibebani syari’at): Jika dalil dari Kitabullah dan Sunnah Rasul-Nya telah sampai kepada orang tersebut dan dia memahami maknanya; maka kewajiban dia adalah untuk berhenti kepadanya dan mengamalkannya, walaupun ada ulama yang menyelisihinya, setinggi apa pun kedudukan ulama tersebut.

Hal ini sebagaimana firman Allah -Ta’aalaa-:

{اتَّبِعُوْا مَا أُنْزِلَ إِلَيْكُمْ مِنْ رَبِّكُمْ وَلَا تَتَّبِعُوْا مِنْ دُونِهِ أَوْلِيَاءَ قَلِيْلًا مَا تَذَكَّرُوْنَ}

“Ikutilah apa yang diturunkan kepadamu dari Rabb-mu, dan janganlah kamu ikuti selain Dia sebagai pemimpin. Sedikit sekali kamu mengambil pelajaran.” (QS. Al-A’raaf: 3)

Dan Allah -Ta’aalaa- berfirman:

{أَوَلَمْ يَكْفِهِمْ أَنَّا أَنْزَلْنَا عَلَيْكَ الْكِتَابَ يُتْلَى عَلَيْهِمْ إِنَّ فِيْ ذَلِكَ لَرَحْمَةً وَذِكْرَى لِقَوْمٍ يُؤْمِنُوْنَ}

“Apakah tidak cukup bagi mereka bahwa Kami telah menurunkan kepadamu Kitab (Al-Qur-an) yang dibacakan kepada mereka? Sungguh, dalam (Al-Qur-an) itu terdapat rahmat yang besar dan pelajaran bagi orang-orang yang beriman.” (QS. Al-‘Ankabuut: 51)…

Maka wajib atas seseorang yang jujur terhadap dirinya: jika dia membaca kitab-kitab para ulama, dan menelitinya, serta memahami pendapat-pendapat mereka: maka hendaklah dia menimbangnya dengan apa yang terdapat dalam Al-Kitab dan As-Sunnah. Karena sungguh, setiap ulama mujtahid dan para pengikutnya serta orang-orang yang menisbatkan diri kepada madzhabnya; maka setiap dari mereka harus menyebutkan dalil yang dimilikinya. Kebenaran dalam masalah (yang diperselisihkan) adalah satu, dan para imam diberi pahala atas ijtihad mereka.”

[“Fat-hul Majiid” (hlm. 456-457 -tahqiiq Syaikh Walid Al-Furayyan)]

-ditulis oleh: Ahmad Hendrix

Sumber: https://web.facebook.com/ahmadhendrix.eskanto/posts/1251668598507347

Print Friendly, PDF & Email

Silahkan tinggalkan komentar di sini